Anda di halaman 1dari 32

BAB II

GENERATOR SINKRON TIGA PHASA

2.1 Umum

Hampir semua energi listrik dibangkitkan dengan menggunakan generator

sinkron. Oleh sebab itu generator sinkron memegang peranan penting dalam

sebuah pusat pembankit listrik. Generator sinkron (sering disebut alternator)

merupakan sebuah mesin sinkron yang berfungsi mengubah energi mekanik

berupa putaran menjadi energi listrik bolak-balik (AC).

Generator AC (alternating current), atau generator sinkron. Dikatakan

generator sinkron karena jumlah putaran rotornya sama dengan jumlah putaran

medan magnet pada stator. Kecepatan sinkron ini dihasilkan dari kecepatan putar

rotor dengan kutub-kutub magnet yang berputar dengan kecepatan yang sama

dengan medan putar pada stator. Mesin sinkron tidak dapat start sendiri karena

kutub-kutub tidak dapat tiba-tiba mengikuti kecepatan medan putar pada waktu

sakelar terhubung dengan jala-jala. Generator sinkron dapat berupa generator

sinkron tiga phasa atau generator sinkron satu phasa.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


MESIN AC

MESIN a SINKRON MESIN SINKRON

Gambar 2.1 Pembagian mesin AC

2.2 Konstruksi Generator Sinkron

Pada prinsipnya, konstruksi Generator sinkron sama dengan motor

sinkron. Secara umum, konstruksi generator sinkron terdiri dari stator (bagian

yang diam) dan rotor (bagian yang bergerak). Keduanya merupakan rangkaian

magnetik yang berbentuk simetris dan silindris. Selain itu generator sinkron

memiliki celah udara ruang antara stator dan rotor yang berfungsi sebagai tempat

terjadinya fluksi atau induksi energi listrik dari rotor ke-stator.

Pada Gambar 2.1 dapat dilihat konstruksi sederhana dari sebuah generator sinkron

secara umum :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar 2.2 Konstruksi generator sinkron secara umum

2.2.1 Rotor

Rotor berfungsi untuk membangkitkan medan magnet yang kemudian

tegangan dihasilkan dan akan di induksikan ke stator. Generator sinkron memiliki

dua tipe rotor, yaitu :

1.) Rotor berbentuk kutub sepatu (salient pole)

2.) Rotor berbentuk kutub dengan celah udara sama rata (cylindrical)

1. Rotor kutub menonjol (Salient Pole Rotor)

Rotor tipe ini mempunyai kutub yang jumlahnya banyak.

Kumparan dibelitkan pada tangkai kutub, dimana kutub-kutub diberi

laminasi untuk mengurangi panas yang ditimbulkan oleh arus Eddy,

kumparan-kumparan medannya terdiri dari bilah tembaga persegi. Kutub

menonjol ditandai dengan rotor berdiameter besar dan panjang sumbunya

pendek.

Selain itu jenis kutub salient pole, kutub magnetnya menonjol

keluar dari permukaan rotor. Belitan-belitan medan dihubung seri. Ketika

belitan medan ini disuplai oleh eksiter, maka kutub yang berdekatan akan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


membentuk kutub yang berlawanan. Bentuk kutub menonjol generator

sinkron tampak seperti Gambar 2.3 berikut :

Gambar 2.3 Rotor Kutub Menonjol Generator Sinkron

Rotor kutub menonjol umumnya digunakan pada generator sinkron

dengan kecepatan putaran rendah dan sedang (120-400 rpm). Generator

sinkron tipe seperti ini biasanya dikopel oleh mesin diesel atau turbin air

pada sistem pembangkit listrik. Rotor kutub menonjol baik digunakan

untuk putaran rendah dan sedang karena :

Konstruksi kutub menonjol tidak terlalu kuat untuk menahan tekanan

mekanis apabila diputar dengan kecepatan tinggi.

Kutub menonjol akan mengalami rugi-rugi yang besar dan bersuara

bising jika diputar dengan kecepatan tinggi.

