Anda di halaman 1dari 86

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah swt, atas segala limpahan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul:
Gangguan Mental Organik.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan
bapak dosen, yaitu bapak Uus Husni M, S.Kp, M.Si dan tidak lepas dari bantuan teman-
teman dan pihak lain, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari
sempurna baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya
dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan
baik oleh karenanya, penulis dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna
penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh
pembaca.

Cirebon, 28 September 2014

Penulis

1
DAFTAR ISI

BAB 1 : Pendahuluan

1.1. Latar Belakang ...............................................................................3

1.2. Rumusan Masalah ..........................................................................4

1.3. Tujuan dan Manfaat Penulisan .......................................................5

1.4. Metode Pengumpulan Data ............................................................6

1.5. Sistematis Penulisan ......................................................................7

BAB 2 : Pembahasan .................................................................8

2.1. Pengertian Gangguan Mental Organik ...........................................8

2.2. Delirium .......................................................................................12

2.3. Demensia ......................................................................................34

2.4. Amnestik.......................................................................................75

2.5. Gangguan Mental Organik Selektif..............................................78

BAB 3 : Penutup .......................................................81

1 Kesimpulan ......................................................82

2 Saran ............................................................83

Daftar Pustaka........................................................84

Lampiran ...................................................................................................86

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan kognitif pada pasien akan mempengaruhi kemampuan berpikir rasional


seseorang. Respon kognitif yang ditimbulkan berbeda, tergantung pada bagian yang
mengalami gangguan. Perubahan dalam perilaku juga akan terjadi.
Pada kasus delirium akan terjadi gangguan pada proses berpikir,sedangkan pada
demensia akan mengalami respon kognitif yang mal-adaptif.
Untuk mengetahui lebih lanjut masalah yang terjadi pada pasien perlu dikaji lebih
lanjut tentang Gangguan kognitif dan mental organic pada pasien.
Penulisan makalah ini diharapkan mampu memberikan gambaran secara umum tentang
informasi penting pasien dengan gangguan kognitif, sehingga dapat membantu para praktisi
medis dalam penatalaksanaan penyakit gangguan kognitif yang diaplikasikan dalam hal :
1. Pengkajian
2. Penegakan diagnosa
3. Intervensi
4. Implementasi
5. Evaluasi.
Pemberian informasi yang maksimal dapat membantu pasien untuk menghadapi
masalahnya dan meminimalkan resiko yang akan terjadi.

1.2 Perumusan Masalah

3
Berdasarkan latar belakang, permasalahan yang akan bahas penulis dalam makalah ini

adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan gangguan mental organik?

2. Bagaimana seseorang bisa disebut menderita delirium?

3. Kapan seseorang dikategorikan sebagai demensia?

4. Apa yang dimaksud dengan amnestik?

5. Apa saja ganggguan mental organik selektif?

4
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka tujuan yang

ingin dicapai dalam makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengertian gangguan mental organik.

2. Untuk mengetahui patofisiologi, sebab, tanda, gejala serta asuhan keperawatan delirium

3. Untuk mengetahui patofisiologi, sebab, tanda, gejala dan bagaimana memberikan asuhan

keperawatan pada pasien demensia

4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan amnestik

5. Untuk mengetahui apa saja gangguan mental organik selektif

Melalui makalah ini, manfaat penulisan yang dapat diambil dari makalah ini antara lain

agar dapat memberi masukan dan ilmu pengetahuan khususnya mengenai pengkajian,

pemeriksaan fisik dan diagnostik interpretasi dari hasil sistem respirasi.

5
1.4 Metode Pengumpulan Data

Data penulisan makalah ini diperoleh dengan metode studi kepustakaan. Metode

studi kepustakaan yaitu suatu metode dengan membaca telaah pustaka tentang

ganggguan mental organik. Selain itu, tim penulis juga memperoleh data dari internet

dan berdiskusi dengan dosen dan teman-teman.

6
1.5 Sistematika Penulisan

Karya tulis ini disusun dengan urutan sebagai berikut :

Bab 1 Pendahuluan.

Pada bagian ini dijelaskan latar belakang, tujuan dan manfaat penulisan, metode

pengumpulan data, dan sistematika penulisan.

Bab 2 Pembahasan.

Pada bagian ini dikemukakan pembahasan masalah yang bersumber dari data yang

diperoleh.

Bab 3 Penutup.

Bab terakhir ini memuat kesimpulan dan saran.

7
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN GANGGUAN MENTAL ORGANIK

Gambar 1

8
Gangguan mental organik merupakan sebuah gangguan mental yang memiliki dasar
organik yang patologis yang juga bisa diidentifikasi seperti halnya penyakit serebral vaskular,
tumor otak, intoksikasi obat-obatan, dan lain-lain. Secara umum, ganguan mental seperti ini
bisa diklasifikasikan menjagi 3 kelompok berdasarkan kepada gejala utamanya yang
merupakan gangguan berbahasa, gangguan kognitif seperti halnya penurunan daya ingat, dan
juga gangguan perhatian. Ketiga kelompok gangguan mental itu adalah delirium, dimensia,
serta gangguan amnestik. Sedangkan gangguan fungsional adalah gangguan otak dimana
tidak ada dasar organik yang dapat diterima secara umum (contohnya Skizofrenia. Depresi)
Dari sejarahnya, bidang neurologi telah dihubungkan dengan pengobatan gangguan yang
disebut organik dan Psikiatri dihubungkan dengan pengobatan gangguan yang disebut
fungsional.[1]
Didalam DSM IV diputuskan bahwa perbedaan lama antara gangguan organik dan
fungsional telah ketinggalan jaman dan dikeluarkan dari tata nama. Bagian yang disebut
Gangguan Mental Organik dalam DSM III-R sekarang disebut sebagai Delirium,
Demensia, Gangguan Amnestik Gangguan Kognitif lain, dan Gangguan Mental karena suatu
kondisi medis umum yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain. [5]
Menurut PPDGJ III gangguan mental organik meliputi berbagai gangguan jiwa yang
dikelompokkan atas dasar penyebab yang lama dan dapat dibuktikan adanya penyakit, cedera
atau ruda paksa otak, yang berakibat disfungsi otak Disfungsi ini dapat primer seperti pada
penyakit, cedera, dan ruda paksa yang langsung atau diduga mengenai otak, atau sekunder,
seperti pada gangguan dan penyakit sistemik yang menyerang otak sebagai salah satu dari
beberapa organ atau sistem tubuh. [5]
PPDGJ II membedakan antara Sindroma Otak Organik dengan Gangguan Mental
Organik. Sindrom Otak Organik dipakai untuk menyatakan sindrom (gejala) psikologik atau
perilaku tanpa kaitan dengan etiologi. Gangguan Mental Organik dipakai untuk Sindrom
Otak Organik yang etiolognnya (diduga) jelas Sindrom Otak Organik dikatakan akut atau
menahun berdasarkan dapat atau tidak dapat kembalinya (reversibilitas) gangguan jaringan
otak atau Sindrom Otak Organik itu dan akan berdasarkan penyebabnya, permulaan gejala
atau lamanya penyakit yang menyebabkannya. Gejala utama Sindrom Otak Organik akut
ialah kesadaran yang menurun (delirium )dan sesudahnya terdapat amnesia, pada Sindrom
Otak Organik menahun (kronik) ialah demensia. [5]
Dalam sumber lain, gangguan mental organik meliputi juga gangguan mental organik
selektif yang mencakup gangguan kepribadian organik antara lain seperti sindroma lobus

9
frontalis, sindroma amnesia organik, sindrom waham organik, halusinosis organik, sindroma
afektif organik. [5]
Keadaan yang termasuk gangguan mental simtomatik adalah sebagai berikut :
1. Beberapa diagnosis terkait dengan Gangguan Mental Organik (GMO).

2. Demensia pada penyakit Alzheimer.

3. Demensia vaskular.

4. Demensia pada penyakit lain, antara lain: demensia pada penyakit parkinson, HIV dan
lain-lain.

5. Sindrom amnestik organik bukan akibat alkohol dan zat psikoaktif lainnya. [1] Gejala-gejala
termasuk kerusakan memori jangka pendek dan jangka panjang yang terjadi pada keadaan
kesadaran normal, yang dikaitkan dengan faktor organik tertentu. Gambaran yang
berhubungan meliputi disorientasi , konfabulasi (menceritakan peristiwa khayalan untuk
mengisi kesenjangan pada memori), apatis, dan efek datar.[2]

6. Delirium bukan akibat alkohol dan zat psikoaktif lainnya.[1] Awitan gejala-gejala adalah
cepat, dan gejala-gejala berflultuasi secara tak diduga sepanjang hari. Hal ini adalah
kelainan akut dan sementara serta teridentifikasi oleh gejala-gejala berikut: penurunan
tingkat kesadaran; kesalahan persepsi sensorik; halusinasi, bicara inkoheren; gangguan
tidur; peningkatan atau penurunan aktivitas psikomotor; disorientasi terhadap waktu,
tempat, atau orang; serta kerusakan memori. Total durasi biasanya pendek.[2]

7. Gangguan mental lainnya akibat kerusakan serta disfungsi otak dan penyakit fisik, antara
lain:

a. Gangguan Halusinasi Organik. Gejala-gejala termasuk halusinasi mentap atau berulang


yang terjadi pada keadaan kesadaran normaldan dihubungkan dengan faktor organik
tertentu. Halusinasi dapat mengakibatkan ansietas atau depresi pada seseorang.[2]

b. Sindrom Delusi Organik. Gejala-gejala termasuk delusi yang terjadi pada keadaan
kesadaran normal dan dianggap karena faktor organik tertentu. Kerusakan kognitif yang
ringan dapat terlihat, dengan disorientasi serta bicara inkoheren. Aktivitas motor dapat
meningkat atau menurun, dan alam perasaan disforia. Kerusakan fungsi sosial dan
pekerjaan biasanya berat.[2]

10
c. Gangguan Depresif Organik.[1]

d. Gangguan Anxietas Organik. Gejala-gejala termasuk awitan-awitan panik yang timbul


berulang atau ansietas umum yang dihubungkan dengan faktor organik tertentu pada
keadaan kesadaran normal.[2]

e. Sindrom Suasana Hati Organik. Gejala-gejala termasuk gangguan pada alam perasaan,
baik mania atau depresi, yang disebabkan oleh faktor organik tertentu dan terjadi pada
kesadaran normal.[2]
f. Gangguan Disosiasi Organik dan

g. Gangguan Kognitif Organik.[1]

8. Gangguan kepribadian dan prilaku akibat kerusakan dan disfungsi otak antara lain :
gangguan kepribadian organik, sindrom pasca-kontusio dan sindrom pasca-ensefalitis.[1]
Gangguan Mental Organik (GMO) meliputi berbagai gangguan jiwa yang
dikelompokkan atas dasar penyebab yang sama dan dapat dibuktikan adanya penyakit: cedera
atau rudapaksa otak yang berakibat disfungsi otak. [1]
Disfungsi otak ini dapat primer: seperti pada penyakit cedera dan rudapaksa yang
langsung atau diduga mengenai otak, contoh: trauma kapitis dan lain-lain. Disfungsi otak ini
juga dapat sekunder, seperti pada gangguan dan penyakit sistemik yang menyerang otak
(sebagai salah satu dari beberapa organ atau sistem tubuh). Sebagai catatan: bahwa gangguan
otak akibat alkohol atau obat diklasifikasikan dalam gangguan akibat zat psikoaktif,
walaupun menurut penyebabnya adalah termasuk kelompok ini (GMO). Adapaun spuktrum
dari manifestasi psikopatologi dari berbagai kondisi termasuk di sini (disfungsi otak atau
rudapaksa otak) adalah luas. [1]
Keadaan yang pertama: berupa sindrom dengan gambaran umumnya yang menonjol
ialah ganguan fungi kognitif seperti daya ingat, proses pikir, dan daya belajar, atau ganguan
sensorium seperti gangguan penalaran dan perhatian. Keadaan yang kedua: berupa sindrom
dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang daya persepsi (halusinasi) organik, isi
pikiran (waham) organik, atau suasana perasaan dan emosi (depresi organik, cemas organik)
atau pola umum dari kepribadiaan dan prilakunya, sedangkan disfungsi kognitif dan
sensoriknya amat minimal atau sulit dipastikan. Pada sindrom yang kedua ini makin nyata
terbukti bahwa berbagai penyakit sistemik dan fisik pada otak ada kaitan penyebab pada
sindrom ini. [1]

11
Dalam konteks dewasa ini, istilah Organik hanya berarti bahwa sindrom yang
diklasifikasikan dapat berkaitan dengan gangguan atau penyakit sistemik atau otak yang
secara bebas dapat didiagnosis. Istilah simtomatik digunakan untuk gangguan mental
organik yang pengaruhnya terhadap otak tersebut merupakan akibat sekunder dari gangguan
atau penyakit ekstraserebral sistemik. [1]
Kelainan dan sindrom mental organik dapat dikategorikan sebagai kronis dan akut.
Kondisi yang kronis biasanya mempunyai awitan yang cukup membahayakan meskipun tidak
tampak. Perkembangan dari deteriorasi lambat dan paling sering tidak dapat pulih, terutama
pada proses-proses patologis yang menyebabkan kerusakan struktural pada otak
(mis.,demensia degeneratif primer tipe Alzheimer).[2]
Kondisi-kondisi akut mempunyai awitan gejal tiba-tiba karena gangguan pada fungsi otak
(mis.,delirium berkenaan dengan infeksi akut atau demensia yang diakibatkan oleh trauma
kepala berat). Kerusakan mungkin dapat pulih bersamaan dengan waktu dan tindakan, atau
dapat menjadi permanen dan progresif, tergantung pada penyebabnya.[2]

Etiologi Gangguan Mental Organik


Etiologi Primer berasal dari suatu penyakit di otak dan suatu cedera atau rudapaksa otak
atau dapat dikatakan disfungsi otak. Sedangkan etiologi sekunder berasal dari penyakit
sistemik yang menyerang otak sebagai salah satu dari beberapa organ atau sistem tubuh. [2]
Istilah organik merupakan sindrom yang diklasifikasikan dapat berkaitan dengan
gangguan/penyakit sistemik/otak yang secara bebas dapat didiagnosis. Sedangkan istilah
simtomatik untuk GMO yang pengaruhnya terhadap otak merupakan akibat sekunder dari
gangguan / penyakit ekstra serebral sitemik seperti zat toksik berpengaruh pada otak bisa
bersifat sesaat/jangka panjang. [2]

