Anda di halaman 1dari 4

IgE spesifik

Pengukuran ini dilakukan pada pasien dengan penyakit kulit yang luas, tidak dapat
menghentikan pengobatan, dan kasus alergi berat sehingga menghalangi tes kulit. IgE diukur
secara in vitro dengan teknik RAST (Radio Allergo Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked
Immuno Sorbent Assay). Rasio ikatan dan tidak terikat IgE 2 menggambarkan respons spesifik
terhadap alergen. Namun, tes ini kurang sensitif (tapi lebih spesifik) dibanding tes kulit dan
hasilnya tidak langsung diketahui.1,2

Pemeriksaan komplemen

Pada kasus angioedema berulang tanpa urtikaria dilakukan pemeriksaan C1 inhibitor dan C4
komplemen. 4

2.Tes kulit

Tes tusuk (prick test)

Sebelum melakukan tes ini, pasien harus menghentikan penggunaan obat seperti antihistamin
(generasi I minimal 72 jam dan generasi II minimal 1 minggu sebelum tes) dan kortikosteroid
(dosis kecil seperti prednisone <20 mg dihentikan 3 hari sedangkan dosis tinggi 1 minggu).
Sedangkan teofilin, obat simpatomimetik, dan nedocromil tidak perlu dilarang karena tidak
mempengaruhi hasil tes.1 Tes boleh dilakukan pada pasien berusia > 2 tahun. Kontraindikasi
absolut dari tes ini adalah lesi luas pada kulit, kooperasi pasien buruk, dan pasien tidak bisa
menghentikan pengobatan yang dapat mengganggu hasil. Sedangkan kontraindikasi relatif
berupa asma yang persisten dan instabil, anafilaksis, kehamilan, dan penggunaan obat-obatan
seperti antihistamin, antidepresan trisiklik, dan beta blocker.5

Bagian volar lengan bawah, lengan atas, atau punggung dibersihkan dengan alkohol. Ketika
kering, dibuat garis dengan jarak 2-3 cm. Lalu, dengan jarum disposibel ukuran 26, dilakukan
tusukan dangkal dengan ujung jarum pada daerah yang sudah diteteskan kontrol negatif (larutan
phosphate buffered saline dengan fenol 0,4%) atau kontrol positif (larutan histamin fosfat 0,1%).
Setiap penusukan, dilakukan dengan jarum yang baru.1 Dengan metode yang sama, alergen
diinjeksikan dengan jarum sehingga disebut intradermal skin test, biasanya dipakai untuk alergen
spesifik seperti bisa lebah atau penisilin. Akan tetapi, tes intradermal tidak digunakan untuk
alergi makanan karena hasil positif palsu yang tinggi dan risiko terjadinya reaksi alergi yang
parah. Sedangkan scratch test sudah jarang dilakukan karena hasilnya yang inkonsisten.2

Pembacaan dilakukan 15-20 menit dengan mengukur diameter bentol dan eritema. Positif apabila
rata-rata diameter satu bentol 3 mm lebih besar daripada kontrol negatif.5 Adapun interpretasi
hasil tes:

Hasil negatif: sama dengan kontrol negatif.

Hasil +1 : 25% dari kontrol positif.

Hasil +2 : 50% dari kontrol positif.

Hasil +3 : 100% dari kontrol positif.

Hasil +4 : 200% dari kontrol positif.1


Tes tempel (patch test)

Biasanya digunakan pada dermatitis kontak dengan menempelkan bahan pada kertas saring yang
diletakkan di atas kertas impermeabel. Selanjutnya, ditempel pada kulit punggung dengan
plester. Bahan yang digunakan adalah benzokain, merkapto benzotiazol, kolofoni, lanolin
alkohol, dan lain-lain. Pembacaan dilakukan setelah 48 jam dan diulangi 96 jam sesudah
pemasangan agar hasil lebih jelas terlihat. Adapun interpretasi hasil tes:

0= tidak ada reaksi

+/- = eritema ringan, meragukan

1+ = reaksi ringan (eritema dengan edema ringan)

2+ = reaksi kuat (papular eritema dengan edema)

3+ = reaksi sangat kuat (vesikel atau bula)1

3.Tes provokasi

Hanya dilakukan apabila terdapat kesulitan dalam diagnosis dan ketidakcocokan gambaran klinis
dengan tes lainnya.1 Adapun contoh tes provokasi adalah:

Tes provokasi nasal dengan menyemprot salah satu alergen melalui satu lubang hidung
dan lubang hidung lainnya ditutup. Tes dianggap positif apabila timbul bersin-bersin,
pilek, hidung tersumbat, batuk, atau mukosa hidung edema.1
Tes provokasi bronkial biasanya untuk asma dan harus dilakukan di rumah sakit serta
ditangani oleh tenaga medis. Cara yang dipakai adalah tes kegiatan jasmani dimana 42%
pasien memberikan hasil jasmani positif (Sutopo et.al.: 1984). Selain itu, dilakukan tes
inhalasi antigen dan histamine serta metakolin. Tes inhalasi histamin dan metakolin
menimbulkan 90% reaksi pada pasien asma sehingga menjadi kriteria diagnosis asma.1

Tes eliminasi dan provokasi terhadap makanan. Eliminasi makanan yang dicurigai
sebagai penyebab alergi selama beberapa minggu dan kemudian dikonsumsi kembali
pada suatu waktu secara perlahan kemudian dilihat reaksi alergi.2 Oral food challenge
dengan metode double blind placebo dianggap sebagai gold standard. Prosedur ini tidak
dilakukan pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas yang jelas.6 Pasien diminta untuk
pantang makanan selama 2 minggu, antihistamin dihentikan sesuai waktu paruhnya, dan
di bawah pengawasan medis untuk mengantisipasi reaksi berat seperti syok anafilaktik.4,6
Makanan diberikan dalam bentuk suatu seri kapsul yang diberikan bergantian dengan
kapsul plasebo.4 Hasil negatif apabila setelah menelan makanan dalam jumlah besar,
tidak ada reaksi alergi.6