Anda di halaman 1dari 13

BELAKANG

TUGAS
KOPERASI DAN UMKM

OLEH :
KELOMPOK 10

LUH PUTU CINTYA WIJAYANTI (1406305115)


PUTU PUTRI SAWITRI (1406305128)
CHRISTINA AYU MAHA DEWI (1406305161)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
REGULER/ 2017

1
DAFTAR ISI

Cover ..i

Daftar isi ii

Kata pengantar.iii

Peta konsep.iv

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar belakang1


1.2 Rumusan masalah...1

Bab II Pembahasan

2.1 mentaati sendi-sendi dasar koperasi.....2

2.2 tipe- tipe pengawasan koperasi.....3

2.3 metode pengawasan koperasi....3

2.4 manajemen koperasi..3

Bab III kesimpulan

3.1 kesimpulan8

Daftar pustaka ..9

KATA PENGANTAR
2
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatnya kami
dapat diperkenankan menyelasaikan Makalah ini.

Selain sebagai tugas, Makalah ini dibuat untuk menambah pengetahuan dan ilmu kita
tentang Manajemen Koperasi,Terjadinya Manajemen Koperasi di Indonesia,Manajemen
Koperasi menuju Kewirausahaan Koperasi.

Banyak sekali hambatan dalam penyusunan makalah ini baik itu masalah waktu, sarana,
dan lain lain. Oleh sebab itu, selesainya makalah ini bukan semata mata karena kemampuan
saya, banyak pihak yang mendukung dan membantu saya. Dalam kesempatan ini, penyusun
mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak pihak yang telah membantu.

Saya harapkan makalah ini nantinya akan berguna bagi para pembaca, jika ada kesalahan
dalam makalah ini saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat lebih baik
lagi.

Denpasar, 16 februari 2017

Penyusun

PETA KONSEP

3
PENGAWASAN KOPERASI
Sendi-sendi dasar koperasi di Indonesia juga
Mentaati sendi- dilandaskan pada kondisi nyata yang bersifat
sendi dasar umum terjadi di Indonesia, yaitu : azas
koperasi kekeluargaan dan gotong royong.

1. Pengawasan pendahulu (feedforward


control,steering controls)
Tipe-tipe
2. Pengawasan concurrent (concurrent
pengawasan
controls)
koperasi
3. Pengawasan umpan balik (feedback
control, past- action controls)

Secara garis besar pengawasan dapat dibagi


Metode menjadi dua yaitu metode pengawasan kuntitatif
pengawasan dan metode pengawasan kualitatif. Pengawasan
koperasi kualitatif dilakukan oleh manajer untuk menjaga
performance organisasi secara keseluruhan, sikap
serta performance karyawan. Metode pengawasan
kuantitatif dilakukan dengan menggunakan data,
biasanya digunakan untuk mengawasi kuantitas
maupun kualitas produk.

Manajemen koperasi ini sering dipandang kurang


Manajemen efisien kurang efektif dan sangat mahal. Pola
koperasi umum manajemen koperasi yang partisifatif
tersebut menggambarkan adanya interaksi antar
unsur manajemen koperasi. Terdapat pembagian
tugas (job descrition) pada masing-masing unsur.
Demikian pula setiap unsure manajemen
mempunyai lingkup keputusan yang dilakukan
secara bersama adapun lingkup keputusan yang
dilakukan secara bersama

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Menurut Undang-undang No. 25/1992, koperasi adalah badan usaha


yang beranggotakan orang-perorangan atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan
kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan asas kekeluargaan . Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial
sebagai usaha bersama berdasar asas-asas kekeluargaan dan gotong royong. Ropke menyatakan
makna koperasi dipandang dari sudut organisasi ekonomi adalah suatu organisasi bisnis yang
para pemilik/anggotanya adalah juga pelanggan utama perusahaan tersebut. Kriteria identitas
koperasi akan merupakan dalil/prinsip identitas yang membedakan unit usaha koperasi dari unit
usaha lainnya .

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Untuk Mengetahui Sendi Sendi Dasar Koperasi


1.2.2 Untuk Mengetahui Tipe Tipe Pengawasan Koperasi
1.2.3 Untuk Mengetahui Metoda Pengawasan Koperasi
1.2.4 Untuk Mengetahui Pengertian Dari Manajemeb Koperasi.