2.2 DELIRIUM
Gejala utama dari gangguan delirium ini adalah gangguan kesadaran serta kognitif.
Lalu gejala mentalnya adalah gangguan pada tingkat mood, persepsi, serta perilaku.
Gangguan mental organik jenis ini lebih cepat dihilangkan bila kita bisa lebih cepat
mengidentifikasi penyebabnya.[6]
Kemudian mengenai gambaran klinis dari delirium ini adalah penurunan kejernihan
kesadaran kepada lingkungan dengan adanya penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi,
mempertahankan ataupun mengalihkan perhatian yang berfluktuasi. Gangguan awalnya bisa
berupa mengantuk, perasaan cemas, insomnia, halusinasi, mengalami mimpi buruk saat tidur.
12
Lalu gangguan lain yang biasanya menyertai adalah berupa gangguan tidur-bangun, selalu
mengantuk walaupun masing siang hari, dan lain-lain.[6]
Delirium adalah kejadian akut atau subakut neuropsikiatri berupa penurunan fungsi
kognitif dengan gangguan irama sirkardian dan bersifat reversibel. Penyakit ini disebabkan
oleh disfungsi serebral dan bermanifestasi secara klinis berupa kelainan neuropsikiatri.
Definisi delirium menurut Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-IV-TR)
adalah sindrom yang memiliki banyak penyebab dan berhubungan dengan derajat kesadaran
serta gangguan kognitif. Tanda yang khas adalah penurunan kesadaran dan gangguan
kognitif. Adanya gangguan mood (suasana hati), persepsi dan perilaku merupakan gejala dari
defisit kejiwaan. Tremor, nistagmus, inkoordinasi dan inkontinensia urin merupakan gejala
defisit neurologis.[5]
Klasifikasi delirium berdasarkan DSM-IV-TR :
Delirium karena kondisi medis umum.
Delirium karena intoksikasi zat.
Delirium karena sindrom putus zat.
Delirium karena etiologi yang multiple.
Delirium yang tak terklasifikasikan. [5]

a. Epidemiologi
Kasus dari gangguan ini sering ditemukan dalam setting klinis. Biasanya pasien dengan
gangguan ini berada dalam kondisi memasuki atau pulih dari atau bahkan masih berada
dalam keadaan koma. Hal ini menyebabkan pasien dengan gangguan ini berada dalam
kondisi overmedikasi dari obat psikoaktif. Kasus ini banyak ditemukan pada anak-anak
maupun lansia. [5]

b. Gambaran klinis
Gambaran utama adalah gangguan kesadaran berupa kesadaran yang berkabut dengan
penurunan kemampuan untuk memusatkan, mencantumkan dan mengalihkan perhatian.
Keadaan ini berlangsung beberapa hari, dengan berkembangnya ansietas mengantuk,
insomnia, halusinasi yang transien , mimpi buruk dan kegelisahan. [5]
Pasien delirium yang berhubungan dengan sindrom putus zat merupakan jenis
hiperaktif yang dapat dikaitkan dengan tanda-tanda otonom, seperti flushing,
berkeringat, takikardi, dilatasi pupil, nausea, muntah, dan hipertemia. Orientasi waktu sering

13
kali hilang, sedangkan orientasi tempat dan orang mungkin terganggu pada kasus yang berat.
Pasien sering kali mengalami abnormalitas dalam berbahasa, seperti pembicaraan bertele-
tele, tidak relevan dan inkoheren. [5]

Gambar 2
Adapun tanda dan gejala dari delirium adalah sebagai berikut:
1. Gangguan kesadaran
Penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitar, dengan penurunan kemampuan untuk
focus, mempertahankan atau mengganti perhatian.
2. Gangguan atensi
Pasien dengan delirium mengalami kesulitan untuk memperhatikan. Mereka mudah
melupakan instruksi dan mungkin dapat menanyakan instruksi dan pertanyan untuk
diulang berkali kali. Metode untuk mengidentifikasi gangguan atensi yaitu dengan
menyuruh pasien menghitung angka terbalik dari 100 dengan kelipatan 7.
3. Gangguan memori dan disorientasi
Deficit memori merupakan hal yang sering terlihat jelas pada pasien delirium. Disorien
waktu tempat dan situasi juga sering di dapatkan juga pada delirium.
4. Agitasi
Pasien dengan delirium dapat menjadi agitasi sebagai akibat dari disorientasi dan
lingkungan yang mereka alami. Sebagai contoh pasien yang disorientasi menggangap
mereka berada di rumah meskipun mereka ada dirumah sakit sehingga staf rumah sakit
dianggap sebagai orang asing yang menerobos ke rumahnya.
5. Apatis dan menarik diri (with drawl)

14
Pasien dengan delirium dapat menampilkan apatis dan with drawl. Mereka dapat terlihat
depresi, penurunan nafsu makan, penurunan motifasi dan gangguan pola tidur
6. Gangguan persepsi
Terjadi halusinasi visual dan auditori
7. Tanda tanda neurologis
Pada delirium dapat muncul tanda neurologis antara lain: tremorgait (berjalan seperti
zombie atau tidak seimbang), sulit untuk menulis dan membaca, serta gangguan visual. [5]

c. Diagnosis
Kriteria diagnostik yang untuk Delirium karena kondisi medis umum :
1. Gangguan kesadaran (yaitu, penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan) dengan
penurunan kemampuan untuk memuaskan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian.
2. Gangguan timbul setelah suatu periode waktu yang singkat (biasanya beberapa jam sampai
hari dan cenderung berfluktuasi selama perjalanan hari.
3. Perubahan kognisi (seperti defisit daya ingat disorientasi, gangguan bahasa) atau
perkembangan gangguan persepsi yang tidak lebih baik diterangkan demensia yang telah
ada sebelumnya, yang telah ditegakkan atau yang sedang timbul.
4. Terdapat bukti-bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium
bahwa gangguan adalah disebabkan oleh akibat fisiologis langsung dan kondisi medis
umum. [5]
Gejala-gejala Utama :
1. Kesadaran berkabut
2. Kesulitan mempertahankan atau mengalihkan perhatian
3. Diorientasi
4. Ilusi
5. Halusinasi
6. Perubahan kesadaran yang berfluktuasi. [5]
Gejala sering berfluktuasi dalam satu hari, pada banyak kasus, pada siang hari terjadi
perbaikan, sedangkan pada malam hari tampak sangat terganggu. Siklus tidur-bangun sering
terbalik. [5]
Gejala-gejala neurologis :
1. Disfrasia
2. Disartria
3. Tremor
15
4. Asteriksis pada ensefalopati hepatikum dan uremia
5. Kelainan motorik. [5]

d. Etiologi
Delirium mempunyai berbagai macam penyebab. Semuanya mempunyai pola gejala
serupa yang berhubungan dengan tingkat kesadaran dan kognitif pasien. Penyebab utama
dapat berasal dari penyakit susunan saraf pusat seperti epilepsi, penyakit sistemik, intoksikasi
atau reaksi, dan putus obat maupun zat toksik. Penyebab delirium terbanyak terletak di luar
sistem pusat, misalnya gagal ginjal dan hati. Neurotransmiter yang dianggap berperan adalah
asetilkolin, serotonin, serta glutamat Area yang terutama terkena adalah formasio retikularis.
[5]

Selain itu diakibatkan juga karena adanya gangguan metabolik/defisiensi vitamin


(thiamin), hipoksia, hipcarbamia, hipoglikemia, gangguan mineral, pasca bedah, kejang,
cedera kepala, ensefalopati hipertensif, gangguan fokal lobus parietal, dan inferomedial lobus
oksipital. [5]

e. Prognosis
Tergantung pada etiologi yang melatarbelakangi
Bisa menjadi demensia, GMO lain
Onset delirium biasanya mendadak, gejala prodromal (kegelisahan dan ketakutan) dapat
terjadi pada hari sebelum onset gejala yang jelas. Gejala delirium biasanya berlangsung
selama faktor penyebab yang relevan ditemukan, walaupun delirium biasanya berlangsung
kurang dari 1 minggu setelah menghilangnya faktor penyebab, gejala delirium menghilang
dalam periode 3-7 hari, walaupun beberapa gejala mungkin memerlukan waktu 2 minggu
untuk menghilang secara keseluruhan. Semakin lanjut usia pasien dan semakin lama
pasien mengalami delirium, semakin lama waktu yang diperlukan bagi delirium untuk
menghilang. Terjadinya delirium berhubungan dengan angka mortalitas yang tinggi pada
tahun selanjutnya, terutama disebabkan oleh sifat serius dan kondisi medis pasien. [5]

f. Patogenesis Delirium
Walaupun patogenesis delirium belum diketahui secara pasti, beberapa teori yang
diungkapkan oleh beberapa pakar tetap penting untuk diperhatikan. Perubahan Electro
Encephalo Graphic (EEG) (-8 kali per detik, lebih lambat dari fungsi sistem saraf pusat

16
normal) sering terjadi pada delirium yang terkait dengan disfungsi korteks, hal ini disebabkan
karena EEG mengukur aktivitas listrik di korteks. Struktur subkorteks (formasiretikuler,
thalamus) mengendalikan aktivitas listrik di korteks sehingga struktur ini juga erat kaitannya
dengan delirium. Disaritmia korteks mengindikasikan adanya defisiensi substrat tertentu,
umumnya karena paparan abnormal glukosa dan oksigen dalam kada rtertentu. Sayangnya,
tidak semua pasien dengan delirium menunjukkan adanya perlambatan EEG, dan bukti
adanya defisiensi substrat tertentu tidak dapat ditemukan pada sebagian besar kasus.
Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit mengganggu kemampuan sel saraf untuk
menginisiasi aktivitas listrik. Menurunnya aktivitas listrik antar sel saraf akan menyebabkan
melambatnya gelombang EEG. [5]
Delirium menyebabkan variasi yang luas terhadap gangguan structural dan fisiologik.
Neuropatologi dari delirium telah dipelajari pada pasien dengan hepatic encephalopathy dan
pada pasien dengan putus alkohol. Patogenesis delirium terdiri dari beberapa transmitter,
yaitu:
a. Asetilkolin
Asetilkolin adalah salahsatu dari neurotransmiter yang penting dari pathogenesis
terjadinya delirium. Hal yang mendukung teori ini adalah bahwa obat antikolinergik
diketahui sebagai penyebab keadaan bingung, pada pasien dengan transmisi kolinergik yang
terganggu juga muncul gejala ini. Pada pasien postoperatif delirium serum antikolinergik juga
meningkat.
b. Dopamine
Pada otak,hubungan muncul antara aktivitas kolinergik dandopaminergik. Pada
delirium muncul aktivitas berlebih daridopaminergik,pengobatan simptomatis muncul pada
pemberianobat antipsikosis seperti haloperidol dan obat penghambatdopamine.
c. Neurotransmitter lainnya
Serotonin : terdapat peningkatan serotonin pada pasien denganencephalopati
hepatikum.GABA (Gamma-Aminobutyric Acid); pada pasien dengan hepaticencephalopati,
peningkatan inhibitor GABA juga ditemukan. Peningkatan level ammonia terjadi pada pasien
hepaticencephalopati, yang menyebabkan peningkatan pada asamamino glutamat dan
glutamine (kedua asam amino inimerupakan precursor GABA). Penurunan level GABA pada
susunan saraf pusat juga ditemukan pada pasien yang mengalami gejala putus
benzodiazepine dan alkohol. [5]

g. Terapi pada Penderita Delirium


17
Prinsip terapi pada pasien dengan delirium yaitu mengobati gejala-gejala klinis yang
timbul (medikasi) dan melakukan intervensi personal danlingkungan terhadap pasien agar
timbul fungsi kognitif yang optimal.Medikasi yang dapat diberikan antara lain :
1. Neuroleptik (haloperidol,risperidone,olanzapine)
Haloperidol (haldol)
Suatu antipsikosis dengan potensi tinggi. Salah satu antipsikosis efektif untuk delirium.
Risperidone (risperdal)
Antipsikotik golongan terbaru dengan efek ekstrapiramidal lebih sedikitdibandingkan
dengan haldol. Mengikat reseptor dopamine D2 dengan afinitas 20 kali lebih rendah daripada
5-ht2-reseptor
2. Short acting sedative ( lorazepam )
Digunakan untuk delirium yang diakibatkan oleh gejala putus obat atau alcohol. Tidak
digunakan benzodiazepine karena dapat mendepresi nafas, terutama pada pasien dengan usia
tua, pasien dengan masalah paru.
3. Vitamin, thiamine (thiamilate) dancyanocobalamine (nascobal, cyomin, crystamine)
Bahwadefisiensi vitamin B6 dan vitamin B12 dapat menyebabkan delirium maka untuk
mencegahnya diberikan preparat vitamin B per oral.
4. Terapi Cairan dan Nutrisi
Intervensi personal dan lingkungan terhadap pasien delirium jugasangat berguna untuk
membina hubungan yang erat terhadap pasien dengan lingkungan sekitar untuk dapat
berinteraksi serta dapat mempermudah pasien untuk melakukan ADL (activity of daily living)
sendirinya tanpa tergantung orang lain. [5]
Intervensi personal yang dapat dilakukan antara lain
a. Kebutuhan Fisiologis
Prioritasnyaadalah menjaga keselamatan hidup- Kebutuhan dasar dengan
mengutamakan nutrisi dan cairan. Jika pasien sangat gelisah perlu pengikatan untuk menjaga
therapi, tapi sedapat mungkin harusdipertimbangkan dan jangan ditinggal sendiri. [5]
Gangguan tidur
Kolaborasi pemberian obat tidur
Gosok punggung apabila pasien mengalami sulit tidur
Beri susu hangat
Berbicara lembut
Libatkan keluarga

18
Temani menjelang tidur
Buat jadwal tetap untuk bangun dan tidur
Hindari tidur diluar jam tidur
Mandi sore dengan air hanngat
Hindari minum yang dapat mencegah tidur seperti : kopidsb.
Lakukan methode relaksasi seperti : napas dalam. [5]
Disorientasi
Ruangan yang terang
Buat jam, kalender dalam ruangan
Lakukan kunjungan sesering mungkin
Orientasikan pada situasi linkumngan
Beri nama/ petunjuk/ tanda yang jelas pada ruangan/ kamar
Orientasikan pasien pada barang milik pribadinya ( kamar, tempat tidur,lemari, photo
keluarga, pakaian, sandal ,dll)
Tempatkan alat-alat yang membantu orientasi massa
Ikutkan dalam terapi aktifitas kelompok dengan program orientasi (orang, tempat, waktu).
[5]

b. Halusinasi
Lindungi pasien dan orang lain dari perilaku merusak diri- Ruangan :
Hindari dari benda-benda berbahaya
Barang-barang seminimal mungkin- Perawatan 1 1 dengan pengawasan yang ketat-
Orientasikan pada realita- Dukungan dan peran serta keluarga- Maksimalkan rasa aman-
Sikap yang tegas dari pemberi/ pelayanan perawatan (konsisten). [5]
c. Komunikasi
Pesan jelas
Sederhana
Singkat dan beri pilihan terbatas. [5]
d. Pendidikan kesehatan
Mulai saat pasien bertanya tentang yang terjadi pada keadaansebelumnya
Seharusnya perawat harus tahu sebelumnya tentang :
o Masalah pasien

19
o Stressor
o Pengobatan
o Rencana perawatan
o Usaha pencegahan
o Rencana perawatan dirumah
Penjelasan diulang beberapa kali
Beri petunjuk lisan dan tertulis
Libatkan anggota keluarga agar dapat melanjutkan perawatan dirumahdengan baik sesuai
rencana yang telah ditentukan. [5]

h. Asuhan Keperawatan Delirium


a) Pengkajian
1. Identitas
Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang
kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.[9]
2. Keluhan utama
Keluhan utama atau sebab utama yang menyebbkan klien datang berobat (menurut klien
dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun. [9]
3. Faktor predisposisi
Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai dasar pembuatan diagnosis serta
menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan struktur kepribadian yang mungkin
dapat menerangkan riwayat dan perkembangan gangguan jiwa yang terdapat. Dari gejala-
gejala psikiatrik tidak dapat diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu
dilakukan pemeriksaan intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan
oleh keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan
psikososial, sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta
ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang
disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat
disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak (meningoensephalitis,
gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama di luar
otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi
dan sebagainya). [9]
4. Pemeriksaan fisik
Kesadran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun, takikardia,
febris, BB menurun karena nafsu makan yang menurun dan tidak mau makan. [9]
5. Psikososial

20
a. Genogram Dari hasil penelitian ditemukan kembar monozigot memberi pengaruh lebih tinggi
dari kembar dizigot.
b. Konsep diri
Gambaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri karena proses
patologik penyakit.
Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu peran
dengan peran yang lain dan peran yang ragu diman aindividu tidak tahun dengan
jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan
sumber yang cukup.
Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang
ada.
Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa harga
dirinya rendah karena kegagalannya.
c. Hubungan social
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian,
yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan
halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan sosial khususnya dengan orang
yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat maka individu
dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial yang tidak adeguat
menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan
orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya
terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa
ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan tergantung.
d. Spiritual
Keyakina klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat.a tetapi tidak atau
kurang mampu dalam melaksnakan ibadatnmya sesuai dengan agama dan
kepercayaannya. [9]
6. Status mental
a. Penampila klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat dirinya sendiri.
b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
c. Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan adanya peningkatan
kegiatan motorik, gelisah, impulsif, manerisme, otomatis, steriotipi.
d. Alam perasaan
Klien nampak ketakutan dan putus asa.
e. Afek dan emosi.
Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu
karena jika langsung mengalami perasaa tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan
ini menimbulkan perubahan afek yang digunakan klien untukj melindungi dirinya,

21
karena afek yang telah berubahn memampukan kien mengingkari dampak emosional
yang menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak
bizar dan tidak sesuai karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan
afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen.
f. Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng kooperatif, kontak mata kurang.
g. Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu obyek.
Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau kebiuh panca indera yaitu penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan,
sedang dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering
ditemukan adalah halusinasi.
h. Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya cenderung
berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian
yang umum diterima.
Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang
dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik).
Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan
proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya asosiasi,
pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik (memperlihatkan gangguan
pola pikir abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya
ekholali, clang asosiasi dan neologisme.
i. Tingkat kesadaran
Kesadran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan orang.
j. Memori
Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi )kejadian pada beberapa jam atau hari yang
lampau) dan yang sudah lama berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu).
k. Tingkat konsentrasi
Klien tidak mampu berkonsentrasi
l. Kemampuan penilaian
Gangguan ringan dalam penilaian atau keputusan. [9]
7. Kebutuhan klien sehari-hari
a. Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau duduk dan gelisah .
Kadang-kadang terbangun tengah malam dan sukar tidur kemabali. Tidurnya mungkin
terganggu sepanjang malam, sehingga tidak merasa segar di pagi hari.
b. Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya hanya sedikit, karea
putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas terbatas sehingga bisa terjadi penurunan
berat badan.

