Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM 1

MENGUJI UDARA

A. Tujuan
Mempelajari bagaimana tanah dan air menyerap dan melepaskan energi dari
matahari.

B. Hipotesis
Suhu udara di atas permukaan tanah dan di bawah permukaan tanah akan lebih
cepat menyerap panas dan juga lebih cepat melepas panas daripada suhu udara di atas
permukaan air dan di bawah permukaan air.

C. Dasar Teori
Suhu adalah derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu
dengan menggunakan termometer. Satuan suhu yang biasa digunakan adalah derajat
celcius (C). Sedangkan di Inggris dan beberapa negara lainnya dinyatakan dalam
derajat Fahrenheit (F). C = 5/9 (F 32); F = 9/5(C) + 32 (Kartasapoetra, 2005).
Jumlah panas yang sampai ke permukaan bumi disebabkan oleh konduksi bumi
atau hasil proses kimia dan biologi yang tak berarti pada suhu tanah. Temperatur tanah
utamanya sangat tergantung oleh jumlah radiasi yang diterima dari matahari. Kuantitas
dari panas yang didapat dari permukaan bumi oleh konduksi dari bumi atau berasal
dari unsur kimia dan proses biologi yang kecil memberikan efek temperatur
(Baver,1960).

Gambar 1. Mengukur Humidity


Sumber : http://asamoksida.blogspot.co.id/2012/09/mengukur-evapotranspirasi.html
1. Suhu Udara
Suhu udara adalah ukuran energi kinetik rata-rata dari pergerakan molekul-
molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda

1
tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda-benda lain atau menerima
panas dari benda-benda lain tersebut. Dalam sistem dua benda, benda yang
kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu lebih tinggi (Yani, 2009).
Suhu udara di permukaan bumi adalah relatif, tergantung pada faktor-
faktor yang mempengaruhinya seperti misalnya lamanya penyinaran matahari. Hal
itu dapat berdampak langsung akan adanya perubahan suhu di udara.
Suhu udara bervariasi menurut tempat dan dari waktu ke waktu di
permukaan bumi. Menurut tempat, suhu udara bervariasi secara vertikal dan
horizontal dan menurut waktu dari jam ke jam dalam sehari, dan menurut bulanan
dalam setahun (Wisnubroto, S, dkk. 1982).
Beberapa unsur yang mempengaruhi suhu secara horizontal di permukaan
bumi yaitu letak lintang suatu tempat. Juga suhu udara di atmosfer bervariasi
menurut letak ketinggian tempat, hingga ketinggian tertentu. Suhu udara dapat
menurun, tetapi menurut ketinggian yang lainnya meningkat. Pada lapisan
Troposfer atau lapisan bawah atmosfer suhu udara menurun menurut letak
ketinggian tempat hingga ketinggian 10 km.
2. Suhu Tanah
Menurut Nita Nurfitah (2011) suhu tanah merupakan hasil dari
keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan
aliran panas dalam tanah. Sedangkan Hanafiah, K.A. (2010) mendefinisikan
bahwa temperatur (suhu) adalah suatu sifat tanah yang sangat penting, secara
langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dan juga terhadap kelembapan,
aerasi, struktur, aktivitas mikrobial, dan enzimatik, dekomposisi serasah/ sisa
tanaman dan ketersediaan hara-hara tanaman. Suhu tanah juga disebut intensitas
panas dalam tanah dengan satuan derajat Celcius, derajat Fahrenheit, derajat
Kelvin dan lain-lain.
Suhu tanah adalah salah satu faktor terpenting yang dapat mendukung
aktivitas mikrobiologi dan proses penyerapan unsur hara oleh tanaman. Suhu
tanah sangat bergantung pada besarnya radiasi surya yang di berikan oleh
matahari. Jumlah panas yang sampai ke permukaan bumi disebabkan oleh
konduksi bumi atau hasil proses kimia dan biologi yang tak berarti pada suhu
tanah (Baver, 1960).
Pembentukan bahan tanah dari bahan induk tanah berlangsung dengan
proses pelapukan, dekomposisi, dan atau mineralisasi lebih lanjut, disertai dengan
proses sintesis senyawa baru. Mineral baru hasil sintesis adalah mineral lempung
aluminosilikat, mineral lempung seskuioksida, terutama dari Fe dan Al, dan
2
mineral silika. Sintesis mineral baru dikenal dengan istilah neomineralisasi atau
neoformasi. Humifikasi adalah sintesis senyawa organik baru berupa senyawa-
senyawa humik, yaitu senyawa fulvat, humat, dan humin. Mineral lempung juga
dinamakan mineral sekunder karena tidak terdapat dalam bahan litosfer semula.
Demikian pula senyawa humik disebut bahan organik sekunder karena tidak
terdapat dalam bahan biosfer semula (Notohadiprawiro, 1998).
Suhu tanah setiap saat dipengaruhi oleh rasio energi yang diserap dan yang
dilepaskan. Hubungan perubahan konstan ini digambarkan dalam perhitungan
berdasarkan musim, bulanan, dan suhu tanah harian (Brady, 1984).
Suhu tanah yang rendah dapat mempengaruhi penyerapan air dari
pertumbuhan tumbuhan. Jika suhu tanah rendah, kecil kemungkinan terjadi
transpirasi, dan dapat mengakibatkan tumbuhan mengalami dehidrasi atau
kekurangan air. Pengaruh dari suhu tanah pada proses penyerapan bisa dilihat dari
hasil perubahan viskositas air, kemampuan menyerap dari membran sel, dan
aktivitas fisiologi dari sel-sel akar itu sendiri. Dengan kata lain pada keadaan
udara yang panas maka evaporasi air dari permukaan tanah akan semakin besar
(Tisdale and Nelson, 1966).
Suhu tanah juga akan dipengaruhi oleh jumlah serapan radiasi matahari
oleh permukaan bumi. Pada siang hari suhu permukaan tanah akan lebih tinggi
dibandingkan suhu pada lapisan tanah yang lebih dalam. Hal ini juga disebabkan
karena permukaan tanah yang akan menyerap radiasi matahari secara langsung
pada siang hari tersebut, baru kemudian panas dirambatkan ke lapisan tanah yang
lebih dalam secara konduksi. Sebaliknya, pada malam hari permukaan tanah akan
kehilangan panas terlebih dahulu, sebagai akibatnya suhu pada permukaan tanah
akan lebih rendah dibandingkan dengan suhu pada lapisan tanah yang lebih
dalam. Pada malam hari, panas akan merambat dari lapisan tanah yang lebih
dalam menuju ke permukaan (Lakitan, 1992).
Tanah merupakan konduktor yang terbaik bila dibandingkan dengan air
dan udara. Konduktor merupakan bahan yang dapat menghantar panas dengan
baik. Hal tersebut merupakan contoh perpindahan panas secara konduksi. Koduksi
adalah perpindahan panas melalui zat perantara, namun zat tersebut tidak ikut
berpindah ataupun bergerak (Suhartini D, dkk. 2008).
Pada proses ini, sebagian energi kinetik molekul benda/ medium yang
bersuhu lebih tinggi dipindahkan ke molekul benda bersuhu lebih rendah melalui
tumbukan molekul-molekul tersebut. Energi panas seolah-olah merambat melalui

