Anda di halaman 1dari 3

Dalil Naqli & Dalil 'Aqli

1. Dalil dan Kebenaran ( al -Haq )


Kepercayaan (aqidah), harus berdasarkan dalil-dalil atau argumentasi yang dapat diterima oleh
akal, atau oleh rasio manusia sebatas tingkatantingkatan fikiran mereka . Ini bukan berarti
bahwa setiap mukmin harus tahu atau harus dapat mengemukakan argumentasi kebenaran dari
seluruh tingkatan atau aspek kepercayaan, karena banyak sekali argumentasi yang baru dapat
diterima oleh mukmin yang penalarannya telah memadai, sebaliknya banyak juga argumentasi
sederhana dari suatu kebenaran dalam kepercayaan yang telah mencukupi bagi akal orang yang
mau mempercayainya. Argumentasiargumentasi itu dapat juga memberantas dan mengikis
segala keragu-raguan atau kepercayaan yang lemah, sehingga muncul keteguhan, keyakinan dan
kepercayaan yang kuat, tidak mudah goyah atau mendangkal. Sementara itu , tujuan utama dari
dalil-dalil adalah, membuktikan kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan ,
bukan hanya sekedar tahu atau dihafal.

Namun demikian , bila akal seorang mukmin belum dapat mencapai kebenaran (al-Haq), maka
perlu diketahui bahwa; sebenarnya keterbatasan akallah dalam mempergunakan dalil-dalil itu,
yang masih terbatas atau masih salah jalan, bukan karena kebenaran itu yang tidak ada.
Sedangkan Setiap mukmin, wajib berpegang kepada kebenaran yang datang dari wahyu di mana
dan kapan saja.

2. MacamMacam Dalil
Dalil adalah, petunjuk atau tanda bukti dari suatu kebenaran , karena untuk menentukan bahwa,
sesuatu itu benar , dapat dipercayai dan diyakini perlu ada bukti yang sah dan akurat, sehingga
kebenaran dan keyakinan itu dapat ditegakkan, sekaligus memberantas keragu-raguan dan rasa
was-was di hati.
Oleh karena akal fikiran manusia, tidak sama kemampuan penalarannya , maka dalil-dalil itu pun
disusun secara bertingkat, sesuai dengan kemampuan akal fikiran dalam mencerna dan
menerimanya , sehingga tujuan dari dalil- dalil itu cepat tercapai dengan baik dan sempurna .
Dalil-dalil yang dimaksud dalam ilmu Tauhid ada dua macam, yaitu :
1. Dalil Naqli (bukti yang berasal dari salinan) Al-Quran dan Al-Hadis
2. dalil aqli ( bukti yang berasal dari akal )
Adapun cara mempergunakan kedua macam dalil ini adalah: Dalil naqli dijadikan sebagai pelita ,
obor atau matahari yang menyinari . Sedangkan dalil aqli, sebagai mata kepala yang melihat,
menimbang dan memilih jalan yang telah disinari matahari itu. Akal ( rasio ) yang berjalan tanpa
kompas, tentu akan tersesat atau keliru, sebab tidak jelas arah yang hendak dituju atau yang akan
dilalui, atau akan menjadi bingung dalam mencari kebenaran. Bahkan semakin keliru, jika tidak
mau bertanya kepada ahlinya. Oleh karena itu , dalil naqli berada di depan dan dalil aqli
menimbangnimbang, apakah petunjuk dari dalil naqli dapat diterima atau ditolak.

Apabila terdapat perbedaan antara kedua macam dalil ini, atau tidak sejalan dan tidak saling
mendukung, maka perlu peninjauan kembali kepada dua hal, yaitu :
1. Sampai dimanakah kekuatan akal dan petunjuknya dapat dipakai ?
?2. Sampai dimanakah kekuatan pemahaman akal terhadap dalil-dalil naqli itu
Setelah diadakan peninjauan kembali terhadap hal-hal tersebut, maka dapat diyakini bahwa,
kedua dalil tersebut tidak pernah bertentangan. Para ulama dan filosof sepakat, agar berpegang
teguh kepada dalil-dalil yang kebenarannya tetap dan absolut serta meninggalkan dalil-dalil akal
yang kebenarannya masih relative. sebab petunjuk akal itu belum sempurna, tetapi menuju
kepada kesempurnaan. Yang sempurna adalah, kebenaran wahyu sebagai petunjuk dari sang
Pencipta.
Imam berkata,: bahwa banyak diantara manusia yang tergila gilaZarkasyi taassub atau fanatik
percaya,sebelum mempergunakan akal fikiran. Ada juga yang tergila-gila fanatik tidak percaya
sebelum mengetahui dan memikirkan alasan, dalil ataupun bukti-buktinya . Kedua cara ini
tercela, khususnya dalam hukum kepercayaan. Sebab akan mematikan akal fikiran dan tidak
akan membawa manusia kepada kebenaran dan kesempurnaan.

