Anda di halaman 1dari 47

PENENTUAN STATUS GIZI BIOKIMIA

(Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Penentuan Status Gizi Kelas A)

Disusun oleh :
Andriana Putri Wijaya 142110101163
Fathiya Salsabila 142110101166
Tria Mei Sinta 142110101174
Risma NoviaWidyanti 142110101179
Rizqi Muthoharoh 142110101191
Niaputri Nilam Sari 142110101203
Alifta Sukmawati 152110101023
Yeny Etika Sari 152110101041
Wahyu Febriyanto Aji 152110101089
Bagus Dwi Atmoko 152110101127
Idolla Nikmatul Maghfiroh 152110101184
Bella Nadia Rachman 152110101209

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2017
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat,karunia,serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
tugas makalah Penentuan Status Gizi mengenai Penentuan Status Gizi
Biokimia dengan baik.
Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada Ninna Rahmawati, S.Gz
selaku dosen mata kuliah Penentuan Status Gizi di FKM Universitas Jember, kerja
sama teman-teman dan juga pihak lain yang bersangkutan dalam penyelesaian
tugas ini.
Kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk memperbaiki segala
kekurangan yang ada. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah
wawasan serta pengetahuan bagi para pembaca. Mohon maaf apabila ada
kesalahan dan terimakasih.

Jember, 09 April 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah .................................................................................... 1

1.3. Tujuan ....................................................................................................... 1

BAB 2 PEMBAHASAN ......................................................................................... 2

2.1. Penentuan Status Gizi Secara Biokimia ....................................................... 2

2.2. Tujuan Status Gizi Secara Biokimia ............................................................ 2

2.3. Macam-macam Penentuan Status Gizi Secara Biokimia ............................. 2

2.3.1. Pemeriksaan Status Biokimia Tubuh (Cairan dan Jaringan Tubuh) ...... 2

2.3.2. Tes Fungsional ..................................................................................... 10

2.4. Pemeriksaan Biokimia Zat Gizi ................................................................. 13

2.4.1. Pengukuran Status Protein ................................................................... 13

2.4.2. Penentuan Status Gizi Fe ..................................................................... 17

2.4.3. Penentuan Status Mineral .................................................................... 21

2.4.4. Penentuan Status Gizi Vitamin ............................................................ 23

2.4.5. Pemeriksaan Biokimia pada Beberapa Masalah Gizi di Indonesia ..... 28

2.5. Pemeriksaan Zat Gizi Spesifik ................................................................... 31

2.5.1. Kurang Energi Protein ......................................................................... 31

2.5.2. Kurang Vitamin A (KVA) ................................................................... 32

2.5.3. Anemia Gizi Besi (AGB)..................................................................... 35

2.5.4. GAKI ................................................................................................... 38

iii
2.6. Keunggulan dan Kelemahan Biokimia....................................................... 40

2.6.1. Keunggulan .......................................................................................... 40

2.6.2. Kelemahan ........................................................................................... 41

BAB 3 PENUTUP ................................................................................................ 42

3.1. Kesimpulan ................................................................................................. 42

3.2. Saran ........................................................................................................... 42

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 43

iv
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Manusia makan pada dasarnya untuk memenuhi 3 fungsi makanan itu sendiri,
yaitu untuk tenaga, pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh. Kurang konsumsi
makanan maka akan diambil dari cadangan tubuh dan jika makan berlebih akan
disimpan dalam bentuk cadangan tubuh. Makanan berperan penting untuk
pertumbuhan. Sehingga pada hakekatnya menilai status gizi adalah mengevaluasi
keseimbangan pemenuhan kebutuhan berupa penampakan/performa tubuh.

Metode penilaian status gizi dapat dikelompokkan atas metode langsung dan
metode tidak langsung. Penilaian secara langsung terdiri dari metode biokimia,
penilaian klinis, penilaian biofisik, dan penilaian antropometri. Penilaian status
gizi secara biokimia disebut juga dengan metode pemeriksaan laboratorium,
adalah mengukur kadar zat gizi di dalam tubuh dan atau ekskresi tubuh kemudian
dibandingan dengan suatu nilai normatif yang sudah ditetapkan. Penggunaan
metode penilaian status gizi secara biokimia digunakan untuk suatu peringatan
bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana cara penilaian gizi secara biokimia?

1.3. Tujuan
Untuk mengetahui cara penilaian gizi secara biokimia

1
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1. Penentuan Status Gizi Secara Biokimia


Penentuan status gizi secara biokimia/laboratorium terdiri dari pemeriksaan
status biokimia dalam tubuh dan tes fungsional/ fisiologis . Pada pemeriksaan
status biokimia dalam tubuh diukur kandungan nutrien dalam cairan dan jaringan
tubuh . Tes yang dipilih merefleksikan nutrien total dalam tubuh atau ukuran
jaringan dalam tubuh.

Tes fungsional / fisiologis bertujuan untuk mengukur fungsi spesifik organ


tubuh yang terganggu karena kekurangan nutrien . Tes ini lebih signifikan
dibandingkan dengan pemeriksaan status biokimia dalam tubuh . Tes fungsional
fisiologis dibagi menjadi tes fungsi biokimia dan tes psikologis.

2.2. Tujuan Status Gizi Secara Biokimia


Mengetahui tingkatan gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan status
biokimia pada jaringan dan cairan tubuh dan tes fungsional.

2.3. Macam-macam Penentuan Status Gizi Secara Biokimia


Pengukuran dalam penentuan status gizi secara biokimia dilakukan dengan
pemeriksaan status biokimia tubuh yaitu cairan dan jaringan tubuh serta tes
fungsional .Pemeriksaan status biokimia tubuh pada cairan tubuh yaitu memeriksa
konsentrasi nutrien pada sampel darah , ludah , keringan dan air susu ibu .
Pemeriksaan pada jaringan tubuh yang diperiksa adalah rambut , kuku , jaringan
adiposa , hati dan tulang . Selain itu ada juga tes fungsional yang mengukur
konsekuensi fungsional pada organ atau jaringan tubuh karena defisiensi nutrien
dalam tubuh.

2.3.1. Pemeriksaan Status Biokimia Tubuh (Cairan dan Jaringan Tubuh)


Penentuan Status Gizi secara biokimia atau laboratorium membantu untuk
menjelaskan yang terjadi di dalam tubuh . Kebanyakan tes yang dilakukan
berbasis pada sampel darah atau urin yang banyak mengandung nutrien , enzim
dan metabolit yang merefleksikan status gizi .

2
Interpretasi data biokimia membutuhkan keahlian khusus . Tidak ada satu
tespun yang menunjukkan status gizi sebenarnya, karena banyak faktor yang
mempengaruhi hasil tes. Konsentrasi nutrien dalam darah yang rendah
merefleksikan defisiensi nutrien atau defisiensi satu atau beberapa nutrien atau
penyakit . Pengumpulan data bersama dengan menggunakan metode yang lain
yang sangat dianjurkan , hasil laboratorium membantu interpretasi lebih jelas dan
hati-hati . Hasil laboratorium khususnya berguna untuk membantu mendeteksi
malnutrisi subklinis dengan mengcover sign awal dari malnutrisi yang muncul
sebelum tanda klinis klasik dari defisiensi nutrien muncul .
Tes laboratorium / biokimia yang digunakan untuk mengukur status vitamin
dan mineral akan lebih baik ketika dikombinasikan dengan survei konsumsi
pemeriksaan fisik . Tingkat vitamin dan mineral dalam darah dan urinlebih
menunjukkan keadaan asupan jangka pendek dibandingkan keadaan asupan
jangka panjang . Hal ini yang menyulitkan untuk mendeteksi defisiensi subklinis ,
selain itu ada interaksi antar nutrien . Karenanya sejumlah nutrien dalam tubuh
berpengaruh pada hasil laboratorium untuk beberapa nutrien . Ini juga penting
untuk diingat , faktor non-nutrien juga mempengaruhi pengukuran biokimia .
Pemeriksaan status biokimia dalam tubuh dilakukan pada cairan dan
jaringan tubuh . Dibawah ini dijelaskan pemeriksaan status biokimia dalam tubuh
:
a. Pemeriksaan Cairan Tubuh
1) Pemeriksaan Darah
Sampel darah sangat mudah diperoleh , relatif non-invasive , dan umumnya
mudah dianalisa . Pengumpulan sampel darah dan penanganannya harus
terkontrol , dan dipastikan analisis hasilnya menggunakan akurasi dan
ketepatan yang terstandar . Faktor seperti puasa , fluktuasi hasil karena diurnal
variation dan konsumsi makanan , status dehidrasi , pemakaian kontrasepsi oral
atau terapi hormon , obat-obatan , infeksi , peradangan dan stress adalah semua
faktor yang mengganggu interpretasi hasil (Pitch and Senti , 1984; Senith et al,
1985 dalam Gibson , 2005)

