Anda di halaman 1dari 7

Menurut Rakhmat, komunikasi intrapersonal adalah proses pengolahan

informasi. Proses ini melewati empat tahap: sensasi, persepsi, memori,


dan berpikir. Dan tahap tahap komunikasi intrapersonal yaitu:

a. Sensasi
Sensasi, yang berasal dari kata sense, berarti kemampuan yang
dimiliki manusia untuk mencerap segala hal yang diinformasikan
oleh pancaindera. Informasi yang dicerap oleh pancaindera disebut
stimuli yang kemudian melahirkan proses sensasi. Dengan demikian
sensasi adalah proses menangkap stimuli.1
b. Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan
informasi dan menafsirkan pesan. Secara sederhana persepsi
adalah memberikan makna pada hasil cerapan panca indera. Selain
dipengaruhi oleh sensasi yang merupakan hasil cerapan panca
indera, persepsi dipengaruhi juga oleh perhatian (attention),
harapan (expectation), motivasi dan ingatan. Secara umum tiga hal
yang disebut pertama terbagi menjadi dua faktor personal dan
faktor situasional. Penarik perhatian yang bersifat situasional
merupakan penarik perhatian yang ada di luar diri seseorang
(eksternal), seperti intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan.
Secara internal, ada yang dinamakan perhatian selektif (selective
attention) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
faktor biologis, sosiopsikologis, dan sosiogenis.2
c. Memori
Dalam komunikasi intrapersonal, memori memegang peranan
penting dalam mempengaruhi baik persepsi (dengan menyediakan
kerangka rujukan) maupun berfikir. Memori adalah sistem yang
sangat terstuktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam
fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk
membimbing perilakunya. Setiap stimuli datang, stimuli itu direkam
sadar atau tidak. Kapasitas memori manusia, diciptakan sangat
besar namun hanya sedikit orang yang mampu menggunakan
memorinya sepenuhnya, bahkan Einstein yang tercatat manusia
paling genius baru mengoperasikan 15% dari memorinya. Kerja
Memori melalui tiga proses :
a. Perekaman (encoding), pencatatan informasi melalui reseptor
indera dan saraf internal baik disengaja maupun tidak disengaja.
1 Jalaluddin rakhmat, Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi, (Bandung: Remaja rosdakarya,
2009), hlm. 49-50.

2Jalaluddin rakhmat, Psikologi Komunikasi.hlm. 51-52


b. Penyimpanan (storage), Dalam fungsi ini, hasil dari
persepsi/learning akan disimpan untuk ditimbulkan kembali suatu
saat. Dalam proses belajar akan meninggalkan jejak-jejak (traces)
dalam jiwa seseorang dan suatu saat akan ditimbulkan kembali
(memory traces). Memory dapat hilang (peristiwa kelupaan) dan
dapat pula berubah tidak seperti semula.

c. Pemanggilan (retrieval), mengingat lagi, menggunakan informasi yang


disimpan. Dalam hal ini bisa ditempuh melalui dua cara yaitu to recall
(mengingat kembali) dan to recognize (mengenal kembali)..4 d. Berfikir
Dan suatu proses yang mempengaruhi penafsiran kita terhadap stimuli
adalah berfikir. Dalam berfikir kita akan melibatkan semua proses yang
kita sebut diatas, yaitu: sensasi, berfikir, dan memori. Saat berfikir maka
memerlukan penggunaan lambang, visual atau grafis. Tetapi untuk apa
orang berfikir? Berfikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka
mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan menghasilkan yang baru.
Adalah mengolah dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi kebutuhan
atau memberikan respons. Secara garis besar ada dua macam berfikir, autuistic
dan realistic. Dengan berfikir autistic orang melarikan diri dari kenyataan dan
melihat hidup sebagai gambar-gambar fantasi. Terbalik dengan berfikir secara
realistic yang bertujuan untuk menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Berfikir
realistic di bagi menjadi tiga macam, yaitu deduktif, induktif dan evaluative. Jadi
komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari
individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi
pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya
sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal
dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai
diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran
(awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh
komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling
berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan
orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada
dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada
suatu ungkapan ataupun obyek. Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita
lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah;
berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan

4 Jalaluddin rakhmat, Psikologi


Komunikasi. hlm. 63

meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak
bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Pemahaman diri pribadi ini berkembang
sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak
terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini
memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri
pribadi ini. Dalam penelitian ini, peneliti hanya memfokuskan pada kajian yang
menyangkut persepsi. Karena menurut peneliti persepsi merupakan inti dari
komunikasi, sedangkan penafsiran adalah inti dari persepsi, yang identik dengan
penyandian balik (decoding) dalam proses komunikasi.