22
c. Eliminasi, klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya, kadang-kdang lebih sering dari
biasanya, karena sukar tidur dan stres. Kadang-kadang dapat terjadi konstipasi, akibat
terganggu pola makan.[9]
8. Mekanisme koping
Apabila klien merasa tridak berhasil, kegagalan maka ia akan menetralisir, mengingkari
atau meniadakannya dengan mengembangkan berbagai pola koping mekanisme. Ketidak
mampuan mengatasi secara konstruktif merupakan faktor penyebab primer terbentuknya pola
tiungkah laku patologis. Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan
delerium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang cepat dan keras (ngomel-
ngomel) dan menutup diri. [9]
9. Dampak masalah
Individu
o Perilaku, klien muningkin mengbaikan atau mendapat kesulitan dalam melakukan
kegiatas sehari-hari seperti kebersihan diri misalnya tidak mau mandi, tidak mau
menyisir atau mengganti pakaian.
o Kesejahateraan dan konsep diri, klien merasa kehilangan harga diri, harga diri rendah,
merasa tidak berarti, tidak berguna dan putus asa sehingga klien perlu diisolasi.
o Kemadirian , klien kehilangan kemandirian adan hidup ketergantungan pada keluarga
atau orang yang merawat cukup tinggi, sehingga menimbulkan stres fisik. [9]
10. Diagnosa Keperawatan
a.Risiko terhadap penyiksaan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan berespon pada pikiran delusi dan halusinasi.
b. Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan cara
mengekspresikan secara konstruktif.
c.Perubahahn proses berpikir berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mempercayai
orang
Diagnosa Perubahan Proses Pikir :
Tangal/jam TUM TUK Intervensi

23
Klien tidak mengalami Tuk 1: Tuk 1:
gangguan proses pikir. Setelah di lakukan a. Sapa klein dengan baik
pertemuan selama 4X15 verbal maupun non verbal.
b. Perkenalkan diri dengan
menit selama 6 jam, di
sopan
harapakan klien dapat
c. Jelaskan tujuan pertemuan
membina hubungan saling d. Jujur dan menepati janji
e. Tunjukan sifat empati dan
percaya dengan kreteria
menerima klien deangan apa
hasil :
adanya
Klien menunjukan rasa
f. Berikan perhatian kepada
senang ekpresi wajah
klien dan perhatikan
bersahabat mau berjabat
kebutuhan dasar.
tangan ada kontak mata,
mau berjabat tangan, mau
Tuk 2.
dudk berdampingan
a. Beri kesempatan bagi pasien
Tuk 2:
untuk mengenal barang milik
Setelah dilakukan
pribadinya misalnya
pertemuan 2X15 menit
tempat tidur, lemari, pakaian
selama 6 jam dalam 1
dll.
pekan klien mampu b. Beri kesempatan kepada
mengenal/berorientasi pasien untuk mengenal waktu
terhadap waktu orang dan dengan menggunakan
tempat dengan kreteria jam besar, kalender yang
hasil: klien mamapu mempunyai lembar perhari
menyabutkan mana orang dengan tulisan besar.
c. Beri kesempatan kepada
yang ada di sekitarnya,
pasien untuk menyebutkan
klien mampu menyabutkan
namanya dan anggota
hari dan tempat yang di
keluarga terdekat
kunjunginya.
d. Beri kesempatan kepada
klien untuk mengenal dimana
dia berada.
e. Berikan pujian jika pasien
bila pasien dapat menjawab
dengan benar

24
Tuk 3.
a. Observasi kemampuan pasien
untuk melakukan aktifitas
Tuk3. sehari-hari
b. Beri kesempatan kepada
Setelah dilakukan
pasien untuk memilih
pertemuan 2X15 menit
aktifitas yang dapat
selama 6 jam dalam 1
dilakukannya.
pekan Pasien mampu
c. Bantu pasien untuk
melakukan aktiftas sehari-
melakukan kegiatan yang
hari secara optimal dengan
telah dipilihnya
keteria hasil pasien mampu d. Beri pujian jika pasien dapat
memenuhi kebutuhan melakukan kegiatannya.
e. Tanyakan perasaan pasien
sehari-harinya secara
jika mampu melakukan
mandiri.
kegiatannya.
f. Bersama pasien membuat
jadwal kegiatan sehari-hari.
Tuk 4.
a. Keluarga mampu
mengorientasikan pasien
terhadap waktu, orang dan
tempat
Tuk 4. b. Diskusikan dengan keluarga
Setelah dilakukan cara-cara mengorientasikan
pertemuan 2X15 menit waktu, orang dan tempat
selama 2 hari Keluarga pada pasien
c. Anjurkan keluarga untuk
mampu mengorientasikan
menyediakan jam besar,
pasien terhadap waktu,
kalender dengan tulisan besar
orang dan tempat dengan
d. Diskusikan dengan keluarga
kriteria hasil keluarga
kemampuan yang pernah
mampu memberi
dimiliki pasien
pengarakan yang tepat e. Anjurkan kepada keluarga
tentang waktu dan tempat untuk memberikan pujian
serta orang di sekitarnya terhadap kemampuan yang

25
dan keluarga mampu masih dimiliki oleh pasien
f. Anjurkan keluarga untuk
memberikan sikap yang
memantau kegiatan sehari-
terapeutuk pada klien
hari pasien sesuai
denganjadwal yang telah
dibuat.
g. Anjurkan keluarga
memberikan pujian jika
pasien melakukan kegiatan
sesuaidengan jadwal kegiatan
yang sudah dibuat
Tuk 5.
a. Menyediakan sarana yang
dibutuhkan pasien untuk
melakukan orientasi.
b. Anjurkan keluarga untuk
membantu pasien melakukan
kegiatan sesuai kemampuan
Tuk 5. yang dimiliki.
Setelah dilakukan
pertemuan 2X15 menit
selama 1 pekan keluarga
dapat Menyediakan
sarana yang dibutuhkan Tuk 6.
pasien untuk melakukan a. Membantu pasien dalam
orientasi realitas dengan melakukan aktiftas sehari-
kriteria hasil: klien hari.
b. Anjurkan keluarga untuk
padat /mampu hal-hal atau
memantu lansia melakukan
sesuatu yang pernah atau
kegiatan sesuai kemampuan
sedang di alaminya
yang dimiliki
Tuk 6.
c. Bantu keluarga memilih
Setelah dilakukan
kemampuan yang dilakukan
pertemuan 2X15 menit
pasien saat ini.[13]
selama 1 pekan keluarga

26
mampu Membantu pasien
dalam melakukan aktiftas
sehari-hari.keluarga
mampu mendampingi
klien dalam beraktifitas
dan membimbing klien
dengan baik.

d. Risiko terjadi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang kurang, status emoosional yang meningkat.
e.Kesukaran komunikasi verbal berhubungan dengan pola komunikasi yang tak logis atau
inkohern dan efek samping obat-obatan, tekanan bicara dan hiperaktivitas.
f. Kurangnya interaksi sosial (isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung
yang tidak adequat.
g. Kurangnya perawatan diri berhubugan dengan kemauan yang menurun
h. Perubahan pola tidur berhubungan dengan hiperaktivitas, respon tubuh pada
halusinasi.
i. Ketidaktahuan keluarga dan klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan
dengan kurangnya informasi. [9]

b) Rencana Tindakan
a. Risiko terhadap penyiksaan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan berespon pada pikiran delusi dan halusinasi.
Batasan kriteria :
Sasaran jangka pendek :
Dalam 2 minggu klien dapat mengenal tanda-tanda peningkatan kegelisahan dan
melaporkan pada perwat agar dapat diberikan intervensi sesuai kebutuhan. [9]
Sasaran jangka panjang :
Klien tidak akan membahayakan diri, orang lain dan lingkungan selama di rumah sakit.
INTERVENSI RASIONAL
Pertahankan agar lingkungan klien Tingkat ansietas atau gelisah akan meningkat
pada tingkat stimulus yang rendah dalam lingkungan yang penuh stimulus.
(penyinaran rendah, sedikit orang,
dekorasi yang sederhana dan

27
tingakat kebisingan yang rendah)
Ciptakan lingkungan psikososial :
Lingkungan psikososial yang terapeutik akan
sikap perawat yang bersahabat,
menstimulasi kemampuan perasaan
penuh perhatian, lembuh dan
kenyataan.
hangat)
Bina hubungan saling percaya
(menyapa klien dengan rama
memanggil nama klien, jujur ,
tepat janji, empati dan
menghargai.
Tunjukkan perwat yang
bertanggung jawab Observasi ketat merupakan hal yang penting,
Observasi secara ketat perilaku klien karena dengan demikian intervensi yang
(setiap 15 menit) tepat dapat diberikan segera dan untuk
Kembangkan orientasi kenyataan :
selalu memastikan bahwa kien berada
Bantu kien untuk mengenal
dalam keadaan aman
persepsinya
Klien perlu dikembangkan kemampuannya
Beri umpan balik tentang
untuk menilai realita secara adequat agar
perilaku klien tanpa
klien dapat beradaptasi dengan
menyokong atau membantah
lingkungan.Klien yang berada dalam
kondoisinya
Beri kesempatan untuk keadaan gelisah, bingung, klien tidak

mengungkapkan persepsi an menggunakan benda-benda tersebut

daya orientasi untuk membahayakan diri sendiri


Lindungi klien dan keluarga dari maupun orang lain.
bahaya halusinasi : Klien halusinasi pada faase berat tidak dapat
Kaji halusinasi klien mengontrol perilakunya. Lingkungan
Lakukan tindakan pengawasan
yang aman dan pengawasan yang tepat
ketat, upayakan tidak dapat mencegah cedera.
melakukan pengikatan.
Tingkatkan peran serta keluarga pada Klien yang sudah dapat mengontrol
tiap tahap perawatan dan jelaskan halusinasinya perlu sokongan keluarga
prinsip-prinsip tindakan pada untuk mempertahnkannya.
halusinasi. Obat ini dipakai untuk mengendalikan
Berikan obat-obatan antipsikotik
psikosis dan mengurangi tanda-tanda
sesuai dengan program terapi
agitasi. [9]
(pantau keefektifan dan efek

28
samping obat).

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
kurang, status emosional yang meningkat.
Batasan kriteria :
Penurunan berat badan, konjunctiva dan membran mukosa pucat, turgor kulit jelek,
ketidakseimbangan elktrolit dan kelemahan). [9]
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mencapai pertambahan 0,9 kg t hari kemudian
Hasil laboratorium elektrolit sserum klien akan kembali dalam batas normal dalam 1
minggu. [9]
Sasaran jangka panjang :
Klien tidak memperlihatkan tanda-tanda /gejala malnutrisi saat pulang.
INTERVENSI RASIONAL
Monitor masukan, haluaran dan 1. Informasi ini penting untuk membuat
jumlah kalori sesuai kebutuhan. pengkajian nutrisi yang akurat dan
timbang berat badan setiap pagi
mempertahankan keamanan klien.
sebelum bangun 2. Kehilangan berat badan merupakan
Jelaskan pentingnya nutrisi yang
informasi penting untuk mengethui
cukup bagi kesehatan dan proses
perkembangan status nutrisi klien.
penyembuhan. 3. Klien mungkin tidak memiliki
Kolaborasi
pengetahuan yang cukup atau akurat
Dengan ahli gizi untuk
berkenaan dengan kontribusi nutrisi yang
menyediakan makanan dalam
baik untuk kesehatan.
porsi yang cukup sesuai dengan 4. Kolaborasi :
kebutuhan Klien lebih suka menghabiskan makan
Pemberian cairan perparenteral yang disukai oleh klien.
(IV-line) Cairan infus diberikan pada klien yang
Pantau hasil laboraotirum tidak, kurang dalam mengintake
(serum elektrolit) makanan.
5. Sertakan keluarga dalam memnuhi Serrum elektrolit yang normal
kebutuhan sehari-hari (makan dan
menunjukkan adanya homestasis dalam
kebutuhan fisiologis lainnya)
tubuh.
5. Perawat bersama keluarga harus
memperhatikan pemenuhan kebutuhan
secara adequat. [9]

29
c. Kurangnya interaksi sosial (isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung
yang tidak adequat.
Batasan kriteria :
Kurang rasa percaya pada orang lain, sukar berinteraksi dengan orang lain, komnuikasi
yang tidak realistik, kontak mata kurang, berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri,
afek emosi yang dangkal. [9]
Sasaran jangka pendek :
Klien siap masuk dalam terapi aktivitas ditemani oleh seorang perawat yang dipercayai
dalam 1 minggu. [9]
Sasaran jangka panjang :
Klien dapat secara sukarela meluangkan waktu bersama klien lainnya dan perawat
dalam aktivitas kelompok di unit rawat inap. [9]
INTERVENSI RASIONAL
Ciptakan lingkungan terapeutik : 1. Lingkungan fisik dan psikososial yang
bina hubungan saling percaya terapeutik akan menstimulasi
((menyapa klien dengan rama kemmapuan klien terhadap kenyataan.
memanggil nama klien, jujur ,
tepat janji, empati dan
menghargai).
tunjukkan perawat yang
bertanggung jawab
tingkatkan kontak klien dengan
lingkungan sosial secara
bertahap
Perlihatkan penguatan positif pada
klien. 2. hal ini akan membuat klien merasa
Temani klien untuk memperlihat-
menjado orang yang berguna.
kan dukungan selama aktivitas
kelompok yang mungkin
mnerupakan hal yang sukar bagi
klien.
Orientasikan klien pada waktu, tempat
dan orang.
Berikan obat anti psikotik sesuai 3. kesadran diri yang meningkat dalam
dengan program terapi. hubungannya dengan lingkungan waktu,
tempat dan orang.

