Anda di halaman 1dari 12

KEPUTUSAN

DIREKTORAT JENDERAL
PERHUBUNGAN DARAT

NO : AP.005/3/13/DPRD/94

TENTANG

PETUNJUK TEKNIS
PERSYARATAN PELAYANAN MINIMAL
KAPAL SUNGAI, DANAU DAN
PENYEBERANGAN

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 0


KEPUTUSAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

NO : AP.005/3/13/DPRD/94

TENTANG

PETUNJUK TEKNIS PERSYARATAN PELAYANAN MINIMAL


KAPAL SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT,

Menimbang : a. bahwa untuk menjamin kepastian dalam pemberian pelayanan


kepada masyarakat akan jasa angkutan sungai, danau dan
penyeberangan yang aman, nyaman, tertib dan lancar, diperlukan
adanya petunjuk-petunjuk teknis operasional di lapangan;

b. bahwa sehubungan dengan huruf a tersebut, perlu ditetapkan


Petunjuk Teknis Persyaratan Pelayanan Minimal Kapal Sungai,
Danau dan Penyeberangan dengan Keputusan Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat.

Mengingat : 1. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok


Organisasi Departemen;

2. Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan


Organisasi Departemen, sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 58 Tahun 1993;

3. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 91/OT.002/Phb-80 dan


KM 164/OT.002/Phb-80 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Perhubungan, sebagaimana telah dirubah terakhir
dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 58 Tahun
1996;

4. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 12 Tahun 1988 tentang


Usaha Angkutan Perairan Daratan;

5. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 64 Tahun 1989 tentang


Penetapan Lintas Penyeberangan, sebagaimana telah diubah dan
disempurnakan dengan KM 22 Tahun 1991 dan KM 25 Tahun 1991;

6. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 27 Tahun 1990 tentang


Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: Keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat tentang


Petunjuk Teknis Persyaratan Pelayanan Minimal Kapal Sungai,
Danau dan Penyeberangan.

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 1


Pasal 1

(1) Persyaratan pelayanan minimal kapal sungai, danau dan penyeberangan


dimaksudkan untuk memberikan pelayanan yang aman, nyaman, tertib dan lancar
sesuai dengan daya jangkau bagi masyarakat pengguna jasa;

(2) Persyaratan pelayanan minimal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari :
a. persyaratan pelayanan minimal untuk penumpang;
b. persyaratan pelayanan minimal untuk penyusunan muatan kapal sungai dan
danau, serta persyaratan pelayanan minimal pemuatan kendaraan di kapal
penyeberangan;
c. persyaratan pelayanan minimal kecepatan kapal.

Pasal 2

(1) Persyaratan pelayanan minimal untuk penumpang sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 1 ayat (2) huruf a, terdiri dari :
a. persyaratan pelayanan minimal kenyamanan penumpang;
b. persyaratan minimal konstruksi kapal untuk pelayanan penumpang.

(2) Persyaratan pelayanan minimal kenyamanan penumpang sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 1 ayat (1) huruf a, ditentukan berdasarkan :
a. waktu atau lama berlayar;
b. kelas-kelas tempat duduk penumpang.

Pasal 3

(1) Persyaratan pelayanan minimal kenyamanan penumpang yang didasarkan pada


waktu atau lama berlayar, terdiri dari 4 (empat) kategori sebagai berikut :

a. kategori 1, dengan lama pelayaran sampai dengan 4 jam, yang terdiri dari :
1) lama pelayaran dari 0 1,5 jam;
2) lama pelayaran dari 1,5 4 jam.

b. kategori 2, dengan lama pelayaran di atas 4 jam sampai dengan 8 jam;


c. kategori 3, dengan lama pelayaran di atas 8 jam sampai dengan 12 jam;
d. kategori 4, dengan lama pelayaran di atas 12 jam.

(2) Persyaratan pelayanan minimal kenyamanan penumpang yang didasarkan pada


kelas-kelas tempat duduk penumpang, terdiri dari 3 kategori, sebagai berikut :
a. tempat duduk kelas ekonomi;
b. tempat duduk kelas bisnis;
c. tempat duduk kelas eksekutif/VIP.

(3) Persyaratan pelayanan minimal kenyamanan penumpang sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) dan ayat (2), sebagaimana dalam Lampiran I Keputusan ini.

