Anda di halaman 1dari 51

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot atau kelenjar) yang bersifat otomatis
atau tanpa sadar, terhadap situasi stimulus rtertentu. Respon tersebut melibatkan suatu rantai
yang terdiri atas sekurang-kurangnya dua neuron, membentuk suatu busur reeflkeksa (reflex
are). Dua neuron penting dalm suatu busur reflex adalah neuron aferen, sensori atau reseptor
dan neuron eferen motoris atau efektor. Umumnya diantara neuron reseptor dan neuron
efektor. Meskipun reflex dapat melibatkan berbagai bagian otak dan system saraf otonom,
refleks yang paling sederhana adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah
refleks rentang ( strets refleks) yang digambarkan dengan pemukulan ligamentum patella
(suatu tendon) sehingga melibatkan otot lutut terentang.
Refleks rentang memainkan sesuatu peranba penting namun agak sederhana dalam pereilaku.
Suatu otot rentang dan bereaksi dengan berkontraksi. Mesin refleks rentang memberikan
mekanisme pengendalian yang teratur dengan baik yang mengarahkan kontraksi otot-otot
antagonis dan secara terus-menerus memonitor keberhasilan dengan perintah-perintah dari
otak yang diteruskan dan dengan cepat mampu melakukan penyesuaian (Campbell, 2002).
Berdasarkan fungsinya, sel neuron dapat dibedakan menjadi 4 Bagian:
Neuron sensorik (nouron aferen) yauitu sel saraf yang bertugas menyampaikan rangsangan
dari reseptor ke pusat susunan saraf. Neuron memiliki dendrit yang berhubungan dengan
reseptor (penerima rangsangan) dan neurit yang berhubungan dengan sel saraf lainnya.
1. Neuron Motorik (nouronaferen), yaitu sel saraf yang berfungsi untuk menyampaikan impuls
motorik dari susunan saraf pusat ke saraf efektor. Dendrit menerima impuls dari akson neoron
lain sedangkan aksonnya berhubungan dengan efektor.
2. Neuron konektor adalah sel saraf yang bertugas menghubungkan antara neuron yang satu
dengan yang lainnya.
3. Neuron ajustor, yaitu sel saraf yang bertugas menghubungkan neuron sensorik dan neuron
motorik yang terdapat di dalam sumsum tulang belakang atau di otak
(Idel, 2000).
Refleks pada dasarnya merupakan suatu respon dalam rangka mengelak dari suatu
rangsangan yang dapat membahayakan atau mencelakakan. Ciri refleks adalah respon yang
berlangsung cepat atau tidak disadari oleh yang bersangkutan. Reflex semacam ini
dinamakan reflex bawaan yang pusatnya pada sumsum tulang belakang. Impuls saraf berasal
dari reseptor dibawa oleh sareaf eferen yang bersifat sensorik, menuju ke system sarf pusat,
yaitu sumsum tulang belakang. Di sum-sum tulang belakang, impuls di transfer oleh neuron
asesori dari neuron sensori ke neuron motorik. Dari neuron motorik impuls di alirkan melalui
sarf motorik ke efektor.( isnaeni,wiwi.2006)
Jika dilihat dari bentuk atau aksi yang ditimbulkan, reflex memiliki berbagai
karakteristik , yaitu dapat diramalkan, mempunyai tujuan tertentu, memiliki reseptor tertentu,
mempunyai periode laten, spontan dan tidak dapat dipelajari, berfungsi sebagai pelindung
dan pengatur, serta periode latin akan lama pada respon yang terus menerus sehingga akan
menimbulkan kelelehan.ada beberapa jenis macam reflex, yaitu reflex spinal, medulla,
cerebral,superficial, miotatik, dan reflex visceral. Reflex sebagai integrasi sinapmemiloiki
bagian-bagian antara lain serabut saraf sensorik-saraf spinal akar dorsalis-interneuron-saraf
akar ventralis-serabut motorik. Antar satu serabut satu dengan serabut lainnya sudahb tentu
memiliki hubungan integrasi. Dalam integrasi antar ujung-ujung saraf dalam sinaps tersebut
ada tiga hal yang dimunculkan.
1. Summasi Terdiri atas sum-sum tenporal yang berupa pengulangan impalas untuk dapat
menimbulkan respon summasi spiasial.
2. Fasilitas Merupakansuatu proses poenambahan eksitasi pada hubungan sinaps yang tidak
memperlihatkan adanay summasi respon elektrik. Pada kondisi ini potensial pada portsinapsis
akan meningkat.
3. Inhibitor Adalah proses penghambatan respon pada organ efektor. Jika dilihat dari
mekanisme jalannya rangsangan, stimulus memiliki bentuk sinaps inhibitor (menghambat)
dan sinapos eksitator 9 mempercepat). Misalnya stimulus dengan sinaps inhibitor adalah saat
relaksasi sebagai respon adanya stimulus, sedangkan contoh sinaps eksikator adalah saat otot
kontraksi sebagai respon adanya stimulus. Bentuk ke dua respon pada anggota badan yang
sama disebut dengan hambatan ses yang terjadi pada refleks melalui jalan tertentu disebut
lengkung refleks. Komponen-komponen yang dilalui refleks :
1. Reseptor rangsangan sensorik yang peka terhadap suatu rangsangan misalnya kulit
2. Neuron aferen (sensoris) yang dapat menghantarkan impuls menuju kesusunan saraf pusat
(medula spinalis-batang otak)
3. Pusat saraf (pusat sinaps) tempat integrasi masuknya sensorik dan dianalisis kembali ke
neuron eferen
4. Neuron eferen (motorik) menghantarkan impuls ke perifer
5. Alat efektor merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu serat otot atau
kelenjar
Walaupun otak dan sum-sum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi
susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak dibagian luar atau kulitnya dan
dibagian putih terletak ditengah. Pada sum-sum tulang belakang bagian tengah berupa materi
kelabu berbentuk kupu-kupu,sedangkan pada bagian-bagian korteks juga dapat berupa materi
putih.(Syaifuddin,2006 : 214).
Sistem saraf tersusun atas miliaran sel yang sangat khusus yang disebut sel saraf
(neuron). Setiap neuron tersusun atas badan sel, dendrit, dan akson (neurit).
Badan sel merupakan bagian sel saraf yang mengandung nukleus (inti sel) dan
tersusun pula sitoplasma yang bergranuler dengan warna kelabu. Di dalamnya juga terdapat
membran sel, nukleolus (anak inti sel), dan retikulum endoplasma. Retikulum endoplasma
tersebut memiliki struktur berkelompok yang disebut badan Nissl. Pada badan sel terdapat
bagian yang berupa serabut de ngan penjuluran pendek. Bagian ini disebut dendrit. Dendrit
memiliki struktur yang bercabang-cabang (seperti pohon) dengan berbagai bentuk dan
ukuran. Fungsi dendrit adalah menerima impuls (rangsang) yang datang dari reseptor.
Kemudian impuls tersebut dibawa menuju ke badan sel saraf. Selain itu, pada badan sel juga
terdapat penjuluran panjang dan kebanyakan tidak bercabang. Namanya adalah akson atau
neurit. Akson berperan dalam menghantarkan impuls dari badan sel menuju efektor, seperti
otot dan kelenjar. Walaupun diameter akson hanya beberapa mikrometer, namun panjangnya
bisa mencapai 1 hingga 2 meter.Supaya informasi atau impuls yang dibawa tidak bocor
(sebagaiisolator), akson dilindungi oleh selubung lemak yang kemilau. Kita bisa
menyebutnya selubung mielin. Selubung mielin dikelilingi oleh sel-sel Schwan. Selubung
mielin tersebut dihasilkan oleh selsel pendukung yang disebut oligodendrosit. Sementara itu,
pada akson terdapat bagian yang tidak terlindungi oleh selubung mielin. Bagian ini disebut
nodus Ranvier, yang berfungsi memperbanyak impuls saraf atau mempercepat jalannya
impuls. Sel saraf penghubung Merupakan penghubung sel saraf yang satu dengan sel saraf
yang lain.Sel saraf mempunyai kemampuan iritabilitas dan konduksivitas. Iritabilitas
artinyakemampuan sel saraf untuk bereaksi terhadap perubahan lingkungan. Dan
konduksivitasartinya kemampuan sel saraf untuk membawa impuls- impuls saraf (Anonim,
2011).
Akson tidak seluruhnya disebungi oleh selaput mielin, tetapi ada tempat tertentu
terdapatbagian akson yang tidak diselubungi oleh selaput mielin yang disebut takik ranvier
(Node of Ranvier). Takik merupakan kesenjangnan- kesenjangan yang terdapat antara dua sel
schwan yang berdekatan sepanjang akson. Sel saraf biasanya menerima informasi melalui
dendritdan badan sel dan menghantarkannya melalui akson. Urutan ini disebut polarisasi
dinamik (Pagarra, C2011).
Dendrit pada umumnya tidak diselubungi selaput mielin. Sedangkan pada akson
adayang diselubungi selaput mielin dan ada yang tidak. Selaput mielin sebenarnya
merupakanlapisan- lapisan membran sel schwan yang melilit akson berkali- kali dan
membangunkompleks lipoprotein yang disebut mielin. Mielin berfungsi sebagai isolator dan
melindungiakson terhadap tekanan dan luka, dan di duga memberi nutrisi terhadap akson
danmempercepat jalannya impuls (Pagarra, 2011)

BAB III
METODOLOGI KERJA
A. WAKTU DAN TEMPAT
Hari/tanggal : Selasa,11 Juni 2013
Waktu : Pukul 10.30-12.00 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi FKIP UVRI Makassar.
B. ALAT DAN BAHAN
a. Untuk pengamatan gerak refleks
Alat:
1. Lampu Senter
2. Tusuk gigi
3. Hummer
4. Kapas
5. Baki alat
Bahan:
1. Probandus (adovhina somi sabon)
b. Untuk pengamatan sistem saraf
Alat:
1. Cawan petri
2. Pisau
3. Penutup mata
Bahan:
1. Buah apel
2. Buah pir
3. Kentang
4. Jeruk nipis
5. Jeruk purut
6. Bawang merah
7. Bawang putih