BAB II

1
PEMBAHASAN

A. MENTAATI SENDI-SENDI DASAR KOPERASI


Menurut sejarah koperasi, sendi-sendi dasar koperasi mulanya dirumuskan
oleh kaum buruh di inggris yang mendirikan koperasi Rochdale. Yang kemudian
dikenal dengan sendi-sendi dasar rochdale.Sendi-sendi dasar koperasi di Indonesia
juga dilandaskan pada kondisi nyata yang bersifat umum terjadi di Indonesia, yaitu : azas
kekeluargaan dan gotong royong. Dimana sendi-sendi dasar Koperasi Indonesia antara
lain :

1. Sifat keanggotaannya suka rela dan terbuka untuk setiap warga Negara Indonesia.
Suka rela dalam koperasi berarti atas kemauan sendiri tanpa paksaan.
Terbuka berarti tidak dihalang-halangi untuk masuk atau keluar sebagai
anggota koperasi.

2. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi sebagai pencerminan


demokrasi dalam koperasi.

3. Pembagian sisa hasil usaha diatur menurut jasa masing-masing.

4. Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada


umumnya.

5. Adanya pembatasanbunga atas bunga dan modal..

6. Usaha dan ketatalaksanaannya bersifat terbuka.

7. Swadaya, swakerta, dan swasembada sebagai pencerminan dari pada prinsip dasar :
percaya pada diri sendiri.

Sendi-sendi dasar ini merupakan inti sari dari dasar-dasar kerja koperasi sebagai
organisasi ekonomi yang berwatak sosial. Dasar-dasar kerja ini merupakan ciri khas dari
koperasi dan justru oleh karena itu membedakan koperasi dengan badan ekonomi lainnya.
Koperasi sebagai kumpulan orang yang bergerak di lapangan ekonomi harus terbuka
untuk anggota-anggotanya, karena merekalah yang memiliki dan membinanya. Tanpa modal
percaya/yakin akan kemampuan dan kekuatan sendiri tidak mungkin timbul kegiatan
koperasi yang sungguh dari, oleh dan untuk anggota. Maka kegiatan koperasi
berdasarkan atas prinsip:Swadaya= kekuatan atas usaha sendiri, Swakert= hasil buatan sendiri,
swa se'mbada = kemampuan sendiri.

B. TIPE-TIPE PENGAWASAN KOPERASI

2
Pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk membuat semua kegiatan
perusahaan sesuai dengan rencana. Proses pengawasan dapat dilakukan dengan melalui
beberapa tahap, yaitu menetapkan standar, membandingkan kegiatan yang dilaksanakan
dengan standar yang sudah ditetapkan, mengukur penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi, kemudian mengambil tindakan koreksi apabila diperlukan. Setiap
perusahaan mengadakan pengawasan dengan tujuan agar pelaksanaan kegiatan
sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan. Ada beberapa alasan yang dapat diberikan
mengapa hampir setiap perusahaan menghendaki adanya proses pengawasan yang baik.
Alasan-alasan tersebut antara lain:
Manajer dapat lebih cepat mengantisipasi perubahan lingkungan
Perusahaan yang besar akan lebih mudah dikendalikan
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh anggota organisasi dapat
dikurangi

Berdasarkan waktu melakukan pengawasan, dikenal ada tiga tipe pengawasan yaitu :

a) Pengawasan pendahulu (feedforward control,steering controls)


Dirancang untuk mengantisipasi penyimpangan standar dan memungkinkan koreksi
dibuat sebelum kegiatan terselesaikan.Pengawasan ini akan efektif bila manajer dapat
menemukan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang perubahan yang terjadi
atau perkembangan tujuan.
b) Pengawasan concurrent (concurrent controls)
Yaitu pengawasan Ya-Tidak dimana suatu aspek dari prosedur harus memenuhi
syarat yang ditentukan sebelum kegiataan dilakukan guna menjamin ketepatan
pelaksanaan kegiatan
c) Pengawasan umpan balik (feedback control, past- action controls)
Yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksanakan guna mengukur
penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar.

