Anda di halaman 1dari 22

Nilai : No Tugas : Bagian 4

Judul Tugas : Summary 4

Chapter 21 Peran Budaya dalam Befikir Strategis


Chapter 22 Tantangan Dalam Memperkenalkan
Berfikir Strategis Lintas Budaya
Chapter 23 Lima Atribut Kritis
Chapter 24 Interplay Dari Lima Atribut
Chapter 25 Adaptasi Sebagai Harapan Strategis
Chapter 26 Mengembangkan Lima Atribut Penting

Nama : Ahmad Nofriyanto

No. Mahasiswa : 16 119 069

Tanda tangan :

Catatan Dosen :

Catatan Mahasiswa :
Chapter 21

Peran Budaya dalam Befikir Strategis

Dalam suatu jaringan perusahaan terdiri dari banyak bagian mulai dari eksekutif
manager, profesional, pengusaha pelanggan, pemasok, pemegang saham, pemerintah dan pesaing
yang dari berbagai latar belakang budaya lokal yang sangat berbeda diseluruh dunia dan semua
itu berpegaruh dalam proses pengambilan keputusan. Namun seperti yang telah dijelaskan dalam
bab-bab sebelumnya bahwa pemikiran strategis yang sukses tidak terjadi dalam suatu ruangan
saja namun inovatif, berkelanjutan, adaptif dan memenangkan strategi hanya bisa terjadi ketika
mereka yang terlibat dapat menghancurkan menghancurkan dan membingkai ulang dasar asumsi
mereka sendiri dan orang-orang dari organisasi.

Namun terkadang muncul permasalahan-permasalahan dalam berfikir strategis di


dalam suatu perusahaan mereka tidak memiliki proses atau kriteria yang digunakan untuk
mengidentifikasi dan mengembangkan pemikiran strategis, karena mereka tidak memiliki
pengetahuan tentang proses belajar informal atau kesadaran atribut yang digunakan untuk
melanjutkan suatu pemikiran strategis. Biasanya, itu adalah merupakan masalah tidak memahami
atau kesalahpahaman Proses berpikir strategis, tidak membedakan antara pemikiran strategis dan
perencana strategis , tidak memahami proses belajar yang terlibat baik, dan mempercayai bahwa
peran yang dimainkan budaya. Selain itu, mereka juga jarang memiliki informasi dasar tentang
budaya dimana mereka bekerja. Namun stelah semuanya jelas budaya hanya menjadi variabel
lain untuk mengidentifikasi dan bekerja dalam memfalisitasi untuk belajar berfikir secara
strategis.
Dampak Budaya Dalam Pengakuan Pola

Sebuah pola atau frame memang hal penting dalam pemikiran strategis. Sebuah pola
mengajarkan kita menjadi takut atau skeptis, apa yang kita bisa dan tidak bisa kita percaya,
dimna untuk melampirkan nilai-nilai, dan nilai-nilai apa yang digunakan untuk menetapkan pola
dan frame tertentu. Budaya hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi pengalaman bukan
menjadi faktor pembeda dalam berfikir strategis karena pemikiran strategis didorong oleh preses
pembelajaran informal bukan dengan budaya. Kita sering menyalahkan budaya dalam pemikiran
strategis yang keliru padahal kita hanya tidak menyadari proses pembelajaran informal yang
mendasari strategis berfikir strategis
Meskipun budaya bukan merupakan faktor utama dalam belajar untuk berpikir strategi
(proses pembelajaran), budaya memiliki dampak yang sangat terlihat pada pola kita untuk belajar
mengenali dan frame yang kita gunakan untuk menguraikan dan menilai data strategis,
informasi, dan keputusan. Misalnya, budaya menentukan cara kita menilai kelayakan kredit
untuk merger, dan menentukan bagaimana kita merencanakan strategi masuk pasar kita. Semua
budaya memiliki adat istiadat dan nilai-nilai yang tertanam yang membantu kita untuk mencegah
apa yang kita tahu, bagaimana kita tahu itu, dan bagaimana kita tahu sejauh mana itu aman atau
tidak aman bagi kita untuk menggunakan tantangan, dialog, dan refleksi kritis dalam konteks
organisasi kita masing-masing.
Typical Faux Pas
Terkadang kita sering menemukan kita berfikir strategis bahwa kita tau lebih dari yang
kita benar-benar lakukan tentang pasar luar negeri. Selain itu, pada umumnya memiliki
pemahaman yang tidak konsisten tentang cara operasi global diposisikan relatif terhadap
kekuatan inti organisasi. Salah satu keharusan pembelajaran strategis adalah bahwa kita
mengambil waktu untuk mencerminkan kritis dialog dengan orang lain untuk menentukan batas-
batas apa yang kita tahu dan apa yang orang lain tahu di awal dan di seluruh proses pembuatan
strategi. Selanjutnya, orang-orang inti yang sering diabaikan karena bahasa atau geografi, zona
waktu, atau masalah teknologi; dan hal it merupakan kepercayaan palsu bahwa mereka dapat
mendapatkan informasi mereka cukup baik.
Dimensi Antar Budaya itu Dampat dari Pembentukan Pola
Frame mungkin dapat disandingkan dengan frame lain di seluruh dunia dan zona waktu
yang berbeda meskipun itu berbeda. Namun itu hanya akan merusak fram atau pola yang kita
miliki karena kita akan jadi tertanding apabila pola yang kita miliki teridentifikasi dan teruji oleh
orang lain. Maka dari itu kita perlu untu terlibat lebih dalam dan pembelajaran untuk memeriksa
peran budaya mungkin memainkan peran pada sikan dan keyakian kita khususnya yang berkaitan
dengan gagasan menantang orang lain dan ditantang dri kita sendiri. Terlepas dari terminologi
yang spesifik, semua dimensi budaya bermain peran dalam membentuk kerangka acuan yang
perlu diuji untuk belajar untuk berpikir secara strategis. Hal ini, tentu saja, kombinasi kompleks
dimensi budaya dan sifat-sifat pribadi individu yang berdampak kapasitas kita untuk belajar
untuk berpikir secara strategis, bukan setiap satu dimensi.
Chapter 22
Tantangan Dalam Memperkenalkan Berfikir Strategis Lintas Budaya