Pasal 4

(1) Persyaratan minimal konstruksi kapal untuk pelayanan penumpang sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b, meliputi:

a. luas ruangan;
b. penumpang, terdiri dari :
1) penumpang geladak terbuka;

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 2


2) penumpang geladak tertutup;
3) penumpang kamar.

c. tempat duduk;
d. gang/jalan lewat orang;
e. kamar mandi dan WC/kakus;
f. sistem lubang angin/ventilasi;
g. dapur dan kafetaria;
h. ruang rekreasi (public area) dan ruang ibadah.

(2) Persyaratan pelayanan minimal kenyamanan penumpang sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1), sebagaimana dalam Lampiran II Keputusan ini.

Pasal 5

a. Persyaratan pelayanan minimal untuk penyusunan muatan kapal sungai dan danau
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf b, harus memenuhi ketentuan
sebagai berikut :
a. susunan muatan penumpang, barang dan/atau hewan di atas kapal, harus
diatur sesuai dengan tata cara pemuatan yang benar, sehingga kapal tidak
kehilangan kestabilan yang dapat mengakibatkan miring dan tenggelam;

b. tata cara pemuatan penumpang, barang dan/atau hewan harus dilakukan


dengan benar, sehingga kapal selalu dalam keadaan tetap stabil, baik pada
waktu memuat, berlayar, maupun pada waktu membongkar muatan;

c. muatan penumpang, barang dan/atau hewan yang berada di atas geladak


terbuka (weather deck) harus diatur dan dibatasi jumlahnya sehingga tidak
mengganggu stabilitas kapal, khususnya dalam pelayaran;

d. dalam memuat hewan, harus diatur dan diikat sehingga tidak dapat bergerak
kemana-mana, untuk menghindari agar kapal tidak menjadi miring dan
kehilangan kestabilan;

e. sistem pemuatan barang (cargo plan), harus diatur sedemikian rupa sehingga
tidak menyulitkan pada waktu pembongkaran di tempat tujuan;

f. muatan harus diatur secara benar, sehingga berat muatan berada di bagian
bawah ruangan kapal;

g. pemuatan barang harus dikelompokkan sesuai dengan jenisnya masing-


masing;

h. penempatan muatan barang yang mudah terbakar dan/atau mudah meledak,


harus ditempatkan di bagian kapal yang jauh dari muatan lain, jauh dari ruang
awak kapal, dapur/api, mesin/motor dan sebagainya yang dapat menimbulkan
api secara terbuka, sehingga sewaktu-waktu dapat segera dengan mudah
dibuang ke air, serta bagi kapal yang membawa muatan barang berbahaya
dilarang memuat penumpang.

b. Sebelum berlayar, kapal harus diperiksa yang meliputi :

a. tanda lambung timbul (plimsoll mark) kapal terhadap garis air, tidak boleh
melampaui dari batas yang diizinkan;
b. kelengkapan surat-surat dan sertifikat kapal yang masih berlaku;
c. kemungkinan kelebihan muatan penumpang, barang dan/atau hewan;
d. kelengkapan anak buah kapal, sesuai dengan sijil kapal yang telah disahkan.

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 3


Pasal 6

(1) Persyaratan pelayanan minimal pemuatan di kapal penyeberangan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf b, harus memenuhi persyaratan
perlengkapan pintu rampa dan ruang kendaraan.

(2) Persyaratan pelayanan minimal pemuatan di kapal penyeberangan, persyaratan


perlengkapan pintu rampa dan ruang kendaraan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), sebagaimana dalam Lampiran III Keputusan ini.

Pasal 7

(1) Persyaratan pelayanan minimal kecepatan kapal sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 1 ayat (2) huruf c, terdiri dari :
a. kapal berkecepatan sedang;
b. kapal berkecepatan cepat.

(2) Persyaratan pelayanan minimal kecepatan kapal sebagaimana dimaksud dalam


ayat (1) huruf c, ditentukan berdasarkan :
a. kapal berkecepatan sedang, harus mampu melayani trayek/lintas dengan
kecepatan maksimal sampai dengan 18 knot;
b. kapal berkecepatan cepat, harus mampu melayani trayek/lintas dengan
kecepatan di atas 18 knot;

Pasal 8

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : 21 April 1994

DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

ttd

SOEJONO

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada :


1. Menteri Perhubungan;
2. Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, para Kepala Badan dan Direktur Jenderal
di lingkungan Departemen Perhubungan;
3. Para Gubernur KDH Tk. I di seluruh Indonesia;
4. Para Kepala Kantor Wilayah Departemen Perhubungan di seluruh Indonesia;
5. Direktur Utama PT (persero) ASDP;
6. Para Pimpinan Perusahaan Pelayaran Sungai, Danau dan Penyeberangan;
7. DPP GAPASDAP;
8. Para Kepala UPT LLASD dan Kepala UPT Pelabuhan Penyeberangan di Seluruh
Indonesia.

