Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pelayanan Keperawatan sebagai bagian integral dari sistem pelayanan

kesehatan mempunyai peranan besar dalam meningkatkan dan menentukan

keberhasilan pelayanan kesehatan. Pelayanan Keperawatan ini juga termasuk

pelayanan keperawatan di Rumah Sakit yang menurut hasil penelitian (Hubber

1996) dalam Azwar (1997) menyatakan bahwa 90% pelayanan yang diberikan

di Rumah Sakit adalah Pelayanan Keperawatan. Dengan demikian baik

buruknya pelayanan kesehatan di suatu Rumah Sakit sangat di tentukan oleh

pelayanan keperawatan itu sendiri.

Sejalan dengan perkembangan keperawatan di Indonesia menuju

keperawatan profesional telah terjadi perubahan yang mendasar tentang

keyakinan dan pandangan perawat terhadap hakekat keperawatan yang meliputi

peran, fungsi dan tugas perawat. Tetapi pada kenyataannya, perawat di Rumah

Sakit masih belum memahami dan menjalankan peran dan fungsinya. Unit

Gawat Darurat sebagai salah satu unit utama di Rumah Sakit dalam

memberikan pelayanan kegawatdaruratan yang bertujuan menyelamatkan

kehidupan penderita. Bantuan kegawatdaruratan ini mencakup banyak organ

penting tubuh, salah satunya pada kasus Cedera Kepala.

Cedera kepala merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat

menyebabkan gangguan fisik dan mental yang komplek. Di Amerika insiden

cedera kepala adalah 200 per 200.000 orang per tahun. Di Indonesia, walaupun
2

belum tersedia data secara nasional, cedera kepala juga merupakan kasus yang

sangat sering dijumpai disetiap rumah sakit.

Cedera kepala akan memberikan gangguan yang sifatnya lebih

kompleks bila dibandingkan dengan trauma pada organ tubuh lainnya. Hal

ini disebabkan karena struktur anatomik dan fisiologik dari isi ruang

tengkorak yang majemuk, dengan konsistensi cair, lunak dan padat yaitu

cairan otak, selaput otak, jaringan saraf, pembuluh darah dan tulang

(Retnaningsih, 2008).

Kematian sebagai akibat dari cedera kepala dari tahun ke tahun

bertambah, pertambahan angka kematian ini antara lain karena jumlah

penderita cedera kepala yang bertambah dan penanganan yang kurang tepat

atau sesuai dengan harapan kita (Smeltzer & Bare, 2002). Semua bentuk

trauma termasuk cedera kepala membutuhkan terapi dan penatalaksanaan

yang intensif mulai dari tindakan premedikasi, bedah sampai perawatan

pasca operasi (Ignatavikus, 2002).

Cedera kepala merupakan kejadian kegawatdaruratan yang harus

dengan cepat, cermat dan tepat untuk ditangani. Sesuai dengan KepMenKes

066/MENKES/SK/II/2006 tentang Pedoman Manajemen Kesehatan Sumber

Daya Manusia (SDM) Dalam Penanggulangan Bencana; mengharuskan

setiap pelayanan kesehatan memiliki perawat yang berkompeten dan

terstandar di rumah sakit. Perawat yang berkompeten disini adalah perawat

yang menjunjung tinggi sifat profesionalisme. Syarat untuk menjadi seorang

perawat yang profesional dapat dilihat dari tingkat pengetahuannya, karena


3

pengetahuan merupakan dasar dan pedoman yang harus dikuasai oleh

seorang perawat sebelum melakukan tindakan terhadap pasien.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam

membentuk perilaku seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dorongan

pikir dalam menumbuhkan kepercayaan diri maupun dorongan sikap dan

perilaku, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimulus

terhadap tindakan seseorang. Di samping itu, perilaku yang dalam

pembentukannya didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih langgeng

(Notoatmodjo, 2003).

Kematian yang diakibatkan dari cidera kepala dari tahun ke tahun

semakin bertambah, pertambahan angka kematian ini karena penderita

cidera kepala yang bertambah dan penanganan yang kurang tepat atau sesuai

dengan harapan kita (Smletzer, 2008). Penanganan yang dilakukan oleh

perawat di Unit Gawat Darurat (UGD) merupakan tindakan yang bertujuan

untuk menyelamatkan jiwa penderita dengan cepat, tepat dan benar.

Penanganan yang dilakukan saat terjadi cedera kepala adalah menjaga jalan

nafas penderita, mengontrol pendarahan dan mencegah syok, imobilisasi

penderita, mencegah terjadinya komplikasi dan cedera sekunder. Setiap

keadaan yang tidak normal dan membahayakan harus segera diberikan

tindakan resusitasi pada saat itu juga (Hardi, 2008).