2. Rotor kutub tak menonjol (Rotor Silinder)

Rotor tipe ini dibuat dari plat baja berbentuk silinder yang

mempunyai sejumlah slot sebagai tempat kumparan. Karena adanya slot-

slot dan juga kumparan medan yang terletak pada rotor maka jumlah kutub

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


pun sedikit yang dapat dibuat. Belitan-belitan medan dipasang pada alur-

alur di sisi luarnya dan terhubung seri yang dienerjais oleh eksiter

Rotor ini biasanya berdiameter kecil dan sumbunya sangat

panjang. Konstruksi ini memberikan keseimbangan mekanis yang lebih

baik karena rugi-rugi anginnya lebih kecil dibandingkan rotor kutub

menonjol (salient pole rotor). Gambar bentuk kutub silinder generator

sinkron tampak seperti pada Gambar 2.4 berikut:

Gambar 2.4 Rotor Kutub Silinder Generator Sinkron

Rotor silinder umumnya digunakan pada generator sinkron degan

kecepatan putaran tinggi (1500 atau 3000 rpm) biasanya digunakan untuk

pembangkit listrik berkapasitas besar misalnya pembangkit listrik tenaga

uap dan gas. Rotor silinder baik digunakan pada kecepatan tinggi karena:

Distribusi disekeliling rotor mendekati bentuk gelombang sinus

sehinggu lebih baik dari kutub menonjol.

Konstruksinya memiliki kekuatan mekanik pada kecepatan putar

tinggi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Rotor terdiri dari beberapa komponen utama yaitu :

1. Slip Ring

Slip ring merupakan cincin logam yang melingkari poros rotor tetapi

dipisahkan oleh isolasi tertentu. Terminal kumparan rotor dipasangkan

ke-slip ring ini kemudian dihubungkan kesumber arus searah melalui

sikat (brush) yang letaknya menempel pada slip ring.

2. Sikat

Sebagaian dari generator sinkron ada yang memiliki sikat ada juga

yang tidak memiliki sikat. Sikat pada generator sinkron berfungsi

sebagai saklar putar untuk mengalirkan arus DC ke-kumparan medan

pada rotor generator sikron. Sikat terbuat dari bahan karbon tertentu.

3. Kumpara rotor (kumparan medan)

Kumparan medan merupakan unsure yang memegang peranan utama

dalam menghasilkan medan magnet. Kumparan ini mendapat arus

searah dari sumber eksitasi tertentu.

4. Poros Rotor

Poros rotor merupakan tempat meletakkan kumparan medan, dimana

pada poros tersebut telah terbentuk slot-slot secara paralel terhadap

poros rotor.

2.2.2 Stator

Stator atau armatur adalah bagian generator yang berfungsi sebagai tempat

untuk menerima induksi magnet dari rotor. Arus AC yang menuju ke beban

disalurkan melalui armatur, komponen ini berbentuk sebuah rangka silinder

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


dengan lilitan kawat konduktor yang sangat banyak. Armatur selalu diam (tidak

bergerak). Oleh karena itu, komponen ini juga disebut dengan stator. Lilitan

armatur generator dalam wye dan titik netral dihubungkan ke tanah. Lilitan dalam

wye dipilih karena:

1. Meningkatkan daya output.

2. Menghindari tegangan harmonik, sehingga tegangan line tetap sinusoidal

dalam kondisi beban apapun. Dalam lilitan wye tegangan harmonik ketiga

masing-masing fasa saling meniadakan, sedangkan dalam lilitan delta

tegangan harmonik ditambahkan. Karena hubungan delta tertutup, sehingga

membuat sirkulasi arus harmonik ketiga yang meningkatkan rugi-rugi (I2R).

Stator dari mesin sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk

laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Dengan inti ferromagnetik yang

bagus berarti permeabilitas dan resistivitas dari bahan tinggi. Gambar 2.5 berikut

memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar.

Gambar 2.5 Inti Stator dan Alur Pada Stator

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Belitan jangkar (stator) yang umum digunakan oleh mesin sinkron tiga phasa, ada

dua tipe yaitu:

2.3 Rangkaian Belitan Stator dan Rotor

2.3.1 Belitan Stator

Ada dua jenis belitan stator yang banyak digunakan untuk generator

sinkron 3 phasa, yaitu:

1. Belitan satu lapis (Single Layer Winding).

2. Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding).

