Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Asma merupakan penyakit inflamasi kronik dari jalan napas yang
dikarakteristikkan dengan wheezing, kesulitan bernapas (sesak napas) dan batuk
(Long, 1996). Serangan asma timbul mendadak dan dapat berlangsung beberapa
menit, beberapa jam, sampai beberapa hari dan hilang dengan obat. Serangan asma
dapat bersifat sedang dan berat. Pada serangan yang berat, bernapas menjadi sangat
susah dan penderita harus mengeluarkan banyak tenaga untuk bernapas. Keadaan ini
disebut sebagai status asmatikus dimana merupakan suatu keadaan asma yang
refrakter (tidak mempan) dengan pengobatan rutin atau obat-obatan agonis beta dan
teofilin. (Smeltzer,2001)
Angka kejadian asma bervariasi diberbagai negara, tetapi terlihat kecenderungan
bahkan penderita penyakit ini meningkat jumlahnya, meskipun belakangan ini obat-
obatan asma banyak dikembangkan. National Health Interview Survey di Amerika
Serikat diperkirakan bahwa setidaknya 7,5 juta orang penduduk negeri itu mengidap
bronkitis kronik, lebih dari 2 juta orang penderita emfisema dan setidaknya 6,5 juta
orang menderita salah satu bentuk asma. Laporan organisasi kesehatan dunia (WHO)
dalam World Health Report 2000 menyebutkan, 5 penyakit paru utama merupakan
17,4% dari seluruh kematian di dunia, masing-masing terdiri dari infeksi paru 7,2%,
PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) 4,8%, tuberculosis, 3,0%, kanker
paru/trakea/bronkus 2,1 %, dan asma 0,3%.
Saat ini penyakit asma masih menunjukkan prevalensi yang tinggi. Berdasarkan
data dari WHO (2002) dan GINA (2011), diseluruh dunia diperkirakan terdapat 300
juta orang menderita asma dan tahun 2025 diperkirakan jumlah pasien asma mencapai
400 juta. Jumlah ini dapat saja lebih besar mengingat asma merupakan penyakit yang
underdiagnosed. Buruknya kualitas udara dan berubahnya pola hidup masyarakat
diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penderita asma. Data dari berbagai
negara menunjukkan bahwa prevalensi penyakit asma berkisar antara 1-18% (GINA,
2011),
Pada tahun 2013 prevalensi status asmatikus pasien rawat inap berdasarkan umur
tertinggi pada umur 25-44 tahun yaitu sebesar 31,56 % dan prevalensi terendah usia 7-
28 hari sebesar 0,05 %. Sementara prevalensi status asmatikus pasien rawat jalan

1
berdasarkan umur tertinggi pada umur 25-44 tahun yaitu sebesar 29,95 % dan
prevalensi terendah usia 7-28 hari sebesar 0,43 % (Global Initiative for Asthma, 2011
dalam Pusat data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Kondisi status asmatikus yang dibiarkan dapat terjadi obstruksi jalan napas dan
kerusakan reversible pada saluran napas yang akhirnya mengganggu pola napas klien.
Selanjutnya bila perawatan terhadap kepatenan jalan napas tidak adekuat maka klien
bisa mengalami gagal napas yang akhirnya mengarah pada kematian. (Huddack dan
Gallow, 1994)
Penanganan serangan karena penilaian berat serangan yang tidak tepat berakibat
pada pengobatan yang tidak adekuat. Kondisi penanganan tersebut menyebaban
perburukan asma yang menetap, menyebabkan serangan berulang dan semakin berat
sehingga beresiko jatuh dalam keadaan asma akut berat bahkan fatal (Marhana, 2010).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan Status Asmatikus?
2. Apa sajakah etiologi dari Status Asmatikus?
3. Bagaimanakah manifestasi klinis dari Status Asmatikus?
4. Bagaimanakah penatalaksanaan dari Status Asmatikus?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari Status Asmatikus
2. Mengetahui etiologi dari Status Asmatikus
3. Memahami manifestasi klinis dari Status Asmatikus
4. Memahami penatalaksanaan Status Asmatikus