3
medium tersebut. Jumlah aliran panas persatuan waktu dan luas tergantung dari
sifat fisik medium yang dicerminkan oleh konduktivitas panas medium tersebut.
Sedangkan udara merupakan konduktor terburuk diantara air dan tanah.
Oleh karena itu, proses konduksi hanya efektif untuk pemanasan tanah dan tidak
efektif untuk pemanasan udara. Di udara, proses pemindahan panas secara
konduksi terjadi pada lapisan udara yang sangat tipis dekat permukaan (beberapa
milimeter) dikenal dengan konduksi semu karena tidak sepenuhnya merupakan
proses pemindahan panas secara konduksi.
3. Panas Air
Panas jenis air jauh lebih besar dari pada panas jenis zat lain. Sebagai
contoh, panas jenis air sepuluh kali lebih besar dari pada panas jenis aluminium.
Karena kapasitas panasnya yang sangat besar, air adalah bahan yang baik sekali
untuk menyimpan energi termis, seperti misalnya dalam sistem pemanasan solar/
matahari. Air juga merupakan pendingin yang baik. Air dalam jumlah banyak,
seperti danau atau lautan, cenderung membuat variasi temperatur tidak berlebihan
di dekatnya karena air dapat menyerap atau melepas energi termis dalam jumlah
yang besar sementara mengalami perubahan temperatur sangat kecil. Karena
panas jenis air praktis konstan meliputi jangkauan temperatur yang lebar, panas
jenis sebuah benda dengan mudah dapat diukur dengan memanaskan benda
sampai suatu temperatur tertentu yang mudah diukur, dengan menempatkannya
dalam bejana air yang massa dan temperaturnya diketahui, dan dengan mengukur
temperatur kesetimbangan akhir. Jika seluruh sistem terisolasi dari sekitarnya
maka panas yang keluar dari benda sama dengan panas yang masuk ke air dan
wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri, dan wadah air yang terisolasi
dinamakan kalorimeter (Tipler, 2004).
Tidak ada usaha dikerjakan oleh sistem atau lingkungan. Sebagai
akibatnya perubahan suhu lingkungan (air) hanyalah karena kalor yang
dipertukarkan antara air dan sistem. Perubahan suhu ini diukur dengan sebuah
termometer, dan kalor yang dipertukarkan dihitung dari massa dan kalor jenis air
yang diketahui. Dari kekekalan tenaga, kalor yang diperoleh oleh sistem adalah
harga negatif dari kalor yang hilang dari lingkungan dan sebaliknya. Dengan
demikian kalorimeter mengukur kalor yang dipertukarkan oleh sistem di bawah
syarat-syarat tertentu (Cromer, 2001).
4. Penyebaran suhu
a. Penyebaran suhu vertikal

4
Pada lapisan troposfer, secara umum suhu makin rendah menurut
ketinggian. Udara merupakan penyimpan panas terburuk, sehingga suhu
udara sangat dipengaruhi oleh permukaan bumi tempat bersentuhan antara
udara dengan daratan dan lautan. Permukaan bumi tersebut merupakan
pemasok panas utama untuk pemanasan udara.
Lautan mempunyai luas dan kapasitas panas yang lebih besar daripada
daratan, sehingga meskipun daratan merupakan penyimpanan panas yang
lebih buruk tetapi karena udara bercampur secara dinamis , maka pengaruh
permukaan lautan secara vertikal akan lebih dominan. Akibatnya suhu akan
turun menurut ketinggian baik diatas daratan maupun lautan
b. Penyebaran suhu dipermukaan bumi
Suhu dipermukaan bumi makin rendah dengan bertambahnya lintang
seperti halnya penurunan suhu menurut ketinggian. Bedanya, pada
penyebaran suhu secara vertikal permukaan bumi merupakan sumber
pemanasan sehingga makin tinggi tempat makin rendah suhu. Sedangkan
pada penyebaran suhu menurut letak lintang sumber energi utama berasal dari
daerah tropika yang merupakan penerima energi radiasi surya terbanyak.
Sebagian energi tersebut dipindahkan ke daerah lintang tinggi untuk menjaga
keseimbangan energi secara global.
Daratan tidak mempunyai kapasitas yang sama seperti air dalam
kemampuannya menyimpan panas. Akibatnya, daratan akan lebih cepat
bereaksi untuk menjadi panas ketika menerima radiasi matahari daripada
lautan. Sebaliknya, daratan akan lebih cepat pula menjadi dingin daripada
lautan pada waktu tidak ada insulation (pemanasan sinar matahari yang
diterima oleh permukaan bumi). Akibatnya, di daratan terdapat perbedaan
suhu yang amat besar dibandingkan dengan yang terjadi di lautan.
Perpindahan panas juga terjadi antara udara dengan lautan / tanah yang ada
dibawahnya akan dapat memberikan suatu kenaikan tekanan atmosfer pada
daerah-daerah di sekitarnya.