1. Belitan satu lapis (Single Layer Winding).

Gambar 2.6 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi

lilitan di dalam masing - masing alur. Bila kumparan tiga phasa dimulai pada Sa,

Sb, dan Sc dan berakhir di Fa, Fb, dan Fc bisa disatukan dalam dua cara, yaitu

hubungan bintang dan segitiga. Antar kumparan phasa dipisahkan sebesar 120

derajat listrik atau 60 derajat mekanik, satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila

rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis. Satu siklus ggl penuh

menunjukkan 360 derajat listrik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar 2.6 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa

2. Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding).

Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada Gambar 2.6 hanya mempunyai

satu lilitan per kutub per phasa, akibatnya masing masing kumparan hanya dua

lilitan secara seri. Bila alur-alur tidak terlalu lebar, masing-masing penghantar

yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama. Masing

masing tegangan phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per penghantar

dan jumlah total dari penghantar per phasa.

Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif

dalam penggunaan inti stator, karena variasi kerapatan fluks dalam inti dan juga

melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik. Untuk

mengatasi masalah ini, generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi

dalam beberapa alur per kutub per phasa. Gambar 2.7 memperlihatkan bagian dari

sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar 2.7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Fasa

Pada masing masing alur ada dua sisi lilitan dan masing masing lilitan

memiliki lebih dari satu putaran. Bagian dari lilitan yang tidak terletak ke dalam

alur biasanya disebut winding overhang, sehingga tidak ada tegangan dalam

winding overhang.

2.3.1 Belitan Rotor

Rotor berfungsi untuk membangkitkan medan magnet yang kemudian tegangan

dihasilkan dan akan diinduksikan ke stator. Generator sinkron memiliki dua tipe

rotor, yaitu :

1).Rotor berbentuk kutub sepatu (salient pole)

2).Rotor berbentuk kutub dengan celah udara sama rata (cylindrical)

Perbedaan utama antara keduanya adalah salient pole rotor digerakkan

oleh turbin hidrolik kecepatan rendah sedangkan cylindrical rotor digerakkan oleh

turbin uap berkecepatan tinggi. Sebagian besar turbin hidrolik harus berputar pada

kecepatan rendah (50 300 rpm). Salient pole rotor dihubungkan langsung ke

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


roda kincir dan frekuensi yang diinginkan 50 Hz. Jumlah kutub yang dibutuhkan

di rotor jenis ini sangat banyak. Sehingga dibutuhkan diameter yang besar untuk

memuat kutub yang sangat banyak tersebut. Cylindrical rotor lebih kecil dan

efisien daripada turbin kecepatan rendah. Untuk 2 kutub, frekuensi 50 Hz,

putarannya 3000 rpm. Untuk 4 kutub, putarannya 1500 rpm. Bentuk rotor yang

terdapat pada generator sinkron dapat dilihat pada Gambar 2.6 berikut.

(a) Rotor Kutub Menonjol (b) Rotor Silinder

Gambar 2.8 Bentuk Rotor

2.4 Rangkaian Ekivalen

Stator terdiri dari belitan-belitan. Suatu belitan konduktor akan terdiri dari

tahanan R a dan induktansi X Ia maka rangkaian ekivalen suatu generator sinkron

dapat dibuat seperti Gambar 2.9.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Radj Xar XLa Ra
If Ia
Rf
Vf Ea V
Lf

Gambar 2.9 Rangkaian Ekivalen Generator Sinkron

Dengan melihat Gambar 2.9 maka tegangan generator sinkron dapat ditulis pada

persamaan (2.1).

E a = V + jX ar I a + jX La I a + R a I a .................................................(2.1)

Dan persamaan terminal generator sinkron dapat ditulis pada persamaan (2.2)

V = Ea jX ar I a jX La I a Ra

I a ..............................................................(2.2)

Dengan menyatakan reaktansi reaksi jangkar dan reaktansi fluks bocor

sebagai reaktansi sinkron, atau X s = X ar + X La , maka menjadi persamaan (2.3).

