Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hemoglobin

Hemoglobin merupakan protein kompleks yang mengikat zat besi (Fe) dan

terdpat didalam eritrosit. Fungsi utama hemoglobin adalah mengangkut oksigen

(O2) dari paru-paru keseluruh tubuh dan menukarkannya dengan karbondioksida

(CO2) dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru. Tiap eritrosit

mengandung 640 juta molekul hemoglobin agar dapat menjalankan fingsinya

dengan baik.

Darah orang dewasa normal mengandung tiga jenis hemoglobin.

Komponen utamanya adalah hemoglobin dewasa atau adult hemoglobin (HbA)

dengan struktur molekul terdiri dari empat rantai polipeptida 22 dan masing-

masing polipeptida mengikat heme. Konsentrasi di dalam darah mencapai 96-

98%. Selain itu orang dewasa normal mengandung sejumlah kecil hemoglobin

lain yaitu > 0,5-0,8%. Hemoglobin fetus atau fetal hemoglobin (HbF) yang

mengandung rantai bersama rantai (22) serta 1,5-3,2% hemoglobin

dewasa minor atau minor adult hemoglobin (HbA 2) yang mengandung rantai

bersama rantai ( 22 ).

Pembekuan hemoglobin melibatkan dua jalur sintesis yaitu sintesis

heme dan sintesis rantai globin, kedua jalur tersebut akan bertemu untuk

membentuk hemoglobin. Sintesis heme akan terjadi di dalam mitokondria yang

diawali dari kondensasi glisin dan suksinil koenzim A untuk membentuk asam

-aminolevulinat (ALA) melalui bantuan enzim ALA sintase. Piridoksinal fosfat


(vitamin B6) berperan sebagai koenzim dalam reaksi biokimia akan

membentuk koproporfirinogen. Molekul tersebut akan masuk kembali kedalam

mitokondria dan menjadi protoporfirin. Dengan bantuan enzim, ferro (Fe 2+)

dalam mitokondria akan bergabung dengan protoporfirin membentuk heme.

Ditempat lain dalam sel yang sama terjadi sintesis dua jenis rantai

globin oleh poliribosom, yaitu globin dan globin akan bergabung dengan

heme menjadi hemoglobin (Nugraha,2015).

2.1.1 Struktur dan sintesis hemoglobin

Setiap organ utama dalam tubuh manusia tergantung pada oksigenasi untuk

pertumbuhan dan fungsinya, proses ini berada dibawah pengaruh hemoglobin.

Molekul ini hemoglobin terdiri dari dua struktur utama, yaitu heme dan

globin, serta struktur tambahan.

Heme, struktur ini melibatkan empat atom besi dalam bentuk Fe 2+

dikelilingi oleh cincin protoporfirin IX, karena zat besi dalam bentuk Fe 2+,

tidak dapat mengikat oksigen. Protoporfirin IX adalah produk akhir dalam

sintesis molekul heme. Protoporfirin ini hasil dari interaksi suksinil

koenzim A dan asam delta-aminolevulinat didalam mitokondria dari

eritrosit berinti, dengan pembentukan beberapa produk antaranya yaitu

porfobilinogen, uroporfirinogen, dan coproporifirin. Besi bergabung dengan

protoporifirin untuk membentuk heme molekul lengkap. Cacat pada salah

satu produk antara dapat merusak fungsi hemoglobin.


Globin, terdiri dari asam amino yang dihubungkan bersama untuk

membentuk rantai polipeptida. Hemoglobin dewasa terdiri atas rantai alfa-


an rantai beta. Rantai alfa memiliki 141 asam amino, sedangkan rantai

beta memiliki 146 asam amino. Heme dan globin dari molekul

hemoglobin dihubungkan oleh ikatan kimia.


Struktur tambahan, struktur tambahan yang mendukung molekul

hemoglobin adalah 2,3-difosfogloserat (2,3-DPG), suatu zat yang dihasilkan

melalui jalur Embden-Meyerhof yang anaerob selama proses glokolisis.

Struktur ini berhubungan erat dengan afinitas oksigen dari hemoglobin.

Setiap molekul heme terdiri dari empat struktur heme dengan besi pusat

dan dua pasang rantai globin. Struktur heme berasa pada rantai globin.

Hemoglobin mulai disintesis pada tahap normoblast polikromatik dalam

eritropiesis. Sintesis ini ditunjukkan dengan perubahan warna sitoplasma

dari biru tua menjadi ungu. Sebanyak 65% dari hemoglobin disintesis

sebelum inti eritrosit menghilang, dan 35% disintesis pada tahap retikulosit.

Eritrosit matang normal mengandung hemoglobin yang lengkap (Kiswari,

2014).

