Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

Pendarahan AntePartum

Pembimbing :

dr. Abdul Azis W, Sp.OG

Disusun Oleh :

Hendra Sucipta 11.2014.339

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

PERIODE 28 MARET 2016 4 JUNI 2016

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

JAKARTA
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
berkat dan penyertaanNya sehingga saya dapat menyelesaikan referat ini tepat pada
waktunya.

Dalam referat ini, saya akan membahas mengenai Perdarahan Ante Partum. Dalam
pembuatan referat ini, saya menyadari adanya berbagai kekurangan, baik dalam isi materi
maupun penyusunan kalimat. Namun demikian, perbaikan merupakan hal yang berlanjut
sehingga kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah ini sangat saya harapkan.

Ungkapan terimakasih saya sampaikan kepada dr. Abdul Azis W, Sp.OG yang telah
memberikan dorongan, bimbingan dan pengarahan dalam pembuatan referat ini. Saya juga
ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan referat ini.

Adapun tujuan pembuatan makalah ini terbagi atas dua, yakni tujuan umum dan
tujuan khusus. Tujuan umum dari pembuatan referat ini disusun sebagai sarana diskusi dan
pembelajaran mengenai Pendarahan Ante Partum. Sedangkan tujuan khusus diajukannya
referat guna memenuhi syarat penilaian di Kepaniteraan Klinik Kedokteran Obstetri dan
Ginekologi di Rumah Sakit Rajawali Bandung.
BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Peningkatan angka mortalitas dan morbiditas akhir-akhir ini, banyak disebabkan


karena kurang sigapnya instansi kesehatan dalam mengambil tindakan yang dianggap perlu,
setelah mengetahui kondisi pasien bermasalah dan tidak mengikuti perkembangan kehamilan
pasien yang bermasalah, juga dapat mendukung peningkatan angka morbiditas dan mortalitas
ibu dan bayi di samping faktor lingkungan, gizi, pendidikan, pergaulan, sosial ekonomi yang
tidak mendukung dalam usaha memenuhi kriteria yang baik dalam penanganan ibu saat awal
kehamilan , kehamilan lanjut, masa persalinan dan sesudah persalinan. Dari sekian banyak
kasus yang bermasalah yang harus diantisipasi adalah pendarahan pada usia kehamilan lanjut,
pendarahan setelah kelahiran , dan kelainan volume cairan amnion pada ibu hamil.
Perdarahan kehamilan lanjut ( antepartum hemorrhagic ) terdiri dari plasenta previa , solutio
plasenta dan vasa previa , tapi disini akan di bahas plasenta previa dan solutio plasenta karena
faktor yang paling banyak menimbulkan angka mortalitas.

Masalah ini diangkat agar segala sesuatunya yang mengancam keadaan ibu dan
bayinya dapat diantisipasi dan agar angka morbiditas dan mortalitas pada ibu dan anak dapat
ditekan sehingga menuju ke masyarakat yang bahagia dan sejahtera.

Pengawasan antenatal sebagai cara untuk mengetahui atau menanggulangi kasus-


kasus dengan perdarahan antepartum memegang peranan yang terbatas. Sehingga dibutuhkan
beberapa pemeriksaan dan perhatian untuk mengurangi kesulitan yang mungkin terjadi.
Pemeriksaan dan perhatian untuk mengurangi kesulitan yang mungkin terjadi. Pemeriksaan
dan perhatian yang dimaksud ialah penentuan golongan darah ibu, pengobatan anemia dalam
kehamilan, memperhatikan kemungkinan adanya plasenta previa maupun solusio plasenta,
mencegah dan mengobati penyakit hipertensi menahun. Para ibu yang menderita anemia
dalam kehamilan akan sangat rentan terhadap infeksi dan pendarahan, walaupun pendarahan
hanya sedikit. Pengalaman membuktikan bahwa kematian ibu karena perdarahan lebih sering
terjadi pada ibu yang menderita anemia sebelumnya.
BAB II