Untuk dapat memperkenalkan berfikir satrategis secaralintas budaya memang bukanlah


hal yang mudah karena kebayakan dari mereka berfikiran bahwa budaya merupakan hal yang
berbeda dalam proses pembelajaran berfikir strategis. Tetapi juga tidak bisa mengabaikan budaya
karena budaya dapat dibawa pada konteks pembelajaran yang lebih besar. Pengembangan
strategis dimna meningkatkan kapasitas untuk belajar untuk berfikir secara strategsi dan budaya
adalah salah satu potongan yang penting. Karena budaya dapat berpengaruh dalam pembentukan
frame secara kolektif dan individu dapat berdampak pada hampir setiap aspek pengambilan
keputusan strategis. Dengan budaya yang berbeda pentig untuk kita mengetahui beberapa frame
yang umum yang harus dihancurkan dan dibuat kembali diseluruh budaya.

Menghancurkan dan Reframing Lintas Budaya

Budaya memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi kita untuk kemampuan kita
untuk menghancurkan dan membingkai ulang sebuah frame. Karena budaya cenderung
mengarahkan kita pada apa yang kita perhatikan dan budaya juga menciptakan konteks dimna
kita berladi dan pengalaman yang benar denan cara yang salah dalam mengidentifikasi,
menafsirkan, dan mengevaluasi pola-pola ini. Budaya adalah bagaimana kita belajar frame
pertama kita mana yang baik dan mana yang buruk. Kita belajar untuk melihat situasi ini dengan
cara tertentu dan membuat keputusan sesuai dengan frame yang ditentukan.
Menghancurkan mengharuskan kita mampu menantang dan menguji diri kita sendiri,
orang lain, dan kebiasaan, keyakinan, dan asumsi yang mendasari yang mendukung tradisi dalam
organisasi. Oleh karena itu, kita harus bersedia mengambil risiko kenyamanan dan keakraban
dalam mendukung tidak nyaman dan tidak pasti. Kita harus mampu untuk hidup dengan semua
apa yang akan terjadi seandainya hasil yang kita dapatkan tidak seseuai dengan yang diharapkan.
Sehinggan hal ini pastinya akan menimbulkan bebrapa kecemasan.
Belajar untuk berpikir strategis adalah layak investasi jika perusahaan benar-benar ingin
menumbuhkan jaringan global pemikir strategis. jalan yang ditempung dapat cukup panjang dan
penuh lonjakan, tapi pasti menghasilkan sesuatu yang baik. tekad pribadi dan organisasi dan
tingkat komitmen yang jauh lebih penting untuk pemikiran strategis dari frame salah satu budaya
tertentu.
Siapapun Bisa Belajar untuk Berpikir Strategis

Dalam suatu perusahaan pastinya ada sebuah pandangan yang tidak terlalu mengenakkan
bahwa seseorang atau kita sendiri mungkin tidak berfikir secara strategis hanya karean berasal
dari budaya tertentu. Sekali lagi, saya tekankan bahwa budaya adalah hanya salah satu faktor
yang mempengaruhi pengalaman kami. Ada keindahan pengalaman dapat diperluas, diperdalam,
diperoleh, dan ditransfer melalui tentu saja dari seluruh hidup kita!