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 4


LAMPIRAN I KEPUTUSAN DIREKTUR
JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT
NOMOR : AP.005/3/13/DRPD/94
TANGGAL : 21 April 1994

No Jam Kelas Tempat Duduk/Luas Urinoir/WC FAN / P. ADRESSER CCTV


Berlayar (m2) K. MANDI AIR CON MUSIK VIDEO
1 0 1,5 jam Ekonomi Bangku / 0,35 m2 Urinoir/WC Terbuka Ada -
Bisnis Kursi / 0,40 m2 Urinoir/WC Fan Ada -
1,5 4 jam Ekonomi Bangku / 0,35 m2 Urinoir/WC Terbuka Ada -
2
Bisnis Kursi / 0,40 m Urinoir/WC Fan Ada Ada
Eksekutif K. Reklining / 0,50 m2 Urinoir/WC Fan/AC Ada Ada
2 4 8 jam Ekonomi Kursi / 0,40 m2 Urinoir/WC Fan Ada Ada
Bisnis Kursi / 0,40 m2 Urinoir/WC Fan/AC Ada Ada
Eksekutif K. Reklining / 0,50 m2 Urinoir/WC Fan/AC Ada Ada
3 8 12 jam Ekonomi Kursi / 0,40 m 2
Urinoir/WC Fan Ada Ada
Bisnis Kursi / 0,40 m2 Urinoir/WC Fan/AC Ada Ada
Eksekutif K. Reklining / 0,50 m2 Ur/WC/KM Air Con Ada Ada
4 > 12 jam Ekonomi Kursi / 0,40 m2 Urinoir/WC Fan Ada Ada
Bisnis Kursi / 0,40 m2 Urinoir/WC Fan/AC Ada Ada
Eksekutif K. Reklining / 0,50 m2 Ur/WC/KM Air Con Ada Ada

DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

ttd

SOEJONO

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 5


LAMPIRAN II KEPUTUSAN DIREKTUR
JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT
NOMOR : AP.005/3/13/DRPD/94
TANGGAL : 21 April 1994

PERSYARATAN MINIMAL KONSTRUKSI KAPAL UNTUK PELAYANAN PENUMPANG

1. Luas ruangan :
Luas lantai tempat duduk/tempat tidur penumpang kurang lebih 60 % luas geladak
ruangan.

2. Penumpang :
a. penumpang geladak terbuka :
- luas lantai untuk kursi/bangku per orang berukuran 0,30 0,45 m2.

b. penumpang geladak tertutup :


1) tinggi tenda/atap minimal 1,90 m;
2) luas lantai untuk kursi/bangku per orang berukuran 0,30 0,65 m2.

c. penumpang kamar :
1) kapasitas maksimal tiap kamar untuk 6 (enam) orang;
2) harus mempunyai tempat tidur tetap, berukuran minimal 1,80 m panjang dan
0,70 m lebar;
3) luas lantai per orang minimal 1,35 m2.

Khusus untuk kapal-kapal sungai, karena keterbatasan ruangan, diperbolehkan


membuat ruangan tidur secara tatami (tanpa ranjang/bed) dengan luas lantai
per orang minimal 1,26 m2.

3. Tempat duduk :
a. bangku :
1) tempat duduk memanjang yang menjadi satu, tanpa sekat sandaran tangan;
2) kapasitas tiap bangku tidak boleh melebihi 6 orang untuk satu sisi keluar
menuju gang/jalan lalu orang;
3) luas bangku per orang minimal 0,30 m2;
4) bangku dapat ditempatkan pada ruangan penumpang geladak terbuka.

b. kursi :
1) tempat duduk bersandaran tangan untuk masing-masing penumpang dan
ditempatkan secara berderet;
2) luas ukuran kursi minimal 0,30 m2 tiap kursi;
3) bentuk dan ukuran kursi sebagaimana dalam Gambar 1 berikut :

c. kursi reklining (reclining seat):


1) tempat duduk dengan sandaran punggung yang dapat diatur dan
ditempatkan pada ruangan penumpang geladak tertutup, yang merupakan
tempat duduk kelas bisnis dan eksekutif;
2) luas ukuran kursi minimal 0,50 m2 tiap kursi;
3) bentuk dan ukuran kursi sebagaimana dalam Gambar 2 berikut :

