Anda di halaman 1dari 27

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gas adalah salah satu komponen penting dalam kehidupan sehari-hari,


bahkan proses pernapasan juga melibatkan gas. Dalam kajian fisika gas dikaji
lebih jauh dalam ilmu termodinamika, seperti peristiwa meletusnya balon
terkait dengan hubungan tekanan, suhu, dan volume gas. Teori kinetik gas
tidak mengutamakan kelakuan sebuah partikel, tetapi meninjau sifat zat
secara keseluruhan sebagai hasil rata-rata kelakuan partikel tersebut.

Pada kehidupan sehari-hari dapat kita ambil dari penekanan pada bola
pingpong plastik. Jika bola ditekan maka akan berubah bentuk, namun saat
dipanaskan menggunakan air maka akan kembali seperti semula. Lalu saat
balon udara panas dapat mengudara setelah api yang digunakan sudah panas.
Untuk membuktikan kebenaran peristiwa tersebut, maka dilakukan percobaan
mengenai Teori Kinetik Gas.

B. Tujuan

Tujuan dilakukannya percobaan adalah mengetahui persamaan gas ideal yang


dipengaruhi oleh jumlah partikel dan hubungan antara jumlah partikel gas
dengan volume.
2

II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

Hasil pengamatan dari percobaan mengenai teori kinetik gas diperoleh tabel
sebagai berikut :

N Banyaknya peluru Tegangan Listrik Panjang Kolom

o (n) butir (V) Volt (L) cm


1 10 3 8
2 15 3 9
3 10 6 16
4 15 6 18
Tabel 1. Hasil Pengamatan

Alat dan bahan uang digunakan pada percobaan adalah model teori kinetik
gas 1 set, kabel penghubung 2 buah, dan catu daya 1 set. Diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :

1. Gerak partikel-partikel gas


Partikel-partikel gas bergerak ke seluruh arah, ke seluruh ruangan,
mengikuti ruangnya.
2. Factor-faktor yang menentukan kecepatan partikel gas
Temperature, tekanan dan energi kinetik
3. Tekanan yang ditimbulkan oleh partikel-partikel gas
Disebabkan oleh tumbukan partikel-patikel gas pada dinding wadahnya
4. Energy kinetic partikel gas
Berhubungan dengan tekanan yang diberikan, semakin besar tekanan
yang diberikan, semakin besar pula energi kinetiknya
(Luthfiyatul, 2014)

B. Dasar Teori
3

Pengertian teori kinetik adalah teori yang menjelaskan perilaku sistem-sistem


fisis dengan menganggap bahwa sejumlah besar molekul yang bergerak
sangat cepat. Teori kinetik gas tidak mengutamakan kelakuan sebuah partikel,
tetapi meninjau sifat zat secara keseluruhan berbagai hasil rata-rata kelakuan
partikel tersebut. Teori kinetik gas menjelaskan sifat-sifat makroskopik gas,
seperti tekanan, suhu, atau volume, dengan memperhatikan komposisi
molekular mereka dan gerakannya. Intinya, teori ini menyatakan bahwa
tekanan tidak disebabkan oleh gerakan vibrasi di antara molekul-molekul,
seperti yang diduga Isaac Newton, melainkan tekanan disebabkan oleh
tumbukan antarmolekul yang bergerak pada kecepatan yang berbeda-beda.

Teori Kinetik dikenal pula sebagai Teori Kinetik-Molekular atau


Teori Tumbukan atau Teori Kinetik pada Gas. Teori kinetika gas
membahas sifat-sifat gas yang berhubungan dengan gerakan
translasi dari atom dan molekul dalam bentuk gas, serta
menguji bagaimana sifat-sifat gas tersebut dapat dibahas
berdasarkan pada gerakan translasi yang bebas dan kontinyu
dari komponen-komponennya. Untuk membahas sifat-sifat
gas secara mendalam, maka dalam teori kinetika gas
digunakan pendekatan gas ideal berdasarkan atas tiga pengandaian:
1. Gas terdiri daripada molekul-molekul yang bergerak secara acak dan
tanpa henti.
2. Ukuran molekul-molekul dianggap terlalu kecil sehingga boleh
diabaikan, garis pusatnya lebih kecil daripada jarak purata yang
dilaluinya antara perlanggaran.
3. Molekul-molekul gas tidak berinteraksi antara satu sama lain.
Perlanggaran sesama sendiri dan dengan dinding bekas adalah kenyal
iaitu jumlah tenaga kinetik molekulnya sama sebelum dan sesudah
perlanggaran.