ISI

2.1 Pengertian
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu.
Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan kehamilan sebelum 28
minggu.
Perdarahan antepartum (APH) didefinisikan sebagai perdarahan dari jalan lahir
setelah 24 minggu (beberapa penulis mendefinisikan ini sebagai minggu ke-20, yang lain
sampai minggu 28) kehamilan. Hal ini dapat terjadi setiap saat sampai tahap kedua
persalinan selesai.
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada triwulan terakhir kehamilan, yaitu
usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Pada triwulan terakhir kehamilan sebab-sebab
utama perdarahan adalah plasenta previa, solusio plasenta dan ruptura uteri. Selain oleh
sebab-sebab tersebut juga dapat ditimbulkan oleh luka-luka pada jalan lahir karena
trauma, koitus atau varises yang pecah dan oleh kelainan serviks seperti karsinoma, erosi
atau polip.1

2.2 JENIS-JENIS PERDARAHAN ANTEPARTUM


2.2.1 Plasenta Previa
A. Definisi Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh dari ostium uteri internum (pembukaan jalan lahir). Pada keadaan
normal plasenta terletak dibagian atas uterus.Implantasi plasenta yang normal
ialah pada dinding depan, dinding belakang rahim atau daerah fundus uteri.
Sejalan dengan bertambahnya membesarnya rahim dan meluasnya segmen
bawah rahim ke arah proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi
pada segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri
yang secara dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa
mengubah luas pembukaan serviks yang tertutup oleh plasenta. Fenomena ini
berpengaruh pada derajat atau klasifikasi dari plasenta previa ketika
pemeriksaan dilakukan baik dalam masa antenatal maupun dalam masa
intranatal, baik dengan ultrasonografi maupun pemeriksaan digital. Oleh
karena itu, pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang secara berkala dalam
asuhan antenatal ataupun intranatal.1,2

B. Klasifikasi Plasenta Previa


Didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir
pada waktu tertentu :
1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah bila plasenta menutupi seluruh
jalan lahir. Pada posisi ini, jelas tidak mungkin bayi dilahirkan per-
vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.
2. Plasenta previa lateralis/persialis adalah bila hanya sebagian/separuh
plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada posisi inipun risiko perdarahan
masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui per-vaginam.
3. Plasenta previa marginalis adalah bila hanya bagian tepi plasenta yang
menutupi jalan lahir. Bisa dilahirkan per-vaginam tetapi risiko perdarahan
tetap besar.
4. Plasenta letak rendah bila plasenta yang letaknya abnormal di segmen
bawah uterus, akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir,
tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri
internum. Pinggir plasenta kira-kira 3 atau 4 cm diatas pinggir pembukaan,
sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir. Jarak yang lebih
dari 2 cm dianggap plasenta letak normal.1,3
C. Etiologi Plasenta Previa
Penyebab balstokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah
diketahui dengan pasti. Dalam teori mengemukakan bahwa salah satu
penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin
sebagai akibat dari proses radang atau atrofi.
Disamping masih banyak penyebab plasenta previa yang belum diketahui
atau belum jelas, bermacam-macam teori dan faktor-faktor dikemukakan
sebagai etiologinya.
1. Endometrium yang inferior
2. Chorion leave yang persisten
3. Korpus luteum yang bereaksi lambat
Strassman mengatakan bahwa faktor terpenting adalah vaskularisasi yang
kurang pada desidua yang menyebabkan atrofi dan peradangan, sedangkan
Browne menekankan bahwa faktor terpenting ialah Vili Khorialis persisten
pada desidua kapsularis.
Faktor-faktor Etiologi :
1. Umur dan Paritas
a. Pada Primigravida, umur diatas 35 tahun lebih sering daripada umur
dibawah 25 tahun
b. Lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah
2. Hipoplasia endometrium; bila kawin dan hamil pada usia muda
3. Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi,
post operasi caesar, kuretase, dan manual plasenta. Hal ini berperan
menaikkan insiden dua sampai tiga kali.
4. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap
menerima hasil konsepsi.
5. Kehamilan janin kembar, plasenta yang terlalu besar seperti pada
kehamilan ganda dan eritoblastosis fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan
plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian
atau seluruh ostium uteri internum.
6. Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium
7. Kadang-kadang pada malnutrisi.
8. Riwayat perokok, pada perempuan perokok dijumpai insidensi plasenta
previa lebih tinggi dua kali lipat. Hipoksemia akibat karbon mono-oksida
hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai
upaya kompensasi.1,2

D. Tanda dan Gejala


1. Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
2. Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR
3. Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
4. Perdarahan berwarna merah
5. Letak janin abnormal.
E. Diagnosis dan Gejala Klinis Plasenta Previa
1. Anamnesis
a. Keluhan utama Perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau
pada kehamilan lanjut (trimester III)
b. Sifat perdarahan tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang
2. Inspeksi/inspekulo
a. Perdarahan keluar pervaginam (dari dalam uterus)
b. Tampak anemis

