Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aspel legal keperawatan adalah aspek aturan keperawatan dalam


memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung
jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan kewajibannya.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
baik sehat maupun sakit yang mencakup proses seluruh manusia.Perawat
sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja
membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-
masalah kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan. Untuk mewujudkan
keperawatan sebagai profesi yang utuh, ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi. Setiap perawat harus mempunyai body of knowledge yang
spesifik, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik
keprofesian yang didasari motivasi, mempunyai standar kompetensi dan kode
etik profesi. Undang-undang Keperawatan adalah adalah salah satu harapan
dan tantangan bagi insane perawat karena dengan disyahkannya Undang
undang tersebut maka profesi keperawatan telah diakui dan disejajarkan
keberadaannya dengan profesi lain khususnya profesi kedokteran yang sudah
lebih dulu memiliki undang-undang. Undang-undang keperawatan adalah
tantangan. Tantangan bagi perawat untuk membuktikan bahwa perawat adalah
profesi tenaga kesehatan yang mampu menyelenggarakan pelayanan
keperawatan secara bertanggungjawab,akuntabel,bermutu,aman,dan
terjangkau oleh perawat yang memiliki etik dan moral tinggi,sertifikasi, dan
lisensi. Dengan tuntutan semacam itu maka profesi perawat harus dapat
menjawabnya dengan memberikan pelayanan secara professional, bukan

1
berdasarkan insting belaka tetapi harus dilandasi oleh keilmuan. Dalam
makalah akan dijelaskan legih lanjut mengenai aspek legal dalam praktik
keperawatan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian aspek legal ?
2. Bagaimanakah Regulasi Praktik Keperawatan ?
3. Bagaimanakah Ketentuan Kontrak Keperawatan ?
4. Bagaimanakah aspek legal pilihan dalam praktik keperawatan ?

C. Tujuan
1. Tuujuan Umum
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai aspek legal praktik keperawatan
2. Tujuan Khusus
a Untuk menjelaskan pengertian aspek legal
b Untuk menjelaskan regulasi praktik keperawatan
c Untuk menjelaskan ketentuan kontrak keperawatan
d Untuk menjelaskan aspek legal pilihan dalam praktik keperawatan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Aspek Legal Keperawatan

2
Aspek Legal Keperawatan adalah aspek aturan keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung
jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan
kewajibannya.Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan
kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Perawat sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak
saja membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-
masalah kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan.Untuk mewujudkan
keperawatan sebagai profesi yang utuh, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Setiap perawat harus mempunyai body of knowledge yang spesifik,
memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik keprofesian yang
didasari motivasi altruistik, mempunyai standar kompetensi dan kode etik profesi.
Para praktisi dipersiapkan melalui pendidikan khusus pada jenjang pendidikan
tinggi.

International Council of Nurses (ICN) mengeluarkan kerangka kerja


kompetensi bagi perawat yang mencakup tiga bidang, yaitu (1)bidang
Professional, Ethical and Legal Practice, (2)bidang Care Provision and
Management (3)dan bidang Professional Development.Profesi pada dasarnya
memiliki tiga syarat utama, yaitu kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan
yang ekstensif, komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya,
dan memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat.

Sikap yang terlihat pada profesionalisme adalah profesional yang bertanggung


jawab dalam arti sikap dan pelaku yang akuntabel kepada masyarakat, baik
masyarakat profesi maupun masyarakat luas. Beberapa ciri profesionalisme
tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi dan kewenangan
yang selalu sesuai dengan tempat dan waktu, sikap yang etis sesuai dengan

3
standar yang ditetapkan oleh profesinya dan khusus untuk profesi kesehatan
ditambah dengan sikap altruis (rela berkorban). Kemampuan atau kompetensi,
diperoleh seorang profesional dari pendidikan atau pelatihannya, sedangkan
kewenangan diperoleh dari penguasa atau pemegang otoritas di bidang tersebut
melalui pemberian izin.

Aspek legal Keperawatan meliputi Kewenangan berkaitan dengan izin


melaksanakan praktik profesi. Kewenangan memiliki dua aspek, yakni
kewenangan material dan kewenangan formal. Kewenangan material diperoleh
sejak seseorang memiliki kompetensi dan kemudian teregistrasi (registered nurse)
yang disebut Surat Ijin Perawat atau SIP.Aspek legal Keperawatan pada
kewenangan formalnya adalah izin yang memberikan kewenangan kepada
penerimanya untuk melakukan praktik profesi perawat yaitu Surat Ijin Kerja
(SIK) bila bekerja di dalam suatu institusi dan Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP)
bila bekerja secara perorangan atau berkelompok.

Kewenangan itu, hanya diberikan kepada mereka yang memiliki


kemampuan. Namun, memiliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan.
Seperti juga kemampuan yang didapat secara berjenjang, kewenangan yang
diberikan juga berjenjang.Kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan
khusus perawat dalam bidang tertentu yang memiliki tingkat minimal yang harus
dilampaui.Dalam profesi kesehatan hanya kewenangan yang bersifat umum saja
yang diatur oleh Departemen Kesehatan sebagai penguasa segala keprofesian di
bidang kesehatan dan kedokteran. Sementara itu, kewenangan yang bersifat
khusus dalam arti tindakan kedokteran atau kesehatan tertentu diserahkan kepada
profesi masing-masing.Aspek Legal keperawatan tidak terlepas dari Undang-
Undang dan Peraturan tentang praktek Keperawatan.

Praktik keperawatan diatur oleh berbagai konsep hukum.Penting bagi


perawat mengetahui dasar konsep hukum, karena perawat bertanggung gugat atas
penilaian dan tindakan professional mereka. Tanggung gugat merupakan konsep

4
penting dalam praktik keperawatan professional dan hukum. Pengetahuan
mengenai hukum yang mengatur dan memengaruhi praktik keperawatan harus
dimiliki.

1. Untuk memastikan bahwa keputusan dan tindakan perawat sesuai dengan


prinsip hukum yang berlaku.
2. Untuk melindungi perawat dari tanggung wajib.