3
Plasma dan serum darah membawa hasil penyerapan zat gizi dalam tubuh dan
mengedarkannya ke jaringan sehingga plasma dan serum darah merefleksikan
asupan makanan . Karenanya , plasma dan serum menyediakan data terkini
dibandingkan status biomarker nutrien . Pengaruh asupan konsumsi pada
plasma dan serum dapat dilihat dengan mengambil sampel darah puasa .
Konsentrasi nutrien pada plasma dan serum mendekati nilia normal meskipun
ada bukti yang menunjukkan kerusakan fungsi pada beberapa nutrien seperti
zinc dan kalsium sangat kuat . Karenanya untuk mengatasi hal ini pemeriksaan
biomarker dibutuhkan .
Risiko selama pengambilan sampel , penyimpanan , persiapan dan analisis
adalah masalah yang sering terjadi pada analisa trace element dalam darah .
Serum lebih dipilih jika ingin mengukur kandungan trace element dalam tubuh
karena tidak seperti plasma , risiko kontaminasi dari antikoagulan dapat
dicegah.
2) Eritrosit
Nutrien dalam eritrosit merefleksikan status kronis karena masa hidup sel ini
lama (120 hari) . Selain itu keuntungan dari konsentrasi nutrien dalam eritrosit
tidak terpengaruh variasi transient seperti halnya plasma Antikoagulan yang
dipilih pada pengambilan sampel eritrosit harus dipilih dengan cermat , jangan
sampai mengakibatkan terjadinya ikatan dengan ion sel darah merah . Pilihan
yang baik adalah heparin (Vitouxet all , 1999 dalam Gibson , 2005)
Pemisahan , pencucian dan analisa eritrosit adalah teknik yang sulit dan harus
dilakukan dengan hati-hati . Setelah pemisahan , eritrosit dicuci tiga kali
dengan garam isotonik untuk menghilangkan plasma yang terperangkap dan
kemudian di homogenisasikan . Tahap terakhir ini yang paling kritis karena
kekeruhan eritrosit terstratifikasi , sel yang muda dibagian atas dan sel lebih tua
dibagian bawah.
Tidak ada metode standar untuk mengekspresikan nutrien dalam eritrosit ,
karena setiap metode mempunyai keterbatasan masing-masing . Bisa dengan
nutrien per paket sel , per jumlah sel , per g dari Hb , atau per g dari materi
kering (Vitouxet ali ,1999 dalam Gibson ,2005)
4
Eritrosit juga bisa digunakan untuk menghitung variasi sistem enzim . Pada
beberapa kasus , konsentrasi total dari kofaktor vitamin , atau enzim dengan
melihat coenzim vitamin . Tes ini sensitif untuk melihat status defisiensi dan
akurat merefleksikan cadangan vitamin dalam tubuh .
3) Leukosit
Leukosit atau beberapa tipe spesifik dari sel darah seperti limfosit , monosit,
dan neutrofil bisa digunakan untuk memonitoring perubahan jangka waktu
lama atau sedang dari status nutrien karena mereka mempunyai waktu hidup
yang lebih pendek dibandingkan eritrosit . Karenanya konsentrasi nutrien pada
sel ini merfleksikan terjadinya defisiensi nutrien lebih cepat dibandingkan
eritrosit.
Teknik terbaru untuk memisahkan dan mengklasifikasikan tipe sel yaitu
dengan chromatography (Shibusawa ,1999 dalam Gibson , 2005) , Counterflow
centrifugal elutriation dan flowcytometri (Ito dan Shinomiya , 2001 dalam
Gibson , 2005 ). Teknik ini bisa menyebabkan leukosit atau sel spesifik lainnya
diisolasi tanpa kontaminasi dari reagen atau bentuk residu yang lain atau dari
eritrosit.
Sama dengan eritrosit , tidak ada metode standart untuk mengekspresikan
nutrien dalam leukosit . Metode yang digunakan adalah nutien per unit massa
protein , konsentrasi nutrien per sel , konsentrasi nutrien per berat kering sel
dan nutrien per unit DNA (Ellin , 1987 dalam Gibson , 2005)
4) Air Susu Ibu
Konsentrasi yang tersekresi dalam Air Susu Ibu (ASI) antara lain vitamin A ,
B6 , B12 seperti tiamin , riboflavin , yodium dan selenium dapat merefleksikan
tingkatan diet ibu hamil dan cadangan daam tubuh . Studi menunjukkan di
beberapa daerah defisiensi vitamin A . Selenium dan yodium bersifat endemik
sehingga kandungannya dalam air susu ibu rendh(Underwood , 1994; Funk et
all., 1990; Delange , 1985 dalam Gibson 2005)
Dinilai lebih memungkinkan untuk mengumpulkan sampel ASI dibandingkan
sampel darah . Meskipun demikian , pemilihan sampel , penanganan
pengumpulan sampel , dan penyimpanan sampel ASI harus hati-hati untuk
5
menjaga keakuratan informasi nutrien yang terkandung dalam ASI. Untuk
mencegah kesalahan pengambilan sampel kolostrum dan ASI transisi , yang
mengandung konsentrasi nutrien yang sangat tinggi dengan ASI yang matang ,
setidaknya diambil 21 hari setelah melahirkan , ketika konsentrasi dari nutrien
yang ada stabil . Idealnya , ASI 24 jam diambil dari kedua payudara karena
konsentrasi nutrien seperti retinol bervariasi tergantung makanan . Pada studi
komunitas , hal ini sulit dilakukan dan sebagai alternatif lain dipilih protokol
pengambilan sampel ASI yang lain tergantung pada tujuan dan nutrien apa
yang akan diteliti . Sekarang , hanya konsentrasi vitamin A pada ASI yang
digunakan untuk melihat status vitamin A pada ibu dan makanan bayi (Stolzfus
dan Underwood , 1995 dalam Gibson , 2005) .
Untuk pengukuran vitamin A dalam ASI pada tingkat individu , praktik yang
direkomendasikan adalah mengumpulkan sampel ke dalam gelas botol gelap di
atas es . Payudara dari ASI yang digunakan sebagai sampel tidak
diberikan/disusukan pada bayi setidaknya 2 hari . Prosedur ini penting karena
kandungan lemak dalam ASI dan kandungan vitamin A larut lemak meningkat
mulai dari pertama sampai akhir dikonsumsi oleh bayi .
Untuk studi berbasis populasi , WHO (1996) menyarankan mengumpulkan
sampel ASI secara acak sepanjang hari dengan variasi waktu mulai dari waktu
terakhir diberikan kepada bayi untuk memastikan variasi pada lemak ASI
merupakan sampel acak . Ketika pengambilan sampel secara acak tidak
memungkinkan , nutrien larut lemak harus diekpresikan secara relatif dari
konsentrasi lemak .
Sebelum dibawa ke laboratorium , sampel ASI setiap subjek dihangatkan
dalam suhu ruang dan dihomogenisasikan . Selanjutnya hasil homogenisasi
dimasukkan dalam freezer dengan suhu -20 derajat celcius sampai di analisis .
Metode analisis untuk sampel ASI harus dipilih dengan hati-hati . Reagen yang
digunakan harus bebas dari kontaminan dan tidak berikatan dengan vitamin
(folat , pantothenic , vitamin D ) . Dan untuk tes mikrobiologi , tes organisme
perlu dilakukan . Karena faktor nonspesifik yang menghambat ada dalam ASI ,
diperlukan pemilihan metode yang b
6
5) Saliva (Air Ludah)
Beberapa studi menggunakan air ludah sebagai cairan biopsi untuk pengukuran
status gizi. Prosedur pengukuran, tidak seperti darah bersifat non invasisve dan
mudah diambil di lapngan atau di rumah.
Saliva adalah spesimen diagnosis yang lebih aman dibandingkan darah, infeksi
dari HIV dan hepatitislebih kecil karena konsentrasi antigenyang rendah di air
ludah. Spesimen saliva dapat dikumpulkan dan disimpan pada suhu ruang dan
dikirimkan ke laboratorium tanpa refrigator.
Pengumpulan air ludah bisa dilakukan langsung pada tabung atau cangkir kecil
dengan atau tanpa stimulasi. Terkadang subjek diminta berkumur sebelum
pengambilan sampel. Pada beberapa kasus, bola kapas atau kertas penyerap
digunakan untuk mengumpulkan air ludah. Kemudian diberi pengawet untuk
menstabilkan spesimen untuk jangka waktu beberapa minggu. Namun
kelemahan dari mtode ini adalah adanya pengaruh dari substansi lain ketika
mengekstrasikannya, karena tidak cocok untuk beberapa analisaODS (Oral
Diffusion Sink) adalah alat yang digunakan untu mengukur air ludah dan
merupakan rujukan dari labolatorium Seattle, Washington (Wade dan
Haegle,1991 dalam Gibson, 2005)
Steroid dan hormon non pertide seperti tiroksin, testosteron, beberapa obat dan
antibodi untuk penyakit viral juga bisa diukur dengan air ludah. Konsentrasi
beberapa mikronutrien seperti zinc juga bisa diinvestigasi. Bagaimanapun juga
interpretasi hasil slit, materi rujukan dan nilai interpretasi untuk kondisi normal
belum tersedia.
6) Keringat
Pengumpulan keringat seperti air ludah juga non invasive dan bisa dilakukan di
lapangan ataupun di rumah. Beberapa metodepengumpulan digunakan,
beberapa diantaranya dirancang untuk mengumpulkan keringat seluruh tubuh
dan ada juga yang dikhususkan untuk mengumpulkan keringat pada bagian
tertentu dari tubuh. Seringkali menggunakan tas tertutup atau kapsul.
Shirref dan Maughan, 1997 dalam Gibson, 2005 mengembangkan metode
pengumpulan keringat seluruh tubuh dengan mengukur subjek yang sedang
7
berolahraga di dalam plastik tertutup. Metode ini tidak bisa mengukur keringat
yang keluar pada kondisi normal, dan kesulitan yang lain disebabkan variasi
dari komposisi keringat dari bagian tubuh yang berbeda. Metode ini tidak bisa
digunakan pada orang yang sedang berolahraga menggunakan treadmill tapi
bisa pada orang dengan sepeda ergometer.
Sebuah metode yang dirancang untuk mengumpulkan keringat dari bagian
tubuh yang spesifik menggunakan Osteopatch. Osteopatch terdiri dari
transaransi, hipoalergenik, membran permeble gas dengan alas penyerap dari
serat selulosa. Alat ini ditempelkan pada punggung selama 5 hari. Keringat
akan terserap pada alas penyerap dan bagian yang tidak terserap akan menguap
melalui membran semi permeable.
Volume keringat bisa diukur dengan menghitung potasium menggunakan
teknik elecmode ion selectif. Konsentrasi potasium selective tidak terpengaruh
terhadap rata-rata keringat. Kesalahan bisa terjadi karena kontaminasi,
pengumpulan data yang tidak komplit atau kesalahan pada prosedure.
b. Pemeriksaan Jaringan Tubuh
1) Jaringan Adipose
Jaringan Adipose menjadi materi biopsi yang banyak digunakan pada studi
populasi. Jaringan adipose merupakan biomarker yang baik untuk mengukur
asupan nutrien larut lemak dalam lama seperti asam lemak, vitamin E
dibandingkan melihat konsentrasinya dalam darah (Baynen danKatan, 1985;
Parker, 1989; El-Sohemy et al, 2002 dalam Gibson, 2005). Dapat melihat
perubahan secara cepat dan merefleksikan fluktuasi jangka pendek dari asupan
(Kohlmeier dan Kohlmeier, 1995; Hunter, 1998 dalam Gibson, 2005). Metode
rapid sampling mengumpulakn subkutan biopsi jaringan adipose, biasanya
bagian upper buttock (El-Sohemy et al, 2002, dalam Gibson, 2005). Meskipun
baian lain juga dapat diinvestigasi (Schafer dan Overvad, 1990; Zhang et al,
1997 dalam Gibson, 2005).
2) Hati dan Tulang
Besi dan kalsium umumnya tessimpan dalam hati dan tulang. Sebenarnya
penggunaan hati dan tulang sebagai sampel dalam studi populasi terlalu
8
invasive, biasanya ini hanya digunakan untuk penelitian klinis. DXA (Dual
photon obsorptiometry) sekarang digunakan untuk mengukur kandungan total
mineral dalam tulang.
3) Rambut
Rambut biasanya di gunakan untuk mengkur defisiensi trace elemen (Zinc, Se)
pada studi ppulasi dan juga melihat keterpaparan terhadap logam berat (
arsenikda Hg). Biasanya pengkuran ini bersifat retrospectif ,pengkuran kronis
status trace elemenmulai rambut tumbuh.
Keterbatasan sampel rambut utamanya adalah kontaminasi. Material lain yang
mengkontaminasi rambut antara lain udara, air, sabun, shampo dan obat-
obatan. Selenium pada shmpo dapat meningkatkan kadar selenium pada rambut
dan selenium tidak dapat dibersihkan dengan prosedur pencucian.
Metode pengambilan sampel rambut yang drekomendasikan adalah
menggunkan 1,5-2cm bagian proximal dari rambut , di potong dari subiccipital
dari kulit kepala pada bagian ini memimnimalkan kontaminasi dan kerontokan
rambut
1) Kuku
Kuku digunakanuntuk menganalisis konsentasi trace elemen. Seperti kuku
mudah dikumpulkan dan simpan , namun kuku tumbuh lebih lambat di
bandingkan rambut. Elemen komposisi kuku dipengaruhi oleh umur, jenis
kelamin, letak geografi dan juga adanya penyakit( fibrosis, wilson, alzheimer)
Komposisi elemen kuku dapat digunkan untuk mengukur status beberapa
elemen untuk menggambarkan nutrien jangka panjang seperti selenium.
Konsentasi selenium pada kuku berhubungan dengan letak geografis
keterpapparan selenium . pada individu, selenium berhubungna dengan
kebiasaan makan.
2) Sel mukosa mulut
Sel mukosa mulut digunakan untuk mengukur status a-tocoferol dan status
konsumsi lemak namun kriterian untuk hasil intrepetasi belum ada. Selain itu
juga digunakan seagai indikator status folat.