D. Metode Praktikum
1. Pelaksanaan Praktikum
Tempat : Green House Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
Hari, tanggal : Kamis, 5 November 2015
Waktu : 07.30 09.10 WIB
2. Alat dan Bahan

a) Gelas Beaker (2 buah) b) Termometer (4 buah)


5
c) Selotip f) Tanah
d) Statif g) Air
e) Stopwatch/Arloji h) Buku jurnal kegiatan

3. Prosedur Kerja
a)

Mengisi gelas beaker I dengan tanah kurang lebih setengah volumenya

Mengisi gelas beaker II dengan air kurang lebih setengah volumenya

Memasang pada masing-masing botol 2 buah termometer. Termometer I


berada 1 cm di bawah permukaan tanah/air dan termometer II berada 1 cm
di atas permukaan tanah/air

Meletakkan 2 gelas beaker yang sudah dipasang termometer pada ruang


yang terkena cahaya matahari

Membaca dan mencatat suhu pada masing-masing termometer setiap 10


menit sebanyak 5 kali

Membuat grafik perbandingan waktu (menit) dengan : a) suhu tanah; b)


suhu air; c) suhu udara di atas tanah; dan d) suhu udara di atas air

E. Hasil Pengamatan
1. Tabel Hasil Pengamatan
b) Berdasarkan percobaan diperoleh data sebagai berikut :

6
f) Suhu di
e) Suhu di atas
bawah
permukaan
d) permukaan
(C)
c) t (C)
i) j) k) l)
Ai Ta Ai Ta

n) o) p) q) r)
m)
0 30 32 31 33
t) u)
v) w) x)
s) 1 31
34 30 36
z)
aa) ab) ac) ad)
y) 2
33 37 31 39
af)
ag) ah) ai) aj)
ae) 3
35 40 32 44
al)
am) an) ao) ap)
ak) 4
35 40 33 45
ar)
as) at) au) av)
aq) 5
36 41 34 45
aw)

2. Analisis Data
ax) Analisis data berupa grafik hubungan antara waktu dengan suhu.
a) Grafik hubungan antara Waktu (t) dengan Suhu (T) pada Air

7
ay)

Grafik Kenaikan Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Air

36

35 35

34
di atas permukaan
33 33
di bawah permukaan
32
31.5
31 31

30 30

az)
ba)
b) Grafik hubungan antara Waktu (t) dengan Suhu (T) pada Tanah

8
bb)

Grafik Kenaikan Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Tanah

44 45 45
40 40 41
39
36 37
33 34 di atas permukaan
32
di bawah permukaan

bc)
c) Grafik hubungan antara Waktu (t) dengan Suhu (T) pada Air dan Tanah

9
bd)

Grafik Kenaikan Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Air maupun Tanah

44 45 45

40 40 41
39
36 37 36
34 35 35 34
33
32 33 32 33
31 31.5 31
30 30

Suhu di atas permukaan (C) Air


Suhu di atas permukaan (C) Tanah
Suhu di bawah permukaan (C) Air
Suhu di bawah permukaan (C) Tanah

d)

10
F. Pembahasan

be) Praktikum yang berjudul Menguji Udara dilaksanakan pada hari


Kamis tanggal 5 November 2015 di Balkon Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY, dengan
tujuan mempelajari bagaimana tanah dan air menyerap dan melepaskan energi dari
matahari. Berdasarkan tujuan tersebut, dugaan sementara yang diperoleh yaitu suhu
udara di atas permukaan tanah dan di bawah permukaan tanah akan lebih cepat
menyerap panas dan juga lebih cepat melepas panas.

bf) Berdasarkan tujuan tersebut, percobaan ini menggunakan beberapa


alat dan bahan. Alat yang digunakan berupa gelas beaker 2 buah sebagai
tempat/wadah air dan tanah, termometer sebanyak 4 buah yang digunakan untuk
mengukur suhu udara di atas dan di bawah permukaan tanah dan air, dan statip untuk
meggantung termometer serta stopwatch sebagai penghitung waktu. Sedangkan bahan
yang paling utama berupa tanah dan air.