a. Sifat gas umum

1. Gas mudah berubah bentuk dan volumenya.


4

2. Gas dapat digolongkan sebagai fluida, hanya kerapatannya jauh lebih


kecil.

b. Sifat gas ideal

1. Gas terdiri atas partikel-partikel dalam jumlah yang besar sekali,


yang senantiasa bergerak dengan arah sembarang dan tersebar
merata dalam ruang yang kecil.

2. Jarak antara partikel gas jauh lebih besar daripada ukuran partikel,
sehingga ukuran partikel gas dapat diabaikan.

3. Tumbukan antara partikel-partikel gas dan antara partikel dengan


dinding tempatnya adalah elastis sempurna.

4. Hukum-hukum Newton tentang gerak berlaku.

Gas terdiri atas molekul molekul yang bergerak menurut jalan-jalan yang
lurus ke segala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Molekul-
molekul gas ini selalu bertumbukan dengan molekul-molekul yang lain
atau dengan dinding bejana. Tumbukan terhadap dinding bejana ini yang
menyebabkan adanya tekanan. Volume dari molekul molekul gas sangat
kecil bila dibandingkan dengan volume yang ditempati oleh gas tersebut,
sehingga sebenarnya banyak ruang yang kosong antara molekul
molekulnya. Hal ini yang menyebabkan gas mempuyai rapat yang lebih
kecil dari pada cairan atau zat padat. Hal ini juga yang menyebabkan gas
bersifat kompresibel atau mudah ditekan karena molekul molekul gas
selalu bergerak ke segala arah, maka gas yang satu mudah bercampur
dengan gas yang lain (diffusi), asal keduanya tidak bereaksi. Misalnya N2
dan O2 ;CO2 dan H2; dan sebagainya.

c. Persamaan gas turunan dari teori kinetik

Persamaan gas dapat dijabarkan menyatakan hubungan antara P,V,T dan n


dari gas. Misalnya n molekul gas , yang masing-masing mempunyai
massa m terdapat dalam kubus dengan rusuk I. Pada temperatur tertentu,
5

kecepatan molekul molekul gas sangat berbeda beda, tetapi kecepatan


rata-rata C pada temperatur tersebut, tetap untuk tiap gas. C ini nanti
disebut kecepatan akar rata-rata kuadrat .

d. Penurunan persamaan umum gas ideal

Misalkan kita memiliki sejumlah tertentu gas dalam dalam suatu tangki,
kita boleh mengubah suhu mutlak T atau volume gas .kita temukan
bahwa untuk apa saja,tekanannya P berhubungan dengan suhu mutlak T
dan volum V yang dapat dinyatakan dengan suatu persamaan tertentu, gas
yang memenuhi persamaan ini disebut gas ideal, dan persamaannya
tersebut persamaan gas ideal.

Perhatikan sejenis gas ideal yang terdapat dalam suatu bejana silider.
volum gas ideal ini dapat diubah dengan menggerakkan pisto ke atas dan
ke bawah. Anggap bahwa bejana tidak bocor sehingga masa atau banyak
mol gas itu tetap. Persamaan gas ideal kita peroleh dengan dua cara
berikut.

Cara pertama, suhu gas dijaga tetap dan volum di ubah-ubah dengan
menggerakkan piston, misalnya tekanan gas mula-mula P0 dan volum gas
mula-mula V0. Jika pisto digerakkan ke bawah hingga volm gas berkurang
menjadi V0, ternyata tekanan gas bertambah menjadi 2p 0. Jika piston terus
digerakkan ke bawah sehingga volume gas berkurang menjadi V0, ternyata
tekanan gas bertambah menjadi 4p0. Hasil inidapat disimpulkan oleh
peryataan berikut:

Jika suhu gas yang berada dalam bejana tertutup (tidak bocor) dijaga
tetap, maka tekanan gas berbanding terbalik dengan volumnya.