Bertolak dari hal diatas, jelas bahwa cedera kepala adalah insidensi

yang sudah menelan banyak korban dengan berbagai prognosa bahkan

diantaranya meninggal dunia. Ini semua tidak lepas dari peran perawat

dalam melakukan penanganan cedara kepala itu sendiri dan dilandasi oleh
4

pengetahuan perawat dalam penatalaksanaan keperawatn cedera kepala.

Untuk itu perawat harus meningkatkan mutu, kualitas dan pengetahuannya.

Karena tugas pokok perawat adalah merawat pasien untuk mempercepat

penyembuhan pasien. Dalam hubungan dengan pencapaian keserasian dan

kebahagiaan hidup bersama, sumber daya manusia yang berkualitas baik

akan senantiasa berusaha untuk mencapai keberhasilan seoptimal mungkin

dan meningkatkan produktivitasnya.

Studi pendahuluan yang dilakukan ke RSUD Suradadi Tegal, kasus

cedera kepala pada bulan Januari sampai Mei 2016 sebanyak 48 orang

mengalami cidera kepala, 52 % (25 orang) mengalami cidera kepala ringan,

sebanyak 25% (12 orang) mengalami cidera kepala sedang, dan sebanyak

22,9% (11 orang) mengalami cidera kepala berat. Sedangkan angka kejadian

Mei sampai Desember 2016 sebanyak 73 orang mengalami cidera kepala,

sebanyak 74% mengalami cidera kepala ringan, sebanyak 16% mengalami

cidera kepala sedang, dan sebanyak 10% mengalami cidera kepala berat,

dengan jumlah perawat IGD 21 orang. Begitu banyaknya kasus cedera

kepala serta resikonya yang begitu besar dan jumlah perawat IGD yang

terbatas.

Berdasarkan fenomena tersebut diatas, peneliti merasa tertarik

untuk mengetahui lebih lanjut hubungan pengetahuan tentang cedera kepala

dengan peran perawat dalam penanganan pasien dengan cedera kepala di

Unit Gawat Darurat RSUD Suradadi Tegal.


5

1.2. Rumusan Masalah

Adakah hubungan pengetahuan tentang cedera kepala dan peran perawat

dalam penanganan pasien cedera kepala di Unit Gawat Darurat RSUD

Suradadi Tegal?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan pengetahuan tentang cedera kepala dengan peran

perawat (pelaksana) pada penanganan pasien dengan cedera kepala di Unit

Gawat Darurat RSUD Suradadi Tegal?

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Teridentifikasinya pengetahuan perawat tentang penanganan pasien

dengan Cedera Kepala di Unit Gawat Darurat RSUD Suradadi Tegal.


2. Teridentifikasinya peran perawat dalam penanganan pasien dengan

cedera kepala di Unit Gawat Darurat RSUD Suradadi Tegal.


3. Teridentifikasinya hubungkan pengetahuan perawat dengan peran

perawat dalam penanganan pasien cedera kepala di Unit Gawat Darurat

RSUD Suradadi Tegal.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Seluruh proses penelitian ini dapat dijadikan pengalaman belajar dan

diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi serta dapat

dijadikan acuan bagi mahasiswa yang lain yang akan melakukan

penelitian hubungan pengetahuan tentang cidera kepala dengan peran

perawat di Unit Gawat Darurat


6

2. Bagi institusi pendidikan keperawatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber data untuk

penelitian selanjutnya serta dapat dijadikan bahan diskusi dalam proses

belajar mengajar. Dan penulisan ini dapat memperkaya bahasan

keperawatan berhubungan dengan pengetahuan tentang cedera kepala

dan peran perawat di Unit Gawat Darurat

3. Bagi Instansi Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan

bagi upaya pengembangan sumber daya manusia dalam peningkatan

pengetahuan tentang cedera kepala dengan mengadakan pelatihan

secara berkala tentang penanganan cedera kepala.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
7

2.1. Pengetahuan Tentang Cidera Kepala


2.1.1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi

melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa, dan raba. Sebagia besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).


Pengetahaun menurut Notoatmodjo (2007) merupakan khasanah

kekayaan mental secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya

kehidupan kita. Setiap pengetahaun mempunyai ciri-ciri yang spesifik

menganai apa (ontologi), bagaimana (epistologi) dan untuk apa (aksiologi).

Pengetahuan merupakan fungsi dari sikap, menurut fungsi ini manusia

mempuanyai dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk mencapai penalaran dan

untuk mengorganisasikan pengalaman. Adanya unsur-unsur pengalaman yang

semua tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun,

ditata kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga tercapai suatu konsisten

sehingga sikap berfungsi sebagai suatau skema, suatu cara strukurisasi agar

dunia sekitar tampak logis dan masuk untuk melakukan evaluasi tingkatan

pengetahuan.

