Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
1 Latar Belakang
Di Indonesia salah satu masalah besar yang marak diperbincangkan adalah tindak
kriminal terhadap anak. Mulai dari kekerasan, pembunuhan, penganiayaan dan bentuk
tindakan kriminal lainnya yang berpengaruh negatif bagi kejiwaan anak.
Seharusnya seorang anak diberi pendidikan yang tinggi, serta didukung dengan kasih
sayang keluarga agar jiwanya tidak terganggu.hal ini terjadi karena Banyak orangtua
menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan
adalah bagian dari mendisiplinkan anak.
Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam
mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan
mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Keluarga adalah tempat pertama kali anak
belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kekerasan terhadap anak dapat diartikan sebagai perilaku yang sengaja maupun tidak
sengaja yang ditujukan untuk mencederai atau merusak anak, baik berupa serangan fisik
maupun mental.
Dalam menyiapkan generasi penerus bangsa anak merupakan asset utama. Tumbuh
kembang anak sejak dini adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat dan negara.
Namun dalam proses tumbuh kembang anak banyak dipengaruhi oleh berbagai factor
baik biologis, psikis, sosial, ekonomi maupun kultural yang menyebabkan tidak
terpenuhinya hak hak anak.
Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi anak telah disahkan Undang - Undang
(UU) Perlindungan Anak yaitu UU No. 23 Tahun 2002 yang bertujuan untuk menjamin
terpenuhinya hak hak anak agar anak dapat hidup, tumbuh berkembang dan
berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang
berkualitas berakhlak mulia dan sejahtera.
Akibat kehilangan hak haknya, banyak anak anak menjalani hidup mereka sendiri.
Oleh karena tidak memiliki arah yang tepat, maka banyak pula anak - anak mulai
bersinggungan dengan hukum. Tindakan yang melawan hukum seperti pencurian,
perkelahian dan narkoba sangat sering dilakukan oleh anak. Hal ini terjadi karena mereka
sudah kehilangan hak-hak yang seharusnya mereka miliki.
Pasal 13 (1) Undang undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
disebutkan setiap anak selama dalam pengasuhan orangtua, wali atau pihak lain yang
bertanggung jawab atas pengasuhan.
Selanjutnya dalam Pasal 11 UU No. 23 tahun 2002 disebutkan pula bahwa setiap anak
berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak sebaya,
bermain, berekreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi
pengembangan diri. Anak adalah pemimpin masa depan siapapun yang berbicara tentang
masa yang akan datang, harus berbicara tentang anak-anak.
Menyiapkan Indonesia kedepan tidak cukup kalau hanya berbicara soal income per
kapita, pertumbuhan ekonomi, nilai investasi, atau indikator makro lainnya. Sesuatu yang
paling dasar adalah sejauh mana kondisi anak disiapkan oleh keluarga, masyarakat dan
negara. Anak anak yang karena ketidakmampuan, ketergantungan dan ketidakmatangan
baik fisik mental maupun intelektualnya perlu mendapat perlindungan, perawatan dan
bimbingan dari orang tua (dewasa).
Perawatan, pengasuhan serta pendidikan anak merupakan kewajiban agama dan
kemanusiaan yang harus dilaksanakan mulai dari orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa
dan negara.
Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan yang senantiasa harus kita jaga karena
dalam dirinya melekat pula harkat, martabat dan hak hak sebagai manusia yang harus
dijunjung tinggi. Dari sisi kehidupan anak adalah masa depan bangsa dan generasi
penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh
dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan
diskriminasi.
Orangtua, keluarga dan masyarakat bertanggungjawab untuk menjaga dan memelihara
hak asasi tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum.
Demikian pula dalam rangka penyelenggaraaan perlindungan anak, negara dan
pemerintah juga bertanggungjawab untuk menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi
anak, terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal.
Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin
dalam kandungan sampai anak berumur 18 tahun.
Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu adanya
peran masyarakat baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga
swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media
massa dan lembaga pendidikan.

2 Rumusan Masalah
1 Apa pengertian dari Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia?
2 Apa Kedudukan Anak Di Indonesia?
3 Apa saja Sistem Pemberian Pelayanan Kesejahteraan Perlindungan Anak di
Indonesia?
4 Apa saja kesejahteraan pengasuhan dan perlindungan anak ?
5 Apa pengertian pengasuhan Anak ?
6 Apa pengertian perlindungan Anak ?
7 Apa Standar Lembaga Pelayanan Pengasuhan Anak ?
8 Apa saja Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan, Pengasuhan dan
Perlindungan Anak ?
9 Apa saja Kebutuhan Balita ?
10 Apa pengertian Anticipatory Guidence ?