Secara matematis, pernyataan diatas dinyatakan:


P~1v
pV= tetap
p1V1= p2V2

Persamaan gas ideal dapat juga ditulis


(mengingat n = N/NA)
6

sering dijumpai di fisika RNA


sebut saja sebagai konstanta Boltzmann: k=RNA
Secara matematis sebagai berikut :

k=RNA=8,3141036,0221026=1,38110-23 molekul-
1 K-1

Sehingga dalam konstanta Boltzmann:


PV = NkT

kalau kita bandingkan dengan hasil dari teori kinetika gas


PV=13Nmv2
VkT=13Nmv2
V2=3kTm

teori ini secara tidak sengaja telah memberikan interpretasi molekuler


tentang konsep suhu mutlak yang ternyata berbanding lurus dengan
kecepatan kuadrat rata-rata.
Jadi energi kinetik rata-rata molekul

Ek=32 NkT

e. Jenis-jenis gas

berikut ini jenis - jenis gas


1. Gas Monotomik
Molekul-molekul yang hanya mempunyai gerak translasi (tidak ada
struktur dakhil didalam teori kinetik),sehingga U32 nRT.

2. Gas Diatomik
7

Setiap molekul seperti sebuah bentuk dumbel (dumbbell shape) (dua


bola yang disambung oleh sebuah tongjat tegar).mplekul seperti itu
dapat berotasi terhadap salah satu dari tiga sumbu yang paling tegak
lurus terhadap satu sama lain.akan tetapi,inarsia rotasi terhadap sebuah
sumbu sepasang tongkat tegar tersebut seharusnya dapat diabaikan
dibandingkan kepada inersia rotasi terhadap sumbu-sumbu yang tegak
lurus pada tongkat,sehingga tenaga rotasi seharusnya hanya terdiri dari
dua suku,seperti 12Iy2 dan 12Iz2. Setiap derajat kebabasan rotasi
diharuskan oleh ekipartisi untuk mengkontribusi tenaga yang sama
seperti setiap derajat translasi, sehingga untuk suatu gas diatomic yang
mempunyai gerak rotasi dan translasi, maka:
U =( 3n12 RT) + 2n(12RT)=52Nrt
atau Cv =dUn dt = 52R= 5 Cal/mol.k
dan Cp = Cp + R =12R,
atau Y = CpCv = 75 = 1,40

3. Gas poliatomik
Setiap molekul mempunyai tiga atau lebih bola (atom) yang disambung
bersama-sama oleh tongkat-tongkat didalam model kita, sehingga
molekul tersebut mampu berotasi terhadap salah satu dari tiga sumbu
yang saling tegak lurus , dengan tenaga yang cukup besar. Maka untuk
suatu gas poliatomik yang mempunyai gerak rotasi dan gerak translasi,
maka:
U = 3n(12RT) + 3n(13RT) = 3Nrt,
atau Cv = dUn dT = 3R = 6 cal/mol.K,
dan Cp = 4R,
atau y = CpCp = 1,33
(Sukri, 2013)

Pada buku kelas XI telah dijelaskan contoh teori kinetik gas. Ketika air
dididihkan di dalam teko, kenaikan suhu menghasilkan uap yang berhembus
8

dari celah atas pada tekanan yang tinggi. Uap air di udara dapat mengembun
menjadi butiran cairan di sisi gelas berisi air es, jika gelas baru keluar dari
freezer, butiran es akan terbentuk di sisinya ketika nap air berubah menjadi
padat.

Semua contoh di atas tersebut menunjukkan hubungan antara sifat skala-


besar atau makroskopik dari bahan seperti tekanan, volume, suhu, dan
massa bahan. Tetapi kita juga dapat mendeskripsikan suatu bahan
menggunakan sudut pandang mikroskopik. Ini berarti menyelidiki
kuantitas skala kecil seperti massa, laju, energi kinetik, dan momentum
dari setiap molekul yang menyusun benda.