2.1.2. Tahap Pengetahuan


Menurtu Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang dicakup di dalam

domain kognitif mempunyai enam tahapan, yaitu :


1. Tahun (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (racall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan

yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu ini merupakan
8

tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja yang digunakan

untuk mengukur bahwa orang tahu antara lain: menyebutkan,

menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.


2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi

tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi

harus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyimpulkan, meramalkan

terhadap objek yang dipelajari.


3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari apda situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini

dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode

dan prinsip dalam konteks atau situasi yang lain.


4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu

struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah menunjuk kepada suatu kemampaun untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain sintesis sintesis itu merupakan suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi

yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunkan

kriteria-kriteria yang telah ada.


9

2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan


1. Umur
Makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya

bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu bertambahnya proses

perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan

tahun.
2. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk

mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga

sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Menurut Hary (2006)

menyebutkan bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah

tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka

peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin

baik pula pengetahuannya.


3. Pengalaman
Pengalaman merupak guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan

bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu

suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu

pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebgai upaya untuk

memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang

kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan

yang dihadapi pada masa lalu.

2.2. Cidera Kepala


Cidera kepala meliputi trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak

(Smeltzer, 2002). Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupaya

penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak,

percepatan dan perlambatan (acceleration-deceleration) yang merupakan

perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada


10

percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan

pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada

tindakan pencegahan (Musloha, 2010).


Cidera kepala merupakan keadaan yang serius, oleh sebab itu

tenaga medis di unit gawat darurat diharapkan mempunyai pengetahuan

praktis untuk melakukan pertolongan pertama pada pasien dengan cidera

kepala. Terlambatnya penanganan pasien dengan cidera kepala dapat

menyebabkan keadaan penderita memburuk dan berkurangnya

kemungkinan pemilihan fungsi otak san saraf lainnya.

2.3. Peran Perawat


2.3.1. Pengertian Peran
Peran merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain

terhadap seseorang dengan kedudukannya dalam sistem, dimana dapat

dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi perawat maupun dari luar

profesi keperawatan yang bersifat konstan (Hidayat, A.A, 2007). Menurut

Konsorsum Ilmu Kesehatan tahun 1989 dalam Hidayat A.A (2007) peran

perawat terdiri dari:


1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat diartikan perawat dengan memperhatikan keadaan

kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan

keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang

sederhana sampai dengan kompleks.


2. Sebagai Advocat Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam

menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan

khususnya dalam pengambilan persetujuan tindakan keperawatan.

Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak

pasien, hak atas pelayanan dalam mepertahankan dan melindungi hak-


11

hak pasien, hakt atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi

tentang penyakitnya, hak atas privacy, hak untuk menentukan nasibnya

sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.


3. Sebagai Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat

pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan

sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien adalah dilakukan

pendidikan kesehatan.
4. Sebagai Koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta

mengorganisai pelayanan kesehatan dari tim keadaan sehingga pemberi

pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuha klien.


5. Sebagai Kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang

terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi, dan lain-lain dengan berupaya

mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan.


6. Sebagai Konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan

perencanaan, kerjasama, perubahan yang sitematis dan terarah sesuai

dnegan metode pemberian pelayanan keperawatan.


7. Sebagai Pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahanan yang

sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan

keperawatan

2.3.2. Peran Perawat di Unit Gawat Darurat


Peran perawat gawat darurat (Musliha, 2010) :
1. Melakukan triage, mengkaji dan menetapkan dalam spektrum yang lebih

luas terhadap kondisi klinis pada berbagai keadaan yang bersifat

mendadak mulai dari ancaman nyawa sampai kondisi kronis.


2. Mengkaji dan memberikan asuhan keperawatan terhadap individu-

individu dari semua umur dan berbagai kondisi.


12

3. Mengatur waktu secara efisine walaupun informasi terbatas


4. Memberikan dukungan emosional terhadap pasien dan keluarganya
5. Memfasilisatasi dukungan spiritual
6. Mengkoordinasikan berbagai pemeriksaan diagnostik dan memberikan

pelayanan secara multidisiplin


7. Mendokumentasikan dan mengkomunikasikan inforamsi tentang

pelayanan yang telah diberikan serta kebutuhan untuk tindakan lanjut.


8. Memfasilitasi rujukan dalam rangka menyelesaikan masalah

kegawatdaruratan.
9. Membantu individu beradaptasi terhadap kegiatan sehari-hari
10. Memfasilitasi tindak lanjut perawatan dengan memanfaatkan sumber-

sumber yang ada di masyarakat.