Berikut adalah tujuh saran untuk memperkenalkan pemikiran strategis di sosial budaya nasional.
1. Memperjelas maksud. Adalah tujuan untuk mengembangkan pemikiran strategis atau
perencana strategis. Kita membutuhkan keduanya, dan mereka harus berfungsi yang saling
melengkapi dalam Untuk mencapai strategi; dalah hal ini kita belum belajar untuk lebih
mudah mengartikulasi pada fokus yang jelas.
2. Pilih dan memilih dan piliha sendiri. Tidak semua orang dalam kebutuhan organisasi menjadi
pemikir strategis. Tentang mengembangkan pemikiran strategis untuk semua orang dengan
jawab strategis, Kita perlu memahami dan mengembangkan kedua berpikir strategis dan
perencanaan dalam rangka untuk meningkatkan individu dan kekuatan organisasi dengan
memaksa satu atau yang lain hanya akan menciptakan sebuah penghalang pembelajaran,
sementara mendukung pilihan masing-masing akan mendorong pembelajaran.
3. Memberikan izin untuk menggunakan data lebih banya, tingkat pembelajaran yang meliputi
proses reflektif kritis dalam sebuah penyelidikan, tantangan, refleksi, dan pengujian.
4. Memberikan banyak informasi tentang Proses pemikiran strategis. Hal ini menciptakan
landasan untuk mempercayai proses dan mendorong pembelajaran sacara mandiri.
5. Gunakan proses pembangunan informal seperti pelatihan atau mentoring, dan bersabar
dengan jangka waktu yang mungkin diperlukan. Jangan menekan orang untuk melihat
hasilnya. Berfokus termasuk berlatih pertanyaan kritis dalam tugas-tugas bisnis sehari-hari
dan meningkatkan dialog kritis tentang isu-isu sehari-hari.
6. Jangan menganggap. Memperjelas apa yang kita ketahui dan apa yang orang lain tahu dan
apa kita tidak tahu dan apa yang orang lain tidak tahu.
7. Hindari menggunakan "budaya" sebagai alasan untuk tidak mengembangkan pemikir
strategis di setiap wilayah. Proses pembelajaran informal dan atribut diperlukan adalah dari
manusia, bukan sifat budaya.
Singkatnya, kita perlu memahami apa yang mempengaruhi cara kita membingkai pengalaman
serta asumsi dan keyakinan yang kita pegang. Sangat penting bahwa kita memahami kerangka
pembelajaran di mana budaya cocok. pengetahuan untuk menghancurkan dan membingkai ulang
keyakinan yang dipengaruhi budaya harus terjadi di untuk belajar untuk berpikir secara strategis.
Chapter 23

Lima Atribut Kritis

Dalam proses pembelajaran pemikiran strategis ada beberapa orang yang mungkin
membuat mitos bahwa pemikiran strategis tidak dapat dipelajari dan siapa saja yang dapat
mempelajarinya hal ini dikarenakan dalam lingkungan strategis ada kelebihan beban dengan
kompleksitas, kontradisksi, dan kebingunan. Ada empat alasan yyang membiat itos ini tercipta.
Pertama, terlalu sering menggunakan istilah strategi , tanpa definisi yang jelas tentang
berpikir atau perencanaan strategis, menciptakan kebingungan tentang kapan kita membuat itu.
Karena kita tidak yakin kapan dan jika kita membuat itu, shingganya hanya orang lain yang
selalu membuatnya.
Kedua, strategi umumnya berbicara tentang sebagai sesuatu yang kita dapatkan untuk
membuat sesuatu yang menurut kita penting. Shingganya kita hanya cenderung melihat sedikit
orang yang penting dalam membuat strategis.
Ketiga, kita harus ingat bahwa ilmu strategis dalam struktur organisasi sebagai ujung dari
sebuah sgitiga. Sehingganya mitosnya yang membuat pemikiran strategis hanya pihak elit saja.
Tetapi sebenarnya yang mereka lakukan dalam meeteng strategis bukan tentang pemikiran
strategis hanya perencanaan strategis.
Keempat, strategi yang berhasil adalah tampak sederhana kelihatannya : Ini baik bekerja
atau tidak. Ini menipu kita untuk percaya bahwa membuat strategi adalah tentang keberuntungan
atau sihir dari mereka beberapa pilihan cerdas. Proses berpikir yang mendasari sebagian besar
ambigu, tak terlihat, dan tidak mengertiTapi pemikiran strategis adalah menguras emosi dan
proses menantang intelektual, sulit, berisiko, dan kompleks dipelajari.
Untuk menghilangkan mitos dipegang dan diyakini adalah hal tidak mudah. Namun, jika
kita memahami atribut yang mendukung proses pembelajaran yang terlibat dalam
pemikiranstrategis, kita bisa membayangkan cara untuk mengembangkan kemampuan untuk
berpikir secara strategis.
Memiliki imajinasi
Memiliki prespektif yag luas
Kemampuan untuk menyulap, siap bersaing dengan data yang tidak lengkap atau tidak
akurat sekaligus
Kemampuan untuk menangani hal-hal dimana anda tidak memiliki N Control
Memiliki keinginan yang kuat untuk menang.
Pemikiran strategis adalah sintesis yang sangat kompleks dari afektif dan cognitive
pembelajaran yang memerlukan menggunakan ekstensif lebih dalam, tingkat pendalaman belajar
dan tingkat tinggi kapasitas reflektif. Tidak semua orang dalam sebuah organisasi perlu menjadi
pemikir strategis. Tujuan organisasi adalah untuk menciptakan sebuah jaringan yang diambil dari
semua tingkatan, lokal, dan fungsi dalam sebuah organisasi untuk berkontribusi keberlanjutan
strategis. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap orang dalam organisasi memiliki akses
sumber daya yang mendukung proses pembelajaran yang digunakan untuk pemikiran strategis:
Informasi tentang proses pemikiran strategis
Peluang untuk mengamati dialog kritis antara manajemen senior
Praktek dan partisipasi dalam dialog kritis mengenai Masalah strategis
Dorongan untuk terlibat dalam upaya artistik dan kreatif
Tujuannya bukan untuk membuat seluruh dunia Kampanye pemikiran strategis,
melainkan, untuk membuat jaringan pemikir strategis di seluruh fungsi dan di semua tingkatan
dalam suatu organisasi, untuk tujuan kompetitifnya. lima atribut muncul sebagai syarat penting
untuk pemikiran strategis yang sukses: imajinasi, perspektif yang luas, menyulap, tidak ada
kontrol atas, dan keinginan untuk menang. Yang diharapkan bahwa latar belakang para eksekutif
yang berbeda mungkin menghasilkan atribut yang berbeda mereka dianggap penting untuk
belajar untuk berpikir secara strategis.