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Asma adalah kondisi peradangan kronis pada saluran pernapasan yang ditandai
dengan mengi yang berulang, sesak napas, sesak dada dan batuk. Asma tidak dapat
dicegah atau disembuhkan tetapi manifestasi klinis dapat dikendalikan secara efektif
dengan pengobatan yang tepat. Ketika asma terkontrol, maka gejala hanya sesekali
kambuh (GINA, 2012:1).
Asma menyebabkan saluran udara menjadi lebih sensitif dan bereaksi terhadap hal-
hal yang biasanya tidak bereaksi, seperti tungau udara atau debu dingin dan bahkan
hewan peliharaan. Hal ini yang disebut pemicu (Asthma Society of Ireland, 2013: 2).
Asma merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi dengan diagnosis,
pengobatan dan edukasi pasien yang tepat dapat menghasilkan manajemen dan kontrol
asma yang baik. Dengan terkontrolnya asma maka dapat meningkatkan kualitas hidup
penderita asma (WHO, 2011).
Status asmatikus adalah suatu asma yang refraktor terhadap obat-obatan yang
konvensional (Smeltzer, 2001). Status asmatikus yang dialami penderita asma dapat
berupa pernapasan wheezing, Ronchi ketika bernapas (adanya suara bising ketika
bernapas), kemudian bisa berlanjut menjadi pernapasan labored (perpanjangan
ekshalasi), pembesaran vena leher, hipoksemia, respirasi alkalosis, respirasi sianosis,
dispnea dan kemudian berakhir dengan tachipnea. Namun makin besarnya obstruksi di
bronkus maka suara wheezing dapat hilang dan biasanya menjadi pertanda bahaya
gagal pernapasan (Bruner & Suddarth, 2001).

2.2 Etiologi
Lewis et al. (2000) tidak membagi pencetus asma secara spesifik. Menurut mereka,
secara umum pemicu asma adalah:
1. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu, bulu binatang,
serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
b. Ingestan, yang masuk melalui mulut yaitu makanan (seperti buah-buahan dan
anggur yang mengandung sodium metabisulfide) dan obat-obatan (seperti

3
aspirin, epinefrin, ACE- inhibitor, kromolin).
c. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.

Pada beberapa orang yang menderita asma respon terhadap Ig E jelas


merupakan alergen utama yang berasal dari debu, serbuk tanaman atau bulu
binatang. Alergen ini menstimulasi reseptor Ig E pada sel mast sehingga
pemaparan terhadap faktor pencetus alergen ini dapat mengakibatkan degranulasi
sel mast. Degranulasi sel mast seperti histamin dan protease sehingga berakibat
respon alergen berupa asma.
2. Olahraga
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Serangan asma karena aktifitas
biasanya terjadi segera setelah selesai beraktifitas. Asma dapat diinduksi oleh
adanya kegiatan fisik atau latihan yang disebut sebagai Exercise Induced Asthma
(EIA) yang biasanya terjadi beberapa saat setelah latihan.misalnya: jogging,
aerobik, berjalan cepat, ataupun naik tangga dan dikarakteristikkan oleh adanya
bronkospasme, nafas pendek, batuk dan wheezing. Penderita asma seharusnya
melakukan pemanasan selama 2-3 menit sebelum latihan.
3. Infeksi bakteri pada saluran napas
Infeksi bakteri pada saluran napas kecuali sinusitis mengakibatkan
eksaserbasi pada asma. Infeksi ini menyebabkan perubahan inflamasi pada sistem
trakeo bronkial dan mengubah mekanisme mukosilia. Oleh karena itu terjadi
peningkatan hiperresponsif pada sistem bronkial.
4. Stres
Stres / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga
bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Penderita diberikan motivasi
untuk mengatasi masalah pribadinya, karena jika stresnya belum diatasi maka
gejala asmanya belum bisa diobati.
5. Gangguan pada sinus
Hampir 30% kasus asma disebabkan oleh gangguan pada sinus, misalnya
rhinitis alergik dan polip pada hidung. Kedua gangguan ini menyebabkan
inflamasi membran mukus.

