Anda di halaman 1dari 9

Nilai : No Tugas : Bagian 1

Judul Tugas : Summary 1

Chapter 12
peran dialog dalam proses berfikir strategis
Chapter 13
peran dari penyelidikan dalam dialog kritis

Nama : Ahmad Nofriyanto

No. Mahasiswa : 16 119 069

Tanda tangan :

Catatan Dosen :

Catatan Mahasiswa :
CHAPTER 12

PERAN DIALOG DALAM PROSES BERFIKIR STRATEGIS

Dialog merupakan gambaran dari beberapa orang dalam kelompok untuk membicarakan
suatu ide atau gagasan. Tetapi dialog merupakan jalur atau sebuah alat yang dapat digunakana
untuk membuat sebuah struktur untuk mendukung pemikiran strategis. Karena, pada dasarnya
dialog menguntungkan kita untuk proses berfikir lebih kreatif dan kognitif dimna hal ini sangat
penting dalam berfikir strategis. Meskipun diskusi dan debat cukup sering di gunakan sebagai
metode pembelajaran yang intrumental tetapi hal ini membuat lebih kepada perencanaan strategi,
sedangkan berfikir strategi membutuhkan dialog. Terdapat cukup banyak yang mengembangkan
dan menyatukan antara debat dan diskusi dalam lingkungan seperti perusahaan dan universitas,
tetapi jarang sekali menggunakan dialog. Penekanan disini Dialog sebagai alat komunikasi yang
penting untuk eksplorasi jauh lebih dalam dan sebagai sarana untuk pembelajaran strategis.

Dialog bukan hanya tentang efisiensi dan seberapa cepat kita berfikir strategis tetapi juga
tetang kesinambungan kemampuan kita beradaptasi untuk pengembangan strategi jangka
panjang. Telah banyak ditemukan bahwa eksekutif yang tidak memiliki pribadi yang baik dalam
berdialog yang di gunakan sebagai suatu acuaan untuk pemikiran strategis. Selanjutnya
sebagaian perogram perusahaan dan universitas mengajari eksekutif bahwa waktu adalah aspek
terpenting dari pada investigasi dalam kebiasaan mengembangkan kebiasaan dialog kritis yang
mengrah pada pengalaman yang dipercaya.

Perbandingan Dialog, Diskusi, dan Debat

Dialog merupakan kemampuan serbaguna, penting dan dapat digunakan dalam strategi
global saat ini yang dimana lingkungan terdapat banyak hal yang tidak pasti terus berubah dan
diluar kendali. Istilah dialog, diskusi, dan debat merupakan sinonim yang sering digunakan
mengacu pada sifat pembicaran dan pertemuan strategis. Tetapi diskusi dan debat juga memiliki
tempat masing-masing dan harus dapat digunakan di berbagai tempat dalam proses pemikiran
strategis.

Diskusi dan Debat memiliki keterbatasan dalam membuat dan mengembangkan lebih
lanjut dalam berpikir, hal ini di karekan perdebatan atau diskusi terdapat pertentangan yang
mendasar asumsi. Diskusi dan perdebatan dapat berguna bila difokuskan untuk ide-ide tertentu
sebagai hasil dari dialog. Diskusi dan debat juga berfungsi untuk menyoroti kesenjangan dan
tantangan yang di hasilkan oleh dialog yang perlu di tangani.

Dialog

Dialog bukan antara orang bedebat atau chating untuk mempertahankan posisi satu
dengan yang lain. Tetapi sebaliknya dialog menempatkan diri dalam dan diantara orang-orang.
William Isaacs menjelaskan dialog berusahaan untuk menempatkan orang-orang untuk belajar
bagaimana untuk berfikir bersama-sama tidak hanya menganalisa malasah bersama tetapi dalam
arti asumsi dasar dan memperoleh wawasan mengapa hal tersebut muncul. Sehingga dialog dapat
menghasilkan suatu lingkaran dimana orang-orang sadar dan berpartisipasi dalam penciptaan
makna bersama. Dialog mempromosikan pemikiran kolektif dan kolaboratif melalui
keseimbangan penyelidikan, mendengarkan, mencerminkan dan berbicara.

Diskusi

Diskusi berbeda dengan debat dan dialog berfokus pada pemecahan masalah seperti debat
benggunakan pemikiran kovergen. Diskusi pada umumnya tidak bermaksud untuk menjelajahi
dan mengubah suatu dasar atau pola suatu makna, pada umumnya digunakan untuk analisis
terutama kuantitatif dan konklusif. Dengan dua diskusi dan debat, berusahaan untuk mengarikan
posisi penggunaan dengan perusasi dan argumentasi.

