Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS LENDUTAN BALOK BETON BERTULANG DENGAN

VARIASI RASIO TULANGAN DENGAN PROGRAM BERBASIS


METODE ELEMEN HINGGA

TUGAS METODE ELEMEN HINGGA

Oleh :

I Gede Agus Krisnhawa Putra


1681511035

MAGISTER TEKNIK SIPIL


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penggunaan beton sebagai bahan material bangunan lebih banyak digunakan


dibandingkan material struktur lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi umeric
penggunaan beton lebih diminati, diantaranya : beton mudah dicetak dan dibentuk dengan
kondisi penampang apapun, beton harganya umeric lebih murah dibandingkan
kompetitornya yaitu baja, dan beton memiliki kekuatan serta kekauan yang tinggi. Akan
tetapi, beton juga memiliki kekurangan, yaitu : beton hanya mampu menerima gaya tekan
sehingga sangat lemah dalam gaya tarik, oleh karena itu beton dikombinasikan dengan
material baja tulangan. Komponen-komponen struktur gedung yang terbuat dari beton
misalnya saja yaitu pondasi, kolom, pelat lantai, dan balok. Setiap komponen struktur
tersebut akan menahan beban rencana yang diberikan. Jika ada suatu aksi maka umeric
reaksi yang diberikan. Seperti pada balok beton yang diberikan suatu reaksi akan
menimbulkan aksi yaitu lendutan yang terjadi pada balok tersebut. Besarnya beban yang
diberikan akan berpengaruh terhadap besarnya lendutan yang terjadi, ketika beban sudah
melampaui batas kekuatan balok, dan jika bebannya semakin besar maka akan terjadi retak
pada daerah yang mengalami tarik. Selain karena beban yang diberikan melampaui batas,
retakan atau lendutan yang terjadi pada balok juga dipengaruhi oleh besi tulangan yang ada
pada balok bertulang tersebut. Rasio tulangan yang bervariasi tentu akan mempengaruhi
retakan atau lendutan pada balok beton bertulang. Maka perlu dikaji lebih lanjut mengenai
analisis lendutan pada balok beton bertulang dengan variasi rasio tulangan.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pakpahan dan Sitorus


(2015), yang meneliti analisa lendutan balok dengan diameter tulangan
dan letak tulangan berbeda dengan menggunakan software berbasis
metode elemen hingga, menunjukkan bahwa ukuran diameter tulangan
yang digunakan pada balok beton bertulang, dan posisi letak tulangan
akan mempengaruhi lendutan yang terjadi akibat kemampuan balok
menahan gaya lentur yang ada. Kemampuan balok untuk menahan
beban yang ada dipengaruhi oleh tinggi efektif penampang pada beton
tersebut. Besarnya lendutan juga dipengaruhi oleh perbedaan bentuk

1
penampang balok (dimensi balok), mutu beton, dan bentang yang
bervariasi (Wiyono dan Trisina, 2013). Pada analisis beton bertulang,
besarnya diameter tulangan dipengaruhi oleh rasio tulangan atau luas
penampang tulangan yang memenuhi syarat. Penelitian yang dilakukan
oleh Pakpahan dan Sitorus (2015), hanya menganalisis lendutan jika
diameter tulangan berbeda namun rasio tulangan sama. Tentu jika rasio
tulangan yang bervariasi, perilaku lendutan pada balok beton bertulang
akan berbeda dengan penelitian lendutan dengan variasi dimensi
tulangan.