C. CARA KERJA
1. percobaan 1 ( gerak refleks )
a. refleks lutut
Orang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai akan tergantung
bebas dengan fleksi tungkai pada sendi lutut. Ketuklah tendo patella dengan hummer
sehingga terjadi ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps.Tungkai difleksikan pada
sendi lutut dan kaki didorsofleksikan. Ketuklah tendo Achilles, sehingga terjadi plantar fleksi
dari kaki dan kontraksi otot.
b. Refleks menanggap
Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi siku. Ketuklah pada tendo otot biseps
akan menyebabkan fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps. Lengan bawah
difleksikan pada sendi siku sedikit dipronasikan. Ketuklah pada tendo otot triseps 5 cm di
atas siku akan menyebabkan ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps.
c. Withdrawl Reflex
Lengan orang coba diletakkan di atas meja dalam keadaan ekstensi. Tunggulah sampai orang
coba tidak melihat saudara, tusuklah dengan hati-hati dan cepat kulit tangan dengan jarum
suntik steril, sehalus mungkin agar tidak melukai orang coba. Respon berupa fleksi lengan
tersebut menjauhi stimulus.
d. Refleks cahaya
Mata probandus di buka lebar-lebar kemudian berikan sentuhan dengan menggunakan kapas
yang telah di basahi, dan lihatlah reaksinya dan catat hasilnya.
2. Percobaan 2 ( sistem saraf )
1. Memotong buah yang telah tersedia menjadi bentuk dadu.
2. Menempatkan potongan buah tersebut kedalam cawan petri.
3. Memulai mengidentifikasi macm-macam buah yang akan diujikan dengan cara:

1. Untuk perlakuan 1
Menutup mata probandus dan memberikan perlakuan dengan cara mencium dan menjilat
atau menggigit buah yang diujikan kemudian mencatat hasilnya sesuai atau tidak dengan
buah yang diujikan.
2. Untuk perlakuan 2
Menutup mata dan hidung probandus dan memberikan perlakuan dengan cara menjilat atau
menggigit buah yang diujikan kemudian mencatat hasilnya sesuai atau tidak dengan buah
yang diujikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENGAMATAN
1. Untuk percobaan 1 ( gerak refleks)
Nama probandus : Adovina somi sabon
umur : 21 tahun
jenis kelamin : Perempuan

Macam Respon
No gerak menjauh mendekat kketerangan
ada Tidak
refleks
Poli : kaget
1 refleks lutut - -
dan menjauh
Poli : menjauh
Refleks dari cahaya,
2 - -
cahaya pupil mata
mengecil

Poli : kaget
Refleks dan lengan
3 - -
withdrawl nya mendekat
kearah tusukan
Poli : berkedip
Refleks dan
4 - -
menanggap mengeluarkan
air mata

2. Untuk percobaan 2 ( sistem saraf )


Nama probandus : Irfan
Umur : 23 tahun
Jenis kelamin : laki-laki

Macam Identifikasi
Perlakuan 1 Perlakuan 2
No buah Benar Salah Benar Salah
1 Apel - -

2 Pir - -
3 Kentang -

4 Jeruk nipis - - -

5 Jeruk purut - -

Bawang
6 - -
merah
Bawang
7 - -
putih

B. PEMBAHASAN
a. Untuk percobaan 1 ( gerak refleks )
Refleks adalah jawaban motorik atas rangsangan sensorik yang diberikan pada
kulit atau respon apapun yang terjadi secara otomatis tanpa usaha sadar.Pada manusia, ada
dua jenis refleks yaitu refleks fisiologis dan patologis.Refleks fisiologis normal jika terdapat
pada manusia, sebaliknya refleks patologis normal jika tidak terdapat pada manusia.
1. Pada refleks kornea atau refleks mengedip (menanggap), orang coba menggerakkan bola
mata ke lateral yaitu dengan melihat salah satu sisi tanpa menggerakkan kepala. Kemudian
sisi kontralateral kornea orang coba disentuh dengan kapas yang telah digulung membentuk
silinder halus. Respon berupa kedipan mata secara cepat. Sentuhan pada sisi kornea dengan
kapas yang berbentuk silinder halus akan mengakibatkan kontraksi secara spontan pada bola
dengan berkedip dan mengaluarkan air mata. Hal ini disebabkan mata termasuk organ tubuh
yang sangat sensitif terhadap benda-benda asing
2. Pada percobaan tentang refleks cahaya akan dilihat bagaimana respon pupil mata ketika
cahaya senter dijatuhkan pada pupil. Ternyata repon yang terjadi berupa kontriksi pupil
homolateral dan kontralateral. Jalannya impuls cahaya sampai terjadi kontriksi pupil adalah
berasal dari pupil kemudian stimulus diterima oleh N.Opticus, lalu masuk ke mesencephalon,
dan kemudian melanjutkan ke N.Oculomotoris dan sampai ke spingter pupil. Refleks cahaya
ini juga disebut refleks pupil. Pada percobaan refleks cahaya, pupil mata mengalami
pengecilan.Cahaya yang berlebihan yang masuk kedalam mata membuat pupil mata menjadi
kecil.
3. Pada percobaan refleks withdrawl, lengan bawah orang coba difleksikan pada sendi tangan
dan sedikit dipronasikan kemudian dilakukan pengetukan periosteum pada ujung distal os
radii.Pada percobaan refleks periost radialis terjadi gerakan fleksi. Hal ini menandakan
tangan orang coba normal karena respons ketika diketuk. Jalannya impuls pada refleks
periost radialis yaitu dari processus styloideus radialis masuk ke n. radialis kemudian
melanjutkan ke N. cranialis 6 sampai Thoracalis 1 lalu masuk ke n. ulnaris lalu akan
menggerakkan m. fleksor ulnaris. Respon yang terjadi berupa fleksi lengan bawah pada siku
dan supinasi tangan.
4. Pada percobaan refleks perost ulnaris terjadi supunasi dan ini menundakan bahwa tangan
orang coba normal. Pada percobaan refleks stretuch pada kpr terjadi ekstensi yang disertai
kontraksi otot kuadriseps, APR terjadi plantar fleksi dan kontraksi otot gastroknimius, untuk
biseps terjadi fleksi lengan dan kontraksi otot biseps dan refleks triseps dan withdrawl refleks
mengalami fleksi dan ekstensi pada lengan.Respon dari refleks periost ulnaris berupa pronasi
tangan. Jalannya impuls saraf berasal dari processus styloideus radialis masuk ke n. radialis
kemudian melanjutkan ke N. cranialis 5-6 lalu masuk ke n. radialis lalu akan menggerakkan
m. brachioradialis.
5. Bila suatu otot rangka dengan persarafan yang utuh diregangkan akan timbul kontraksi.
Respon ini disebut refleks regang. Rangsangannya adalah regangan pada otot, dan responnya
berupa kontraksi otot yang diregangkan. Reseptornya adalah kumparan otot. tungkai
difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan.Respon yang terjadi ketika tendo
Achilles diketuk berupa fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius.Ketika dilakukan
ketukan pada tendo otot biseps terjadi respon berupa fleksi lengan pada siku dan
supinasi.Sedangkan jika tendo otot triseps diketuk, maka respon yang terjadi berupa ekstensi
lengan dan supinasi.
b. Untuk percobaan 2 ( sisitem saraf )
Rasa nikmat dan lezat dari setiap makanan yang dirasakan dipengaruhi oleh adanya
rangsangan pada lidah. Ungkapan rasa sakit seperti mengucapkan kata aduh juga terkait
rangsangan pada bagian tertentu tubuh kita. Oleh karena itu, rangsangan (stimulus) diartikan
sebagai segala sesuatu yang menyebabkan perubahan pada tubuh atau bagian tubuh tertentu.
Sedangkan alat tubuh yang menerima rangsangan tersebut dinamakan indra (reseptor).
Adanya reseptor, memungkinkan rangsangan dihantarkan menuju sistem saraf pusat. Di
dalam saraf pusat, rangsangan akan diolah untuk dikirim kembali menuju efektor, seperti otot
dan tulang oleh suatu sel saraf sehingga terjadi tanggapan (respons).
Sementara itu, rangsangan yang menuju tubuh dapat berasal dari bau, rasa (seperti
pahit, manis, asam, dan asin), sentuhan, cahaya, suhu, tekanan, dan gaya berat. Rangsangan
semacam ini akan diterima oleh indra penerima yang disebut reseptor luar (eksteroseptor).
Sedangkan rangsangan yang berasal dari dalam tubuh misalnya rasa lapar, kenyang,
nyeri, maupun kelelahan akan diterima oleh indra yang dinamakan reseptor dalam
(interoseptor). Tentu semua rangsangan ini dapat kita rasakan karena pada tubuh kita terdapat
sel-sel reseptor.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Pada percobaan gerak refleks pada lutut respon yang dihasilkan yaitu kaget dan menjauh.
2. Pada percobaan gerak refleks pada cahaya respon yang dihasilkan yaitu menjauh dari cahaya
dan pupi mata mengecil.
3. Pada percobaan gerak refleks withdrawl respon yang dihasilkan yaitu kaget dan lengan
mendekat kearah tusukan.
4. Pada percobaan gerak refleks menanggap respon yang dihasilkan yaitu berkedip dan
mengeluarkan air mata.
Pada percobaan sistem saraf didapatkan bahwa perlakuan 1 dan perlakuan 2 Hasilnya
hampir sama yaitu dari 7 buah yang di identifikasi terdapat 5 buah yang di jawab benar.

B. SARAN
Saat melaksanakan praktikum mahasiswa di harapkan lebih teliti sehingga tidak
terjadi kesalahan dalam percobaan. Untuk dosen pendamping praktikum di harapkan mampu
lebih menjelaskan mengenai praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Biologi. Penerbit Erlangga: Jakarta.