Deskripsi makroskopik dan mikroskopik saling berkaitan erat. Sebagai


contoh, gaya tumbukan (mikroskopik) yang terjadi ketika molekul udara
membentur permukaan benda tegar (seperti kulit kita) menyebabkan tekanan
5
atmosfer (makroskopik). Tekanan atmosfer standar adalah 1,01 x 10 Pa;
32
untuk menghasilkan tekanan ini, 10 molekul membentur kulit Anda setiap
hari dengan laju rata-rata melampaui 1700 km/jam.

Gambar 1. Makroskopik

Tinjauan Makroskopis pada : (a) zat padat, (b) zat cair, dan (c) gas. Dalam
pembahasan teori kinetik ini kita akan menggunakan baik pendekatan
9

makroskopik maupun mikroskopik untuk memperoleh pemahaman


mengenai sifat materi terutama yang berkaitan dengan sifat termalnya. Salah
satu jenis materi yang paling sederhana untuk dipahami adalah gas ideal.
Untuk gas sejenis itu, kita akan dapat menghubungkan tekanan, volume,
suhu, dan jumlah bahan satu sama lain, juga dengan laju dan massa dari
setiap molekul.

Untuk menyederhanakan permasalahan teori kinetik gas diambil pengertian


tentang gas ideal sebagai berikut :
1. Gas ideal terdiri atas partikel-partikel (atom-atom ataupun
molekul-molekul) dalam jumlah yang besar sekali.
2. Partikel-partikel tersebut senantiasa bergerak dengan arah
random/sebarang.
3. Partikel-partikel tersebut merata dalam ruang yang kecil.
4. Jarak antara partikel-partikel jauh lebih besar dari ukuran partikel-
partikel, sehingga ukurtan partikel dapat diabaikan.
5. Tidak ada gaya antara partikel yang satu dengan yang lain,
kecuali bila bertumbukan.
6. Tumbukan antara partikel ataupun antara partikel dengan
dinding terjadi secara lenting sempurna, partikel dianggap
sebagai bola kecil yang keras, dinding dianggap licin dan tegar.
7. Hukum-hukum Newton tentang gerak berlaku.

Gambar 2. Partikel
10

3
Pada keadaan standart 1 mol gas menempati volume sebesar 22.400 cm
23
sedangkan jumlah atom dalam 1 mol sama dengan : 6,02 x 10 yang
disebut bilangan avogadro (NA) Jadi pada keadaan standart jumlah atom

3
dalam tiap-tiap cm adalah :

6,02 x 10 23
=2,68 x 10 19 atom/cm 3
22.400

Banyaknya mol untuk suatu gas tertentu adalah : hasil bagi antara jumlah
atom dalam gas itu dengan bilangan Avogadro.
n=NN A

Keterangan :
n = jumlah mol gas
N = jumlah atom
N A = bilangan avogadro = 6,02 x 1023 partikel/mol

Hubungan banyaknya mol n dengan massa zat m :

n=mM

Keterangan :
m = massa zat
M = massa zat/mol

f. Pe rs am aan Gas I d eal

Beberapa hukum Fisi ka tentang Gas :


11

1. Hukum Boyle: hukum ini menyatakan bahwa pada suhu tetap


volume gas berbanding terbalik dengan tekanan yang diberikan. Atau
perkalian antara volume dan tekanan gas selalu tetap jika suhu gas
dipertahankan tetap. Secara matematik hukum ini dituliskan:
1
P
V

PV =konstan

P1 V 1=P 2 V 2

dimana Pl dan P2 menyatakan tekanan pada keadaan mula-mula dan


keadaan akhir sedangkan V1 dan V2 menyatakan volume gas mula-
mula dan volume akhir.

Menurut rumus ini pada suhu tetap jika volume gas dijadikan
setengahnya misalnya dengan menekan piston penutup ruang gas maka
tekanan gas dalam ruang akan menjadi dua kali lipat lebih besar.