V = E a jX s I a R a I a [Volt]...........................................................(2.3)

If jXs Ra

Rf Ia
Vf Ea V
Lf

Gambar 2.10 Penyederhanaan Rangkaian Generator Sinkron

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Karena tegangan yang dibangkitkan oleh generator sinkron adalah

tegangan bolak-balik, maka biasanya diekspresikan dalam bentuk fasor. Diagram

fasor yang menunjukkan antara tegangan induksi perfasa dengan tegangan

terminal generator akan ditunjukkan pada Gambar 2.10 dibawah ini:

Gambar 2.11 Rangkaian Ekivalen Generator Sinkron Tiga Phasa

2.5 Perinsip kerja

Adapun prinsip kerja dari suatu generator sinkron adalah:

1. Kumparan medan yang terdapat pada rotor dihubungkan dengan sumber

eksitasi tertentu yang akan mensuplai arus searah terhadap kumparan

medan. Dengan adanya arus searah yang mengalir melalui kumparan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


medan maka akan menimbulkan fluks yang besarnya terhadap waktu

adalah tetap.

2. Penggerak mula (Prime Mover) yang sudah terkopel dengan rotor segera

dioperasikan sehingga rotor akan berputar pada kecepatan nominalnya

persamaan (2.4)

120. f
n= ...................................................................................(2.4)
p

dimana : n = Kecepatan putar rotor (rpm)

p = Jumlah kutub rotor

f = frekuensi (Hz)

3. Perputaran rotor tersebut sekaligus akan memutar medan magnet yang

dihasilkan oleh kumparan medan. Medan putar yang dihasilkan pada

rotor, akan diinduksikan pada kumparan jangkar sehingga pada

kumparan jangkar yang terletak di stator akan dihasilkan fluks magnetik

yang berubah-ubah besarnya terhadap waktu. Adanya perubahan fluks

magnetik yang melingkupi suatu kumparan akan menimbulkan ggl

induksi pada ujung-ujung kumparan tersebut, hal tersebut sesuai dengan

persamaan (2.5)

d
e= N
dt

d maks Sint
= N
dt

= N maks Cost

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


dimana : = 2f

= N (2f ) maks Cost

np
dimana : f =
120

np
= N 2 maks Cost
120

np
E maks = N 2.3,14. maks
120

np
N (2.3,14. maks
emaks 120
E eff = =
2 2

4,44 Npn 4,44 Np


= ( = C)
120 120

= Cn .........................................................(2.5)

dimana : E = ggl induksi (Volt) N = Jumlah belitan

C = Konstanta p = Jumlah kutub

n = Putaran (rpm) f = Frequensi (Hz)

= Fluks magnetik (weber)

Untuk generator sinkron tiga phasa, digunakan tiga kumparan jangkar

yang ditempatkan di stator yang disusun dalam bentuk tertentu, sehingga susunan

kumparan jangkar yang sedemikian akan membangkitkan tegangan induksi pada

ketiga kumparan jangkar yang besarnya sama tapi berbeda fasa 1200 satu sama

lain. Setelah itu ketiga terminal kumparan jangkar siap dioperasikan untuk

menghasilkan energi listrik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.6 Reaksi Jangkar

Bila beban terhubung ke terminal generatormaka pada belitan stator akan

mengalir arus, sehigga timbul medan magnet pada belitan stator. Medan magnet

ini akan mendistorsi medan magnet yang dihasilkan belitan rotor. Seperti yang

dijelaskan pada Gambar 2.12:

Gambar 2.12 Model Reaksi Jangkar

Pada Gambar 2.12.a. Medan magnet yang berputar akan menghasilkan

tegangan induksi E A . Bila generator melayani beban dengan induktif, maka arus

pada stator akan tertinggal seperti pada Gambar 2.12.b. Arus stator tadi akan

meghasilkan medan magnet sendiri B s dan tegangan stator E stat, seperti pada

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar 2.12.c. Vektor penjumlahan antara B s dan B R menghasilkan B net, dan

penjumlahan E stat dan E A akan menghasilkan V pada terminal jangkar.