30
4. Obat ini dipakai untuk mengendalikan
psikosis dan mengurangi tanda-tanda
agitasi. [9]

d. Kurangnya perawatan diri berhubugan dengan kemauan yang menurun


Batasan kriteria :
Kemauan yang kurang untuk membersihkan tubuh, defekasi, be3rkemih dan kurang
minat dalam berpakaian yang rapi. [9]
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mengatakan keinginan untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dalam 1
minggu. [9]
Sasaran jangka panjang :
Klien ampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan mendemosntrasi-
kan suatu keinginan untuk melakukannya. [9]
INTERVENSI RASIONAL
1. Dukung klien untuk melakukan Keberhasilan menampilkan kemandirian
kegiatan hidup sehari-hari sesuai dalam melakukan suatu aktivitas akan
dengan tingkat kemampuan kien. meningkatkan harga diri.
2. Dukung kemandirina klien, tetapi Kenyamanan dan keamanan klien merupakan
beri bantuan kien saat kurang priotoritas dalam keperawatan.
mampu melakukan beberapa
kegiatan. Penguatan positif akan menignkatakan harga
3. Berikan pengakuan dan
diri dan mendukung terjadinya
penghargaan positif untuk
pengulangan perilaku yang diharapkan.
kemampuan mandiri. Karena berlaku pikiran yang konkrit,
4. Perlihatkan secara konkrit,
penjelasan harus diberikan sesuai
bagaimana melakukan kegiatan
tingkat pengetian yang nyata. [9]
yang menurut kien sulit untuk
dilakukaknya.

e. Ketidaktahuan keluarga dan klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan
dengan kurangnya informasi.
Batasan kriteria :
Adanya pertanyaan kurangnya pengetahuan, permintaaan untuk mendaptkan informasi
dan mengastakan adanya permaslah yang dialami kien. [9]

31
Sasaran jangka pendek :
Klien dapat mengatakan efek terhadap tubuh yang diikuti dengan implemetasi rencana
pengjaran. [9]
Sasaran jangka panjang :
Klien dapat mengatan pentingnya mengetahui dan kerja sama dalam memantau gejala
dan tanda efek samping obat. [9]
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda-tanda vital Hipotensi ortostatik mungikn terjadi pada
pemakain obat antipsikotik, Pemeriksaan
tekanan darah dalam posisi berbaring,
dudujk dan berdiri.
Beberapa klien mungkin menyembusnyikan
2. Tetaplah bersama klien ketika
oabt-obat tersebut.
minum obat antipsikotik
distonia akut (spame lidah, wajah, leher dan
3. Amati klien akan adanya EPS,
punggung), akatisia (gelisah, tidak dapat
duduk dengantenag, mengetuk-
negetukan kaki,pseudoparkinsonisme
(tremor otot, rifgiditas, berjalan dengan
menyeret kaki) dan diskinesia tardif
(mengecapkan bibir, menjulurkan lidah
4. Pantau keluaran urine,dan glukosa dan gerakan mengunyah yang konstan).
Wanita dapat mempunyai periode menstruasi
urine
yang tidak teratus atau amenorhea dan
pria mungkin mengalmi impotens atau
ginekomastik. [9]
5. Beritahu klien bahwa dapat terjadi
perubahan yang berkaitandengan
fungsi seksual dan menstruasi.

Implementasi
1. Jaga keselamatan.
a. Lakukan tindakan kedaruratan sesuai kebutuhan ( misal, untuk aspirasi, cedera, kejang).
b. Antisipasi bahaya lingkungan dan singkirkan benda-benda yang beresiko
membahayakan; jaga agar lingkungan sekitar bebas dari benda-benda yang berserakan.
c. Minimalkan resiko masalah kardiovaskular ( misal anemia, hipertensi, angina) dengan
diet yang tepat, medikasi, latihan fisik dan istirahat.

32
d. Pantau obat-obatan dan interaksi obat, pastikan dosis yang aman untuk pasien lansia.
Beri perhatian khusus terhadap obat-obatan yang bersifat antikolinergik.
2. Berespon terhadap defisit kognitif.
a. Panggil klien dengan namanya dan perkenalkan diri anda. Gunakan pesan yang singkat
dan jelas. Berikan instruksi satu persatu.
b. Bantu memori klien dengan kalender, papan orientasi, pengingat musiman, tanda-tanda
dan label sesuai kebutuhan.
c. Hindari tuntutan yang menimbulkan stres, dan batasi tugas klien dalam mengambil
keputusan.
d. Tawarkan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan klien.
e. Hindari atau batasi situasi yang memalukan secara sosial; dukung dan jaga martabat
klien.
f. Jangan memperkuat atau menyetujui halusinasi, ilusi atau waham. Berespon dan
berfokus pada persaan klien.
g. Gunakan tekhnik mengingat untuk mendorong klien menggunakan ingatan yang lebih
utuh. Dorong klien untuk mmembicarakan kejadian-kejadian masa lalu; gunakan kaset
perekam untuk merekamnya dan memainkan kembali rekaman tersebut. Foto keluarga
untuk menstimulasi ingatan.
h. Gunakan terapi validasi bila klien tidak lagi berespon terhadap tekhnik-tekhnik
orientasi realitas.
3. Pertahankan tingkat fungsional klien untuk melakukanaktivitas sehari-hari.
a. Tingkatkan keseimbangan antara istirahat dan aktivitas.
b. Bantu klien untuk berswadaya; gunakan petunjuk dan penguatan yang positif.
c. Bantu klien degan toileting pada jadwal yang terstruktur; gunakan celana sekali pakai
sesuai kebutuhan untuk menjaga martabat klien.
d. Pertahankan diet yang seimbang dan pastikan asupan cairan yang adekuat. Tawarkan
makanan yang dapat dipegang bila klien kesulitan menggunakan alat-alat makan.
4. Hindari dan minimalkan reaksi katastropik
a. Pertahankan konsistensi struktur dan rutinitas.
b. Kurangi stimulus lingkungan bila klien cemas.
c. Jangan melakukan pendekatan terlalu cepat atau menyentuh bila klien mengalami
iritabilitas, agitasi, atau curiga.
d. Bila klien teragitasi, tetap bersama klien dan pertahankan sikap yang tenang dan
mendukung.
e. Gunakan lampu malam dan interaksi yang tenang untuk mengurangi fenomena
sundown.
f. Beri penyuluhan pada pemberi asuhan dan keluarga.[12]

Evaluasi Hasil

33
1. Klien menunjukkan berkurangnya ansietas dan bertambahnya rasa aman dalam lingkungan
yang terstruktur. Klien mempertahankan tingkat orientasi yang maksimal sesuai
kemampuannya.
2. Klien mempertahankan kemampuannya melakukan aktivitas sehari-hari dalam lingkungan
yang terstruktur.
3. Klien menahan diri dari ekspresi perilaku yang tidak disadari.
4. Anggota keluarga menggunakan semua pelayanan dan bantuan dan sumber masyarakat
yang tersedia.[12]

2.3 DEMENSIA
Demensia merupakan suatu gangguan mental organik yang biasanya diakibatkan oleh
proses degeneratif yang progresif yang mengenai fungsi kognitif . Demensia merupakan
sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif (biasanya tanpa gangguan
kesadaran) yang mempengaruhi kepribadian pasien.[5]
Sebuah sindrom yang ditandai denagn berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa adanya
gangguan pada kesadaran. Gangguan pada fungsi kognitif itu dapat berupa gangguan pada
intelegensi secara umum, ingatan, belajar, orientasi, bahasa, konsentrasi, perhatian, dan juga
kemampuan sosial. Gangguannya pun dapat berupa progresif, statis, permanen dan juga
reversible jika diberikan pengobatan tepat pada waktunya.[6]
Penyebab dari gangguan mental ini adalah 75 persen demensia Alzheimer serta
demensia vaskular, sisanya dikarenakan oleh penyakit Huntington, Pick, serta truma kepala.
Gambaran dari gangguan awalnya adalah berupa gangguan daya ingat yang baru, selanjutnya
ingatan yang sudah lama pun juga akan mengalami gangguan pula. Selain itu ditemukan juga
gangguan bahasa serta gangguan orientasi di masalah ini. [6]
Bila salah satu anggota keluarga kita mengalami gangguan mental ini, maka mungkin
kita akan sangat terganggu jika ia mengalami perubahan kepribadian menjadi lebih introvert,
gampang marah, serta sering mengalami halusinasi. [6]

a. Epidemiologi
Demensia ditemukan banyak pada lansia dan biasanya terjadi pada usia lebih dari 65
tahun. Tipe demensia yang paling banyak diderita adalah demensia tipe Alzheimer dengan
presentase 50-60%. Kemudian dilanjutkan dengan demensia vascular sebesar 15-30% dan
pasien demensia tipe ini biasanya laki-laki.[5]

b. Gambaran Klinik
34
Pasien penderita demensia menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :
Gangguan Daya Ingat
Gangguan ingatan biasanya merupakan ciri yang awal don menonjol pada demensia,
khususnya pada demensia yang mengenai korteks, seperti demensia tipe Alzheimer. Pada
awal perjalanan demensia, gangguan daya ingat terjadi secara ringan dan paling jelas untuk
peristiwa yang baru terjadi. Selama perjalanan penyakit demensia, pasien terganggu dalam
orientasi terhadap orang, waktu, maupun tempat. Sebagai contoh, pasien dengan demensia
mungkin lupa bagaimana kembali ke ruangannya setelah pergi ke kamar mandi. Tetapi,
pasien tidak menunjukkan gangguan pada tingkat kesadaran. [5]
Gangguan Bahasa
Proses demensia dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa pasien. Kesulitan
berbahasa ditandai oleh cara berkata yang samar-samar, stereotipik tidak tepat, atau berputar-
putar. [5]
Perubahan Kepribadian
Perubahan kepribadian merupakan gambaran yang paling mengganggu bagi keluarga
pasien, hal ini dikarenakan pasien demensia mempunyai waham paranoid. Gangguan yang
terjadi pada lobus frontal dan temporal dimungkinan menjadi penyebab perubahan
keperibadian pasien. Pasien jadi lebih mudah marah dan emosinya meledak-ledak. Pasien
demensia juga menunjukkan tertawa atau menangis yang patologis yaitu, emosi yang ekstrim
tanpa penyebab yang terlihat. [5]
Psikosis
Diperkirakan 20 -30% pasien demensia tipe Alzheimer mengalami halusinasi, dan 30-
40% mengalami waham, terutama dengan sifat paranoid. [5]

c. Etiologi
Demensia dapat disebabkan oleh penyakit alzheimer dengan kemungkinan 60%, dapat
juga disebabkan karena gangguan neurologis (seperti chorea huntington, parkinsonism,
multiple sklerosis), gangguan toksik metabolik (anemia pernisiosa, defisiensi asam folat,
hipotiroidime, intoksikasi bromida), trauma (cedera kepala), dan obat toksin (termasuk
demensia alkoholik kronis). Demensia yang masih mungkin disembuhkan (reversible) adalah
yang disebabkan oleh gangguan kelebihan atau kekurangan hormon tiroid, dan vitamin B12
(Depkes, 2001). [5]
d. Komorbiditas/Differential Diagnosis

35
Delirium
Perbedaan antara delirium dan dementia lebih sulit dilakukan. Secara umum, delirium
di bedakan dengan onset yang cepat, durasi yang singkat, kerusakan fungsi kognitif yang
fluktuatif dalam keseharian, gangguan pola tidur, gangguan pada atensi dan persepsi.
Depression
Beberapa pasien depresi memiliki gejala kerusakan fungsi kognitif yang akan sulit
dibedakan dengan pasien demensia. Biasanya disebut sebagai pseudodementia (depression
related cognitive dysfunction), pasien dengan depression related cognitive dysfunction
umumnya memiliki simptom depresive yang terkemuka, hal ini akan memudahkan dibedakan
dengan depression related cognitive dysfunction dan seringkali mempunyai episode depresif.
Factitious Disorder
Seseorang yang berusaa menampilkan kehilangan memori secara tak menentu dan tidak
konsisten, seperti factitious disorder. Demensia yang sebenarnya, memori atas waktu dan
tempat hilang sebelum memori akan orang lain memori yang terbaru juga hilang sebelum
memori yang terpencil.
Schizophrenia
Walaupun skizofrenia dapat diasosiasikan dengan kerusakan fungsi intelektual,
simtomnya lebih ringan daripada simtom yang kita lihat pada demensia.
Normal Aging
Penuaan tidak selalu disertai dengan penurunan fungsi kognitif, tetapi masalah minor
dari memori sudah biasa terjadi dalam penuaan. Hal ini tidak secara signifikan mengganggu
pekerjaan dan kehidupan sosial pada penuaan.
Alzheimer dan Vascular Dementia
Vascular dementia dibedakan dari alzheimer dengan deteriorasi yang disertai dengan
penyakit cerebrovascular. Walau deteriorasi tidak terlihat jelas dan konsisten pada setiap
kasus, simptom yang ditemukan pada pasien vascular dementia adalah gejala focal
neurological
Vascular Dementia versus Transient Ischemic Attacks
TIA ditunjukkan dengan episod yang singkat akan disfungsi focal neurological selama kurang
dari 24 jam (biasanya 5-15menit). Walau hal ini terjadi bisa didasari oleh banyak hal, namun
pada umumnya microembolization dari a proximal intracranial arterial lesion yang memicu
TIA dan kadang hal ini berlanjut kepada brain infarction (kematian jaringan otak).[12]

36
e. Jenis-jenis Demensia
1. Dementia Vaskular.
2. Alzheimer.[5]

1. Demensia Vaskular
Gejala umum dari dementia vascular adalah sama dengan tipe demensia alzheimer,
tetapi diagnosis dari vascular demensia membutuhkan pemerikasaan klinis dimana vascular
demensia lebih menunjukkan penurunan dan deteriorasi dari penyakit alzheimer. Demensia
vaskuler juga merupakan demensia yang terjadi akibat penyakit ateroskleros pada pembuluh
darah sehingga resiko demensia sama dengan penyakit aterosklerose lainnya, seperti
hipertensi, diabetes mellitus dan hiperlipidemia. Demensia vaskuler yaitu demensia yang
timbul akibat keadaan atau penyakit lain seperti stroke, hipertensi kronik, gangguan
metabolik, toksik, trauma otak, infeksi, tumor dan lain-lain. Dimana demensia vaskuler dapat
terjadi apabila lansia memiliki penyakit diatas, sehingga kejadian demensia dapat terjadi
dengan cepat. Perjalanan penyakit ini pasien akan mendadak merasa membaik kemudian
memburuk.[5]
Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah
di otak. Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,.
Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak,
sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering
dijumpai pada demensia vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan
penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler.[15]
Kelainan ini dihubungkan dengan penyakit vaskular sistemik dan serebral, yang
mungkin terlihat pada pemeriksaan fisik. Umumnya disertai dengan hipertensi. Deteriorasi
diperkirakan dapat terjadi sebagai respons terhadap infark otak berulang. Usia awitan
nampaknya lebih awal dari demensia degeneratif primer tipe Alzheimer dan lebih umum pada
pria dibandingkan pada wanita.[2]
Penyebab demensia vaskular adalah penyakit vaskuler serebral yang multipel yang
menimbulkan gejala berpola demensia. Ditemukan umumnya pada laki-laki, khususnya
dengan riwayat hipertensi dan faktor resiko kardiovaskuler lainnya. Gangguan terutama
mengenai pembuluh darah serebral berukuran kecil dan sedang yang mengalami infark dan
menghasilkan lesi parenkhim multipel yang menyebar luas pada otak. Penyebab infark
berupa oklusi pembuluh darah oleh plaq arteriosklerotik atau tromboemboli dari tempat

37
lain( misalnya katup jantung). Pada pemeriksaan akan ditemukan bruit karotis, hasil
funduskopi yang tidak normal atau pembesaran jantung.[15]