9
Sel mukosa dikumpulkan dengan mudan dan non invasive dengan
menggunakan spatula. Sel harus dicuci dicuci dengan garam isotonik untuk
dianalisis. Kontaminasi dengan makan adalah maslaah utama.
3) Urin
Spesimen urin digunakan untuk pengkuran biokimia beberapa trace element
antara lain kromium, yodium dan selenium, protein, vitain B kompleks. Urin
tidak bisa digunakn untuk mengkur vitamin A, D,E,K. Ekskresi urin
menggambarkan status asupan jangka pendek dan stus akut. Metode pengkuran
ini dengan ekskresi urin tergantung pada kerja ginjal dalam mengekskresikan
nutrien dalam urin dan memetabolismenya ketika cadangan dalam tubuh
berkurang.
Untuk pengukuran nutrien dalam urin, diperlukan pengambilan sampel yang
bersih , mencukupi , lebih baik peride 24jam . untuk nutrien tidak stabil
memerlukan penyimpanan yang dingin untuk mencegah kerusakan sampel.
2.3.2. Tes Fungsional
Tes fungsional diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu secara biokimia
dan psikologis atau perilaku. Tes ini mengkur konsekuensi fungsional dari
defisiensi nutrien sehingga dianggap lebih signifikan secara biologi dibandingkan
pemeriksaan status biokimia jaringan dan carian tubuh.
Tes fungsional biokimia mengukur hasil metabolisme abnormal pada darah
atau urin yang disebabkan defisiensi nutrien yang tergantung pada enzim.
Beberapa contoh tes funsional biokimia.
1. Metabolit Abnormal pada Darh atau Urin
Banyak vitamin dan mineral bertindak sebagai koenzim untuk sistem enzim.
Selama defisiensi , aktifitas enzim ini menurun, berefek pada hasil metabolit
yang abnormal pada darah atau urin. Pengukuran metabolit yang tidak normal
pada darah atau urin memberikan hasil yang sensitif dan spesifik untuk
menunjukkkan kekurangan gizi.
2. Perubahan Aktivitas Enzim dan Komponen darah
Metode biokimia yang paling sering dipilih karena sangat sensitif dan spesifik.
Mengukur perubahan aktivitas enzim tergantung pada jenis nutrien yang akan

10
digunkan dan metabolit apa yang akn diidentifikasi pengaruhnya. Idealnya
pengukuran seharusnya merefleksikan jumlah nutrien yang ada dalam tubuh ,
dapat merespon dengan cepat perubahan suplai nutrien yang ada dalam tubuh.,
berhubungan denganatologi defisiensi atau kelebihan nutrien. Banyak nutrien
yang mempunyai fungsi lebih dari satu, karenanya beberapa enzim akan
terpengaruh pada keadaan defisiensi
3. Tes In Viro dan Fungsi In Vivo
Jaringan dan sel pada tes ini harus diisolasi dan di maintain dibawah kondisi
physiological. Tes ini berhubungan dengan pertahanan diri dan
kompetensiimunitas dari host karenanya secar luas banyak digunkan. Sistem
imun terdiri dari dua komponen limfoid , Thymus dependent (T) lymfosit dan
B-limfosit
4. Load Test And Induced Responses In Vivo ( Tes Beban Dan Respon Induced
In Vivo)
Tes fungsional ini dilakukan pada subjek in vivo demikian juga beberapa tes
well-establishedload and tolerance test. Beberapa tes digunakan pada individu
dengan suspect defisiensi gizi sehingga tidak cocok untuk studi survei.
Biasanya digunakanuntuk mengukur status vitamin larut air dan mineral
seperti test beban triptophan untuk pyridoxine, tes beban histidin untuk asam
folat, tes beban vitamin C dan tes beban valin untuk vitamin B12 sedangkan
untuk mineral di gunkan pada magnesium , zinc dan selenium
Tes beban, dosis nutrien diberikan secara oral, intramuscular atau intravena.
Setelah itu sampel urin sewaktu dikumpulkan dan tingkat ekskresi nutrien atau
metabolit diukur. Pada keadaan defisiensi, ketika jaringan tidak dipenuhi oleh
nutrien, ekskresi nutrienatau metabolit akan rendah karena batas retensi tinggi.
Saat mengkalkulasikan presentase ekskresi pada tes bebab, asupan basal
nutrien harus di ikuti dengan rata-rata koreksiekskresi urindar nutrien.
Tes toleransi biasanya digunakan untuktes plasmayang digunakan untuk
mengukur status nutrienseperti zinc dan mangan. Pada tes ini konsentrasi
nutrien diukur dengan menghitung nilai plasma puasa dan nilai puasa setelah
pemberian dosis nutrien secara oral. Ada perubahan respon pada kasus
11
defisiensi gizi karena absorpsi nutrien diusus halus diasumsikan akan
meningkat pada keadaandefisiensi nutrien.
5. Spontaneous In VivoResponses ( Respon Spontan In Vivo)
Tes fungsional pertama yang menggunkan in vivo menggunakan respon
spontani in vivo adalah adaptasi gelap dan kerapuhan kapiler. Kemampuan
adaptasi gelap yang berakibat pada rabun senja, pertama dihubungkan dengan
kekurangan vitaminA dan selanjutnya dihubungkan dengan kekurangan zinc.
Tes lain yang menggunakan respon fisikin vivo adalah pengukuran
karakteristik kontraksi dan relaksasi dan daya tahan otot. Penurunan cadangan
protein dan katabolisme otot akan terjadi kurang energi protein yang akan
mengubah kemampuan kontraksi otot rata-rata relaksasi dan daya tahan otot
dan juga dapat dilihat nilai status protein.
6. Respon Pertumbuhan Dan Perkembangan
Kategori tes fisiologis untuk mengukur fungsi performa dari individu seperti
pertumbuhan, menyusui, kematangan seksual dan kognitif. Beberapa indeks
tidak spesifik untuk bebrapa nutrient dan beberapa lebih dipilih dengan
menghubungkannya dengan tes laboratorium. Percepatan pertumbuhan
contohnya lebih digunkan sebagi indeks fungsional untuk penetuan status gizi
pada bayi dan anak-anak.
Pengukuran fungsi kognitif menggunkan metodologi yang kaku. Hubungan
antara defisiensinutrien dengan fungsi kognitif hanya bisa diukur dengan:
1) Doukumentasi perbedaan klinis fugsi kognitif antara subyekyang
mengalami defisiensi dengan kontrol
2) Peningkatan yang ditunjukkan pada fungsi kognitif setelah suplementasi,
dengan menggunakan sampel yang berpasangan dan design yang digunkan
adalah double blind randomized suplemetation trial.
Pengukuran fungsi kognitif digunakan untuk mengukur hubungna defisiensi
besi termasuk performa tes IQ pada anak usia sekolah. Tes fungsional yang
kedua adalah tes psikologis atau tes perilaku. Kebanyakan tes psikologis atau
perilaku sedikit invasivedan lebih mudah ditunjukkan dan secara langsung
lebih bisa dihubungkan dengan penyakit atau status kesehatan dibandingkan
12
tes fungsional. Namun bagaimanapun jugates psikologis atau perilaku tidak
spesifik
2.4. Pemeriksaan Biokimia Zat Gizi
Penilaian status gizi secara biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji
secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga berbagai jaringan
tubuh seperti hati dan otot. Penilaian status gizi secara biokimia merupakan
pemeriksaan status gizi yang paling obyektif dan dapat mengetahui zat zat gizi
yang ada dalam tubuh.

Penilaian status gizi dengan cara ini merupakan penilaian secara langsung.
Hasilnya dapat memberikan indikasi perubahan status gizi seseorang pada tahap
awal atau dini. Selain itu dapat memberikan gambaran tentang kadar zat gizi
dalam darah, urine dan organ lain, perubahan metabolik tubuh akibat kurangnya
konsumsi zat gizi tertentu dalam waktu lama serta cadangan zat gizi dalam tubuh.

2.4.1. Pengukuran Status Protein


Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh
antara lain:
1. Untuk mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma
protein.
2. Sebagai cadangan protein tubuh.
3. Untuk mengontrol peredaran darah (terutama dari fibrinogen).
4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.
5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.
6. Untuk mengatur aliran darah, dalam membantu bekerjanya jantung.

Di dalam darah ada 3 fraksi protein yaitu:


a. Albumin : kadar normalnya = 3,5 5 gram/100 ml
b. Globulin : kadar normalnya = 1,5 3 gram/100 ml
c. Fibrinogen : kadar normalnya = 0,2 0,6 gram/100 ml

13
Pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi dalam 2 pokok, yaitu
penilaian terhadap somatic protein dan visceral protein. Perbandingan somatic dan
visceral dalam tubuh antara 75% dan 25%. Somatic protein terdapat pada otot
skeletal, sedangkan visceral protein terdapat di dalam organ/visceral tubuh yaitu
hati, ginjal, pankreas, jantung, erytrocyt, granulocyt dan lympocyt.
Konsentrasi serum protein dapat digunakan untuk mengukur status protein.
Penggunaan pengukuran status protein ini didasarkan pada asumsi bahwa
penurunan serum protein disebabkan oleh penurunan produksi dalam hati.
Penentuan serum protein dalam tubuh meliputi: albumin, transferrin, prealbumin
(yang dikenal juga dengan trasthyeritin dan thyroxine-binding prealbumin), retin
ol binding protein (RBP), insulin-Like growth factor-1 dan fibronectin.

Prosedur penentuan serum protein


Ion kupri (Cu2+) dalam reagen biuret bereaksi dengan peptida (-CONH) dan
menghasilkan sen yawa peptida berwarna violet. Intensitas warna secara langsung
proporsional denga jumlah peptida pada pengukuran dengan kisaran yang luas.
Senyawa ini dibentuk hanya jika paling sedikit ada dua gabungan peptida (-
CONH). Akibatnya protein bereaksi dengan reagen beuret, sedangkan asam
amino, ammonia, urea dan senyawa lain berisi nitrogen sederhana tidak bereaksi.
(Peters dan Biamente, 1982).
1. Berilah label setiap tabung uji, yaitu standar, referensi, pool dan setiap
subjek uji.
2. Tambahkan 3,0 ml reagen biuret pada setiap tabung.
3. Pada tabung standar, tambahkan 50 l larutan standar; pada tabung
referensi tambahkan 50 L serum referensi; pada tabung pool tambahkan
50 L serum pool; pada masing-masing subjek tambahkan dengan 50 L
serum uji.
4. Campurkan setiap tabung secara merata, dan biarkan dalam lemari gelap
pada posisi berdiri minimal 10 menit.