Perbedaan rasio tulangan akan mempengaruhi efesiensi


penggunaan jumlah dan diameter tulangan yang digunakan pada balok
beton bertulang. Seperti diketahui ada beberapa syarat dalam
menggunakan rasio tulangan, yaitu rasio tulangan desain harus diantara
rasio tulangan minimum dan maksimum. Hal ini juga akan berpengaruh
terhadap perilaku lendutan yang terjadi pada elemen struktur yaitu
balok. Pada balok beton bertulang yang dibebani suatu beban tertentu
dengan dimensi penampang, bentang balok, diameter tulangan, dan
mutu beton tertentu akan menimbulkan suatu lendutan atau retakan.
Berdasarkan teori struktur beton bertulang, besarnya lendutan bisa
dihitung dengan persamaan yang sudah ada. Suatu struktur secara
global diharuskan memiliki lendutan yang tidak terlalu besar, karena
akan berpengaruh terhadap keretakan atau kegagalan struktur tersebut.
Seperti pada balok beton bertulang, jika lendutan yang terjadi sudah
melampaui batas maka balok itu bisa saja mengalami kegagalan
struktur atau keretakan. Tetapi keretakan beton tidaklah secara tiba-
tiba, ada proses tertentu beton itu mencapai keretakan. Karakteristik
atau perilaku beton umumnya diperoleh dari pengujian eksperimen di
laboratorium. Begitupun halnya dengan perilaku lendutan atau
keretakan pada balok tentunya bisa diuji di laboratorium.Tetapi tidak
semua informasi didapat dengan pengujian tersebut dikarenakan
beberapa faktor misalnya keterbatasan alat dan metode pengujian.
Namun, seiring dengan majunya perkembangan teknologi computer,
metode +umeric menjadi salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu

2
hal yang belum didapat dari pengujian eksperimental. Salah satu
metode +umeric tersebut ialah metode elemen hingga (finite element
method) yang cukup popular. Beberapa program analisis berbasis
metode elemen hingga diantaranya Abaqus, Lusas, Ansys, dsb.

Dari beberapa ilustrasi diatas, maka penelitian yang berjudul


Analisis Lendutan Balok Beton Bertulang dengan Variasi Rasio Tulangan
dengan Program Berbasis Metode Elemen Hingga akan dilakukan. Pada
penelitian ini akan dimodelkan beberapa balok beton bertulang dengan
perletakan sederhana, pada program berbasis metode elemen hingga
yaitu Abaqus. Sementara untuk desain baloknya sendiri dihitung manual
berdasarkan SNI Beton 03-2847-2013.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan


yang dapat dirumuskan adalah bagaimanakah menganalisa perilaku
lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan dengan
menggunakan program berbasis metode elemen hingga.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui


perilaku lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan
dengan menggunakan program berbasis metode elemen hingga.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat menganalisa perilaku


lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan, dan
pemahaman pemodelan pada program berbasis metode elemen hingga
yaitu Abaqus dalam menganalisis suatu elemen struktur secara detail,
dan dapat mengidentifikasi sifat mekanik beton, sehingga bisa menjadi
referensi tambahan dalam perencanaan struktur nantinya.

1.5. Batasan Masalah

Adapun masalah yang dibatasi dalam penelitian ini adalah:

3
1. Lendutan yang dianalisis adalah akibat beban lentur murni yaitu
beban terpusat statis.

2. Perletakan atau tumpuan balok adalah sendi-roll.

3. Struktur beton bertulang dimodel dalam tiga dimensi.

4. Balok yang ditinjau dalam keadaan elastis.

5. Peraturan yang dipakai dalam pedoman adalah peraturan SNI 03-


2847-2013 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Serviceability dan Pentingnya Penyelidikan Defleksi

Serviceability (kemampuan layan) suatu struktur ditentukan oleh


lendutan, retak, korosi tulangan, dan rusaknya permukaan betonnya.
Rusaknya permukaan dapat dikurangi dengan kontrol yang baik pada
waktu pengadukan, pengecoran, dan perawatan betonnya. Penggunaan
selimut beton yang cukup, kontrol retak, dan kriteria lendutan dalam
desain, dapat mengurangi atau mungkin dapat menghapuskan masalah-
masalah tersebut.
Dalam tegangan kerja (working stress design) dan analisisnya
yang digunakan sebelum tahun 1970-an membatasi tegangan pada
beton sampai sekitar 45% dari kekuatan tekannya, dan tegangan pada
baja sampai 50% dari kekuatan lelehnya. Analisis elastis digunakan
untuk desain rangka structural, juga pada penampang beton bertulang.
Elemen structural dirancang untuk mampu memikul momen kerja di
sepanjang bentang batang dengan seringkali pengabaian redistribusi
momen. Akan tetapi, sebagai akibatnya, penampang akan mempunyai
kekuatan cadangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang
diperoleh dengan pendekatan cara kekuatan batas (ultimate strength).
Semakin berkembangnya pengetahuan mengenai sifat-sifat material
4
pembentuk beton, semakin kecil juga faktor bebannya dan semakin
berkurang kekuatan cadangnya. Apalagi dewasa ini banyak digunakan
beton berkekuatan tinggi dan baja berkekuatan tinggi, sehingga batang-
batang yang semakin langsing dan efektif juga harus ditentukan oleh
defleksi atau lendutan sebagai kriteria dalam desain. Lendutan yang
berlebihan pada balok dapat menyebabkan rusaknya partisi di
bawahnya, jika balok tersebut dikombinasikan pada elemen slab lantai.