B. Konsep Umum Hukum

Hukum adalah seluruh aturan dan undang-undang yang mengatur


sekelompok masyarakat. Dengan demikian, hukum dibuat oleh masyarakat dan
untuk mengatur semua anggota masyarakat (Guido, 2001, hlm. 2)

1. Fungsi Hukum dalam Keperawatan


Fungsi hukum dalam keperawatan, antara lain :
Hukum memberikan kerangka kerja untuk menetapkan jenis tindakan
keperawatan yang sah dalam asuhan klien.
Hukum membedakan tanggung jawab perawat dari tenaga professional
kesehatan lain.
Hukum membantu memberikan batasan tindakan keperawatan yang
mandiri.
Hukum membantu mempertahankan standar praktik keperawatan dengan
membuat perawat bertanggung gugat di bawah hukum yang berlaku.

2. Sumber Hukum

Sistem hukum di Amerika Serikat berasal dari sistem common law


inggris. Tinjauan terhadap sumber hukum : konstitusi, perundangan, badan
administrative, dan putusan pengadilan (common law) .

a. Hukum Konstitusi

Konstitusi Amerika Serikat merupakan hukum tertinggi Negara


tersebut. KOnstitusi menetapkan pengaturan umum terhadap pemerintah

5
federal, menjamin kekuasaan tertentu bagi pemerintah, dan memberikan
batasan mengenai apa saja yang dapat dilakukan oleh pemerintah federal
atau Negara bagian. Konstitusi menetapkan hak dan tanggung jawab
hukum dan merupakan dasar bagi sistem peradilan. Sebagai contoh,
konstitusi menjamin setiap warga Negara Amerika Serikat hak untuk
melakukan proses hukum.

b. Perundangan (Hukum Legislasi)

Hukum yang dikeluarkan oleh badan legislative disebut hukum


perundangan. Apabila terjadi perbedaan antara hukum federal dengan
hukum Negara bagian, hukum federal yang berlaku. Demikian juga,
hukum Negara bagian mengambil alih hukum setempat.

Peraturan terkait keperawatan diatur oleh hukum Negara bagian.


Badan pembuat undang-undang negara bagian mengeluarkan undang-
undang yang membatasi dan mengatur keperawatan, yaitu undang-
undang praktik perawat. Namun, undang-undang ini harus konsisten
dengan ketentuan konstitusi dan federal.

c. Common Law

Hukum yang dikembangkan dari putusan pengadilan disebut


common law. Selain menafsirkan dan menerapkan hukum konstitusi
maupun hukum perundangan, pengadilan juga diminta untuk
menyelesaikan perselisihan antara dua pihak. Common law terus
diadaptasi dan diperluas. Dalam memutuskan kontroversi khusus,
pengadilan umumnya menaati doktrin stare decisis, yakni mematuhi
putusan yang telah ditetapkan, biasanya disebut sebagai mencontoh
kasus sebelumnya. Dengan kata lain, guna mengambil keputusan pada
kasus tertentu, pengadilan menerapkan aturan dan prinsip yang sama
yang pernah ditetapkan sebelumnya pada kasus sejenis.

6
3. Tipe Hukum

Hukum mengatur hubungan individu pribadi dengan pemerintah


dan dengan individu lain.

Hukum publik adalah bagian hukum yang mengatur hubungan


antara individu dan pemerintah dan lembaga pemerintahan. Segmen
hukum publik yang penting adalah hukum pidana, yang mengatur
tindakan yang bahayakan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Contohnya antara lain pembunuhan, pembunuhan tidak berencana, dan
pencurian. Kejahatan dapat diklasifikasikan sebagai tindak pidana yang
tergolong berat maupun ringan, yang akan dijelaskan secara perinci
kemudian di bab ini.

Hukum perdata atau hukum sipil merupakan bagian hukum yang


mengatur hubungan antara individu perorangan. Hukum ini dapat
dikelompokkan ke dalam beragam kekhususan hukum seperti common
law maupun tort law. Contract law adalah pembuatan persetujuan di antara
individu perorangan atau pembayaran kompensasi atas kegagalan
memenuhi persetujuan tersebut. Tort law membatasi dan menetapkan
tugas dan hak di antara individu perorangan yang tidak didasarkan atas
persetujuan kontrak. Beberapa contoh dari tort law yang dapat
diberlakukan pada perawat adalah kelalaian dalam praktik, pelanggaran
privasi, dan penyerangan dan kekerasan, yang dibahas lebih perinci
kemudian dalam bab ini. Lihat tabel 4-1 untuk melihat kategori hukum
pilihan yang dapat diberlakukan pada perawat.

4. Jenis Tindakan Hukum

Terdapat dua jenis tindakan hukum, yakni tindak perdata dan


tindak pidana. Tindak perdata berkaitan dengan hubungan antar individu
dalam masyarakat, contohnya seorang pria dapat mengajukan gugatan

7
terhadap seseorang yang ia yakini menipunya. Tindak perdata yang patut
menjadi perhatian perawat berupa pelanggaran dan kontrak dapat dilihat
pada tabel 4-1. Tindak pidana berhubungan dengan perselisihan antara
seorang individu dan masyarakat secara keseluruhan ; contohnya jika
seorang pria menembak seseorang, masyarakat aakan mengajukan pria ini
untuk diadili. Perbedaan utama antara hukum perdata dengan hukum
pidana adalah kemungkinan hasil akhir bagi terdakwa. Jika terbukti
bersalah dalam tindak perdata, seperti malpraktik, terdakwa diharuskan
membayar sejumlah uang. Jika terbukti bersalah dalam tindak pidan,
terdakwa dapat kehilangan uang, dipenjara, atau dieksekusi, dan jika
perawat, ia dapat kehilangan surat izin praktiknya. Tindak perkara hukum
ini disebut litigasi dan para pengacara yang terlibat dalam perkara hukum
ini dapat disebut litigator.

a. Proses Peradilan Data

Proses peradilan terutama berfungsi untuk menyelesaikan


perselisihan secara damai dan sesuai hukum yang berlaku. Suatu
perkara hukum memiliki peraturan prosedural yang ketat. Secara
umum terdapat lima langkah :

1. Dokumen, yang disebut dengan keluhan, diajukan oleh seseorang


yang disebut penggugat yang mengklaim bahwa hak-hak
hukumnya telah dilanggar oleh satu atau lebih orang atau lembaga
yang disebut sebagai tergugat.
2. Tanggapan tertulis,yang disebut sebagai jawaban dibuat oleh
tergugat.
3. Kedua pihak melaksanakan kegiatan praperadilan yang disebut
dengan pertemuan sebagai upaya memperoleh semua fakta dalam
situasi yang terjadi
4. Dalam peradilan kasus semua fkta yang relevan dihadirkan kepada
juri atau hanya ke hakim