Campbell.1994. Biologi Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Http//Idel@2000.Pdf.Praktikum .co.id
Isnaeni,wiwi.2006.Fisiologi Hewan.Yogyakarta: penerbit kasinius.
Syaifuddin.2006.Fisiologi Hewan. UT : Jakarta
www.wikipedia.comDiakses tanggal 11 Mei 2011Pagarra, Halifah dan Adnan. 2011.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sungguh besar karunia Tuhan kepada kita, begitu banyak nikmat yang tuhan
anugrahkan kepada kita mulai dari hal yang sangat kecil atau bahkan hal-hal yang besar
hingga hal-hal yang tidak kita sadari. Pada makhluk hidup, tentunya setiap makhluk hidup
melakukan sesuatu hal untuk bertahan hidup. Secara umum hal yang kita maksud disini
adalah kemampuan suatu makhluk hidup dalam mencari makanan.
Berbicara tentang bertahan hidup (survival) seperti yang telah dijelaskan di atas,
dimana yang kita angkat disini adalah kemampuan mencari makanan. Kemampuan mencari
makanan tentunya harus di dukung oleh kemampuan organism tersebut. Dalam praktikum ini
yang kita maksudkan adalah kemampuan untuk bergerak . pada unit kali ini, kita akan
berbicara tentang bergerak, tentunya ada macam-macam gerak. Ada gerak dengan sengaja
serta ada gerak dengan tidak sengaja atau kita sebut dengan gerak reflek.
Bahasan kita pada unit kali ini adalah masalah gerak reflek. Pernahkah anda sadari
seberapa besar manfaat gerak reflek untuk kita? Kita buat analogi tentang kejadian yang
sering terjadi di dalam kehidupan kita. Contoh misalnya kita lagi di dapur, sedang memasak
sesuatu kemudian tidak sengaja kita menyentuh bagian panas dari alat-alat yang kita pakai
memasak sebelumnya, terus apa yang kita lakukan adalah langsung menarik tangan kita
dengan cepat, itulah gerak reflek. Coba fikirkan jikalau tidak ada gerak reflek tangan kita
menempel kepada benda panas, mungkin tangan kita sudah terluka parah karena panas baru
kita sadari bahwa ternyata tadi panas.
Sungguh besar karunia tuhan, maka dari itu penting untuk kita melakukan praktikum
ini sebagai tambahan wawasan, serta sebagai cara untuk mengetahui macam-macam gerak
reflek serta tempat-tempat pada bagian tubh yang memiliki respon gerak reflek.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk memahami pengertian refleks dan mempelajari
reaksi-reaksi pada beberapa bagian tubuh sebagai akibat dari rangsangan.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini agar mahasiswa dapat memahami pengertian refleks dan
mempelajari reaksi-reaksi pada beberapa bagian tubuh sebagai akibat dari rangsangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ada dua sistem gerak pada manusia, yaitu gerak reflex dan gerak sadar
(terkoordinasi). Refleks ialah aktifitas yang timbul langsung sebagai respon terhadap
rangsangan tanpa olahan syaraf sentral bagian korteks. Refleks bermacam-macam dari yang
sederhana hingga yang kompleks. Contoh refleks yang sederhana adalah refleks menyusu.
Bayi yang baru lahir dan sehat sudah dapat menghisap susu dari payudara ibunya. Refleks
alimentasi ini dapat dimulai dari pipi bayi yang disentuh puting payudara. Bayi akan
menengok ke arah payudara yang akan dihisap itu. Mulutnya membuka, bibirnya menangkap
puting payudara, mungkin tangannya akan memegang payudara itu, lalu timbul gerakan
menghisap dan menelan. Semua aktifitas ini berjalan reflektoris (Suyanto, 2010).
Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana.
Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensr, interneuron, dan neuron motor, yang
mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks yang paling sederhana
hanya memerlukan dua tipe sel saraf yaitu neuron sensor dan neuron motor. Gerak refleks
disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Gerak
refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh sel saraf sensori langsung disampaikan
oleh neuron perantara atau neuron penghubung (Wulandari, 2009).
Ciri refleks adalah respon yang terjadi berlangsung dengan cepat dan tidak di sadari.
Sedangkan lengkung refleks adalah lintasan terpendek gerak refleks. Neuron konektor
merupakan penghubung antara neuron sensorik dan neuron motorok. Jika neuron konektor
berada di otak, maka refleksnya di sebut refleks otak. Jika terletak di sumsum tulang
belakang, maka refleksnya disebut refleks tulang belakang (Taiyeb, 2016).
Prinsip kegiatan system saraf ditampilkan dalam bentuk kegiatan gerak refleks.
Dengan adanya gerak refleks dimungkinkan terjadinya kerja yang baik dan tepat antara
berbagai organ dari individu dan hubungan individu dengan sekelilingnya. Refleks
merupakan reaksi organism terhadap perubahan lingkungan baik di dalam maupun luar
organism (Syaifuddin: 2006)
Suatu refleks adalah setiap respon yang terjadi secara ototmatis tanpa di sadari.
Terdapat dua tipe refleks, yaitu refleks sederhana atau refleks dasar yang menyatu tanpa
dipelajari, seperti menutup mata pada saat ada benda menuju ke arahnya dan refleks yang
dipelajari atau refleks yang di kondisikan (conditioned refleks), yang dihasilkan dari berbuat
dan belajar, sepeti membelokkan stri mobil kalau mau menabrak benda. Kita mengerjaka hal
tersebut secara ototmatis, tetapi hanya setelah banyak berlatih secara sadar (Basoeki, 2003)
Gerak refleks merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan terjadi jauh
lebih cepat dari gerak sadar misalnya menutup mata dari debu, menarik tangan dari benda
panas yang menyakitkan yang tersentuh tanpa sengaja. Gerak refleks dapat dihambat oleh
kemauan sadar, misalnya bukan saja tidak menarik tangan dari benda panas bahkan dengan
sengaja menyentuh permukaan benda panas itu (Pearce 2009).
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara ototmatis terhadap
rangsangan tanpa memerlukan kontrol dari otak. Gerak refleks yang paling sederhana
memerlukan dua tipe sel saraf, yaitu neuron sensorik dan neuron motorik. Gerak refleks
bekerja bukanlah dibawah kesadaran dan kemauan seseorang. Pada gerak refleks, impuls
melalui jalan pendek atau jalan pintas yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang,
kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, di terima oleh sel saraf penghubung
(asosiasi) tanpa di olah di dalam otak langsung di kirim tanggapan ke saraf motor untuk di
sampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar, jalan pintas ini di sebut lengkung refleks
(Wulandari, 2009).
Kegiatan pada lengkung refleks di mulai di reseptor sensorik sebagai potensial
reseptor yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Potensial reseptor ini akan
membangkitkan potensial aksi yang bersifat gagal atau tuntas di saraf eferen. Bila potensial
aksi ini sampai ke efektor, terjadi lagi respon yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang.
Efektor yang berupa otot rangka, respon bertahap tersebut selalu cukup besar untuk
mencetuskan potensil aksi yang mampu menghasilkan kontraksi otot. Hubungan antara
neuron aferen dengan eferen biasanya terdapat di sistem saraf pusat (Ganong, 2009).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/Tanggal : Kamis//26 Mei 2016
Pukul : Pukul 16.00 s.d 17.50 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai III Barat FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Martil Refleks
2. Senter
3. Jarum
4. kursi
b. Bahan
1. Probandus
2. Kapas
3. Aquadest
C. Prosedur Kerja
1. Refleks lutut
a. Mencoba duduk dengan bertumpang kaki (kaki kanan diatas) dan mengalihkan perhatiannya
ke sekelilingnya.
b. Penguji memukul ligamentum patella dengan martil refleks.
c. Mengamati hasilnya dan mencatat pada lembar pengamatan.
2. Refleks tumit
a. Mencoba berdiri dengan kaki kiri dibengkokkan dan naracoba mengalihkan perhatiannya ke
sekelilingnya.
b. Penguji memukul tendo Achilles kaki kiri naracoba dengan martil refleks. Mengamati gerak
refleks yang terjadi.
3. Refleks bisep
a. Meluruskan lengan naracoba secara pasif dan meletakkannya di atas meja. Naracoba
mengalihkan perhatiannya.
b. Penguji memukul tendi m. Bisep brakii lengan dengan martil refleks dan mengamati gerak
refleks yang terjadi.
4. Refleks trisep
a. Membengkokkan lengan kiri naracoba secara pasif, mengalihkan perhatiannya.
b. Penguji memukul tendo m. Trisep brakii lengan dengan martil refleks, mengamati gerak
refleks yang terjadi.
5. Refleks mengejap
a. Naracoba membuka kedua matanya dan mengarahkan pandangannya ke titik yang jauh.
b. Penguji menyentuh permukaan kornea mata kanan dengan ujung kapas yang telah di basahi
dengan aquadest.
c. Mengamati dan mencatat gerak refleks yang terjadi.
6. Refleks dinding perut
a. Naracoba membuka bagian perut dan bersikap rileks atau santai.
b. Penguji menggores dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal
dari lateral ke medial dengan menggunakan bagian tumpul jarum.
c. Mengamati dan mencatat refleks yang terjadi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Data Kelompok IV
Macam refleks
Nama Probandus
Lutut Tumit Trisep Bisep Mata Perut
Ahsan Qadri -
Nur Ainun A -
Vera A - -
Widya SPP
Dwi Sinta A
Mauliani - -
Wahyu
Fitriani
Data Kelas
N Nama lutut tumit trisep bisep mata perut
o
1 Fitriani
2 Sinta
3 Widya
4 Mauliani
5 Vera
6 Ainun
7 Qadri
8 Wahyu
9 Rusnita
10 Jiahadi
11 Fitriandani
12 Nurhuda
13 Rabiatul
14 Hasriana
15 Elsa
16 Yuliana
17 Marina
18 Azizah
19 Dhia
20 Nurfajrianti
21 Anita
22 Demmanyai
23 Alvia
24 Athifatul
25 Agung
26 Rhoiha
27 Fajri
28 Gunadi
29 Ogy
30 Ningsih
31 Resky
32 Ayu
33 Varadillah
34 Aprilyani
35 Windy
36 Fadilah
37 Ilmi
38 Sinta
39 Sri
40 Husnil
41 Iksan
42 Anggelina
43 Intan
44 Khairul
45 Herni
46 Fajryani
47 Auliyah Mis
48 Khalifah
49 Indra
50 Aisyah
51 Supriadi
52 Ulfa
53 Fadil

