Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Demam Berdarah dengue adalah salah satu bentuk klinis dari penyakit akibat infeksi
dengan virus dengue pada manusia sedangkan manifestasi klinis dan infeksi virus dengue
dapat berupa demam dengue dan demam berdarah dengue. Dengue adalah penyakit daerah
tropis dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang
menggigit pada siang hari. Penyakit demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan
di Indonesia hal ini tampak dari kenyataan seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko
untuk terjangkit penyakit demam berdarah dengue. Sebab baik virus penyebab maupun
nyamuk penularanya sudah tersebar luas di perumahan-perumahan penduduk. Walaupun
angka kesakitan penyakit ini cenderung meningkat dari tahun ketahun sebaliknya angka
kematian cenderung menurun , karena semakin dini penderita mendapat penanganan oleh
petugas kesehatan yang ada di daerah daerah.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian demam berdarah dengue ?
2. Bagaimana etiologi demam berdarah dengue ?
3. Bagaimana cara penularan demam berdarah dengue ?
4. Bagaimana patogenesis dari demam berdarah dengue ?
5. Bagaimana patofisiologi demam berdarah dengue ?
6. Apa saja gejala utama demam berdarah dengue ?
7. Apa saja pemeriksaan fisik laboratorium demam berdarah dengue ?
8. Apa saja diagnosis demam berdarah dengue ?
9. Apa saja diagnosis banding demam berdarah dengue ?
10. Bagaimana penatalaksanaan dari demam berdarah dengue ?
11. Bagaimana cara pencegahan demam berdarah dengue ?

1.3. Tujuan Masalah


Agar Mahasiswa Polikteknik Kesehatan Tanjung Karang Dapat mengerti dan memahami
tentang konsep demam berdarah dan bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan
demam berdarah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Demam Berdarah Dengue

1
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular
yang disebabkan oleh virus genus Flavivirus famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis
serotipe yaitu den-1, den-2, den-3 dan den-4 melalui perantara gigitan nyamuk Aedes
aegypti. Serotipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4) secara antigenik
sangat mirip satu dengan lainnya, tetapi tidak dapat menghasilkan proteksi silang yang
lengkap setelah terinfeksi oleh salah satu tipe. Keempat serotipe virus dapat ditemukan di
berbagai daerah di Indonesia. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan
diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat.

2.2. ETIOLOGI
Virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arbovirus) yang
sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, familio flavivisidae dan mempunyai 4 jenis
serotipe, yaitu : DEN 1 , DEN 2 , DEN 3, DEN 4. Di Indonesia pengamatan virus
dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa Rumah Sakit menunjukkan keempat
serotipe di temukan dan bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe DEN 3 merupakan serotipe
klinik yang berat.

2.3. CARA PENULARAN


Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue,
yaitu mausia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
nyamuk Aedes Aegypti. Aedes Albopictus, Aedes Polynesiensis dan beberapa spesies yang
lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang kurang berperan. Aedes
tersebut mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami
viremia. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8 10
hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat di tularkan kembali pada manusia pada saat
gigitan berikutnya. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk
tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif). Ditubuh manusia, virus
memerlukan waktu masa tunas 4 6 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan
penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk dapat terjadi bila nyamuk menggigit
manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah
demam timbul.

2.4. PATOGENESIS

2
Virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama
mungkin memberi gejala sebagai demam dengue. Reaksi yang amat berbeda akan tampak
bila seseorang mendapat infeksi yang berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan.
Hipotesis infeksi sekunder (the secamdary heterologous infection/ the sequential infection
hypothesis) menyatakan bahwa demam berdarah dengue dapat terjadi bila seseorang setelah
terinfeksi dengue pertama kali mendapat infeksi berulang dengue lainnya. Re infeksi ini
akan menyebabkan suatu reaksi amnestif antibodi yang akan terjadi dalam beberapa hari
mengakibatkan proliferasi dan transformasi limsofit dengan menghasilkan titik tinggi
antibodi Ig G antidengue. Disamping itu replikasi virus dengue terjadi juga dalam limsofit
yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan
mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen antibodi (virus antibody complex)
yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen pelepasan C3a dan C5a
akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitis dinding pembuluh darah
dan merembesnya plasing dari ruang intravascular ke ruang ekstravascular.