Tahapan Proses Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi intrapersonal menguraikan bagaimana seorang individu menerima informasi,


mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali, yang melalui tahap-tahap
proses sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir.

1. Sensasi

Merupakan tahap paling awal dalam penerimaan informasi. Sensasi berasal dari kata sense
yang artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya.
Proses sensasi terjadi bila alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls saraf
dengan bahasa yang difahami oleh otak. Melalui alat indera, manusia dapat memahami
kualitas fisik lingkungannya.apa saja yang menyenth alat indera-dari dalam atau dari luar
disebut stimuli.

Syarat-syarat terjadinya sensasi sebagai berikut :

a. Adanya objek yang diamati atau kekuatan stimulus

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai indera (reseptor) sehingga terjadi sensasi.
Untuk bisa diterima oleh indera diperlukankekuatan stimulus yang disebut sebagai ambang
mutlak (absolutethreshold).

b. Kepastian alat indera (reseptor) yang cukup baik serta syaraf (sensoris) yang baik sebagai
penerus kepada pusat otak (kesadaran) untuk menghasilkan respon.

2. Asosiasi

Merupakan proses kedua setelah sensasi terjadi. Asosiasi dapat diartikan sebagai proses
menyamakan makna-makna stimulus yang datang di sensasi dengan pengalaman masa lalu.
Asosiasi sangat berguna untuk memberikan penyempurnaan persepsi. Dengan pengalaman-
pengalaman tiap individu yang berbeda, maka asosiasi tiap orang seringkali memiliki
perbedaan walaupun sensasi yang datang sama.

3. Persepsi

Merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh


dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna
pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas.
Sensasi adalah bagian dari persepsi demikian juga dengan asosiasi yang turut memberikan
kontribusi dalam proses persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi
tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga ada atensi (perhatian) ekspektasi (pengharapan),
motivasi, dan memori (Desiderato dalam Rakhmat, 1999:51)

Faktor-faktor Fungsional yang Menentukan Persepsi


Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang
termasuk yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukanlah
jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli
itu. Dari sini, Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi yang pertama: persepsi
bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat
tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang
melakukan persepsi.

2.3 Faktor yang mempengaruhi persepsi

1. Perhatian yaitu proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol
dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah.

Faktor eksternal penarik perhatian seperti gerakan, intensitas stimuli, kebaruan


(novelty), pengulangan.

Faktor internal penarik perhatian adalah factor biologis yaitu factor kebutuhan
biologis pada saat itu; dan factor sosiopsikologis yeng meliputi minat, kebiasaan,
sikap.

1. Faktor fungsional adalah yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu,
kerangka acuan seseorang yang semuanya merupakan factor personal.

2. Faktor structural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek fisiologis pada individu

3. Schlessinger dan Groves dalam bukunya Psychology: A Dynamic Science,


mendefinisikan memori sebagai tahapan proses selanjunya dalam komunikasi
intrapersonal. Memori memegang peranan penting dalam mempengaruhi baik
persepsi (dengan menyiapkan kerangka rujukan) maupun berfikir. Memori merupakan
sistem yang sangat berstruktur yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta
tenang dunia dan menggunakan pengetahuanya untuk membimbing perilakunya
(Rakhmat, 1999:62).

Jenis memori:

1. Recall (pengingatan):proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi


tanpa struktur yang jelas. Misalnya menyebutkan jenis-jenis benda.

2. Recognition (pengenalan):mengenal kembali sejumlah fakta. Contoh seperti pada


pengenalan kembali nama dari foto wajah, pilihan berganda pada tes obyektif.

3. Relearning:menguasai kembali pelajaran yang sudah pernah diperoleh.

4. Redintegrasi: merekonstruksi seluruh materi dengan petunjuk memori kecil.

5. Berpikir

Merupakan proses penafsiran kita terhadap simuli setelah kita melalu tahapan sensasi,
asosiasi, persepsi, memori. Secara garis besar, ada dua macam berpiir, yaitu berpikir autistik
yang sering dibahsakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai melamun. Dan yang kedua,
yaitu berpikir realistik yang dibagi lagi dalam tiga jenis, yaitu berpikir dedukif, berpikir
induktif, dan berpikir evaluative. Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan
(Decision Making), memecahkan persoalan (Problem Solving), berpikir kreatif (Creative
Thinking).

Memori

Menurut Schlessinger dan Goves, memori adalah sistem yang sangat


berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta
tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing
prilakunya. Sesuatu yang sudah tersimpan dalam memori akan
mempengaruhi pemaknaan/persepsi seseorang terhadap sesuatu di
waktu yang lain. Begitupun dalam berfikir, untuk
memutuskan/memerintahkan sesuatu, seseorang akan membuka
memorinya untuk mengetahui apa yang perlu dipertimbangkan dalam
memutuskan sesuatu, atau siapa yang perlu diperintah untuk melakukan
sesuatu tersebut. Sehingga memori memiliki peranan penting bagi
individu dalam memnentukan persepsi dan berfikir.