B. Pembahasan
Kegiatan praktikum kali ini dengan mengamati masalah gerak, lebih tepatnya masalah
gerak reflex. Sebelumnya perlu kita kerahui terlebih dahulu bahwa gerak reflex bersifat tidak
disadari atau diluar kendali manusia karena butuhnya manusia respon atau tanggap cepat
terhadap rangsang yang ada dari luar misalnya kita lagi di dapur, sedang memasak sesuatu
kemudian tidak sengaja kita menyentuh bagian panas dari alat-alat yang kita pakai memasak
sebelumnya, terus apa yang kita lakukan adalah langsung menarik tangan kita dengan cepat,
itulah gerak reflek. Coba fikirkan jikalau tidak ada gerak reflek tangan kita menempel kepada
benda panas, mungkin tangan kita sudah terluka parah karena panas baru kita sadari bahwa
ternyata tadi panas.
Proses terjadinya gerak refleks ini tentunya diawali dengan adanya rangsangan,
kemudian rangsangan tersebut akan di teruskan ke otak atau sumsum tulang belakang melalui
neuron sensorik dengan kecepatan yang sangat tinggi kemudian menuju ke efektor (luar
tubuh) melalui neuron motorik sebagai tanggapan terhadap rangsangan yang diperoleh.
Kegiatan praktikum unit ini menggunakan 6 macam daerah untuk diuji ada tidaknya
gerak reflex pada tubuh probandus. Yaitu gerak refleks pada lutut, gerak refleks pada tumit,
gerak refleks pada bisep, gerak reflkes pada trisep, gerak refleks mengejapkan mata, dan yang
terakhir adalah gerak refleks pada dinding perut. Itulah 6 daerah yang akan diujikan.
Berdasarkan hasil pengamatan, maka diketahui bahwa pada pengujian gerak reflex
pada lutut dari 53 probandus 50 orang yang memiliki gerak reflex. Pada pengujian gerak
reflex pada tumit dari 53 probandus 49 orang yang memiliki gerak reflex. Pada pengujian
gerak reflex pada bisep dari 53 probandus 41 orang yang memiliki gerak reflex. Pada
pengujian gerak reflex pada trisep dari 53 probandus 45 orang yang memiliki gerak reflex.
Pada pengujian gerak reflex pada perut dari 53 probandus 44 orang yang memiliki gerak
reflex sedang pada mata, semua probandus memiliki gerak refleks. Dari hasil pengamatan ini
dapat diketahui bahwa semua probandus yang telah di uji pada 6 titik tertentu secara umum
memiliki gerak refleks.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses terjadinya gerak refleks ini tentunya diawali dengan adanya rangsangan,
kemudian rangsangan tersebut akan di teruskan ke otak atau sumsum tulang belakang melalui
neuron sensorik dengan kecepatan yang sangat tinggi kemudian menuju ke efektor (luar
tubuh) melalui neuron motorik sebagai tanggapan terhadap rangsangan yang diperoleh. Serta
diketahui bahwa pada 6 titik pengujian, umumnya probandus memiliki gerak refleks pada
daerah tersebut.
B. Saran
Sebaiknya dalam pengerjaan laporan tidak perlu menggambar kembali gambar yang
telah jelas dan disediakan dalam penuntun.

DAFTAR PUSTAKA

Basoeki, soedjono. 2003. Fisiologi Manusia. JICA: Malang.

Ganong. 2009. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Penerbit Buku Kedokteran: Jakarta.

Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia Pustaka Ilmu
Suyanto, slamet. 2010. Hasil Kajian Neuroscience dan Implikasinya dalam Pendidikan. Jurusan
Pendidikan Biologi FMIPA UNY: Yogyakarta.

Syaifuddin. 2006. Anatomo Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2. Jakarta:
Salemba Medika

Wulandari, puspita. 2009. Pembuatan Alat Ukur Kecepatan Respon Manusia Berbasis
Mikrokontroller AT 89S8252. Jurnal Neutrino Vol. 1 No. 2.

Taiyeb, mushawwir. 2016. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jurusan Biologi FMIPA UNM :
Makassar
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan 4
penghantaran impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula
gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan
panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh
otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai
perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor terhadap rangsangan, tanpa memerlukan
kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa
disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari
reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima
oleh sel saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan
ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut
lengkung refleks.
Gerak refleks dapat dibedakan atas reflex otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di
dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks
sumsum tulang belakang bila sel saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang
misalnya refleks pada lutut. (1:3-4)
Otak memberi arahan yang mengatur urutan aktifitas medulla untuk memulai gerakan bila
diperlukan, mengarahkan tubuh ke depan selama terjadi percepatan, untuk mengubah gerakan
dari berjalan menjadi melompat bila diperlukan, dan terus-menerus mengawasi dan mengatur
keseimbangan. Semua hal ini dilakukan melalui sinyal analitis dan parintah yang
dibangkitkan di dalam otak. Tetapi hal ini juga memerlukan banyak sirkuit neuronal pada
medulla spinalis yang merupakan objek perintah. Sirkuit ini mengadakan smua kendali
langsung pada otot tetapi dalam peran yang sedikit.(2:705)
Kegiatan sistem saraf pusat ditampilkan dalam bentuk kegiatan reflex. Dengan adanya
kegiatan reflex dimungkinkan terjadinya hubungan kerja yang baik dan tepat antara berbagai
organ yang terdapat dalam tubuh manusia dan hubungan dengan keadaan sekelilingnya.(3:193)
B. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari cara-cara pemeriksaan reflex yang fisiologis pada manusia
2. Melihat ada tidaknya gangguan konduksi implus pada sistem syaraf.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Saraf
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan berkesimanbungan serta terdiri
dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan eksternal
dipantau dan diatur.
Suatu sel saraf disebut neuron yang terdiri dari badan sel, dendrit dan neurit. Dendrit
menerima dan menyalurkan stimulus masuk ke dalam badan sel, neurit mengirim stimulus
keluar dari badan sel. Kumpulan neuron yang berada di susuna saraf pusat disebut nucleus,
dan yang berada di luar susunan saraf pusat dinamakan pseudounipolar. Ujung saraf yang
menerima stimulus disebut reseptor dan ujung terminal saraf yang berada pada otot dan organ
disebut efektor.(4:68)
Setiap impuls saraf akan berhubungan dengan sistem saraf, yang terdiri dari sistem saraf
sadar dan sistem saraf tak sadar atau sistem saraf otonom, untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada skema berikut: (5:1)
B. Pengertian Refleks
Refleks adalah respon otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute
lengkung reflex. Sebagian besaar proses tubuh involunter misalnya denyut jantung,
pernapasan, aktifitas pencernaan, dan pengaturan suhu, serta respon otomatis misalnya
sentakan akibat suatu stimuli nyeri atau sentakan pada lutut merupakan kerja reflex.
Rangsangan ini merupakan reaksi organisme terhadap perubahan lingkungan baik dalam
maupun luar organisme yang melibatkan sistem saraf pusat dalam memberikan jembatan
(respon) terhadap rangsangan.(3:193)
Jalur perjalanan gerak refleks adalah sebagai berikut:(6:1)
C. Lengkung Refleks
Proses yang terjadi pada reflex melalui jalan tertentu disebut lengkung reflex. Komponen
yang dilalui reflex adalah sebagai berikut:
1. Reseptor rangsangan sensoris : ujung distal dendrit yang menerima stimulus peka terhadap
suatu tangsangan misalnya kulit
2. Neuron aferen (sensoris) : melintas sepanjang neuron sensorik sampai ke medulla spinalis
yang dapat menghantarkan implus menuju ke susunan saraf pusat.
3. Pusat saraf (pusat sinaps) : sisi sinaps yang berlangsung dalam substansi abu-abu. Implus
dapat ditransmis, diulang rutenya, atau dihambat pada bagian lain. Tempaat integrasi dimana
masuknya sensoris dan dianalisa kembali ke neuron eferen.
4. Neuron eferen (motorik) : melintas sepanjang akson meuron motorik sampai efektor yang
akan merespon implus eferen, menghantarkan implus ke perifer sehingga menghasilkan aksi
yang khas.
5. Alat efektor : dapat berupa otot rangka, otot jantung, atau pun otot polos kelenjar yang
merespon, merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu serat atau kelenjar.
(3:193-194)

D. Jenis Refleks
Refleks dapat dikelompokkan dalam berbagai tujuan reflek berdasarkan hal-hal berikut:
1. Berdasarkan pada letak reseptor, yaitu terdiri atas:
a. Refleks ekstroseptive : timbul karena rangsangan pada tempat reseptor permukaan tubuh
b. Refleks interoreseptive (viseroreseptive) : timbul karena rangsangan pada alat dalam atau
pembuluh darah misalnya dinding kandung kemih dan lambung.
c. Refleks proreseptive : timbul karena rangsangan pada reseptor otot rangka, tendon, dan sendi
untuk keseimbangan sikap.
2. Berdasarkan pada bagian saraf pusat, yaitu:
a. Refleks spinal : melibatkan neuron di medulla spinalis
b. Refleks bulbar : melibatkan neuron di medulla oblongata
c. Refleks kortikal : melibatkan neuron korteks serebri
3. Berdasarkan dari jenis atau ciri jawaban, yaitu:
a. Refleks motorik : efektornya berupa otot dengan jawaban berupa reaksi/kontraksi otot.
b. Refleks sekretorik : efektornya berupa kelenjar dengan berupa jawaban berupa
peningkatan/penurunan sekresi kelenjar.
c. Refleks vasomotor : efektornya berupa pembuluh darah dengan jawaban berupa
vasodilatasi/vasokonstruksi.
4. Dilihat dari timbulnya refleks, yaitu :
a. Refleks tak bersarat : refleks yang dibawa sejak lahir, bersifat mantap, tidak pernah berubah
dan dapat ditimbulkan bila ada rangsangan yang cocok misalnya menghisap jari pada bayi
b. Refleks bersarat : didapat selama pertumbuhan berdasarkan pengalaman hidup, memerlukan
proses dan bersifat individual.

