Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH IPS

JUDUL
CANDI BOROBUDUR
Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas ips Semester 1
Guru Pembimbing : Fitriyani, S.Pd.

Disusun oleh :

1. Fanesa Mutiara C.(11)


2. Sefira Najma A. (28)
3. Uyun Durrotut T. (35)
4. Winda Alfina R. (37)

Kelas : IX H

SMP NEGERI 1 MAYONG


TAHUN PELAJARAN 2016 / 2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan segala nikmat, rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami semua
sehingga dapat menyelesaikan penyusunan Tugas IPS ini dengan baik dan tepat
waktu.
Dalam proses penyusunan Tugas IPS ini, saya mendapat banyak bantuan yang
sangat berharga dari semua pihak, baik dalam bentuk moral, materil, bimbingan
maupun pengarahan, yang semuanya itu sangat bermanfaat bagi saya, sehingga Tugas
IPS ini dapat terselesaikan dengan baik :
Oleh karena itu saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Rofii, S.Pd, M.Pd. selaku kepala SMP Negeri 1 Mayong.
2. Ibu Fitriyani, S.Pd. selaku guru yang telah membantu terbentuknya Tugas
IPS ini dengan baik.
3. Bapak dan Ibu guru SMP Negeri 1 Mayong yang telah turut serta
membimbing,
4. Orang tua saya yang telah memberikan dukungan moral dan materil.
5. Semua pihak yang telah berpartisipasi dan memotivasi.
Saya menyadari bahwa Tugas IPS ini belum sempurna. Untuk itu, saya
berharap agar semua pihak yang telah membaca Tugas IPS ini dapat memberikan
masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Tugas IPS ini.
Harapan saya dengan terselesaikannya Tugas IPS ini dapat memberikan manfaat dan
pengetahuan bagi pembacanya. Demikian dari saya, bila ada kesalahan saya mohon
maaf.

Jepara, 08 Desember 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................... i
KATA PENGANTAR......................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG......................................................................1
B.TUJUAN.......................................................................................1
C.MANFAAT....................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
A.SEJARAH.....................................................................................2
B.BENTUK BANGUNAN.................................................................3
C.USAHA MELESTARIKAN............................................................10

BAB III PENUTUP


A.KESIMPULAN..............................................................................12
B.SARAN.........................................................................................12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,


Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di
sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah
barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama
Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa
Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang
diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672
panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[1] Stupa utama terbesar teletak di
tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72
stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam
posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar
roda dharma).Bilamana candi Borobudur didirikan tidak ada keterangan yang pasti.
Dari penelitian bentuk huruf Jawa Kuna yang dipakai menulis inskripsi pendek-
pendek di atas panil relief Karmawibhanga, candi didirikan pada abad IX, didirikan
oleh seorang raja Sailendra, yaitu raja Samaratungga beserta puterinya bernama
Pramodhawarddhani. didasarkan pada prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri
Kahulunan.
Latar belakang agama candi Borobudur adalah perpaduan ajaran Buddha
Mahayana dengan Tantrayana , dengan meditasi filsafat Yogacara. Bentuk agama
Buddha semacam ini mirip dengan agama Buddha yang berkembang di Bengal India,
pada waktu pemerintahan raja-raja Pala pada sekitar abad VIII.

B.Tujuan
Untuk mengetahui sejarah candi Borobudur
Untuk menambah pengetahuan

C.Manfaat

Dengan berkunjung langsung ke candi borodur.kami dapat menambah


pengetahuan secara langsung dan bisa melihat monument bangunan candi Borobudur
tersebut.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A.Sejarah

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,


Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di
sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah
barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama
Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa
Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang
diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672
panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[1] Stupa utama terbesar teletak di
tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72
stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam
posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar
roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat
suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk
menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan
kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.[2] Para peziarah masuk melalui sisi timur
memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah
jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah
dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kmadhtu (ranah hawa
nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam
perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan
menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan
pagar langkan.Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14
seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai
masuknya pengaruh Islam.[3] Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak
ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai
Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami
serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar
pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan
UNESCO,

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun
umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di
Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur
adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan. [5]
[6][7]

2
B.Bentuk Bangunan
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:

Kamadhatu

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih


dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh
tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian
kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita
Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut
tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian
ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume
13.000 meter kubik.[2]

Rupadhatu

Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya
dihiasi galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk
persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang
relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah
dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa
dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan
alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau
relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di
dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.[2] Pada pagar
langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari
ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai
ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa
kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.