14
5. Tempatkan spectrophometer pada panjang gelombang 555 nm. Aturlah
pada titik nol dengan menggunakan cuvet reagen biuret sebagai referensi
kosong.
6. Pindahkan masing-masing isi tabung pada cuvet.
7. Baca dan catat penyerapan sampel standar, referensi dan pool.

Prosedur Penentuan Serum Albumin


Albumin merupakan komponen utama dari protein serum total dalam individu
yang sehat. Serum albumin diuji dalam sebagian besar laborat klinik melalui
metode penguat warna (dye-binding methode)yang menggunakan bromocesol
green. Serum albumin berikatan secara spesifik dengan brocresol green untuk
membentuksenyawa BCG albumin biru yang menyerap secara maksimal pada 600
nm.
1. Berilah tabel setiap tabung uji, yaitu kosong, standart, referensi, pool, dan
setiap subjek uji
2. Tambahkan 5,0 ml reagen celup penyangga pada masing- masing tabung.
3. Pada tabung kosong tambahkan 20 destilasi terionisasi. Pada tabung standart
tambahkan 20 L larutan standar. Pada tabung referensi tambahkan 20 L
serum referensi. Pada tabung pool tambahkan 20 L serum pool. Untuk
masing-masing subjek uji tambahkan 20 L serum uji.
4. Campurkan masing-masing tabung secara merata, dan biarkanpada posisi
berdiri selama 2 menit.
5. Pindahkan masing-masing isi tabung pada cuvet.
6. Tempatkan spekrofotometer pada panjang gelombang 600 nm.
7. Aturlah pada titik nol dengan menggunakan reagen blank.
8. Baca dan catat penyerapan sampel standar, referensi, dan pool.
Warna akhir yang berkembang menjadi stabil selama 1 jam. Sampel yang
mempunyai lebih dari 6 g/dL albumin harus didilusikan dengan salin isotonik
(isotonic saline) dan diuji lagi. Hasilnya kemudian harus dikoreksi pada dilusi ini.

15
Prosedur Penentuan Serum Transthyretin
Perhatikan bahwa bak penampungan tidak meluap. Pelat harus di letakkan
pada posisi horisontal pada tingkat permukaan dan suhu kamar meliputi seluruh
prosedur ini.
1. Siapkan, seperti yang dijelaskan di bawah, tiga konsentrasi berbeda serum
standar(manusia) yang dikenal dengan konsentrasi TTR (yaitu 25 mg/dL); ini
digunakan untuk kurva standar.
Encerkan satu bagian serum standar tersebut dengan tiga bagian 0,9% NaCl
yang membuat konsentrasi menjadi 6,25 mg/dL. Campur dengan vortex
mixer.
Encerkan satu bagian serum standar tersebut dengan satu bagian 0,9%
NaClang membuat konsentrasi menjadi 12,5 mg/dL. Campur dengan vortex
mixer.
Gunakan serum standar yang tidak diencerkan dengan konsentrasi 25 mg/dL.
2. Isikan bak 1 ke bak 3 dengan 5L masing-masing dari 3 konsentrasi serum
standar dengan menggunakan Hamilton syringe atau Eppendorf micropipet.
3. Isikan bak 4 dengan 5L serum referensi yang tidak diencerkan.
4. Isikan bak 5 dengan 5L serum pool yang tidak diencerkan.
5. Isikan bak tambahan masing-masing dengan 5L. Sampel serum uji.
6. Setelah pengisian, biarkan pelat pada posisi terbuka berdiri selama 10-20
menit, lalu tutup pelat tersebut dengan tutup plastik agar terlindungi dari
pengeringan selama inkubasi
7. Tinggalkan pelat ini tetap berdiri pada posisi horisontal di permukaan level,
suhu kamar, selama 48 jam. Periode inkubasi ini menyebabkan difusi untuk
mencapai titik akhir (yaitu semua antigen yang tersedia telah bergabung
dengan antibodi)
8. Setelah 48 jam ukur diameter dari cincin presipitin (sampau ketelitian 0,1 mm)
yang diiluminasikab dengan lampu sorot kecil terhadap latar belakang gelap
dengan menggunakan kaca pembesar.
Atau dengan cara lain menggunakan alat ukur partigen. Saat digunakan,
alat pengukur partigen ditempatkan sehingga cincin presipitin menyentuh kedua
16
sisi kerucut pada diameternya yang terbesar; ambil pengukuran pada titik kontak
antara diameter cincin presipitin dan penandaan dari alat ukur pengukur tersebut.
Dua pengukuran ortogonal pada masing-masing cincin presipitin harus diambil
untuk memperkecil kesalahan akibat bentuk cincin yang tidak tepat berbentuk
lingkaran.
2.4.2. Penentuan Status Gizi Fe
Ada beberapa indikator laboratorium untuk menentukan status besi yaitu:
1. Hemoglobin (Hb)
2. Hematokrit (HCT)
3. Besi serum
4. Ferritin serum (Sf)
5. Transferrin saturation (TS)
6. Free erytrocytes protophophyrin (FEP)
7. Unsaturated iron-binding capacity serum

a. Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan
prevalensi anemia. Garby et al menyatakan bahwa penentuan status anemia
yang hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga perlu
ditambah dengan pemeriksaan yang lain.
Hb merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin
dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan
sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Kandungan
hemoglobin yang rendah dengan demikian mengindikasikan anemia.
Bergantung pada metode yang digunakan, nilai hemoglobin menjadi akurat
samapai 2-3%. Metode yang lebih dulu dikenal adalah metode Sahil yang
menggunakan teknik kimia dengan membandingkan senyawa akhir secara
visual terhadap standar gelas warna. Ini memberi 2-3 kali kesalahan rata-rata
dari metode yang menggunakan spektrofotometer yang baik.
Nilai normal yang paling sering dinyatakan adalah 14-18 gm/100 ml untuk pria
dan 12-16 gm/100 ml untuk wanita (gram/100 ml sering disingkat dengan
17
gm% atau gm/dl). Beberapa literatur lain menunjukan nilai yang lebih rendah,
terutama pada wanita, sehingga mungkin pasien tidak dianggap menderita
anemia sampai Hb kurang dari 13 gm/100 ml pada pria dan 11 gm/100 ml
untuk wanita.
b. Hematokrit (HCT)
Hematokrit adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan cara
memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen
(%). Setelah sentrifugasi, tinggi kolom sel merah diukur dan dibandingkan
dengan tinggi darah penuh yang asli. Persentase massa sel merah pada volume
darah yang asli merupakan hematokrit. Darah penuh antikoagulasi
disentrifugasi dalam tabung khusus. Karena darah penuh dibentuk pada
intiselnya oleh sel darah merah (SDM) dan plasma, setelah sentrifugasi
persentase sel-sel merah memberikan estimasi tidak langsung jumlah SDM/100
ml dari darah penuh (dan dengan demikian pada gilirannya merupakan estimasi
tidak langsung jumlah hemoglobin). Hematrokrit dengan demikian bergantung
sebagian besar pada jumlah SDM. tapi ada beberapa efek (dalam hal jauh lebih
sedikit) dari ukuran rata-rata SDM. nilai normal adalah 40%-54% untuk pria
dan 37%-47% untuk wanita. HCT biasanya hampir 3 kali nilai Hb (dengan
menganggap tidak terdapat tanda hipokromia). Kesalahan rata-rata pada
prosedur HCT yaitu kira-kira 1-2%.
c. Serum Besi
Prosedur serum iron. Darah harus dikumpulkan menggunakan tabung
terevakuasi bebas elemen tembusan. Hanya air terdeionisasi terdistilasi yang
harus digunakan.
1) Berilah label tabung uji dengan blanko, standar, referensi, pool, dan subjek
test masing-masing
2) Tambahkan 2.5 ml reagen penyangga besi pada masing-masing tabung
3) Pada tabung berblangko tambahkan 0.5 ml standar besi. Pada referensi
tambahkan 0.5 ml bahan referensi besi serum. Pada pool tambah dengan
0.5 ml serum pooled. Untuk masing-masing subjek uji, tambahkan 0.5 ml
serum pada tabung yang cocok.
18
4) Campurkan masing-masing tabung uji secara merata dengan vortex mixer

5) Pindahkan masing-masing sampel pada sebuah cuvet.


6) Pasang pada panjang gelombang 560 nm. Nolkan spektofotometer pada
penyerapan nol dengan blanko reagen.
7) Baca dan catat penyerapan awal sampel blanko, standar, referensi dan uji.
Kembalikan sampel-sampel itu pada tabung yang sesuai setelah dilakukan
pembacaan. Ini merupakan penyerapan awal (Ainitial) yang diukur agar
dilakukan pertimbangan mengenai pebedaan-perbedaan dalam turbiditas
sampel.
8) Tambahkan 0.05 ml reagen warna besi pada masing-masing tabung.
Campur masing-masing tabung dan biarkan beridri selama kira-kira 10
menit dalam air pada 370 C
9) Pindahkan isi masing-masing tabung pada cuvet
10) Baca lagi dan catat penyerapan sampel blanko, standar, referensi, pool,
dan uji menggunakan blanko untuk membuat nol penunjukan
spektrofotometer. Ini merupakan penyerapan akhir (Afinal).
Perhitungan hasil
Jika standar besi berisi 500 g/dl, konsentrasi besi serum (g/dl) dari sampel
dihitung dengan menggunakan rumus faktor konversi pada satuan (mol/L) = x
0,179.
d. Transferrin saturation (TS)
Penentuan kadar zat besi dalam serum merupakan satu cara menentukan status
besi. Salah satu indikator lainya adalah Total Iron binding capacity (TIBC)
dalam serum. Kadar TIBC ini meningkat pada penderita anemia. Karena kadar
besi di dalam serum menurun dan TIBC meningkat pada keadaan defisiensi
besi maka rasio dari keduanya (transferrin saturation) lebih sensitif.
Rumus tersebut adalah apabila TS > 16 %, pembentukan sel-sel darah merah
dalam sumsum tulang berkurang dan keadaan ini disebut defisiensi besi untuk
eritropoiesis.
e. Free erythrocyte protophorphyrin (FEP)