C. METODE PENGAWASAN KOPERASI


Secara garis besar pengawasan dapat dibagi menjadi dua yaitu metode
pengawasan kuntitatif dan metode pengawasan kualitatif. Pengawasan kualitatif
dilakukan oleh manajer untuk menjaga performance organisasi secara keseluruhan, sikap
serta performance karyawan. Metode pengawasan kuantitatif dilakukan dengan
menggunakan data, biasanya digunakan untuk mengawasi kuantitas maupun kualitas
produk. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengawasi kuantitatif antara lain
dengan menggunakan anggaran, mengadakan auditing, analisis break even, analisi rasio
dan sebagainya.

D. MANAJEMEN KOPERASI
Manajemen merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap organisasi. Sebagaimana
diketahui, hakikat manajemen adalah mmencapai tujuan melalui tangan orang lain.
Pencapaian tujuan melalui tangan orang lain dilakukan melalui manajemen dengan
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, fungsi

3
pengorganisasian, fungsi pelaksanaan ,dan fungsi pengawasan. Dengan demikian,
keberhasilan manajemen sebuah organisasi sudah sangat tergantung pada pelaksanaan
masing-masing fungsi tersebut.
Walaupun tingkat kerumitan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen
beragam antar satu organisasi dengan organisasi lainnya, namun tidak ada
organisasi yang ingin mencapai tujuannya secara efektif yang dapat
mengelak dari keharusan melaksanakan fungsi-fungsi tersebut.
Hanya dengan melaksanakan fungsi manajemen tersebut sebuah koperasi
akan dapat mencapai tujuan-tujuan mulianya secara efektif.

Koperasi merupakan lembaga yang harus dikelola sebagaimana layaknya lembaga bisnis.
Didalam sebuah lembaga bisnis diperlukan sebuah pengelolaan yang efektif dan efisien yang
dikenal dengan manajemen. Demikian juga didalam badan usaha koperasi, manajemen
merupakan satu hak yang harus ada demi terwujudnya tujuan yang diharapkan. Sebab tanpa
manajemen yang baik, tujuan organisasi tidak akan tercpai secara efisien. Selain itu dalam
pencapaian tujuan organisasi sering terjadi hal yang bertentangan dengan kepentingan pribadi
beberapa anggota atau bahkan ada berbagai pihak yang mempunyai kepentingan yang saling
bertentangan. Untuk menjaga keseimbangan antara anggota yang mempunyai berbagai
kepentingan tersebut sangat dibutuhkan manajemen yang baik, sehingga pertentangan antar
anggota dapat dikendalikan dan selanjutnya pencapaian tujuan organisasi tidak terganggu.

Seperti ilmu social lain manajemen mempunyai banyak pengertian ada yang mengartikan
manajemen merupakan suatu proses, adapula yang mengartikan manajemen sebagai suatu seni
untuk mencapai suatu tujuan melalui pengaturan terhadap orang lain. Definisi yang sering
digunakan adalah definisi yang dikemukakan oleh Stoner yang mengatakan manajemen adalah
proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan sumber daya- sumber daya organisasi lainnya agar tercapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.
Prof Ewell Paul Roy mengatakan bahwa manajemen koperasi melibatkan empat(4) unsur yaitu :
anggota, pengurus, manajer dan karyawan. Seorang manajer harus bias menciptakan kondisi
yang mendorong para karyawan agar mempertahankan produktivitas yang tinggi.

Karyawan adalah penghubung antara manajemen dan anggota pelanggan. Menurut


Suharsono Sagir system manajemen di lembaga koperasi harus mengarah kepada manajemen
partisipatif yang didalamnya terdapat kebersamaan, keterbukaan sehingga setiap anggota
koperasi baik yang turut dalam pengelolaan ataupun di luar kepengurusan ( anggota biasa)
memiliki rasa tanggung jawab bersama dalam organisasi koperasi.
A.H. Gophar mengatakan bahwa manajemen koperasi pada dasarnya dapat ditelaah dari tiga
sudut pandang yaitu : organisasi, proses dan gaya. Dari sudut pandang organisasi manajemen
koperasi pada prinsipnya terbentuk dan tiga unsur : anggota, pengurus, dan karyawan. Dapat
dibedakan struktur atau alat perlengkapan organisasi yang sepintas adalah sama yaitu : rapat
anggota, pengurus , dan pengawas. Untuk itu hendaknya dibedakan fungsi organisasi dna fungsi
manajemen.