Arupadhatu

Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai
kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan
Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk
lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari
segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada
pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga
barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk
lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24,
dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang
berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya
berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa
yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu
masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep
peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.

3
, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam
stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada
zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya
memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi
ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga
bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan
sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta
terbebas dari lingkaran samsara. Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan
wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa
digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah
ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak
rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adibuddha'

Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan
tempat penatahan untuk membangun monumen ini.[51] Batu ini dipotong dalam ukuran
tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur
Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling
kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini
disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta
bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah
struktur bangunan dan dinding rampung.

Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase yang cukup baik untuk
wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran,
100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan yang unik
berbentuk kepala raksasa kala atau makara.

Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak
dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik
pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki
ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang
yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi
tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida
berundak. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara
berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Borobudur mungkin pada awalnya
berfungsi lebih sebagai sebuah stupa, daripada kuil atau candi.[51] Stupa memang
dimaksudkan sebagai bangunan suci untuk memuliakan Buddha. Terkadang stupa
dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Sementara
kuil atau candi lebih berfungsi sebagai rumah ibadah. Rancangannya yang rumit dari
monumen ini menunjukkan bahwa bangunan ini memang sebuah bangunan tempat
peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat ini
diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan
bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Menurut legenda setempat arsitek perancang Borobudur bernama


Gunadharma, sedikit yang diketahui tentang arsitek misterius ini.[52] Namanya lebih
berdasarkan dongeng dan legenda Jawa dan bukan berdasarkan prasasti bersejarah.
Legenda Gunadharma terkait dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh

4
yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan
bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi jajaran perbukitan
Menoreh, tentu saja legenda ini hanya fiksi dan dongeng belaka.Perancangan
Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung
garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari
dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya. [53]
Tentu saja satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi
satuan ini tetap pada monumen ini. Penelitian pada 1977 mengungkapkan rasio
perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di monumen ini. Arsitek menggunakan formula
ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan swa-
serupa dalam rancangan Borobudur.[53][54] Rasio matematis ini juga ditemukan dalam
rancang bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog yakin bahwa rasio
4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna penanggalan, astronomi, dan
kosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi Angkor Wat di Kamboja.[52]

Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan
puncak.[52] Dasar berukuran 123123 m (403.5 403.5 ft) dengan tinggi 4 m
(13 kaki).[51] Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin
mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 m (23 kaki) dari ujung dasar teras. Tiap
teras berikutnya mundur 2 m (6.6 kaki), menyisakan lorong sempit pada tiap
tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang
barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang
terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 m (110 kaki) dari
permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang
kini dilepas adalah 42 m (140 kaki) . Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi
mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui
serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang
dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang
menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu
candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca
kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang
menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.

Relief

Seni pahat Borobudur memiliki kehalusan gaya dan citarasa estetik yang anggun

5
Letak relief kisah-kisah naskah suci Buddha di dinding Borobudur

Borobudur

Pada dinding candi di setiap tingkatan kecuali pada teras-teras Arupadhatu


dipahatkan panel-panel bas-relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus.[55]
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan
selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang
paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha.[56] Relief Borobudur juga
menerapkan disiplin senirupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki
makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa,
raja dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang mencapai derajat kesucian
laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisi
tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu melekuk atau sedikit
condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya
bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi
tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari
yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai
panjang.[57]

Relief Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik


bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta
menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak
ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa
kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara
abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk
rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta
persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh
para peneliti. Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal
Borobudur.[58] Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan kebudayaan

6
bahari purbakala. Replika bahtera yang dibuat berdasarkan relief Borobudur
tersimpan di Museum Samudra Raksa yang terletak di sebelah utara Borobudur.[59]

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina
dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya
ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief
cerita jtaka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada
pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di
sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah
tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa
candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan
candi adalah sebagai berikut.