Imajinasi
Kemampuan untuk menggunakan imajinasi merupakan fakto penting untuk belajar
berfikir strategis. Berfikir berbeda juga dapat dipercepat melalui perjalanan seperti kita melihat
informasi, tren dan data dalam cara-cara baru atau melihat dan mengkonfigurasikan pola yang
berbeda melalui lensa budaya yang berbeda. berpikir berbeda juga bisa digunakan untuk
membuat kesimpulan alternatif untuk analisis dan sintesis data. Tetapi ada juga berpikir
konvergen adalah jauh lebih maju dalam proses berpikir strategi, dan itu dapat benar-benar
mengganggu proses berpikir strategis jika diterapkan terlalu dini. berpikir konvergen digunakan
untuk membingkai kemungkinan yang ada untuk organisasi berdasarkan kritreia tujuan dan
akhirnya untuk memilih pendekatan.
Tetapi Kebanyakan strategi bisnis yang rapuh justru karena menurut mereka strategi
tersebut sukses pada masa lampau dan karena kepemimpinan senior tidak memiliki proses
menghasilkan berkelanjutan, adaptif, strategi inovatif. ini membutuhkan termasuk orang-orang
dengan perspektif dan pengalaman yang sangat berbeda untuk menantang, tes, dan memperbaiki
frame yang mendasari yang mendukung strategi bisnis saat ini ; hal itu juga memerlukan
pemahaman yang menghancurkan dan konfigurasi ulang adalah bagian dari proses kreatif yang
diperlukan untuk keberhasilan strategis.
Pandangan Luas
Kemampuan untuk melihat situasi dari prespentif yang luas merupakan atribut kedua
yang anggap merupakan hal penting. Karena kemamapuan untuk melihat sesuatu dari prespentif
yang luas adalah penting untuk memungkinkan mereka melihat banyak hal pada saat yang sama
dan untuk membayangkan sesuatu yang berbeda. Atribut perspektif yang luas juga membantu
untuk mempertahankan dasar berpikir rasional untuk berpikir strategis sekaligus memungkinkan
kita untuk menjadi non linear dan rasional dalam keseluruhan proses. pemikiran Rasional dan a-
rasional berfungsi dengan baik bersama-sama.eksekutif ini memiliki kapasitas yang luas untuk
beralih antara berpikir rasional dan berpikir a-rasional dan kemampuan luar biasa untuk melihat
koneksi dan menciptakan sinergi antara yang tampaknya tidak berhubungan.
Menyulap
Atribut penting ketiga adalah kemampuan unuk memperhatikan banyak hal sekaligus,
mampu berurusan dengan informasi yang tidak lengkap dan tidak konsisten, data yang tidak
akurat, dan constantly mengubah informasi. Ini tidak diragukan lagi salah satu tantangan terbesar
untuk strategi global. Kemampuan untuk melihat dan bekerja dengan hubungan dan paradoks
yang berlawanan adalah memang atribut yang efektif sebagai persyaratan untuk belajar befikir
strategis sebagai lawan dari perencanaan strategis, dimana kemampuan untuk menghilangkan
paradoks dan ambiguitas diperlukan. Kemampuan untuk menyulap tuntutan bersaing strategis
adalah realitas berpikir dalam lingkungan strategi bisnis global. Ini adalah tantangan strategis
sehari-hari untuk bertanggung jawab atas kepatuhan (Di mana peran adalah untuk memastikan
bahwa orang lain tetap dalam kerangka yang ada) dan juga bertanggung jawab untuk berpikir
strategis (di mana peran adalah untuk memindahkan di luar kerangka saat ini). Ini adalah salah
satu tantangan juggling besar untuk eksekutif global karena mereka membutuhkan pikiran dan
kemampuan yang sangat berbeda.
Tidak ada Pengendalian
Atribu selanjutnya dalam membuat srategi yang baik adalah kemampuan untuk
menangani hal-hal dimna kita tidak memiliki kontrol. Kemampuan untuk menangani hal-hal di
mana mereka tidak punya kendali mengimbau dan diuji kemampuan kompetitif mereka dan
memperkuat keinginan mereka untuk menang. Hal di mana mereka tidak punya kendali yang
ditawarkan, yang ditawarkan pembelajaran bermakna, yang akhirnya menyebabkan strategi
berpikir yang berhasil. Faktor ketakutan adalah motivator, dan mereka kebetulan belajar
menghargai pengalaman negatif sebagai penting untuk proses pembelajaran. Ini Pengalaman
memungkinkan mereka untuk mengambil risiko dengan keputusan di mana mereka tidak
memiliki kontrol. Melalui pengalaman mereka, mereka mengetahui bahwa faktor-faktor negatif
benar-benar hanya menantang bagi mereka untuk mengatasi dalam rangka untuk menang.
Atribut ini tidak ada kontrol tampaknya terkait erat dengan atribut terakhir keinginan untuk
menang. Takut kalah memerlukan mengambil risiko, dan berurusan dengan hal-hal di mana
mereka tidak memiliki kontrol menciptakan risiko, yang berarti mereka bisa kehilangan. Ini
strategi sukses memiliki keinginan tanpa kompromi untuk menang. Unsur risiko tampaknya
menjadi daya tarik untuk para eksekutif, untuk itu tampaknya dimainkan pada sifat kompetitif
mereka.
Keinginan Untuk Menang
Atribut kelima atau terakhir ada keinginan untuk menang semangat dan keyakinan yang
diperlukan untuk membawa pemikiran strategis terhubung ke atribut ini. Unsur kompetisi
merupakan faktor penting untuk mempengaruhi kemampuan sesorang dalam belajar untuk
berfikir strategis. Keinginan untuk menang adalah arus bawah yang kuat dalam strategi sukses
dalam deskripsi pembelajaran untuk berpikir secara strategis. Ini adalah salah satu daerah di
mana mereka tampaknya membuat kasus definitif untuk hitam atau putih baik mereka menang
atau mereka kalah. Dari semua atribut yang saling mengikat lainnya bersama-sama dengan
menjadi alasan untuk belajar-untuk membuat strategi menang.
Chapter 24
Interplay Dari Lima Atribut
Dari lima kombinasi yang berbeda dari lima atribut secara simultan dalam tiga
tahapan persiapan, pengalaman dan reevaluasi. Memperhatikan dan mengembangkan kombinasi
lima atribut ini sama pentingnya dengan proses informal yang kita gunakan dalam pembelajaran
untuk berfikir strategis. Sebuah keinginan yang kuat untuk memenangkan sesuatu mndorong
proses reflektif dan hidup yang inmajinatif menghasilkan rasa ingin tahu dan kreativitas dalan
proses refleksi. Pandangan yang luas ditingkatkan oleh keinginan yang kuat untuk menang dan
imajinasi yang menawarkan individu kemungkinan-kemungkinan baru yang membutuhkan
pengujian terus menerus. Kemampuan untuk menyulap, secara konstruktif berurusan dengan
banyak hal yang bertentangan sekaligus, mengundang tantangan dan ketegangan dengan Proses
reflektif, terutama bila dikombinasikan dengan kemampuan untuk konstruksi dan berurusan
dengan hal-hal yang dimana kita tidak memiliki kontrol. Dalam cara yang mengejutkan, lima
atribut dapat menjadi sumber tantangan di proses pemikiran strategis untuk mengatasi tantangan.
Sebagai sumber tantangan, kombinasi lima atribut menyajikan potensi merasa terobsesi dan
kewalahan. Tetapi bisa juga tanpa menyerah kepada tekanan, akan menciptakan motivasi dan
tantangan yang pada kenyataannya, mendorongnya maju dalam mengejar membuat strategi.