bg)
bh) Gambar 2. Rangkaian Alat Percobaan Menguji Udara
bi) Sumber : Dokumentasi Pribadi

bj) Adapun langkah kerja yang dilakukan praktikan pada percobaan ini
adalah yang pertama, menyiapkan alat dan bahan. Kemudian, praktikan mengisi gelas
beaker I dengan tanah dan gelas beaker II dengan air, masing-masing sebanyak 150
mL. Kemudian yang dilakukan praktikan adalah memasang masing-masing gelas
beaker dengan 2 buah termometer. Termometer satu berada 1 cm di bawah permukaan
air maupun tanah, termometer yang lain ditempatkan pada 1 cm di atas permukaan air
maupun tanah. Peletakkan termometer ini dilakukan dengan mengaitkan termometer
11
pada statip, seperti pada Gambar 2. Mengusahakan peletakkan termometer tidak
mengenai dinding gelas beaker. Hal ini dilakukan supaya meminimalisir adanya
ketidaktepatan dalam pengambilan data, karena gelas beaker mempunyai suhu
tertentu pada saat tertentu. Selanjutnya, meletakkan rangkaian tersebut pada ruang
terbuka yang dapat terkena sinar matahari langsung.
bk) Pada percobaan ini, praktikan melakukan pengambilan 5 data berupa
besar suhu pada termometer setiap 10 menit sekali pada masing termometer. Akan
tetapi sebelumnya, juga dilakukan pengambilan data sebagai suhu awal (T0).
Sehingga diperoleh data sebanyak 6 kali pengambilan. Tercatat bahwa suhu awal (T0)
di atas permukaan air sebesar 30 oC, suhu di bawah permukaan air awal sebesar 31
o
C, suhu di atas permukaan tanah sebesar 32 oC, dan suhu di bawah permukaan tanah
awal sebesar 33 oC.
bl) Menurut Kartasapoetra (2005), suhu adalah suatu kemampuan benda
dalam memberi dan menerima panas. Suhu diartikan sebagai energi kinetis rata-rata
suhu benda yang dinyatakan dalam derajat suhu. Alat yang digunakan untuk
mengukur suhu adalah termometer. Termometer terdapat beberapa jenis, tetapi pada
percobaan ini menggunakan termometer suhu biasa untuk mengukur perbedaan suhu
setiap 10 menit. Sehingga diperoleh 6 data pada masing-masing termometer.
bm) Hasil pengukuran yang diperoleh kemudian dibuat dalam bentuk
grafik hubungan antara suhu (T) dalam celcius dan waktu (t) dalam menit. Data
dibuat menjadi 3 buah grafik perbandingan berikut.

1. Grafik Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Air


bn) Berdasarkan data hasil pengamatan, pada menit ke-0 atau suhu
awal (T0 ) di atas permukaan air sebesar 30C, sedangkan di bawah permukaan
air sebesar 31C. Pada menit ke 10 suhu di atas permukaan air sebesar 31,5 C
sedangkan di bawah permukaan air sebesar 30C. Pada menit ke 20, suhu di atas
permukaan air sebesar 33C sedangkan di bawah permukaan air sebesar 31C.
Pada menit ke 30, suhu di atas permukaan air sebesar 35C sedangkan di bawah
permukaan air sebesar 32C. Pada menit ke 40, suhu di atas permukaan air
sebesar 35C sedangkan di bawah permukaan sebesar 33C. Dan terakhir pada
menit ke 50, suhu di atas permukaan air sebesar 36C sedangkan di bawah
permukaan air sebesar 34C. Dari perolehan data tersebut, praktikan membuat
grafik berikut.

12
bo)

Grafik Kenaikan Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Air


36
35 35
34
di atas permukaan
33 33 di bawah permukaan
32
31.5
31 31
30 30

bp) Berdasarkan grafik tersebut, menunjukkan bahwa pada menit


ke 0 menuju menit ke 10, untuk suhu di bawah permukaan air mengalami
penurunan. Hal ini terjadi karena T0 yang tampak pada alat ukur termometer
merupakan suhu udara di ruangan terbuka. Sehingga menunjukkan angka yang
lebih besar. Dan pada menit selanjutnya, menunjukkan kenaikan yang stabil atau
tetap. Sedangkan suhu di atas permukaan air terus mengalami kenaikan meskipun
tidak stabil. Grafik juga menunjukkan angka kenaikan suhu di atas permukaan air
lebih besar dibandingkan dengan kenaikan suhu di bawah permukaan air. Hal ini
terjadi karena air mengalami perubahan suhu yang sangat lambat, sehingga air
memiliki sifat sebagai penyimpanan panas yang sangat baik. Sedangkan menurut
literatur, suhu udara bervariasi berdasarkan tempat dan dari waktu ke waktu di
permukaan bumi (Wisnubroto, S, dkk. 1982). Hal ini terjadi juga karena adanya
proses penyebaran suhu di atas dan bawah air berbeda.