2.5. PATOFISIOLOGI
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan
demam dengue dengan demam berdarah dengue ialah meningginya permeabilitas dinding
kapiler karena pelepasan zat anafilaktoksin, histamin dan serothin sert aktivasi sistim
kalikrein yang berakibat ekstravasosi cairan intravascular. Hal ini mengakibatkan
berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipeproteinemia, efusi
dan syok. Plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari saat permulaan demam
dan mencapai puncaknya pada saat syok.

2.6. GEJALA UTAMA


1. Demam
Demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung selama 2 7 hari, naik
turun (demam bifosik). Kadang kadang suhu tubuh sangat tinggi sampai 40C dan
dapat terjadi kejan demam. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada demam
berdarah dengue. Pada saat fase demam sudah mulai menurun dan pasien seajan
sembuh hati hati karena fase tersebut sebagai awal kejadian syok, biasanya pada hari
ketiga dari demam.
2. Tanda-tanda perdarahan

3
Penyebab perdarahan pada pasien demam berdarah adalah vaskulopati, trombosipunio
gangguan fungsi trombosit serta koasulasi intravasculer yang menyeluruh. Jenis
perdarahan terbanyak adalah perdarahan bawah kulit seperti retekia, purpura, ekimosis
dan perdarahan conjuctiva. Retekia merupakan tanda perdarahan yang sering
ditemukan. Muncul pada hari pertama demam tetepai dapat pula dijumpai pada hari ke
3,4,5 demam. Perdarahan lain yaitu, epitaxis, perdarahan gusi, melena dan
hematemesis.

3. Hepatomegali
Pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit bervariasi dari haya sekedar
diraba sampai 2 4 cm di bawah arcus costa kanan. Derajat hepatomegali tidak sejajar
dengan beratnya penyakit, namun nyeri tekan pada daerah tepi hepar berhubungan
dengan adanya perdarahan.
4. Syok
Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang setelah
demam turun disertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut nadi dan tekanan
darah, akral teraba dingin disertai dengan kongesti kulit. Perubahan ini memperlihatkan
gejala gangguan sirkulasi, sebagai akibat dari perembasan plasma yang dapat bersifat
ringan atau sementara. Pada kasus berat, keadaan umum pasien mendadak menjadi
buruk setelah beberapa hari demam pada saat atau beberapa saat setelah suhu turun,
antara 3 7, terdapat tanda kegagalan sirkulasi, kulit terabab dingin dan lembab
terutama pada ujung jari dan kaki, sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi gelisah,
nadi cepat, lemah kecil sampai tidak teraba. Pada saat akan terjadi syok pasien
mengeluh nyeri perut.

2.7. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


1. Darah
Pada demam berdarah dengue umum dijumpai trobositopenia (<100.000) dan
hemokonsentrasi uji tourniquet yang positif merupakan pemeriksaan penting. Masa
pembekuan masih dalam batas normal, tetapi masa perdarahan biasanya memanjang.
Pada analisis kuantitatif ditemukan masa perdarahan biasanya memanjang. Pada
analisis kuantitatif ditemukan penurunan faktor II, V, VII, IX, dan X. Pada pemeriksaan
kimia darah hipoproteinemia, hiponatremia, dan hipokloremia.
2. Urine
Ditemukan albuminuria ringan
3. Sumsum tulang
Gangguan maturasi

4
4. Serologi
a. Uji serologi memakai serum ganda
Serum yang diambil pada masa akut dan masa konvalegen menaikkan antibodi
antidengue sebanyak minimal empat kali termasuk dalam uji ini pengikatan
komplemen (PK), uji neutralisasi (NT) dan uji dengue blot.
b. Uji serologi memakai serum tunggal
Ada tidaknya atau titer tertentu antibodi antidengue uji dengue yang mengukur
antibodi antidengue tanpa memandang kelas antibodinya uji Ig M antidengue yang
mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas Ig M.