Teknik komunikasi untuk Integrasi Atribut


Semakin jauh cara belajar yang digunakan secara luas untuk menghubungkan atribut
untuk satu sama lain. Storytelling, dialog, dan debat merupakan teknik pembelajaran yang
disukai oleh para ahli strategi, tidak hanya untuk menginspirasi kreativitas dan untuk
merangsang imajinasi mereka, tetapi untuk membangun, mempertahankan, dan menghubungkan
atribut lainnya. Kesimpulannya, kombinasi dari lima atribut adalah sama pentingnya dengan
Proses informal yang kita gunakan dalam belajar untuk berpikir secara strategis. Sebuah
keinginan untuk menang mendorong proses reflektif. Sebuah imajinasi hidup dan aktif
menghasilkan rasa ingin tahu dan kreativitas dalam proses reflektif. Pencarian perspektif yang
luas ditingkatkan oleh kedua keinginan untuk menang dan imajinasi, menawarkan individu
kemungkinan baru yang membutuhkan pengujian terus menerus. Dan kemampuan untuk
menyulap , untuk secara konstruktif menangani banyak hal sekaligus, mengundang tantangan
dan ketegangan untuk proses reflektif ketika dikombinasi dengan kemampuan untuk secara
konstruktif menangani hal-hal yang memiliki kontrol lebih.
Chapter 25
Adaptasi Sebagai Harapan Strategis
Pemikiran strategis yang baik memiliki tujuan untuk menciptakan strategi yang
berkelanjutan, inovatif dan kompetitif yang berarti juga perlu adaptif. Strategi adaptasi terdiri
dari bangunan yang telah kita tetapkan sebelum kita menjelajahi kemungkinan-kemungkinan
lebih dalam lagi. Tetapi adaptasi seringkali bukan tentang hal yang menyenangkan bahkan
adaptasi lebih sering tentang pemuliha atau mencoba bertahan terhadap hal-hal yang tiba-tiba
muncul dan mengancam. Sebuah strategi adaptif mampu merespon dengan cepat dan efektif
untuk Peristiwa yang tak terduga dan dapat dengan cepat beralih dari tindakan yang telah
direncanakan ke alternatif yang lebih tepat.
Adaptasi adalah serupa dalam beberapa hal untuk improvisasi. Kita tidak bisa
merencanakan Improvisasi untuk menilai situasi dan bereaksi. Intuisi adalah hal penting untuk
improvisasi. Dalam pembuatan strategi, kita bergantung pada intuisi untuk memutuskan kapan
untuk beradaptasi dan untuk menentukan sejauh mana situasi memburuk. Kita mengandalkan
intuisi kita untuk memutuskan bagaimana beradaptasi, yang rutin dan kita harus
menggunakannya untuk menyesuaikan keadaan. Selanjutnya, kita perlu intuisi untuk
memutuskan apakah percaya atau tidak terhadap adaptasi yang kita, karena perubahan yang ingin
kita membuat dapat mengakibatkan masalah lebih buruk.