5. Berdasarkan jumlah neuron yang terlibat, yaitu :


a. Refleks monosinaps : melalui satu sinaps dan dua neuron (satu neuron aferen dan satu
neuron eferen) yang langsung berhubungan pada saraf pusat, contohnya refleks regang.
b. Refleks polisinaps : memalui beberapa sinaps, terdapat beberapa interneuron yang
menghubungkan neuron aferen dengan neuron eferen. Semua refleks lebih dari satu sinaps
kecuali refleks regang (muscle stretch reflex) (3:194-195)
E. Penerapan Klinis Refleks Regang
Setiap kali melakukan pemeriksaan fisik pada seorang pasien, seorang dokter
menimbulkan banyak refleks regangan. Tujuannya adalah untuk menentukan berapa eksitasi
yang terjadi, yang dikirimkan oleh otak ke medulla spinalis. Refleks yang dihasilkan adalah
sebagai berikut.
1. Sentakan lutut (knee jerk) dan sentakan otot lainnya
Secara klinis, ada satu metode yang dipergunakan untuk menentukan kepekaan refleks
regang, yakni dengan cara menimbulkan sentakan lutut dan sentakan otot lainnya. Sentakan
lutut ini dapat ditimbulkan dengan cara memukul pelan-pelan tendon patella dengan palu
refleks, pukulan ini secara tiba-tiba meregangkan otot kuardisep dan merangsang terjadinya
refleks regangan dinamik yang kemudian akan menyebabkan tungkai bawah menyentak.(7:678)
2. Klonus osilasi sentakan otot
Pada beberapa kondisi, sentakan otot dapat berosilasi, yaitu suatu fenomena yang disebut
klonus. Keadaan osilasi dapat dijelaskan secara khusus sehubungan dengan keadaan klonus
pergelangan kaki. Bila seorang berdiri dengan ujung-ujung jari kakinya tiba-tiba menurunkan
badan ke bawah dan meregangkan otot gastroknemius, implus refleks regangan dijalankan
dari kumparan otot ke medulla spinalis. Implus-implus ini secara refleks akan merangsang
otot yang teregang, sehingga akan mengangkat tubuh ke atas lagi. (7:679)

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Nama Percobaan
Pemeriksaan Refleks Fisiologis
B. Alat dan Bahan
1. Palu Perkusi
2. Lampu senter
3. Kapas
4. Jarum
5. Baki Alat
C. Prosedur Kerja
1. Refleks Kulit Perut
Orang coba berbaring terlentang dengan kedua tangan terletak lurus disamping badan.
Goreslah kulit daerah abdomen dari lateral ke arah umbilikus. Respon yang terjadi berupa
kontraksi otot dinding perut.
2. Refleks periost Radialis
Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan sedikit
dipronasikan. Ketuklah periosteum pada ujung distal os radii. Respon berupa fleksi lengan
bawah pada siku dan supinasi tangan.
3. Refleks periost Ulnaris
Lengan bawah setengah difleksikan pada sendi siku dan tanngan antara pronasi dan
supinasi. Ketuklah pada periost prosessus stilodeus. Respon berupa pronasi tangan.
4. Knee Pess Reflex (KPR)
Orang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai akan
tergantung bebas atau oarang coba berbaring terlentang dengan fleksi tungkai pada sendi
lutut. Ketuklah tendo patella dengan hummer sehingga terjadi ekstensi tungkai disertai
kontraksi otot kuadriseps.
5. Achilles Pess Refleks (APR)
Tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan. Ketukalah tendo
Achilles, sehingga terjadi plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastrocnemius.
6. Refleks Biseps
Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi siku. Ketuklah pada otot tendo
biceps akan menyebabkan fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps.
7. Refleks Triseps
Lengan bawah difleksikan pada sendi siku sedikit pronasikan. Ketuklah pada tendo
otot triseps 5 cm diatas siku akan menyebabkan ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps.
8. Wtihdrawl Refleks
Lengan orang coba diletakkan diatas meja dalam keadaan ekstensi. Tunggulah sampai
orang coba tidak melihat saudara, tusuklah dengan hati-hati dengan cepat kulit tangan dengan
jarum suntik steril, sehalus mungkin agar tidak melukai oarng coba. Respon berupa fleksi
lengan tersebut menjauhi stimulus.
D. Hasil Percobaan
Hasil percobaan yang telah dipraktekkan adalah sebagai berikut:
1. Identitas orang coba :
1. Nama : Tn. H
2. Umur : 20 tahun
3. Pekerjaan : mahasiswa
2. Jenis percobaan:
1. Refleks kulit perut
Respon yang terjadi berupa kontraksi otot dinding perut.
2. Reflex perioust radialis
Respon berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan .
3. Reflex perioust ulnaris
Respon berupa pronasi tangan.
4. Knee pess reflex (KPR)
Respon yang terjadi berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps.
5. Achilles pess reflex (APR)
Respon yang terjadi berupa plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius, tapi pada
kaki kiri hiperaktif.
6. Refleks biseps
Respon yang terjadi berupa fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps.
7. Refleks triseps
Respon yang terjadi berupa ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps.
8. Wtihdrawl refleks
Respon berupa fleksi lengan dengan cara menjauhi stimulus.
E. Analisa Hasil Percobaan
1. Refleks Kulit Perut
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi
berupa kontraksi otot dinding perut. Ini di sebabkan karena pada saat abdomen digores
(rangsang), ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron sensoris ke
medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui interneuron atau asosiasi ke neuron
motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke
otot perut (efektor). Sehingga terjadi kontraksi otot dinding perut. Karena tidak diolah dalam
otak maka berlangsung dengan cepat.
2. Refleks Perioust Radialis
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon berupa fleksi
lengan bawah pada siku dan supinasi tangan, hal ini di sebabkan karena Pada saat ketukan
periousteum ujung distal os radii (rangsang), ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan
pesan melalui neuron sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui
interneuron/asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls
ke sepanjang akson lalu ke otot os radii (efektor). Sehingga terjadi Respon berupa fleksi
lengan bawah pada siku dan supinasi tangan Karena tidak diolah dalam otak maka
berlangsung dengan cepat.
3. Refleks Perioust Ulnaris
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah Respon berupa pronasi
tangan, hal ini di sebabkan karena Pada saat ketukan pada peious prosessus stilodeus
(rangsang), ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron sensoris ke
medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ asosiasi ke neuron motorik.
Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot os ulna
(efektor). Sehingga terjadi Respon berupa pronasi tangan Karena tidak diolah dalam otak
maka berlangsung dengan cepat.
4. Knee Pess Refleks (KPR)
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi
berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps. Reaksinya di sebabkan karena
pada saat lutut di ketuk (rangsang), ujung- ujung saraf meneruskan pesan melalui neuron
sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui interneuron/asosiasi ke neuron
motorik. Neuron motorik pada gilirannya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot
tungkai(efektor). Sehingga terjadi gerak ekstensi pada tungkai disertai kontraksi otot
kuadriseps. Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat.
5. Achilles Pess Refleks (APR)
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah Respon yang terjadi
berupa plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius. Hal ini di sebabkan karena
Pada saat ketukan tendo acilles (rangsang), ujung-ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan
melalui neuron sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui
interneuron/asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls
ke sepanjang akson lalu ke otot gastrocnemus (efektor). Sehingga terjadi respon berupa
plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius karena tidak diolah dalam otak maka
berlangsung dengan cepat, tapi karena kaki kiri pada saat percobaan lagi keseleo, jadi pada
saat tendo patella dipukul terjadi refleks yang hiperaktif karena sakit.
6. Refleks Biseps
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah Respon yang terjadi
berupa fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps. Hal ini di sebabkan karena Pada
saat ketukan tendo otot biseps (rangsangan), ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan
melalui neuron sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui
interneuron/n.asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan
impuls ke sepanjang akson lalu ke otot biseps (efektor). Sehingga terjadi Respon yang berupa
fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps, Karena tidak diolah dalam otak maka
berlangsung dengan cepat.

7. Refleks Triseps
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah Respon yang terjadi
berupa ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps. Hal ini di sebabkan karena Pada saat
ketukan tendo otot triseps (rangsangan), ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan
melalui neuron sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui
interneuron/n.asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan
impuls ke sepanjang akson lalu ke otot triseps (efektor). Sehingga terjadi Respon yang berupa
ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung
dengan cepat.
8. Wtihdrawl Refleks
Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon berupa fleksi
lengan dengan cara menjauhi stimulus. Hal ini di sebabkan karena Pada saat tusukan kulit
tangan (rangsangan), ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron
sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui interneuron/n.asosiasi ke
neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson
lalu ke otot triseps (efektor). Sehingga terjadi Respon yang berupa fleksi lengan dengan cara
menjauhi stimulus. Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan berkesimanbungan serta terdiri
dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan eksternal
dipantau dan diatur.
2. Refleks adalah respon otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute lengkung
reflex. Sebagian besar proses tubuh involunter misalnya denyut jantung, pernapasan, aktifitas
pencernaan, dan pengaturan suhu, serta respon otomatis misalnya sentakan akibat suatu
stimulus nyeri atau sentakan pada lutut merupakan kerja reflex
3. Dalam pemeriksaan gerak refleks, terdapat beberapa bentuk atau macam cara yaitu :
a. Refleks kulit perut
b. Refleks perioust radialis
c. Refleks perioust ulnaris
d. Knee pess refleks (KPR)
e. Achilles pess refleks (APR)
f. Refleks biseps
g. Refleks triseps
h. Wtihdrawl refleks
4. Setelah dilakukan percobaan pada orang coba berdasarkan pemeriksaan gerak refleks terlihat
orang coba dalam keadaan normal. Tidak terdapat gangguan konduksi impuls pada sistem
syaraf. Untuk mengetahui ada tidaknya gangguan maka diperlukan penilaian bagi tim
pemeriksa yang ahli yaitu berupa derajat refleks.
B. Saran
Dalam melaksanakan praktikun tersebut sebaiknya menggunakan orang yang coba dalam
keadaan sehat agar tidak ada kendala dalam pemeriksaan refleks tersebut. Selain itu juga
perlu penjelasan yang lebih mendalam agar dalam melakukan praktik tidak terjadi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonym. 2010. Sistem Saraf. http://blog.unila.ac.id/gnugroho/files/ 2010/12/SISTEM-