2.8. DIAGNOSIS
Diagnosis demam berdarah ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO
tahun 1997 terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris.
A. Kriteria Klinis
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama
2 7 hari.
2. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :
Uji tourniquet positif
Retekia, ekomosis, epitaksis, perdarahan gusi.
Hemetamesis dan atau melena.
3. Pembesaran hati
4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi,
kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.
B. Kriteria Laboratoris
1. Trombositopenia (100.000 sel/ mm3 atau kurang)
2. Hemokonsentrasi peningkatan hematoksit 20% atau lebih dua kriteria pertama
ditambah trombositopemia dan hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit cukup
untuk menegakkan diagnosis klinis demam berdarah dengue.
Derajat Penyakit (WHO, 1997)
Derajat I Demam disertai gejala tidak khas dan satu satunya manifestasi ialah uji
tourniquet positif.
Derajat II Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan
lain.
Derajat III Didapatkan kegagalan sirekulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan
mulut, kulit dingin atau lembab dan penderita tampak gelisah.

5
Derajat IV Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur.

2.9. DIAGNOSA BANDING


1. Demam thyphoid
2. Malaria
3. Morbili
4. Demam Chikungunya
5. Leptospirosis
6. Idiophatic Thrombocytopenia Purpura (ITP)

2.10. PENATALAKSANAAN
Pengobatan demam berdarah dengue bersifat simptomatik dan suportif yaitu
pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan
oleh karena muntah atau nyeri perut yang berlebihan maka cairan intravenaperlu diberikan.
Medikamentosa yang bersifat simptomatis :
Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es dikepala, ketiak,
inguinal.
Antipiretik sebaiknya dari asetaminofen, eukinin atau dipiron.
Antibiotik diberikan jika ada infeksi sekunder.
Cairan pengganti :
Larutan fisiologis NaCl
Larutan Isotonis ringer laktat
Ringer asetat
Glukosa 5%

2.11. PENCEGAHAN
Memutuskan rantai penularan dengan cara :
1. Menggunakan insektisida :
Malathion (adultisida) dengan pengasapan
Temephos (larvasida) dimasukkan ketempat penampungan air bersih.
2. Tanpa Insektisida :
Menguras bak mandi dan tempat penampungan air bersih minimal 1x seminggu.

6
Menutup tempat penampungan air rapat rapat.
Membersihkan halaman rumah dari kaleng kaleng bekas, botol botol pecah dan
benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.

2.12 ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1 Identitas Diri Klien
Nama : Tn. A
Umur : 14 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Nuangan
Status perkawinan : belum kawin
Agama : Islam
Suku : Mongondow
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pelajar
No. RM : 011716
Tgl masuk RS : 27 juni 2014

7
Penanggung Jawab
Nama : Ny. W
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Nuangan

2 Keluhan utama
Panas naik turun sejak 4 hari yang lalu.
3 Riwayat penyakit sekarang
Saat dilakukan pengkajian klien mengatakan demam sejak 4 hari yang lalu.
Keluhan yang menyertai : sakit kepala, pusing, mual muntah, kurang nafsu
makan.
4 Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya klien belum pernah mengalami penyakit seperti yang dirasakan saat
ini. Biasanya klien hanya pusing-pusing biasa.
5 Riwayat penyakit keluarga
Dalam keluarga klien tidak ada yang pernah mengalami penyakit yang sama
dengan klien.
6 Pemeriksaan fisik
a tanda tanda vital
TD : 110/70
R : 22X/m
Nadi : 60X/m
Suhu : 36,4 celcius

b Head to toe
Kepala
Bentuk : Oval, simetris
Rambut : Hitam
Tekstur : Tidak mudah dicabut
Kebersihan : Cukup
Mata
Bentuk : Simetris
Pupil : Isokor
Sklera : Normal
Konjungtiva : Tidak pucat
Kelainan : Tidak ada
Kebersihan : Cukup
Telinga