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 6


GAMBAR 1

UKURAN MINIMAL RUANG DUDUK PENUMPANG

GAMBAR 2

UKURAN MINIMAL RUANG DUDUK PENUMPANG


(KURSI RECLINING)

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 7


d. gang/jalan melintas untuk orang/penumpang :

Jarak antara (lebar) dari gang tempat untuk melntas orang/penumpang adalah
sebagai berikut :
1) sampai dengan 100 penumpang, jarak minimal 0,80 m;
2) di atas 100 penumpang, jarak minimal 1,00 m;
3) di atas 1.000 penumpang, jarak minimal 1,20 m;
4) sudut kemiringan tangga penumpang yang menghubungkan antar geladak
tidak boleh melebihi 450.

e. Kamar mandi dan WC/kakus :

Untuk penumpang harus tersedia kamar mandi dan WC/kakus, dengan jumlah
minimal sebagai berikut :
1) dari 13 sampai dengan 50 penumpang, 2 kamar mandi dan WC/kakus,
selanjutnya untuk setiap 50 atau bagian dari 50 penumpang sampai dengan
500 penumpang, harus ada tambahan 1 kamar mandi dan WC/kakus;

2) lebih dari 500 penumpang, untuk setiap 100 atau bagian dari 100
penumpang sampai dengan 500 penumpang, harus ada tambahan 1 kamar
mandi dan WC/kakus;

3) kamar mandi dan WC/kakus dibagi utnuk pria dan wanita, serta harus
dilengkapi dengan dinding-dinding pemisah yang cukup;

4) harus terdapat persediaan air pada tempat-tempat air dengan jumlah


sedikitnya 1/6 dari jumlah kamar mandi dan WC/kakus, sejauh perlengkapan
kamar mandi dan WC/kakus masih belum memenuhi hal tersebut secara
cukup;

5) untuk kapal dengan penumpang tidak lebih dari 12 orang, paling sedikit
harus ada satu kamar mandi dan satu WC/kakus bagi awak kapal, yang
harus dapat digunakan juga untuk penumpang;

6) untuk kapal yang melayani kategori 3 dan 4 (pembagian menurut jam


berlayar), harus tersedia cukup waktu bagi penumpang untuk mandi;

7) kamar mandi dan WC/kakus harus terpisah dari ruang akomodasi dengan
baik dan ruang-ruang tersebut harus cukup luas serta cukup sirkulasi
udaranya, dengan penataan ruangan dan konstruksi sehingga memudahkan
penyaluran air dan kotoran dalam pembersihannya.

f. sistem lubang angin/ventilasi udara dan penerangan :

1) ruang akomodasi penumpang harus diberikan lubang angin/ventilasi udara


yang cukup;

2) ruang akomodasi penumpang di geladak tertutup, harus memakai sistem


penghisap (exhaust) dan sirkulasi udara minimal 10 kali per jam;

3) ruang akomodasi penumpang kelas bisnis dan eksekutif, harus memakai fan
dan sistem air conditioning (penyejuk ruangan);

4) ruang akomodasi penumpang harus mendapat cukup cahaya melalui kaca


pada tingkap-tingkap sisi, atau melalui kaca-kaca lain yang dipasang untuk
itu;

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 8


5) pada malam hari, tiap-tiap ruangan harus diberi penerangan yang cukup;

6) kapal yang berukuran di atas 2.500 m3 ke atas, harus menyediakan ruangan


untuk keperluan perawatan orang sakit (klinik dan kamar perawatan) dengan
sistem ventilasi udara tersendiri, begitu pula untuk pembuangan air dan
kotoran harus dengan sistem pencuci kuman sebelum dibuang keluar kapal.

g. dapur dan kafetaria :

1) dapur tidak boleh ditempatkan di geladak kendaraan (car deck);

2) dapur harus mempunyai sistem lubang angin/ventilasi udara dan


pembuangan air kotor yang terpisah dengan ruang akomodasi;

3) kompor yang digunakan harus jenis kompor listrik;

4) bila menggunakan sistem pembakaran dengan gas, tangki penyimpan gas


harus terpisah dan pada saluran gas masuk harus dipasang minimal satu
buah keran penutup cepat (shut-off valve) yang terletak di luar ruang dapur;

5) untuk pelayanan penumpang, diizinkan penempatan kafetaria di ruang


penumpang;