Unsur pengawas seperti yang terdapat pada alat pelengkap organisasi koperasi, pada
hakekatnya adalah merupakan perpanjangan tangan dan anggota, untuk mendampingi pengurus

4
dalam melakukan fungsi control sehari hari terhadap jalannya organisasi dan usaha koperasi.
Keberhasilan koperasi tergantung pada kerjasama ketiga unsur organisasi tersebut dalam
mengembangkan organisasi dan usaha koperasi yang dapat memberikan pelayanan sebaik-
baiknya kepada anggota. Dan sudut pandang, proses manajemen lebih mengutamakan demokrasi
dalam pengambilan keputusan. Istilah satu orang satu suara sudah mendarah daging dalam
koperasi.

Karena itu, manajemen koperasi ini sering dipandang kurang efisien kurang efektif dan
sangat mahal. Terakhir ditinjau dari sudut pandang gaya manajemen, manajemen koperasi
menganut gaya partisipatif dimana posisi anggota ditetapkan sebagai subjek dan manajemen
yang aktif mengendalikan manajemen perusahaannya. Sitio dan Tamba menyatakan badan usaha
koperasi di Indonesia memiliki manajemen koperasi yang dirunut berdasarkan perangkat
organisasi koperasi yaitu : Rapat anggota, pengurus, pengawas dan pengelola. Telah diuraikan
sebelumnya bahwa watak manajemen koperasi ialah gaya manajemen partisifatif.

Pola umum manajemen koperasi yang partisifatif tersebut menggambarkan adanya


interaksi antar unsur manajemen koperasi. Terdapat pembagian tugas (job descrition) pada
masing-masing unsur. Demikian pula setiap unsure manajemen mempunyai lingkup keputusan
yang dilakukan secara bersama adapun lingkup keputusan yang dilakukan secara bersama
adapun lingkup keputusan masing-masing unsur manajemen koperasi adalah sebagai berikut:

a. Rapat Anggota
Merupakan pemegang kuasa tertinggi dalam menetapkan kebijakan umum di bidang
organisasi, manajemen dna usaha koperasi. Kebijakan yang sifatnya sangat strategis
dirumuskan dan ditetapkan pada forum Rapat Anggota. Umumnya rapat anggota
diselenggarakan sekali setahun.

b. Pengurus
Dipilih dan diberhentikan pada rapat anggota. Dengan dmeikian pengurus dapat
dikatakan sebagai pemegang kuasa rapat anggota dalam mengoperasionalkan kebijakan-
kebijakan strategis yang ditetapkan rapat anggota. Penguruslah yang mewujudkan arah
kebijakan strategis yang menyangkut organisasi maupun usaha.

c. Pengawas
Mewakili anggota untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan yang
dilaksanakan oleh pengurus. Pengawas dipilih dna diberhentikan oleh rapat anggota. Oleh
sebab itu dalam struktur organisasi koperasi posisi pengawas dan pengurus adalah sama.

d. Pengelola
Adalah tim manajemen yang diangkat dan diberhentikan oleh pengurus, untuk
melaksanakan teknis operasional dibidnag usaha. Hubungan pengelola usaha dengan
pengurus koperasi adalah hubungan kerja atas dasar perikatan dalam bentuk perjanjian
atau kontrak kerja.

Fungsi fungsi manajemen koperasi

5
Pengertian, manfaat dan tujuan perencanaan

Perencanaan merupakan proses dasar manajemen. Dalam perencanaan manajer


memutuskan apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan bagaimana melakukan dan
siapa yang harus melakukan. Setiap organisasi memerlukan perencanaan. Baik
organisasiyang bersifat kecil maupun besar sama saja membutuhkan perencanaan. Hanya
dalam pelaksanaannya diperlukan penyesuaian-penyesuaian mengingat bentuk tujuan dan
luas organisasi yang bersangkutan. Perencanaan yang baik adalah pperencanaan yang
fleksibel, sebab perencanaan akan berbeda dalam situasi dna kondisi yang berubah-ubah di
waktu yang akan datang. Apabila perlu dalam pelaksanaannya diadakan perencanaan kembali
sehingga semakin cepat tujuan organisasi untuk dicapai.