8
5. Hakim membuat putusan, atau juri memberikan ketetapan. Jika
hasilnya tidak dapat diterima oleh salah satu pihak, pihak tersebut
boleh mengajukan sidang banding.
6. Selama praperadilan, penggugat harus memberikan buktikesalahan
tergugat. Tugas untuk membuktikan tuduhan atau kesalahan
disebut pengajuan bukti.

b. Perawat Sebagai Sanksi

Seorang perawat dapat dipanggil untuk memberikan kesaksian


dalam satu tindakan hukum. Dianjurkan bagi tiap perawat yang diminta
untuk bersaksi dalam situasi tersebut meminta nasihat dari pengacara
sebelum memberikan kesaksian. Pada kebanyakan kasus, pengacara
dari pihak perusahaan akan memberikan dukungan dan konseling
selama kasus hukum berlangsung. Namun jika menjadi terdakwa
perawat dianjurkan menyewa pengacara untuk melindungi kepentingan
perawat. Perawat juga dapat diminta untuk memberikan kesaksian
sebagai saksi ahli. Seorang saksi ahli memiliki pelatihan
khusus,pengalaman atau keterampilan dalam bidang relevan dan
diizinkan oleh pengadilan untuk memberikan opini mengenai suatu
perkara dalam area keahliannya. Saksi ahli biasanya dipanggil untuk
membantu hakim atau juri dalam memahami bukti yang berhubungan
dengan tingkat gangguan atau standar asuhan.

5. Undang-undang Pratik Keperawatan


Undang-undang Keperawatan (UUK) merupakan dasar hukum praktek
keperawatan. Isi UUK harus diketahui oleh profesi dan calon profesi
perawat (mahasiswa). Hal ini dikarenakan, tidak hanya profesi perawat yang
membutuhkan UU ini tetapi calon profesi perawat juga harus mengetahui isi
dari UUK agar dimasa mendatang bisa menjadi perawat yang taat akan
aturan serta menjalankan hak dan kewajibannya sebagai seorang perawat.
Undang-undang Keperawatan diatur oleh UU nomor 38 tahun 2014.
UUK ini disahkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 2014 oleh presiden RI

9
Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam UUK terdiri dari 13 bab dan 66 pasal.
Dibawah ini akan dijelaskan isi dari Undang-undang keperawatan.
1. Berdasarkan UUK No 38 2014 Pengertian keperawatan adalah kegiatan
pemberian asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, atau
masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat.
2. Pengertian perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan
tinggi Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui
oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-
undangan.
3. Pengertian Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan
profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan
yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun
sakit.
4. Pengertian Praktik Keperawatan adalah pelayanan yang
diselenggarakan oleh Perawat dalam bentuk Asuhan Keperawatan.
5. Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat dengan Klien
dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan
kemandirian Klien dalam merawat dirinya.
6. Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, keterampilan,
dan perilaku peserta didik pada perguruan tinggi yang
menyelenggarakan program studi Keperawatan.
7. Sertifikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap
kompetensi Perawat yang telah lulus Uji Kompetensi untuk melakukan
Praktik Keperawatan.
8. Sertifikat Profesi adalah surat tanda pengakuan untuk melakukan
praktik Keperawatan yang diperoleh lulusan pendidikan profesi.
9. Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap Perawat yang telah
memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi dan telah
mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta telah diakui secara hukum
untuk menjalankan Praktik Keperawatan.
10. STR yaitu Surat Tanda Registrasi adalah bukti tertulis yang diberikan
oleh Konsil Keperawatan kepada Perawat yang telah diregistrasi.

10
11. Surat Izin Praktik Perawat yaitu SIPP adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota kepada Perawat
sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan Praktik
Keperawatan.
12. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah alat dan/atau tempat yang
digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
13.
14. Pengertian Perawat Warga Negara Asing adalah Perawat yang bukan
berstatus Warga Negara Indonesia.
15. Pengertian Klien adalah perseorangan, keluarga, kelompok, atau
masyarakat yang menggunakan jasa Pelayanan Keperawatan.
16. Pengertian Organisasi Profesi Perawat adalah wadah yang menghimpun
Perawat secara nasional dan berbadan hukum sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
17. Kolegium Keperawatan adalah badan yang dibentuk oleh Organisasi
Profesi Perawat untuk setiap cabang disiplin ilmu Keperawatan yang
bertugas mengampu dan meningkatkan mutu pendidikan cabang
disiplin ilmu tersebut.
18. Konsil Lembaga adalah lembaga yang melakukan tugas secara
independen
19. Institusi Pendidikan adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan Keperawatan.
20. Wahana pendidikan keperawatan adalah fasilitas, selain perguruan
tinggi, yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan
Keperawatan.
21. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintah negara Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
22. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, dan Wali Kota serta
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan.

11
23. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang kesehatan.

Didalam pasal 2 berisi tentang asas praktik keperawatan yang menjadi


landasan para perawat dalam melakukan praktik keperawatan. Asas yang
harus diterapkan dalam praktik keperawatan yaitu, perikemanusiaan; nilai
ilmiah; etika dan profesionalitas; manfaat; keadilan; pelindungan; dan
kesehatan dan keselamatan Klien. Selain itu, didalam pasal 3 dijelaskan
tujuan perawat yaitu meningkatkan mutu Perawat; meningkatkan mutu
Pelayanan Keperawatan; memberikan pelindungan dan kepastian hukum
kepada Perawat dan Klien; dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

C. Regulasi Praktik Keperawatan


Tujuan hukum yang mengendalikan cakupan praktik keperawatan,
ketentuan perizinan bagi perawat, dan standar asuhan adalah melindungi
kepentingan masyarakat. Perawat yang mengetahui dan menjalankan praktik
undang-undang praktik perawat serta standar asuhan akan memberikan
layanan keperawatan yang aman dan kompeten.
1. Kualifikasi
a. Perizinan
Surat izin adalah izin hukum yang diberikan oleh lembaga
pemerintah kepala individu agar dapat menjalankan praktik dalam
suatu profesi dan untuk memberlakukan gelar yang disandang. Surat
izin praktik keperawatan merupakan suatu keharusan di semua negara
bagian. Agar mendapatkan hak untuk mengeluarkan surat izin bag para
anggotanya, sebuah profesi atau pekerjaan harus memenuhi tiga
kriteria berikut :
1. Terdapat kebtuhan untuk melindungi keamanan dan keselamatan
masyarakat.
2. Pekerjaan tersebut jelas-jelas merupakan area kerja yang terpisah
dan berbeda.
3. Terdapat pihak berwenang yang mengemban tanggung jawab
proses perizinan tersebut, sebagai contoh, dalam keperawatan,
dewan keperawatan negara bagian.

