Anda di halaman 1dari 1

Adapun alat-alat musik yang menyibukkan seseorang dari zikir kepada Allah,

jika setelah dihancurkan tidak dianggap harta, sebagaimana alat-alat yang


terbuat dari kayu dan yang semilal, maka batal (tidak sah) untuk diperjual
belikan. Karena dalam pandangan syariat hal itu tidak ada gunanya sama sekali
dan yang menggunakannya hanya orang-orang yang gemar berbuat maksiat.
Contohnya seperti gitar, seruling, rebab dan alat-alat musik lainnya.
Jika alat-alat musik itu tetap dianggap sebagai harta seperti alat musik yang
terbuat dari emas dan perak, juga gambar dan jual beli patung, maka menurut
mazhab syafii MUTLAK TIDAK DIPERBOLEHKAN. Demikian pendapat jumhur
ulama mazhab kami (syafiiyyah). Karena bagaimanapun juga bentuknya ia tetap
merupakan alat-alat orang fasik dan tidak di ciptakan kecuali untuk kefasikan

[Imam al- Husaini ad-Dimasyqi dalam Kifayatul Akhyar hal. 242]

Note :
Kifayatul Akhyar adalah kitab fiqih bermahzab syafii yang banyak diajarkan di
pondok-pondok pesantren tradisional di Indonesia. Maksud kami memposting
cuplikan isi kitab ini agar kita yang banyak mengaku bermahzab syafii lebih
terbuka wawasannya bahwa mahzabnya sendiri juga mengharamkan musik.