Orang yang fanatik tidak percaya, walaupun ada bukti yang jelas ( padahal jika ia
memikirkannya pasti masuk akal ), tetap saja tidak percaya . Bahkan bukti-bukti itu diselidiki
lagi, guna mencari sesuatu yang tersembunyi di balik dalildalil yang telah jelas itu. Agama
Islam sangat mencela kedua macam Oleh karena itu, diperlukan akal sehat dan hati yangfanatik
itu. tulus, serta tidak dipengaruhi oleh otoritas orang lain atau doktrin yang menyebabkan
kefanatikan atau taqlid buta, yang dipegangi terus menerus.
Dalam sejarah ilmu kalam atau ilmu Tauhid , penggunaan dalil naqli dan dalil aqli, sebelum
munculnya faham Asyari sangat kontradiktif. Artinya kaum salaf dan qaramatiyah, sangat
mengutamakan dalil naqli dan meremehkan dalil aqli, sedangkan kaum Mutazilah yang
dipelopori oleh Wasil bin Atha, sangat mengutamakan dalil aqli dari pada dalil naqli,
sebagaimana yang ditulis oleh Hasbi as-Siddiqi:Firqoh-firqoh syariat sebelum Asyari ( w 324
H ) adakala berpegang kepada dalil-dalil aqli saja, dengan mengabaikan dalil-dalil naqli , maka
imam Asyari berusaha mengumpulkan kedua dalil dengan secara paralel / saling
menguatkan.itu,
Imam al-Ghazali menyatakan bahwa:akal (dalil akal) memerlukan dalil naqli dan dalil naqli
memerlukan akal?. Bertaqlid atau menerima kepada pendapat orang tanpa mempergunakan akal
sama sekali adalah, suatu kebodohan , mencukupkan akal saja tanpa memerlukan sinar wahyu
Ilahi dan sunnah nabi adalah, suatu tipuan belaka. Maka jauhilah model seperti ini dan hendaklah
mempergunakan atau menggabungkan kedua dasar pokok ini (naqli dan aqli) , karena
sesungguhnya, ilmu logika dan filsafat seperti makanan dan ilmu-ilmu syara itu adalah, obat
.
Dalam mentauhidkan Allah, ternyata para ulama mempunyai manhaj (sistem), sebagai respon
dari petunjuk Allah Taala, tentang mempergunakan akal, yang sangat banyak disinggung oleh
Al-Qur'an, antara lain :
A. Hanya memakai dalil naqli, mengabaikan petunjuk akal atau dalil aqli, mereka ini sering
disebut dengan faham Tekstual, yang umumnya adalah, Manhaj Salaf as-Shalih
B. Ada ulama atau pakar dalam bertauhid hanya mempergunakan dalil aqli, dengan mengabaikan
dalil naqli yang tidak qathi, atau dalil yang sepintas lalu berbeda dengan akal. Mereka ini sering
disebut sebagai kaum kontekstual dari aliran atau manhaj kaum Mutazilah dan filosof.
C. Golongan yang menggabungkan dalil naqli dengan dalil aqli, yang harus sejalan, kedua-
duanya itu merupakan Hidayatullah yang saling mendukung dan saling mempunyai porsi yang
tidak boleh berseberangan, terutama tentang ayat-ayat mutasyabihat, atau ayat yang belum qathi
dalalahnya. Mereka ini adalah, Manhaj Kaum Khalaf as-Shalih, sebagai lanjutan Salaf as-Shalih
atau sering disebut dengan kaum sunni atau Ahlissunnah. Selanjutnya ada orang berkata ;
Faham Salaf lebih aslam ( selamat )
Faham Khalaf lebih ahkam ( bijaksana)
Mudah-mudahan, kedua-dua manhaj ini diridhoi Allah Taala

Sumber Bacaan
1. Dalil naqli adalah, tanda bukti atau petunjuk dari teks ayat Al-Qur'an , yang tertera dalam
mushaf al Quran atau Hadis mutawatir , yang tertera didalam kitab -kitab hadis , lalu diambil
dan disalin dari tulisan yang telah baku. Frekwensi kebenarannya 100 %. Sedangkan dalil aqli
adalah, petunjuk dan pertimbangan akal fikiran yang sehat dan obyektif , tidak dipengaruhi oleh
keinginan , ambisi atau kebencian dari emosi. Tegasnya dalil aqli adalah, penerimaan akal
secara murni dan bebas , kebenarannya relatif.
2. Zarkasyi, Ushuluddin ( ponorogo : Tri Murti Pres ) 1994
3. Imam Zarkasyi ialah, salah satu pendiri Pondok Modern Gontor dan Pengarang buku
Ushuluddin

4. Hasbi as-Shiddiqi Op.cit,,


5. Zuhdi jarullah al-Mutazilah ( Beirut, darut-fikr),