SARAF.pdf (online). Diakses pada rabu, 22 Juni 2011 pukul 13.00
2. Guyton, Artur C. Jonh E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC
3. Syaifuddin. 2009. Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan edisi 2. Jakarta :
Salemba Medika
4. Buranda dr. Theopilus, M.Kes dkk. 2010. Buku Ajar Anatomi Umum. Makassar : Bagian
Anatomi Unhas.
5. Anonym. 2010. Sistem Saraf Manusia. http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/
edukasi.net/SMA/Biologi/Sistem.Saraf.Manusia/materi5.html. (online) diakses pada senin,
20 Juni 2010 pukul 21.00
6. Pustaka Sekolah. 2011. Mengenal Gerak Refleks Pada Manusia.
http://pustakasekolah.com/mengenal-gerak-refleks-pada-manusia.html. (online) diakses pada
rabu, 23 Juni 2011 pukul 14.00
7. Guyton, Artur C. Jonh E. Hall. 2006. Textbook Of Medical Physiology. Singapore: Elsevier.
(ebook)
8. Anonim. 2010. Anatomy & Physiology Reflexes.
http://www.cliffsnotes.com/study_guide/Reflexes.topicArticleId-22032,articleId-21947.html.
(online) Diakses pada selasa, 21 Juni 2011 pukul 13.00
9. Dr. R. G. Luckwill http://www.medicine.tcd.ie/physiology/assets/docs/
lecturenotes/RGL/10._Reflexes.pdf. (online) diakses pada selasa, 21 Juni 2011 pukul 13.30
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tubuh manusia terdiri dari sel, jaringan, organ, dan system organ. Dalam tubuh
manusia disusun oleh rangka, dimana rangka ini diliputi oleh otot-otot yang juga menyusun
tubuh dan melindungi organ lain dalam tubuh mahluk hidup. Untuk menggerakkan tubuh
manusia harus ada perintah ke saraf, disini diketahui bahwa gerakan itu ada yang disadari dan
ada yang tak disadari. Gerakan yang disadari adalah gerakan yang memang benar-benar
perintah dari otak sedangkan gerakan yang tidak disadari tiba-tiba terjadi yang mungkin
disebabkan karena kaget atau yang lainnya. Reflek adalah jawaban terhadap suatu ransangan
gerakan yang timbul disebut gerakan reflektorik. Semua gerakan reflektorik merupakan
gerakan yang bangkit untuk penyesuain diri, baik untuk menjalin ketangkasan
gerakan valunter maupun untuk membela diri. Gerakan reflektorik tidak saja dilaksanakan
oleh anggota gerak tetapi setiap otot lurik dapat melakukan gerakan reflektorik, lagi pula
peransangya tida saja terdapat pada permukaan tubuh, akan tetapi semua implus perpersefrip
dapat meransang gerakan reflektorik termasuk implus panca indra. Setiap suatu ransangan
dijawab dengan bangkinya suatu gerakan menandakan bahwa antara daerah yang diransang
dari otot yang ergerak secara reflektorik itu terdapat hungungan lintasan yang
menghubungkan reseptor dan efektor itu dikenal sebagai busur reflek. Reseptor dikirim
mendapat peransang. Suatu implus di cetuskan dan dikirim melalui serabut radies darsalis ke
sebuah neuron di subtansia grisea medula spinalis. Reseptor serabut aferen interneuron di
subtansia grisea motoneuron serta aksonnya berikut otot yang di sarafinya merupakan busur
refleks yang segmental. Terjadinya suatu gerakan yang kita sadari di sebut gerak biasa namun
ada pula gerak yang berlangsung dengan di sadari pada gerakan biasa ransangan di olah dulu
oleh otak dengan kata lain gerak terjadi karena perintah otak. Implus pada gerakan yang
disadari melalui jalur yang panjang. Contoh gerakan biasa apabila kita ingin menangkap bola
yang datang ke arah kita. Bola yang datang merupakan ransangan yang di terima oleh indra
penglihatan yaitu mata ransangan itu di teruskan ke neuron sensorik ke otak lalu di olah oleh
otak.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka dilakukanlah praktikum ini. Dimana pada
praktikum ini kita akan mengamati dan mengenal beberapa gerakan yang tidak disadari atau
gerak refleks. Praktikum ini akan lebih memperjelas pengetahuan kita tentang gerak refleks.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah dalam percobaan ini yaitu Bagaimana
mengidentifikasi berbagai jenis gerak refleks pada manusia?

C. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengidentifikasi berbagai jenis
gerak refleks pada manusia melalui uji coba

D. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini yaitu mahasiswa memahami pengertian gerak refleks dan
macam-macam gerak refleks, serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Jaringan saraf merupakan jaringan komunikasi yang terdiri dari jaringan sel-sel
khusus dan dibedakan menjadi dua,Sel neuron dan sel Neoroglia.Sel neuron adalah sel saraf
yang merupakan suatu unit dasar dari sistem saraf. Sel ini bertugas melanjutkan informasi
dari organ penerima rangsangan kepusat susunan saraf dan sebaliknya.Sel nouron terdiri atas
tiga bagian 1) Badan sel yang mengandung nukleus dan nukleolus serta berwarna kelabu, 2)
Dendrit merupakan lanjutan plasma yang berfungsi menyampaikan impuls saraf (informasi)
menuju ke badan sel dan 2) akson, berfungsi meneruskan informasi dari badan sel ke sel lain.
Berdasarkan fungsinya, sel neuron dapat dibedakan menjadi 4 Bagian:
1. Neuron sensorik (nouron aferen) yaitu sel saraf yang bertugas menyampaikan rangsangan
dari reseptor ke pusat susunan saraf. Neuron memiliki dendrit yang berhubungan dengan
reseptor (penerima rangsangan) dan neurit yang berhubungan dengan sel saraf lainnya.

2. Neuron Motorik (nouronaferen), yaitu sel saraf yang berfungsi untuk menyampaikan impuls
motorik dari susunan saraf pusat ke saraf efektor. Dendrit menerima impuls dari akson neoron
lain sedangkan aksonnya berhubungan dengan efektor.

3. Neuron konektor adalah sel saraf yang bertugas menghubungkan antara neuron yang satu
dengan yang lainnya.

4. Neuron ajustor, yaitu sel saraf yang bertugas menghubungkan neuron sensorik dan neuron
motorik yang terdapat di dalam sumsum tulang belakang atau di otak.

Gerak refleks ialah gerakan pintas ke sumsum tulang belakang. Ciri refleks adalah
respon yang terjadi berlangsung dengan cepat dan tidak disadari. Sedangkan lengkung refleks
adalah lintasan terpendek gerak refleks. Neuron konektor merupakan penghubaung antara
neuron sensorik dan neuron motorik. Jika neuron konektor berada di otak,maka refleksnya
disebut refleks otak. Jika terletak di susmsum tulang belakang, maka refleksnya disebut
refleks tulang belakang. Gerakan pupil mata yang menyempit dan melebar karena terkena
rangsangan cahaya merupakan contoh refleks otak. Sedangkan gerak lutut yang tidak
disengaja merupakan gerak sumsum tulang belakang.(Idel,antoni.2000:210-215).

Jaringan saraf terdiri dari 3 komponen yang mempunyai struktur dan fungsi yang
berbeda, yaitu sel saraf (neuron) yang mampu menghantarkan impuls, sel schwann yang
merupakan pembungkus kebanyakan akson dari sistem saraf perifir dan selpenyokong
(neuroglia) yang merupakan sel yang terdapat diantaraneuron dari sistem safaf pusat. Oleh
karena itu saraf dari sistem saraf perifiritu di bangun oleh neuron dan sel schwann, sedangkan
traktus yang terdapat diotak dan susmsum tulang belakang dibentuk oleh neuron dan
neuroglia. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan , diperlukan satu mikroelektroda yang
dapat ditusukkan kedalam akson tanpa menimbulkan kerusakan pada kason tersebut.

Penghantaran impuls saraf menuju, melalui, dan keluar dari sistem saraf pusat
melewati jalur khusus, bergantung pada jenis informasi, asal, dan tujuannya. Sementara
impuls saraf gerak refleks melalui jalur refleks. Berikut ini adalah komponen-komponen
gerak refleks :
1. Reseptor sensorik
Bagian ujung distal dari neuron sensorik (dendrit) berperan sebagai resptor. Dendrit
merespon stimulus khusus, yaitu perubahan di lingkungan eksternal maupun internal, dengan
cara membuat gradien potensial yang disebut potensial generator (atau reseptor). Jika
potensial aksi mencapai ambang batas depolarisasi, maka akan menggerakkan impuls saraf
pada saraf sensorik.
2. Saraf sensorik
Lmpuls-implus saraf dihantarkan dari reseptor sensorik menuju akson neuron sensorik
menuju akson terminal yang letaknya berada di daerah abu-abu dari sumsum tulang belakang
atau batang otak.

3. Pusat integrasi
Satu atau beberapa daerah di bagian abu-abu dalam sistem saraf pusat berperan sebagai
pusat integrasi informasi. Pada gerak refleks, pusat integrasi berada di sinaps antara neuron
sensorik dan neuron motorik. Jalur gerak refleks yang hanya memiliki satu sinap di sistem
saraf pusat disebut jalur refleks monosipatik. Biasanya pusat integrasi terdiri dari satu atau
lebih interneuron yang menyampaikan impuls-impuls ke interneuron lainnya termasuk ke
neuron motorik. Jalur refleks polisinaptik melibatkan lebih dari dua jenis neuron dan lebih
dari satu sinaps sistem saraf pusat.
4. Neuron motorik
Lmpuls digerakkan dengan cara penghantaran pusat integrasi sistem saraf pusat di
sepanjang neuron motorik sampai bagian tubuh yang akan merespon.
5. Efektor.
Bagian tubuh yang merespon impuls saraf motorik, misalnya otot atau kelenjar, disebut
efektor. Gerakannya disebut refleks.
Gambar 1. Gerak refleks
Sumber : www.pustakasekolah.com

Gambar 2. Rangsangan gerak refleks

Biasanya refleks yang dapat diuji


mencakup refleks biseps,
brakhioradialis, triceps, patela, dan
pergelangan kaki (Archilles). Temuan
yang diperoleh bergantung pada
beberapa faktor yaitu menggunakan
palu refleks yang tepat, posisi
ekstremitas yang tepat, dan keadaan
rileks pasien.