Tipe dan proses perencanaan


Ada empat tahap dasar perencanaan yaitu :
1. Menetapkan tujuan dan serangkaian tujuan
2. Merumuskan keadaan saat ini
3. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan
4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Perencanaan dalam koperasi

Organisasi koperasi sama dengan organisasi lainnya, perlu dikelola dengan baik agar dapat
tercapai tujuan akhir selektif mungkin.

Fungsi perencanaan merupakan fugsi manajemen yang snagat penting karena merupakan dasar
bagi fungsi manajemen lain.

Agar tujuan akhhir koperasi dapat dicapai maka koperasi harus membuat rncana yang baik,
dengan melalui beberapa langkah dasar pembuatan rencana yaitu menentukan tujuan organisasi
mengajukan beberapa alternatif cara mencapai tujuan tersebut dan kemudian alternatif
alternatif tersebut harus dikaji stau per satu baik buruknya sebelum diputuskan alternatif mana
yang dipilih. Tipe rencana yang dapat diambil dalam koperasi dapat bermacam-macam
tergantung jangka waktu dan jenjang atau tingkatan manajemen.

Pengorganisasian dan struktur organisasi

Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal,


mengelompokan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara para anggota
organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien. Pelaksanaan proses
pengorganisasian akan mencerminkan struktur organisasi yang mencakup beberapa aspek
penting seperti :

1. Pembagian kerja
2. Departementasi
6
3. Bagan organisasi
4. Rantai perintah dan satuan perintah
5. Tingkat hirarki manajemen dan
6. Saluran komunikasi dan sebagainya.

Struktur organisasi dalam koperasi

Sebagai pengelola koperasi, pengurus menghadapi berbagai macam masalah yang harus
diselesaikan. Masalah yang paling sulit adalah masalah yang timbul dari dalam dirinya
sendiri yaitu berupa keterbatasan. Keterbatasan dalam hal pengetahuan paling sering terjadi
sebab seorang pengurus harus diangkat oleh dan dari anggota sehingga belum tentu dia
meerupakan orang yang professional dibidang perusahaan.

Dengan kemapuannya yang terbatas serta tingkat pendidikan yang terbatas pula,
pengurus perlu mengangkat karyawan yang bertugas membantunya dalam mengelola
koperasi agar pekerjaan koperasi dapat diselesaikan dengan baik. Dengan masuknya berbagai
pihal yang ikut membantu pengurus mengelola usaha koperasi, semakin kompleks pula
struktur organisasi koperasi tersebut. Pemilihan bentuk struktur organisasi koperasi harus
disesuaikan dengan macam usaha, volume usaha maupun luas pasar dari produk yang
dihasilkan. Pada prinsipnya semua bentuk organisasi baik, walaupun masing-masing
mempunyai kelemahan.

BAB III

KESIMPULAN

7
Sendi-sendi dasar koperasi di Indonesia juga dilandaskan pada kondisi nyata yan bersifat
umum terjadi di Indonesia yaitu : azas kekeluargaan dan gotong royong. Sendi- sendi ini
merupakan inti sari dari dasar-dasar kerja koperasi sebagai organisasi ekonomi yang
berwatak social. Dasar-dasar kerja ini merupakan cirri khas dari koperasi dan justru karena
itu membedakan koperasi dengan badan lainnya. Di dalam menjalankan aktivitasnya
koperasi juga memerlukan pengawasan. Proses pengawasan tersebut dapat dilakukan dengan
melalui beberapa tahap yaitu menetapkan standar, membandingkan kegiatan yang
dilaksanakan dengan standar yang sudah ditetapkan, mengukur penyimpangan-
penyimpangan yang terjadi kemudia mengambil tindakan koreksi apabila diperlukan. Secara
garis besar pengawasan dapat dibagi menjadi dua yaitu metode pengawasan kualitatif dan
metode pengawasan lkuantitatif. Koperasi juga memerlukan manajemen dalam beroperasi
agar dapat memenuhi fungsi-fungsi manajemen, yaitu fungsi perencanaan, fungsi
pengorganisasian, fungsi pelaksanaan, dan fungsi pengawasan.

REFRENSI

Hendar & Kusnadi, 2009, Ekonomi Koperasi : Untuk Perguruan Tinggi (Edisi 2)

8
Thoby mutis, 1992, Pengembangan Koperasi. Kumpulan Karangan. Jakarta Gramedia widia
Sarana Indonesia