4
2.3 Manifestasi Klinis
Gejala asma sering timbul pada waktu malam dan pagi hari. Gejala yang di
timbulkan berupa batuk-batuk pada pagi, siang, dan malam hari, sesak napas, bunyi
saat bernapas (wheezing atau ngik..ngik..), rasa tertekan di dada, dan gangguan tidur
karena batuk atau sesak napas. Gejala ini terjadi secara reversibel dan episodik
berulang (Yayasan Asma Indonesia, 2008, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006,
Lewis et al., 2000). Pada keadaan asma yang parah gejala yang ditimbulkan dapat
berupa peningkatan distress pernapasan (tachycardia, dyspnea, tachypnea, retraksi iga,
pucat), pasien susah berbicara dan terlihat lelah. Gejala yang berat adalah keadaan
gawat darurat yang mengancam jiwa. Yang termasuk gejala yang berat adalah
serangan batuk yang hebat, sesak napas yang berat dan tersengal-sengal, sianosis (kulit
kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut), sulit tidur dengan posisi tidur yang
dianggap nyaman adalah dalam keadaan duduk, dan kesadaran menurun ( Depkes RI,
2007).
Gejala asma dapat diperburuk oleh keadaan lingkungan, seperti terpapar oleh bulu
binatang, uap kimia, perubahan temperatur, debu, obat (aspirin, beta-blocker), olahraga
berat, serbuk, infeksi sistem respirasi, asap rokok dan stres (GINA, 2004). Gejala asma
dapat menjadi lebih buruk dengan terjadinya komplikasi terhadap asma tersebut
sehingga bertambahnya gejala terhadap distress pernapasan yang biasa dikenal dengan
Status Asmatikus (Brunner & Suddarth, 2001).
Status Asmatikus yang dialami penderita asma dapat berupa pernapasan wheezing,
ronchi ketika bernapas (adanya suara bising ketika bernapas), kemudian bisa berlanjut
menjadi pernapasan labored (perpanjangan ekshalasi), pembesaran vena leher,
hipoksemia, respirasi alkalosis, respirasi sianosis, dyspnea dan kemudian berakhir
dengan tachypnea. Namun makin besarnya obstruksi di bronkus maka suara wheezing
dapat hilang dan biasanya menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan (Brunner &
Suddarth, 2001).

2.3 Penatalaksanaan
A. Penatalaksanaan Asma Akut Berat
Menurut (Made & Suastika, 1999) Segera setelah penderita
sampai di Unit Gawat Darurat atau Unit Pelayanan Kesehatan
lainnya, diagnosis ditegakkan dengan pengobatan harus
dilaksanakan. Ketetapan waktu dalam memulai dan

5
melaksanakan pengobatan yang efektif sering merupakan
tindakan yang menentukan dalam menangani serangan asma
berat yang dapat mengancam jiwa penderita.
Tujuan penatalaksanaan asma akut berat dan juga status
asmatikus adalah mencegah kematian, mengembalikan
keadaan klinis dan fungsi paru ke tingkat terbaik secepat
mungkin dan mempertahankan fungsi paru yang optimal serta
mencegah kekambuhan dini.
Penatalaksanaan asma akut berat adalah sebagai berikut:
1. Oksigen
Selalu diberikan, baik dengan kanula hidung atau sungkup
untuk mengatasi dan mencegah hipoksemia. Oksigen dapat
diberikan dalam dosis tinggi 4-6 liter/menit pada penderita
berat atau tanda gawat napas yang jelas.
2. Bronkodilator
Bronkodilator merupakan salah satu obat utama yang
diberikan pada serangan asma akut.
Disesuaikan dengan persediaan yang ada, bronkodilator
yang dapat diberikan pada asama akut berat adalah :

a. Inhalasi Agonis 2 dosis tinggi.

Saat ini merupakan pilihan pertama. Diberikan


salbutamol 2,5-5mg atau terbulatin 2,5-5mg secara
nebulisasi, dapat diulang setiap 20 menit dalam 1 jam.
Bila nebulizer tidak tersedia, inhalasi dapat diberikan
dengan mempergunakan inhalar dosis terukur yang
dilengkapi dengan spacer (nebuhaler, volumatik) 4-8
semprot/kali diulang setiap 20 menit dalam 1 jam.

b. Injeksi Agonis 2 atau Simpatomimetik lainnya,

Salbutamol, Terbutalin atau Orsiprenalin dapat diberikan


0,5-1ml subkutan diulang setelah 30 menit.
Adrenalin 1/1000, merupakan obat murah dan selalu
tersedia dapat diberikan secara subkutan 0,2-0,5cc.