Rincian Bisa Membunuh Adaptasi


Perencanaan strategis dan pemikiran strategis merupakan jhal yang sangat
berbeda dalam berbagai hal. Perencanaan strategis lebih sering bertujuan untuk menentukan
setiap detail spesifik, tetapi sayangnya semakin banyak rincian yang ada semakin sulit kita
beradaptasi karena kita harus selalu mengikuti rincian-rincian yang ada.
Dalam buku mereka Managing yang tak terduga , Karl Weick dan Kathleen Sutcliffe
membahas tiga cara yang rinci rencana dapat menahan kemampuan beradaptasi. Pertama,
rencana membuat kita tidak sensitif terhadap anomali yang memberitahu kami itu adalah waktu
untuk beradaptasi, karena rencana menggambarkan apa yang relevan dan apa yang tidak. Kedua,
rencana mungkin termasuk kontingensi tindakan untuk mengatasi kesulitan, tetapi kontinjensi
tersebut dibuat maju dan biasanya kosong dari konteks, kendala, dan setiap kesempatan baru
yang cenderung muncul saat rencana tersebut sedang dilaksanakan. Dan ketiga, rencana
dirancang untuk membuat kita mengulangi "dioptimalkan" pola aktivitas Tapi beberapa
organisasi mengatasi kejadian tak terduga dengan beradaptasi dengan keadaan daripada dengan
tergantung pada rencana.
Adaptasi tidak hanya membangun rencana strategis baru sebaliknya, itu berarti
memodifikasi rencana yang sedang berlangsung melalui Proses berpikir strategis itu memang
cukup sulit. Karena suatu bisnis bersaing dalam konteks yang terlalu kompleks sehingganya kita
perlu menjadi hidup untuk lebih adaptif untuk mengatasi hal tersebut.
Karena itu, ketika kita mempertimbangkan belajar untuk berpikir secara strategis, kita
harus mengasah keterampilan intuitif kita untuk menyeimbangkan kemampuan analisis yang kita
miliki. Salah satu cara untuk mendukung pengembangan pemikiran strategis adalah dengan
menawarkan alat strategi dan latihan untuk pembuatan keputusan intuitif ditingkatkan. Karena
lama kelamaan kita akan secara perlahan akan terbuka untuk berfikiran stategis. Dengan
perkembangan intuisi yang baik mungkin kita akan tahu ketika kita harus mengubah suatu
rencana dan kapan kita harus meninggalkannya. Fungsi dari intuisi kita menjadi red flags bagi
internal diri kita sendiri yang kemudian akan memberikan kita tanda untuk mengingatkan kepada
kita konsekuensi yang tidak kita inginkan yang mungkin akan timbul dari adaptasi yang kita
lakukan.
Chapter 26
Mengembangkan Lima Atribut Penting
Dari beberapa bab penting yang telah kita bahas sebelumnya terdapat banyak
rekomendasi yang dapat kita lakukakan untuk mengembangkan pemikiran strategis. Dari seluruh
rekomendasi yang ada yang paling penting yang harus dapat dilakukan adalah pengembangan
lima atribut kritis (imanjinasi, prespektif yang luas, menyulap, tidak memiliki kendali, dan
keinginan untuk menang) dan menggambungkannya dengan refleksi kritis sehingga
memungkinkan strategi untuk menghubungkan pembelajaran dalam pengalaman mereka
diperluas ke konteks strategi bisnis global. karena banyak organisasi berasumsi, bahwa modal
manusia adalah satu-satunya keunggulan kompetitif strategis global, dan jika kita juga
menganggap bahwa global itu realitas, di mana kita membuat strategi, hanya menjanjikan untuk
menjadi lebih kompleks dan menantang, kemudian akal sehat yang memperkuat dan
memperluas kapasitas pemikiran strategis dalam organisasi sebagai panjang suatu investasi
pengembangan bisnis jangka.
Sehubungan dengan strategi, organisasi mulai mengenali kesenjangan antara apa yang
mereka butuhkan (pemikir strategis) dan apa yang banyak terus mengembangkan secara default
(perencana strategis). Jika suatu perusahaan besar hanya tetap pada operasional teknis yang
dilengkapi dengan perncanaan strategis yang cukup baik. Tetapi jika organisasi mengharapkan
suatu pengembangan yang lebih komplesk dan jika suatu sekolah bisnis merupakan suatu hal
yang sangat mahal maka harus dipersiapkan jauh sebelumya.
Seni Untuk Menolong
Untuk mengembangkan lima atribut dan proses reflektif yang kritis yang diperlukan
untuk pengembangan strategis adalan pengalaman seni membuka pintu presepsi. Secara
tradisional, pengembangan strategi telah difokuskan terutama pada bidang ekonomi, keuangan,
dan berpikir analitis. Emosi, imajinasi, intuisi, dan refleksi proses sebagian besar telah terlihat
pengembangan strategi, namun mereka penting untuk menciptakan dan beradaptasi dalam
pembuatan makna dalam proses berpikir strategi.
Partisipasi aktif merupakan salah satu seni karena kontribusi untuk pengembangan semua
lima atribut membutuhkan refleksi kritis untuk memproses dan memperluas repertoar
pengalaman. Mengalami seni adalah cara yang bagus untuk permukaan asumsi dan menjadi
sadar akan keyakinan yang kita ambil tindakan strategis dan membuat keputusan.
Manfaat Terlibat dalam Seni