12
Setiap negara bagian memiliki mekanisme pencabutan surat
izin jika terjadi perkara hukum ( mis, praktik keperawatan yang tidak
kompeten, pelanggaran profesi, tuduhan melakukan kriminal, seperti
menggunakan obat-obatan ilegal atau menjual obat-obatan secara
ilegal). Dalam setiap situasi, komisi dengar pendapat akan mengkaji
semua fakta yang ada. Perawat diharuskan untuk didampingi oleh
konsultan hukum pada saat denganpendapat. Jika iin praktik perawat
dicabut kembali berdasarkan hasil dengan pendapat, perawat dapat
mengajukan banding atas keputusan tersebut ke pengadilan atau, di
beberapa negara bagian, dibentuk suatu badan untuk mengkaji
keputusan tersebut sebelum memulai proses peradilan.

b. Model Pengakuan Timbal Balik

Sepanjang sejarah, izin praktik perawat ditetapkan berdasarkan


negara bagian; yakni dewan keperawatan negara bagian memberikan
izin kepada semua perawat yang berpraktik di negara bagian tersebut.
Namun, perubahan dalam pemberian layanan kesehatan dan kemajuan
teknologi telekomunikasi (mis., telehealth) memicu berbagai
pertanyaan mengenai model berbasis negara bagian. America Nurses
Assosiation (1998) mendeskripsikan health menghilangkan kendala
waktu dan jarak dalam pemberian ayanan kesehatan dan aktivitas yang
berkaitan dengan layanan kesehatan. Oleh karena itu, berdasarkan
model berbasis negara bagian ini, perawat berinteraksi melalui media
elektronik dengan klien di negara bagian lain untuk memberikan
informasi kesehatan atau intervensi, dianggap melakukan praktik lintas
negara bagian tanpa izin dari negara bagian tersebut.

Sebagai respon terhadap berbagai perubahan terbar ini,


National Council of State Boards of Nursing (NCSBN)
mengembangkan model peraturan baru yang disebut model pengakuan

13
timbal balik, yang memungkinkan perizinan linta negara bagian.
Dengan pengakuan timbal balik, perawat yang tidak berada dalam
suatu persetujuan disiplin ilmu atau pemantauan dapat memberikan
layanan kepada seseorang atau melalui media elektronik melintasi
batas negara bagian di bawah satu izin.

Kesepakatan lintas negara bagian (persetujuan antara dua


atau lebih negara bagian) adalah mekanisme yang digunakan untuk
menciptakan pengakuan timbal balik antar-negara bagian. Badan
legislatif negara bagian mengawali dan memutuskan untuk
menetapkan kesepakatan lintas negara bagian. Pada tahun 2001, 18
negara bagian telah menyetujui kesepakatan, tetapi 3 dari 18 negara
tersebt masih belum mengimplementasikannya (Harrington, 2002).
Situs NCSBN (http://www.ncsbn.org) memberikan informasi terkini
mengenai jumlah negara bagian yang telah meloloskan kesepakatan
perundangan tersebut. Lihat kotak 4-1 untuk informasi tambahan
engenai model pengakuan timbal balik ini.

c. Serfikasi
Sertifikasi adalah praktik validasi bahwa individu perawat
memenuhi standar minimum kompetensi keperawatan dalam area
spesialis, seperti kesehatan ibu-anak,keperawatan anak, keperawatan
jiwa,gerontologi, dan sekolah tinggi keperawatan. Sertifikasi nasional
mungkin diperlukan agar dapat memperoleh izin sebagai perawat
praktik lanjutan. Program sertifikasi diselenggarakan oleh ANA dan
organisasi keperawatan spesialis.

2. Akreditasi/Pengakuan Program Pendidikan Keperawatan Dasar


Salah satu fungsi dewan keperawatan negara bagian adalah
menjamin bahwa sekolah tinggi keperawatan mempertahankan standar
minimum pendidikan. Bergantungan pada masing-masing negara
bagian,dewan keperawatan negara bagian harus mengakui atau

14
mengakreditasi program keperawatan. Hal ini merupakan persyaratan
legal.
Program keperawatan juga dapat memmilih untuk mencari
akreditasi Cuma-Cuma dari ogranisasi swasta, seperti National League
for Nursing Accreaditing Commission ( NLNAC) dan Commission on
Collegiate Nursing Education (CCNE). Dengan memelihara akreditasi
Cuma-Cuma merupakan cara menginformasikan kepada masyarakat
dan calon mahasiswa bahwa program keperawatan telah memenuhi
kriteria tertentu.
Semua negara bagian mengharuskan pengakuan/akreditasi dari
dewan keperawatan negara bagian. Bebrapa negara bagian
mengharuskan program keperawatan diakui/diakreditasidan
diakreditasi oleh lembaga akreditasi nasional, seperti NLNAC atau
CCNE.

3. Standar Asuhan

Standar asuhan adalah keterampilan dan pembelajaran yang


secara umum dimiliki oleh anggota suatu profesi ( Guido, 2001, hlm
63). Tujuan standar asuhan adalah melindungi konsumen. Standar ini
digunakan untuk mengevaluasi kualitas asuhan yang diberikan oleh
perawat, dan dapat menjadi panduan sah untuk praktik keperawatan.

Standar asuhan keperawatan dapat diklasifikasikan menjadi


dua katagori, yakni standar internal dan standar eksternal. Standar
asuhan internal meliputi deskripsi pekerjaan perawat, pendidikan,
dan keahlian serta kebijakan dan prosedur masing-masing institusi
(Guido, 2001, hlm 64).

Standar eksternal terdiri atas:

1. Undang-undang praktik perawat


2. Organisasi profesi ( miss., American Nurses Association)

15
3. Organisasi praktik spesialisasi keperawatan ( mis., Emergency
Nurses Association, Oncology Nursing Society )
4. Organisasi federal dan panduan federal ( mis., Joint Commission
on Accredition of Health Care Ogranization dan Medicare).