2.2. Perilaku Defleksi Pada Balok

Hubungan beban-defleksi balok beton bertulang pada dasarnya


dapat diidealisasikan menjadi bentuk trilinier seperti gambar 2.1 di
bawah ini. Hubungan ini terdiri atas tiga daerah, yaitu :

2.2.1. Taraf Praretak : Daerah I

Segmen praretak dari kurva beban-defleksi pada dasarnya berupa


garis lurus yang memperlihatkan perilaku elastis penuh. Tegangan tarik
maksimum pada balok dalam daerah ini lebih kecil daripada kekuatan
tariknya akibat lentur, atau disebut dengan lebih kecil dari modulus
rupture fr beton. Kekakuan lentur EI balok dapat diestimasi dengan
menggunakan modulus young Ec dari beton, dan momen inersia
penampang beton bertulang tak retak. Perilaku beban defleksi sangat
bergantung pada hubungan tegangan regangan beton. Besarnya Ec
dapat diestimasi menggunakan rumus empiris yaitu:
Ec =4700 f ' c (1.2)
Estimasi akurat mengenai momen inersia I memerlukan peninjauan
kontribusi tulangan As. Ini dapat dilakukan dengan mengganti luas baja
dengan luas beton ekuivalen (Es/Ec) As karena besarnya modulus
young Es dari tulangan lebih besar daripada modulus young beton Ec.
Daerah praretak berhenti pada saat mulainya retak lentur
pertama dimana tegangan beton memcapai kekuatan modulus rupture-
nya fr. Untuk keperluan desain, besarnya modulus tersebut untuk beton
berbobot normal, yaitu sebagai berikut:
f r=7.5 f ' c (1.2)

5
Jika jarak serat tarik terluar ke pusat berat penampang adalah yt dan

momen retaknya M cr , maka:


I f
M cr = g r (1.3)
yt
Untuk penampang segiempat:
h
yt = (1.4)
2
Dimana h adalah tebal total balok. Perhitungan defleksi untuk daerah ini
tidak begitu penting, karena hanya sedikit balok beton bertulang yang
tidak retak pada beban aktualnya. Akan tetapi, pengetahuan matematis
mengenai variasi besaran kekauan sangat penting sebab segmen-
segmen balok di sepanjang bentang bisa saja belum retak.

2.2.2. Taraf Beban Pasca Retak : Daerah II


Daerah praretak diakhiri dengan mulainya retak pertama dan
maulai bergerak menuju daerah II pada diagram beban defleksi seperti
yang diperlihatkan pada Gambar. Hampir semua baok terletak pada
daerah ini pada saat beban kerja. Suatu balok dapat mengalami
berbagai taraf keretakan di sepanjang bentangnya sesuai dengan taraf
tegangan dan defleksi pada masing-masing bagiannya. Untuk suatu
balok di atas tumpuan sederhana, retak akan semakin lebar dan
semakin dalam pada lapangan, sedangkan pada tumpuan hanya terjadi
retak minor yang tidak lebar.
Apabila sudah terjadi retak lentur, kontribusi kekuatan tarik beton
sudah dapat dikatakan tidak ada lagi. Hal ini menunjukkan bahwa
kekuatan penampangnya telah berkurang sehingga kurva beban
defleksi di daerah ini akan semakin landau dibandingkan dengan taraf
praretak. Semakin besar retaknya, akan semakin berkurang
kekakuannya hingga mencapai suatu harga yang berupa lower-bound
(batas bawah) sehubungan dengan momen inersia penampang retak.
Pada saat mencapai keadaan limit beban retak kerja, kontribusi beton
tarik terhadap kekakuan dapat diabaikan. Momen inersia penampang
retak disebut dengan Icr yang dapat dihitung dari prinsip-prinsip dasar
mekanika teknik.