Mussen dan Rosenzweig menyebutkan bahwa memori melewati tiga


proses, yaitu perekaman, penyimpanan dan pemanggilan. Perekaman
(encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indra dan sirkit
syaraf internal. Penyimpanan (storage) adalah menentukan berapa lama
informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa dan dimana.
Penyimpanan bisa aktif dan pasif. Penyimpanan aktif terjadi apabila kita
menambah informasi. Pemanggilan (retrieval), adalah mengingat lagi atau
menggunakan informasi yang disimpan.

d. Berfikir

Floyd L. Ruch menyebutkan, berfikir merupakan manipulasi atau


organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-
lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak.
Secara garis besar, terdapat dua macam berfikir: berfikir autistik dan
berfikir realistik. Berfikir autistik contohnya melamun, mengkhayal, dan
berfantasi. Sedangkan berfikir realistik disebut juga berfikir nalar ialah
berfikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L.
Ruch mengklasifikasikan berfikir realistik ke dalam tiga macam: deduktif,
induktif, dan evaluatif. Berfikir deduktif ialah mengambil kesimpulan dari
dua pernyataan yang dimulai dengan pernyataan umum. Sebaliknya,
berfikir induktif ialah mengambil kesimpulan dari hal-hal yang khusus dan
kemudian mengambil kesimpulan umum atau generalisasi. Sedangkan
berfikir evaluatif ialah berfikir kritis, menilai baik-buruknya sesuatu. Dalam
berfikir evaluatif kita tidak menambah atau mengurangi sesuatu/gagasan,
namun menilainya menurut kriteria tertentu. Berfikir dilakukan untuk
memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan, memecahkan
persoalan, dan menghasilkan sesuatu yang baru.

1) Menetapkan keputusan (Decision Making) Salah satu fungsi berfikir


adalah untuk menetapkan keputusan. Hampir setiap yang kita lakukan
melalui proses penetapan keputusan. Sadar ataupun tidak, kita harus
menetapkan keputusan di sepanjang kehidupan kita. Sebagian dari
keputusan itu akan menjadi penentu masa depan. Setiap keputusan yang
diambil, akan disusul oleh keputusan-keputusan lainnya yang berkaitan.
Meskipun keputusan yang diambil beraneka ragam, dapat kita cermati
tanda-tanda umumnya:16 (1) keputusan merupakan hasil berfikir, hasil
usaha intelektual; (2) keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai
alternatif; (3) keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun
pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan. Faktor-faktor
penetapan keputusan yang telah disepakati antara lain kognisi, motif dan
sikap. Dalam kenyataannya ketiga faktor ini berlangsung sekaligus.

2) Memecahkan persoalan (Problem Solving)

Persoalan atau masalah seringkali timbul ketika ada peristiwa yang tidak
dapat diatasi dengan perilaku rutin. Melalui berfikir, manusia mampu
memecahkan masalah yang dihadapinya. Namun, tidak semua masalah
bisa diselesaikan oleh satu pemecah masalah karena harus menyesuaikan
dengan situasi dan kondisi masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, proses
pemecahan masalah tidak bersifat baku. Salah satu proses pemecahan
masalah yang bisa diterapkan yaitu: pertama, masalah diselesaikan
dengan prilaku pemecahan masalah yang rutin. Ketika proses ini belum
berhasil, maka proses kedua, yaitu menggali memori untuk mengetahui
apa saja solusi efektif yang pernah dilakukan dimasa lalu. Ketiga,
mencoba seluruh kemungkinan solusi yang pernah dilakukan.

Proses ini disebut penyelesaian mekanis (mechanical solution) dengan uji


coba. Keempat, mencoba memahami situasi yang terjadi, mencari
jawaban, dan menemukan kesimpulan. Proses terakhir yaitu pemecahan
masalah yang didapat dari hasil kesimpulan.

3) Berfikir Kreatif (Creative Thinking)

Berfikir kreatif adalah berani membuka batas pemikiran biasa, menjadi


luar biasa dengan menerima dan mencoba pemikiran yang baru. Berfikir
evaluatif akan membantu melahirkan kreativitas karena menyebabkan
kita menilai gagasan-gagasan secara kritis.

Teori ini digunakan sebagai acuan penulis untuk mengetahui dan


menentukan proses komunikasi intrapersonal produser program Sentuhan
Qolbu yakni sensasi, persepsi, memori dan berfikir. Sehingga bisa dianalisi
bagaiman pemahaman produser mengenai program Sentuhan Qolbu saat
ini.