Saat beban terhubung ke beban induktif, arus jangkar akan tertinggal

terhadap tegangan jangkar. Arus pada belitan stator akan menghasilkan medan

magnet B s , yang kemudian kan menghasilkan tegangan stator E stat . Dua tegangan

yaitu tegangan jangkarE A dan tegangan reaksi jangkar E stat akan menghasilkan

V t , dimana ditunjukkan pada persamaan (2.6)

V t = E A + E stat .........................................................(2.6)

Tegangan Reaksi Jangkar E stat = -jXIa

Sehingga persaman 2.6 dapat ditulis kembali pada persamaan (2.7).

V t = E A-

jXIa ....................................................................(2.7)

Selain pengaruh reaksi jangkar ini, pengurangan tegangan induksi generator

sinkron juga karena adanya tahanan R a dan Induktansi belitan stator X a, ,dan

penjumlahan X dan Xa sering disebut Reaktansi Sinkron Xs, sehingga persamaan

2.7 dapat ditulis kembali sebagai persamaan (2.8).

V t = E A -jXI a -jX a Ia -

I a R a ...............................................(2.8)

Lalu menjadi persamaan (2.9)

V t = E A -jX s I a -

I a R a ..........................................................(2.9)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.7 Sistem Eksitasi

Berdasarkan cara penyaluran arus searah pada rotor generator sinkron,

sistem eksitasi terdiri dari dua jenis yaitu sistem eksitasi dengan menggunakan

sikat (brushless excitation) dan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat

(brushless). Ada dua jenis sistem eksitasi dengan menggunakan sikat yaitu :

1. Sistem eksitasi konvensional (menggunakan generator arus searah).

2. Sistem eksitasi statis.

Sedangkan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat terdiri dari :

1. Sistem eksitasi dengan menggunakan baterai.

2. Sistem eksitasi dengan menggunakan Permanen Magnet Generator (PMG).

2.7.1 Sistem Eksitasi Konvensional (Menggunakan Generator Arus Searah)

Untuk sistem eksitasi yang konvensional, arus searah diperoleh dari sebuah

generator arus searah berkapasitas kecil yang disebut eksiter. Generator sinkron dan

generator arus serah tersebut terkopel dalam satu poros, sehingga putaran generator

arus searah sama dengan putaran generator sinkron.

Tegangan yang dihasilkan oleh generator arus searah ini diberikan kebelitan

rotor generator sinkron melalui sikat karbon dan slip ring. Akibatnya arus searah

mengalir ke dalam rotor atau kumparan medan dan menimbulkan medan magnet

yang diperlukan untuk dapat menghasilkan tegangan arus bolak-balik pada

kumparan utama yang terletak distator generator sinkron.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Pada generator konvensional ini ada beberapa kerugian yaitu generator arus

searah merupakan beban tambahan untuk penggerak mula. Penggunaan slip ring

dan sikat menimbulkan masalah ketika digunakan untuk mensuplai sumber arus

searah padabelitan medan generator sinkron. Terdapat sikat arang yang menekan

slip ring sehingga timbul rugi gesekan pada generator utamanya. Selain itu pada

generator arus searah juga terdapat sikat karbon yang menekan komutator. Selama

pemakaian slip ring dan sikat harus diperiksa secara teratur, generator arus searah

juga memiliki keandalan yang rendah. Karena hal-hal seperti diatas dipikirkan

hubungan lain dan dikenal apa yang dikenal sebagai generator sinkron static exciter

(penguat statis). Gambar 2.12 adalah sistem eksitasi yang menggunakan generator

arus searah.

Gambar 2.13 Sistem Eksitasi Meggunakan Generator Arus Searah

2.7.2 Sistem Eksitasi Statis

Sistem eksitasi statis menggunakan peralatan eksitasi yang tidak bergerak

(static), artinya peralatan eksitasi tidak ikut berputar bersama dengan rotor

generator sinkron. Sistem eksitasi statis (static excitation sistem) atau disebut juga

dengan self excitation merupakan sistem eksitasi yang tidak memerlukan

generator tambahan sebagai sumber eksitasi generator sinkron. Sumber eksitasi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


pada sistem eksitasi statis berasal dari tegangan output generator itu sendiri yang

disearahkan terlebih dahulu dengan menggunakan penyearah thyristor.