3 Tujuan
1 Mengetahui pengertian dari Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia
2 Mengetahui Kedudukan Anak Di Indonesia
3 Mengetahui Sistem Pemberian Pelayanan Kesejahteraan Perlindungan Anak di
Indonesia
4 Mengetahui kesejahteraan pengasuhan dan perlindungan anak
5 Mengetahui pengertian pengasuhan Anak
6 Mengetahui pengertian perlindungan Anak
7 Apa Standar Lembaga Pelayanan Pengasuhan Anak
8 Mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan, Pengasuhan dan
Perlindungan Anak
9 Mengetahui Kebutuhan Balita
10 Mengetahui pengertian Anticipatory Guidence

BAB II
PEMBAHASAN

1 Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia

Indonesia menghadapi masalah serius terkait dengan hak dan kesejahteraan anak-
anak. Hampir setengah dari anak-anak Indonesia berusia antara 13 dan 18 tahun putus
sekolah; hampir tiga juta anak terlibat dalam perburuhan anak berpotensi berbahaya, dan
sekitar 2,5 juta anak Indonesia menjadi korban kekerasan setiap tahun. Lebih dari 80%
anak-anak sedang menjalani proses peradilan berakhir di belakang bar dan jumlah yang
lebih besar adalah tanpa bantuan hukum. Statistik ini menggarisbawahi kebutuhan untuk
mengintensifkan dan memperkuat upaya saat ini untuk meningkatkan perlindungan anak
di Indonesia. 2008 review dari Pemerintah Program Negara Indonesia dan UNICEF
Kerjasama menyoroti hubungan antara kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan anak
dan pengembangan ekonomi nasional yang adil dan berkelanjutan.

Kesenjangan yang signifikan tetap dalam ketersediaan informasi pembangunan


kerangka kebijakan di Indonesia dan aktual, on-the-tanah program di bidang hak-hak
anak dan perlindungan anak. Ada kebutuhan mendesak untuk berpindah dari penyediaan
ad-hoc, responsif, dan donor-driven upaya perlindungan anak ke sistem anak strategis dan
komprehensif perlindungan.

Sistem seperti menggunakan proses standar untuk mengumpulkan data, menggunakan


data tersebut untuk program-program desain, dan alamat keprihatinan perlindungan anak
dalam yang lebih luas sosial, ekonomi, konteks politik dan hukum.

Dalam konteks ini bahwa Columbia University dan Universitas Indonesia, bekerja
sama dengan UNICEF dan Departemen Perencanaan Bahasa Indonesia (BAPPENAS)
mendirikan Universitas berbasis Center of Excellence, Pusat tentang Perlindungan
Anak, yang akan berfungsi sebagai model dari akademisi, pemerintah dan keterlibatan
masyarakat sipil yang memberikan kontribusi untuk sistematisasi dan profesionalisasi
perlindungan anak di Indonesia melalui penelitian, analisis dan evaluasi.

Pusat ini difokuskan pada membangun kapasitas praktisi pemerintah, profesional


muncul, para pemimpin masyarakat sipil dan akademisi. Hal ini bertujuan untuk
mempromosikan seragam, solusi berkelanjutan untuk masalah kompleks yang
mempengaruhi anak-anak, keluarga, dan masyarakat. Selain itu, ia mendorong kolaborasi
dan pertukaran pengetahuan di kawasan Asia / Pasifik.
Negara Indonesia, saat ini sedang mengembangkan kesejahteraan anak dan keluarga
yang fokus pada sistem untuk pencegahan dan merespon semua bentuk bentuk
kekerasan pada anak. Hal ini merupakan refleski pada pendekatan baru pada upaya
perlindungan anak secara internasional.

Kendati negara Indonesia telah mengembangkan sebuah kerangka kerja progresif


untuk hak-hak anak, hanya saja dalam pelaksanaannya kurang mampu berkembang untuk
perlindungan anak. Disisi lain, belum ada mandat secara jelas bagi sebuah lembaga untuk
mengelola pelayanan pencegahan dan merespon masalah-masalah anak terkait dengan
kewenangan dan akuntabilitas untuk melindungi secara legal dan efektif.

Pendekatan dalam penyediaan layanan perlindungan anak berbasis sistem mulai


dikembangkan berbeda dengan pendekatan tradisional yang dijalankan saat ini. Dimana,
dalam pendekatan tradisional dilakukan berdasarkan respon yang berbasis kesejahteraan,
lebih dipimpin oleh NGOs, berorientasi pada kedaruratan, berbasis pada issu (seperti
perdagangan anak; peradilan anak), bekerja berdasarkan jaringan dan bukan sistem; dan
hanya terfokus pada kelompok anak yang termarjinalkan dan rentan, serta layanan
perlindungan anak lebih mengedepankan pada respon atau gejala saja.