19
Apabila penyediaan zat besi tidak cukup banyak untuk pembentukan sel-sel
darah merah di sumsum tulang maka sirkulasi FEP di darah meningkat
walaupun belum nampak anemia. Dengan menggunakan fluorometric assay,
maka penentuan FEP lebih cepat digunakan. Satuan untuk FEP dinyatakan
dalam g/dl darah atau g/dl darah merah. Dalam keadaan normal kadar FEP
berkisar 35 50 g/dl RBC tetapi apabila kadar FEP dalam darah lebih besar
dari 100 g/dl RBC menunjukkan individu ini menderita kekurangan besi.
Prosedur free erythrocyte protoporphyrin
1) Tekan tombol ON pada henatofluorometer dan sisipkan blank glass
cover slip ke dalam pemegang sampel.
2) Tekan tombol MEASURE dan catat pembacaan pda blank glass cover
slip. Gunakan hanya blank cover slip dengan pembacaan dari 000-006.
3) Gunakan pipet pasteur plastik untuk menempatkan setetes darah penuh
(kira-kira 20 L) di atas blank cover slip denga cara menyebarkannya,
sehingga berhubungan pada posisi lubang.
4) Tekan tombol MEASURE dan catat pembacaan. Jangan subtraksikan
pembacaan pada blank cover slip.
5) Ulangi (4) setelah 10 15 detik lewat dan kemudian kesampingkan glass
cover slip.
6) Untuk kontrol darah, ambil setetes darah (sekitar 35 L) di atas glass
cover slip yang bersih dengan menekan botol. Campurkan tetesan darah
dengan ujung botol. Pindahkan tutup botol.
7) Tekan tombol MEASURE dan catat pembacaan. Kesampingkan glass
cover slip.
8) Periksa kontrol-kontrol darah pada permukaan dan akhir setiap hari, atau
setelah 50 pengujiaan yang bisa diterapkan. Nilai kontrol rendah, medium
dan tinggi harus ada dalam harga yang dinyatakan.
Perhitungan hasil
Konsentrasi zink protoporphyrin yang dinyatakan dalam mol/L RBXs dapat
dihitung menggunakan rumus berikut, yang dalam hal ini hematokrit
dinyatakan sebagai fraksi volume dari paket sel darah merah:
20
Konsentrasi zink protoporphyrin juga dapat dinyatakan dalam g/dL darah
penuh: faktor konversi pada satuan SI (mmol/L) = x 0,0177.

f. Serum ferritin (SF)


Untuk menilai status besi dalam hati perlu mengukur kadar ferritin. Menurut
cook (dalam Mahdin anwar husaini, 1989) banyak ferritin yang dikeluarkan ke
dalam darah secara proporsional menggambarkan banyaknya simpanan zat besi
di dalam hati. Apabila didapatkan serum ferritin sebesar 30 mg/dl RBC berarti
di dalam hati terdapat 30 x 10 mg = 300 mg ferritin. Untuk menentukan kadar
ferritin dalam darah dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu dengan
cara immunoradiometric assay (IRMA) atau dengan radio immuno assay (RIA)
atau dengan cara enzyme-linked immuno assays (ELISA) yang tidak
menggunakan isotop, tetapi enzim. Dalam keadaan normal rata-rata SF untuk
laki-laki dewasa adalah 90 g/l. perbedaan kadar serum ferritin ini
menggambarkan perbedaan banyaknya perbedaan zat besi pada tubuh dengan
zat besi pada laki-laki tiga kali lebih banyak dari wanita. Apabila seseorang
mempunyai kadar SF kurang dari 12 orang yang bersangkutan dinyatakan
sebagai kurang besi. Banyak orang yang sebenarnya menderita kurang besi,
tetapi tidak dapat terdeteksi dengan cara ferritin karena kadar ferritin yang
dikeluarkan dari hati menarik dalam darah apabila yang bersangkutan
menderita penyakit kronis, infeksi dan sakit hati. Namun, apabila penyakit
infeksi tidak umum terjadi di masyarakat, penentuan ferritin merupakan pilihan
yang tepat.

2.4.3. Penentuan Status Mineral


Berdasarkan konsentrasinya di dalam tubuh, maka mineral dibedakan
menjadi Mineral Mayor dan Trace Element.

21
Mineral Mayor Trace Element
1. Sodium (Na) 1. Iron
2. Potasium (K) 2. Zinc
3. Chloride(Cl) 3. Copper
4. Calcium (Ca) 4. Cobalt
5. Magnesium (Mg) 5. Manganese
6. Phosphorus (Ph) 6. Molybdenum
7. Chromium
8. Selenium
9. Fluoride
10.Nickel

Karakteristik dari Trace Mineral adalah sebagai berikut:


1. Ada dalam jumlah yang sangat sedikit (< 1% total body mass)
2. Peran fisiologis belum jelas: aluminium, arsen, kadmium, gold, lead, dan
mercury
3. Heavy metals : arsen, kadmium, lead, dan mercury

Pada saat pengambilan specimen, kita harus memperhatikan hal-hal yang


dapat menimbulkan kontaminasi yang akan mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Trace element kadarnya dalam tubuh dalam mg atau ng per L. nilai ini sebanding
dengan kadarnya di lingkungan. Sumber kontaminan bisa berasal dari lingkungan,
kontainer dan alat sampling serta lingkungan laboratorium. Hal-hal yang harus
diperhatikan antara lain:
a. Pengawasan ketat: koleksi spesimen, pemrosesan, dan analisis.
b. Pencucian alat-alat dengan asam
c. Cr dan Mn akan meningkat palsu apabila terkontaminasi jarum dari logam
d. Se dan Pb akan menurun palsu apabila terjadi adsorb dari tabung gelas
e. Al akan meningkat palsu apabila terkontaminasi tutup karet yg terbuat dari
aluminium silika.
Untuk metode analisis, hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
22
1. Area utk analisis trace metal terpisah dari laboratorium utama
2. Glassware dicuci dg asam kemudian dibilas dengan air suling
3. Sensitivitas analitik sangat penting
Atomic absorption spectrophotometry (AAS) merupakan metode yang paling
banyak digunakan untuk pengukuran mineral. Metode lain bisa menggunakan
spektrometri emisi, mass spectrometry , colorimetry.
2.4.4. Penentuan Status Gizi Vitamin
Penilaian status vitamin yang terkait dengan penetuan status gizi meliputi
penentuan kadar vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin C, tiamin, riboflavin,
niasin, vitamin B6, vitamin B12.
1. Vitamin A
Deplasi vitamin A dalam tubuh merupakan proses yang berlangsung lama,
dimulai dengan habisnya persediaan vitamin A dalam hati, kemudian
menurunya kadar vitamin A plasma, dan baru kemudian timbul disfungsi
retina, disusul dengan perubahan jaringan epitel.
Kadar vitamin A dalam plasma tidak merupakan kekurangan vitamin A yang
dini, sebab deplesi terjadi jauh sebelumnya. Apabila sudah terdapat kelainan
mata, maka kadar vitamin A serum sudah sangat rendah (kurang dari 5 g/100
ml), begitu juga kabar RBP-nya (<20 g/100 ml) konsentrasi vitamin A dalam
hati merupakan indikasi yang baik untuk menentukan status vitamin A. Akan
tetapi, biopsi hati merupakan tindakan yang mengandung resiko bahaya. Di
samping itu, penentuan kadar vitamin A jaringan tidak mudah dilakukan.
Pada umumnya konsentrasi vitamin A penderita KEP rendah yaitu <15
g/gram jaringan hepar (Solihin Pujiadji, 1989).

Tabel 6-1. Batasan dan interpretasi pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah

Umur (th) Kurang Margin Cukup


Plasma vitamin A (mg) Semua umur <10 10-19>20

23
Metode penentuan serum retinol
a. Cara HPLC (High Performance Liquid Choromatography)
1) Prinsip: Retinol dan standar retinil asetat yang ditambahkan dengan pelarut
organik setelah protein serum didenaturasi. Dengan sistem fase berputar
(revers phase) kedua protein tersebut dipisahkan dan diukur serapannya
pada panjang gelombang 328 nm dengan HPLC. Konsentrasi retinol dalam
serum dapat dihitung dari perbandingan puncak grafik retinol-asetat
2) Prosedur :
a) Seratus mikroliter palsma dimasukan ke dalam tabung mikro ditambah
100 mikroliter etanol yang berisi standar retinil acetat (konsentrasi
setara dengan 20 g retinil/dl) dan 200 mikroliter heksan.
b) Kemudian dikocok dengan vortex selama 1 menit.
c) Setelah disentifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit
lapisan heksan yang berisi ekstrak vitamin A dipipet sebanyak 150 l.
d) Ekstrak ini kemudian diuapkan dengan pertolongan gas nitrogen sampai
kering.
e) Ekstrak yang sudah kering kemudian ditambah 100 mikroliter
isoprepanol, kemudian dikocok dan sebanyak 50 mikroliter disuntikan
ke HPLC, dengan spesifikasi sebagai berikut.
Kolom : bondapak C18
Buffer (solvent) : metanol/air, (95/5, perbandingan volume)
Kecepatan aliran : 2,5 ml/menit
Tekanan : disesuaikan kecepatan aliran tersebut
Panjang gelombang detektor : 328 nm
Sensitivitas detektor : 0,01 AUFS
Suhu : kamar
Kecepatan rekoder : 1 cm/menit
Munculnya grafik : retinol 2,2 menit
Retynil acetat 3,0 menit
Perhitungan : konsentrasi retinol dalam serum

24
Catatan:
1) Semua tabung reaksi yang digunakan harus benar-benar bersih. Untuk
mencapai ini semua tabung-tabung harus direndam dalam nitrat atau pun
kromat selama 3 hari.
2) Berdasarkan pengalaman, setiap 4-5 kali penyuntikan pada HPLC kolom
perlu dicuci dengan dialiri buffer tanpa sampel selama sekitar 30 menit.
3) Bila ada dugaan kadar vitamin A dalam serum agak tinggi (misalnya serum
orang dewasa normal, anak yang baru saja diberi vitamin A dosis tinggi)
serum yang digunakan 50 l saja.
Pengalaman di puslitbang gizi bogor selama ini semua kolom yang sudah
digunakan untuk penentuan sekitar 250 sampel sudah tidak bisa digunakan
lagi. Hal ini mungkin terkait dengan kualitas pereaksi yang ada di Indonesia.
b. Penentuan kadar vitamin A cara kolorimeter dengan pereaksi
trifluoroasetat/TFA (neeld & pearson)
1) Prinsip: Setelah protein didenaturasi dengan alkohol, vitamin A diextraksi
dengan pelarut organik. Extrak dipisahkan dan vitamin A ditentukan
dengan direaksikan dengan TFA dan warna biru yang terbentuk diukur
serapanya pada panjang 620 nm. Karena karotin juga memberikan reaksi
dengan TFA, meskipun juga lebih lemah, perlu ada faktor koreksi karena
ada pengaruh dari karotin ini.
2) Cara kerja (semi mikro)
a) Lima ratus mikroliter serum dalam tabung reaksi ditambah dengan 500
mikroliter etanol (atau dapat pula 1N KOH dalam 90% etanol).
b) Dikocok dengan tangan sampai rata. Ditambahkan 1000 mikroliter ( =
1 ml) petroleum eter (40-60 C) lalu dikocok dengan voltrex selama 1
menit.