6
Distribusi tegangan dan regangan pada tinggi suatu penampang
beton segiempat tipikal yang telah retak ditunjukkan pada Gambar.
Asumsi-asumsi yang diambil dalam perhitungan defleksi berdasarkan
pembuktian ekspereimental yang diteliti adalah:
Distribusi regangan pada tingginya dianggap linier
Beton sama sekali tidak menahan tarik
Beton maupun baja masih dalam limit elastis
Distribusi regangan serupa dengan yang telah diasumsikan
untuk desain kekuatan, tetapi besarnya regangan, tegangan,
dan distribusi tegangannya berbeda.
Untuk menghitung momen inersia, besarnya tinggi garis netral c harus
ditentukan dari keseimbangan gaya horizontal:
fc
A s f s=bc (1.5)
2

Karena tegangan baja fs=ES S dan tegangan beton fc=EC C maka

persamaan 1.5 diatas ditulis sebagai berikut:


bc
A s E s s= E C C (1.6)
2
Dari segitiga sebangun dalam Gambar
c
= s (1.7)
c dc
atau
d
s= c ( 1) (1.8)
c
Dari persamaan (1.6) dan (1.8)
d bc
A s E s c ( 1)= EC C (1.9)
c 2
Atau
As Es d bc
( 1)=
Ec c 2

(1.10)
Dengan menuliskan angka perbandingan modulus Es/Ec sebagai n,
maka persamaan (1.10) menjadi
bc2

+n A s cn A s d=0
2

(1.11)

7
Besarnya c dapat diperoleh dengan memecahkan persamaan kuadrat
(1.11). Momen inersia Icr dapat diperoleh dari
b 3

I cr= c +n A s (dc )2
3

(1.12)
3
bc
Dimana suku 3 dalam persamaan (1.12) menunjukkan momen

inersia luas bc yang tertekan terhadap sumbu netral yang disebut dasar
kekuatan tekan dengan mengabaikan bagian luas penampang yang
tertarik, yaitu di bawah sumbu netral. Luas tulangan dikalikan dengan n
untuk ditransformasikan menjadi luas beton ekuivalen sebagai
kontribusi pada kekauan penampang. Momen inersia tulangan tersebut
terhadap sumbunya sendiri dapat diabaikan.
Bagian yang belum retak di bawah sumbu netral di sepanjang
bentang balok mempunyai derajat kekakuan yang merupakan kontribusi
terhadap kekakuan balok secara menyeluruh. Kekakuan actual balok
terletak di antara EcIg dan EcIcr , bergantung pada faktor-faktor lain
yaitu: banyaknya retak, ditribusi pembebanan, dan kontribusi beton di
antara retak yang terjadi. Pada umumnya, pada saat beban mencapai
taraf yang menyebabkan tulangan baja leleh, besarnya kekakuan
mencapai EcIcr. Branson telah mengembangkan suatu persamaan yang
sederhana untuk menghitung kekakuan efektif EcIe yang diperlukan
dalam desain. Persamaan ini dapat digunakan dalam perhitungan
lendutan, mendefinisikan momen inersia efektif sebagai berikut:

( )
I e=
M cr 3
Ma [ ( )]
I g +1 1
M cr 3
Ma
I cr I g

(1.13)
Persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk
3
M cr
I e=I cr +
( )
Ma
(I gI cr ) I g

(1.14)

8
Momen inersia efektif Ie seperti yang ditunjukkan pada persamaan
(1.14), bergantung pada momen maksimum Mu disepanjang bentang
dan kapasitas momen retak Mcr penampangnya.

2.2.3. Taraf Retak Postserviceability dan Keadaan Limit Perilaku


Lendutan pada Daerah Keruntuhan III

Diagram beban-defleksi pada daerah III jauh lebih datar


ketimbang pada daerah-daerah sebelumnya. Ini diakibatkan oleh
hilangnya kekakuan penampang karena retak yang cukup banyak dan
lebar di sepanjang bentang. Jika bebannya terus menerus bertambah,