Debat

Debat jelas berbanding terbalik dengan diskusi jika diskusi diatur untuk prososisi antara
dua belah pihak cocok sedangkan debat untuk mengalahkan suatu pihak. Debat dapat sejalan
dengan proses pemikiran strategis untuk mengambil keputusan dengan melihat titik-titik lemah
dalam berfikir dan cara yang baik untuk mengidentifikasi asumsi dasar yang perlu di tantang
tentang nilai-nilai suatu perusahaan dan kompetensi. Sebelum atau sesudah perdebatan, penting
untuk menggunakan dialog untuk menyaring data, validasi dan tes untuk memperkuat prespetif.
Tiga Faktor Dialog yang Bagus dalam sebuah Berfikir Strategis

Beberapa eksekutif beranggapan bahwa dialog dapat merugikan proses berfikir strategis
dalam bab ini juga menyatakan eksekutif takut bahwa proses dialog tidak mungkin berkontribusi
terhadap proses pemikiran strategis. Dalam memulai untuk berdialog tentang isu-isu strategis
cukup berguna untuk mulai berlatih dengan pertanyaan-pertanyaan seperti : 1. Apa lagi ? 2.
Kenapa lagi ? 3. Siapa lagi ? 4. Dimana lagi ? 5. Kapan lagi ? 6. Bagaimana lagi ? keenam
pertanyaan ini biasanya digunakan untuk mendapatkan keyakinan, asumsi atau pikiran kreatif
baru dan pemahaman dan apresiasi untuk kemungkinkan berbeda prespektif dan asumsi. Dengan
latihan sederhanaini dapat menjadikan kebiasaan pemikiran seseorang yang menyebabkan
refleksi yang akhirnya akan memberikan kontribusi untuk menghasilkan dialog strategis.

Strategi Dialog yang baik adalah Memberi Informasi

Memberikan informasi merupakan dialog yang bagus. Dalam arti harus substantif dan
terlibat dalam posisi ingin tahu tentang pendapat orang lain.dan juga sebagai parameter untuk
memperdalam pengetahuan, memperkenalkan data baru, memperluas informasi dan ide-ide, dan
memungkinkan kita untuk melihat aspek lain deari cara yang berbeda. Dengan terlibat dalam
dialog seperti ini akan membawa kita untuk memperdalam proses berfikir strategis dengan
kerteraturan dan disiplin.

Sebelum kita masuk dalam sebuah dialog kita perlu mengetahui tentang apa yang kita
bicarakan dengan mencari berbagai informai dan data. Mengkonversi semua data menjadi
informasi membutuhkan penalaran , penafsiran, dan penilaiaan manusia untuk menjadi sebuah
informasi yang bermakna. Akan mendorong kemampuan manusia untuk pengumpulan data
dalam proses dialog yang strategis dan meningkatkan proses belajar berfikir strategis. Dialog
memberikan informasi berkisar pada tiga isu pertama harus berurusan dengan substantif tentang
masalah tersebut. Kedua kita harus tetap deskriptif atau harus terkait dengan pertanyaan tertendu.
Ketiga, dialog harus setuju untuk mengumpulkan berbagai presespsi dari berbagai tempat dan
dari berbagai latar belakang.
Strategi Dialog yang baik memiliki Resiko

Dialog yang baik juga beresiko karena kita harus menantang dan menguji asumsi yang
mendasari informasi dan keyakinan kita. Dialog strategi semacam ini harus berani mengekspos
kelemahan dalam berpikir dan dapat mengambil hal yang penting yang tertanam dalam proses
berpikir kita. Dalam hal ini kita perlu menjadi responsif terhadap informasi dan berbagai
kebenaran. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan sulit untuk di jawab apabila data dan
informasi yang kita berikan tidak jelas.

Dalam mengurangi resiko dalam berdiaog dan meningkatkan kemampuan kita untuk
berbicara kita perlu untuk memiliki kepercayaan diri untuk berbicara yang dapat sangat di
tingkatkan dengan pengalaman dan praktek.segala retribusi, interupsi, cemooh, bahkan makian
dapat menjadi tambahan untuk mendapatkan dialog yang bermakna. Aktif mencari dialog kritis
dengan rekan-rekan , profesional lainnya, dan orang asing beresiko tetapi juga penting untuk
memperluas prespektif kita, merangsang imajinasi, dan meningkankan kualitas dalam
menciptakan strategi-strategi.

Strategi yang baik Dialog Kritis

Tujuan dari Dialog Kritis adalah untuk meningkatkan strategi dalam berpikir dan
bertindak. Sebuah dialog kritis tidak dimaksudkan untuk tujuan mengalahkan atau menyerang
lawan, seperti dalam debat, atau menyakinkan lawan seperti dalam diskusi. Sebuah dialog
yangkritis harus melibatkan pemikiran dan berbicara yang dilakukan untuk tingkat yang lebih
tinggi.