25
c) Sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 5-10 menit akan
memisahkan extarak vitamin A di bagian atas serta campuran serum
alkohol di bagian bawah.
d) Extrak dipipet sebanyak 750 mikroliter lalu diukur serapannya pada
panjang gelombang 450 nm untuk penentuan karotin.
e) Extrak tersebut kemudian diuapkan samapai kering dengan gas
nitrogen. Ditambah dengan 1500 mikrolier pereaksi TFA (campuran 1
bagian TFA dan 2 bagian kloroform yang disiapkan segar).
f) Warna biru yang terbentuk harus sudah diukur serapannya dalam
waktu 30 detik pada panjang gelombang 620 nm.
Standar vitamin A yang dilarutkan dalam kloroform da berisi 2 mg/ml, 4
mg/ml, dan 8 mg/ml disiapkan. Dipipet 25 ml dari masing-masing konsentrasi
tersebut dan diukur serapanya setelah ditambah 1500 mikroliter pereaksi.
Standar tersebut setara dengan konsentrasi vitamin A dalam serum 10 g/dl,
20 g/dl, 30 g/dl dan 40 g/dl.
Faktor koreksi karena pengaruh reaksi antara pereaksi dengan karotin dibuat
sebagai berikut:
a) Disiapkan standar karotin yang berisi 10 g/dl, 20 g/dl, 40 g/dl dan 80
g/dl.
b) Dipipet masing-masing sebanyak 750 mikroliter lalu diuapkan sampai
kering dengan nitrogen.
c) Kemudian direaksikan dengan 155 mikroliter pereaksi dan serapannya
diukur pada panjang gelombang 620 nm.
Dengan demikian dapat dihitung faktor koreksi karena pengaruh karotin.
Pengalaman di puslitbang gizi bogor faktor koreksi pengaruh karotin ini
sekitar 15% pembacaan karotin pada panjang gelombang 450 nm. Jika
seandainya serapan karotin pada 459 nm adalah 0,100 maka pembacaan
vitamin A pada 620 nm perlu dikurangi 15 % dari 0,100 baru kemudian
dikurangi blangko.
Dengan demikian dalam buku catatan penentuan vitamin A ada 10 kolom
seperti terlihat pada tabel 6-2.
26
Dari standar vitamin A dapat dihitung faktor perhitungan vitamin A dan dari
standar karotin dapat dihitung faktor perhitungan karotin dengan prinsip :

Catatan:
1) Kecepatan pada pengukuran kecepatan pada panjang gelomabang 620 nm
tergantung pada pengalaman petugas laboratorium. Kalau sudah
berpengalaman waktu yang diperlukan semenjak penambahan pereaksi
samapai pengukuran serapan sejumlah 22-23 detik.
2) Waktu melarutkan standar karotin mula-mula ditambah beberapa ml
kloroform, baru kemudian ditambah PE sesuai tujuan. Bila langsung
ditambah PE, sebagian karotin tidak larut.
3) Pada penentuan vitamin A dengan cara kolorometri ini adalah total
vitamin A (retinol dan retinil ester), sedangkan dengan HPLC hanya
ditambah PE sebagai karotin tidak larut.
4) Pada penentu vitamin A (retinol dan retinil ester), sedangkan dengan
HPLC hanya retinol saja (suharjo, 1990. Penilaian Keadaan Gizi
Masyarakat, hlm. 172-175)
2. Vitamin D
Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan penyakit rakhitis dan kadang-
kadang tetani. Apabila kekurangan terjadi pada masa pertumbuhan akan timbul
osteomalasia. Sangat jarang ditemukan rakitis bawaan, insiden tertinggi
terdapat pada umur 18 tahun.
Kekurangan vitamin D timbul kalsifikasi tulang yang tidak normal disebabkan
oleh karena rendahnya saturasi kalsium dan fosfor dalam cairan tubuh.
Keadaan resorpsi tulang akan melebihi pembentukannya hingga menyebabkan
demineralisasi umum pada rangka yang berakibat menjadi lunaknya tulang-
tulang serta deformitas torax, tulang punggung, pelvis dan tulang-tulang
panjang.
Beberapa zat yang berhubungan dengan aktivitas vitamin D adalah:
27
1) Vitamin D2 (ersokalsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi ersoterol (dalam
tumbuh-tumbuhan) secara artifisial dengan sinar ultraviolet.
2) Vitamin D3 (kolekalsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi pada kulit manusia
dengan komponen ultraviolet sinar matahari dan juga terdapat secara
alamiah pada sumber makanan hewani. Kolekalsiferol dikonversi di dalam
hati dan mungkin usus menjadi 25(OH) kolekalsiferon
Pada pemeriksaan biokimia penderita rakhitis ditemukan hasil:
1) Kadar kalsium serum normal atau lebih
2) Kadar fosfor rendah
3) Kadar fosfatase meninggi
4) Kadar 25 (OH) vitamin D dibawah 4 mg/ml
5) Vitamin E
Devisit vitamin E jarang sekali ditemukan oleh sebab makanan sehari-hari
mengandung cukup vitamin E. namun demikian kita harus tetap waspada
adanya kemungkinan keadaan subklinis, misalnya pada bayi berat badan lahir
rendah dimana transfer vitamin E melalui plasenta tidak efisien.
Gangguan yang dapat dilihat karena kekurangan vitamin E adalah hemolisis
dan mengurangnya umur hidup eritrosit. Penelitian pada binatang percobaan
didapatkan bahwa defisit vitaminE menyebabkan kemandulan baik pada jantan
dan betina. Gangguan lain adalah distrofi otot dan kelainan saraf pusat
(ensefalomalasia). Pada pemeriksaan biokimia seorang anak dikatakan
memiliki nilai normal vitamin E bila di dalam serum 0,7 mg.
2.4.5. Pemeriksaan Biokimia pada Beberapa Masalah Gizi di Indonesia
A. Yodium
Kadar Iodium dalam Urine
Pada join WHO, UNICEF, ICCIDD Consultation tahun 1992 (Stanbury, 1996
dalam Rinaningsih, 2007), telah disepakati pengambilan sampel urine untuk
pemeriksaan Urinariy Excretion iodine (EUI) cukup menggunakan urine sewaktu
dan tidak perlu lagi menggunakan ratio dengan kreatinin. Urine dapat ditampung
dalam botol penampung tertutup rapat, tidak perlu dimasukkan dalam lemari es
selammasa transportasi dan tidak perlu ditambah pengawet urine. Metode yang

28
direkomendasikan adalah Ammonium Persulfate Disgestion. Pertimbangan
pemilihan metode ini yaitu mudah, sepat dan tidak memerlukan alat yang terlalu
mahal (Rachmawati B, 1997 dalam Rinaningsih, 2007) Klasifikasi kecukupan
yodium berdasarkanMedian UEI (Stanbury, 1996 dalam Rinaningsih, 2007)
adalah :
1. Defisiensi Berat, median UEI < 20 g/L
2. Defisiensi Sedang, median UEI 20-49 g/L
3. Defisiensi Ringan, median 50-99 g/L
4. Optimal, median UEI 100-200 g/L
5. Lebih, median UEI 201-300 g/L
6. Kelebihan (excess), median EUI > 300 g/L
Berikut ini penentuan kadar yodium dalam urine dengan metode cerium yang
diuraikan dalam buku karangan Supariasa, 2002 adalah :
1. 10 ml urine didestruksi (pengabuan basah) dengan penambahan 25 ml
asam klorat 28% dan 1 ml kalium klorat 0,5%.
2. Panaskan di atas hotplate sehingga volume larutan menjadi kurang dari 0,5
ml. Larutan ini diencerkan dengan air suling sehingga volume larutan
menjadi 100 ml.
3. Dari larutan terakhir ini dipipet 3 ml, kemudian ditambahkan 2 ml asam
arsenit 0,2 N ; lalu didiamkan selam 15 menit.
4. Ke dalam tiap larutan kemudian ditambahkan 1 ml larutan cerium (4+)
ammonium sulfat 0,1 M; dikocok kembali didiamkan selama 30 menit.
Absorpsi dilakukan pada panjang gelombang 420 ml.
Kurva standart dibuat dengan cara yang sama seperti di atas pada kadar yodium
0,01, 0,02, 0,03, 0,04 dan 0,05 ppm (terlampir). Larutan standart induk yang
berkadar 100 ppm idbuat dengan melarutkan 0,0168 g K103 dalam 100 ml air
suling. Karena kadar yodium dalam urine dinyatakan dalam mg 1 per g kreatinin
maka diukur pula kadar kreatinin urine dengan cara sebagai berikut :
Penentuan Kadar Kreatinin Urine
1. 0,1 ml urine yang telah diencerkan 100 kali ditambahkan 4 ml H2SO4
N dan 0,5 ml natrium tungstat.
29
2. Setealah itu dikocok dan didiamkan selama 15 menit lalu dipusing selama
10 menit.
3. Supernatan dipisahkan lalu ditambahkan 0,5 ml larutan campuran 1 ml
asam pikrat 10% dan 0,2 ml NaOH 10%.
4. Setelah didiamkan selam 15 menit, absorpsi larutan dibaca pada panjang
gelombang 520 nm.
Standart kreatinan dengan konsentrasi 1 mg/100 ml dikerjakan dengan cara
yang sama. Perhitungan kadar yodium per g kreatinin: jika diketahui konsentrasi
yodium A g/Iurine dan kadar kreatinin b g/I maka kadar yodium a/b g/g
kreatinin (Suharjo, 1990). Batasan dan klasifikasi pemeriksaan kadar yodium
dalam urine adalah jika suatu daerah dianggap endemis berat bial rata-rata
ekskresi yodium dalam urine lebih rendah dari 25 g yodium/gram kreatinin,
endemik sedang bila ekskresi yodium dalam urine 25-30 g yodium/gram
kreatinin. Anak sekolah dapat digunakan sebagai target penelitian karena
prevalensi GAKY pada anak sekolah umumnya menggambarkan prevalensi yang
ada dalam masyarakat (Supariasa, 2002).
Dalam buku karangan Ningtiyas (2010) biomarker yang biasanya digunakan
untuk mengukur status yodium adalah ekskresi yodium urine, ini mendekati
gambaran asupan yodium. Pengukuran yodium urin 24 jam lebih dipilih meskipun
WHO menganjurkan urin casual (urin sesaat).
Konsentrasi TSH dalam serum, whole blood atau cord blood biasa digunakan
di negara barat. T3 dan T4 dalam serum mahal, menjadi biomarker yang jarang
digunakan. Dimasa yang akan datang sangat dimungkinkan menggunakan
tyroglobulin dan darah kering untuk biomarker yodium pada anak-anak.
Ekskresi yodium urin merefleksikan konsumsi yodium harian karena hanya
sedikit yodium yag dikeluarkan melalui feses. Lebih dari 90% asupan yodium
dikeluarkan melalui urin (Nath et al, 1992 dalam Gibson, 2005). Dengan asumsi
nilai median dari urin 24 jam adalah 0,0009 L/h/kg dan rata-rata biofaibilitas
yodium dalam makanan adalah 92% maka intakae yodium harian dalam g bisa
dihitung dengan Intake yodium harian = (0,0009 x 24/0,92) x BB x IEU = 0,0235
x BB x IEU.
30
2.5. Pemeriksaan Zat Gizi Spesifik
2.5.1. Kurang Energi Protein
Analisis biokimia yang berkaitan dengan KEP yaitu menyangkut nilai
protein tertentu dalam darah atau hasil metabolit dari protein yang beredar dalam
darah dan yang dikeluarkan bersama urin. Jenis protein yang menggambarkan
status gizi seseorang antara lain Prealbumin, Serum protein dan serum Albumin.
Perubahan jumlah nutrisi protein dalam tubuh dapat dimonitor secara langsung
menggunakan pengukuran antropometri, misalnya area otot lengan atas sampai
tengah dimana menunjukkan perkiraandan perubahan rangka lengan sebagai
tempat jumlah protein yang paling banyak. Massa rangka lengan dapat
diperkirakan menggunakan bioelektrik impedance, komputerisasi tomografi,
penggambaran resonansi magnetis dan penyerapan dual energi sinar X.
Tabel. Nilai Prealbumin dalam kaitannya dengan Status Gizi
Status gizi Nilai prealbumin g/dl
Baik*) 23.8 +/-0.9
Gizi sedang*) 16.5 +/- 0.8
Gizi kurang*) 12.4 +/- 1.0
Gizi buruk*) 7.6 +/- 0.6
Marasmus**) 3.3 +/- 0.2
Marasmus-Kwashiorkor*) 3.2 +/- 0.4
Kwashiorkor**)
Keterangan :
*) Menurut klasifikasi Waterlow
**) Menurut klasifikasi Welcome
Tabel. Batasan dan Interpretasi Kadar Serum Protein dan Serum Albumin
Kriteria
No Senyawa & satuan Umur (tahun)
Kurang Margin Cukup
1 Serum Albumin (gr/100 < 1 <2.8 2.5+
ml) 15 <3.0 3.0+
6 16 <3.5 3.5+