bq) Partikel-partikel air juga mempunyai susunan yang kurang


rapat, sehingga sulit mengalami konduksi panas. Air memiliki indeks panas

13
khusus yang tinggi. Inilah yang menunjukkan bahwa air dapat menyerap banyak
panas, sebelum air itu mulai menjadi panas. Namun demikian, setelah menyerap
panas, zat cair tidak lekas melepas panas.

br) Selain itu, air juga memiliki panas jenis yang jauh lebih besar daripada
panas jenis zat lain. Karena kapasitas panasnya yang sangat besar, maka air
adalah bahan yang baik sekali untuk menyimpan energi termis. Air juga
merupakan pendingin yang baik. Air yang berada dalam jumlah banyak,
cenderung membuat variasi temperatur tidak berlebihan di dekatnya karena air
dapat menyerap atau melepas energi termis dalam jumlah yang besar sementara
mengalami perubahan temperatur sangat kecil (Tipler, 2004).

2. Grafik Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Tanah


bs) Berdasarkan data hasil pengamatan, pada menit ke-0 atau suhu awal
(T0 ) di atas permukaan tanah sebesar 32C, sedangkan di bawah permukaan
tanah sebesar 33C. Pada menit ke 10 suhu di atas permukaan tanah sebesar 34C
sedangkan di bawah permukaan tanah sebesar 36C. Pada menit ke 20, suhu di
atas permukaan tanah sebesar 37C sedangkan di bawah permukaan tanah
sebesar 39C. Pada menit ke 30, suhu di atas permukaan tanah sebesar 40C
sedangkan di bawah permukaan tanah sebesar 44C. Pada menit ke 40, suhu di
atas permukaan tanah sebesar 40C sedangkan di bawah permukaan sebesar
45C. Dan terakhir pada menit ke 50, suhu di atas permukaan tanah sebesar 41 C
sedangkan di bawah permukaan tanah sebesar 45C. Dari data-data tersebut,
praktikan membuat grafik hubungan waktu (t) dalam menit dan suhu (T) dalam
Celcius berikut.

14
bt)

Grafik Kenaikan Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Tanah

44 45 45
40 40 41
39
36 37
33 34 di atas permukaan
32
di bawah permukaan

bu) Berdasarkan grafik hubungan t dengan T tersebut,


menunjukkan bahwa suhu mengalami kenaikan, baik suhu pada permukaan atas
maupun di bawah permukaan tanah. Namun, pada beberapa titik suhu di atas
maupun di bawah permukaan tanah tidak mengalami kenaikan suhu (konstan).
Seperti pada menit ke-30 menuju menit ke-40 suhu di atas permukaan konstan
40C, sama halnya yang terjadi pada suhu di bawah permukaan tanah pada menit
ke-40 menuju menit ke-50 konstan 45C. Hal ini terjadi karena suhu yang
ditunjukkan pada termometer bergantung pada kondisi udara pada saat itu dan
dalam lingkungan tersebut.

bv) Berdasarkan literatur, tanah merupakan konduktor terbaik


dibandingkan dengan air dan udara, sehingga suhu yang ditunjukkan termometer
naik atau hanya tetap (tidak konstan) bergantung pada kondisi udara di
lingkungan tersebut. Pada prinsipnya udara bukanlah konduktor yang baik,
sehingga udara tidak dapat mempertahankan panas ketika cuaca berubah-ubah.
Pada saat praktikan melakukan percobaan ini, cuaca yang sedang tidak stabil ini

15
berdampak langsung pada hasil tersebut. Sehingga cuaca sangat berpengaruh
dalam keberhasilan percobaan. Percobaan akan berlangsung optimal ketika cuaca
pada saat itu cerah, karena energi panas yang dipancarkan oleh sinar matahari
akan maksimal.

bw) Menurut R. L. Hausenbuiller (1982), bahwa suhu tanah


bervariasi secara berkelanjutan. Di permukaan tanah, ketika matahari terbit suhu
tanah yang minimum akan mengalami peningkatan. Tanah mulai menyimpan
energi dengan adanya sinar matahari yang kemudian menghilang, disebabkan
suhu meningkat. Proses ini terus berlanjutan hingga intensitas radiasi yang
mengalami penurunan akibat jumlah energi yang diterima menurun, sehingga
hilang dari permukaan tanah.