Gambar 3. Piston

2. Hukum Charles: hukum ini menyatakan bahwa ketika tekanan gas


dipertahankan tetap maka volume gas sebanding dengan suhu
absolutnya.

V
V T atau =konstan
T
12

V1 V2
=
T 1 T2

dimana T1 dan T2 menyatakan suhu absolut mula-mula dan akhir


sedangkan V1 dan V2 menyatakan volume gas mula-mula dan
volume akhir. Menurut rumus ini pada tekanan tetap jika suhu
absolut gas dinaikkan dua kali lipat misalnya dengan pemanasan
maka volume gas akan menjadi dua kali lipat dari volume semula.
Suhu absolut dinyatakan dalam K (Kelvin). Jika t adalah suhu dalam
derajat celcius dan T adalah suhu dalam Kelvin maka hubungan
antara keduanya dapat ditulis:
T = t + 273

3. Hukum Gay-Lussac: hukum ini menyatakan bahwa ketika gas


dipanaskan dalam sebuah kontainer (atau tabung) yang volumenya
tidak berubah maka tekanan gas dalam kontainer itu sebanding
dengan suhu mutlaknya.

P
P T atau =konstan
T

P 1 P2
=
T1 T 2

dimana T1 dan T2 menyatakan suhu absolut mula-mula dan akhir


sedangkan P1 dan P2 menyatakan tekanan gas mula-mula dan
tekanan akhir. Menurut rumus ini pada volume tetap jika suhu
absolut gas dinaikkan dua kali lipat misalnya dengan pemanasan
maka tekanan gas akan menjadi dua kali lipat dari tekanan semula.
13

4. Hukum Boyle Gay-Lussac: Hukum ini merupakan gabungan hukum


Boyle dan hukum Gay-Lussac. Hukum ini dituliskan sebagai berikut:

PV
PV T atau =konstan
T

P1 V 1 P2 V 2
=
T1 T2

Keempat hukum gas diatas berlaku untuk semua gas yang


kerapatannya cukup rendah. Gas dengan kerapatan cukup rendah
ini dinamakan gas ideal. Kebanyakan gas pada suhu ruang dan
tekanan sekitar 1 atmosfir dapat dianggap sebagai gas ideal.

Besaran-besaran seperti tekanan, voiume dan suhu gas pada


keempat rumus diatas dinamakan besaran makroskopis. Besaran
makroskopis merupakan besaran yang dapat diukur Iangsung.

(Kasman, 2013:59-64)
III. PROSEDUR PERCOBAAN

A. Alat daan bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan sebagai berikut :

No. Alat dan Bahan Jumlah Gambar


1. Model teori kinetik gas 1 set

Gambar 4. Model Kinetik


Gas
2. Catu daya 1 buah Gambar 5. Catu Daya
3. Kabel Penghubung 2 buah

Gambar 6. Kabel
Penghubung
4. Peluru plastik/ manik- 20 butir
manik

Gambar 7. Peluru
5. Spidol 1 buah

Gambar 8. Spidol
6. Penggaris 1 buah

Gambar 9. Penggaris

B. Langkah Percobaan

Langkah percobaan teori kinetik gas sebagai beikut :

1. Menyusun alat seperti pada gambar berikut.


Gambar 10. Rangkaian Model Teori Kinetik Gas

2. Menguhubungkan model teori kinetik gas ke catu daya dengan kabel


penguhubung.
3. Memasukan 10 peluru/ manik-manik ke dalam model teori kinetik gas.
Peluru/ manik-manik ini diumpamakan sebagai partikel yang bergerak
disuatu ruang tertutup.
4. Kemudian menekan tombol on, mengamati volume dan mencatat
perubahannya ketika peluru/ manik-manik ditambah menjadi 15 dan 20
butir .
5. Menandai perubahan ketinggian yang dicapai akibat getaran peluru/
manik-manik dalam model teori kinetik gas menggunakan spidol dan
mengukurnya dengan penggaris.
6. Mengulang cara di atas sebanyak tiga kali ketika menambahkan peluru/
manik-manik dalam model teori kinetik gas. Lalu mencatat hasil
pengamatan pada tabel.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil percobaan berupa tabel hasil pengammatan sebagai berikut :