31
16+ <2.8 2.8-3.4 3.5+
Wanita hamil <3.0 3.0-3.4 3.5+
2 Serum Protein (gr/100 ml) < 1 <5.0 5.0+
15 <5.5 5.5+
6 16 <6.0 6.0+
16+ 6.0 6.0-6.4 6.5+
Wanita hamil 5.5 5.5-5.9 6.0+

2.5.2. Kurang Vitamin A (KVA)


Indikator yang digunakan Batas Prevalensi
Plasma Vitamin A >= 10 g/dl >=5%

Liver Vitammin A >= 5 g/dl >=5%

Analisis vitamin A melalui sampel darah:


1. Serum retinol
Kadar serum retinol menggambarkan status vitamin A hanya ketika cadangan
vitamin A dalam hati kekurangan dalam tingkat berat (<0,07 mol/g hati) atau
berlebihan sekali (>1,05 mol/g hati). Serum retinol merupakan indikator yang
sering digunakan untuk penentuan tingkat KVA pada populasi karena banyak
laboratorium yang mampu menganalisisnya dan ini merupakan indikator
biokimia status vitamin A terbaik.
2. Serum Retinol Binding Protein (RBP)
RBP adalah protein transpor spesifik vitamin A, dinamakan holo RBP ketika
berikatan dengan retinol, sedangkan bila tidak ada ikatan dinamakan apo-RBP.
Bila cadangan hati menurun, yang timbul pada tingkat akhir defisiensi vitamin
A. Konsentrasi serum RBP dapat menggambarkan konsentrasi serum retinol
dan karena itu mungkin dapat digunakan untuk indikator status vitamin A.
Penentuan RBP lebih mudah dibandingkan dengan penentuan serum retinol.
a. Pertama karena RBP adalah protein, yang dapat dideteksi dengan
penentuan imunologi, yang lebih sederhana dan lebih murah dibandingkan
dengan analisis serum retinol HPLC. Penentuan RBP dapat menggunakan

32
prosedur radioimmunoassay (RIA) yang spesifik dan sensitive di mana
RBP berikatan dengan radioactively labeled antibodies. Alternatif lain,
menggunakan tes secara cepat yang baru yaitu Enzyme immunoassay
(EIA). Hasil uji menunjukkan RBP EIA berhubungan secara bermakna
dengan serum retinol yang dianalisis dengan HPLC.
b. Kedua penanganan serum lebih mudah karena RBP lebih stabil
dibandingkan dengan retinol, tidak sensitif terhadap cahaya dan kurang
sensitif terhadap temperatur, lebih stabil selama dalam kotak pendingin.
c. Ketiga, analisis RBP memerlukan amat sedikit serum 10-20 L darah vena
yang dapat diambil dari jari.
3. Serum retinyl ester
Pada orang yang sehat, kandungan retinyl ester kurang dari 5 persen dari total
vitamin A pada serum orang berpuasa. Pada kondisi kapasitas penyimpanan
vitamin A berlebih, misalnya setelah mengasupan vitamin A dalam jumlah
besar (Hypervitaminosis) atau pada penyakit hati, vitamin A dalam sirkulasi
darah berupa retinyl ester dan kemudian meningkatkan kadar retinyl ester dari
darah yang diperiksa. Batas untuk menggambarkan hypervitaminosis adalah
bila retinyl ester >10 persen dari total vitamin A. Untuk menentukan kadar
retinyl ester diperlukan darah saat berpuasa karena konsentrasi retinyl ester
naik setelah mendapat asupan vitamin A. Pengukuran konsentrasi retinyl ester
dalam serum yang paling baik adalah dengan fase normal dari HPLC, saat di
mana kadar rendah serum puasa dapat diukur bersamaan dengan kadar serum
retinol.
5. Serum karotenoid
Komponen utama dari serum karoten adalah -karoten (-carotene), likopen
(lycopene) dan beberapa karotenoid. Diketahui beberapa faktor non-gizi
berpengaruh pada konsentrasi serum karoten, faktor tersebut adalah umur, jenis
kelamin, asupan alkohol, status fisiologis, indeks massa tubuh dan musim.
Merokok juga mungkin mempengaruhi hubungan antara asupan -karoten dan
kadar serum -karoten.
6. Metode stable isotope dan cadangan total vitamin A
33
Prosedur isotop dilution hanyalah metode yang mengukur secara kuantitatif
cadangan vitamin A di dalam hati. Yang dilakukan adalah memberi secara oral
tetradeuterated vitamin A. Pemberian isotop memungkinkan untuk seimbang
dengan cadangan vitamin A di dalam tubuh, kemudian dilakukan pengambilan
darah dan rasio dari komponen deurated dan non-deuterated diukur dengan
spektrofotometri.
7. Relative dose response (RDR)
Konsentrasi vitamin A dalam hati merupakan indikator terbaik untuk status
vitamin A tubuh. Namun, untuk menentukan vitamin A dengan biopsi langsung
pada orang sehat adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Metode RDR dapat
digunakan untuk menduga cadangan vitamin A dalam hati karena itu dapat
mengidentifikasi seseorang dengan defisiensi vitamin A marginal. Tes ini
didasarkan pada observasi bahwa selama terjadi kekurangan vitamin A,
cadangan dalam hati menurun, Relative Dose Response (RDR) test,
dikembangkan oleh Underwood et al, telah dibuktikan sebagai indikator yang
baik untuk menentukan status vitamin A. Setelah diberi vitamin A yang
dilarutkan dalam minyak, konsentrasi dari retinol plasma (R) meningkat setelah
lima jam pada tingkat yang paling tinggi pada anak yang mempunyai status
vitamin A kurang atau marginal dibandingkan dengan mereka yang status
vitamin A nya cukup. Prosedur ini telah divalidasi dengan menghitung nilai
persentase RDR pada cadangan vitamin A dalam hati yang ditentukan dengan
biopsi. Kelemahan utama dari penggunaan prosedur ini dalam penggunaan di
lapangan adalah memerlukan pengambilan darah dua kali, dengan interval
waktu 5 jam.
8. MRDR (Modified Relative Dose Response)
Penentuan MRDR didasarkan pada prinsip yang benar-benar sama dengan
RDR. Prinsip MRDR: selama terjadi penurunan vitamin A apo-RBP
berakumulasi dalam hati. Dengan pemberian test dose, 3,4 didehydroretinyl
acetate (vitamin A2) akan muncul setelah 4-6 jam dalam serum terikat pada
RBP sebagai 3,4 didehydroretinol (DR). Menurut Tanumihardjo 1999, MRDR
test akan menghasilkan perbedaan yang lebih jelas dibandingkan dengan
34
konsentrasi serum retinol saja dan hasil secara statistik lebih kuat dan lebih
baik dalam menjelaskan penjelasan status vitamin A pada populasi.
MRDR tes hanya memerlukan satu pengambilan darah Sebagai ganti dari
pemberian retinyl acetate, digunakan pemberian sejumlah kecil 3,4-
didehydroretinyl acetate. Setelah tiga hingga delapan jam setelah pemberian
3,4-didehydroretinyl acetate sebagai test dose, rasio dari didehydroretinol
(DR) pada Retinol (R) dalam plasma secara proporsional kebalikannya
terhadap cadangan vitamin A dalam hati yang berada pada batas kekurangan
dan marginal (kurang dari 0.07 micromol/g hati). MRDR rasio memberi
gambaran status vitamin lebih baik dibandingkan dengan serum retinol. Hasil
tes dari RDR dan MRDR menunjukkan indikasi batas marginal atau penurunan
cadangan vitamin A dalam hati sama dengan yang ditunjukkan oleh
konsentrasi serum retinol.
2.5.3. Anemia Gizi Besi (AGB)
Anemia gizi adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam
darah kurang dari normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis
kelamin. Anemia gizi besi merupakan masalah gizi utama bagi semua kelompok
umur dengan prevalensi anemia paling tinggi pada ibu hamil (70%) dan pekerja
berpenghasilan rendah (40%). Prevalensi pada anak sekolah sekitar 30% dan pada
anak balita sekitar 40%.
Ada beberapa indikator laboratorium untuk menentukan status besi, yaitu :
a. Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan
prevalensi anemia. Garby et al. Menyatakan bahwa penentuan status anemia
yang hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga perlu
ditambah dengan pemeriksaan yang lain. Hb merupakan senyawa pembawa
oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan
jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa
oksigen pada darah. Kandungan hemoglobin yang rendah dengan demikian
mengindikasikan anemia. Bergantung pada metode yang digunakan, nilai
hemoglobin menjadi akurat sampai 2-3 %. Metode ini dikenal dengan metode
35
sahli. Metode pemeriksaan Hb adalah Sahli dan cyanmetHb merupakan standar
penelitian. Simpanan besi terdapat di sumsum tulang, pada saat feritin menurun
maka serum besi menurun.