bx) Beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya suhu


tanah, yaitu faktor luar yang berupa adanya radiasi matahari, awan, curah hujan,
angin, kelembapan udara, dan faktor dalam berupa faktor tanah, struktur tanah,
kadar air tanah, kandungan bahan organik, dan warna tanah. Suhu tanah beraneka
ragam dengan cara khas pada perhitungan harian dan musiman. Fluktuasi
terbesar dipermukaan tanah dan akan berkurang dengan bertambahnya
kedalaman tanah.

by)

3. Grafik Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Air maupun Tanah


bz)Berdasarkan dari kedua grafik tersebut, praktikan membuat grafik
sebagai bentuk perbandingan suhu di atas dan di bawah permukaan air maupun
tanah. Sehingga akan tampak adanya perbedaan penyebaran suhu udara di atas
dan di bawah permukaan air maupun tanah.

16
ca)

Grafik Kenaikan Suhu di Atas dan di Bawah Permukaan Air maupun Tanah

44 45 45

40 40 41
39
36 37 36
34 35 35 34
33
32 33 32 33
31 31.5 31
30 30

Suhu di atas permukaan (C) Air


Suhu di atas permukaan (C) Tanah
Suhu di bawah permukaan (C) Air
Suhu di bawah permukaan (C) Tanah

cb)Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa kenaikan suhu udara


di atas dan di bawah permukaan tanah relatif besar dibandingkan dengan
kenaikan suhu udara di atas maupun di bawah permukaan air. Hal demikian
terjadi karena tanah merupakan zat padat yang memiliki susunan partikel yang
rapat sehingga ketika sinar matahari mengenainya, sinar akan secara cepat
mengalami konduksi sehingga menaikkan suhu udara di sekitarnya. Sedangkan
susunan partikel pada air yang kurang rapat mengakibatkan air sulit mengalami
konduksi panas. Akan tetapi, air yang telah menyerap panas tidak akan segera
17
melepas panas, dalam arti air sulit menerima panas dan juga sulit melepaskan
panas.

cc) Menurut Tipler (2004), bahwa air sulit menerima panas dan juga sulit
melepaskan panas. Sehingga pada percobaan dapat dilihat bahwa setelah
mengalami kenaikan suhu, udara di sekitar air cenderung tetap dibandingkan di
sekitar tanah. Hal ini dikarenakan panas jenis air jauh lebih besar dari pada panas
jenis zat lain. Oleh sebab itu panas jenis air praktis konstan meliputi jangkauan
temperatur yang lebar.

cd)Udara juga merupakan konduktor yang sangat buruk bila


dibandingkan dengan air dan tanah. Sehingga hal tersebut menyebabkan suhu
udara realtif konstan. Pada dasarnya proses konduksi hanya efektif untuk
pemanasan tanah dan tidak efektif untuk pemanasan udara. Sebab, proses
pemindahan panas di udara secara konduksi terjadi pada lapisan udara yang
sangat tipis dekat permukaan yang dikenal dengan konduksi semu karena tidak
sepenuhnya pemindahan panas terjadi secara konduksi.

ce) Dari percobaan yang telah dilakukan, adanya kesesuaian antara


hipotesis yang sebelumnya telah disimpulkan dengan literatur yang ada, bahwa
tanah akan lebih cepat menyerap panas dan juga lebih cepat melepas panas
daripada air, baik yang terjadi di atas maupun di bawah permukaan. Sebab tanah
tidak mempunyai kapasitas yang sama seperti air dalam kemampuannya
menyimpan panas.

cf)

G. Kesimpulan
cg) Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum yang berjudul Menguji
Udara, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanah mempunyai sifat fisik yang cepat
menyerap energi matahari dan cepat melepas energi matahari, sedangkan air
mempunyai sifat lebih lambat dalam menyerap energi matahari dan lambat dalam
melepaskan energi matahari.

ch)