6) kafetaria harus menggunakan kompor/alat pemanas listrik;

7) sistem lubang angin/ventilasi udara dan pembuangan air kotor harus


terpisah dengan ruang penumpang;

8) pengelola/petugas kafetaria wajib menjaga kebersihan dan kesehatan


lingkungan.

h. Ruang rekreasi (public area) dan ruang ibadah :

1) kapal yang memuat lebih dari 50 penumpang, dapat menyediakan ruangan


terbuka untuk tempat santai/rekreasi bagi penumpang;

2) kapal penumpang wajib menyediakan ruangan untuk tempat ibadah, dengan


luas yang sesuai jumlah penumpang dan ruang kapal yang tersedia, serta
harus selalu dijaga kebersihan dan kerapihannya.

DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

ttd

SOEJONO

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 9


LAMPIRAN III KEPUTUSAN DIREKTUR
JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT
NOMOR : AP.005/3/13/DRPD/94
TANGGAL : 21 April 1994

PERSYARATAN MINIMAL PEMUATAN KENDARAAN DI KAPAL PENYEBERANGAN

Kapal penyeberangan yang mengangkut kendaraan, harus memenuhi perlengkapan


dan ketentuan sebagai berikut :

1. Pintu rampa :
a. terdiri dari 2 pintu, yang dipasang di bagian haluan dan buritan (tipe Ro-Ro)
atau samping kiri dan kanan berguna sebagai jalan keluar dan masuk
kendaraan;

b. di lintas-lintas tertentu yang mempunyai peralatan tangga rampa samping


(elevated side ramp), kapal yang melayani lintas tersebut harus mempunyai
geladak atas untuk kendaraan (upper deck) dan membuat dudukan atau
tumpuan untuk rampa dermaga sehingga dapat langsung digunakan untuk jalan
keluar masuk kendaraan.

Spesifikasi teknis pintu rampa adalah sebagai berikut :


a. panjang : harus disesuaikan dengan kondisi yang akan dilayani.
b. lebar : minimum 4 m.
c. kecepatan buka/tutup pintu :
membuka penuh maksimal 2 menit;
menutup penuh maksimal 3 menit.

d. daya dukung : harus mampu mendukung beban kendaraan minimal :


JBB 17,5 ton
MST 8 ton

Daya dukung ini disesuaikan dengan


kapasitas lalu lintas dan angkutan serta daya dukung
jalan raya yang akan dilayani.

2. Ruang untuk kendaraan :


a. lantai ruang kendaraan harus dirancang mampu menahan beban kendaraan
minimal JBB 17,5 ton dan MST 8 ton untuk muatan berat atau truk;

b. tinggi ruang kendaraan :


1) kendaraan kecil/sedan minimal 2,50 m;
2) kendaraan besar/truk dan campuran minimal 3,80 m;
3) kendaraan trailer/peti kemas minimal 4,70.

c. ruang kendaraan yang tertutup harus disediakan lampu penerangan, sistem


sirkulasi udara, tangga/jalan keluar/masuk bagi pengemudi, serta harus
ditempelkan/ditulisi tanda larangan Dilarang Merokok dan Penumpang
Dilarang Tinggal di Ruang Kendaraan serta Dilarang Menghidupkan Mesin
Kendaraan Selama Pelayaran Sampai Pintu Rampa Dibuka Kembali, yang
dapat terlihat jelas dan mudah dibaca.

d. jarak minimal antar kendaraan :


1) jarak antara masing-masing kendaraan pada sisi kiri dan kanan, adalah 60
cm;
2) jarak antara muka dan belakang masing-masing kendaraan, adalah 30 cm;

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 10


3) untuk kendaraan yang sisi sampingnya bersebelajan dengan dinding kapal,
berjarak 60 cm dihitung dari lapisan dinding dalam atau sisi luar gading-
gading (frame);
4) jarak sisi antara kendaraan dengan tiang penyangga (web frame) adalah
60 80 cm.

e. antara pintu rampa haluan/buritan dengan batas sekat pekanggaran, dilarang


untuk dimuati kendaraan.

f. Untuk lintas-lintas penyeberangan yang kondisi lautnya berombak kuat


sehingga membuat sudut kemiringan kapal mencapai lebih dari 10 0, kendaran
yang dimuat dalam kapal harus dilengkapi dengan sistem pengikatan (lashing).

DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

ttd

SOEJONO

KM No 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau 11

Anda mungkin juga menyukai