Tabel. Batasan Hemoglobin Darah (Sumber : WHO, 1975

Kelompok Batas nilai Hb

Bayi / balita 11 g/dl

Usia sekolah 12 g/dl

Ibu hamil 11 g/dl

Pria dewasa 13 g/dl

Wanita dewasa 12 /dl

Tabel. Batasan Anemia (Menurut Depkes)

Kelompok Batas Normal


Anak balita 11 gram %

Anak Usia sekolah 12 gram %

Wanita dewasa 12 gram %

Laki-laki dewasa 13 gram %

Ibu hamil 11 gram %

Ibu menyusui > 3 bulan 12 gram %

36
b. Hematokrit (Hct)
Hematokrit adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan cara
memutarnya didalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen
(%). Setelah sentrifugasi, tinggi kolom sel merah diukur dang dibandingkan
dengan tinggi darah penuh yang asli. Persentase massa sel merah pada volume
darah yang asli merupakan hematokrit. Nilai normal untuk hematokrit adalah
40%- 50% untuk pria dan 37% - 47% untuk wanita. HCT biasanya hampir 3
kali nilai hemoglobin. Kesalahan rata-rata pada prosedur HCT yaitu kira-kira
1% -2%. Nilai hematokrit yang kuang dari normal terdapat pada anemia.
c. Besi Serum (Fe)
Defisiensi besi terjadi pada tahap awal, sebelum menurunnya Hb.
d. Feritin Serum (Sf)
Untuk menilai status besi dalam hati perlu mengukur kadar ferritin Menurut
Cook (dalam Mahdin Anwar Husaini, 1989) banyaknya feritin yang
dikeluarkan darah secara proporsional menggambarkan banyaknya simpanan
zat besi di dalam hati. Apabila didapatkan serum ferritin sebesar 30 mg/dl RBC
berarti didalam hati terdapat 30x10 mg=300 mg ferritin. Untuk menentukan
kadar ferritin dalam darah dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu
dengan cara Immunoradiometric assay (IRMA), Radio Immuno Assay (RIA)
dan Enzyme-Linked Immuno Assays (ELISA). Dalam keadaan normal rata-
rata SF untuk laki-laki dewasa adalah 90g/l dan wanita dewasa adalah 30g/l.
Perbedaan kadar serum ferritin ini menggambarkan perbedaan banyaknya zat
besi pada tubuh dengan zat besi pada laki-laki tiga kali lebih banyak dari
wanita. Apabila seseorang mempunyai kada SF kurang dari 12, orang yang
bersangkutan dinyatakan sebagai kurang besi. Banyak orang yang sebenarnya
menderita kurang besi, tetapi tidak dapat terdeteksi dengan cara ferritin karena
kadar ferritin yang dikeluarkan dari hati menaik dalam darah apabila yang
bersangkutan menderita penyakit kronis, infeksi dan gangguan hati.
e. Transferrin Saturation (TS)

37
Penentuan kadar zat besi dalam serum merupakan satu cara menentukkan
status besi. Salah satu indikator lainnya adalah Total Iron Binding Capacity
(TIBC) dalam serum. Kadar TIBC ini meningkat pada penderita anemia karena
kadar besi di dalam serum menurun dan TIBC meningkat pada keadaan
defisensi besi maka rasio dari keduanya (transferri saturation) lebih sensitif.
Apabila TS > 16 %, pembentukan sel-sel darah merah dalam sumsum tulang
berkurang dan keadaan ini disebut defisiensi besi untuk eritropoesis.
f. Free Erytrocytes Protophophyrin (FEP)
Apabila penyediaan zat besi tidak cukup banyak untuk pembentukkan sel-sel
darah merah disumsum tulang maka sirkulasi FEP di darah meningkat walau
belum tampak anemia.Dalam keadaan normal FEP berkisar 3550/dl RBC
tetapi apabila kadar FEP dalam darah lebih besar dari 100g/dl RBC
menunjukkan individu ini memnderita kekurangan besi.
g. Unsaturated Iron binding capacity serum (UIBC)
h. Morfologi darah
Pemeriksaan morfologi darah ini ini dilakukan untuk mengetahui jenis
anemianya.
2.5.4. GAKI
Yodium diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan serta fungsi otak.
Meskipun kebutuhan yodium sangat sedikit (0.15 g) kita memerlukan yodium
secara teratur setiap hari. GAKY adalah rangkaian kekurangan yodium pada
tumbuh kembang manusia. Spektrum seluruhnya terdiri dari gondok dalam
berbagai stadium, kretin endemik yang ditandai terutama oleh gangguan mental,
gangguan pendengaran, gangguan pertumbuhan pada anak dan orang dewasa,
sering dengan kadar hormon rendah, angka lahir dan kematian bayi
meningkat. Kekurangan yodium akan mengalami gangguan fisik antara lain
gondok, badan kerdil, gangguan motorik seperti kesulitan untuk berdiri atau
berjalan normal, bisu,tuli atau mata juling. Sedangkan gangguan mental termasuk
berkurangnya kecerdasan. Untuk mengetahui total goitre rate (pembesaran
kelenjar gondok) dimasyarakat bisa dilakukan dengan palpasi atau dengan
Disamping itu ada cara lain yaitu dengan melakukan pemeriksaan kadar Tyroid

38
Stimulating Hormone (TSH) dalam darah dan mengukur ekskresi yodium dalam
urine. Metode penentuan kadar yodium dalam urin dengan menggunakan metode
Cerium.

Prosedur penentuan kadar yodium dengan metode Cerium adalah sebagai


berikut :
a) 10 ml urin didestruksi (pengabuan basah) dengan penambahan 25 ml asam
klorat 28% dan 1 ml kalium kromat 0.5 %.
b) Panaskan diatas hotplate sehingga volume larutan menjadi kurang dari 0.5
ml. Larutan ini diencerkan dengan air suling sehingga volume larutan
menjadi 100 ml.
c) Dari larutan terakhir ini dipipet 3 ml, kemudian ditambahkan 2 ml asam
arsenit 0.2 N; lalu didiamkan selama 15 menit.
d) Ke dalam tiap larutan kemudian ditambahhkan 1 ml larutan cerium (4+)
ammonium sulfat 0.1 M; dikocok kembali didiamkan selama 30 menit.
Absorpsi dilakukan pada panjang gelombang 420 nm.
Kurva standar dibuat dengan cara yang sama seperti di atas pada kadar
yodium 0.01; 0.02; 0.03; 0.04; dan 0.05 ppm. Larutan standar induk yang
berkadar 100 ppm ddibuat dengan melarutkan 0.0168 g KIO3 dalam 100 ml air
suling. Karena kadar yodium dalam urin dinyatakan dalam mg 1 per g kreatinin,
maka diukur pula kadar kreatinin urin dengan cara sebagai berikut :
a. 0.1 ml urin yang telah diencerkan 100 kali ditambahkan 4 ml H2SO4 1/12
N dan 0.5 ml natrium tungstat.
b. Setelah itu dikocok dan didiamkan selama 15 menit lalu dipusing selama
10 menit.
c. Supernatan dipisahkan lalu ditambahkan 0.5 ml larutan campuran 1 ml
asam pikrat 10% dan 0.2 ml NaOH 10%.
d. Setelah didiamkan selama 15 menit, absorpsi larutan dibaca pada panjang
gelombang 520 nm.
Standar kreatinin dengan konsentrasi 1 mg dikerjakan dengan cara yang
sama. Perhitungan kadar yodium per g kreatinin : jika diketahui konsentrasi

39
yodium A g/l urin dan kadar kreatinin B g/l. maka kadar yodium A/B g/g
kreatinin.
Batasan dan klasifikasi pemeriksaan kadar yodium dalam urin : Suatu
daerah dianggap endemis berat bila rata-rata ekskresi yodium dalam urin
lebih rendah dari 25 g yodium/gram kreatinin., endemik sedang bila ekskresi
yodium dalam urin 25-50 g iodium/gram kreatinin. Anak sekolah dapat
digunakan sebagai target penelitian karena prevalensi GAKI pada anak sekolah
umumnya menggambarkan prevalensi yang ada dalam masyarakat.
Defisiensi yodium merupakan penyebab dominan gondok endemik yang
diklasifikasikan menurut ekskresi yodium dalam urin (g/gr kreatinin), antara lain
:
a. Tahap 1 : gondok endemik dengan rata-rata >50 g/gram kreatinin dalam
urin. Pada keadaan ini suplai hormon tyroid cukup untuk perkembangan
fisik dan mental yang normal.
b. Tahap 2 : gondok endemik dengan rata-rata 25-50 g/gram kreatinin
dalam urin. Pada kondisi ini sekresi hormon tyroid boleh jadi tidak cukup,
sehingga menanggung resiko hypotyroidisme, tettapi tidak sampai ke
kreatinisme.
c. Tahap 3 : gondok endemik dengan rata-rata ekskresi yodium dalam urin
kurang dari 25 mg/gram kreatinin. Pada kondisi ini populasi memiliki
resiko menderita kreatinisme.

2.6. Keunggulan dan Kelemahan Biokimia

2.6.1. Keunggulan
Pemeriksaan bikomia bila dibandingkan dengan pemeriksaan lain dalam
penentuan status gizi memiliki keunggulan-keunggulan antara lain :
1. Dapat mendeteksi defisiensi zat gizi lebih dini.
2. Hasil dari pemeriksaan biokimia lebih objektif, hal ini karena
menggunakan peralatan yang selalu ditera dan pada pelaksanaannnya
dilakukan leh tenaga ahli.

40
3. Dapat menunjang hasil pemeriksaan metode lain dalam penilaian status
gizi.

2.6.2. Kelemahan
1. Pemeriksaan biokimia hanya bisa dilakukan setelah timbulnya gangguan
metabolism.
2. Membutuhkan biaya yang cukup mahal.
3. Dalam melakukan pemeriksaan diperlukan tenaga yang ahli.
4. Kurang praktis dilakukan dilapangan, hal ini karena pada umumnya
pemeriksaan laboratorium memerlukan peralatan yang tidak mudah
dibawa kemana-mana
5. Pada pemeriksaan tertentu specimen sulit untuk diperoleh, misalnya
penderita tidak bersedia diambil darahnya.
6. Membutuhkan peralatan dan bahan yang lebih banyak dibandingkan
dengan pemeriksaan lain.
7. Belum ada keseragaman dalam memilih reference (nilai normal). Pada
beberapa reference nilai normal tidak selalu dikelompokkan menurut
kelompok umur yang lebih rinci.
8. Dalam beberapa penentuan pemeriksaan laboratorium memerlukan
peralatan laboratorium yang hanya terdapat dilaboratorium pusat, sehingga
didaerah tidak dapat dilakukan

41
BAB 3 PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dalam menentukan Penentuan status gizi secara biokimia/laboratorium terdiri
dari pemeriksaan status biokimia dalam tubuh dan tes fungsional/ fisiologis.
Banyak sekali macam-macam penentuan status gizi baik secara bikomia mau
fungsional. Pada pemeriksaan status gizi secara biokimia lebih akurat dan objektif
sehingga dapat menedeteksi masalah gizi sejak dini namun pada pemeriksaan
status gizi secara biokimia memerlukan banyak biaya. Dari berbagai macam
penentuan status gizi tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk
mengetahui tingkatan gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan status
biokimia pada jaringan dan cairan tubuh dan tes fungsional agar terhindar dari
beberapa masalah status gizi.

3.2. Saran
Rutin secara berkala melakukan penentuan status gizi khususnya pada balita
agar terhindar dari masalah gizi seperti KEPP, Anemia, gaky, dan penyakit
masalah gizi lainya. Dan tentunta diperikasa kepada pada ahlinya agar terhindar
dari kesalahan perhitungan penentuan status gizi.

42
DAFTAR PUSTAKA

Ningtyas , Farida Wahyu . 2010 . Penentuan Status Gizi Secara Langsung. Jember
: Jember University Press
Supriasa, I Dewa Nyoman,.2012.Penilaian Status Gizi.Jakarta:ECG
https://leilyairwanti.wordpress.com/2015/06/02/penentuan-status-gizi-biokimia-
yodium/

https://hasanah619.wordpress.com/2009/12/26/penilaian-status-gizi-secara-
biokimia/

43