Sebuah dialog kritis meliputi keptusan dari waktu kewaktu dan juga seornag eksekutif
harus secara rutin senantiasa memberikan pertanyaan apa solusinya dan evaluasi sekarang ?
dan apa yang akan anda lakukan secara spontan dalam situasi seperti ini ? dan mengapa?.
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga menjadi pemicu untuk menimbulkan kemungkinan-
kemungkinan baru atau ide-ide , dan wawasan untuk keputusan strategis.
CHAPTER 13

PERAN DARI PENYELIDIKAN DALAM DIALOG KRITIS

Penyelidikan dalam dialog kritis dalam hal ini dimaksud adalah melayani permintaan dari
berbagai tujuan yang mendukung dialog yang baik dan dalam belajar untuk berfikir strategis. Hal
ini juga bermanfaat untuk memaksa kita berfikir strategis dan memungkikan untuk memperjelas,
untuk memahami dan untuk mencari jawaban. Tujuannya untuk membangun dasar pertemuan
dan penyelidikan dimna orang dapat memungkinkan aliran makna bebas dan kuat.

Penyelidikan untuk Mendukung Dialog Strategi yang Baik

Dalam hal pemikiran strategis, memberikan, meminta dan menanggapi pertanyaan


merupakan cara yang efektif untuk mengumpulkan informasi dan juga membantu proses
pembelajaran berpikir strategis karena memperkuat analisis situasi, memperluar prespektif dan
menantang sebuah asumsi. Pertanyaan atau penyataan kritis adlah penting untuk menyelidiki
lebih dalam dalam upanya memahami pola dan memprediksi peluang strategis.

Refleksi juga merupakan hal penting dalam penyelidikan dialog strategis yang baik untuk
memeriksa pertanyaan dan tanggapan yang telah di perdebatkan dalam asumsi dan keyakinan.
Hal ini melibatkan pemikiran dan mmperhatikan perasaan, masuk akal dan coba untuk
memahami apa yang mendukung pendapat ide atau kepercayaan.

Pertanyaan yang baik dalam sebuah Dialog

Memberikan atau mengajukan sebuah pertanyaan dalam sebuah dialog bukanlah hal yang
mudah. Membutuhkan kepercayaan diri dan juga membutuhkan pemahaman yang cukup tentang
apa yang sedang di bahas dalam sebuah dialog. Karena dengan pertanyaan yang baik akan
memberikan kita jawaban yang terbaik semakin baik pertanyaan kita maka semakin baik solusi
dan semakin baik pembelajaran kita. Dan untuk refleksi juga semakin besar pembelajaran kita
untuk berfikir strategis.

Cara yang cukup baik untuk memberikan sebuah pertanyaan adalah untuk membangun
atau pertanyaan berdasarkan respon yang di berikan. Penggunaan siapa-apa-kapan-dimna-
mengapa-bagaimana juga merupakan cara yang baik untuk memberikan pertanyaan bagi pemula.
Analogi

Belajar untuk berpikir strategis tidak lepas dari penggunaan analogi. Sebuah analogi
dimulai dari cerita atau situasi sederhana. Analogi cukup hanya sesuatu pemikiran yang sedrhana
yang dapat di bandingkan karena pasti ada sesuatu yang terjadi atau proses tertentu terjadi.
Analogi berguna untuk memberikan gerakan pemikiran. Sebuah masalah di pertimbangkan
terkait dengan analogi dan kemudian analogi di kembangka sejalan dengan pikiran kita dan pada
akhirnya kita dapat menterjemahkan kembali dan melihat apa yang mungkin terjadi pada suatau
masalah yang asli.

Tujuh Dimensi Strategis Untuk Dialog Kritis

Dalam beberapa dialog atau perdebatan kita harus menepatkan pemikiran kita terhadap
tujuh dimensi berikut :

Bagian Luar :

Keuangan (ekonomi, anggaran, laba/rugi, investasi)


Penilaian Resiko (keamanan keuangan, keamanan fisik, sifat intelektual)
Teknologi ( hardware, software, integrasi keduanya)
Integritas ( keaslian, kebenaran, kejujuran)

Bagian Dalam :

nilai Bisnis (stakeholder, pelanggan, produk, layanan, ekspansi, perbaikan)


pengembangan Individual (belajar sebagai investasi, "pengembangan aset," kepuasan,
pengetahuan / pemikiran / kreativitas kemampuan)
kontribusi sosial (lingkungan, hak asasi manusia, seni, kesehatan, politik, pengembangan
masyarakat)

Dengan memperhatiakn tujuh dimensi dialog strategi tersebut kita dapa melihat resiko,
menawarkan presepsi baru, dan memberikan data-data baru yang di butuhkan dalam sebuah
dialog.