8
Bentuk : Simetris
Kelainan : Tidak ada
Sekret : Tidak ada
Kebersihan : Cukup
Hidung
Bentuk : Simetris
Kebersihan : Cukup
Mulut
Bentuk : Simetris
Warna Bibir : Pucat dan kering
Kebersihan : Cukup
Leher
Bentuk : Normal
Kebersihan : Cukup
Kulit
Warna : Sawo matang
Oedema : Tidak ada
Turgor : Elastis
Kebersihan : Cukup
Dada
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Tidak ada pembesaran
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
Ekstremitas
Ekstremitas Bawah : Simetris
Ekstremitas Atas : Simetris
Abdomen
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Nyeri tekan dan kembung
Perkusi : Tympani
Auskultasi : Bising usus (+)

Genetalia

9
Kelainan : Tidak ada
Pengeluaran : - BAB : 1 x sehari
- BAK : 4 5 x sehari

c Pola aktivitas
1 Pola Nutrisi
Sebelum sakit makanan yang disukai klien nasi, ikan dan ayam, makanan
yang tidak disukai tidak ada
Selama sakit klien mengatakan kurang nafsu makan, klien mengatakan
mual dan muntah. Porsi makan yang dihabiskan 1/4 dari porsi yang
disajikan.
2 Kebutuhan Cairan
Sebelum sakit frekuensi minum 5-7 gelas perhari, jenis minuman air putih.
Selama sakit frekuensi minum klien berkurang 3-4 gelas perhari.
3 Pola Eliminasi
a BAB
Sebelum sakit frekuensi BAB 2 kali sehari, waktu pagi dan malam,
konsistensi feces lunak berampas.
Selama sakit klien BAB dengan frekuensi 3-6 kali sehari dengan
konsistensi cair.
b BAK
Sebelum sakit frekuensi BAK 5 kali sehari perhari, warna kuning
muda, bau amoniak.
Selama sakit frekuensi BAK 3-4 kali sehari .
4 Pola Tidur dan Istirahat
Sebelum sakit klien tidur 7-8 jam sehari, waktu tidur malam pukul 22.00-
06.00 WITA dan pada siang hari waktu tidur pukul 14.00-15.00 WITA.
Kebiasaan pengantar tidur dengar musik, tidak ada gangguan tidur.
Selama sakit klien mengatakan tidurnya tidak teratur (insomnia
intermitten), waktu tidur malam 23.00-05.00 WITA. Klien mengatakan
susah tidur, Kesulitan saat tidur dan klien mudah terbangun.
5 Pola Aktivitas dan Latihan
Sebelum sakit kegiatan yang dilakukan klien dirumah yaitu membantu
orang tua. Jenis olahraga yang disukai klien sepak bola lamanya 1 jam,
waktu sore hari. Kegiatan diwaktu luang nonton TV.
Selama sakit klien tidak dapat beraktivitas, klien mengeluh lemah.

10
7 Riwayat Lingkungan
a Kebersihan rumah klien dijaga.
b Polusi disekitar dipengaruhi oleh asap kendaraan karena lokasi rumah klien
dekat dengan jalan raya.
8 Aspek Psikososial
a Persepsi
Hal yang amat di pikirkan klien saat ini adalah ingin lekas sembuh dari
penyakitnya, klien berharap sembuh setelah menjalani perawaatan dan
pengobatan, perubahan yang dirasakan klien selama sakit klien merasa kurang
mampu beraktivitas seperti sebelum sakit.
b Suasana hati : klien merasa cemas
Rentang perhatian : baik dan klien fokus pada pembicaraan.
c Hubungan komunikasi
Pembicaraan klien jelas, relevan, mampu mengekspresaikan perasaan dan
mampu mengerti pembicaraan orang lain.
Bahasa utama yang digunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah
Klien tinggal bersama keluarga (orang tua, kakak dan adiknya).
Adat istiadat yang dianut klien yaitu adat mongondow
Pengambilan keputusan dilakukan oleh ayah klien sebagai kepala keluarga.
Pola komunikasi dan interaksi baik.
d Pertahanan Koping
Pengmbilan keputusan dilakukan oleh klien sendiri. Yang dilakukan klien jika
menghadapi masalah atau stress klien berdiskusi dengan keluarga, dan yang
dilakukan perawat agar klien aman dan nyaman yaitu menghibur klien serta
mengajak klien untuk berinteraksi mengungkapkan permasalahannya.
e Sistem Nilai Kepercayaan
Sumber kekuatan klien adalah agama islam sebagai agama yang klien anut.
Kegiatan keagamaan yang sering dilakukan shalat 5 waktu dirumah, kegiatan
yang dilakukan selama dirawat tidak ada.