11. Menyiapkan persiapan pemulangan pasien secara aman melalui

pendidikan kesehatan dan perencanaan pasien (Discharge Planning)

2.3.3. Unit Gawat Darurat


Unit gawat darurat adalah salah satu unit di rumah sakit yang memberikan

pelayanan kepada penderita gawat darurat. Keperawatn gawat darurat

(Emrgency Nursing) merupakan pelayanan keperawatan yang komprehensif

diberikan kepada pasien dengan injuri acut atau sakit yang mengancam

kehidupan. Kegiatan pelayanan keperawatan menunjukkan keahlian dalam

pengkajian pasien, setting prioritas, intervensi kritis, dan pendidikan

kesehatan masyarakat (Burret, 2007). Sebagai seorang spesialis, perawat

gawat darurat menghubungkan pengetahuan dan ketrampilan untuk

menangani respon pasien pada resusitasi, syok, trauma, ketidakstabilan,

multisistem, keracunan dan kegawatan yang mengancam jiwa lainnya.

2.3.4. Triage
Triage adalah suatu proses yang mana pasien digolongkan menurut tupe

dan tingkat kegawatan kondisinya. Triage adalah proses seleksi penderita

dalam penentuan prioritas penanganan dikarenakan terbatasnya tenaga


13

dan sarana prasarana di rumah sakit, biasanya dilakukan pada area pintu

masuk suatu instalasai gawat darurat. Pada triage penderiat dibagi dalam

4 kategori, yaitu :
Merah : penderita tidak gawat dan darurat
Kuning : penderita gawat dan tidak darurat
Hijau : penderita tidak gawat dan tidak darurat
Hitam : meninggal dunia

2.3.5. Cidera Kepala


1. Pengertian
Cidera kepala meliputi trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak

(Smeltzer, 2002). Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa

penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak,

percepatan dan perlambatan yang merupakan perubahan bentuk

dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan

penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan

juga oleh otak sebagai akibat perputaran apda tindakan pencegahan

(Musliha, 2010).
Cidera kepala merupakan keadaan yang serius, oleh sebab itu

tenaga medis di unit gawat darurat diharapkan mempunyai pengetahuan

praktis untuk melakukan pertolongan pertama pada pasien dengan cidera

kepala. Terlambatnya penanganan pasien dnegan cidera kepala dapat

menyebabkan keadaan penderita memburuk dan berkurangnya

kemungkinan pemulihan fungsi otak dan saraf lainnya.

2. Klasifikasi Cidera Kepala


Menurut Hudak et al (2006), klasifikasi cidera kepala

berdasarkan nilai skala Glascow (SKG):


a. Minor
Skala Koma Glascow 13-15
Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia krang dari 30

menit
14

Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerbralm

hematoma
b. Sedang
Skala Koma Glascow 9-12
Kehilangan kesadaran dan amnesia lebih dari 30 menit tetapi

kuran dari 24 jam


Dapat mengalami fraktur tengkorak
c. Berat
Skala Koma Glascow 3-8
Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam
Juga meliputi kontusio serebral, laserasi atau hematoma

intrakranial
3. Penatalaksanaan Cidera Kepala (Musliha, 2010)
a. Perawatan
1) Primary Survey
- Nilai tingkat kesadaran
- Lakukan penilaian ABC
A-Airway : kaji apakah ada muntah, perdarahan, benda asing

dalam mulut.
B-Breathing : kaji kemampuan bernapas, peningkatan PCO2

akan memperburuk edema cerebri


C-Circulation : nilai denyut nadi dan perdarahan imobilisasi

kepala atau leher dengan collar neck atau alat lain

dipertahankan sampai hasil x-ray membuktikan tidak ada

fraktur cervical.
2) Intervensi Primer
a. Buka jalan napas dengan teknik jaw-thrust kepala jangan

ditekuk, isap lendir kalau perlu


b. Beri O2 4-6 liter/menit untuk mencegah anoksia serebri
c. Hperventilasi 20-25 x/menit meningkatkan vaskonstriksi

pembuluh darah otak sehingga edema serebri menurun


d. Kontrol pendaharan, jangan beri tekanan pada luka pedarahan

di kepala, tutup saja dengan kassa, diplester. Jangan berusaha


15

menghentikan aliran darah dari lubang telinga atau hidung

dengan menyumbat lubang tersebut


e. Pasang infus.
3) Secondary Survey
Kaji tingkat trauma, tingkat kesadaran, ukur tanda-tanda vital,

