Anda di halaman 1dari 2

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang banyak

ditemukan di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue
yang merupakan virus RNA dan termasuk dalam famili Flaviviridae. Demam
Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular dengan vektor nyamuk betina
genus Aedes (terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus) (WHO, 2015). Infeksi
virus dengue sering terjadi pada manusia dalam beberapa tahun terakhir sehingga
merupakan masalah kesehatan dunia (WHO, 2009).
Lebih dari 40% populasi dunia sekarang berisiko terkena DBD (WHO, 2013).
Diperkirakan terdapat 390 juta kasus infeksi dengue setiap tahunnya dan pada
penelitian lain diperkirakan 390 juta orang di 128 negara berisiko terkena infeksi virus
dengue (WHO, 2015). Jumlah kasus kejadian DBD di Asia Tenggara pada tahun 2012
sebanyak 257.204 dengan angka kematian 1.229 (WHO, 2014). Di Indonesia pada
tahun 2013, dilaporkan terdapat 112.511 kasus DBD dengan jumlah kematian
sebanyak 871 orang (angka kesakitan sejumlah 45,85 per 100.000 penduduk dan
angka kematian sejumlah 0,77%). Terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya, pada
tahun 2012 terdapat 90.245 kasus dengan angka kesakitan 37,27 (Depkes, 2014). Di
provinsi Jawa Tengah, DBD masih merupakan masalah yang serius, dilihat dari angka
kesakitan pada tahun 2013 sebesar 45,52 per 100.000 penduduk yang meningkat
dibanding tahun sebelumnya sebesar 19,29 (Dinkes Jateng, 2014). Angka kematian
akibat kasus DBD di Jawa Tengah mengalami peningkatan dari 0,93% pada tahun
2012 menjadi 1,21% pada tahun 2013 (Dinkes Jateng, 2013). Di Surakarta, angka
kesakitan DBD pada tahun 2013 sebesar 47,88 per 100.000 penduduk dengan angka
kematian sebesar 2,9%. Hal tersebut menunjukkan angka kesakitan dan kematian
akibat DBD masih cukup tinggi (Dinkes Surakarta, 2013).
Sampai saat ini, belum ada terapi yang spesifik untuk DBD, prinsip utama
dalam terapi DBD adalah terapi suportif, yakni pemberian cairan pengganti
(Suhendro, 2006). Saat ini usaha untuk menurunkan kasus infeksi dengue terfokus
pada tindakan pencegahan, yaitu dengan memberantas sarang nyamuk membunuh
larva, dan nyamuk dewasa (Listyorini, 2012). Meskipun telah dilakukan tindakan
pencegahan, jumlah kasus dan kematian akibat infeksi dengue di Indonesia tetap saja
tinggi. Sehingga diperlukan suatu solusi terapi spesifik potensial untuk menghambat
hingga mematikan virus dengue yang telah menginfeksi tubuh manusia. Salah satu
solusinya adalah dengan memanfaatkan tanaman di Indonesia yang berkhasiat
mencegah hingga mengobati penyakit DBD.
Tanaman obat yang berpotensi sebagai antivirus, yaitu daun jambu biji (Psidium
guajava), daun patikan kerbau (Euphorbia hirta), dan daun sirih (Piper betle Linn.).
Masing-masing memiliki zat yang berpotensi sebagai antivirus. Diharapkan ketiga
tanaman tersebut dapat menjadi solusi terapi spesifik DBD.
Hasil penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama
dengan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) dapat menghambat
perkembangan virus dengue melalui flavonoid (terutama quarcetin) dengan cara
menghambat replikasi virus.
Patikan kerbau (Euphorbia hirta) mengandung zat kimia yaitu alkaloid,
flavonoid, dan tanin. Alkaloid memiliki aktifitas antimikroba (Lenny, 2006).
Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan, sehingga baik untuk
pencegahan kanker. Selain itu, flavonoid dapat mengganggu fungsi mikroorganisme,
seperti bakteri dan virus (Subroto, 2009). Sedangkan senyawa tanin merupakan
astrengen, bersifat pahit, mengikat, dan mengendapkan protein (Subroto, 2009).
Daun sirih (Piper betle Linn.) memiliki kandungan fenol sebagai agen
antibakteri. Fenol dapat menyebabkan kerusakan pada sel bakteri, denaturasi protein,
menginaktifkan enzim, dan menyebabkan kebocoran sel (Heyne,1987).
Berdasarkan bukti tersebut, maka ketiga bahan alam tersebut dapat menjadi
solusi potensial untuk terapi spesifik infeksi virus dengue. Tetapi masih diperlukan
pengujian terhadap ketiga ekstrak bahan alam tersebut mengenai keefektifan sebagai
antivirus dengue karena tidak semua tanaman tersebut telah diuji terhadap virus
dengue. Selain itu, perbedaan tempat tumbuh dapat mempengaruhi khasiat dan
kandungan yang terkandung di dalam tanaman.