9 Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium

Result Unit Normal Limits


Darah - -
Hemoglobin 12 g / dl L = 13-16 , P = 12-15
Leukosit 3640 /mm ( 5.0-10 ) x 103 / L

11
Eritrosit 4.200.000 /mm ( 4,5 5,5 ) x 106 / L
Hematrokrit - L = 40-48 %, P = 36-42 %
Trombosit 124.000 ( 150 450 ) x 103 / L

10 Terapi
IVFD RL 28 tts/menit.
Invomit injeksi
Neurosanbe

ANALISA DATA
N ETIOLOGI PROBLEM
O D AT A
1 DS : Proses inflamasi Hipertermi
- Klien mengatakan demam sejak 4 hari
yang lalu.
- Klien mengatakan sakit kepala dan
pusing.
DO :
Kesadaran Umum : sedang
Kesadaran komposmentis
TTV : TD = 110/70 mmHg,
N = 60 x/m, P = 22 x/m, S = 38oC
2 DS : Intake cairan tidak Deficit Volume
- Klien mengatakan selama sakit adekuat Cairan dan Elektrolit
frekuensi minum berkurang 3-4 gelas
perhari.
- Klien mengatakan sering mual dan
muntah
DO :
- Test turgor kulit buruk
- Mukosa bibir nampak kering.
- Kelopak mata agak cekung
- Klien tampak berkeringat.
- Konjungtiva tampak anemis

12
- Tanda-tanda vital :

- Hasil lab. Trombosit : 54 x 103 / L


54 x 103 / L ( 150 450 ) x 10 3 /
L

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Deficit volume cairan dan elektrolit b/d intake cairan yang tidak adekuat
2. Hipertermi b/ d proses inflamasi

13
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan Rencana Rasional


Keperawatan

1. Hipertermi Setelah dilakukan 1) Suhu 38 0 C 41,1 0C


1 Pantau suhu
berhubungan dengan tindakan keperawatan Menunjukan proses
badan pasien
proses inflamasi selama 2x 24 jam penyakit infeksius. Pola
diharapkan klien demam dapat membantu
menunjukan dalam diagnosis (kurva
temperatur tubuh demam lanjut berakhir
dalam batas normal, lebih dari 24 jam
dengan kriteria : menunjukan pneumonia
Suhu badan atau tifoid, demam remiten
kembali normal 36,5 0 (bervariasi hanya
C beberapa derajat dalam
arah tertentu ) menunjukan
Klien tidak gelisah penyakit paru lainya, suhu
yang kembali normal
dalam peiode 24 jam
menunjukan episodik
septik.
2) Suhu ruangan jumlah
selimut harus dirubah
untuk mempertahankan
2 Pantau suhu
suhu mendekati normal
lingkungan,
batasi
3) Dapat membantu
penggunaan
menurunkan panas tubuh
pakaian yang
akibat efek vasidilatasi
tebal
pembuluh darah,
Penggunaan alkohol dan
es dapat kedinginan dan

14
3 Berikan meningkatkan suhu secara
kompres aktual, dan alkohol dapat
hangat, hindari mengeringkan kulit
penggunaan 4) Digunakan untuk
kompres dengan mengurangi demam
alkohol dengan aksi sentral pada
hipotalamus, meskipun
demam dapat berguna
untuk membatasi
pertumbuhan arganisme
dan meningkatkan
autodestruksi dari sel-sel
yang terinfeksi
4. Kolaborasi 5) Pengetahuan yang benar
pemberian membantu mengurangi
antiperetik rasa cemas dan
keterlibatan orang tua
mengurangi ketakutan dan
kecemasan anak