No. Jumlah Peluru Percobaan Perubahan


(butir) ke- Kedudukan Piston
(cm)
1 1,5
2 1,5
1. 10
3 1,5
1 2,0
2. 15 2 1,7
3 1,8
1 2,0
3. 20 2 2,2
3 2,0
Tabel 2. Hasil Pengamatan (percobaan teori kinetik gas)

B. Pembahasan
Pada percobaan teori kinetik gas, alat dan bahan yang digunakan adalah satu
set model teori kinetik gas, satu buah catu daya, dua buah kabel penghubung,
20 butir peluru/ manik-manik, satu buah spidol, satu buah penggaris.
Percobaan dilakukan dengan merangkai alat dan bahan seperti pada Gambar
10. pada langkah percobaan. Memasukan peluru/ manik-manik ke dalam
model teori kinetik gas lalu menutup dengan penutup. Kemudian menyalakan
tombol on setelah model teori kinetik gas dihubungkan dengan catu daya.
Mengamati ketinggian rata -rata yang dicapai getaran peluru/ manik-manik
pada tabung. Lalu mengukur tinggi dengan penggaris dan menandai tinggi
getaran peluru/ manik-manik dengan spidol. Melakukan percobaan dengan
tiga kali pengulangan dan mengulangi langkah tersebut dengan mengganti
peluru/ manik-manik sebanyak 15 dan 20 butir dan mengambil rata-rata
perubahan kedudukan piston atau tabung. Setelah memperoleh data, hasil
pengamatan ditulis pada tabel hasil pengamatan.

Tinggi peluru/ manik-manik dalam piston atau tabung model teori kinetik gas
sebelum digetarkan adalah 2 cm, menghitung perubahan kedudukan adalah
tinggi peluru/ manik-manik pada piston atau tabung sebelum digetarkan
dikurangi tinggi setelah peluru/ manik-manik digetarkan dan percobaan
diulang sebanyak tiga kali agar memperoleh rata-rata perubahan kedudukan.
Pada tabel hasil pengamatan saat jumlah peluru 10 butir pada percobaan
pertama diperoleh perubahan kedudukan 1,5 cm sama pada percobaan kedua
dan ketiga. Saat peluru/ manik-manik 15 butir percobaan pertama diperoleh
perubahan kedudukan 2,0 cm, percobaan kedua 1,7 cm, dan percobaan ketiga
1,8 cm. Saat peluru/ manik-manik 20 butir percobaan pertama diperoleh
perubahan kedudukan 2,0 cm, percobaan kedua 2,2 cm, dan percobaan ketiga
2,0 cm. Pada hasil pengamatan semakin banyak partikel gas (peluru/ manik-
manik), semakin besar tekanannya dan semakin banyak jumlah peluru/
manik-manik pada piston atau tabung, semakin besar nilai perubahan
kedudukan. Hasil pengamatan dapat kita peroleh jumlah peluru/ manik-manik
(n) sebagai dan perubahan kedudukan sebagai perubahan volume (V). Pada
tabel diperoleh jumlah peluru/ manik-manik (n) berbanding lurus dengan
volume (V), yaitu semakin besar tekanan, semakin besar jumlah partikelnya.

Pada teori kinetik gas dipengaruhi oleh besaran energi kinetik dan
momentum, karena partikel memiliki kecepatan v pada tabung atau piston.
Bila v adalah kecepatan suatu partikel, maka perubaahan momentumnya
adalah mv. Setelah menumbuk dinding momentumnya mv. Karena
kecepatan jumlah partikel bergerak kesegala arah, maka rumus tekanan gas
dpat dituliskan :

1
mN v 2
3
P=
V

2N 1 1
(
3V 2 )
m v 2 atau P= p v 2
3

Persamaan di atas dapat juga dituliskan :

2N
P= Ek
3V

1 2 3
dengan Ek = m v atau Ek= NkT
2 2

sehingga :