6
Bisanya 0,3cc, dapat diulangi sampai 2-3 kali dengan

interval 30-60 menit. Injeksi Agonis 2 dan juga

Adrenalin diberikan harus dengan sangat hati-hati.


Sebaliknya tidak diberikan pada penderita dengan
hipertensi, hipertiroid, kelainan jantung dan usia lanjut
atau umur lebih dari 40 tahun.
c. Aminofilin Injeksi
Diberikan dengan dosis 5-6mg/kg berat badan
diencerkan dalam larutan Dekstrose 5% sama banyak,
diberikan secara intravena sebagai bolus perlahan-lahan
dalam waktu 10-15 menit, atau dalam infus 100cc
Dekstrose 5% NaCl 0,9% dalam waktu 20 menit. Dosis
diberikan separuhnya, apabila dalam 2 jam sebelumnya
telah mendapat aminofilin
d. Antikolinergik
Ipratropium bromid dapat digunakan sendiri maupun

dalam kombinasi dengan Agonis 2 melelui inhalasi

dengan nebulasi, penambahan ini tidak diperlukan bila

respons dengan Agonis 2 sudah cukup baik

3. Kortikosteroid
Kortikosteroid sistemik dosis tinggi harus segera diberikan
pada penderita asma akut berat. Steroid pilihan adalah yang
bekerja cepat, hidrokortison 200mg
intravena/metilprednison injeksi atau tablet 30-60mg atau
keduanya. Setelah dilakukan pengobatan awal dengan
bronkodilator dan steroid, terhadap penderita dilakukan
pemantauan yang mengenai klinis dan APE setiap 15 menit,
setelah 30 menit dilakukan evaluasi
a. Apabila tidak terjadi perbaikan sama sekali terhadap
terapi awal atau malah memburuk, maka penderita
langsung dirawat inap sebagai status asmatikus.

7
b. Penderita yang menunjukkan perbaikan namun tidak
adekuat, diulang pemberian bronkodilator dan observasi
dilanjutkan selama 60 menit. Bila setelah 60 menit
kondisinya menetap atau malah memburuk, langsung
dirawat inap. Perbaikan adekuat bila keadaan klinis
normal dan APE> 75% nilai dugaan atau 300-400
liter/menit.
c. Penderita dengan perbaikan adekuat, diobservasi lagi
selama 60 menit dan kemudian penderita dapat
dipulangkan.
Terhadap penderita yang dipulangkan dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan atau control esok harinya ke
poliklinik atau dokter yang bisa merawatnya dan diberikan

obat pemeliharaan berupa bronkodilator Agonis 2

inhalasi.
Penderita asma akut berat yang menunjukkan gejala atau
tanda yang sudah mengancam jiwa langsung dirawat inap
dirumah sakit, diperlukan seperti pengelolaan status
asmatikus.

B. Penatalaksanaan Status Asmatikus


Semua penderita yang dirawat inap di rumah sakit menunjukkan keadaan
obstruktif jalan napas yang berat. Perhatian khusus harus diberikan didalam
perawatannya, sedapat mungkin dirawat oleh dokter dan perawat yang
berpengalaman. Pemantauan harus dilakukan secara ketat berpedoman pada
klinis, uji faal paru (APE) untuk dapat menilai respons pengobatan apakah
membaik atau justru memburuk. Perburukan mungkin saja terjadi baik oleh
karena konstriksi bronkus yang lebih hebat lagi maupun sebagai akibat
terjadinya komplikasi seperti infeksi, pneumothoraks, pneumomediastinum
yang sudah barang tentu memerlukan pengobatan yang lainnya. Efek samping
obat yang berbahaya dapat terjadi pada pemberian drip aminofilin. Dokter yang
merawat harus mampu juga dengan akurat menentukan kapan penderita mesti
dikirim ke Unit Perawatan Intensif.