Pada mulanya pada rotor ada sedikit magnet sisa, manet sisa ini akan

menimbulkan tegangan pada stator tegangan ini kemudian masuk dalam

penyearah dan dimasukkan kembali pada rotor, akibatnya medan magnet yang

dihasilkan makin besar dan tegangan AC naik demikian seterusnya sampai dicapai

tegangan nominal dari generator AC tersebut. Biasanya penyearah itu mempunyai

pengatur sehingga tegangan generator dapat diatur konstan. Bersama dengan

penyearah, blok tersebut sering disebut AVR.

Dibandingkan dengan generator yang konvensional generator dengan

sistem eksitasi statis memang sudah jauh lebih baik yaitu tidak ada generator arus

searah (yang keandalannya rendah) dan beban generator arus searah pada

penggerak mula hilang. Eksiter diganti dengan eksiter yang tidak berputar yaitu

penyearah karena itu disebut eksiter statis. Gambar 2.14 berikut adalah sistem

eksitasi statis.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar 2.14 Sistem Kksitasi Statis

Untuk keperluan eksitasi awal pada generator sinkron, maka sistem

eksitasi statis dilengkapi dengan field flashing. Hal ini dibutuhkan karena

generator sinkron tidak memiliki sumber arus dan tegangan sendiri untuk

mensuplai kumparan medan. Penggunaan slip ring dan sikat pada eksitasi ini

menyebabkan sistem eksitasi ini tidak efisien dan efektif.

2.7.3 Sistem Eksitasi Menggunakan Baterai

Sistem eksitasi tanpa sikat diaplikasikan pada generator sinkron, dimana

suplai arus searah kebelitan medan dilakukan tanpa melalui sikat. Arus searah

untuk suplai eksitasi untuk awal start generator digunakan suplai dari baterai,

yang sering dinamakan penguat mula, dimana arus ini selanjutnya disalurkan ke

belitan medan AC exiter. Tegangan keluaran dari generator sinkron ini

disearahkan oleh penyearah yang menggunakan dioda, yang disebut rotating

rectifier, yang diletakkan pada bagian poros ataupun pada bagian dalam dari rotor

generator sinkron, sehingga rotating rectifier tersebut ikut berputar sesuai dengan

putaran rotor, seperti pada gambar 2.15 berikut:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar 2.15 Sistem Eksitasi Dengan Menggunakan Baterai

Dari Gambar 2.15 diatas, untuk menghindari adanya kontak geser pada

bagian rotor generator sinkron, maka penguat medan generator dirancang

sedemikian sehingga arus searah yang dihasilkan dari penyearah langsung

disalurkan kebagian belitan medan dari generator utama. Hal ini dimungkinkan

karena dioda penyearah ditempatkan pada bagian poros yang dimiliki bersama-

sama oleh rotor generator utama dan penguat medannya. Arus medan pada

generator utama dikontrol oleh arus yang mengalir pada kumparan medan penguat

(eksiter).

Setelah tegangan generator mencapai tegangan nominalnya maka catu

daya DC (baterai) biasanya dilepasdan digantikan oleh penyearah. Penguatan

yang dipakai adalah sistem self exitation system yaitu sistem dimana sumber daya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


untuk penguatannya diperoleh dari keluaran tiga phasa generator itu sendiri.

Gambar 2.15 menggambarkan sistem eksitasi tanpa sikat dengan suplai tiga phasa.

Gambar 2.16 Sistem Eksitasi Dengan Suplai Tiga Phasa

Pada Gambar 2.16, untuk membangkitkan arus medan digunakan

penyearah, dimana arus yang disearahkan diperoleh dari keluaran tiga phasa

generator itu sendiri melalui transformator atau sering disebut Eksitasi

Transformator, berfungsi menurunkan tegangan keluaran generator untuk disuplai

pada penyearah.

2.7.4 Sisten Eksitasi Menggunakan Pemanen Magnet Generator

Suatu generator sinkron harus memiliki sebuah medan magnet yang

berputar agar generator tersebut menghasilkan tegangan pada statornya. Medan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


magnet ini dapat dihasilkan dari belitan rotor yang disuplai dengan sumber listrik

arus searah. Cara lain untuk menghasilkan medan magnet pada rotor adalah

dengan menggunakan magnet permanen sebagai sumber eksitasinya ini disebut

dengan Permanen Magnet Generator (PMG).

