Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebersihan adalah sebagian dari iman merupakan semboyan yang dikenal dan sering didengar di
dalam masyarakat kita. Pemerintah pun setuju dan mendukung semboyan ini, yang dapat dilihat dari
penyelenggaraan pemilihan kota terbersih di Indonesia dan pemberian penghargaan bagi kota tersebut
setiap tahun oleh pemerintah,(dikutip dari http://olahsampah.com/index.php/component/content/article/15-
pengelolaan-sampah/31-konversi-sampah-perkotaan-menjadi-bahan-bakar, 3 desember 2016)

Kini Indonesia menjadi penyumbang sampah yang dibuang ke laut kedua di dunia. Setiap harinya
manusia memproduksi sampah hingga 175.000 ton per hari. Diperkirakan setahun produksi sampah di
Indonesia mencapai 64 juta ton. (Azhar / National Geographic Indonesia,2016). Kehidupan masyarakat
modern memproduksi sampah lebih banyak daripada masyarakat tradisional. Kenyataan ini bisa disaksikan
di kota-kota besar, yaitu persoalan penanganan sampah yang tak kunjung terpecahkan. Contohnya,
produksi sampah di wilayah Jabodetabek, jika diambil angka rata-rata produksi sampah per orang sekitar
5001.500 gram per hari, produksi sampah di wilayah tersebut berkisar 10.00015.000 ton per hari
(dengan asumsi jumlah penduduk wilayah ini sekitar 20 juta orang) ,(dikutip dari
http://olahsampah.com/index.php/component/content/article/15-pengelolaan-sampah/31-konversi-sampah-
perkotaan-menjadi-bahan-bakar, 3 desember 2016).

Provinsi di Indonesia dengan penghasil sampah terbanyak adalah Jawa Barat, diikuti oleh Jawa
Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan DKI Jakarta. Empat dari lima provinsi tersebut berada di Pulau
Jawa. Ini menjadikan Pulau Jawa sebagai pulau penghasil sampah terbesar di Indonesia (Kementrian
Lingkungan Hidup, 2008b). Sampah yang dihasilkan didominasi oleh sampah rumah tangga dan
diantaranya adalah sampah makanan. Sampah rumah tangga memilliki presentase 44,5 % dari total sampah
di Indonesia. Sampah yang dihasilkan mencapai 1,12 kg/kapita setiap harinya (Kementrian Lingkungan
Hidup, 2008a). Sampah makanan mendominasi 58% total sampah rumah tangga tersebut (Kementrian
Lingkungan Hidup, 2008b)

Volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur
terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di kabupaten setempat. Peningkatan
volume sampah tersebut cukup mengkhawatirkan karena daya tampung sampah di TPA Pakusari yang
berkurang dan terus menyempit, sehingga Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Jember mengupayakan
perluasan TPA setempat. Menurutnya kapasitas penampungan sampah di TPA Pakusari sebanyak 1.094
meter kubik (m3) per hari, sedangkan jumlah sampah yang dibawa ke TPA mencapai 1.460 m3 per hari,
(Tunggul,2016). Selain berdampak pada lingkungan, sampah juga berdampak pada kesehatan :penyakit
diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak
tepat dapat bercampur air minum,dan banyak lainnya, (Gelbert dkk 1996:46-48).

Pada saat ini dan di masa yang akan datang, sampah akan selalu menjadi masalah utama bagi
pemerintah kota jika tidak dicarikan solusinya. Sebaliknya, dengan manajemen yang baik dan teknologi
yang tepat, sampah akan dapat dimanfaatkan kembali. ,(dikutip dari
http://olahsampah.com/index.php/component/content/article/15-pengelolaan-sampah/31-konversi-sampah-
perkotaan-menjadi-bahan-bakar, 3 desember 2016).Jika sampah dapat dikelola dengan baik, selain kota
menjadi bersih dan kondisi lingkungan menjadi lebih baik dan masyarakatnya-pun lebih sehat, sampah
juga mendatangkan lapangan kerja baru yang cukup besar dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Salah satu bentuk pengelolaan tersebut adalah melalui Program Bank Sampah di Kota Jember ,(
http://banksampahjember.blogspot.co.id, 2015).

Untuk wilayah kerja Puskesmas Kaliwates sendiri, belum terkoordinasi untuk program Bank
Sampah Jember. Dari 13.191 pembuangan sampah,777 masih membuang sampah sembarangan. Oleh
karena itu penulis ingin mengangkat tema mengenai Pengolahan Sampah Rumah Tangga berbasis
Masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana pengetahuan,sikap, dan perilaku masyarakat terhadap pengolahan sampah di wilayah
kerja Puskesmas Kaliwates?
Apa permasalahan yang dihadapi pada pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat
yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates?

Apa rekomendasi yang diberikan untuk menyempurnakan pengelolaan sampah rumah tangga
berbasis masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk memotivasi pengolahan sampah rumah tangga berbasis masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Kaliwates

1.3.2 Tujuan Khusus


Mengetahui gambaran pengetahuan,sikap, dan perilaku masyarakat terhadap pengolahan sampah
rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates?
Mengetahui permasalahan yang dihadapi pada pengelolaan sampah rumah tangga berbasis
masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates?
Memberikan rekomendasi untuk menyempurnakan pengelolaan sampah rumah tangga berbasis
masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates?

1.4 Manfaat Penelitian


Sebagai motivasi untuk pengelolaan sampah rumah tangga berbasis Masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Kaliwates
Sebagai bahan referensi untuk penyempurnaan sistem pengelolaan sampah rumah tangga di
wilayah kerja Puskesmas Kaliwates
Sebagai sumbang saran dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan di wilayah kerja Puskesmas
Kaliwates, khususnya dalam hal kebersihan dan kesehatan
lingkungan.
Sebagai bahan kajian penelitian dalam bidang pengelolaan sampah yang mengikutsertakan peran
aktif masyarakat.