Beberapa Metode Pemeriksaan


Refleks
1. Refleks kornea
Kapas yang telah di sediakan, di gulung menjadi bentuk selinder halus. Orang coba
menggerakan bola mata ke lateral yaitu dengan melihat ke salah sisi tanpa menggerakan
kepala. Sentuhlah dengan hatai-hati sisi kontralateral kornea dengan kapas. Respon yang
terjadi berupa kedipan mata secara cepat.
2. Refleks cahaya
Cahaya senter yang dijatuhkan pada pupil salah satu mata orang coba. Respon yang terjadi
berupa konstriksi pupil homolateral dan kontra lateral.
3. Refleks periost radialis
Lengan orang coba setengah ditleksikan pada sendi siku dan tangan sedikit dipronasikan.
Ketuk periosteum pada ujung distal os radii. Respon yang terjadi pada orang coba berupa
fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan.Pada percobaan ini terlihat adanya refleks
yang terjadi pada orang coba.
4. Refleks periost ulnaris
Lengan bawah setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan antara pronasi dan supinasi.
Ketuk pada periost prosessus stiloideus. Respon yang terjadi yaitu berupa pronasi
tangan.Pada orang coba pada saat praktikum terlihat adanya refleks tersebut.
5. Knee Pess Refleks (KPR)
Pada percobaan ini orang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai
akan tergantung bebas atau oarang coba berbaring terlentang dengan fleksi tungkai pada
sendi lutut. Ketuk tendo patella dengan hammer sehingga terjadi ekstensi tungkai disertai
kontraksi otot kuadriseps.
6. Achilles pess reflex
Tungkai orang coba difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan, ketuk tendo
achilles, sehingga terjadi plantar fleksi dari kaki dan kontaraksi gastroknemius.
7. Refleks biseps
Lengan orang coba setenganh di fleksikan pada sendi siku. Ketuk pada tendo otot biseps akan
menyebabkan fleksi lengan pada siku dan tampak kontraksi otot biseps.
8. Refleks triseps
Lengan bawah difleksikan pada sendi siku dan sedikit dipronasikan. Ketukan pada tendo otot
triseps 5 cm di atas siku, ini akan menyebabkan ekstensi lengan dan kontarksi otot triseps.
9. Withdrwal Refleks
Lengan orang coba diletakkan di atas meja dalam keadaan ekstensi. Tunggu pada saat orang
coba tidak melihat saudara, tusuklah dengan hati-hati dan cepat kulit lengan dengan jarum
sntik steril, sehalus mungkin agar tidak melukai orang coba. Respon yang terjadi berupa
fleksi lengan tersebut menjauhi stimulus.
BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan dalam praktikum Gerak Reflek adalah Pengamatan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Percobaan ini dilakukan di laboratorium IPA kampus Universitas Negeri Surabaya pada
hari Kamis 18 November 2015 pukul 07.00 WIB.

C. Alat dan Bahan


1. Pemukul

2. Pentil

3. Anggota kelompok yang menjadi objek ujicoba

4. Tisu

D. Alur Percobaan
1. Reflek Bisep 2. Reflek Branchioradialis
3. Reflek Trisep 4. Reflek Pattelar
n

5. Reflek Achilles

Hasil Pengamatan
\

E. Langkah kerja
1. Refleksi bisep
a. Memilih dua orang dalam kelompok, satu sebagai subjek ujicoba dan satunya sebagai
penguji. (posisi subjek duduk diatas meja dan rileks)
b. Identifikasi lokasi tendon bisep, bengkokkan siku subjek uji coba (keadaan rileks). Tendon
akan terlihat terasa seperti tali keras. Sadarkan lengan bawah subjek ujicoba di pangkuan
subjek ujicoba dengan membentuk sudut lebih dari 90o pada bagian sikunya.
c. Tekan perlahan tendon bisep di bagian antekubital fossa menggunakan jari jempol atau
telunjuk penguji, pukul jari telunjuk dengan pemukul gerak refleks (Pastikan subjek ujicoba
benar-benar rileks).
d. Amati dan rekam reaksi yang terjadi. Tanyakan subjek ujicoba sensasi yang dirasakan saat
ujicoba.
Catatan : kontraksi otot biasanya tidak cukup kuat untuk menimbulkan gerakan.

2. Reflek branchioradialis
a. Memilih dua orang dalam kelompok, satu sebagai subjek ujicoba dan satunya sebagai
penguji. (posisi subjek duduk)
b. Bengkokkan siku subjek ujicoba. Subjek ujicoba harus rileks. Identifikasi letak tendon di otot
branchioradialis. Bagian ini berada di lengan bawah yang sejajar dengan jari jempol. Pukul di
bagian tersebut dengan pemukul refleks.
c. Amati dan rekam reaksi yang terjadi.

3. Refleks trisep
a. Memilih dua orang dalam kelompok, satu sebagai subjek ujicoba dan satunya sebagai
penguji.
b. Bengkokkan siku subjek ujicoba. Subjek ujicoba harus rileks. Sadarkan lengan bawah subjek
ujicoba di pangkuan subjek ujicoba dengan membentuk sudut lebih dari 90 o pada bagian
sikunya. Identifikasi lokasi tendon trisep. Tendon akan terlihat dan berasa seperti tali keras.
c. Angkat dan tahan lengan subjek ujicoba sehingga posisi siku sejajar dengan bahu. Bisa juga
dilakukan dengan posisi tangan subjek ujicoba bersandar diatas pinggang. Subjek ujicoba
harus rileks.
d. Pukul tendon trisep ( 5 cm diatas siku). Jika tidak ada respon, ulangi langkah ini, pukul
lengan lain dibagian yang sama.
e. Amati dan rekam kejadian yang terjasi, tanyakan subjek ujicoba sensasi yang dirasakan saat
ujicoba.

4. Refleks Patellar (Refleks Lutut)


a. Pilih tiga orang dalam kelompok, satu sebagai penguji dan dua sebagai sampel. Pengujian
dilakukan dengan 2 cara, yaitu subjek ujicoba duduk dengan kaki menjuntai ke bawah dan
tidak menyentuh lantai dan subjek ujicoba tidur terlentang.
b. Identifikasi tendon patellar. Bagian yang tebal tepat dibawah tempurung lutut kaki. Pilih
bagian lebar dari pemukul refleks.
c. Subjek ujicoba duduk diatas meja. Pukul tendon patellar, tepat di bawah patella (tempurung
lutut). Subjek ujicoba tidur terlentang. Tahan bagian belakang lutut dengan satu tangan.
Pukulkan pemukul refleks pada bagian tendon patellar dengan tangan yang lain.
d. Amati dan rekam reaksi yang terjadi.
e. Catat hasilnya.

5. Reflek Achilles (Refleks pergelangan kaki)


1. Pilih tiga orang dalam kelompok, satu sebagai penguji dan dua sebagai sampel.
2. Subjek ujicoba duduk tidur terlentang dengan salah satu lutut menumpangi lutut kaki yang
lain atau duduk dengan posisi seperti tes refleks patellar. Identifikasi tendon achilles, bagian
yang tegang dan memiliki struktur seperti tali dari bagian tumit sampai otot betis. Jika tidak
yakin, minta subjek ujicoba untuk menegangkan kakinya sehingga bagian betis berkontraksi
dan achilles terlihat tegang.
3. Atur posisi penguji mendapatkan sudut yang tepat dan dapat melihat bagian bawah kaki
subjek ujicoba. Topang bagian bawah kaki subjek ujicoba dengan tangan anda.
4. Pukul tepat di tendon dengan pemukul refleks. Pastikan bagian betis terlihat sehingga
kontraksi otot dapat terlihat.
5. Catat hasilnya.
BAB IV
DATA, ANALISIS DAN DISKUSI

A. Data
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.1 Hasil Percobaan Gerak Reflek Pada Manusia
Reaksi
Nama
No Gerak Reflek Posisi Mendekati Menjauhi Keterangan
Subjek
rangsang rangsang
1 Iwan Gerak
mendekati
Bisep Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Gerak
mendekati
Branchiorodialis Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Gerak
menjauhi
Trisep Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Gerak
menjauhi
Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Pattelar
Gerak
menjauhi
Tidur - tubuh
Ada rasa
sengatan
Achilles Duduk - Ada rasa
Reaksi
Nama
No Gerak Reflek Posisi Mendekati Menjauhi Keterangan
Subjek
rangsang rangsang
sengatan
Tidur
dengan salah
Ada rasa
satu lutut -
sengatan
menopang
kaki lain
Tidur
Ada rasa
dengan kaki -
sengatan
disilang
2 Rizka Gerak
mendekati
Bisep Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Gerak
mendekati
Branchiorodialis Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Gerak
menjauhi
Trisep Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Pattelar Gerak
menjauhi
Duduk - tubuh
Ada rasa
sengatan
Tidur - Gerak
menjauhi
tubuh
Ada rasa
sengatan
Reaksi
Nama
No Gerak Reflek Posisi Mendekati Menjauhi Keterangan
Subjek
rangsang rangsang
Ada rasa
Duduk -
sengatan
Tidur
dengan salah
Ada rasa
satu lutut -
Achilles sengatan
menopang
kaki lain
Tidur
Ada rasa
dengan kaki -
sengatan
disilang