5. Anjurkan kepada
orang tua cara
mengukur suhu
tubuh anak

15
Setelah dilakukan 1. Monitor intake 1) Penurunan haluaran
Deficit volume cairan tindakan keperawatan dan out put urine akanmenyebabkan
berhubungan dengan selama 2x24 jam hipovolimia,
intake cairan yang diharapkan keseimbangan cairan
tidak adekuat Keseimbangan cairan positif dengan disertai
dapat dipertahankan penambahan berat badan
yang ditandai dengan dapat mengidekasikan
kulit elastis, dan edema jaringan
membran mukosa 2)Pemenuhan cairan tubuh
lembab, tanda=-tanda secara bertahap
vital normal N 70- 2. Berikan cairan membantu metabolisme
110 /m, P 15-30/m, oral dan parenteral tubuh secara normal
Klien tidak mual dan sesuai program 3) Monitoring status
muntah lagi. hidrasi sejak dini
3. Kaji Satus hidrasi mengurangi komplikasi
4) Denyut yang
lemah,mudah hilang dapat
4. Palpasi denyut menyebbkan hipovolimia
perifer
5) Pemahaman dan
pengetahuan yang benar
dari keluarga/orang tua
5. Ajarkan orang tua serta kerja sama yang baik
dalam memenuhi akan membantu
kebutuhan cairan pemenuhan kebutuhan
pada anak cairan anak
6) Sejumlah cairan besar
dibutuhkan untuk
mengatsi hipovolimia
relatif ( vasodilatasi
6. Kolaborasi perifer, menggantikan
Pemberian cairan kehilangan dengan
IV, meningkatkan

16
permeabilitas kapiler

IMPLEMENTASI

NO TANGGAL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


DX
1 27 JUNI 10:00 wib S : klien mengatakan masih
1 Memantau suhu badan
2016 merasa demam
pasien

Keluarga mengatakan
Hasil : sb : 38 derajat
mengerti dengan apa yang
celcius
dilakukanoleh perawat
2 Memantau suhu
lingkungan, batasi O : suhu tubuh klien 37,5
penggunaan pakaian yang derajat celcius
tebal
Hasil : klien memakai baju
A: masalah belum teratasi
yang tipis
sebagian
3 Memberikan kompres
hangat, hindari penggunaan
P: intervensi dilanjutkan
kompres dengan alcohol
Hasil : klien di kompres
dengan air yang hangat.
4 Berkolaborasi pemberian
antiperetik
Hasil : pemberian
invomit,pantopump,
neurosanbe
5 Menganjurkan kepada
orang tua cara mengukur
suhu tubuh anak
Hasil : keluarga mengerti
yang di lakukan

17
2 27 juni 10:15Wib 1 Memonitor intake dan S : klien mengatakan demam
2016 out put mulai turun
Hasil : klien mampu
Keluarga mengatakan
minum 4 gelas air dalam
mengerti dengan apa yang
sehari
dilakukanoleh perawat

2 Berikan cairan oral dan


O : suhu tubuh klien 37,5C
parenteral sesuai
program
A: masalah sudah mulai
Hasil : memasang cairan
teratasi
iv dan memberikan klien
minum air mineral
P: intervensi dilanjutkan

3 Kaji Satus hidrasi


Hasil : normal

4 Palpasi denyut perifer


Hasil: denyut teraba
normal

5 Ajarkan orang tua


dalam memenuhi
kebutuhan cairan pada
anak
Hasil : orang tua klien
paham dengan apa yang