8
Penderita status asmatikus yang dirawat inap di ruangan, setelah dikirim
dari UGD dilakukan penatalaksanaan sebagai berikut:
1. Pemberian oksigen diteruskan
2. Agonis B2
Dilanjutkan dengan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis setiap jam,
kemudian dapat diperjarang pemberiannya setiap 4 jam bila sudah ada
perbaikan yang jelas. Sebagai alternative lain dapat diberikan dalam
bentuk inhalasi dengan nebuhaler/volumatic atau secara injeksi. Bila
tejadi perburukan, diberikan drip salbutamol atau terbutalin.
3. Aminofilin
Diberikan melalui infus/drip dengan dosis 0,5-0,9 mg/kgBB/jam.
Pemberian perdrip didahului dengan pemberian secara bolus apabila
belum diberikan. Dosis drip aminofilin direndahkan pada penderita
dengan penyakit hati, gagal jantung atau bila penderita menggunakan
simetidin, siprofloksasin, atau eritromisin. Dosis tinggi diberikan pada
perokok. Gejala toksik pemberian aminofiilin perlu diperhatikan. Bila
terjadi mual, muntah, atau anoreksia dosis harus diturunkan. Bila terjadi
konvulsi, aritmia jantung drip aminofilin segera dihentikan karena
terjadi gejala toksik yang berbahaya.
4. Kortikosteroid
Kortikosteroid dois tinggi intravena diberikan setiap 2-8 jam tergantung
beratnya keadaan serta kecepatan respons. Preparat pilihan adalah
hidrokortison 200-400 mg dengan dosis keseluruhan 1-4 gram/24 jam.
Sediaan lain yang juga dapat diberikan sebagai alternatif adalah
triamsinolon 40-80mg, deksametason/betametason 5-10 mg. dalam hal
ini tidak tersedianya kortikosteroid intravena, dapat diberikan
kortikosteroid peroral yaitu prednisone atau prednisolone 30-60 mg/hari.
5. Antikolinergik
Iptropium bromid dapat diberikan baik sendiri maupun dalam kombinasi
dengan agonis B2, secara inhalasi nebulisasi, penambahan ini tidak
diperlukan bila pemberian agonis B2 sudah memberikan hasil yang baik.
6. Pengobatan lainnya
a. Hidrasi dan Keseimbangan Elektrolit
Dehidrasi hendaknya dinilai secara klinis, perlu juga pemeriksaan

9
elektrolit serum, dan penilaian adanya asidosis metabolic. Ringer
laktat dapat diberikan sebagai terapi awal untuk rehidrasi dan pada
keadaan asidosis metabolic diberikan natrium bikarbonat.
b. Mukolitik dan ekspektorans
Walaupun manfaatnya diragukan pada penderita dengan obstruksi
jalan napas berat, ekspektoran seperti obat batuk hitam dan gliseril
guaikolat dapat diberikan, demikian juga mukolitik bromeksin
maupun N-asetilsistein
c. Fisioterapi dada
Drainase postural, vibrasi dan perkusi serta teknik fisioterapi lainnya
hanya dilakukan pada penderita dengan hipersekresi mucus sebagi
penyebab utama eksaserbasi akut yang terjadi.
d. Antibiotic
Diberikan kalau jelas ada tanda-tanda infeksi seperti demam, sputum
purulent dengan neutrophil leukositosis.
e. Sedasi dan antihistamin
Obat-obat sedative merupakan indikasi kontra, kecuali diruang
perawatan intensif. Sedangkan antihistamin tidak terbukti
bermanfaat dalam pngobatan asma akut berat, malahan dapat
menyebabkan pengeringan dahak yang mengakibtkan sumbatan
bronkus.
C. Penatalaksanaan Lanjutan
Setelah diberikan terapi intensif awal, dilakukan monitor yang ketat terhadap
respons pengobatan dengan menilai parameter klinis: sesak napas, bising
mengi, frekuensi napas, frekuensi nadi, retraksi otot bantu napas, APE, Foto
thoraks, analisis gas arteri, kadar serum aminofilin, kadar kalium dan gula darah
diperiksa sebagai dasar tindakan selanjutnya.
Indikasi Perawatan Intensif
Penderita yang tidak menunjukkan respons terhadap terapi intensif yang
diberikan perlu dipikirkan apakah penderita akan dikirim ke Unit Perawatan
Intensif. Penderita dengan keadaan berikut biasanya memerlukan perawatan
intensif
a. Terdapat tanda-tanda kelelahan
b. Gelisah, bingung, kesadaran menurun