2.1.2 Jenis Hemoglobin

Ada tiga jenis hemoglobin yang disintesis, yaitu hemoglobin embrio,

hemoglobin janin, dan hemoglobin orang dewasa. Masing-masing jenis

hemoglobin memiliki pengaturan khusus pada rantai g;obin berada dibawah

pengaruh kromosom tertentu. Kromosom 11 berisi gen untuk produksi rantai

epsilon, beta, gamma, dan delta. Setiap orang tua memberikan konstribusi

satu gen untuk produksi dari masing-masing rantai. Oleh karena itu, setiap

individu memiliki dua gen untuk produksi salah satu rantai. Kromosom 16
bertanggung jawab untuk rantai alfa dan dan gen beta. Ada dua gen dalam

kromosom untuk produksi rantai alfa dan satu gen untuk produksi rantai

beta. Jadi setiap orang tua memberikan konstribusi dua gen untuk produksi

rantai alfa dan satu untuk rantai beta. Dengan demikian, setiap individu

memiliki empat gen untuk memproduksi rantai alfa dan dua gen untuk rantai

beta. Rantai alfa adalah komponen yang menetap pada hemoglobin dewasa,

oleh karena itu setiap hemoglobin memiliki dua rantai alfa sebagai bagian

dari konfigurasi kimia. Rantai epsilon dan rantai beta digunakan untuk

produksi hemoglobin embrionik. Setelah embrio berkembang, hemoglobin

Gower I dan II dan hemoglobin Portland, disintesis dan tetap berada dalam

dalam embrio selama 3 bulan. Hemoglobin janin atau hemoglobin F, muli

disintesis sekitar 3 bulan dalam perkembangan janin dan tetap sebagai

hemoglobin mayoritas saat lahir. Antara 3-6 bulan pasca melahirkan, jumlah

rantai gamma menurun dan jumlah rantai beta meningkat, menyebabkan

meningkatnya hemoglobin yang mencapai 95-98%, sedangkan 1-3%-nya adalah

hemoglobin F. Hemoglobin F ini kurang dari 1%, merupakan bagian dari

komplemen dewasa hemoglobin normal.

Asam amino adalah komponen paling penting dari setiap rantai globin. Posisi

khas dari asam amino dalam setiap rantai, serta kekhususan dari asam amino

itu sendiri, adalah penting untuk fungsi normal dari molekul hemoglobin.

Kelainan struktural dari rantai protein dapat menyebabkan cacat hemoglobin

(Kiswari, 2014).

2.1.3 Fungsi Hmeoglobin


Pengiriman oksigen adalah fungsi utama dari molekul hemoglobin. Selain itu

struktur hemoglobin mampu menrik CO 2 dari jaringan, serta menjaga darah

pada pH yang seimbang. Satu molekul hemoglobin mengikat satu molekul

oksigen di lingkungan yang kaya oksigen, yaitu di olveoli paru-paru.

Hemoglobin memiliki afinitas yang tinggi untuk oksigen dalam lingkungan

paru, karena pada jaringan kapiler di paru-paru terjadi proses difusi oksigen

yang sangat cepat. Sebagai molekul trnasit (deoksihemoglobin) di dalam

sirkulasi, molekul ini mampu mengangkut oksigen dan membongkar oksigen

ke jaringan ke daerah yang afnitas oksigennya rendah. Pada proses bongkar

muat tersebut, terjadi perubahan molekul. Ketika oksigen dikeluarkan,

jembatan yang dibentuk 2,3-DPG rusak, sehingga meolekul kembali

sepenuhnya untuk mampu mengikat oksigen. Pengikatan dan pelepasan

oksigen dari hemoglobin molekul ditentukan oleh kurva disosiasi oksigen.

Kurva ini membentuk huruf S. Kurva ini dirancang untuk menggambarkan

kualitas yang unik dari disosiasi oksigen dan menunjukan bagaimana molekul

hemoglobin dan oksigen merespons pada keadaan normal dan abnormal

(kiswari, 2014).

Nilai normal hemoglobin :

- Pria dewasa : 13,5-18,0 g/dl


- Wanita dewasa : 11,5-16,5 g/dl
- Bayi baru lahir : 13,6-19,6 g/dl
- Bayi umur 3 bulan : 9,5-13,5 g/dl
- Anak umur 1 tahun : 11,0-13,0 g/dl
- Anak umur 10-12 tahun : 11,5-14,8 g/dl
2.2 Antikoagulan

Antikoagulan adalah zat yang ditambahkan kedalam darah dengan tujuan

untuk menghambat atau mencegah proses pembentukan bekuan darah dengan cara

mengikat atau mengendapkan ion kalsium dan menghambat pembentukan

thrombin dari protombin. Dengan pemberian antikoagulan, didapat spesimen atau

sampel darah utuh atau di dapatkan plasma yang diperoleh dari sentrifugasi.