Dalam suatu perkara hukum, saksi ahli keperawatan bersaksi


mengenai standar yang menjadi tanggung gugat perawat di tingkat
nasional dan di tingkat komunitas setempat. Oleh karena itu, penting
bagi perawat mempertahankan kompetensi dan membaca junal profesi
dan mengikuti pelatihan penyegaran dan perintah dinas.

D. Ketentuan Kontrak Dalam Keperawatan

Kontrak adalah dasar hubungan antara perawat dan pihak yang


mempekerjakan, sebagai contoh, perawat dan rumah sakit atau perawat
dengan dokter. Kontrak adalah persetujuan antara dua pihak yang kompeten
atau lebih dengan pertimbangan yang sesuai (remunerasi), untuk melakukan
atau tidak melakukan tindakan sesuai hukum. Kontrak dapat tetulis maupun
lisan. Kontrak lisan dan kontrak tertulis sama-sama mengikat. Namun, istilah
kontrak lisan mungkin lebih sulitmembuktikan dipengadilan. Kontrak tertulis
tidak dapat diubah secara hukum melalui persetujuan lisan. Jika dua pihak
ingin mengubah beberpa aspek kontrak tertulis, perubahan tersebut harus
ditulis dikontrak, karena salah satu pihak tidak dapat mengikat pihak lain
dengan persetujuan lisan, yang berbeda dari pesetujuan tertulis.

Kontrak dianggap harus dibahas jika kedua pihak telat mendiskusikan


dan menyepakati, baiksecara lisan maupun tulisan,periode dan kondisi
tertentu saat kontrak dibuat. Sebagai contoh, perawat akan bekerja dirumah
sakit selama periode waktu tertentu dan pada kondisi tertentu. Kontrak
tersirat adalah kontrak yang tidak disepakati secara eksplisit oleh pihak
terkait, tetapi dipertimbangkanberlaku secara eksplisit oleh pihak terkait,
tetapi dipertimbangkan berlaku secara hukum. Sebagai contoh, perawat

16
diharapkan kompoten dan menaati kebijakan dan prosedur rumah sakit,
walaupun ekspektasi ini tidak tertulis ataupun didiskusikan sebelumnya.
Demikian pula,rumah sakit diharapkan menyediakan pelaratan dan
perlengkapan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan keperawatan yang
kompeten.

Kontrak yang sah harus memenuhi empat kriteria berkut (Guido, 2001):

a. Perjanjian atau kesepakatan antara dua atau lebih orang untuk pelaksaan
suatu tindakan atau batasan dari tindakan tertentu
b. Pemahaman bersama terhadap waktu dan maksud kontrak oleh semua
pihak
c. Tujuan yang sesuai hukum ( tindakan yang dilakukan harus sesuai
hukum)
d. Kompensasi dalam bentuk nilai tertentu pada sebagian besar kasus,
kompensasi berupa uang.

Peran Perawat Berdasarkan Hukum Berdasarkan hukum, perawat


memiliki tiga peran berbeda yang saling bergantung, masing-masing dengan
hak dan kewajiban terkait, yaitu sebagai layanan, pegawai atau penerima
kontrak sebagai penyedia layanan dan sebagai warga negara.

E. Aspek Legal Pilihan Dalam Praktik Keperawatan


Perawat perlu memahami dan menerapkan banyak aspek legal pada
berbagai peran mereka. Contohnya, sebagai advokat klien, perawat
memastikan klien mendapatkan haknya untuk menyetujui atau menolak
tindakan setelah diberikan informasi yang benar, serta mengidentifikasi dan
melaporkan perilaku kekerasan dan pengabaian terhadap pasien yang rentan.
Aspek legal juga mencakup tanggung jawab untuk melaporkan perawat yang
diduga melakukan penyalahgunaan zat kimia.

1. Informed Consent

17
Informed consent adalah persetujuan klien untuk menerima
serangkaian terapi atau prosedur setelah diberi informasi lengkap,
termasuk manfaat dan risiko prosedur, alternatif terapi tersebut, dan
prognosis jika tidak ditangani oleh penyedia layanan kesehatan. Biasanya,
klien menandatangani formulir yang diberikan oleh institusi. Formulir ini
merupakan catatan informed consent, bukan informed consent.

Terdapat dua jeni persetujuan, yakni langsung dan tidak langsung.


Persetujuan langsung dapat berbentuk persetujuan lisan atau tulisan.
Biasanya, semakin invasive suatu prosedur dan tindakan atau semakin
besar potensi risikonya terhadap klien, akan semakin besar kebutuhan
terhadap persetujuan tertulis. Persetujuan tidak langsung terjadi jika
perilaku nonverbal individu menunjukkan persetujuan. Sebagai contoh,
klien yang memposisikan badannya untuk disuntik atau bekerja sama saat
dilakukan pengukuran tanda-tanda vital menyiratkan persetujuan secara
tidak langsung. Persetujuan juga bersifat tidak langsung dalam situasi
kedaruratan saat individu tidak dapat mengungkapkan persetujuannya
karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan.

Memperboleh informed consent untuk terapi medis dan


pembedahan tertentu adalah tanggung jawab individu yang akan
melakukan prosedur tersebut umumnya dokter ; tetapi, dapat juga
dilakukan oleh perawat praktisi, perawat anestesi, atau perawat bidan yang
akan melakukan prosedur dalam praktik lanjutan mereka.

Informend consent juga berlaku bagi perawat nonpraktisi mandiri


dan perawatan yang melakukan asuhan keperawatan langsung untuk
prosedur tertentu, seperti pemasangan selang nasogastrik atau pemberian
obat. Perawat mengandalakan persetujuan secara lisan atau tidak langsung
untuk sebagian besar intervensi keperawatan. Pentingnya berkomunikasi

18
dengan klien dengan menjelaskan prosedur keperawatan, memastikan
pemahaman klien, dan memperoleh izin harus selalu diingat.

Hukum menyatakan bahwa kuatitas informasi yang memadai


yang dibutuhkanoleh klien untuk membuat keputusan berdasarkan
informasi adalah semua hal yang diungkap oleh dokter atau praktisi
kesehatan dalam situasi yang sama (Dunn, 1999, hlm. 42). Pedoman
umum mencangkup :

Tujuan terapi
Apa yang mungkin dihadapi atau dialami klien
Manfaat yang diharapkan dari klien
Kemungkinan risiko atau hasil negatif terapi
Manfaat dan kerugian kemungkinan alternative terapi (termasuk bila
tidak mendapatkan terapi).

Tiga elemen utam informed consent, yaitu :

1. Persetujuan harus diberikan tanpa ada paksaan.


2. Persetujuan harus diberikan oleh klien atau individu yang cakap dan
mampu memahami penjelasan.
3. Klien atau individu harus diberikan informasi yang cukup agar dapat
menjadi pengambil keputusan akhir.

Klien tidak boleh merasa terpaksa agar dapat memberikan


informed consent secara sukarela. Kadang perasaan takut terhadap
penolakan professional kesehatan dapat menjadi motivasi dalam
memberikan persetujuan ; persetujuan semacam ini tidak diberikan
secara sukarela.Pemaksaan membuat persetujuan menjadi tidak valid.
Dengan demikian, individu yang meminta persetujuan harus
mempersilakan dan menjawab pertanyaan klien. Perspektif budaya
juga perlu dipertimbangkan saat klien diminta untuk mengambil
keputusan mengenai prosedur atau terapi (lihat Pemberian Asuhan
yang Kompeten secara Budaya).

19
Klien juga harus mengerti apa yang dijelaskan. Istilah teknis
dan kendala bahasa dapat menghambat pemahaman. Jika klien tidak
dapat membaca, formulir persetujuan harus dibacakan kepada klien
dank lien harus menyatakan memahami isi formulir tersebut sebelum
menandatanganinya. Jika klien tidak dapa bicara dengan bahasa yang
sama dengan tenaga kesehatan yang memberikan informasi, proses
penandatanganan formulir persetujuan harus melibatkan penerjemah.

Jika diberi informasi yang memadai, orang dewasa yang cakap


dapat mengambil keputusan mandiri terkait kesehatan. Orang dewasa
yang cakap adalah individu berusia lebih dari 18 tahun dan sadar serta
orientasi. Klien yang bingung, disorientasi, atau sedasi dianggap tidak
cakap secara fungsional. Wali atau wakil yang sah dapat memberikan
atau menolak persetujuan untuk orang dewasa yang tidak cakap.

Regulasi informed consent awalnya ditulis dengan


mempertimbangkan tatanan perawatan akut. Namun, memastikan
informend consent juga penting saat memberikan asuhan keperawatan
dirumah. Karena pemberian asuhan di rumah sering berlangsung
dalam jangka panjang, perawat memiliki banyak kesempatan untuk
memastikan bahwa klien menyetujui rencana terapi. Namun, tantangan
untuk mendapatkan informed consent pada asuhan di rumah adalah
bahwa rencana tersebut dapat mempengaruhi anggota keluarga lain
dan dengan demikian, mereka pu perlu diajak konsultasi.

a. Pengecualian
Terdapat tiga kelompok orang yang tidak dapat memberikan
persetujuan. Kelompok pertama adalah anak di bawah umur. Di
sebagian besar area, orang tua atau wali harus memberikan
persetujuannya sebelum anak di bawah umur dapat memperoleh
terapi. Hal serupa juga berlaku bagi orang dewasa yang memiliki
kapasitas mental seperti anak kecil dan memiliki wali yang

20
ditunjuk. Namun, di beberapa negara bagian, anak diperkenankan
memberikan persetujuan untuk prosedur tertentu, seperti donor
darah, terapi penyalahgunaan obat-obatan terlarang, masalah
kesehatan jiwa, dan masalah seputar kesehatan reproduksi, seperti
penyakit menular seksual atau kehamilan (Brent, 2001;
Sullivan,1998). Selain itu, kelompok anak tertentu menurut
hukumsering kali diperkenankan memberikan persetujuan mandiri.
Kelompok ini meliputi mereka yang sudah menikah, hamil, sudah
menjadi orang tua, anggota militer atau anggota bebas (hidup
sendiri). Undang-undang ini beragam di setiap negara bagian.
Kelompok yang kedua adalah orang yang tidak sadar atau
mengalami cedera sehingga mereka tidak mampu memberikan
persetujuannya. Pada situasi semacam ini, persetujuan biasanya
didapatkan dari orang dewasa terdekat jika undang-undang yang
berlaku mengizinkan hal tersebut. Dalam kondisi kegawatan yang
mengancam jiwa, jika persetujuan tidak diperoleh dari klien dan
keluarganya, maka hokum umumnya menyetujui jika persetujuan
dibuat tidak langsung agar dapat memberikan perawatan yang
diperlukan untuk kondisi kegawatan klien.
Kelompok ketiga adalah orang sakit jiwa yang dianggap tidak
cakap oleh profesional. Undang-undang kesehatan jiwa negara
bagian maupun provinsi atau undang-undang sejenis lain secara
umum memberikan batasan penyakit jiwa dan menyebutkan hak
hokum orang sakit jiwa serta hak hokum staf yang merawat klien
tersebut.
b. Peran Perawat

Perawat sering diminta untuk mendapatkan formulir


persetujuan yang ditanda tangani klien. Perawat tidak bertanggung
jawab menjelaskan prosedur, tetapi harus menyaksikan

21
penandatanganan formulir klien. Sulliven (1998) menyatakan
bahwa tanda tangan perawat memperjelas tiga hal :

1. Klien memberikan persetujuannya dengan sukarela


2. Tanda tangan asli
3. Klien terlihat cakap untuk memberikan persetujuan

Perawat menjadi advokat klien dengan memastikan bahwa


klien telah mendapatkan cukup informasi yang diperlukan untuk
memberikan persetujuan. Jika klien memiliki pertanyaan atau jika
perawat meragukan pemahaman klien, perawat harus memberi
tahu penyedia pelayanan kesehatan. Selain itu, perawat tidak
bertanggung jawab menjelaskan prosedur medis maupun
pembedahan. Bahkan, perawat dapat disalahkan atas pemberian
informasi yang tidak tepat atau tidak lengkap atau mencampuri
hubungan klien-penyedia layanan kesehatan (Dunn, 1999).