B. Analisis
Percobaan yang berjudul Gerak Reflek Pada Manusia dilakukan dengan
menggunakan 2 subjek percobaan yang berbeda yaitu Iwan dan Rizka. Percobaan dilakukan
dengan menguji gerak reflek bisep yang diuji dengan posisi subjek percobaan duduk, gerak
reflek branchioradialis yang diuji dengan posisi subjek percobaan duduk, gerak reflek trisep
yang diuji dengan posisi subjek percobaan duduk, gerak reflek pattelar (reflek lutut) yang
diuji dengan posisi subjek percobaan duduk dan tidur, dan gerak reflek achilles (raflek
pergelangan kaki) yang diuji dengan posisi subjek percobaan duduk, tidur dengan salah satu
lutut menopang kaki lain dan tidur dengan kaki disilang.
Pada percobaan dengan menggunakan subjek percobaan Iwan, didapatkan hasil
percobaan yaitu, pada percobaan dengan menguji gerak reflek bisep yang diuji dengan posisi
subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan
adanya gerak lengan mendekati tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh subjek
percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflek branchioradialis yang diuji dengan
posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan
dengan adanya gerak tangan mendekati tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh
subjek percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflek trisep yang diuji dengan
posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu menjauhi rangsangan
dengan adanya gerak tangan menjauhi tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh
subjek percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflek pattelar yang diuji dengan
posisi subjek percobaan duduk dan tidur yaitu sama reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu
mendekati rangsangan dengan adanya gerak menjauhi tubuh dan ada rasa sengatan yang
dirasakan oleh subjek percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflekachilles yang
diuji dengan posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati
rangsangan dengan adanya rasa sengatan yang dirasakan oleh subjek percobaan, pada posisi
subjek percobaan tidur dengan salah satu lutut menopang kaki lain reaksi gerak reflek yang
terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya rasa sengatan yang dirasakan oleh subjek
percobaan dan pada posisi subjek percobaan tidur dengan kaki disilang reaksi gerak reflek
yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya rasa sengatan yang dirasakan oleh
subjek percobaan.
Pada percobaan dengan menggunakan subjek percobaan Rizka, didapatkan hasil
percobaan yaitu, pada percobaan dengan menguji gerak reflek bisep yang diuji dengan posisi
subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan
adanya gerak lengan mendekati tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh subjek
percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflek branchioradialis yang diuji dengan
posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan
dengan adanya gerak tangan mendekati tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh
subjek percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflek trisep yang diuji dengan
posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu menjauhi rangsangan
dengan adanya gerak tangan menjauhi tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh
subjek percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflek pattelar yang diuji dengan
posisi subjek percobaan duduk dan tidur yaitu sama reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu
mendekati rangsangan dengan adanya gerak menjauhi tubuh dan ada rasa sengatan yang
dirasakan oleh subjek percobaan. Pada percobaan dengan menguji gerak reflekachilles yang
diuji dengan posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati
rangsangan dengan adanya rasa sengatan yang dirasakan oleh subjek percobaan, pada posisi
subjek percobaan tidur dengan salah satu lutut menopang kaki lain reaksi gerak reflek yang
terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya rasa sengatan yang dirasakan oleh subjek
percobaan dan pada posisi subjek percobaan tidur dengan kaki disilang reaksi gerak reflek
yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya rasa sengatan yang dirasakan oleh
subjek percobaan.
BAB V
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan, pada percobaan dengan menguji
gerak reflek bisep yang diuji dengan posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang
terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya gerak telapak tangan mendekati tubuh dan
ada rasa sengatan yang dirasakan oleh kedua subjek percobaan. Gerak refleks ini termasuk
dalam gerak refleks monosinaps karena gerak refleks yang dilakukan oleh subjek hanya
menghasilkan satu gerakan saja yaitu gerakan telapak tangan mendekati tubuh.
Pada percobaan dengan menguji gerak reflek branchioradialis yang diuji dengan
posisi subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan
dengan adanya gerak mendekati tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh kedua
subjek percobaan. Gerak refleks ini termasuk dalam gerak refleks monosinaps karena gerak
refleks yang dilakukan oleh subjek hanya menghasilkan satu gerakan saja yaitu gerak lengan
yang mendekati tubuh.
Pada percobaan dengan menguji gerak reflek trisep yang diuji dengan posisi subjek
percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu menjauhi rangsangan dengan adanya
gerak siku menjauhi tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh kedua subjek
percobaan. Gerak refleks ini termasuk dalam gerak refleks monosinaps karena gerak refleks
yang dilakukan oleh subjek hanya menghasilkan satu gerakan saja yaitu gerak siku menjauhi
tubuh.
Pada percobaan dengan menguji gerak reflek pattelar yang diuji dengan posisi kedua
subjek percobaan duduk dan tidur yaitu sama reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati
rangsangan dengan adanya gerak menjauhi tubuh yaitu gerakan bagian kaki yang mengayun
ke depan dengan lutut yang terangkat ke atas. dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh
kedua subjek percobaan. Gerak refleks pada kedua subjek percobaan ini termasuk dalam
gerak refleks monosinaps karena gerak refleks yang dilakukan oleh subjek hanya
menghasilkan satu gerakan saja yaitu gerakan bagian kaki yang mengayun ke depan dengan
lutut yang terangkat ke atas.
Pada percobaan dengan menguji gerak reflek achilles yang diuji dengan posisi kedua
subjek percobaan duduk reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan
adanya rasa sengatan yang dirasakan oleh kedua subjek percobaan, gerak refleks ini
merupakan gerak refleks monosinaps karena gerakan yang dihasilkan hanya satu gerakan
yaitu gerakan mendekati rangsangan kaki hanya bergerak ke samping saja. Pada percobaan
dengan posisi kedua subjek percobaan tidur dengan salah satu lutut menopang kaki lain
reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya rasa sengatan
yang dirasakan oleh kedua subjek percobaan, gerak refleks ini merupakan gerak refleks
monosinaps karena gerakan yang dihasilkan hanya satu gerakan yaitu kaki hanya bergerak ke
samping saja. Sedangkan pada percobaan dengan posisi kedua subjek percobaan tidur dengan
kaki disilang reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya rasa
sengatan yang dirasakan oleh kedua subjek percobaan. gerak refleks ini merupakan gerak
refleks monosinaps karena gerakan yang dihasilkan hanya satu gerakan yaitu betis mengayun
ke depan saja.
Dari ke empat percobaan tersebut yaitu percobaan gerak reflek bisep,
Branchiorodialis, trisep, Pattelar dan Achilles dengan menggunakan kedua subjek yang
berbeda yaitu iwan dan rizka ternyata hasil gerak refek yang dialami oleh kedua subjek
percobaan tersebut sama. gerak reflek bisep, Branchiorodialis, trisep, Pattelar dan Achilles
merupakan gerak refleks monosinaps karena gerakan yang dihasilkan hanya satu gerakan.
Mekanisme gerak refleks yaitu mulai dari stimulus atau rangsangan kemudian ke reseptor
atau indra ke saraf sensorik ke sumsum tulang belakang kemudian ke saraf motorik ke efektor
dan kemudian menimbulkan gerakan. Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu
yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Gerak reflek termasuk gerak yang tidak
disadari. Gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar sehingga akan membuat bentuk
reaksi yang berbeda-beda pada setiap individu yang mengalaminya. Hal ini yang
menyebabkan reaksi yang dialami pada percobaan gerak reflek bisep, trisep dan
branchioradialis berbeda-beda setiap orang, ada yang mengalami reaksi dengan gerakan
anggota tubuh yang menjauhi tubuh.

JAWABAN PERTANYAAN
Reflek Bisep
1. Sensasi yang dirasakan oleh kedua subjek ujicoba kami saat tendon otot bisep dipukul yaitu
sama, gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan adanya gerak telapak
tangan mendekati tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh kedua subjek percobaan.
2. Gerak refleks ini termasuk dalam gerak refleks monosinaps karena gerak refleks yang
dilakukan oleh subjek hanya menghasilkan satu gerakan saja yaitu gerakan telapak tangan
mendekatii tubuh.
3. Pada saat ketukan tendon otot bisep (rangsangan) reseptornya yaitu ujung ujung saraf yang
berada disekitar tendon otot bisep yang kemudian akan meneruskan pesan melalui neuron
sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui interneuron/n.asosiasi ke
neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson
lalu ke otot biseps (efektor). Sehingga terjadi Respon yang berupa fleksi lengan siku dan
tampak kontraksi otot biseps, Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan
cepat.
4. Efektor yang terlibat yaitu tendon otot bisep dengan respon fleksi lengan pada sendi siku

Reflek Branchialis
5. Sensasi yang dirasakan oleh kedua subjek ujicoba kami saat tendon otot branchioradialis
dipukul yaitu sama, reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan
adanya gerak mendekati tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh kedua subjek
percobaan.

Reflek Trisep
6. Sensasi yang dirasakan oleh kedua subjek ujicoba kami saat tendon otot trisep dipukul yaitu
sama, reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu menjauhi rangsangan dengan adanya gerak siku
menjauhi tubuh dan ada rasa sengatan yang dirasakan oleh kedua subjek percobaan
Reflek Pattelar
7. Reaksi yang teramati pada kedua subjek ujicoba kami saat bagian tendon pattelarnya dipukul
yaitu sama, pada saat posisi duduk dan tidur yaitu sama reaksi gerak reflek yang terjadi yaitu
mendekati rangsangan dengan adanya gerak menjauhi tubuh yaitu gerakan bagian kaki yang
mengayun ke depan dengan lutut yang terangkat ke atas.

Reflek Achilles
8. Reaksi yang teramati pada kedua subjek ujicoba kami saat bagian tendon achillesnya dipukul
yaitu sama, pada saat posisi kedua subjek percobaan duduk reaksi yang teramati yaitu adanya
mendekati rangsangan dengan gerakan kaki yang bergerak ke samping. Pada saat posisi
kedua subjek percobaan tidur dengan salah satu lutut menopang kaki lain reaksi gerak reflek
yang terjadi yaitu mendekati rangsangan gerakan yang terjadi yaitu kaki hanya bergerak ke
samping saja dan pada saat posisi kedua subjek tidur dengan kaki disilang reaksi gerak reflek
yang terjadi yaitu mendekati rangsangan dengan gerak betis yang mengayun ke depan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
gerak reflek bisep, branchiorodialis, trisep, pattelar dan achilles yang dialami oleh kedua
subyek tersebut sama. Mekanisme gerak refleks yaitu mulai dari stimulus atau rangsangan
kemudian ke reseptor atau indra ke saraf sensorik ke sumsum tulang belakang kemudian ke
saraf motorik ke efektor dan kemudian menimbulkan gerakan. Gerak reflek bisep,
branchiorodialis, trisep, pattelar dan achilles merupakan gerak reflek monosinaps karena
gerakan yang dihasilkan hanya satu gerakan. Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan
tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Gerak reflek termasuk gerak yang
tidak disadari. Hal ini yang menyebabkan reaksi yang dialami pada percobaan gerak reflek
bisep, trisep dan branchioradialis berbeda-beda setiap orang, ada yang mengalami reaksi
dengan gerakan anggota tubuh yang menjauhi tubuh.

B. Saran
Adapun saran untuk praktikum Gerak Refleks Pada Manusia yaitu pengamat harus
lebih teliti dalam menentukan titik-titik saraf yang menghasilkan gerak refleks sehingga
pengamat tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama dalam melakukan pengamatan
terhadap gerak refleks pada manusia ini. Selain itu pengamat harus lebih teliti dalam melihat
gerak refleks yang terjadi apakah menjauhi atau mendekati sumber rangsangan sehingga data
yang diperoleh tepat dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Idel,Antoni.2000.Biologi Dalam Kehidupan Sehari-hari.Gitamedia Press:Jakarta


Kimball, John W,1994. Biologi Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Sherwood L. 2010. Human Physiology : The Central Nervous System, 7th Ed. Canada :
Brooks/Cole Cengange Learning
http://www.pustakasekolah.com/gerak-refleks.html (diunduh pada 23 November 2015)