Agar darah yang akan diperiksa jangan sampai membeku dapat dipakai

bermacam-macam antikoagulan. Tidak semua macam antikoagulan dapat dipakai

karena ada yang terlalu banyak berpengaruh terhadap bentuk eritrosit atau

leukosit yang akan diperiksa morfologinya. Yang dipakai ialah :

1. EDTA, (ethylenediaminetetraacetate), sebagai garam natrium atau

kaliumnya.
2. Heparin berdaya seperti antitrombin, tidak berpengaruh terhadap bentuk

eritrosit dan leukosit.


3. Natriumsitrat dalam larutan 3,8%, yaitu larutan yang isotonik dalam darah.
4. Campuran amoniumoxalat dan kaliumoxalat menurut Paul dan Heller yang

juga dikenal sebagai campuran oxalat seimbang (Gandasoebrata, 1969).

2.3 EDTA (ethylenediaminetetraacetate)

EDTA (Ethylen Diamine Tetracetid Acid). EDTA meiliki rumus kimia

[(CH2N(CH2CO2H)2]2 dan merupakan antikoagulan yang sering digunakan dalam

bentuk kering yaitu garam di-kalium (K 2EDTA) dan garam di-natrium (Na 2EDTA)

atau bentuk cair yaitu tri-kalsium (K3EDTA).


Kelebihan penggunaan EDTA sebagai antikoagulan karena sifat zat

aditifnya yang tidak merubah morfologi sel dan menghambat agregasi trombosit

dengan lebih baik dari antikoagulan lainnya. Kekurangan EDTA yaitu sifatnya

yang larut dibandingkan antikoagulan lainnya, oleh sebab it pencampuran EDTA

dilakukan berkali-kali sebanyak 8-10 kali dengan cara inversi (membolak balikkan

tabung) tetapi garam kalium memiliki kelarutan 15 kali lebih besar dalam darah

dibandingkan dengan garam natrium, oleh sebab itu K 2EDTA lebih sering

digunakan dalam laboratorium karena kelarutannya sangat tinggi sehingga

menghasilkan spesimen yang memiliki gumpalan lebih sedikit.

EDTA mencegah koagulasi dengan cara mengikat ion kalsium sehingga

garam kalsium yang tidak larut, dengan demikian ion kalsium yang berperan

dalam koagulasi menjadi tidak aktif, mengakibatkan tidak terjadina proses

pembentukan bekuan darah. Darah EDTA harus segera dicampur setelah

penggumpalan untuk menghindari pembentukan gumpalan trombosit dan

pembentukan bekuan mikro (microclot).

Jumlah EDTA serbuk biasanya digunakan 1 mg dalam 1 ml darah. Bila

jumlah EDTA yang diberikan kurang dari takarannya, darah akan mengalami

koagulasi. Konsentrasi EDTA yang berlebih menyebabkan penyusutan eritrosit

(Nugraha, 2015).

2.3 NaF (Sodium flourida/natrium flourida)

Sodium flourida (NaF) memiliki kerja ganda pada darah, mencegah

clotting ketika ditambahkan dalam konsentrasi yang sama, biasanya menggunakan

oxalat dan mencegah semua kinerja phosphatase. Hasilnya adalah ketika darah
diperlakukan dengan NaF, dapat bertahan tanpa terjadi hidrolisis atau sintetis dari

ester phosphorus inorganik darah atau plasma yang tetap dan sama sekali tidak

berubah.

Ini menunjukan bahwa menjaga plasma selama berjam-jam pada suhu

380C menyebabkan tidak adanya peningkatan jumlah organik phosporus jika

sodium flourida telah ditambahkan. Protein bebas asam filtrate darah juga bisa

diteruskan, tentu saja evaporation harus dicegah.

Setalah penambahan sodium flourida sebagai antikoagulan darah, darah

atau plasma dapat dikirim dalam perjalanan tanpa terjadi kerusakan. Jika itu tidak

dianjurkan untuk melakukan estimation pada serum. Dapat menambahkan sodium

flourida.

Terjadinya peningkatan inorganik darah phosporus yang ditemukan diserum

atau palsma darah yaitu pada saat menggunakan oxalat, jika citrat atau hirudin

telah ditambahkan untuk mencegah clotting diasam protein bebas filtrat darah,

plasma atau serum sama-sama terjadi peningkatan. Menambahkan sodium flourida

dapat mencegah clotting darah dan juga semua tindakan phospatase. Ester

phosporus hydrolysis dan sintesis tidak dapat terjadi dan dapat memperbaiki nilai-

nilai organik dan memastikan adanya phosporus. Bahkan ketika darah atau

plasma tetap ditaruh berjam-jam atau berhari-hari pada suhu kamar atau pada

suhu 380C. Ketika jumlah sodium yang benar (10mg/5ml dalam darah) jika

digunakan tidak akan mempengaruhi ketika ditemukan pengembangan warna pada

saat analysis (Burkens, 1935).