18
disarankan

6 Kolaborasi Pemberian
cairan IV,
Hasil : cairan yg
diberikan RL : 28gtt/m

Hari kedua : 28 juni 2016

NO TANGGAL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


DX
1 27 JUNI 10:00 Wib S : klien mengatakan masih
1 Memantau suhu badan
2016 merasa demam
pasien
Hasil : sb : 38 derajat
Keluarga mengatakan
celcius
2 Memantau suhu mengerti dengan apa yang
lingkungan, batasi dilakukan oleh perawat
penggunaan pakaian
yang tebal O : suhu tubuh klien 37,5C
Hasil : klien memakai
baju yang tipis
A: masalah belum teratasi
3 Memberikan kompres
sebagian
hangat, hindari
penggunaan kompres
P: intervensi dilanjutkan
dengan alcohol
Hasil : klien di
kompres dengan air
yang hangat.
4 Berkolaborasi
pemberian antiperetik
Hasil : pemberian
invomit,pantopump,

19
neurosanbe
5 Menganjurkan kepada
orang tua cara
mengukur suhu tubuh
anak
Hasil : keluarga
mengerti yang di
lakukan

2 27 juni 10:15 1 Memonitor intake dan S : klien mengatakan


2016 out put demam sudah mulai turun
Hasil : klien mampu
Keluarga mengatakan
minum 4 gelas air
mengerti dengan apa yang
dalam sehari
dilakukan oleh perawat

2 Berikan cairan oral dan


O : suhu tubuh klien 37,5C
parenteral sesuai
program
A: masalah sudah mulai
Hasil : memasang
teratasi
cairan iv dan
memberikan klien
P: intervensi sudah dicapai
minum air mineral

3 Kaji Satus hidrasi


Hasil : normal
4 Palpasi denyut perifer
Hasil: denyut teraba
normal
5 Ajarkan orang tua
dalam memenuhi
kebutuhan cairan pada
anak
Hasil : orang tua klien
paham dengan apa

20
yang disarankan
6 Kolaborasi Pemberian
cairan IV,
Hasil : cairan yg
diberikan RL : 28gtt/m

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Demam berdarah dengue (DBD) ialah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya
memburuk pada hari kedua.

21
2. Virus dengue tergolong dalam grup Flaviviridae dengan 4 serotipe, DEN 3,
merupakan serotie yang paling banyak.
3. Vektor utama dengue di Indonesia adalah Aedes Aegypti.
4. Gejala utama demam berdarah dengue (DBD) adalah demam, pendarahan,
hepatomegali dan syok.
5. Kriteria diagnosis terdiri dari kriteria klinis dan kriteria laboratoris. Dua kriteria klinis
ditambah trombosipenia dan peningkatan hmatokrit cukup untuk menegakkan diagnosis
demam berdarah dengue.
6. Penatalaksanaan demam berdarah dengue bersifat simtomatif yaitu mengobati gejala
penyerta dan suportif yaitu mengganti cairan yang hilang.

3.2 Saran
Penulis berharap semoga penyusunan makalah keperawatan anak tentang Konsep dan
Asuhan Keperawatan Demam Berdarah ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan
dalam bidang pendidikan dan praktik keperawatan. Dan juga dengan makalah ini dapat
menjadi acuan untuk tindakan proses keperawatan.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Hadinegoro, Sri Rezeki H. Soegianto, Soegeng. Suroso, Thomas. Waryadi, Suharyono.


TATA LAKSANA DEMAM BERDARAH DENGUE DI INDONESIA. Depkes &
Kesejahteraan Sosial Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan
Hidup 2001. Hal 1 33.
2. Hendrawanto. Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM Jilid I Edisi Ketiga PERSATUAN
AHLI PENYAKIT DALAM INDONESIA.1996 Hal 417 426.
3. Janus, Centrin net.id/ binprog.www.plasa.com.2003.
4. Mansjoer, Arif. Triyanti, Kuspuji. Savitri, Rakhmi. Wardani, Wahyu Ika. Setiowulan,
Wiwiek. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Media Aesculapius FK UI Edisi ketiga Jilid
I. 1999. Hal 428 433.
5. Widodo, dr.SPA (K).www. Penyakit Menular info. DEPKES. 4 Januari 2002.

23