Generator sinkron yang berkapasitas besar biasanya menggunakan sistem

eksitasi brushless yang dilengkapi dengan permanen magnet generator. Hal ini

dimaksudkan agar sistem eksitasi dari generator sama sekali tidak tergantung pada

sumber daya listrik dari luar mesin itu. Pada Gambar 2.17 dapat dilihat bentuk

skematik dari sistem eksitasi dengan menggunakan Permanen Magnet Generator.

Gambar 2.17 Sistem Eksitasi Dengan Menggunakan Permanen Magnet Generator

Dari Gambar 2.17, bahwa pada bagian mesin yang berputar (rotor) terdapat

magnet permanen, kumparan jangkar generator eksitasi, kumparan medan generator

utama. Hal ini memungkinkan generator tersebut tidak menggunakan slip ring dan sikat

dalam pengoperasiannya sehingga lebih efektif dan efisiensi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.8 Karakteristik Generator Sinkron

Karakteristik yang dibahas pada sub bab kali ini adalah :

a) Karakteristik Beban Nol

b) Karakteristik Hubung singkat

c) Karakteristik Berbeban

2.8.1. Karakteristik Beban Nol (E0 = E0 (If))

Karakteristik tanpa beban (beban nol) pada generator sinkron dapat

ditentukan dengan melakukan test beban nol (open circuit) yang memiliki

langkah-langkah sebagai berikut :

a.) Generator diputar pada kecepatan nominal (n)

b.) Tidak ada beban yang terhubung pada terminal

c.) Arus medan (If) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap

d.) Catat harga tegangan terminal (Vt) pada setiap harga arus medan (If)

yang terlihat pada gambar 2.18 di bawah ini:

Radj Xs Ra

If
Rf Vt
Vf E0

Lf

Gambar 2.18 Rangkaian Test Tanpa Beban

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Dari Gambar dapat diperoleh persamaan umum generator pada persamaan (2.10).

E 0 = V t + Ia (R a +

jX s ).......................................(2.10)

Pada hubungan generator terbuka (beban nol), I a = 0. Maka persamaan nya

menjadi persamaan (2.11).

E0 = Vt = cn ........................................(2.11)

Karena tidak ada beban yang terpasang, maka yang dihasilkan hanya f.

Sehingga menjadi persamaan (2.12)

E0 = cn f .........................................................(2.12)

Dari persamaan (2.12) menjadi persamaan (2.13)

E0 = cnI f ..........................................................

(2.13)

Nilai cn adalah konstan sehingga persamaan menjadi persamaan (2.14)

E0 = k 1 .I f ..........................................................

(2.14)

Berikut diperlihatkan gambar grafik hubungan Vt vs If yang disebut juga

dengan karakteristik hubung terbuka dari generator atau OCC (Open-Circuit

Characteristic). Yang terlihat pada gambar 2.19 dibawah:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar 2.19 Karakteristik Hubung Terbuka (OCC)

Dari Gambar 2.19 di atas terlihat bahwa pada awalnya kurva berbentuk

hampir benar-benar linear. Hingga pada harga-harga arus medan yang tinggi,

bentuk kurva mulai terlihat saturasi. Inti besi yang tidak jenuh dalam bingkai

mesin sinkron memiliki reluktansi beberapa ratus kali lebih rendah daripada

reluktansi air gap. Sehingga pertama-tama hampir seluruh MMF melewati celah

udara dan peningkatan fluksi yang terjadi linear. Ketika inti besi mengalami

saturasi, reluktansi besi meningkat secara drastis dan fluksi meningkat lebih

lambat dengan peningkatan nilai MMF. Bentuk linear dari grafik OCC disebut

karakteristik air gap line.

2.8.2. Karakteristik Hubung Singkat (I sc = I sc (I f ))

Untuk menentukan karakteristik dan parameter generator sinkron

yang dihubung singkat terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan antara

lain :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


a.) Generator diputar pada kecepatan nominal

b.) Atur arus medan (I f ) pada nol

c.) Hubung singkat terminal

d.) Ukur arus armatur (I a ) pada setiap peningkatan arus medan (If)

Dimana, rangkaian test hubung singkat pada generator sinkron akan diperlihatkan

pada Gambar 2.20 berikut.