Menurut Guido (2001), hak memberikan persetujuan juga


mencakup hak untuk menolak. Ingatkan klien bahwa mereka dapat
mengubah pikiran mereka dan membatalkan prosedurkapan pun
juga karena hak untuk menolak tetap ada meski telah
menandatangani surat persetujuan. Di samping Informed consent,
penting untuk memperjelas bahwa klien menyadari manfaat
kerugian penolakan yang ia lakukan dan telah mengambil
keputusan setelah memperoleh informasi. Perawat perlu member
tahu penyedia layanan kesehatan mengenai penolakan klien dan
mendokumentasikan penolakan di status klien.

Dokumentasi adalah aspek penting informed consent.


Kekhawatiran dan pertanyaan klien harus didokumentasikan
bersama dengan pemberitahuan penyedia layanan kesehatan.
Sullivan (1998) juga menganjurkan membuat dokumentasi tentang
pernyataan pemahaman klien. Catat semua penyuluhan sebagai

22
hasil pertanyaan seputar keperawatan yang diajukan oleh klien.
Setiap kondisi khusus, seperti pemanfaatan jasa penerjemah, juga
harus didokumentasikan.

2. Delegasi

National Council of State Board of Nursing (1995) mendefinisikan


delegasi sebagai menyerahkan kewewenangan kepada individu yang
kompeten untuk melakukan tugas keperawatan tertentu dalam situasi
tertentu. Staf bantu yang belum memiliki izin (unlicensed assistive
personnel/ UAP)yang kompeten dapat membantu perawat sehingga
memudahkan perawat dalam melakukan fungsi dalam lingkup praktik
keperawatan. Namun, dari perspektif hukum, kewenangan perawat untuk
mendeligasikan didasarkan atas hukum dan undang-undang yang berlaku.
Oleh karena itu, perawat harus terbiasa dengan undang-undang praktik
perawat ( Nurse Practice Act/ NPA ) mereka. Sheehan (2001) menyatakan
bahwa perawat perlu menentukan jawaban atas pertanyaan berikut:

1. Apakah NPA membolehkan deligasi ?


2. Apakah NPA membuat daftar mengenai hal-hal yang dapat
didelegasikan oleh perawat?
3. Apakah dewan keperawatan negara bagian mengeluarkan panduan
yang menjelaskan tanggung jawab perawat saat melakukan delegasi?

Perawat tidak hanya harus mengetahui lingkup praktik mereka,


melainkan juga lingkup praktik UAP, yang dapat beragam, bergantung
pada kebijakan dan prosedur instansi. Dengan demikian, perawat harus
mengetahui kebijakan pihak yang memperkerjakan dan prosedur untuk
melakukan delegasi, dekripsi pekerjaan UAP, dan tingkat kemampuan
UAP. Apakah UAP komponem dalam melakukan tugas yang
didelegasikan? NCSBN telah mengeluarkan lima benar delegasi untuk
membantu perawat membuat keputusan pendelegasian ( lihat Bab 26).
Perlu diingatkan bahwa perawat dapat mendelagaiskan tugas kepada UAP;

23
namun tanggung jawab atas dilakukan atau tidak dilakukannya tindakan
itu oleh perawat dan UAP tetap menjadikan tanggung jwab perawat
tersebut (Fisher,2000).

3. Kekerasan, Penganiayaan, dan Pengabdian


Perilaku kekerasan dapat berupa kekersan dalam rumah
tangga,penganiayaan anak, penganiayaan lansia, dan penganiayaan
seksual. Pengabaian adalah tidak diberikannya asuhan yang dibutuhkan
untuk memelihara kesehatan dan keselamatan individu yang ringkih,
seperti anak-anak atau lansia. Perawat, dengan peran mereka yang
beragam (mis, perawat kesehatan perawat dirumah,perawatan anak dan
perawatan UGD ) sering mengidentifikasikan dan mengkaji kasus
kekersan terhadap orang lain. Akibatnya, mereka sering disebut sebagai
pelapor yang diberi mandat. Brent(2001) menyatakan bahwa jika
kejadian cedera yang didentifikasi tampak sebagai akibat penganiayaan,
pengabaian, atau ekspoitasi, pelapor yang diberi mandat harus melaporkan
situasi ini kepada pihak yang berwenang ( hlm.28). Lihat Bab 22 untuk
informasi tambahan mengenai penganiayaan anak dan Bab 23 untuk
penganiayaan lansia.

4. Pratik Keperawatan
Dalam Undang-Undang Keperawatan, menjadi seorang perawat
tentunya harus memahami dan melakukan praktik keperawatan dengan
baik dan benar. Hal tersebut untuk menjadikan praktik profesionalisme
perawat. Praktik keperawatan ini dapat dilaksanakan pada fasilitas
pelayanan kesehatan dan tempat lainnya sesuai dengan kondisi kliennya.
Pada akhirnya praktik keperawatan harus fleksibel, karena dalam rangka
memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal. Praktik keperawatan ini
terdiri dari praktik keperawatan mandiri dan praktik keperawatan di
fasilitas pelayanan kesahatan. Praktik keperawatan ini harus menjunjung
tinggi kode etik, standar pelayanan, standar profesi, dan standar prosedur
operasional, serta harus berdasarkan prinsip kebutuhan pelayanan

24
kesehatan oleh masyarakat, sesuai dengan pasal 28 ayat 1-3 UU
Keperawatan, yaitu
1. Praktik Keperawatan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
dan tempat lainnya sesuai dengan Klien sasarannya.
2. Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.Praktik Keperawatan mandiri
b.Praktik Keperawatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
3. Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
didasarkan pada kode etik, standar pelayanan, standar profesi, dan
standar prosedur operasional.