3. Palpasi abdomen
a. Janin sering blm cukup bulan, TFU masih rendah
b. Sering dijumpai kesalahan letak janin
c. Bagian terbawah janin belum turun
d. Pemeriksaan USG
e. Evaluasi letak dan posisi plasenta.
f. Posisi, presentasi, umur, tanda-tanda kehidupan janin.
g. Transabdominal ultrasonography
Suatu metode yang sederhana, akurat, dan aman untuk memvisualisasikan
plasenta, teknik ini memiliki keakuratan hingga 98%. Pembiasan hasil dan
positif palsu dapat terjadi pada kontraksi fokal uterus atau distensi vesika
urinaria.
1) Transvaginal ultrasonography
Studi terbaru menunjukkan bahwa metode transvaginal
ultrasonografi lebih akurat dan aman dibanding metode transabdominal
ultrasonografi. Suaru penelitian studi, 26% pasien telah yang didiagnosa
dengan plasenta previa oleh metode transabdominal ultrasonografi
dinyatakan salah setelah dicek ulang dengan transvaginal ultrasonografi.
Sudut antara probe transvaginal dan saluran cerviks diatur
sedemikian rupa sehingga probe tidak sampai masuk ke dalam servik.
Beberapa ahli menyatakan probe dimasukkan tidak lebih dari 3 cm untuk
memberikan gambaran yang baik dari plasenta.
2) Transperineal ultrasonography.
Transperineal ultrasonography merupakan metode alternatif.
Terutama pada kasus-kasus kontraindikasi pemasukkan probe ke dalam
kanal vagina. Tetapi pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untuk
mengetahui efikasi dan efisiensinnya.
3) Magnetic resonance imaging (MRI).
MRI tetap merupakan cara yang aman dan paling baik untuk
visualisasi placenta terutama untuk menentukan visualisasi plasenta
akreta.4
F. Diagnosis Banding

1. Solusio Plasenta

2. Vasa Praevia

3. Kelainan serviks uteri : servisitis, polip serviks, karsinoma serviks

4. Trauma : ruptura uteri, laserasi vagina, perdarahan pasca senggama

5. Varises vagina pecah

G. Patofisiologis
Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya
terjadi pada trimester ketiga kehamilan . Karena pada saat itu segmen bawah
uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin tuanya
kehamilan .
Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak
kehamilan berusia 20 minggu. Pada usia kehamilan ini segmen bawah uterus
telah terbentuk dan mulai menipis.
Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan
serviks membuka. Dengan demikian plasenta yang berimplitasi di segmen
bawah uterus tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi dan
akan menimbulkan perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, bersumber
pada sinus uterus yang atau robekan sinis marginali dari plasenta.2
H. Komplikasi
1. Prolaps tali pusat
2. Prolaps plasenta
3. Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu
dibersihkan dengan kuretase
4. Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan
5. Perdarahan post partum
6. Infeksi karena perdarahan yang banyak
7. Bayi prematur atau lahir mati
8. Anemia3
I. Prognosis
Karena dahulu penanganan relatif bersifat konservatif, maka mortalitas
dan morbiditas pada ibu dan bayi tinggi, mortalis ibu mencapai 8-10% dan
mortalitas janin 50-80%.
Sekarang penangan relatif bersifat operatif dini sehingga angka kematian
dan kesakitan ibu dan perinatal jauh menurun. Kematian maternal menjadi
0,1-5% terutama disebabkan perdarahan, infeksi, emboli udara, dan trauma
karena tindakan.kematian perinatal juga turun menjadi 7-25% terutama
disebabkan oleh prematuritas, asfiksia, prolaps funikuli dan persalinan buatan
atau tindakan.
J. Penatalaksanaan
1. Pencegahan Plasenta Previa
a. Multiparitas, merupakan salah satu factor penyebab bisa terjadinya
plasenta previa
b. Usia ibu tidak boleh lebih dari 35 tahun karena merupakan salah satu
factor penyebab bisa terjadinya plasenta previa.
c. mengetahui Riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
d. mengetahui Riwayat pembedahan rahim, termasuk seksio sesaria
(risiko meningkat seiring peningkatan jumlah seksio sesaria).
e. USG dapat mengetahui hamil tunggal atau ganda (ukuran plasenta
lebih besar pada kehamilan ganda).
f. Tidak merokok (kemungkinan plasenta berukuran lebih besar karena
rokok).
2. Penanganan Plasenta Previa
A. Terapi Ekspektatif
Tujuan terapi ekspektatif ialah supaya janin tidak terlahir
prematur, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan
dalam.Upaya diagnosis dilakukan secara non-invasif.
Pemantauan klinis dilaksanakan secara ketat dan baik.
Syarat-syarat terapi ekspektatif:
Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang
~kemudian berhenti
Belum ada tanda-tanda in partu
Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam
batas normal)
Janin masih hidup
Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.
Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi
plasenta, usia kehamilan profil biofisik, letak dan presentasi
janin.
Berikan tokolitik bila ada kontraksi
Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (BubbleTest)
dari hasil amniosentesis. Berikan Betamethason 24 mg IV
dosis tunggal untuk pematangan paru janin.
Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu, plasenta
masih berada di sekitar ostium uteri internum, maka dugaan
plasenta previa menjadi jelas, sehingga perlu dilakukan
observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan
keadaan gawat darurat.
Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37
minggu masih lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat
jalan (kecuali apabila rumah pasien di luar kota dan jarak
untuk mencapai rumah sakit lebih dari 2 jam) dengan pesan
untuk segera kembali ke rumah sakit apabila terjadi
perdarahan ulang.
B. Terapi Aktif (Tindakan segera)
Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam
yang Aktif dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif
tanpa memandang maturitas janin.
Untuk diagnosis plasenta previa dan menentukan cara
menyelesaikan persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi,
lakukan PDMO jika:
o infus/transfusi telah terpasang, kamar dan Tim Opearasi
telah siap
o Kehamilan 37 minggu (berat badan 2500 gram) dan in
partu, atau
o janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital
mayor (misal: anensefali)
o Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh
melewati pintu atas panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi
luar).

Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa ialah:

A. Seksio sesarea

Sesksio sesarea bertujuan mempersingkat lama perdarahan dan mencegah robekan


serviks dan segmen bawah rahim. Robekan serviks dan segmen bawah rahim mudah
terjadi bila anak dilahirkan pervaginam, karena daerah tersebutpada plasenta previa
mengandung banyak pembuluh darah. Seksio sesarea dilakukan pada plasenta previa
totalis dan plasenta previa lainnya bila perdarahan sedemikian hebat.

Seksio sesarea pada plasenta previa, selain dapat mengurangi kematian bayi, terutama
juga dilakukan untuk kepentingan ibu. Oleh karena itu seksio sesarea juga dilakukan
pada plasenta previa walaupun anak sudah mati.

B. Melahirkan Pervaginam

Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

Amniotomi dan akselerasi


Pemecahan ketuban dapat dilakukan pada plasenta letak rendah, plasenta previa
marginalis dan plasenta previa lateralis yang menutup ostium kurang dari setengah
bagian. Pada plasenta previa lateralis yang plasentanya terdapat di sebelah belakang, lebih
baik dilakukan seksio sesarea karena dengan pemecahan ketuban, kepala kurang menekan
pada plasenta karena tertahan promontorium, yang dalam hal ini dilapisi lagi oleh
jaringan plasenta.
Pemecahan ketuban dapat memghentikan pendarahan karena :
1. Setelah pemecahan ketuban, uterus beretraksi sehingga kepala anak menekan plasenta
2. Plasenta tidak tertahan lagi oleh ketuban dan dapat mengikuti gerakan dinding rahim
hingga tidak terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim.
Bila his tidak ada atau kurang kuat, infus oksitosin dapat diberikan setelah pemecahan
ketuban. Bila perdarahan tetap ada, dilakukan sectio sesarea.
Versi Braxton Hicks
Tujuan perasat Braxton Hicks ialah mengadakan tamponade plasenta dengan bokong
untuk menghentikan perdarahan dalam rangka menyelamatkan ibu.
Versi Braxton Hicks dapat dilakukan pada anak yang sudah mati atau masih hidup.
Mengingat bahayanyam yakni robekan serviks dan segmen bawah rahim, perasat ini tidak
mendapat tempat lagi di rumah sakit besar. Akan tetapi dalam keadaan istimewa,
misalnya bila pasien berdarah banyak, anak sudah meninggal dan kita kesulitan
memperoleh darah atau persiapan kamar operasi masih lama, cara Braxton Hicks dapet
dipertimbangkan.
Sebaliknya di daerah yang tidak mungkin untuk melakukan seksio sesarea, misal di pulau
pulau kecil, cara Braxton Hicks ialah pembukaan harus dapat dilalui oleh 2 jari supaya
dapat menurunkan kaki.