Bagan Relief
Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki candi asli ----- Karmawibhangga 160
a. Lalitawistara 120
dinding
b. jataka/awadana 120
Tingkat I
a. jataka/awadana 372
langkan
b. jataka/awadana 128
dinding Gandawyuha 128
Tingkat II
langkan jataka/awadana 100
dinding Gandawyuha 88
Tingkat III
langkan Gandawyuha 88
dinding Gandawyuha 84
Tingkat IV
langkan Gandawyuha 72
Jumlah 1460

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai
berikut :

Karmawibhangga

Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut


tenggara)

7
candi Borobudur. Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang
menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma.
Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni
sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita
seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai
hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap
perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi
juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan
penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara)
yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan
diakhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan
dapat dilihat oleh pengujung. Foto lengkap relief Karmawibhangga dapat disaksikan
di Museum Karmawibhangga di sisi utara

Lalitawistara

Pangeran Siddhartha Gautama mencukur rambutnya dan menjadi pertapaMerupakan


penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan
merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga
Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras.
Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan
relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut
menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk
menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha.
Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai
Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri
Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan
pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran
Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma
dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai
Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik,
seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa
dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel
yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia.
Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan
dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.Sedangkan Awadana, pada dasarnya
hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa,
melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti

8
perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.
Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya
keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling
terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita
Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita


Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan
Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460
pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan
untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Arca Buddha

Sebuah arca Buddha di dalam stupa berterawang

Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di


Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi teratai serta
menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Patung buddha dengan tinggi
1,5 meter ini dipahat dari bahan batu andesit. [2]Patung buddha dalam relung-relung di
tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya
semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104
relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat 72 relung, dan
baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu.[1]
Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam
stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32
stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya
total 72 stupa.[1] Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah
rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala
buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).
[60]
Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat
perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat
lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya
berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar
langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-

9
masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas.
Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa
berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-
masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna
simbolisnya tersendiri.[61]

C.Usaha Melestarikan

Candi Borobudur sebagai World Class Cultural Heritage perlu dijaga kelestariannya.

Pihak pengelola terus berupaya menjaga kelestarian dengan selalu


menekankankan kebersihan di lingkungan Candi Borobudur. Hal ini dapat dilihat
dengan penyediaan fasilitas bak sampah disertai himbauan yang tak kunjung henti
dilakukan agar pengunjung senantiasa menjaga kebersihan diatas monument
candi.Setidaknya puluhan unit bak sampah ditempatkan di beberapa titik diatas candi,
sehingga memudahkan akses pengunjung untuk membuang sampah. Petugas diatas
monument candi juga siap siaga menjaga, mengamankan sampah yang tak sengaja
tercecer, dibuang kedalam bak sampah. Selain itu, pihak pengelola juga terus
memberikan peringatan berupa larangan bagi pengunjung yang memanjat bahkan naik
keatas stupa. Hal ini untuk tetap menjaga konstruksi batu candi utamanya pasca
bencana erupsi Merapi setahun silam.

Sejak lantai 8, 9 & 10 Candi Borobudur dibuka kembali pada 22 September


2011 lalu, pengaturan jumlah pengunjung yang naik ke tiga lantai teratas tersebut
mulai dibatasi. Pengunjung dibatasi sejumlah 82 orang dalam waktu maksimal 15
menit secara bergantian. Hal ini diberlakukan untuk menjaga kelestarian Candi
Borobudur terutama pasca bencana erupsi Merapi. Hingga saat ini Candi Borobudur
masih terus menerus melakukan kegiatan recovery. Terkait berbagai hal yang
disampaikan UNESCO, pengelola Taman Wisata Candi Borobudur akan melakukan
upaya-upaya filterisasi lebih ketat lagi, terutama pengaturan bagi pengunjung yang
membawa makanan ataupun minuman dalam volume besar. Pengelola akan
menyediakan jasa penitipan barang di sekitar pos sarungisasi untuk menitipkan
makanan/minuman pengunjung dalam jumlah besar. Hal ini tak bermaksud
mengekang dan membatasi kebebasan berwisata pengunjung, tapi semata-mata

10
sebagai sebuah bentuk pelestarian & penghargaan terhadap Candi Borobudur sebagai
World Class Cultural Heritage dan upaya pelestariannya. Harapan kami, Candi
Borobudur dapat tetap menyandang predikat Warisan Budaya Dunia, sebuah amanah
yang selayaknya kita jaga bersama, kata Pujo Suwarno, Kepala Unit Taman Wisata
Candi Borobudur.

BAB III

PENUTUP

A.Simpulan

Candi Borobudur yang terletak di Yogyakarta jawa tengah memiliki banyak


candi yang berbeda-beda bentuk bangunannya.

Dan sekarang candi tersebut sudah diketahui banyak orang dari mulai bangsa
Indonesia sendiri sampai luar negeri.wisatawan pun sudah banyak yang berkunjung
langsung ke candi Borobudur.

11
B.Saran

Dengan diajukannya makalah ini,kami menyadari bahwasannya makalah ini


masih banyak kekurangan dari itu semua kami sangat senang apabila ada yang
memberikan saran.

12

Anda mungkin juga menyukai