2N 3 N
P= N k T ; P= kT
3V 2 V

Dari tabel hasil pengamatan, diperoleh grafik volume (V) terhadap jumlah
peluru/ manik-manik (n) sebagai berikut :
grafik (v) terhad ap (n)
4

2
Perubahan Kedudukan Piston (V) f(x) = 0.06x + 0.95
R
0 = 0.99
5 10 15 20 25
Jumlah Partikel (n)

Grafik 1. Volume (V) terhadap Jumlah Partikel Gas (n)

Pada grafik juga diperoleh, jumlah partikel gas (n) berbanding lurus
terhadap volume (V). Hal ini sesuai dengan teori jika kita hitung dengan

menggunakan persamaan PV =nRT , persamaan ini menyatakan

bahwa hubungan antara jumlah partikel gas dengan volume


gas. Secara matematik hukum ini dituliskan:
n V

Pada grafik hubungan antara volume (V) dengan jumlah partikel gas (n)
diperoleh hasil berbanding lurus. Pada grafik juga terdapat bentuk
persamaan linear dengan variabel (x) dan (y) membentuk linear
y=mx +c , m adalah gradien grafik dan c adalah titik potong grafik

terhadap sumbu y. Maka persamaan pada grafik : y = 0,057x + 0,945.


Gradien grafik (m) diketahui adalah 0,057. Gradien adalah yang
menyatakan kemirinngan suatu garis terhadap garis horizontal.

Kesalahan Relatif (KR) yang diperoleh pada masing-masing percobaan


yaitu 0% saat percobaan pertama, 6,3 % saat percobaan kedua, dan 6,8 %
saat percoaan ketiga. Semakin banyak peluru/ manik-manik yang
ditambahkan, semakin banyak kesalahan relatif. Hal ini disebabkan
karena mata kita kurang sejajar saat melihat tinggi rata-rata peluru/
manik-manik saat model digetarkan, kurang teliti saat mengukur tinggi
peluru/ manik-manik sebelum digetarkan, dan kurang pahamnya
praktikan mengenai teori kinetik gas. Walapun KR pada percobaab kedua

dan ketiga tidak sama dengan 0 namun KR 10%, maka percobaan

dapat dikatakan berhasil.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh setelah melakukan percobaan mengenai teori


kinetik gas sebagai berikut :

1. Pada percobaan hubungan jumlah partikel (peluru/manik-manik) dengan


volume gas (tinggi partikel dalam model) adalah semakin banyak jumlah
partikel semakin besar juga volume atau berbanding lurus.
2. Besaran yang memengaruhi teori kinetik gas adalah momentum dan
energi kinetik.
3. Hal ini sesuai dengan teori jika kita hitung dengan menggunakan

persamaan PV =nRT , persamaan ini menyatakan bahwa


hubungan antara jumlah partikel gas dengan volume gas.

Secara matematik hukum ini dituliskan n V

B. Saran

Pada percobaan mengenai teori kinetik gas dibutuhkan ketelitian dan


kesabaran dalam melakukan percobaan tersebut. Praktikan menyarankan agar
yang dalam melakukan percobaan dapat dengan cermat mengamati rata-rata
tinggi yang dicapai peluru/ manik-manik dalam model teori kinetik gas dan
tegak lurus agar percobaan berhasil.
DAFTAR PUSTAKA

Kasman, usep. 2013. Diktat Fisika SMA Kls XI. Depok : SMAN 6 Depok
Luthfiyatul, lulu. 2014. Laporan Fisika : Teori Kinetik Gas. Diakses dari
http://luthfiyatul.blogspot.co.id/2014/10/laporan-fisika-teori-kinetik-
gas.html. Pada Minggu, 16 April 2017. Pukul 23.59 WIB.
Syukri, Muhammad. 2013. Makalah Teori Kinetik Gas. Diakses dari
http://syukriadizulkifli.blogspot.co.id/2013/04/makalah-teori-kinetik-
gas.html. Pada Minggu, 16 April 2017. Pukul 22.47 WIB
LAMPIRAN