respon pupil, gangguan penglihatan, sunken eyes (mata terdorong

ke dalam) satu atau keduanya. Aktivitas kejang. Tanda battles

yaitu blush discoloration atau memar di belakang telinga

(mastoid) menandakan adanya fraktur dasar tengkorak, rhinorea

atau otorea menandakan kebocoran cerebro spinal fluid,

periorbital ecchymosis akan ditemukan apda fraktur anterior

basilar.
4) Penatalaksanaan jalan napas dan proteksi spinal cord
Pasien dengan kepala, leher atau trauma wajah juga diduga

mengalamai trauma tulang belakang, maka pencegahan trauma

tulang belakang harus dipertahankan melalui periode pengkajian

awal sampai perkembangan trauma dapat dipastikan. Jalan napas

harus dipertahankan tanpa hiperektstensi. Teknik jaw-thurst dan

manuver chin-lift direkomendasikan untuk mempertahankan jalan

napas dan pernapasan mungkin memerlukan bantuan awal dengan

suatu uni bag-valve mask, sejak kekurangan oksigen

berkontribusi pada edema serebral.


5) Tanda-tanda vital
a. Tekanan Darah
Tekanan darah dan nadi aslinya adalah stabil pada awal periode

setelah trauma kepala, tetapi ketika tekanan perfusi serebral

menjadi terancam karena berbagai sebab, reseptor pressor

dalam pusat vasomotro medulla terstimulasi untuk menaikkan


16

tekanan darah. Elevasi tekanan darah dan pelebaran tekanan

nadi adalah refleksi proses iskemik mempengaruhi

peningkatan tekanan intrakranial atau disebabkan miokardial.

Tekanan darah rendah tidaklah spesifik pada trauma neurologis

sampai kematian dapat terjadi segera.


b. Nadi
Nadi biasanya lambat dan terikat hubungannya dengan trauma

kepala mayor. Jika bradicardia muncul, ini mendorong

penekanan pada batang otak. Dalam kasus peningkatan

tekanan intrakranial yang berat, nadi melambat dan penuh.

Adanya takikardia menimbulkan hipetensi yang membutuhkan

resusitasi volume. Nadi yang cepat, tidak beraturan mungkin

mengikuti dekompensasi peningkatan tekanan intrakranial

terminal. Disritmia terjadi pada pasien dengan darah dalam

cerebro spinal fluid dan berhubungan dengan gangguan otak

tertentu, seperti melibatkan possa posterior.


c. Suhu
Suhu mungkin berguana dalam pengkajian koma, sejak pasien

dengan masalah metabolik mungkin dapat meningkatkan atau

menurun dari normal yang dimediasi oleh hipotalamus.


d. Pernapasan
Pernapasan cheynes-stokes dikarakteristikan dengan

peningkatan dan penurunan kedalaman ekskursi diikuti dnegan

periode apnea. Pernapasan cheyness-stokes berhubungan

dengan perdarahan ke dalam ganglia basalis, kondisi yang

mendorong tekanan pada pusat pernapasan medulla spinalis,


17

lesi hemisper bilateral dalam serebrum atau suatu disfungsi

serebulum, otak tengah dan pons atas.


reflek dan sistem motorik juga secara berseri dievaluasi.

Sejalan dengan kelanjutan pengkajian motorik, kedua sisi

harus dites dan dibandingkan. Postur abnormal harus dicatat.

Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial harus dicatat,

yaitu : sakit kepala, muntah proyektil, deviasi mata ke kiri,

perubahan kekuatan atau tonus otot, kejang. Peningkatan

tekanan darah dan penurunan tekanan nadi, perubahan napas,

takikardi, deserebrasi atau dekortikasi.


6) Penatalaksanaan Cidera Kepala Berdasarkan klasifikasi
a. Cidera Kepala Ringan (Skala Koma Glascow 14-15)
Penderita dengan cidera kepala yang dibawa ke unit gawat

darurat rumah sakit kurang lebih 80% dikategorikan dengan

cidera kepala ringan, penderita tersebut masih sadar namun

dapat mengalami amnesia. Berkaitan dengan cidera kepala

yang dialaminya dapat disertai dengan riwayat hilangnya

kesadaran yang singkat namun sulit untuk dibuktikan terutama

pada kasu pasien dengan pengaruh alkohol atau obat-obatan.