Memperluas Prespektif
Kita melihat, mendengar, merasa interpretasi yang berbeda dari data yang sama;
menyeimbangkan peran individual dan kelompok.
Kesepakatan dengan banyak hal bersaing sekaligus
Kami memperhatikan penguasaan teknik dan fokus sekaligus pada keseluruhan, struktur
,mengubah emosi, dan kreativitas. Kita belajar untuk menyulap banyak hal sekaligus, fokus
dan pergeseran dapat perhatian kita dengan mudah.

Terlibat imajinasi
Seni mengasah kreativitas dan kemungkinan yang tidak terbatas. Kita melihat hubungan baru
dan hubungan antara hal-hal dan sebagai hasil dari keputusan kita, tindakan, dan tanggapan.
Ketegangan Pengalaman
Dimensi afektif melekat dalam seni. Kebanggaan atau kerendahan hati menyertai kesadaran
kebiasaan kita, kinerja, atau kreasi.
Perhatikan hal-hal yang kita tidak bisa mengontrol
kita memahami bahwa kita tidak bisa mengontrol setiap aspek tertentu. Namun kita
membayar untuk memperhatikan hal-hal ini lebih dari yang kita tidak memiliki kontrol dalam
rangka untuk bekerja dengan mereka.
Mengembangkan kesadaran emosional
kita mengalami berbagai emosi ketika melihat sebuah foto atau mendengarkan rasa sakit,
agresi, dan kesedihan kebahagiaan, kesenangan, erotisme, dan ekstasi.
Kesepakatan dengan paradoks
Kita berurusan dengan sesuatu selesai dan tidak lengkap; pengulangan dan bentuk bebas;
kontinuitas dan penyimpangan; resep dan penciptaan; struktur dan percobaan; kesamaan dan
kejutan.
Terima informasi yang tidak lengkap
Sebuah penciptaan tidak pernah benar-benar pekerjaan yang telah diselesaikan. kinerja yang
sukses hanya saat dalam waktu berlalu dan tidak pernah selesai.
Mengambil risiko
Belajar sesuatu yang baru membutuhkan komitmen dan risiko. Kami menempatkan diri kita
dalam posisi rentan menjadi awam, pemula, dan mungkin dihakimi tidak kompeten.
Pelajari disiplin
latihan teratur diperlukan untuk perbaikan. Praktek membutuhkan murid pline, pengorbanan,
presisi, urutan, pengulangan, bor, dan konsistensi.
Menghargai praktek
Praktek membutuhkan umpan balik dan tekad. Kita belajar untuk menghargai rasa yang
berbeda dari waktu (ada jalan pintas), gerakan menuju sesuatu yang kita sangat keinginan,
kemajuan nonlinier, dan kombinasi pemikiran dan perasaan.
Pelajari proses kreatif melalui teknik
Penciptaan tidak terjadi begitu saja; belajar dasar-dasar teknis dibutuhkan untuk membuat
suatu pemikiran strategis.
No Tugas : Bagian 4

Judul Tugas : Refleksi 4

Chapter 21 Peran Budaya dalam Befikir Strategis


Chapter 22 Tantangan Dalam Memperkenalkan Berfikir Strategis Lintas Budaya
Chapter 23 Lima Atribut Kritis
Chapter 24 Interplay Dari Lima Atribut
Chapter 25 Adaptasi Sebagai Harapan Strategis
Chapter 26 Mengembangkan Lima Atribut Penting

Nama : Ahmad Nofriyanto

No. Presensi : 16

No. Mahasiswa : 16 911 069

Refleksi chapter 21
Menurut saya dalam berfikir strategis budaya memiliki peran tersendiri. Terlebih lagi
dalam membuat pola budaya mungkin merupakan hal utama yang menjadi faktor kita untuk
membuat sebuah pola namun budaya juga akan mempengaruhi pemikiran kita untuk melihat
sebuah pola. Budaya juga akan mempengaruhi kemampuan kita untuk mebgenali sebuah
informasi atau data-data dan bagaimana kita menguraikannya membutuhkan peran budaya dalam
sebuah organisasi. Budaya dalam sebuah organisasi mempengaruhi proses berifikir strategis
apabila kita tidak seutuhnya mengetahui proses pembelajaran berfikir strategis yang seharusnya
secara informal. Sehingganya dalam sebuahpengambilan keputusan budaya organisasi juga
mempunya peran penting bagi seorang eksekutif dalam sebuah organisasi atau perusahaan.
Bagi saya sendiri peran budaya memeang penting karena disetiap saat pastinya kita akan
lebih memeperhatikan sesorang dari berbagai latar belakang dan mencoba untuk bekerja sama
dengan mereka mungkin akan menjadi sulit. Namaun setelah membaca beberpa hal mengenai
peran budaya dalam chapter ini saya dapat melihat bagaimana cra untuk mengatasi hal tersebut.
Refleksi Chapter 22