2. Alzheimer

Gambar 3 Perbandingan gambar radiologi Alzheimer dan Normal

Alois Alzheimer pertama kali menggambarkan suatu kondisi yang selanjutnya diberi
nama dengan namanya dalam tahun 1907, saat ia menggambarkan seorang wanita berusia 51
tahun dengan perjalanan demensia progresif selama 4,5 tahun. Diagnosis akhir Alzheimer
didasarkan pada pemeriksaan neuropatologi otak; meskipun demikian, demensia Alzheimer
biasanya didiagnosis dalam lingkungan klinis setelah penyebab demensia lain telah
disingkirkan dari pertimbangan diagnostik.[15]
Demensia degeneratif primer tipe Alzheimer adalah PMO kronis yang mempunyai
awitan tersembunyi dan membahayakan serta secara umum progresif, menjadi semakin
buruk. Gambaran khusus meliputi kehilangan berbagai-bagai segi kemampuan intelektual,
seperti memori, penilaian, pikiran abstrak, dan fungsi kortikal lebih tinggi lainnya, serta
perubahan pada kepribadian dan perilaku (DSM-III-R, 1987). Gejala-gejala yang
dihubungkan dengan sindrom demensia terlihat. Bisa juga terdapat tanda delirium, delusi,

38
atau depresi. Perubahan-perubahan patopsikologis meliputi atrofi otak, dengan pelebaran
sulkus kortikal dan pembesaran ventrikel serebral.[2]

Gambar 4 Gambaran aktivitas metabolik penderita alzheimer dengan normal

Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :


1. Stadium I
Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori,
berhitung dan aktifitas spontan menurun. Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru
atau lupa hal baru yang dialami.[15]
2. Stadium II
Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya, antara lain:
a. Disorientasi
b. Gangguan bahasa (afasia)
c. Penderita mudah bingung
Penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan
sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu
tindakan sehingga mengulanginya lagi. Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan
penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,.[15]
3. Stadium III
Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun. Gejala klinisnya antara
lain :
a. Penderita menjadi vegetatif

39
b. Tidak bergerak dan membisu
c. Daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri
d. Tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil
e. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain
f. Kematian terjadi akibat infeksi atau trauma. [15]
Perjalanan Penyakit
Stadium Awal
Perilaku berubah dapat diamati keluarga semangat & kemauan, dorongan untuk
melakukan aktifitas rutin sehari-hari, tak mampu melakukan aktifitas multipel, depresi
ringan. [15]
Stadium Menengah : Gangguan memori & kognitif
Deteriorasi intelektual : orientsi, memori, berhitung, percakapan kurang efisien,
pemahaman misinterpretasi
Penderita murung, menarik diri, menjauhi teman lama
Obsesi, kebiasaan pramorbid
Daya nilai menurun. [15]
Stadium Lanjut : Kemunduran psikologik & perilaku
Apati
Gangguan kepribadian menyeluruh mengurus diri (-)
Tak mampu mengingat, komunikasi
Gejala neurologik afasia, apraksia, agnosia, buta kortikal
Pasien meninggal 2-5 tahun, komplikasi terbanyak karena infeksi
Demensia multi-infark adalah PMO kronis dimana ada indikasi deteriorasi intermiten. [15]
Daripada awitan yang tersembunyi dan berbahaya serta kemajuan yang sama terlihat
pada demensia degeneratif primer tipe Alzheimer, awitan dari demensia multi-infark secara
khas bersifat mendadak dan jalannya selangkah demi selangkah serta berfluktuasi. Defisit
yang terlihat tergantung pada bagian otak yang rusak. Fungsi-fungsi kognitif tertentu dapat
dipengaruhi secara dini, sedangkan bagian lainnya relatif tetap tidak rusak. Secara khusus,
gangguan-gangguan pada memori, pikiran abstrak, penilaian, kontrol impuls, dan gangguan
kepribadian terlihat. Tanda-tanda neurologis fokal umumnya terlihat termasuk kelemahan
pada anggota badan, tidak simetrisnya refleks, respons-respons ekstensor plantar, disartria,
dan berjalan dengan langkah yang pendek. Mungkin juda terdapat tanda delirium, delusi, atau
depresi (DSM-III-R,1987).[2]

40
Gambar 5 Penyakit Alzheimer. Tampak secara jelas plak senilis disebelah kiri. Beberapa
serabut neuron tampak kusut disebelah kanan. Menjadi catatan tentang adanya
kekacauan hantaran listrik pada sistem kortikal.

Secara mikroskopik, plak-plak senil, kekacauan neurofibrilaris, dan degenerasi


granulovakuolar neuron-neuron dapat terlihat. Perubahan-perubahan ini terjadi pada 2%
sampai 4% dari populasi pada usia lebih dari 65 tahun serta meningkat dengan bertambahnya
usia. Kelainan perilaku ini sedikit lebih umum pada wanita dibandingkan pada pria.[2]

Gambar 6 Sel otak pada Penyakit Alzheimer dibandingkan dengan sel otak normal.

Kelainan perilaku tersebut lebih lanjut telah dikategorikan berdasarkan usia awitan:
1. Awitan Prasenil.
Gejala-gejala timbul sebelum usia 65 tahun (dapat timbul sedini dekade keempat dari
kehidupan).[2]
Prasenil ini lebih cepat terjadi, yaitu pada usia 40-50 tahun. Ada perubahan mental dan
kerusakan-kerusakan otak dari yang tingkat ringan sampai tingkat berat. Terjadi aphasia

41
(tidak bisa bicara sama sekali) dan apraxia (gangguan bercakap). Tidak mampu melakukan
kecekatan aktivitas yang sederhana.[3]
Prasenil psychosis ini disebabkan oleh 2 penyakit yaitu:
1. Penyakit Anheimier (Anheimer ialah seorang psikiater jerman)
2. Pick disease (Arnold pick, praha 1851-1924).
1) Presenile psychosis karena penyakit Anbeimier.
Pada tingkat pertama: kurang daya apersepsi dan daya pengertiannya. Ada perubahan
intelek, dan cepat kehilangan ingatan.
Emosinya: depresif, mudah cemas, jadi apatis, kadang-kadang euphoris. Terdapat
gangguan bahasa.
Pada tingkat kedua: bertambahnya gangguan intelek, emosi dan ingatannya. Depresif;
sikapnya sering bermusuhan, jadi apatis, lalu berganti euphoris. Ada silih berganti
antara tertawa dan menangis.
Tingkat ketiga: seperti pada senile dementia tingkat lanjut, yang disertai oleh beberapa
penyakit jasmaniah lain-lain. Penyakit ini biasanya cepat prosesnya dan berakhir
dengan kematian dalam jangka waktu rata-rata 4 tahun (2-10 tahun).
2) Presenile psychosis karena pick disease
Penyakit ini terdapat dua kali lebih banyak pada wanita dari pada laki-laki.
Perkembangan penyakitnya lambat. Menderita penyakit aphasia dan dementia yang
progresif. Karena ada atrofiotak, terjadilah kesukaran berfikir, dan cepat jadi lelah.
Moralnya makin jadi rendah. Tidak mampu mengadakan penyesuaian diri pada
lingkungan. [3]
2. Awitan Senil. Gejala-gejala timbul setelah usia 65 tahun.[2]
Terjadinya bertingkat-tingkat, disertai kemunduran fisik dan mental secara prosesif.
Simptom fisik: gangguan ingatan dan fungsi intelek yang makin tidak efisien. Pada beberapa
kejadian disertai sakit dan rasa nyeri pada anggota badan. [3]
Simptom psikis:
1. Jadi gelisah, menderita insomnia, irritabel, mudah tersinggung dan mudah jadi garang,
kurang perhatian pada sekitarnya.
2. Suka iri-hati, cenderung berkembang ke arah paranoia. Pada malam hari sering bangun
dan berjalan-jalan; atau mungkin minggat dari rumah, dan tidak tahu jalan kembali. Lekas
menjadi cemas suka menangis.
3. Ada yang tidak menghiraukan diri sendiri; menjadi agitatif bercampur depresif. Tidak
toleran, selalu penuh dengan tension/ketegangan dan kemarahan.
4. Kontrol terhadap impuls-impuls seksual menurun; ada gangguan pada fungsi berfikir.
Kadang-kadang bertingkah laku immoral. Tidak baik tingkahnya, dan suka mengganggu
anak-anak.

42
5. Yang berat tingkatnya; sangat pikun, selalu inget kejadian dimasa kecilnya, sedang
kejadiab dekat yang baru saja terjadi cepat dilupakannya. Tidak cepat mengerti, pikirannya
campur aduk. Ada disorientasi waktu dan tempat.
6. Sering tidak tahu dirinya sendiri. Percakapannya jadi tidak jelas. Dipenuhi delusi,
halusinasi, dan penderita menjadi tidak tenang, gelisah. [3]
Dalam kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk tipe alzheimer pada dementia menekankan
kerusakan memori dan memmperlihatkan salah satu penurunan fungsi kognitif (aphasia,
apraxia, agnosia, or abnormal executive functioning). Diagnosis juga mempersyaratkan
penurunan yang gradual dalam pemfungsian dan kerusakan pada fungsi sosial dan
okupasional.[3]

f. Etiologi
Genetik. Dipengaruhi sebanyak 40%, keluarga yang memiliki latar belakang
demensia dengan tipe Alzheimer. Sehingga dapat dikatakan genetik memiliki peran
dalam munculnya penyakit tersebut. Dizygotic 43%. Alzheimer menunjukkan hubungan
antara kromosom 1, 14, 21.[5]
Amyloid Precursor Protein
Genetik yang menjadi dasar protein amyloid terdapat pada lengan kromosom 21. Proses
ini berlanjut pada pembentukan of amyloid precursor protein. Protein ini nantinya akan
membentuk plak senilis. [5]
Neurotransmitter
Barties et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas spesifik neurotransmiter
dgncara biopsi sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada penderita alzheimer didapatkan
penurunan aktivitas kolinasetil transferase, asetikolinesterase dan transport kolin serta
penurunan biosintesa asetilkolin. Adanya defisit presinaptik dan postsynaptik kolinergik ini
bersifat simetris pada korteks frontalis, temporallis superior, nukleus basalis, hipokampus.
Kelainan neurottansmiter asetilkoline merupakan kelainan yang selalu ada dibandingkan jenis
neurottansmiter lainnyapd penyakit alzheimer, dimana pada jaringan otak/biopsinya selalu
didapatkan kehilangan cholinergik Marker. Pada penelitian dengan pemberian scopolamin
pada orang normal, akan menyebabkan berkurang atau hilangnya daya ingat. Hal ini sangat
mendukung hipotesa kolinergik sebagai patogenesa penyakit alzheimer.[5]

g. Prognosis dan Patogenesis

43
Pada umumnya demensia dimulai pada umur 50 sampai 60 tahun dengan deteriorasi
selam 5-10 tahun yang berujung kematian. Onset dan kecepatan dari deteriorasi berbeda pada
tiap jenis dementia dan kategori diagnosis individu. Rata-rata tingkat survival expectation
untuk pasien demensia dengan tipe alzheimer adalah 8 tahun dari range 1-20 tahun. Data
menunjukkan bahwa orang yang memiliki onset lebih awal atau memiliki latar belakang
keluarga yang mungkin pernaj memiliki dementia akan memiliki perjalanan penyakit yang
lebih cepat. Segera setelah demensia di diagnosis, pasien harus menjalani tes medis dan
neuropsikologis karena 10-15% dari seluruh pasien dengan demensia memiliki potensi
reversibel jika treatment diberikan sebelum munculnya kerusakan otak secara permanen. [5]

h. Pemeriksaan Diagnostik Demensia


Menurut Arif muttaqin, (2008) :
1. Pemeriksaan laboratorium rutin
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosis klinis demensia ditegakkan
untuk membantu pencarian etiologi demensia khususnya pada demensia reversible,
walaupun 50% penyandang demensia adalah demensia Alzheimer dengan hasil
laboratorium normal, pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya dilakukan. Pemeriksaan
laboratorium yang rutin dikerjakan antara lain: pemeriksaan darah lengkap, urinalisis,
elektrolit serum, kalsium darah, ureum, fungsi hati, hormone tiroid, kadar asam folat.
2. Imaging
Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) telah menjadi
pemeriksaan rutin dalam pemeriksaan demensia walaupun hasilnya masih dipertanyakan.
3. Pemeriksaan EEG
Electroencephalogram (EEG) tidak memberikan gambaran spesifik dan pada sebagian
besar EEG adalah normal. Pada Alzheimer stadium lanjut dapat memberi gambaran
perlambatan difus dan kompleks periodik.
4. Pemeriksaan cairan otak
Fungsi lumbal diindikasikan bila klinis dijumpai awitan demensia akut, penyandang
dengan imunosupresan, dijumpai rangsangan meningen dan panas, demensia presentasi
atipikal, hidrosefalus normotensif, tes sifilis (+), penyengatan meningeal pada CT scan.
5. Pemeriksaan genetika
Apolipoprotein E (APOE) adalah suatu protein pengangkut lipid polimorfik yang memiliki
3 allel yaitu epsilon 2, epsilon 3, dan epsilon 4. setiap allel mengkode bentuk APOE yang
berbeda. Meningkatnya frekuensi epsilon 4 diantara penyandang demensia Alzheimer tipe
awitan lambat atau tipe sporadik menyebabkan pemakaian genotif APOE epsilon 4 sebagai
penanda semakin meningkat.
6. Pemeriksaan neuropsikologis

44
Pemeriksaan neuropsikologis meliputi pemeriksaan status mental, aktivitas sehari-hari /
fungsional dan aspek kognitif lainnya. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003) Pemeriksaan
neuropsikologis penting untuk sebagai penambahan pemeriksaan demensia, terutama
pemeriksaan untuk fungsi kognitif, minimal yang mencakup atensi, memori, bahasa,
konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem solving. Pemeriksaan neuropsikologi sangat
berguna terutama pada kasus yang sangat ringan untuk membedakan proses ketuaan atau
proses depresi. Sebaiknya syarat pemeriksaan neuropsikologis memenuhi syarat sebagai
berikut:
a. Mampu menyaring secara cepat suatu populasi
b. Mampu mengukur progresifitas penyakit yang telah diindentifikaskan demensia.
Sebagai suatu esesmen awal pemeriksaan Status Mental Mini (MMSE) adalah test yang
paling banyak dipakai, tetapi sensitif untuk mendeteksi gangguan memori ringan.[14]

i. Terapi
Bantuan yang baik mereka yang membantu pasien berjuang dengan perasaan bersalah,
berduka, marah, dan kelelahan sebagaimana mereka menyaksian anggota keluarga mereka
sendiri menderita. Pasien yang mendapat dukungan dan psikoterapi edukasional dimana
penyakitnya secara terang dijelaskan. Mereka juga mendapat keuntungan dari dukungan yang
diberikan oleh keluarganya dalam menghadapi penyakit yang membuat mereka memiliki
disfungsi. [5]

j. Asuhan Keperawatan Demensia


1) Pengkajian
Tanda dan Gejala yang ditemukan pada saat melakukan pengkajian pada pasien dengan
demensia adalah sebagai berikut :
1. Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari
2. Pelupa
3. Sering mengulang kata-kata
4. Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan
5. Cepat marah dan sulit di atur.
6. Kehilangan daya ingat
7. Kesulitan belajar dan mengingat informasi baru
8. Kurang konsentrasi
9. Kurang kebersihan diri
10. Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
45
11. Tremor
12. Kurang koordinasi gerakan.[11]

2) Diagnosa keperawatan
1. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis (degenerasi neuron
ireversibel) ditandai dengan hilang ingatan atau memori, hilang konsentrsi, tidak mampu
menginterpretasikan stimulasi dan menilai realitas dengan akurat.
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi atau
integrasi sensori (penyakit neurologis, tidak mampu berkomunikasi, gangguan tidur, nyeri)
ditandai dengan cemas, apatis, gelisah, halusinasi.
3. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas kehidupan sehari-
hari ditandai dengan kebingungan, keprihatinan, gelisah, tampak cemas, mudah
tersinggung, tingkah laku defensive, kekacauan mental, tingkah laku curiga, dan tingkah
laku agresif.
4. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori ditandai dengan
keluhan verbal tentang kesulitan tidur, terus-menerus terjaga, tidak mampu menentukan
kebutuhan/ waktu tidur.
5. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif, frustasi atas kehilangan
kemandiriannya ditandai dengan penurunan kemampuan melakukan perawatan diri.
6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan pemecahan masalah tidak adekuat
ditandai dengan cepat marah, curiga, mudah tersinggung.
7. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan persepsi ditandai dengan
disorientasi tempat, orang dan waktu.
8. Risiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mudah lupa, kemunduran hobi, perubahan sensori.
9. Risiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan, kelemahan, otot
tidak terkoordinasi, aktivitas kejang.[11]

3) Perencanaan

Diagnosa Tujuan dan kriteria


No Intervensi Rasional
keperawatan hasil

1 Perubahan Setelah diberikan 1. Kembangkan


proses pikir tindakan keperawatan lingkungan yang
berhubungan diharapkan klien mendukung dan
dengan peruba- mampu mengenali hubungan klien-
han fisiologis perubahan dalam perawat yang

46
(degenerasi berpikir dengan KH: terapeutik.
2. Kaji derajat
neuron Mampu memperlihat-
ganggu-an kognitif,
ireversibel) kan kemampuan
seperti perubahan
ditandai dengan kognitif untuk
orientasi, rentang
hilang ingatan menjalani konsekuen-
perhatian,
atau memori, si kejadian yang
kemampuan berpikir.
hilang konsen- menegangkan
Bicarakan dengan
trasi, tidak terhadap emosi dan
keluarga mengenai
mampu meng- pikiran tentang diri
Mampu perubahan perilaku
interpretasikan
3. Pertahankan
stimulasi dan mengembangkan
lingkungan yang
menilai realitas strategi untuk
menyenangkan dan
dengan akurat. mengatasi anggapan
tenang
diri yang negative 4. Lakukan
Mampu mengenali
pendekatan dengan
perubahan dalam
cara perlahan dan
berpikir atau tingkah
tenang
laku dan factor 5. Tatap wajah
penyebab ketika berbicara
Mampu memperlihat-
dengan klien
kan penurunan 6. Panggil klien
tingkah laku yang dengan namanya
7. Gunakan suara
tidak diinginkan,
yang agak rendah
ancaman, dan
dan berbicara dengan
kebingungan
perlahan pada klien
8. Gunakan kata-
kata pendek, kalimat
dan Ulangi instruksi
tersebut sesuai
kebutuhan
9. Berhenti
sejenak di antara
kalimat/ pertanyaan.
Beri isyarat tertentu,

47
gunakan kalimat
terbuka
10. Dengarkan
dengan penuh
perhatian
pembicaraan klien.
Interpretasikan
pertanyaan, arti,
dan kata. Beri kata
yang benar
11. Hindari
kritikan,
argumentasi, dan
konfrontasi negativ.
12. Gunakan
distraksi. Bicarakan
tentang kejadian
yang sebenarnya
saat klien
mengungkap-kan
ide yang salah, jika
tidak mening-
katkan kecemasan
13. Hindari klien
dari aktivitas dan
komunikasi yang
dipaksakan
14. Gunakan hal
yang humoris saat
berinteraksi pada
klien
15. Mengurangi
kecemasan dan
emosional, seperti
kemarahan,

48
meningkatkan
pengembangan
evaluasi diri yang
positif dan
mengurangi konflik
psikologis
16. Memberikan dasar
perbandingan yang
akan datang dan
memengaruhi
rencan intervensi.
Catatan: evaluasi
orientasi secara
berulang dapat
meningkatkan
respon yang negatif
atau tingkat frustasi
17. Kebisingan
merupakan sensori
berlebihan yang
meningkatkan
gangguan neuron
18. Pendekatan
terburu-buru
menyebabkan klien
bingung, kesalahan
persepsi/perasaan,
terancam
19. Menimbulkan
perhatian, terutama
pada klien dengan
gangguan
perceptual

49
20. Nama adalah
bentuk identitas diri
dan menimbulkan
pengenalan
terhadap realita dan
klien
21. Meningkatkan
pemahaman. Ucap-
an tinggi dank eras
menimbulkan
stress/marah yang
mencetuskan
konfrontasi dan
respons marah
22. Seiring perkemba-
ngan penyakit,
pusat komunikasi
dalam otak
terganggu sehingga
menghilangkan
kemampuan klien
dalam respons
penerimaan pesan
dan percakapan
secara keseluruhan
23. Menimbulkan
respons verbal,
meningkatkan
pemahaman. Isyarat
menstimulasi
komunikasi,
memberi
pengalaman positif

50
24. Mengarahkan
perhatian dan
penghargaan.
Membantu klien
dengan alat bantu
proses kata dalam
menurunkan
frustasi
25. Provokasi
menurunkan harga
diri dan merupakan
ancaman yang
mencetuskan
agitasi yang tidak
sesuai
26. Lamunan
membantu dalam
meningkatkan
disorientasi.
Orientasi pada
realita meningkat-
kan perasaan realita
klien, penghargaan
diri dan kemuliaan
(kebahagiaan)
personal
27. Keterpaksaan
menurunkan
keikutsertaan dan
meningkatkan
kecurigaan, delusi
28. Tertawa
membantu dalam

51
komunikasi dan
meningkatkan
kestabilan emosi

2 Perubahan Setelah diberikan 1. kembangkan 1. Keterlibatan


persepsi sensori tindakan keperawatan lingkung-an yang otak memperli-
berhubungan diharapkan perubahan suportif dan hatkan masalah
dengan peruba- persepsi sensori klien hubungan perawat yang bersifat
han persepsi, dapat berkurang atau klien terapeutik asimetris
transmisi atau terkontrol dengan 2. Bantu klien menyebabkan
integrasi sensori KH: untuk memahami klien kehilangan
(penyakit neuro- Mengalami penurunan halusi-nasi kemampuan
logis, tidak halusinasi 3. beri informasi pada salah satu
mampu Mengembangkan tentang sifat halusi- sisi tubuh
berkomunikasi, strategi psikososial nasi,hubungannya (gangguan
gangguan tidur, untuk mengurangi dengan stresor/ unilateral). Klien
nyeri) ditandai stress atau mengatur pengalaman emosi- tidak dapat
dengan cemas, prilaku. onal yang traumatic, mengenali rasa
Mendemonstrasikan
apatis, gelisah, pengobatan dan cara lapar
respon yang sesuai
halusinasi. mengatasi 2. Untuk menurun-
stimulasi
4. kaji derajat kan kebutuahan
Perawat mampu
sensori atau akan halusinasi
mengidentifikasi
gangguan persepsi 3. Meningkatkan
faktor eksternal yang
dan bagaimana hal masukan sensori,
berperan terhadap
tersebut membatasi/
perubahan
kemampuan persepsi mempengaruhi klien menurunkan
sensori termasuk penurunan kesalahan
penglihatan atau interpretasi
pendengaran stimulasi
5. ajarkan
strategi untuk
mengurangi stress
6. anjurkan untuk
menggunakan kaca

52
mata atau alat bantu
pendengaran sesuai
keperluan
7. Meningkatkan
kenyamanan dan
menurunkan
kecemasan pada
klien
8. Meningkatkan
koping dan
menurunkan
halusinasi
9. Untuk
membantu klien
dalam memahami
halusinasi

3 Sindrom stress Setelah diberikan 1. Jalin


relokasi tindakan keperawatan hubungan saling
berhubungan diharapkan klien dapat mendukung dengan
dengan perubah- beradaptasi dengan klien
an dalam aktivi- perubahan aktivitas 2. Orientasikan
tas kehidupan sehari- hari dan pada lingkungan dan
sehari-hari lingkungan dengan KH: rutinitas baru
ditandai dengan Mengidentifikasi 3. Kaji tingkat
kebingungan, perubahan stressor (seperti
keprihatinan, Mampu beradaptasi penyesuaian diri,
gelisah, tampak pada perubahan krisis perkemba-
cemas, mudah lingkungan dan ngan, peran keluarga,
tersinggung, aktivitas kehidupan akibat perubahan
tingkah laku sehari- hari status kesehatan)
Mempertahankan rasa
defensive, 4. Tempatkan
berharga pada diri dan
kekacauan pada ruangan pribadi
identitas pribadi yang
mental, tingkah jika mungkin dan

53
laku curiga, dan positif bergabung dengan
Membuat pernyataan
tingkah laku orang terdekat dalam
agresif. positif tentang aktivitas perawatan,
lingkungan yang baru waktu makan, dan
Memperlihatkan
sebaginya
penerimaan terhadap
5. Tentukan
perubahan lingkungan
jadwal aktivitas yang
dan penyesuaian
wajar dan masukkan
kehidupan
Mampu menunjukan dalam kegiatan rutin

tentang perasaan yang 6. Identifikasi

sesuai/tidak cemas kekuatan klien yang

dan rasa takut dimiliki sebelumnya

berkurang 7. Berikan
Tidak menyimpan penjelasan dan
pengalaman informasi yang
menyakitkan menyenangkan
Menggunakan mengenai kegiatan/
bantuan dari sumber peristiwa
yang tepat selama 8. Catat tingkah
waktu pengaturan laku, munculnya
pada lingkungan baru perasaan
curiga/paranoid,
mudah tersinggung,
defensive
9. Pertahankan
keadaan tenang.
Tempatkan dalam
lingkungan tenang
yang memberkan
kesempatan untuk
beristirahat
10. Atasi tingkah
laku agresif dengan

54
pendekatan yang
tenang
11. Gunakan
sentuhan jika tidak
mengala-mi
paranoid/sedang
mengalami agitasi
sesaat
12. Rujuk ke
sumber pendukung
perawatan diri
A. Untuk
membangun
kepercayaan dan rasa
aman
B. Menur
unkan kecemasan
dan perasaan
terganggu
C. Untuk
menentukan persepsi
klien tentang
kejadian dan tingkat
serangan
D. Perawa
tan di rumah sakit
mengubah aktivitas
klien dan
meningkatkan
masalah tingkah
laku. Memberi
kesempatan
mengontrol

55
lingkungan dan
melindungi dari
kelainan tingkah laku
E. Konsis
tensi mengurangi
kebingungan dan
meningkatkan rasa
kebersamaan
F. Memfa
silitasi bantuan
dengan komunikasi
dan manajemen dari
kekurangan sekarang
serta selanjutnya
G. Menur
unkan ketegangan,
mempertahankan
rasa saling percaya
dan orientasi. Saat
klien mengetahui
secara perlahan
tentang apa yang
terjadi, koping klien
akan meningkat
H. Stress
meningkat, rasa tidak
nyaman/ nyeri fisik
dan kelelahan
mencetus-kan
penurunan tingkah
laku dan gangguan
komunika-si.
Perilaku kata-stropik

56
ini menimbulkan
panic dan rasa
bermusuhan
I. Menen
angkan situasi dan
member klien waktu
untuk memperoleh
kendali terhadap
perilaku dan
emosinya
J. Rasa
diterima menurunkan
rasa takut, dan
respons agresif
K. Memb
erikan keyakinan,
menunjukkan stress,
dan meningkatkan
kualitas hidup
L. Menin
gkatkan perasaan,
dukungan selama
penyesuaian

4 Perubahan pola Setelah dilakukan 1. Jangan menganjur-


tidur berhubu- tindakan keperawatan kan klien tidur
ngan dengan diharapkan tidak siang apabila
perubahan terjadi gangguan pola berakibat efek
lingkungan tidur pada klien negative terhadap
ditandai dengan dengan KH : tidur pada malam
keluhan verbal Memahami factor hari
tentang kesulitan penyebab gangguan 2. Evaluasi efek obat
tidur, terus- pola tidur klien (steroid,
menerus terjaga, Mampu menentukan diuretik) yang

57
tidak mampu penyebab tidur mengganggu tidur
menentukan inadekuat 3. Tentukan kebiasaan
Mampu memahami
kebutuhan/ dan rutinitas waktu
waktu tidur. rencana khusus untuk tidur malam dengan
menangani/mengorek kebiasaan klien
si penyebab tidur (memberi susu
tidak adekuat hangat)
Mampu menciptakan
4. Memberika lingku-
pola tidur yang
ngan yang nyaman
adekuat dengan
untuk meningkat-
penurunan terhadap
kan tidur (memati-
pikiran yang
kan lampu, ventila-
melayang-layang
si ruang adekuat,
(melamun)
Tampak atau suhu yang sesuai,

melaporkan dapat menghindari

beristirahat yang kebisingan)

cukup 5. Buat jadwal


intervensi untuk
memungkinkan
waktu tidur lebih
lama(memeriksa
tanda vital,
mengubah posisi)
6. Berikan kesempat-
an untuk tidur
sejenak, anjurkan
latihan saat siang
hari, turunkan
aktivitas mental/
fisik pada sore hari
7. Hindari pengguna-
an pengikatan
secara terus

58
menerus
8. Evaluasi tingkat
stress/orientasi
sesuai perkembang-
an hari demi hari
9. Buat jadwal tidur
secara teratur.
Katakan pada klien
bahwa saat ini
adalah waktu untuk
tidur
10. Berikan makanan
kecil sore hari, susu
hangat, mandi, dan
masase punggung
11. Turunkan jumlah
minuman sore.
Lakukan berkemih
sebelum tidur
12. Putarkan musik
yang lembut atau
suara yang jernih
13. Irama sirkadian
(siklus tidur-
bangun) yang
tersinkronisasi
disebabkan oleh
tidur siang yang
singkat
14. Derangement psikis
terjadi bila terdapat
penggunaan
kortikosteroid,

59
termasuk
perubahan mood,
insomnia
15. Mengubah pola
yang sudah terbiasa
dari asupan makan
klien pada malam
hari terbukti
mengganggu tidur
16. Hambatan kortikal
pada formasi
reticular akan
berkurang selama
tidur, emningkatkan
respons otomatik,
karenanya respons
kardiovaskular
terhadap suara
meningkat selama
tidur
17. Gangguan tidur
terjadi dengan
seringnya tidur dan
mengganggu
pemulihan
sehubungan dengan
gangguan
psikologis dan
fisiologis, sehingga
irama sirkadian
terganggu
18. Aktivitas fisik dan
mental yang lama

60
mengakibatkan
kelelahan yang
dapat meningkat-
kan kebingungan,
aktivitas yang
terprogram tanpa
stimulasi berlebih-
an meningkatkan
waktu tidur
19. Risiko gangguan
sensori, meningkat-
kan agitasi dan
menghambat waktu
istirahat
20. Peningkatan
kebingungan,
disorientasi,
tingkah laku tidak
kooperatif (sindrom
sundower) dapat
mengurangi tidur
21. Penguatan bahwa
saatnya tidur dan
mempertahankan
kestabilan
lingkungan. Catatan
: penundaan waktu
tidur diindikasikan
agar klien
membuang
kelebihan energy
dan memfasilitasi
tidur

61
22. Meningkatkan
relaksasi dengan
perasaan
mengantuk
23. Menurunkan
kebutuhan akan
bangun untuk
berkemih selama
malam hari
24. Menurunkan
stimulasi sensori
dengan meng-
hambat suara lain
dari lingkungan
sekitar yang akan
menghambat tidur

5 Kurang perawat- Setelah diberikan 1. Identifikasi kesulitan 1. Memahami


an diri berhubu- tindakan keperawatan dalam berpakaian/ penyebab yang
ngan dengan diharapkan klien perawatan diri, mempengaruhi
intoleransi dapat merawat dirinya seperti: keterbatasan intervensi.
aktivitas, sesuai dengan gerak fisik, apatis/ Masalah dapat
menurunnya kemampuannya depresi, penurunan diminimalkan
daya tahan dan dengan KH : kognitif seperti dengan
kekuatan Mampu melakukan apraksia. menyesuaikan
ditandai dengan aktivitas perawatan 2. Identifikasi kebutuh- atau memerlu-
penurunan diri sesuai dengan an kebersihan diri kan konsultasi
kemampuan tingkat kemampuan. dan berikan bantuan dari ahli lain.
Mampu mengidentifi- 2. Seiring
melakukan sesuai kebutuhan
kasi dan mengguna- perkembangan
aktivitas sehari- dengan perawatan
kan sumber pribadi/ penyakit,
hari. rambut/kuku/ kulit,
komunitas yang dapat kebutuhan
bersihkan kaca mata,
memberikan bantuan. kebersihan dasar
dan gosok gigi.
mungkin
3. Perhatikan adanya

62
tanda-tanda non- dilupakan.
3. Kehilangan
verbal yang
sensori dan
fisiologis.
penurunan
4. Beri banyak waktu
fungsi bahasa
untuk melakukan
menyebabkan
tugas.
klien mengung-
5. Bantu mengenakan
kapkan kebutuh-
pakaian yang rapi
an perawatan
dan indah.
diri dengan cara
nonverbal,
seperti terengah-
engah, ingin
berkemih
dengan
memegang
dirinya.
4. Pekerjaan yang
tadinya mudah
sekarang
menjadi
terhambat
karena
penurunan
motorik dan
perubahan
kognitif.
5. Meningkatkan
kepercayaan
untuk hidup.