Sebagian besar penderita cidera kepala ringan dapat sembuh

dengan sempurna walaupun mungkin ada gejala sisa yang

sangat kecil. Pemeriksaan CT Scan idealnya harus dilakukan

pada semua cidera kepala ringan yang disertai dengan

kehilangan kesadaran lebih dari 5 menit, amnesia, sakit kepala

hebat, GCS < 15 atau adanya defisit neurologis focal, foto

cervical juga harus dibuat bila terdapat nyeri pada palpasi


18

leher. Pemeriksaan foto polos dilakukan untuk mencari fraktur

linier atau depresi pada cervical, fraktur tulang wajah atau pun

adanya benda asing di daerah kepala akan tetapi harus diingat

bahwa pemeriksaan foto polos tidak boleh menunda transfer

pasien/medevac ke rumah sakit yang lebih memadai. apalagi

bila ditemukan adanya gejala neurologis yang abnormal, harus

segera dikonsultasikan kepada ahli bedah syaraf. Bila pasien

dengan cidera kepala mengalami asimptomatis, sadar

neurologis normal, observasi diteruskan selama beberapa jam

dan dilakukan pemeriksaan ulang. Bila kondisi penderita tetap

normal amaka dapat dianggap pasien aman. Akan tetapi bila

penderita tidak sadar penuh atau berorientasi kurang terhadap

rangsang verbal maupun tulisan, keputusan untuk

memulangkan pasien harus ditinjau ulang.


b. Cidera Kepala Sedang (Skala Koma Glascow 9-13)
Dari seluruh penderita cidera kepala yang amsuk ke unit gawat

darurat rumah sakit hanya 10% yang mengalami cidera kepala

sedang. Mereka pada umumnya masih mampu memenuhi

perintah sederhana, namun biasanya tampak bingung atau

terlihat mengantuk dan disertai dengan defisit neurologis focal

seperti hemiparese. Sebanyak 10-20% dari pasien keadaan

koma, pada saat dilakukan pemeriksaan di unit gawat darurat

dilakukan anamnesa singkat dan stabilisasi kardiopulmoner

sebelum pemeriksaan neurologis dilakukan. Penderita harus


19

dirawat di ruang intensif yang setara, dilakukan observasi ketat

dan pemeriksaan neurologi serial selama 12-24 jam pertama.


c. Cidera Kepala Berat (Skala Koma Glascow 3-8)
Pasien dengan cidera kepala berat tidak mampu melakukan

perintah sederhana walaupun status kardiopulmonernya telah

stabil, memiliki resiko morbiditas dan mortalitas cukup besar.

2.4. Kerangka Teori

Tahap pengetahuan : Peran Perawat :

1. Tahu (know) 1. Sebagai pemberi


2. Memahami asuhan keperawatan
(Comprehension) 2. Sebagai Advokat klien
3. Aplikasi (Aplication) 3. Sebagai edukator
4. Analisis (Analysis) 4. Sebagai koordinator
5. Sintesis (Syntesis) 5. sebagai kolaborator
6. Evaluasi (Evaluation) 6. sebagai konsultan
7. sebagai pembaharu

Penanganan pasien dengan


cidera kepala

Gambar 2.1 : Kerangka Teori Hubungan Pengetahuan Tentang


Cidera Kepala dengan Peran Perawat Dalam Penanganan Pasien Cidera Kepala
20

BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep


Kerangka konsep adalah penjelasan tentang konsep-konsep yang

terkandung di dalam asumsi teoritis yang digunakan untuk mengabstraksikan

unsur-unsur yang terkandung dalam fenomena yang akan diteliti dan

menggambarkan bagaimana hubungan konsep-konsep tersebut (Dharma,

2011). Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen


Tahap pengetahuan : Peran Perawat :

1. Tahu (know) 1. Sebagai pemberi


2. Memahami asuhan keperawatan
(Comprehension)
3. Aplikasi (Aplication) 2. Sebagai Advokat klien
3. Sebagai edukator
4. Analisis (Analysis) 4. Sebagai koordinator
5. Sintesis (Syntesis) 5. sebagai kolaborator
: Tidak diteliti
6. Evaluasi (Evaluation) 6. sebagai konsultan
: Ditelit 7. sebagai pembaharu

Gambar 3.1 : Kerangka Konsep

Keranga konsp penelitian di atas dapat digambarkan korelasi beberapa faktor

yang diteliti :

1. Variabel independent (variabel bebas) disebut juga variabel sebab yaitu

karakteristik dari subjek yang dengan keberadaannya menyebabkan


21

perubahan pada variabel lainnya. Yang termasuk pada variabel

independen pada penelitian ini adalah pengetahuan tentang trauma kepala


2. Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel akbiat atau variabel

yang akan berubah akibat pengaruh atau perubahan yang terhajadi pada

variabel independent. Yang termasuk variabel dependen pada penelitian

ini adalah peran perawat dalam penanganan trauma kepala.