maka regangan s pada tulangan pada sisi yang teratrik akan terus

bertambah melebihi regangan lehernya y tanpa adanya tegangan

tambahan,. Balok yang tulangan tariknya mulai leleh dikatakan telah


runtuh secara structural. Balok ini terus-menerus mengalami defleksi
tanpa adanya tambahan beban, dan retaknya semakin terbuka sehingga
garis netralnya terus mendekati serta tepi yang tertekan. Pada akhirnya
terjadi keruntuhan tekan sekunder yang dapat mengakibatkan
kehancuran total pada beton daerah momen maksimum dan segera
diikuti dengan terjadinya rupture.
Bertambahnya taraf beban mulai dari leleh pertama pada
tulangan tarik pada balok sederhana sampai taraf beban rupture
bervariasi antara 4% dan 10%. Akan tetapi, besarnya defleksi sebelum
rupture dapat beberapa kali dari besar defleksi pada saat beban yang
menyebabkan leleh pertama, bergantung pada perbandingan bentang
tinggi balok, presentase tulangan, jenis beban, dan derajat confinement
penampang beton. Dari percobaan-percobaan yang telah dilakukan
diperoleh bahwa besarnya defleksi batas berkisar antara 8 sampai 12
kali defleksi pertama.
Defleksi setelah leleh dan defleksi limit pada keadaan runtuh
bukan merupakan faktor yang terpenting dalam desain sehingga tidak
dibahas secara mendalam. Akan tetapi, pengenaln terhadap cadangan
kapasitas defleksi sebagai ukuran daktilitas struktur tahan gempa

9
merupakan suatu hal yang penting, juga untuk kasus-kasus lain yang
kemungkinan terjadinya beban lebih (overload) sangat tinggi.

2.3. Perhitungan Defleksi (Lendutan) Pada Balok

Defleksi batang-batang structural merupakan fungsi dari panjang


bentang, perletakan, atau kondisi-kondisi ujungnya (seperti tumpuan
sederhana atau ada tahanan karena kesinambungan batang), jenis
pembebanan (beban terpusat ataukah beban terdistribusi merata),
kekakuan lentur EI dari elemen. Persamaan umum defleksi maksimum

max pada balok elastis dapat diperoleh dari prinsip dasar mekanika,

yaitu:
W l 3n
max=K (1.15)
48 E I c
dimana,
W = beban total pada bentang
l n = panjang bentang bersih
E = modulus elastisitas beton
l C = momen inersia penampang
K = suatu faktor yang bergantung pada derajat kekakuan tumpuan

Persamaan (1.15) dapat juga dinyatakan dalam momen lentur sehingga


defleksi pada suatu titik balok adalah:
ML2
=k (1.16)
Ec I e
dimana,
k = suatu faktor yang bergantung pada kekakuan tumpuan dan kondisi
pembebanan
M = momen yang bekerja pada penampang
l e = momen inersia efektif

10
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Metode Pemecahan Masalah

Pada penelitian ini akan dimodelkan balok beton bertulang pada


Abaqus dalam tiga dimensi dengan perletakan pada tumpuan sendi-roll,
beban yang digunakan adalan beban statis terpusat. Balok yang akan
dianalisis memiliki panjang bentang 6 m, dengan estimasi dimensi
untuk penampang balok yaitu tinggi (h = 40 cm) dan lebar balok (b =
25 cm). Lendutan balok beton bertulang tersebut direncanakan memikul
beban P pada tengah bentang. Model balok beton bertulang tersebut
nantinya akan dianalisis lendutannya yang terjadi akibat perbedaan
rasio tulangan. Untuk model baloknya ditampilkan pada gambar 1.1
dibawah ini.

11
P

A B

h=400

L=6m
b=250

Gambar 3.1 Model Balok Beton Bertulang yang dianalisis

Metode yang digunakan dalam tugas ini adalah berupa study


literatur, dengan mengumpulkan bermacam-macam teori dan
pembahasan melalui buku-buku, peraturan Standar Nasional Indonesia
(SNI), serta jurnal yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
Mulai bahan, dimensi penampang untuk
Kemudian, dilakukan pemilihan mutu
besi tulangan komponen struktur balok beton bertulang yang akan
digunakan. Untuk selanjutnya, dilakukan analisa dan perhitungan
Pengumpulan Data (Studi Literatur)
terhadap kebutuhan jumlah tulangan, berdasarkan acuan SNI 03-2847-
2013. Rasio tulangan analisis yang didapat harus diantara rasio
minimum dan rasio maksimum. Selanjutnya dilakukanlah analisis
Pemilihan Kriteria Desain
lendutan dari balok beton bertulang yang memiliki variasi rasio tulangan
dengan menggunakan program berbasis metode elemen hingga yaitu
Abaqus. Setelah dianalisis dengan Abaqus, maka akan diperoleh hasil
Analisaantara
mengenai hubungan Perhitungan
bebanBalok Beton
dengan Bertulang
lendutan yang terjadi. Secara
(Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2013)
garis besar, tahapan metodologi penelitian ini digambarkan pada
diagram alir pada gambar 3.2.