10
Henti napas membakat (PaO2 < 40 mHg atau PaCO2 > 45 mmHg) sesudah
pemberian oksigen
D. Penatalaksanaan Lanjutan di Ruangan
Pada penderita yang telah memberikan respons yang baik terhadap pengobatan,
terapi intensif dilanjutkan paling sedikit 2 hari. Pada 2-5 hari pertama semua
pengobatan intravena diganti, diberikan steroid oral dan aminofilin oral serta
agonis B2 dengan inhaler dosis terukur 6-8 kali per hari atau preparat oral 3-4
kali perhari.
Pada hari 5-10, steroid oral (prednisone, prednisolone) diturunkan, obat B 2 dan
aminofilin diteruskan.
E. Penatalaksanaan Lepas Rawat
Kapan penderita dipulangkan, belum ada kriteria pasti yang dapat
dipergunakan. Sebagai patokan, penderita dapat dipulangkan apabila :
a. Tidak ada sesak waktu isirahat
b. Bising tidak ada atau minimal
c. Retraksi otot bantu napas minimal
d. Tidur sudah normal
e. APE >70% dari nilai normal atau nilai terbaik

Selama minggu pertama penderita dipulangkan, diberikan pengobatan yang


sama dengan hari-hari terakhir perawatan di rumah sakit. Yang terpenting
adalah mengenai penggunaaan steroid. Penurunana dosis steroid 5 mg/hari
baru dilakukan pada minggu kedua pasca perawatan. Pada penderita asma
kronik yang tergantung steroid penurunan steroid dilakukan sampai dosis
rendah yang masih ditoleransi penderita, sebaiknya diberikan dosis tunggal
pagi hari setiap hari atau selang sehari. Kalau memungkinkan, lebih baik
diberikan steroid aerosol.
Pendidikan terhadap penderita juga penting, diberikan pengetahuan tentang
obat-obatan yang harus dipergunakan, cara menggunkana inhaler, mengenal
tanda-tanda perburukan asmanya dan kapan harus segera mencari
pertolongan medic ke unit pelayanan kesehatan.

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STATUS ASMATIKUS

3.1 Kasus
Tn. Y 45 tahun datang ke Rumah Sakit Medikal dengan keluhan batuk secara terus
menerus sejak tadi malam disertai dahak yang begitu kental dan sulit untuk di
keluarkan. Sejak tadi malam juga tidak bisa tidur nyenyak bahkan tiap jam terbangun
karena batuk. Tn. Y juga mengatakan dadanya sesak, ketika bernapas juga terlihat
terengah-engah dan terdapat bunyi ngik-ngik. Istri Tn. Y mengatakan sejak dulu Tn.
Y memiliki riwayat sesak napas dan biasanya kambuh jika udara dingin atau ada debu
serta jika Tn. Y terlalu banyak pikiran. Saat dilakukan pengkajian terdapat suara nafas
whezing saat ekspirasi
RR : 34x/menit

12
S : 370C
N : 120x/menit
TD : 110/80 mmHg

3.2 Biodata:
Pasien
Nama : Tn. Y
Usia : 45 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Tani
Status pernikahan : Menikah
Suku : Jawa
Bangsa : Indonesia
Alamat : Jombang
Diagnosa medis : Status Asmatikus
Waktu/tgl MRS : 06.00WIB/ 21 Maret 2017

Penanggung Jawab
Nama : Ny. Y
Usia : 43 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Status pernikahan : Menikah
Suku : Jawa
Bangsa : Indonesia
Alamat : Jombang
Hubungan dgn klien : Istri

1. Keluhan utama :
Keluarga Tn. Y mengatakan klien sukar bernapas dan sesak

2. Riwayat Kesehatan:
a. Riwayat Penyakit Sekarang:

13
Tn. Y mengeluh batuk terus menerus pada malam hari disertai dahak
yang begitu kental dan sulit untuk dikeluarkan. Sejak tadi malam tidak bisa
tidur nyenyak dan setiap jamnya terbangun karena batuk. Pagi harinya Tn. Y
dibawa ke IGD Rumah Sakit Medikal pada jam 06.00 WIB. Pada saat di IGD
Tn. Y terlihat terengah-engah saat bernapas dan terdapat bunyi ngik-ngik
pada saat ekspirasi.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Tn. Y pernah masuk rumah sakit dengan kasus yang sama karena sesak
pada saat bernapas dan Tn. Y terlalu banyak pikiran.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Tn. Y mengatakan ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang
sama seperti Tn. Y yaitu ayah dari Tn.Y dan mempunyai alergi terhadap debu