3.2. Hipotesisi Penelitian


Hipotesis adalah pernyataan awal peneliti tentang hubungan antar

variabel yang merupakan jawaban peneliti tentang kemungkinan hasil

penelitian. Di dalam pernyataan hipotesis terkandung variabel yang akan

diteliti dan hubungan antar variabel-variabel tersebut (Dharma, 2011)


Dalam kerang konsep penelitian diatas, maka dapat dirumuskan

hipotesis penelitian sebagai berikut :


Ha : ada hubungan antara pengetahuan tentang trauma kepala dengan peran

perawat dalam penanganan pasien cidera kepala di unit gawat darurat

RSUD Suradadi Tegal Tahun 2017.

3.3. Definisi Operasional


Definisi operasional dalam penelitian ini dapat dijelaskan di bawah ini :

Skala
No Variabe Definsi Opeasional Alat Ukur Hasil Ukur
Ukur
A Variabel Indpenden
1 Tahu (Know) Mampu menyebutkan, Kueisoner Kurang Ordinal
menguraikan dan pertanyaan 1-5 Skor < Median
mendefinisikan tentang
cidera kepala Baik
Skor Median
2 Memahami Mampu menyimpulkan Kuesioner Kurang Ordinal
(Comprehension) dan meramalkan apa pertanyaan 6-10 Skor < Median
yang akan terjadi pada
cidera kepala bila tidak Baik
ditangani dengan benar Skor Median
3 Aplikasi (Aplication) Mampu menerapkan Kuesioner Kurang Ordinal
ilmu dengan benar dan pertanyaan 11- Skor < Median
sesuai dengan kondisi 15
pada kasus pasien Baik
dengan cidera kepala Skor Median
22

B Variabel Dependen
1 Pemberian Asuhan Mampu memberikan Obervasi Kurang Ordinal
Keperawatan asuhan keperawatan pelaksanaan Skor < Median
kegawatdaruratan pada tindakan sesuai
pasien dengan cidera standar Baik
kepala sesuai dengan operasional Skor Median
standar operasional prosedur
prosedur yang berlaku di
RSUD Suradadi Tegal

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian atau desain penelitian adalah model atau

metode yang digunakan peneliti untuk melakukan suatu penelitian yang

memberikan arah terhadap jalannya penelitian (Dharma, 2011). Penelitian

ini adalah penelitian deskriptif korelasional yaitu penelitian yang bertujuan

untuk menganalisis hubungan pengetahuan tentang trauma kepala dan peran

perawat penanganan pasien dengan cidera kepala. Penelitian ini adalah

penelitian corssectional yaitu penelitian yang dilakukan hanya dalam watu

waktu dengan menggunakn metode pengambilan data.

4.2. Variabel Penelitian


Dalam penelitian ini variabel-variabel yang diteliti antara lain :
1. Variabel independen (variabel bebas) disebt juga variabel sebab yaitu

karakteristik dan subjek yang dnegan keberadaannya menyebabkan

perubahan pada variabel lainnya. Yang termasuk pada variabel


23

indpendnen pada penelitian ini adalah pengethuan tentang trauma

kepala.
2. Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel akibat atau variabel

yang akan berubah akibat pengaruh atau perubahan yang terjadi apda

variabel independen. Yang termasuk variabel dependen pada penelitian

ini adalah peran peran perawat dalam penangangan trauma kepala.


4.3. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah unit dimana suatu penelitian akan diterapkan (Dharma,

20110. Populasi yang akan diambil adalah seluruh perawat yang bekerja

di Unit Gawat Darurat RSUD Suradadi Tegal yang berjumlah 25 orang.


2. Sampel
Sampe adalah sekelompok individu yang merupakan bagian dari

populasi terjangkau dimana peneliti mengumpulkan data atau

melakukan pengamatan/pengukuran (Dharma, 2011). Metode

penentuan sampel yang digunakan daam penelitian ini adalah metode

sampel jenuh/total sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan

mengambil semua anggota populasi untuk dijadikan sampel yaitu

seluruh perawat yang berkerja di Unit Gawat Darurat RSUD Suradadi

Tegal.

4.4. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian akan dilakukan pada bulan Februari 2017 di RSUD

Suradadi Tegal.

4.5. Alat Pengumpulan Data


1. Instrumen Penelitian
Untuk melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen

berupa kuesioner yang disusu berdasarkan studi literatu dan kerangka

konsep penelitian. Kuesioner disusun secara terstruktur dengan

pertanyaan-pertanyaan tertutup yang sebelumnya diuji coba terlebih


24

dahulu. Kuesioner dikembangkan sendiri oleh peneliti yang

berpedoman pada kerangka konsep yang dikelompokkan menjadi data

demografi berisi pertanyaan.

2. Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan

suatu instrumen (Arikunto, 2002). Validitas menunjukkan ukuran yang

berarti mengukur apa yang akan diukur. Jadi dapat dikatakan semakin tinggi

validitas suatu alat tes maka alat tes tersebut semakin menunjukkan apa

yang seharusnya diukur. Data yang diperoleh dihitung korelasinya antara

masing-masing pertanyaan dengan sklor total menggunakan rumus teknik

Korelasi Pearson Product Moment (Hastono, 2001) dengan rumus sebagai

berikut:
xy
x
y




2
x
y2
N y 2( )


x 2( )
N



N
R xy=

Keterangan :
Rxy = indeks korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan
x = skor butir
25

y = skor total

Uji Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana tingkat kekonsistenan

pengukuran dari suatu responden ke responden yang lain, atau dengan kata

lain sejauh mana pertanyaan dapat dipahami sehingga tidak menyebabkan

beda interprestasi dalam pemahaman pertanyaan tersebut. Uji reliabilitas

menggunakan rumus Cronbachs Alpha (Sugiyono 2009), yaitu :


2
1 h
rH =
K
(
K1 )(
h1
2 )
Keterangan :
rH = reliabilitas
h2 = jumlah varian butir
K = banyaknya butir pertanyaan atau item
2
1 = varian total
Dasar pengambilan keputusan:
Kuesioner dikatakn memiliki reliabilitas tinggi jika nilai alpha Cronbach

mendekati 1 (Arikunto, 2002).


Uji validitas menggunakan Pearson Product Moment dan uji

realibilitas menggunakan Cronbachs Alpha. Hasil uji validitas dan

realibilitas adalah sebagai berikut:


1. Hasil uji validitas dan reliabilitas variabel Humanistik dan Alturtistik.

Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,833, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


2. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Harapan Klien
26

Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,825, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


3. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Sensitifan
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,814, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


4. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Saling Percaya
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,860, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


5. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Curahan Perasaan
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,928, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


6. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Curahan Interpersonal
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,867, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


7. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Tangible
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,979, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


8. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Reliability
27

Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,979, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


9. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Responsiveness
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,966, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


10. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Assurance
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,930, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.


11. Hasil uji validitas dan reliabilitas Variabel Emphaty
Nilai r Product Moment untuk n=30 adalah 0,361, semua nilai r pada

setiap pertanyaan memiliki nilai di atas 0,361 artinya semua pertanyaan

sudah valid. Nilai Cronbachs Alpha sebesar 0,817, nilai ini

menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel.

4.6. Rencana Analisis Data


Pengolahan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan

teknik statistik parametris yaitu data-data yang dikumpulkan diolah dengan

tahapan-tahapan sebagai berikut :


4.6.1. Pengolahan Data
a. Editing

Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian kuesioner apakah

jawaban yang ada di kuesioner sudah lengkap, jelas, relevan, dan konsisten.

b. Koding
28

Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data

berbentuk angka atau bilangan yang tujuannya adalah untuk

mempermudah saat analisis data


c. Tabulating
Kegiatan memasukkan data-data hasil penelitian ke dalam tabel-tabel

sesuai kriteria
d. Processing
Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar dan juga melewati

perkodingan, maka langkah yang berikutnya adalah memproses data agar

dapat dianalisis.

4.6.2. Analisis Data

Setelah diolah menjadi data yang diharapkan, selanjutnya dilakukan analisis

data dengan tujuan agar data tersebut dapat memberikan informasi dan

dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti.

Ada dua tahap dalam menganalisis data, yaitu:

1. Analisis univariat digunakan untuk mengetahui distribusi dan persentasi

dari tiap variabel bebas yaitu pengetahuan perawat dengan variabel

terikat yait peran perawat.


2. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel.

Penelitian ini menggunakan uji Chi-square yaitu metode statistik untuk

mengetahui hubungan antara variabel kategorik dengan variabel

kategorik atau data yang mempunyai skala pengukuran ordinal/nominal

(data kategorik). Rumus uji Chi-square, yaitu :


X=2 (fofa)2
fa
Keterangan :
29

X2 = Nilai Chi-kuadrat
fo = Frekuesni yang diobservasi
fa = Frekuensi yang diharapkan
3. Uji Hipotesis
Berdasarkan uji statistik tersebut dapat diputuskan:
a. Menerima Ha (menolak Ho) jika diperoleh nilai P-value 0,05. Hal

ini berarti adanya hubungan antara pengetahuan tentang cidera

kepala dengan peran perawat dalam penanganan pasien dengan

cidera kepala di UGD RSUD Suradadi Tegal Tahun 2017


b. Menolak Ha (menerima Ho) jika diperoleh nilai P-value 0,05. Hal

ini berarti tidak ada hubungan pengetauan tentang cidera kepala

dengan peran perawat dalam penanganan pasien dengan cidera

kepala di UGD RSUD Suradadi Tegal Tahun 2017.