Analisa Perhitungan Lendutan Pada Balok Bertulang Dengan Variasi Rasio Tulangan Dengan Program Abaqus

Beban-Lendutan

Kesimpulan dan Saran


12

Selesai
Gambar 3.2 Diagram Alir Penelitian

3.2. Analisa Perhitungan Balok Beton Bertulang

Analisa perhitungan balok beton bertulang digunakan untuk menghitung rasio


tulangan berdasarkan model balok yang sudah ditentukan. Setelah didapat rasio tulangan
maka akan ditentukan model balok yang akan dianalisis. Data-data material ditentukan
sebagai berikut:
Kuat tekan beton (fc') : 25 Mpa
Kuat leleh baja tulangan longitudinal (fyl') : 400 Mpa
Kuat leleh baja sengkang (fyv') : 240 Mpa
Modulus Elastisitas Beton (Ec) : 23500 MPa
Modulus Elastisitas Baja (Es) : 200000 MPa

3.2.1. Perhitungan Statika Pada Balok

13
P=100 kg

A B
Ra = 50 kg Rb = 50 kg
6m

- -

M=300 kg

V=50 kg

Menghitung Reaksi Perletakan, Momen, dan Gaya Geser


Reaksi Perletakan di A dan B:
Ra = Rb = P = . 100 kg = 50 kg =5 kN
Momen di tengah bentang (lapangan):
Mc = PL = .100 kg . 6 m = 300 kgm = 30 kN
Gaya geser di tumpuan:
Va = Vb = Ra = Rb = 5 kN
3.2.2. Perhitungan Penulangan Pada Balok
Diketahui data-data material sebagai berikut:
Kuat tekan beton (fc') : 25 Mpa
Kuat leleh baja tulangan longitudinal (fyl') : 400 Mpa
Kuat leleh baja sengkang (fyv') : 240 Mpa
Dimensi Balok : 25/40
Tinggi efektif (d) : 50 mm
Rasio tulangan minimum :

f 'c 25
min 0.003125
4 fy 4 400

14
1 .4 1 .4
min 0.0035
fy 400

Digunakan min terbesar yaitu min = 0.0035


0.85 f ' c 600

fy 600 fy
b =
0.85 25 600
0.85
400 600 400
= = 0.027
0.75 b 0.75 0.027
max = = = 0.0203
jadi besarnya adalah
min max

0.0035 0.0203

Jika lebih kecil dari min maka yang digunakan adalah min.

a. Perhitungan Penulangan Lentur


MU = 1.4 MD = 1.4 x 30 kNm = 42 kNm
MU = 42000000 Nmm
MU 42000000
0.8
Mn = = = 52500000 Nmm
Mn 52500000
bd2 250 (350) 2
Rn = = = 1.714 N/mm2
fy 400
0.85 f ' c 0.85 25
m = = = 18.82

1 2 Rn m
1 1

m fy
=

1 2 (1.714) 18.82
1 1

18.82 400
=
= 0.00447

15
Setelah mendapatkan analisis maka akan ditentukan variasi rasio tulangan untuk analisis
lendutan dengan abaqus, yaitu:
min =0.0035 model balok 1 (Balok I)

analisis=0.00447 model balok 2 (Balok II)

max =0.00203 model balok 3 (Balok III)

Perhitungan Balok I
= 0.0035
bd
As = = 0.0035 250 350 = 306.25 mm2
Direncanakan menggunakan tulangan diameter 13 (D13)
As
1
D2
4
n =
306.25
132.732
=

= 2.3 3 buah
Maka dipasang tulangan longitudinal 3D13 dengan luas tulangan Ast = 398.20 mm2.
Kapasitas Terpasang :
Ast fy (398.20) 400
0.85 f ' c b 0.85 25 250
a = = = 29.98 mm
a
Ast fy d
2
Mnt =
29.98
(398.20) 400 350
2
=
= 53360392.8 Nmm
Mnt = 53360392.8 Nmm > Mn = 52500000 Nmm.............................................OK!
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 3D13