18
H. Daftar Pustaka

ci) Baver, L.D. 1960. Soil Physics. New York : Jhon Wiley & Sons, INC.
cj) Brady, N.C. 1984. The Nature and Properties of Soils. New York :
Macmillan Publishing Company.
ck) Cromer. 2001. Pemanasan Benda. Bandung : Cipta Karya.
cl) Hausenbuiller, R. L. 1982. Soil Science. Lowa: Wm. C. Brown Company.
cm) Kartasapoetra, dkk. 2005. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta :
Rineka Cipta.
cn) Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Jakarta : Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan.
co) Tipler. 2004. Suhu dan Kalor. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
cp) Tisdale, S.L. and W.L. Nelson. 1966. Soil Fertility And Fertilizers Third
Edition. London : Collier Macmillan Publishers.
cq) Wishnubroto, S, S.S.L Aminah, dan Nitisapto, M. 1982. Asas-asas
Meteorologi Pertanian Departemen Ilmu-ilmu Tanah. Yogyakarta : Fakultas
Pertanian, UGM.
cr) Yani. 2009. Pengukuran Suhu dan Transfer Suhu.
Repository.ipb.ac.id/bitsream/.../16/ chapter%2009.pdf. 8 November 2015.
cs) http://asamoksida.blogspot.co.id/2012/09/mengukur-evapotranspirasi.html.
Diakses pada tanggal 8 November 2015 pukul 08:49 WIB.
ct)

cu)

19
cv) LAMPIRAN

cw) Jawaban Pertanyaan Tugas.

1. Wadah manakah yang suhu naiknya lebih cepat (tanah atau air)? Mengapa demikian?
cx) Jawab : Wadah yang berisi tanah kenaikan suhunya lebih cepat
dibandingkan dengan wadah yang berisi dengan air, sebab tanah merupakan
konduktor yang baik dibandingkan dengan air. Proses tersebut menunjukkan
medium yang bersuhu lebih tinggi dipindahkan ke molekul benda bersuhu
lebih rendah melalui tumbukan molekul-molekul tersebut.
2. Bagaimana tanah dan air mempengaruhi suhu udara di atasnya?
cy) Jawab : Pengaruh air dan tanah terhadap suhu udara di permukaannya
yaitu adanya sinar matahari yang mengenai permukaan air dan tanah melalui
radiasi sinar matahari akan dipantulkan kembali di udara. Sehigga dari
pemantulan tersebut udara terpengaruh oleh suhu tertentu.
3. Bagaimana permukaan tanah yang luas (daratan) mempengaruhi suhu udara di bumi?
cz) Jawab : Daratan akan lebih cepat bereaksi untuk menjadi panas ketika
menerima radiasi matahari daripada lautan, sebab daratan tidak mempunyai
kapasitas yang sama seperti air dalam kemampuannya menyimpan panas.
Sehingga permukaan daratan lebih cepat menyerap panas dan suhu udara di
daratan akan menjadi panas, kemudian memuai dan bertekanan lebih rendah
dari lautan.
4. Bagaimana permukaan air yang luas mempengaruhi suhu udara di bumi?
da) Jawab : Permukaan lautan lebih lambat dalam menyerap panas
sehingga udara di bumi akan lebih dingin. Lautan mempunyai luas dan
kapasitas panas yang lebih besar daripada daratan, sehingga lautan dapat
menyimpan panas lebih lama dibanding dengan daratan.

db)

20
dc) LAMPIRAN

dd) dj)
de) Lampiran 1. Sampel Tanah dalam dk) Lampiran 3. Proses Penyusunan
Percobaan Menguji Udara Rangkaian Percobaan Menguji Udara
df) Sumber : Dokumentasi Pribadi dl) Sumber : Dokumentasi Pribadi

dg) dm)
dh) Lampiran 2. Sampel Air dalam dn) Lampiran 4. Rangkaian Percobaan
Percobaan Menguji Udara Menguji Udara
di) Sumber : Dokumentasi Pribadi do) Sumber : Dokumentasi Pribadi

21
dp) ds)
dq) Lampiran 5. Proses Pengamatan dt) Lampiran 6. Proses Pengamatan
Suhu di Bawah Permukaan Air Suhu di bawah Permukaan Tanah
dr) Sumber : Dokumentasi Pribadi du) Sumber : Dokumentasi Pribadi

22

Anda mungkin juga menyukai