Versi Braxton Hicks dilakuka setelah ketuban dipecahkan atau plasenta ditembus oleh
tangan yang sepihak, dengan bagian bagian kecil dimasukan. Setelah labia disibak, satu
tangan masuk secara onstetrik dan 2 jari masuk ke kavum uteri. Tangan satunya menahan
fundus. Kepala anak ditolak ke samping, yakni ke sisi punggung anak. Tangan luar
mendekatkan bokong kepada jari yang mencari kaki. Setelah kaki didapatkan oleh tangan
dalam , tangan luar menolak kepala anak ke fundus dan kaki dibawa ke luar.
Pada kaki ini digantungkan timbangan yang seringan 0 ringannya tetapi cukup berat
untuk menghentikan perdarahan.
Bila beratnya berlebihan, dapat terjadi robekan serviks. Selanjutnya kita tunggu sampai
anak lahir sendiri.
Jangan sekali kali melakukan ekstraksi walau pembukaan sudah lengkap mengingat
serviks dan segmen bawah rahim mudah robek
Traksi dengan Cunam Willet
Cunam Willet-Gauss bertujuan mengadakan tamponade plasenta dengan kepala. Kulit
kepala anak dijepit dengan cunam Willet-Gauss dan diberi pemberat 500 gr. Perasat ini
sekarang hampir tidak pernah di lakukan lagi.1

2.2.2 Solusio Plasenta


A. Definisi Solusio Plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta
dari implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelum
waktunya yakni sebelum anak lahir.1
B. Klasifikasi Solusio Plasenta
Trijatmo Rachimhadhi membagi solusio plasenta menurut derajat
pelepasan plasenta:
1. Solusio plasenta totalis, plasenta terlepas seluruhnya.
2. Solusio plasenta partialis, plasenta terlepas sebagian.
3. Ruptura sinus marginalis, sebagian kecil pinggir plasenta yang terlepas.
Pritchard JA membagi solusio plasenta menurut bentuk perdarahan:
1. Solusio plasenta dengan perdarahan keluar
2. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi, yang membentuk
hematoma retroplacenter
3. Solusio plasenta yang perdarahannya masuk ke dalam kantong amnion.
Cunningham dan Gasong masing-masing dalam bukunya
mengklasifikasikan solusio plasenta menurut tingkat gejala klinisnya, yaitu:
1. Ringan : perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada
tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian
permukaan, kadar fibrinogen plasma lebih 150 mg%.
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre
renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3
bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.
3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan,
janin mati, pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3 bagian atau
keseluruhan.1,2,3

C. Etiologi
Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti, namun ada
beberapa faktor yang menjadi predisposisi :
1. Faktor kardio-reno-vaskuler
2. Faktor trauma
Trauma yang dapat terjadi antara lain :

Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.

Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang
banyak/bebas, versi luar atau tindakan pertolongan persalinan.

Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
3. Faktor paritas ibu
4. Faktor usia ibu
5. Leiomioma uteri (uterine leiomyoma)
6. Riwayat solusio plasenta sebelumnya1,2

D. Tanda/Gejala Solusio Plasenta


1. Perdarahan disertai rasa sakit
2. Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin
3. Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
4. Abdomen menjadi tegang
5. Perdarahan berwarna kehitaman
6. Sakit perut terus menerus
E. Diagnosa Solusio Plasenta
1. Anamnesis
a. Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut
b. Perdarahan pervaginam yang sifatnya dapat hebat dan sekonyong-
konyong(non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan
darah yang berwarna kehitaman
c. Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan
akhirnya berhenti
d. Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, mata berkunang-kunang.
e. Kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain.
2. Inspeksi
a. Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
b. Pucat, sianosis dan berkeringat dingin.
c. Terlihat darah keluar pervaginam (tidak selalu).