Untuk menyelenggarakan praktik keperawatan dengan baik dan benar,


ada beberapa tugas dan wewenang menjadi seorang perawat. Tugas
perawat selain memberikan asuhan keperawatan, juga sebagai penyuluh
dan konselor bagi klien, sebagai pengelola pelayanan keperawatan,
peneliti keperawatan, juga sebagai pelimpah kewenangan dan keadaan
keterbatasan tertentu. Perawat harus kritis dalam menentukan asuhan
keperawatan, dalam melakukan pengkajian, diagnosa, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi, serta dokumentasi keperawatan dengan benar
dan tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan klien. Hal yang terpenting
menjadi seorang perawat harus memberikan advokasi dalam perawatan
kesehatan masyarakat. Sebagai peneliti keperawatan ini untuk
merumuskan permasalahan-permasalahan yang baru serta mencari solusi
terhadap permasalahan tersebut.
Hal yang perlu menjadi perhatian didalam UU Keperawatan ini salah
satunya adalah perawat sebagai pelimpahan wewenang. Pelimpahan
wewenang yang dimaksud dilakukan secara delegatif disertai dengan
pelimpahan tanggung jawab. Pelimpahan wewenang yang diberikan hanya
dapat diberikan kepada perawat profesi dan/atau perawat vokasi yang
sudah terlatih dan telah terlatih untuk melakukan tindakan medis dibawah
pengawasan, sehingga tak sembarang perawat dapat diberikan
pelimpaham wewenang demi menjamin keselamatan klien. Hal ini sesuai
dengan pasal 32 ayat 3-6, yaitu

25
1. Pelimpahan wewenang secara delegatif untuk melakukan sesuatu
tindakan medis diberikan oleh tenaga medis kepada Perawat dengan
disertai pelimpahan tanggung jawab.
2. Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) hanya dapat diberikan kepada Perawat profesi atau
Perawat vokasi terlatih yang memiliki kompetensi yang diperlukan.
3. Pelimpahan wewenang secara mandat diberikan oleh tenaga medis
kepada Perawat untuk melakukan sesuatu tindakan medis di bawah
pengawasan.
4. Tanggung jawab atas tindakan medis pada pelimpahan wewenang
mandat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berada pada pemberi
pelimpahan wewenang.
Salah satu hal yang saat ini banyak diperbicarakan yaitu tentang
pelaksanaan tugas dalam keterbatasan tertentu khususnya dalam keadaan
tidak ada tenaga medis dan/atau tenaga kefarmasian. Hal ini telah diatur
pada UU keperawatan pasal 33. Dengan adanya aturan tentang hal ini,
maka perawat mendapat perlindungan khusunya dalam pemberian
tindakan disaat tidak ada tenaga medis dan/atau tenaga kefarmasian
ditempat sedangkan klien membutuhkan suatu tindakan yang cepat. Jika
keadaan tersebut terjadi, perawat dapat memberikan tindakan kepada
klien, pun begitu tetap harus memperhatikan kompetensi perawat untuk
menjaga keselamatan klien. Hal ini sesuai dengan pasal 33 ayat 2-4, yaitu
1. Keadaan tidak adanya tenaga medis dan/atau tenaga kefarmasian di
suatu wilayah tempat Perawat bertugas sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan oleh kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan
setempat.
2. Pelaksanaan tugas pada keadaan keterbatasan tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memperhatikan
kompetensi Perawat.
3. Dalam melaksanakan tugas pada keadaan keterbatasan tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Perawat berwenang:

26
a. melakukan pengobatan untuk penyakit umum dalam hal tidak terdapat
tenaga medis;
b.merujuk pasien sesuai dengan ketentuan pada sistem rujukan; dan
c.melakukan pelayanan kefarmasian secara terbatas dalam hal tidak
terdapat tenaga kefarmasian.
Dengan adanya peraturan-peraturan yang tentunya mengatur tindakan
perawat dan sekaligus dapat menjadi payung hukum untuk para perawat,
diharapkan para perawat terus meningkatkan kompetensi diri mereka dan
menjadi perawat yang semakin baik hari demi hari untuk masyarakat.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Aspek Legal Keperawatan adalah aspek aturan keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung
jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan kewajibannya.
2. Hukum adalah seluruh aturan dan undang-undang yang mengatur sekelompok
masyarakat. Dengan demikian, hukum dibuat oleh masyarakat dan untuk
mengatur semua anggota masyarakat Sumber hukum terdiri dari tiga yaitu:
hukum konstitus, perundangan ( huum legislasi), dan hukum common law.
Tipe hukum Hukum mengatur hubungan individu pribadi dengan pemerintah
dan dengan individu lain. Hukum publik adalah bagian hukum yang mengatur
hubungan antara individu dan pemerintah dan lembaga pemerintahan. Hukum
perdata atau hukum sipil merupakan bagian hukum yang mengatur hubungan
antara individu perorangan.
3. Jenis Tindakan HukumTerdapat dua jenis tindakan hukum, yakni tindak
perdata dan tindak pidana. Tindak perdata berkaitan dengan hubungan antar
individu dalam masyarakat. Tindak perkara hukum ini disebut litigasi dan para
pengacara yang terlibat dalam perkara hukum ini dapat disebut litigator.

27
Adapun bagian-bagian dari tindakan hukum, yaitu proses peradilan data dan
perawat sebagai saksi.
4. Regulasi Praktik Keperawatan Tujuan hukum yang mengendalikan cakupan
praktik keperawatan, ketentuan perizinan bagi perawat, dan standar asuhan
adalah melindungi kepentingan masyarakat. Adapun bagian dari regulasi
praktik keperawatan, yaitu kualifikasi, akreditasi/pengakuan program
pendidikan keperawatan dasar, dan standar asuhan.
5. Kontrak adalah dasar hubungan antara perawat dan pihak yang
mempekerjakan, sebagai contoh, perawat dan rumah sakit atau perawat dengan
dokter. Kontrak adalah persetujuan antara dua pihak yang kompeten atau lebih
dengan pertimbangan yang sesuai (remunerasi), untuk melakukan atau tidak
melakukan tindakan sesuai hukum. Kontrak dapat tetulis maupun lisan.
6. Aspek Legal Pilihan Dalam Praktik Keperawatan, Perawat perlu memahami
dan menerapkan banyak aspek legal pada berbagai peran mereka. Adapun
bagian-bagiannya, yaitu informed consent, delegasi, kekerasan, penganiayaan,
dan pengabdian dan paratik keperawatan.

B. Saran

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan mengenai


aspek legal dalam praktik keperawatan bagi para pembaca dan untuk menunjang
makalah ini agar lebih baik lagi diharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

28
DAFTAR PUSTAKA

BEMFIK UI, 2015, Undang-undang Keperawatan (Online)


Avaiable:http://m.kompasiana.com/kastratbemfikui/pasca-pengesahan-
uu-no-38-tahun-2014-tentangkeperawatan_55546fff739773331490553b
(24 Februari).

Ismani,Nila. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta:Widya Medika

Kozier, dkk.2010.Buku Ajar Fundamental Keperawatan.Jakarta:EGC

Mimin, Suhaemin. 2003. Etika dalam Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC

29