3.3 Pengkajian Primer


a. Airway
Terdapat obstruksi jalan napas ditandai dengan suara napas ronchi dan weezing
pada saat ekspirasi
b. Breathing
Pernapasan cuping hidung (+), dispnea, terdapat retraksi dinding dada,
penggunaan otot sternokleidomastoid, RR: 34x/menit

c. Circulation
Sianosis, CRT > 2dtk, TD: 110/80mmHG, N: 120x/menit
d. Dissability
GCS: 445

3.4 Pengkajian Sekunder


a. Kepala
Inspeksi : bentuk simetris, penyebaran rambut merata
Palpasi : tidak ada jejas pada kepala , tidak ada nyeri tekan pada kepala ,
massa (-)
b. Mata
Inspeksi : konjungtiva merah muda, skelera mata tidak ikterik, pupil isokor
c. Hidung

14
Inspeksi : pernapasan cuping hidung (+), terpasang oksigen
d. Mulut dan bibir
Inspeksi : sianosis, membrane mukosa kering
e. Telinga
Inspeksi : telinga simetris, keadaan telinga bersih
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada tragus
f. Leher
Inspeksi : pembesaran vena jugularis (+), pembesaran kelenjar limfe
(-)
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, distensi vena jugularis (+)
g. Dada
Inspeksi : retraksi dinding dada (+), penggunaan otot bantu
pernapasan (+)
Palpasi : vocal fremitus menurun
Perkusi : terdengar bunyi pekak pada batas jantung normal

Auskultasi :
Ronchi Ronchi

Whezing Whezing

h. Abdomen
Inspeksi : distensi abdomen (-)
Auskultasi : bising usus 8x/menit
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : bunyi timpani
i. Kandung kemih
Inspeksi : tidak terpasang kateter
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
j. Kulit
Inspeksi : tidak ada jejas ataupun memar
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, S: 370C, CRT >2dtk
k. Ekstremitas atas dan bawah Bawah
Inspeksi : oedem (-)

15
Palpasi : akral dingin

3.5 Diagnosa Keperawatan

16
NS. DIAGNOSIS : 3.6
Bersihan jalan napas tidak efektif
(NANDA-I)
Intervensi
Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi
DEFINITION: jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap
paten
1. Batuk tidak efektif
2. Tidak mampu batuk
3. Sputum berlebih
4. Mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering
5. Mekonium di jalan napas (pada neonatus)
6. Dispnea
DEFINING
CHARACTERISTICS
7. Sulit bicara
8. Ortopnea
9. Gelisah
10. Sianosis
11. Bunyi napas menurun
12. Frekuensi napas berubah
13. Pola napas berubah
1. Spasme jalan napas
2. Hipersekresi jalan napas
3. Disfungsi neuromuskuler
4. Benda asing dalam jalan napas
5. Adanya jalan napas buatan
6. Sekresi yang tertahan
RELATED FACTORS: 7. Hiperplasia dinding jalan napas
8. Proses infeksi
9. Respon alergi
10. Efek agen farmakologis (mis. Anastesi)
11. Merokok aktif
12. Merokok pasif
13. Terpajan polutan
Subjective data entry Objective data entry
Keluarga Tn. Y mengatakan klien sukar bernapas RR : 34x/menit,
dan sesak S : 370C,
ASSESSMENT

N : 120x/menit
TD : 110/80mmHg
CRT >2dtk
Batuk tidak efektif
Ortopnea
Vokal fremitus menurun
Whezing
Ronkhi kering
DIAGNOSIS

Ns. Diagnosis (Specify):


Client Bersihan jalan napas tidak efektif
Diagnostic
Statemen: Related to:
Spasme jalan napas dan hipersekresi jalan napas
Keperawatan

KRITERIA HASIL INTERVENSION REASON OUTCOME

17
A (airway) 1. Kaji dan pantau 1. Untuk mengetahui 1. Jalan napas tidak
pernapasan, adanya obstruksi ada hambatan
reflek sekresi jalan napas 2. Bunyi napas
2. Berikan posisi 2. Untuk membantu bersih
semi fowler 15- melonggarkan
30 jalan nafas
3. Auskultasi bunyi 3. Memudahkan
napas untuk
4. Kolaborasi mengeluarkan
pemberian sputum
nebulizer
(bronkodilator-
expectoran)