3. Palpasi
a. Tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
b. Uterus tegang dan keras seperti papan yang
disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun di luar
his.
c. Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas.
d. Bagian-bagian janin sulit dikenali, karena perut (uterus) tegang.
4. Auskultasi
Sulit dilakukan karena uterus tegang, bila DJJ terdengar biasanya di
atas 140, kemudian turun di bawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta
yang terlepas lebih dari 1/3 bagian.
5. Pemeriksaan dalam
a. Serviks dapat telah terbuka atau masih tertutup.
b. Kalau sudah terbuka maka plasenta dapat teraba menonjol dan tegang.
c. Apabila plasenta sudah pecah dan sudah terlepas seluruhnya, plasenta
ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan,
disebut prolapsus placenta.
6. Pemeriksaan umum
Tekanan darah semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya
menderita penyakit vaskuler, tetapi akan turun dan pasien jatuh dalam
keadaan syok. Nadi cepat dan kecil
7. Pemeriksaan laboratorium
a. Urin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan
silinder dan leukosit.
b. Darah : Hb menurun, periksa golongan darah, lakukan cross-
match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan
pembekuan darah hipofibrinogenemia
8. Pemeriksaan plasenta.
Plasenta biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang
terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya
menempel di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplacenter.
9. Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain :Terlihat
daerah terlepasnya plasenta, Janin dan kandung kemih ibu, Darah, Tepian
plasenta.1,5
F. Diagnosis Banding Solusio Plasenta
1. Penyebab perdarahan nonplasenta. Biasanya tidak nyeri. Ruptur uterus
dapat menyebabkan perdarahan per vaginam tetapi, jika banyak, disertai
dengan rasa nyeri, syok dan kematian janin.
2. Penyebab perdarahan plasenta. Plasenta previa disertai perdarahan tanpa
rasa nyeri dan biasanya terdiagnosis dengan ultrasonografi.
3. Penyebab perdarahan yang tidak dapat ditentukan. Pada paling sedikit 20%
kasus, penyebab perdarahan antepartum tidak dapat ditentukan. Namun,
jika masalah-masalah serius dapat disingkirkan, perdarahan tidak
terdiagnosis ini jarang berbahaya.5
G. Patofisiologi Solusio Plasenta
Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua
basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat
pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan
pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan
dengan bagian tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro
plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga
pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap
berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal
untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir
keluar dapat melepaskan selaput ketuban.
Sesungguhnya solusio plasentra merupakan hasil akhir dari suatu proses
yang bermula dari suatu keadan yang mampu memisahkan vili-vili korialis
plasenta dari tempat implantasinya pada desidua basalis sehingga terjadi
perdarahan. Oleh karena itu patosiologinya bergantung pada etilogi. Pada
trauma abdomen etiologinya jelas karena robeknya pembuluh darah desidua.
Dalam banyak kejadian perdarahan berasal dari kematian sel (apoptosis)
yang disebabkan oleh iskemia dan hipoksia. Semua penyakit ibu yang dapat
meneyebabkan pembekuan trombosis dalam pembuluh darah desidua atau
dalam vaskular vili dapat berujung kepada iskemia dan hipoksia setempat
yang menyebabkan kematian sejumlah sel dan mengakibatkan perdarahan
sebagai hasil akhir. Perdarahan tersebut menyebabkan desidua basalis terlepas
kecuali selapisan tipis yang tetap melekat pada miometrium. Dengan
demikian, pada tingkat permulaan sekali dari proses terdiri ataspembentukan
hematom yang bisa menyebabkan pelepasan yang lebih luas, kompresi dan
kerusakan pada bagian plasenta kecuali terdapat hematom pada bagian
belakang plasenta yang baru lahir. Dalam beberapa kejadian pembentukan
hematom retroplasenta disebabkan oleh putusnya arteria spiralis dalam
desidua. Hematoma retroplasenta mempengaruhi penyampaian nutrisi dan
oksigen dari sirkulasi maternal/plasenta ke sirkulasi janin. Hematoma yang
terbentuk dengan cepat meluas dan melepaskan plasenta lebih luas/banyak
sampai ke pinggirnya sehingga darah yang keluar merembes antara selaput
ketuban dan miometrium untuk selanjutnya keluar melalui serviks ke vagina
(revealed hemorrhage). Perdarahan tidak bisa berhenti karena uterus yang lagi