Belajar Dialog
Dialog bisa terjadi dimana saja dan kapan saja dengan hanya ingin tahu yang lebih baik
atau yang lebih buruk. Dalam belajar dialog strategis ada yang di kenal dengan after-action-
review (AAR),yaitu proses yang di kembangkan oleh Angkatan Darat AS untuk mengidentifikasi
pelajaran. Tehnik ini digunakan setelah pengambilan keputusan. Proses ini terstruktur bedasarkan
lima pertanyaan :
1. apa yang dimaksud ?
strategi apa yang dilakukan pada saat aksi di mulai ? hasil apa yang di inginkan ?
bagaimana strategi diharapkan akan di capai ?
2. apa yang sebenarnya terjadi ?
hal apa yang akan terjadi dalam jangka waktu tertentu ? siapa melakukan apa ? dimna ?
bagaimana ? kapan ? reaksi ? menyalakan yang tidak bersalah, melainkan kronologi
faktual yang kolaboratif disatukan.
3. Mengapa hal itu bisa terjadi ?
Yang dimaksudkan disini adalah diagnostik. Komentar yang di tawarkan tentang
kemungkinan alasan bahwa hasil tertentu bukanlah tujuan strategis yang dimakasudkan
atau alasan untuk sukses.
4. Bagaimana kita melakukan yang lebih baik ? apa yang telah di pelajari ?
5. Apa yang kita lakukan sekarang ?
Dengan pembelajaran tersesbut sesorang akan lebih mudah untuk mengidentifikasi dalam suatu
situasi untuk melakukan tindakan yang akan lebih dekat mencapai strategi yang dimaksud.

Belajar dialog strategis informal dalam tiga tahap proses berpikir strategis
Dalam proses pembelajaran berpikir strategis terdapat tiga tahapan pembelajran
informal : persiapan, pengalaman, dan reevaluasi. Karena terkadang kita hanya terombang-
ambing pada mengumpulakn informasi pada saat terlibat dalam sebuah dialog. Hal ini
menantang untuk membedakan satu tahap kedepan untuk memperjelas apa yang harus dilakuakn
dalam sebuah dialog dan untuk meningkatkan pola berpikir strategis.

Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan yang dimkasud adalah persiapan bahwa data dan informasi yang
di butuhkan telah dibuktikan dan divalidasi. Tahap tersiapan dalam dialog berfungsi untuk
pengumpulan informasi yang tampaknya seperti mencari pendapat berbeda, data yang berbeda,
ide, dan interupsi baru, prosedur dan informasi.

Tahap Pengalaman
Dialog yang dilakukan pada tahap pengalaman sebagai sarana untuk pengujian dan
menantang. Dialog dengan orang asing dari usia yang beragam, industri, budaya, dan pendidikan
dapat menguji ide-ide dan pemikiran kita dan mengungkapkan asumsi yang mendasarimya.
Tahap ini juga berfungsi untuk mengekplorasi prespektif yang berbeda, tes asumsi dan opini, dan
ide-ide yang menantang, hal ini dapat merangsang imajinasi kita.
Dialog dalam tahapan pengalaman adalam bagian penting dari belajar berpikir strategis
karena kita belajar dalam tindakan dan belajar untuk menindakinya. Kita belajar dalam tindakan
dan aski yang dilakukan melalui dialog kritis dengan pangalaman yang dimiliki dengan kolega,
teman, rekan profesional, kenalan dan orang asing. Unsur dialog, refleksi kritis, penyelidikan dan
tantangan yang konstan dalam tahap pengalaman dapat meningkatkan proses belajar berfikir
strategis.

Tahap Reevaluasi
Pada tahap ini dimaksudkan reevalusi pembelajaran dialog beerfungsi sebagai sarana
penting untuk refleksi dan penilaiaan. Dalam tahap pembelajaran informal ini yang kita gunakan
dialog untuk menguji dan menantang kerangka kerja yang komperhensif dan untuk memperbaiki
sistem kepercayaan dan asumsi. Dialog digunakan untuk mengukur pemikiran dan
menyempurnakan ide-ide untuk terus bergerak dan membuat proses kedepan.
Pemikiran strategis tergantung pada dialog untuk mengungkapkan asumsi dan diarahkan
dari memproduksi hasil dan arah proses berkelanjutan dari pertanyaan kritis dan refleksi. Dialog
adlah proses yang serbaguna dan dinamis dan dapat dipercaya yang pastinya menguntungkan
lingkungan global dimna banyak hal-hal yang tidak pasti.