B (breathing) 1. Pasien bisa


1. Pemberian 1. Untuk mensuplai bernafas dengan
oksigenasi 5- kebutuhan oksigen
efektif
8lt/mnt simple tubuh
face mask

C (circulation) 1. Pemantauan TTV 1. Untuk memantau 1. Tekanan darah,


dan CRT nadi, RR, Suhu
keadaan tanda-
dalam batas
tanda vital dan
normal, CRT
CRT pada klien
<2dtk

1. Klien dapat
D (disability) 1. Kaji tingkat 1. Untuk mengetahui menunjukkan
kesadaran dan tingkat kesadaran
kondisi kesadaran
respon dan respon klien
compos mentis
secara normal.
EVM = 456 dan
respon alert
(sadar)

3.7 Implementasi

18
Tanda
Tgl Jam Tindakan
tangan
21/03/2017 06.00 WIB A (airway)
1. Mengkaji dan memantau pernapasan, reflek
batuk dan sekresi
2. Memberikan posisi semi fowler 15
3. Melakukan auskultasi bunyi napas
4. Kolaborasi pemberian nebulizer (bronkodilator-
expectoran)

06.02 WIB B (breathing)


1. Memberikan oksigenasi 5-8lt/mnt simple face
mask (cari macam macam masker oksigen)

06.07 WIB C (circulation)


1. Melakukan observasi TTV dan CRT

D (disability)
06.08 WIB
1. Memantau status GCS dan respon klien

3.8 Evaluasi

19
KRITERIA
EVALUASI RENCANA
HASIL
A (airway) Pengaturan posisi semi fowler dapat Lanjutkan pemberian posisi
meringankan sesak nafas klien semi fowler

B (breathing) Pemberian O2 dapat mengurangi sesak Pemberian support O2 diteruskan


nafas pasien

C (circulation) Pemantauan pada tanda-tanda vital dan Tindakan pemantauan TTV dan
CRT klien setiap jam CRT di teruskan

D (disability) Setelah di lakukan pemantauan GCS Lanjutkan pemantauan GCS dan


dan respon, tingkat kesadaran klien respon
belum meningkat

S : Keluarga Tn. Y mengatakan klien


masih sukar bernapas dan sesak
O:
RR : 33x/menit,
S : 370C,
N : 120x/menit
TD : 110/80mmHg
CRT >2dtk
Ortopnea
Fokal fremitus menurun
Whezing
Ronkhi kering
Sianosis
A : Klien masih sesak
P : Intervensi dilanjutkan

BAB IV
PENUTUP

20
4.1 Kesimpulan
Status Asmatikus adalah penyakit asma yang berat disebabkan oleh peningkatan
respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam macam stimuli yang ditandai
dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih-lebihan dari
kelenjar-kelenjar di mukosa bronchus.
Pada status asmatikus Serangan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi,
ansietas, penggunaan tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi,
peningkatan blok adrenergic, dan iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini.
Epidsode akut mungkin dicetuskan oleh hipersensitivitas terhadap penisilin.

4.2 Saran
1) Mahasiswa
Untuk mahasiswa calon perawat sebaiknya sungguh-sungguh dalam belajar, supaya
dalam praktik nanti, ketika menemukan kasus-kasus gangguan status asmatikus,
mahasiswa calon perawat sudah dapat melakukan tindakan keperawatan
professional dengan tepat
2) Perawat
Untuk perawat dan tim kesehatan, lebih meningkatkan kinerja yang professional
dalam melayani pasien. Tunjukkan karakteristik keperawatan yang baik dengan
komunikasi terapeutik dan tindakan yang cepat, tepat, sikap ramah dan lembut,
sehingga mengurangi sakitnya klien. Perawat harus bisa memotivasi klien dan
keluarganya dalam proses keperawatan, supaya klien dapat semangat dalam
kesembuhannya.

Daftar Pustaka

21
Bakta I Made,dkk. 1999. Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta : EGC
Djojodibroto Darmanto. 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta : EGC
Rab Tabrani. 1996. Prinsip Gawat Paru (Edisi 2). Jakarta: EGC
Triyoga,H, Maliya, A & Kartikowati I, Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Ny. P
dengan Asma Bronchiale, jurnal gawat darurat

22