mengandung tidak mampu berkontraksi untuk menjepit pembuluh arteria
spiralis yang terputus. Walaupun jarang, terdapat perdarahan tinggal
terperangkap di dalam uterus (concealed hemorrhage).1
H. Komplikasi Solusio Plasenta
1. Syok perdarahan
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta
hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan
segera. Bila persalinan telah diselesaikan, penderita belum bebas dari
perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk
menghentikan perdarahan pada kala III persalinan dan adanya kelainan
pada pembekuan darah. Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering
tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat.
2. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada
penderita solusio plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan
hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi nekrosis
tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat ditolong dengan
penanganan yang baik. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan
pembekuan intravaskuler. Oliguri dan proteinuri akan terjadi akibat
nekrosis tubuli atau nekrosis korteks ginjal mendadak. Oleh karena itu
oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran pengeluaran urin yang
harus secara rutin dilakukan pada solusio plasenta berat. Pencegahan gagal
ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya, pemberantasan
infeksi, atasi hipovolemia, secepat mungkin menyelesaikan persalinan dan
mengatasi kelainan pembekuan darah.
3. Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya
disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Kadar fibrinogen plasma normal
pada wanita hamil cukup bulan ialah 450 mg%, berkisar antara 300-700
mg%. Apabila kadar fibrinogen plasma kurang dari 100 mg% maka akan
terjadi gangguan pembekuan darah.
4. Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot
rahim dan di bawah perimetrium kadang-kadang juga dalam ligamentum
latum. Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan
warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebut Uterus
couvelaire. Tapi apakah uterus ini harus diangkat atau tidak, tergantung
pada kesanggupannya dalam membantu menghentikan perdarahan.1,3
I. Prognosis Solusio Plasenta
Angka kematian ibu di seluruh dunia akhir-akhir ini antara 0,5% dan 5%.
Sebagian besar wanita meninggal karena perdarahan (segera atau tertunda),
gagal jantung atau gagal ginjal. Diagnosis dini dan terapi yang tepat akan
menurunkan angka kematian ibu sampai 0.3%-1%. Angka kematian janin
berkisar 50% sampai 80%. Sekitar 30% janin dengan pelepasan prematur
plasenta dilahirkan cukup bulan. Pada hampir 20% pasien dengan solusio
plasenta tidak didapati adanya denyut jantung janin ketika dibawa ke rumah
sakit, dan pada 20% lainnya akan segera terlihat adanya gawat janin. Jika
diperlukan transfusi ibu segera, angka kematian janin mungkin paling sedikit
50%. Kelahiran kurang bulan terjadi pada 40%-50% kasus pelepasan prematur
plasenta. Bayi meninggal karena hipoksia, prematuritas atau trauma
persalinan.
J. Penatalaksanaan Solusio Plasenta
1. Umum :
a. Transfusi darah yang memadai
b. Oksigenasi
c. Antibiotik
d. Pada syok berat, diberikan kortikosteroid dosis tinggi.
2. Khusus :
a. Untuk mengatasi hipofibrinogenemia- substitusi dengan human
fibrinogen 10 g atau darah segar, hentikan fibrinolisi dengan trasylol
IV ( penghambat proteinase inhibitor ) 200.000 IU. Selanjutnya, bila
perlu, berikan 100.000 IU/jam dalam infus.
b. Untuk merangsang diuresis-beri manitol. Diuresis dinilai baik bila
melampaui 30-40 cc/jam
3. ObstetriPimpinan persalinan pada solusio plasenta bertujuan
mempercepat persalinan agar kelahiran sedapat dapatnya terjadi dalam 6
jam, karena bagian plasenta yang terlepas semakin lama meluas,
perdarahan kian bertambah dan hipofibrinogemia pun menjelma atau
bertambah parah.
Tujuan ini dicapai dengan :
a. Pemecahan ketuban tujuannya tidak untuk menghentikan perdarahan
dengan segera, tetapi untuk mengurangi regangan dinding rahim dan
dengan demikian mempercepat persalinan
b. Pemberian infus oksitosin Sebanyak 5 IU dalam 500 cc glukosa 5%
c. Seksio sesarea dilakukan bila serviks panjang dan tertutup, setelah
pemecahan ketuban dan pemberian oksitosin dalam 2 jam belum juga
memunculkan his. Anak juga harus masih hidup
d. Histerektomi dilakukan bila ada atonia uteri berat yang tidak dapat
diatasi dengan usaha usaha yang lazim.1
Penanganan kasus-kasus solusio plasenta didasarkan kepada berat atau
ringannya gejala klinis, yaitu:

1. Solusio Plasenta Ringan

Ekspektatif, bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan


bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, perut tidak sakit, uterus tidak
tegang, janin hidup) dengan tirah baring dan observasi ketat, kemudian
tunggu persalinan spontan. Bila ada perburukan (perdarahan
berlangsung terus, gejala solusio plasenta makin jelas, pada
pemantauan dengan USG daerah solusio plasenta bertambah luas),
maka kehamilan harus segera diakhiri. Bila janin hidup, lakukan seksio
sesaria, bila janin mati lakukan amniotomi disusul infus oksitosin
untuk mempercepat persalinan.
2. Solusio plasenta sedang dan berat

Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas


ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi transfusi darah,
amniotomi, infus oksitosin dan jika perlu seksio sesaria. Apabila
diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti perdarahan telah
terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Maka transfusi darah harus
segera diberikan. Amniotomi akan merangsang persalinan dan
mengurangi tekanan intrauterin. Keluarnya cairan amnion juga dapat
mengurangi perdarahan dari tempat implantasi dan mengurangi
masuknya tromboplastin ke dalam sirkulasi ibu yang mungkin akan
mengaktifkan faktor-faktor pembekuan dari hematom subkhorionik
dan terjadinya pembekuan intravaskuler dimana-mana. Persalinan juga
dapat dipercepat dengan memberikan infus oksitosin yang bertujuan
untuk memperbaiki kontraksi uterus yang mungkin saja telah
mengalami gangguan.

BAB III

KESIMPULAN

Pendarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi pada kehamilan setelah 28


minggu. Faktot-faktor terjadinya perdarahan antepartum adalah plasenta previa, solusio
plasenta, ruptur sinus marginalis, plasenta letak rendah atau vasa previa. Perdarahan
antepartum paling banyak disebabkan karena plasenta previa dan solutio plasenta.

Plasenta previa, menurut derajat abnormalitasnya dibagi menjadi plasenta previa


sentralis, totalis, parsial, marginal dan plasenta letak rendah. Penentuan macamnya
tergantung pada besarnya pembukaan. Penyebab utama terjadinya plasenta previa belum
diketahui secara pasti, tapi diduga disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya
multiparitas, usia ibu, riwayat SC, dan lain-lain. Gejala klinis dari plasenta previa ialah
poerdarahan tanpa nyeri, bagian terendah anak sangat tinggu, kelainan letak, darah merah
segar. Pemeriksaan penunjang untuk membantu diagnosa adalah USG. Pemeriksaan lain yang
dapat juga digunakan menunjang diagnosa ialah pemeriksaan dalam namun harus dilakukan
dengan persiapan yang cukup dan dilakukan di ruang operasi. Komplikasi yang paling berat
adalah kematian ibu dan janin. Penatalaksanaan plasenta previa bergantung dari keadaan
umum ibu dan janin, terdiri dari terapi ekspektatif dan terapi aktif.

Solutio plasenta belum diketahui dengan jelas penyebab terjadinya, tapi terdapat
faktor predisposisi yang berpengaruh. Gejala klinis yang ditemukan berupa perdarahan
disertai nyeri, rahim keras seperti papan, selaput ketuban menonjol, fundus uteri makin naik,
DJJ sukar didengar atau tidak ada. Pemeriksaan penunjang yang digunakan berupa USG dan
laboratorium. Penatalaksanaan pada solutio plasenta tidak ada terapi ekspektatif tapi secara
terminasa / aktif yang dibagi secara umum dan khusus.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sastrawinata S, Martadisoebrata D, Wirakusumah FF. Obstetri Patologi. Edisi 2. Bagian


Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Obstetri
Patologi. Bandung: Elemen, 2010.

2. Sofoewan MS. Endometrium dan desidua. Dalam : Saifuddin AB, Rachimhadhi T,


Wiknjosastro GH. Ilmu kebidanan. Edisi ke-empat. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2010.

3. Cunningham, FG, Gant NF, Leveno KJ, et al. Perdarahan Obstetri. In : Profitasari,
Hartanto H, Suyono YJ, et al. Obstetric William 21st edition. New York:Mc Graw Hill
Medical Publishing Division. 2006.

4. Abdat AU. Hubungan Antara Paritas Ibu Dengan Kejadian Plasenta Previa. Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Surakarta.2010.

5. Moechtar R. Perdarahan Antepartum. Synopsis Obstetri, obstetri Fisiologis dan Obstetri


Patologis. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008.