6. Koping individu Setelah diberikan 1. Kaji 1. Menentukan


tidak efektif asuhan keperawatan perubahan dari bantuan
berhubungan diharapkan koping gangguan persepsi individual
dengan pemeca- individu menjadi dan hubungan dalam

63
han masalah efektif dengan kriteria dengan derajat menyusun
tidak adekuat hasil : ketidakmampuan rencana
ditandai dengan Mampu menyatakan 2. Dukung perawatan atau
cepat marah, atau mengkomunika- kemampuan koping pemilihan
curiga, mudah sikan dengan orang 3. Pernyataan intervensi.
2. Kepatuhan
tersinggung. terdekat tentang pengaku-an terhadap
terhadap
situasi dan penolak-an tubuh,
program latihan
perubahan yang mengingat-kan
dan berjalan
sedang terjadi kembali fakta
Mampu menyatakan membantu
kejadian tentang
penerimaan diri memperlambat
realitas bahwa masih
terhadap situasi kemajuan
dapat menggunakan
Mengakui dan penyakit.
sisi yang sakit dan
menggabungkan 3. Dukungan dan
belajar mengontrol
perubahan ke dalam sumber bantuan
sisi yang sehat
konsep diri dengan dapat diberikan
4. Beri dukungan
cara yang akurat melalui keteku-
psikologis secara
tanpa haraga diri nan berdoa dan
menyeluruh
yang negatif penekanan
5. Bentuk
keluar terhadap
program aktivitas
aktivitas
pada keseluruhan
dengan
hari
mempertahanka
6. Anjurkan
n patisipasi
orang yang terdekat
aktif
untuk mengizinkan 4. Membantu klien
klien melakukan hal- untuk melihat
hal untuk dirinya bahwa perawat
semaksimal mungkin menerima
7. Dukung kedua bagian
perilaku atau usaha sebagai bagian
seperti peningkatan dari seluruh
minat atau partisipasi tubuh.
5. Mengizinkan
dalam aktivitas

64
rehabilitasi klien untuk
8. Monitor merasakan
gangguan tidur adanya harapan
peningkatan dan mulai
konsentrasi, letargi, menerima
dan withdrawal situasi baru.
6. Klien Demensia
Kolaborasi
sering merasa
Rujuk pada ahli
malu, apatis,
neuropsikologi dan
tidak adekuat,
konseling bila ada
bosan dan
indikasi
merasa sendiri.
Perasaan ini
dapat disebab-
kan akibat
keadaan fisik
yang lambat
dan upaya yang
besar dibutuh-
kan terhadap
tugas-tugas
kecil. Klien
dibantu dan
didukung untuk
mencapai
tujuan yang
ditetapkan
(seperti
meningkatnya
mobilitas)
7. Bentuk program
aktivitas pada
keseluruhan
hari untuk

65
mencegha
waktu tidur
yang terlalu
banyak yang
dapat mengarah
pada tidak
adanya
keinginan dari
apatis. Setiap
upaya dibuat
untuk
mendukung
klien keluar
darii tugas-
tugas yang
termasuk
koping dengan
kebutuhan
mereka setiap
hari dan untuk
membentuk
klien mandiri.
8. Apapun yang
dilakukan
hanya untuk
keamanan
sewaktu
mencapai
tujuan dengan
meningkatnya
kemampuan
koping.
9. Menghidupkan
kembali

66
perasaan
kemandirian
dan membantu
perkembangan
harga diri serta
mempengaruhi
proses
rehabilitasi.
10. Klien dapat
beradaptasi
terhadap
perubahan dan
pengertian
tentang peran
individu masa
mendatang.
11. Dapat meng-
indikasikan
terjadinya
depresi
dimana
memerlukan
intervensi dan
evaluasi lebih
lanjut
Kolaborasi
1. Dapat
memfasilitasi
perubahan
peran yang
penting untuk
perkembangan
perasaan.
Kerjasama

67
fisioterapi,
psikoterapi,
terapi obat-
obatan, dan
dukungan
partisipasi
kelompok dapat
menolong
mengurangi
depresi yang
juga sering
muncul pada
kejadian ini.

7. Hambatan Setelah diberikan 1. Kaji Untuk memudah-


komunikasi asuhan keperawatan, kemampuan klien kan klien dalam
verbal diharapkan klien tidak untuk memanggil
berhubungan mengalami hambatan berkomunikasi. perawat saat
dengan perubah- komunikasi verbal 2. Menentukan membutuhkan
an persepsi dengan kriteria hasil : cara-cara bantuan.
ditandai dengan Membuat teknik/ berkomunikasi Kolaborasi
disorientasi metode komunikasi seperti memperta- 1. Memberi
tempat, orang yang dapat dimengerti hankan kontak mata, kan terapi bicara
dan waktu. sesuai kebutuhan dan pertanyaan dengan pada klien.
meningkatkan jawaban ya atau
kemampuan tidak, menggunakan
berkomunikasi kertas dan pensil/
bolpoint, gambar,
atau papan tulis;
bahasa isyarat,
penjelas arti dari
komunikasi yang
disampaikan.
3. Letakkan

68
bel/lampu panggilan
di tempat mudah
dijangkau dan
berikan penjelasan
cara menggunakan-
nya. Jawab panggilan
tersebut dengan
segera. Penuhi
kebutuhan klien.
Katakan kepada
klien bahwa perawat
siap membantu jika
dibutuhkan.
Kolaborasi
1. Kolaborasi
dengan ahli wicara
bahasa.
2. Untuk
menentukan tingkat
kemampuan klien
dalam
berkomunikasi.
3. Untuk
membantu proses
berkomunika-si
dengan klien, dan
agar tidak terjadi
miskomunikasi.

8. Risiko terhadap Setelah dilakukan 1. Kaji Bantuan


perubahan tindakan keperawatan pengetahuan diperlukan untuk
nutrisi kurang diharapkan klien klien/keluarga mengembangkan
dari kebutuhan mendapat nutrisi yang mengenai kebutuhan keseimbangan diet
tubuh berhubu- seimbang dengan KH: makan dan menemukan

69
ngan dengan Mengubah pola 2. Usahakan/ kebutuhan / makan
mudah lupa, asupan yang benar. berikan bantuan yang disukai
kemunduran Mendapat diet nutrisi dalam memilih menu
hobi, perubahn yang seimbang. 3. Berikan
Mempertahankan/
sensori. makanan kecil setiap
mendapat kembali
jam sesuai kebutuhan
berat badan yang
4. Hindari
sesuai.
makanan yang terlalu
Ikut serta dalam
panas
aktifitas yang
Kolaborasi :
mempermudah koping
1. Rujuk atau
adaptif.
konsul-tasikan
dengan ahli gizi
2. Identifikasi
kebutuhan untuk
membantu
perencanaan
pendidikan
3. Klien tidak
mampu menentukan
pilihan kebutuhan
nutrisi
4. Makan
makanan kecil
meningkatkan
masukan yang sesuai
5. Makan panas
mengakibatkan
mulut terbakar atau
menolak untuk
makan

9. Risiko terhadap Setelah dilakukan 1. Kaji derajat gang- 1. Mengide


cedera berhubu- tindakan keperawatan guan kemampu- ntifikasi risiko

70
ngan dengan diharapkan Risiko an,tingkah laku di lingkungan
kesulitan cedera tidak terjadi impulsive dan dan
keseimbangan, dengan KH : penurunan persepsi mempertinggi
kelemahan, otot Meningkatkan tingkat visual. Bantu kesadaran
tidak terkoordi- aktivitas keluarga mengiden- perawat akan
nasi, aktivitas Dapat beradaptasi tifikasi risiko bahaya. Klien
kejang. dengan lingkungan terjadinya bahaya dengan tingkah
untuk mengurangi yang mungkin laku impulsif
risiko trauma/cedera timbul berisiko trauma
Tidak mengalami
2. Hilangkan sumber karena kurang
trauma/cedera
bahaya lingkungan mampu
Keluarga mengenali
3. Alihkan perhatian memgendalikan
potensial di lingkung-
saat perilaku perilaku.
an dan mengidentifi-
teragitasi Penurunan
kasi tahap-tahap
4. Gunakan pakaian persepsi visual
untuk memperbaiki-
sesuai dengan berisiko
nya
lingkungan terjatuh
fisik/kebutuhan 2. Klien
klien dengan
5. Kaji efek samping gangguan
obat, tanda kognitif,
keracunan (tanda gangguan
ekstrapiramidal, persepsi adalah
hipotensi ortostatik, awal terjadi
gangguan trauma akibat
penglihatan, tidak
gangguan bertanggung
gastrointestinal) jawab terhadap
6. Hindari pengguna- kebutuhan
an restrain terus- keamanan dasar
menerus. Berikan 3. Mempert
kesempatan ahankan
keluarga tinggal keamanan

71
bersama klien dengan
selama periode menghindari
agitasi akut konfrontasi
yang
meningkatkan
risiko
terjadinya
trauma
4. Perlamba
tan proses
metabolisme
mengakibatkan
hipotermia.
Hipotalamus
dipengaruhi
proses penyakit
yang
menyebabkan
rasa kedinginan
5. Klien
yang tidak
dapat
melaporkan
tanda/gejala
obat dapat
menimbulkan
kadar toksisitas
pada lansia.
Ukuran
dosis/pengganti
an obat
diperlukan
untuk

72
mengurangi
gangguan
6. Membah
ayakan klien,
meningkatkan
agitasi dan
timbul risiko
fraktur pada
klien lansia
(berhubungan
dengan
penurunan
kalsium tulang)
[11]

4) Implementasi
Implementasi mengikuti intervensi yang telah disebutkan pada tahap intervensi.
5) Evaluasi
1. Mampu memperlihatkan kemampuan kognitif untuk menjalani konsekuensi.
2. Perubahan persepsi sensori tidak terjadi atau terkontrol.
3. Mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan dan aktivitas.
4. Perubahan pola tidur tidak terjadi atau terkontrol.
5. Perawatan diri dapat terpenuhi.
6. Klien menyatakan penerimaan diri terhadap situasi
7. Teknik/metode klien komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan
meningkatkan kemampuan berkomunikasi
8. Nutrisi klien seimbang
9. Risiko cedera tidak terjadi.[11]

Tabel perbandingan delirium, depresi, dan demensia


Delirium Depresi Demensia
Awitan cepat (beberapa jam cepat (beberapa mingu bertahap (bertahun-
sampai beberapa hari) sampai beberapa bulan) tahun)
proses gangguan fluktuasi luas; dapat mungkin ada pembatasan kronik; lambat namun
berlangsung terus selama diri atau menjadi kronik terus menurun
beberapa minggu jika tanpa pengobatan
penyebab tidak diketahui
tingkat berfluktuasi dari sangat Normal normal
kesadaran waspada hingga sulit

73
untuk dibangunkan
Orientasi pasien diorientasi, bingung pasien mungkin tampak pasien disorientasi,
disorientasi bingung
Efek berfluktuasi sedih, depresi, cemas, rasa labil; apatis pada tahap
bersalah lanjut
perhatian selalu terganggu kesulitan berkonsentrasi; mungkin utuh; pasien
pasien mungkin menelaah dapat memusatkan
perhatian
kembali semua pada satu hal untuk
tindakannya waktu yang lama
tidur selalu terganggu terganggu; tidur berlebihan biasanya normal
atau insomnia, terutama
ketika bangun pagi lebih
awal
Perilaku pasien agitasi, gelisah pasien mungkin lelah, pasien mungkin agitasi
apatis; kadang agitasi atau apatis; mungkin
keluyuran
pembicaraan jarang atau cepat; pasien datar, jarang, mungkin jarang atau cepat;
mungkin inkoheren meledak-ledak; dapat berulang-ulang; pasien
mungkin
Dimengerti inkoheren
Memori terganggu, terutamauntuk bervariasi dari hari ke hari; terganggu, terutama
peristiwa yang baru lamban dalam mengingat; untuk peristiwa yang
baru terjadi
Terjadi sering defisit memori
jangka pendek
Kognisi gangguan berfikir mungkin tampak gangguan berfikir dan
terganggu menghitung
isi pikir inkoheren, bingung; negatif; hipokondriasis, tidak teratur, kaya isi
waham; stereotip pikiran tentang kematian; pikir, waham, paranoid
paranoid
Persepsi salah penafsiran, ilusi, tergantung; pasien tidak berubah
halusinasi mungkin mengalami
halusinasi
pendengaran; penafsiran
negatif terhadap orang lain
dan
Kejadian
Penilaian Buruk Buruk buruk; perilaku tidak
tepat secara sosial
daya tilik mungkin ada saat-saat mungkin terganggu tidak ada
berpikir jernih
penampilan pada buruk tetapi bervariasi;
pemeriksaan meningkat saat berpikir
status mental jernih dan saat kerusakan memori; secara konsisten buruk;
penyembuhan menghitung, menggambar, makin memburuk; pasien
mengikuti
perintah biasanya tidak berupaya menjawab
terganggu; sering semua pertanyaan.[4]

74
menjawab

2.4 AMNESTIK
Gangguan mental ini ditandai dengan gangguan tunggal yang berupa penurunan daya
ingat yang bisa mengakibatkan kacaunya fungsi sosial serta pekerjaan. Penyebab yang paling
umum ditemui pada gangguan mental ini adalah alkohol serta cedera kepala.[6]
Gangguan pada daya ingat ditandai dengan adanya gangguan di kemampuan guna
mempelajari sebuah pengetahuan baru yang bisa disebut dengan amnesia anterograd, serta tak
mampu guna mengingat pengetahuan yang sebelumnya alias amnesia retrograd. Ganguan
mental ini bisa saja bersifat sementara atau berjangka panjang, tergantung kepada
penanganan yang kita berikan. Untuk mengatasi gangguan mental organik yang satu ini, kita
dapat menggunakan obat-obatan tertentu layaknya barbiturate dan juga benzodiazepin. [6]
Gangguan amnestik ditandai terutama oleh gejala tunggal suatu gangguan daya ingat
yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan. Diagnosis
gangguan amnestik tidak dapat dibuat jika mempunyai tanda lain dari gangguan kognitif,
seperti yang terlihat pada demensia, atau jika mempunyai gangguan perhatian (attention) atau
kesadaran, seperti yang terlihat pada delirium.[7]

a. Pengertian Amnestik
Menurut Mark Dumark ( 2006 : 333 ) menyatakan bahwa gangguan amnestik adalah
kemunduran dalam kemampuan mentransfer informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan
jangka panjang, tanpa adanya gejala-gejala demensia lain, sebagai akibat trauma kepala atau
penyalahgunaan obat.[5]
Sedangkan menurut Jeffrey S. Nevid ( 2003 : 184 ) menyatakan bahwa gangguan
amnestik adalah gangguan ingatan yang dihubungkan dengan ketidakmampuan untuk
mempelajari materi baru atau mengingat kembali peristiwa-peristiwa masa lalu. [5]
Gangguan amnestik adalah perkembangan gangguan daya ingat yang ditandai oleh
gangguan pada kemampuan untuk mempelajari informasi baru (amnesia anterograd) dan
ketidakmampuan untuk mengingat pengetahuan yang sebelumnya diingat (amnesia
retrograd). [5]
Periode waktu dimana pasien terjadi amnesia kemungkinan dimulai langsung pada saat
trauma atau beberapa saat sebelum trauma. Ingatan tentang waktu saat gangguan fisik
mungkin juga hilang. Daya ingat jangka pendek (short-term memory) dan daya ingat baru
saja (recent memory) biasanya terganggu. Daya ingat jangka jauh (remote post memory)