Radj Xs Ra

If Ia
Rf
Vf Vt= 0
Ea
Lf

Gambar 2.20 Gambar Rangkaian Hubung Singkat

Dari Gambar, persamaan umum generator sinkron dihubung singkat adalah

persamaan (2.15)

E = V t + I a (R a + jX s )...................................................(2.15)

Pada saat generator sinkron dihubung singkat, V t = 0 dan Ia = I sc . Maka

persamaan menjadi persamaan (2.16)

E = Isc (R a + jX s ) .................................................

(2.16)

E=cn maka persamaan nya menjadi persamaan (2.17).

cn = Isc (R a + jX s ) .................................................

(2.17)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Karena cn dan (R a + jX s ) bernilai konstan, maka persamaan nya menjadi

persamaan (2.18)

cn = k1 .....................................................

(2.18)

sehingga menjadi persamaan (2.19)

(R a + jX s ) = k 2 .............................................

(2.19)

Sehingga menjadi persamaan (2.20)

k 1 .If = Isc. k 2 .............................................................. (2.20)

sehingga menjadi persamaan (2.21)

k1
Isc = I f ................................................................. (2.21)
k2

Pada karakteristik generator hubung singkat bentuk kurva adalah linear.

Hal ini disebabkan oleh medan magnet yang terjadi sangat kecil sehingga inti besi

tidak mengalami saturasi. Gambar 2.21 berikut ini akan memperlihatkan

karakteristik hubung singkat pada generator sinkron.

Gambar 2.21 Karakteristik Hubung Singkat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Ketika generator dihubung singkat, arus armatur pada persamaan (2.22)

(I a ) = Isc =

Ea
.............................................(2.22)
Ra + jX s

Harga Mutlaknya adalah pada persamaan (2.23)

Ia = I sc =

Ea
.....................................(2.23)
Ra + jX s
2 2

2.8.3. Karakteristik Berbeban (V = V (I f ))

Beberapa langkah untuk menentukan parameter generator sinkron

berbeban antara lain sebagai berikut :

a.) Generator diputar pada kecepatan nominal (n)

b.) Beban (Z L ) terpasang pada terminal generator sinkron

c.) Arus medan (I f ) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap

d.) Catat tegangan terminal (V t ) pada setiap peningkatan arus medan (I f )

yang terlihat pada gambar 2.22 berikut:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Radj Xs Ra

If Ia
L
Rf O
Ea Vt A
D
Lf

Gambar 2.22 Rangkaian Generator Sinkron Berbeban

Dari Gambar 2.22 diperoleh persamaan umum generator sinkron berbeban pada

persamaan (2.24)

Ea = Vt + Ia (R a +

jX s )..............................................................(2.24)

Sehingga menjadi persamaan (2.25)

V t = E a - I a (R a + jX s ) ..............................................................

(2.25)

Pada generator berbeban, Ia = I L bernilai konstan karena beban (Z L ) tetap.terlihat

pada gambar 2.23 di bawah ini:

Gambar 2.23 Karakteristik Generator Sinkron Berbeban

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.9 Penentuan Parameter Generator Sinkron Tiga Phasa

Dari kedua test :

- Ea dari test beban nol (Open Circuit)

- Ia dari test hubung singkat (Short Circuit)

Diperoleh impedansi sinkron di dapat persamaan (2.26)

Ea
Ra + jX s =
2 2
Zs = ..................(2.26)
Ia

Ea
Karena Ra << XS, maka impedansi sinkron menjadi : Z s X s
Ia

BAB III

PENGARUH FAKTOR DAYA TERHADAP REGULASI TEGANGAN

GENERATOR SINKRON 3 FASA

3.1 Umum

Cara menentukan pengaturan tegangan untuk mesin mesin kecil dapat

diperoleh dengan cara langsung, yaitu generator sinkron diputar pada kecepatan

nominal, eksitasi diatur sehingga menghasilkan tegangan nominal (V) pada beban

penuh, kemudian beban dilepas dengan menjaga agar putaran tetap konstan.

Selain itu, arus eksitasi juga harus dijaga konstan. Maka, akan diperoleh harga

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA