Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan mulut merupakan elemen penting dari kesehatan umum dan
kesejahteraan kehidupan. Kesehatan mulut yang baik akan memungkinkan seseorang
untuk berkomunikasi secara efektif, untuk makan dan menikmati berbagai macam
makanan, serta penting dalam kehidupan secara keseluruhan, untuk kepercayaan diri,
dan untuk kehidupan sosial. Akan tetapi, berbagai macam penyakit mulut dapat
mempengaruhi proporsi populasi dunia serta mempengaruhi angka morbiditas dan
mortalitas. Terdapat berbagai macam penyakit yang dapat ditemukan di area mulut,
yang dapat mempengaruhi baik jaringan keras ataupun jaringan lunak. Penyakit mulut
memiliki prevalensi yang cukup tinggi dan dampak yang ditimbulkan bagi
lingkungan dan individu cukup signifikan. Rasa sakit, rasa tidak nyaman, kesulitan
tidur, terbatasnya fungsi menyantap makanan yang menyebabkan nutrisi buruk, dan
tidak dapat beraktivitas merupakan dampak-dampak yang ditimbulkan dari berbagai
macam penyakit mulut.
Salah satu permasalahan kesehatan mulut yang paling sering diteliti adalah
kondisi mukosa mulut, terutama penyakitnya juga merupakan permasalahan lain yang
sangat sering terjadi pada populasi dunia. Penyakit mukosa mulut merupakan bagian
dari penyakit mulut yang berdampak besar bagi pasien yang mengalaminya. Hal ini
dapat terjadi karena mukosa mulut memiliki fungsi protektif yang secara signifikan
dapat mempengaruhi kesehatan umum pasien. Beberapa studi telah dilakukan untuk
mengetahui prevalensi dari penyakit mulut. Diantara semua penyakit-penyakit
mukosa mulut, terdapat beberapa kondisi yang dikategorikan sebagai variasi normal
pada struktur anatomis mukosa mulut. Kondisi-kondisi ini terkadang diabaikan oleh
dokter gigi ketika melakukan pemeriksaan klinis, hal ini dapat terjadi karena kondisi-
kondisi tersebut tidak terasa sakit dan kebanyakan pasien tidak menunjukkan keluhan
atau bahkan tidak menyadari akan keberadaan kondisi-kondisi variasi normal
tersebut. Namun, apabila pasien secara tidak sengaja menemukan kondisi seperti ini
pada rongga mulut mereka, mereka kebanyakan akan khawatir dan bahkan mengira
bahwa kondisi tersebut merupakan suatu kondisi kanker. Variasi anatomis normal
struktur dan tampilan mukosa mulut terdiri dari fordyce granules, leukoedema, dan
linea alba. Dari studi di Swedia, prevalensi leukodema dalam populasi ditemukan
sebanyak 48,9%. Studi mengenai variasi normal pada struktur anatomis dari seluruh
Negara sangat terbatas jumlahnya, begitu pula di Indonesia. Pada paper ini akan
disampaikan mengenai Leukoedema. Leukoedema adalah suatu keadaan kronik
disertai mukosa mulut yang berwarna kelabu gelap (Pindborg, 2009).
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mukosa Mulut


Lapisan mukosa adalah lapisan basah yang berkontak dengan lingkungan
eksternal. Terdapat pada saluran pencernaan, rongga hidung, dan rongga tubuh
lainnya.Pada rongga mulut, lapisan ini dikenal dengan oral mucous membrane atau
oral mucosa.
2.2 Fungsi
Mukosa oral mempunyai fungsi utama sebagai pelindung jaringan yang lebih
dalam pada rongga mulut. Fungsi lainnya, adalah sebagai organ sensoris, aktifitas
kelenjar, dan sekresi. Sebagai lapisan terluar, oral mukosa akan melindungi jaringan
rongga mulut dari lingkungan eksternal. Oral mukosa akan melakukan proses
adaptasi pada epitel dan jaringan ikat untuk menahan gaya mekanis dan abrasi yang
disebabkan aktifitas normal seperti mastikasi. Selain itu, lapisan epitel mulut akan
bertindak sebagai pelindung terhadap populasi mikroorganisme yang tertinggal di
rongga mulut yang dapat menyebabkan infeksi bila masuk ke dalam jaringan.
Fungsi sensoris oral mukosa akan memberikan informasi mengenai hal-hal
yang terjadi di rongga mulut. Dalam rongga mulut, reseptor akan berespon terhadap
suhu, sentuhan dan rasa sakit. Reseptor tertentu dalam rongga mulut juga akan
berespon terhadap kebutuhan akan air. Reflek seperti menelan, muntah, dan salivasi
juga diinisiasi oleh reseptor-reseptor pada oral mukosa.
2.3 Leukoedema
Leukoedema merupakan salah satu dari variasi normal mukosa rongga mulut.
Dan berkaitan dengan orang-orang berkulit gelap, tetapi kadang-kadang dijumpai
pada orang-orang berkulit putih. Insidensi leukoedema cenderung meningkat dengan
bertambahnya usia, 50%dari anak-anak kulit hitam dan 92% orang dewasa kulit
hitam menderitanya. Kondisi ini pertama kali ditemukan dan dinamakan pada tahun
1953. Leukoedema merupakan kondisi kronis dimana mukosa rongga mulut memiliki
penampakan berwana abu-abu dan opak. Leukoedema terlihat sebagai lesi yang
berlipat-lipat dan berwana putih sampai putih kebiru-biruan pada mukosa bukal,
seringkali pucat dan sulit dilihat. Penampakan berwarna putih keabuan pada
leukoedema mirip dengan penampakan lesi awal leukoplakia. Lesi ini tidak terlihat
sebagai suatu kesatuan tersendiri, namun garis tepinya nampak bercampur atau
bergabung dengan jaringan mukosa normal disekitarnya. Menonjolnya lesi
berhubungan dengan derajat pigmentasi melanin dibawahnya, kebersihan mulut, dan
banyaknya merokok. Saat area yang terlibat diregangkan, penampakan berwarna
putih ini akan hilang atau akan menjadi sulit untuk terlihat. Mukosa yang diregangkan
tersebut kemudian akan terlihat seperti mukosa normal dalam warna serta teksturnya.
Namun, saat mukosa yang diregangkan itu direlaksasi atau dikembalikan ke keadaan
semula, gambaran klinis sebelumnya akan kembali terlihat. Menggosok lesi tidak
akan menghilangkannya.

Gambar 2.1 Leukoedema

Leukoedema umumnya terjadi pada mukosa bukal secara bilateral. Tetapi


dapat juga terjadi pada mukosa bukal dan palatum lunak (namun jarang). Referensi
lain juga menyatakan bahwa lesi ini juga dapat meluas ke faucial pillars dan lidah.
Leukoedema memiliki prevalesi lebih tinggi diantara ras Negroid atau orang kulit
hitam lainnya daripada orang kulit putih. Kemungkinan lebih tingginya persentase
leukoedema pada kelompok pasien tertentu (seperti orang kulit hitam)
mengindikasikan adanya pengaruh herediter. Penemuan ini didukung oleh literatur
oleh J. J. Pindborg yang menyatakan bahwa di Uganda, leukoedema ditemukan
sebesar 16,5% pada orang Afrika, tetapi hanya 2,2% dri orang Asia. Leukoedema
bukan merupakan kondisi precancerous. Selain itu, belum pernah dilaporkan adanya
perubahan ke arah malignan pada leukoedema.

Gambar 2.2 Leukoedema pada mukosa pipi

2.4 Etiologi
Beberapa referensi menyatakan bahwa etiologi dari leukoedema tidak
diketahui. Namun referensi lainnya menyatakan bahwa leukoedema merupakan hasil
dari iritasi mukosa tingkat rendah yang terjadi secara berulang. Iritan tingkat rendah
tersebut antara lain dapat berupa oral hygiene yang buruk, makanan pedas, dan juga
tembakau. Kelihatannya terdapat korelasi positif antara leukoedema dengan
penggunaan tembakau, rokok, dan cerutu. Selain itu, cheek biting juga dipercaya
merupakan salah satu faktor penyebabnya. Berdasarkan literatur oleh J. J. Pindborg,
prevalensi dari leukoedema telah ditentukan melalui beberapa studi epidemiologi dan
berkisar antara 0,02% di India sampai 16,9% di Papua Nugini, dimana terdapat
hubungan yang kuat antara leukoedema dengan merokok dengan stick (tembakau
impor yang dibungkus dengan koran). Studi prevalensi di India oleh A. L. Mathew
juga menyatakan bahwa prevalensi dari leukoedema lebih tinggi diantara para
perokok daripada yang tidak merokok, dengan kecenderungan meningkat seiring
bertambahnya usia. Dalam penelitian epidemiologi di Swedia, leukoedema dijumpai
pada 49%. Leukoedema secara signifikan lebih prevalen diantara orang-orang yang
mempunyai kebiasaan merokok sehari-hari daripada diantara yang tidak merokok.

Gambar 2.3 Leukoedema pada mukosa pipi perokok

2.5 Terapi Leukoedema

Kondisi ini tidak memerlukan perawatan. Bila merokok merupakan faktor


penyebabnya, maka penghentian kebiasaan ini dapat menyebabkan perbaikan.
BAB III
KESIMPULAN

Leukoedema adalah salah satu dari variasi normal mukosa rongga mulut dan
berkaitan dengan orang-orang berkulit gelap, tetapi kadang-kadang dijumpai pada
orang-orang berkulit putih. Insidensi leukoedema cenderung meningkat dengan
bertambahnya usia. Leukoedema merupakan kondisi kronis dimana mukosa rongga
mulut memiliki penampakan berwana abu-abu dan opak. Terlihat sebagai lesi yang
berlipat-lipat dan berwana putih sampai putih kebiru-biruan pada mukosa bukal,
seringkali pucat dan sulit dilihat.

Etiologi dari leukoedema tidak diketahui. Namun dapat juga disebabkan


karena oral hygiene yang buruk, makanan pedas, dan juga tembakau. Tidak ada
komplikasi-komplikasi serius yang dikaitkan dengan lesi ini. Kondisi ini tidak
memerlukan perawatan. Bila merokok merupakan faktor penyebabnya, maka
penghentian kebiasaan ini dapat menyebabkan perbaikan.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, M. C. 2008. Prevalensi dan Distribusi Variasi Anatomis Normal Pada


Pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia Berdasarkan Lokasi, Usia, Dan Jenis Kelamin. Skripsi.
Jakarta: UI.

Langlais, R P. and C.S. Miller. 1994. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang
Lazim. Alih Bahasa oleh Budi Susetyo. Jakarta : Hipokrates.

Pindborg, J.J. 2009. Atlas Penyakit Mukosa Mulut. Alih Bahasa oleh drg. Kartika
Wangsaraharja. Jakarta: Binarupa Aksara.

Sciubba JJ, Regezi JA, Rogers III RS. PDQ Oral Disease Diagnosis and Treatment.
London. BC Decker Inc. 2002. p. 8, 16.