16
2D13

400

3D13
50

250

Gambar 3.3 Model Balok Type I

Perhitungan Balok II
= 0.00447
bd
As = = 0.00447 250 350 = 391.125 mm2
Direncanakan menggunakan tulangan diameter 16 (D16)
As
1
D2
4
n =
391.125
201.06
=

= 1.94 3 buah
Maka dipasang tulangan longitudinal 3D16 dengan luas tulangan Ast = 603.18 mm2.
Kapasitas Terpasang :
Ast fy (603.18) 400
0.85 f ' c b 0.85 25 250
a = = = 45.42 mm
a
Ast fy d
2
Mnt =
45.42
(603.18) 400 350
2
=
= 78965912.88 Nmm
Mnt = 78965912.88 Nmm > Mn = 52500000 Nmm...........................................OK!

17
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 4D13

2D16

400

3D16
50

250

Gambar 3.4 Model Balok Type II

Perhitungan Balok III


= 0.0203
bd
As = = 0.0203 250 350 = 1776.25 mm2
Direncanakan menggunakan tulangan diameter 19 (D19)
As
1
D2
4
n =
1776.25
283.52
=

= 6.26 7 buah
Maka dipasang tulangan longitudinal 7D19 dengan luas tulangan Ast = 1990.90 mm2.
Kapasitas Terpasang :
Ast fy (1990.90) 400
0.85 f ' c b 0.85 25 250
a = = = 149.9 mm
a
Ast fy d
2
Mnt =

18
149.9
(1990.90) 400 350
2
=
= 219038818 Nmm
Mnt = 219038818Nmm > Mn = 52500000 Nmm...............................................OK!
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 7D19

2D19

400
3D19

50

250

Gambar 3.5 Model Balok Type III

b. Perhitungan Penulangan Geser


Data :
Tulangan sengkang = 8 mm
Gaya geser (VD) = 5 kN
Dimensi Balok = 25/40
d = 350 mm
Sehingga :
VU = 1.4 VD = 1.4 x 5 = 7 kN = 7000 N
1
f 'c b d
6
VC =
1
25 250 350
6
=
= 72916.67 N
VC = 0.75 72916.67 KN
19
= 54.687 KN
1
VC
2
= 27.343 KN
1
VC
2
Dari hasil perhitungan didapat kondisi VU < sehingga tidak diperlukan tulangan
geser. Akan tetapi, untuk faktor keamanan, tetap dipasang tulangan geser minimum,
sehingga :
Av 1200 fy
75 fc' bw
Smaks =
1
4
Av = 2 d2
1
4
=2 82
= 100.57 mm2
100.57 1200 240
75 25 250
Smaks =
= 308.955 mm 300 mm
Jadi digunakan 8 200 sebagai tulangan Transversal.

3.3. Pemodelan Balok Dengan Abaqus


Dalam abaqus, input data dibagi dalam beberapa modul. Masing-masing modul
memiliki fungsi yang spesifik untuk mendefinisikan data. Berikut langkah langkah input
data dalam masing-masing modul untuk pemodelan balok beton bertulang dengan variasi
rasio tulangan.
3.3.1. Modul Geometri (Part)

20
Menggambar geometri dilakukan dengan modul part, terdapat 3 part yang perlu
digambar untuk pemodelan ini, yaitu

3.3.2. Modul Property


Mendefenisikan material, mendefenisikan section dan mengaplikasikannya ke
dalam part yang telah dibuat terdapat pada modul ini. Terdapat tiga material dan
lima section yang perlu didefenisikan.

21
22
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-
2013). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Pakpahan, Y. R dan Sitorus, T. 2015. Analisa Lendutan Balok Beton Bertulang Dengan
Variasi Diameter Tulangan Berbeda Dan Letak Tulangan Berbeda Namun Luas
Penampang Tetap Sama Dengan Cara Teoritis Dan Simulasi Program FEA. Jurnal
Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara. Vol. 4, No 1.

Wiyono, D, R dan Trisna, W. 2013. Analisa Lendutan Seketika dan Lendutan Jangka
Panjang Pada Struktur Balok. Jurnal Teknik Sipil Universitas Kristen Maranatha.
Vol. 9, No. 1.

23
24