75
untuk informasi atau yang dipelajari secara mendalam (overlearned) seperti pengalaman
maka anak-anak adalah baik, tetapi daya ingat untuk peristiwa yang kurang lama ( Iewat dart
10 tahun) adalah terganggu. [5]

b. Penyebab
1. Kondisi medis sistemik : yaitu ( Defisiensi tiamin (Sindroma Korsakoff) dan
Hipoglikemia).
2. Kondisi otak primer, seperti :
a. Kejang
b. Trauma kepala (tertutup dan tembus)
c. Tumor serebrovaskular (terutama thalamik dan lobus temporalis)
d. Prosedur bedah pada otak
e. Ensefalitis karena herpes simpleks
f. Hipoksia (terutama usaha pencekikan yang tidak mematikan dan keracunan
karbonmonoksida)
g. Amnesia global transien
h. Terapi elektrokonvulsif
i. Sklerosis multiple
3. Penyebab berhubungan dengan zat
a. Gangguan pengguanan alcohol
b. Neurotoksin
c. Benzodiazepin (dan sedatif- hipnotik lain)
d. Banyak preparat yang dijual bebas.
4. Efek-efek jangka panjang.
5. Adanya gangguan kognitif, yaitu hendaya signifikan dalam fungsi sosial dan okupasional.
6. Kerusakan pada tatamus ( sebuah daerah kecil yang terletak jauh di otak yang bertindak
sebagai stasiun pemancar bagi informasi yang berasal dari banyak bagian yang terdapat di
otak ). [5]

c. Akibat :
a. Ketidakmampuan untuk mempelajari informasi atau mengingat informasi yang telah di
pelajari sebelumnya.
b. Kerusakan tatamus mengakibatkan stoke yang berakibat kerusakan vaskuler.
c. Terjadinya penurunan dibanding tingkat sebelumnya.
d. Penurunan fungsi ingatan secara dramatis yang tidak berhubungan dengan keadaan
delirium atau demensia.

76
e. Ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru (defisit ingatan jangka pendek) atau
untuk mengingat kembali informasi yang sebelumnya dapat diakses atau kejadian
kejadian masa lalu dari kehidupan seseorang (defisit ingatan jangka panjang).
f. Hendaya signifikan dalam fungsi yang mempresentasikan terjadinya penurunan
disbanding tingkat sebelumnya. [5]

d. Pengobatan
Pendekatan utama adalah mengobati penyebab dasar dari gangguan amnestik Setelah
resolusi episode amnestik, suatu jenis psikoterapi (sebagai contohnya, kognitif,
psikodinamika, atau suportif dapat membantu pasien menerima pangalaman amnestik
kedalam kehidupannya. [5]

e. Epidemiologi
Beberapa penelitian melaporkan insiden atau prevalensi gangguan ingatan pada
gangguan spesifik (sebagai contohnya sklerosis multipel). Amnesia paling sering ditemukan
pada gangguan penggunaan alkohol dan cedera kepala. [7]

f. Diagnosis
Kriteria Diagnosis untuk Gangguan Amnestik Karena Kondisi Medis Umum.
1. Perkembangan gangguan daya ingat seperti yang dimanifestasikan oleh gangguan
kemampuan untuk mempelajari informasi baru atau ketidak mampuan untuk mengingat
informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Ganguan daya ingat menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau
pekerjaan dan merupakan penurunan bermakna dan tingkat fungsi sebelumnya.
3. Gangguan daya ingat tidak terjadi semata-mata selama perjalanan suatu delirium atau
suatu demensia.
4. Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium
bahwa gangguan adalah akibat fisiologis langsung dari kondisi medis umum (termasuk
trauma fisik). [7]

g. Gambaran Klinis
Pusat gejala dan gangguan amnestik adalah perkembangan gangguan daya ingat yang
ditandai oleh gangguan pada kemampuan untuk mempelajari informasi baru (amnesia
anterograd) dan ketidakmampuan untuk mengingat pengetahuan yang sebelumnya diingat

77
(amnesia retrograd). Periode waktu dimana pasien terjadi amnesia kemungkinan dimulai
langsung pada saat trauma atau beberapa saat sebelum trauma. Ingatan tentang waktu saat
gangguan fisik mungkin juga hilang. Daya ingat jangka pendek (short-term memory) dan
daya ingat baru saja (recent memory) biasanya terganggu. Daya ingat jangka jauh (remote
post memory) untuk informasi atau yang dipelajari secara mendalam (overlearned) seperti
pengalaman maka anak-anak adalah baik, tetapi daya ingat untuk peristiwa yang kurang lama
( Iewat dart 10 tahun) adalah terganggu. [7]

h. Diagnosis Banding
1. Demensia dan Delirium
2. Penuaan normal
3. Gangguan disosiatif
4. Gangguan buatan. [7]

i. Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Onset mungkin tiba-tiba atau bertahap; gejala dapat sementara atau menetap dan hasil
akhir dapat terentang dari tanpa perbaikan sampai pemulihan lengkap.[5]

2.5 Gangguan Mental Organik Selektif


1. Sindroma Lobus Frontalis
Gejala ini biasanya mendahului gejala demensia. Hal ini ditandai dengan gangguan
fungsi lobus frontalis pada tahap dini, dengan masih terpeliharanya daya ingat secara relatif
hingga saat selanjutnya. [5]
Abulic syndrome
Disinhibition syndrome, euphoria Irritable euphoric apaty
Bradikinesia
Compulsive hostile tumor
Dramatic regression infantil
Tes kelancaran bicara , fungsi motorik sekuensial, tugas bertentangan
berurutan.[5]
2. Sindroma Amnesia Organik
Sindrom amnesik organik bukan akibat alkohol dan zat psikoaktif lainnya. Namun dari
pengaruh daya ingat, berupa berkurangnya daya ingat jangka pendek (lemahnya kemampuan

78
belajar materi baru). Amnesia Anterograd dan Retrograd, menurunkan kemampuan
mengingat dan mengungkap pengalaman lalu. Biasanya orang yang menderita amnesia
organik memilik riwayat cedera / penyakit pada otak (jaringan diensefalon dan lobus
temporalis medialis), sehingga daya ingat segera tidak berkurang. Namun daya perhatian dan
kesadaran tidak terganggu, hendaya intelektual menyeluruh kurang. [5]
Secara Etiologi : kerusakan bilateral diensefalon medial temporal karena cedera
kepala, gangguan vaskuler, ensefalitis, defisiensi tiamin, alkoholisme kronik. [5]
3. Sindroma Waham Organik
Gangguan Waham Organik (Lir-Skizofrenia) memiliki kriteria umum untuk menduga
suatu penyebab organik seperti dicantumkan sebelumnya. Penderita memiliki waham yang
menetap/berulang (waham kejar, tubuh yang berubah, cemburu dll.). Sidroma waham
organik ini dipengaruhi oleh pemakaian zat, seperti : amfetamin, kanabis, halusinogen.
Pemakaian zat ini akan dapat merusak bagian otak lobus temporalis, sehingga penderita
mengalami epilepsi dan Chorea Huntington. Seseorang yang penderita sindrom tersebut
sering mengalami halusinasi, gangguan proses pikir, dan katatonik. Namun, penderita masih
mengalami kesadaran dan daya ingatnya harus tidak terganggu. Diagnosis jangan dibuat jika
penyebab organik yang diduga tidak khas atau terbatas pada penemuan seperti ventrikel otak
yang melebar (CT-Scan) atau gejala neurologis yang halus (soft neurological signs). Hal
yang terbaik dilakukan untuk penderita ini, yaitu melakukan Flash back. [5]
4. Halusionosis Organik
Halusinosis organik adalah suatu gangguan halusinasi yang menetap atau berulang,
biasanya visual atau auditorik yang terjadi pada keadaan kesadaran penuh. Bisa pula dijumpai
waham, tapi tidak menonjol dan insightnya masih baik. Gangguan ini disebabkan oleh oleh
gangguan tertentu pada otak. Kasus ini banyak ditemukan di kalangan para pecandu alkohol.
[5]

Kriteria diagnostik :
Dijumpai kriteria umum untuk golongan ini
Ada halusinasi yang menetap atau berulang
Tidak ada kesadaran berkabut
Tidak ada penurunan fungsi intelektual yg nyata
Tidak ada gangguan mood yang menonjol
Tidak ada waham yg nyata dan dominan.[5]
5. Sindroma Afektif Organik

79
Sindrom afektif organik adalah gangguan berupa keadaan mania atau depresi
sehubungan dengan gangguan pada otak. Penyebabnya bisa cedera otak, tumor otak, tumor
pada kelenjar hormon. Hal ini menyebabkan gangguan pada toksik atau metabolik. [5]
Sindroma depresif reserpin, metildopa, halusinogen
Sindroma manik / depresif hipertiroidisme, hipotiroidisme
Hiperaldosteronisme
Hiperadrenokortikalisme
Ca pankreas depresif
Penyakit virus (HIV). [5]

BAB 3
PENUTUP

80
Penulis mengucap puji syukur kepada Allah SWT. Orang tua yang selalu memberikan

dukungan, bapak dosen yang telah banyak memberikan bimbingan, serta teman-teman yang

senantiasa membantu kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.

Kami sebagai manusia yang tidak memiliki kesempurnaan kami mohon maaf apabila

dalam penyampaian ada kesalahan dan kekurangan baik dalam nama atau tulisan.

Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.

3.1 Kesimpulan

Gangguan kognitif pada pasien yang mengalami gangguan jiwa, erat hubungannya
dengan gangguan mental organik. Hal ini terlihat dari gambaran secara umum perilaku/
gejala yang timbul akan dipengaruhi pada bagian otak yang mengalami gangguan,

81
misalnya pada lobus oksipitalis, lobus parietalis, lobus temporalis, lobus frontalis maupun
sistim limbik.
Dari intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah pasien , hal utama yang
dilakukan adalah : selalu menerapkan tehnik komunikasi terapeutik. Pendekatan secara
individu dan kelompok, juga keterlibatan keluarga dalam melakukan perawatan sangat
penting untuk mencapai kesembuhan pasien.
Berdasarkan hal diatas masalah dengan gangguan kognitif sangat penting diketahui
apa penyebab terjadinya . Sehinngga intervensi yang diberikan tepat dan sesuai untuk
mengatasi masalah pasien. Akhirnya pasien diharapkan dapat seoptimal mungkin untuk
memenuhi kebutuhannya dan terhindar dari kecelakaan yang ,membahayakan
keselamatan pasien.

3.2 Saran

Dari kesimpulan diatas, pemberian asuhan keperawatan pada pasien yang


mengalami gangguan kognitif seharusnya kita memperhatikan hal-hal sebagai berkut :
1. Asuhan yang kita berikan secara tuntas dengan tetap mengacu pada pengkajian bio-
82
psiko-sosial-spiritual-kultural dengan lebih mengutamakan etiologi dari terjadinya
masalah
2. Pemberian obat /terapy seharusnya berdasarkan pada gejala yang terjadi, karena akan
dipengaruhi oleh bagian otak yang terganggu dan harus tetap berkolaborasi dengan
tim medis.
3. Dalam pemberian asuhan keperawatan diharapkan peran serta dan keterlibatan
keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :
[1]
Ariani, April Tutu. 2012. Sistem Neurobehavior. Jakarta: Salemba Medika.

83
[2]
Townsend, Mary C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta:
EGC.
[3]
Kartono, Kartini. 2003. Patologi Sosial Gangguan-Gangguan Kejiwaan. Jakarta:PT Raja
Grafindo Persada.
[4]
Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Sumber Internet :
[5]
Gangguan Mental Organik dari departemen psikiatri fakultas psikologi Universitas
Padjajaran oleh Ditha Damayanti, Alicia Puspitasari, Astia Cholida, Rizka Yunita,
Winda Riyantika, R. El. Amanda D.Y.A.S, Mutiara Sabariah, Nadia Rahmi Andita,
Morisa Hanum F., dan Hernika Prihatina diunduh dari https://xa.yimg.com, Sabtu, 27
September 2014 pada pukul 19.23 WIB.
[6]
http://tips-menghilangkan-stress.blogspot.com/2012/12/memahami-gangguan-mental-
organik.html diunduh Sabtu, 27 September 2014 pada pukul 19.57 WIB.
[7]
http://yumizone.wordpress.com/2009/07/22/gangguan-mental-organik/ diunduh Sabtu, 27
September 2014 pada pukul 20.15 WIB.
[8]
http://ilmukesmas.com/delirium/ diunduh Sabtu, 27 September 2014 pada pukul 20.46
WIB.
[9]
http://jhuenhyie.blogspot.com/2013/06/asuhan-keperawatan-delirium.html diunduh Sabtu,
27 September pada pukul 21.11 WIB.
[10]
http://fitriyanti-140390bkidakwah.blogspot.com/2012/04/gangguan-amnestik.html
diunduh Sabtu, 27 September 2014 pada pukul 21.40 WIB.
[11]
http://chandrarandy.wordpress.com/2012/04/09/askep-dimensia/ diunduh Sabtu, 27
September 2014 pada pukul 22.12 WIB.
[12]
http://yuudi.blogspot.com/2011/05/askep-demensia.html diunduh Sabtu, 27 September
2014 pada pukul 22.37 WIB.
[13]
http://intanmahadewi.blogspot.com/2011/09/askep-demensia.html diunduh Minggu, 28
September 2014 pada pukul 09.23 WIB.
[14]
http://suparty.blogspot.com/2013/11/demensia.html diunduh Minggu, 28 September 2014
pada pukul 09.46 WIB.
[15]
http://classc-ums.blogspot.com/2012/06/demensia.html diunduh Minggu, 28 September
2014 pada pukul 10.02 WIB.

84
Lampiran :
Sumber Gambar :
Gambar 1 http://tips-menghilangkan-stress.blogspot.com/2012/12/memahami-gangguan-
mental-organik.html diunduh Sabtu, 27 September 2014 pada pukul 19.57 WIB.

85
Gambar 2 http://yumizone.wordpress.com/2009/07/22/gangguan-mental-organik/ diunduh
Sabtu, 27 September 2014 pada pukul 20.15 WIB.
Gambar 3 http://www.radiologyassistant.nl/en/p43dbf6d16f98d/dementia-role-of-mri.html
diunduh Sabtu, 27 September 2014 pada pukul 21.43 WIB.
Gambar 4 http://www.ncpic.org/ClinicalInformation/BrainDisorders/ diunduh Sabtu, 27
September pada pukul 22.06 WIB.
Gambar 5 http://classc-ums.blogspot.com/2012/06/demensia.html diunduh Minggu, 28
September 2014 pada pukul 10.02 WIB.
Gambar 6 http://classc-ums.blogspot.com/2012/06/demensia.html diunduh Minggu, 28
September 2014 pada pukul 10.02 WIB.

Format Asuhan Keperawatan Jiwa:


Azizah, Lilik Marifatul. 2011. Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta: Graha
Ilmu.

86