Untuk dapat memperkenalkan pemikiran strategis kita secara libtas budaya memang
merupakan hal yang tidak mudah. Hal ini dikarenakan dalam sutu perusahan atau organisi sering
terbangun bahwa seorang pemikir strategis dapat dilihta dari budaya dan budaya merupkan hal
yang menjadi faktor untuk sesorang memberikan pemikiran strategisnya. Tetapi hal itu
sebenarnya salah budaya memang merupakan faktor dalah satu faktor yang dapat mempengaruhi
pemikiran strategis tetapi hanya dalam pengalam yang berbeda saja. Karena dalam budaya kita
hanya mempelajari mana yang baik dan mana yang buruk tidak untuk menyelam lebih dalam lagi
untuk memverifikasi, mengevaluasi dan menguji sebuah data.

Siapapun dapat belajar untuk berfikir strategis karena berfikir strategis dapat
dikemabngakan dari pengalaman kita yang terus berkembanga slama berjalannya waktu. Dan
dengan tujuh saran dalam memperkanalkan proses berfikir strategis kita dapat mengetahu apa
saja yang harus kita lakukan dan yang harus kita pelajari.
Refleksi Chapter 23
Dari chapter ini kita dapa menarik refleksi bahwa dalam membangun sebuah pemikiran
kritis terdapat beberapa mitos yang menghambat kenapa seorang pemikir kritis sangant susah
untuk berkembang. Dimna disebagaian terlalu berfikiran bahwa tidak semua orang dapat berlajar
untuk berfikir strategis karena mereka terlalu membenankan pikiran mereka bahwa seseorang
yang berfikir strategis tidak muncul begitu saja. Memang pemikiran strategsi tidak muncul
begitu saja tetapi hal itu dapat dipelajari denganmngetahui Lima Atribut yang telah dijelaskan
diatas.
Dari lima atribut ini kita dapa menyimpulkan bahwa pengalaman yang banyak saja tidak
teralu membuat sesorang dapat berfikir strategsi tepai juga harus memiliki imajinasi yang kuat
untuk melihat data-data atau informasi yag diperoleh. Juga memeiliki pandangan yang luas
terhadap berbagai hal. Dapat menyulap atau memperbaiki data yang tidak akurat atau tidak jelas.
Berani untuk berada disituasi yang dimna seseorang tidak memiliki pengendalian akan dapat
meningkatakn pengalam kita terhadap suatu masalah. Serta keinginan yang kuat menjadi hal
paling penting bagi seorang pemikir strategis karena seorang pemikir strategis harus memiliki
keinginan untuk menang dan untuk mempertaruhkan segala resikonya.
Refleksi Chapter 24

Dalam chapter ini menjelaskna bahwa kombinasi dari lima atribut in sama pentingnya
denga pembelajara informal untuk pemikiran strategis. Dan juga secara simultan untuk
mnggunakan tiga tahapan dalam berrfikir strategis kita persiapan, pengalaman dan reevaluasi.
Juga tehnik komunikasi yang baik untuk dapat membingkai suatu situasi dari sebuah storytelling
yang kita dengarkan. Atau juga memberikan gambaran mengenai sebiah situasi yang kita
dapatkan sehingganya akan meningkatkan komukasi kita untuk meningkatkan pemikiran
strategis.
Refleksi Chapter 25
Dari chapter 25 kita dapat melihat bahwa adaptasi merupakan suat hal yang penting
dalam hal berfikir strategis karena dengan cepat beradptasi dengan suatu situasi yang tejadi akan
mempermudah kita untuk berfikir secara strategis. Apalagi di bisnis global saat ini yang terus
berkembang dengan pesat dan dengan hal-hal yang terus bergant setiap saat. Adaptasi hampir
serupa dengan improvisasi yaitu cara kita menilai dan melihat suatu situasi dan cara kita
bereaksi. Dengan intuisi yang kuat dan terus diasah dapat membuat kita cepat dalam beradaptasi.
Intuisi kita juga dapat membantu kita untuk percaya atau tidak terhadap apa yang akan terjadi
setelah kita beradaptasi.
Dalam beradaptasi mungkin kita akan melakukan beberapa perencaan terlebih dahulu.
Tetapi hal itu akan memancing kita ke arah perencanaan strategis apabila hal tersebut sudah
terlalu rinci. Karena pastinya berfikir strategis dan perencaaan satregis berbeda dalam berbagai
hal.dengan menggunaan perencaan yang terlalu rinci kita akan melewatkan hal-hal yang akan
terjadi kedepannya.
Refleksi Chapter 26

Dari reume chapter 26 ini kita dapat melihat bahwa keseluruhan dari bab-bab yang telah
dibahas sebelumnye merupakan rekomendasai-rekomendasi yang dapat kita lakukan dalam
proses untuk mengembangkan pemikiran strategis. Pada chapter 26 ini kita dapat melihat bahwa
lima atribut kritis perlu diterpakna dengan baik sehingganya kita dapa mempelajri proses berfikir
strategis dengan baik pula. Dalam pengembangan lima atribut ini juga perlu melibatkan seni seni
dalam hal ini merupakan pengalaman atau hal-hal yang sifatnya menarik bagi kita yang dapat
membuka prespektif kita lebih luas lagi.