Upaya untuk mengadopsi pendekatan membangun sistem ini merupakan upaya


untuk mengkerangkakan kembali sebuah pendekatan pada anak yang membutuhkan atau
beresiko, memikirkan kembali bagaimana membangun strategi untuk perlindungan anak,
mendifinisikan apa itu persekutuan/kemitraan, bagaimana peran, tanggungjawab, serta
memprogramkan kembali intervensi dari masing masing stakeholder diperlindungan
anak.
Kerjakerja yang dilakukan dalam membangun sistem merupakan kerja-kerja yang
komprehensif yang saling terkait satu dengan lainnya atau saling berinteraksi dalam
kondisi yang harmonis dan teratur. Komponen yang saling terkait antara lain adalah
kerangka hukum dan kebijakan yang kuat untuk PA, tersedianya anggaran yang memadai,
koordinasi multi sektoral, sistem layanan pencegahan yang ramah anak dan responsif,
tenaga kerja PA yang profesional, pengawasan dan regulasi, serta data dan informasi yang
kuat tentang isu isu PA.

Dalam sistem perlindungan anak meliputi:

a Pencegahan terhadap kekerasan, penelantaran, perlakukan salah dan eksploitasi yang


direspon secara efektif ketika hal tersebut muncul serta menyediakan layanan yang
dibutuhkan, rehabilitasi dan kompensasi terhadap para korban

b Memperoleh pengetahuan tentang akar penyebab kegagalan pada perlindungan anak


dan sejauhmana mengetahui tentang kekerasan , penelantaran, eksploitasi dan
perlakukan salah terhadap anak disemua kondisi.

c Mengembangkan kebijakan dan regulasi, yang mempengaruhi untuk tindakan


pencegahan dan penanganan, dan bagiamana memastikan perkembangannya.

d Mendorong partisipasi anak baik laki dan perempuan, orang tua, wali dan masyarakat,
international dan nasional NGO serta masyarakat sipil.

Pendekatan Perlindungan Anak Berbasis Sistem

Pendekatan perlindungan anak berbasis sistem sebagai pendekatan yang menekankan


tanggung jawab atau kewajiban dari negara sebagai primary duty bearer dalam
menyediakan layanan untuk pemenuhan hak hak anak dan perlindungan anak
Negara mengakui anak sebagai pemegang hak dan berhak atas perlindungan,
mempromosikan tanggungjawab dan akuntabilitas negara untuk kesejahteraan anak. Fokus
pada pencegahan kekerasan disumber masalahnya, pengembangan sistem kesejahteraan
yang dilaksanakan oleh negara yang komprehensif (bukan jejaring kerja/proyek),
menjangkau semua anak dan fokus pada keluarga dan masyarakat.

Kerja kerja berbasis sistem lebih teroganisir dan bersungguh sungguh, dapat
diprediksi, interaktif dan saling terkait satu sama lainnya.

Sistem perlindungan anak yang efektif mensyarakatkan adanya komponen-komponen


yang saling terkait. Adapun komponen-komponen tersebut meliputi:

a Layanan Kesejahteraan Sosial

Penguatan dan pemberian pelayanan kesejahteraan dan perlindungan anak memerlukan


gambaran yang jelas tentang tugas, tanggung jawab dan proses kelembagaan di setiap
tingkat. Proses dan kriteria pelaporan, penilaian, dan perencanaan intervensi dan
penanganan kasus perlu dipetakan, yang kemudian dilakukan standarisasi dan
disosialisasikan di semua tingkat.

Kapasitas pekerja sosial provinsi, kabupaten, dan masyarakat perlu diperkuat. Tugas
dan tanggung jawab yang baru ditetapkan dan akuntabilitas harus menentukan
kapasitas yang diperlukan di setiap tingkatan.

b Kerangka kerja legal/peraturan perundang-undangan

Kerangka hukum dan peraturan perlu ditingkatkan dan sesuai dengan standard
inernasional.. Kerangka hukum yang menyeluruh dan mengikat diperlukan ditingkat
pusat. Kerangka hukum dan peraturan ditingkat provinsi dan kabupaten harus sejalan
dengan kerangka hukum nasional. Meliputi kerangka hukum dan kebijakan yang
mendukung serta sistem data dan informasi untuk perlindungan anak.

c Perubahan sikap/ perilaku


Di tingkat masyarakat, berbagai komponen tersebut harus disatukan dalam rangkaian
kesatuan pelayanan perlindungan anak yang mendorong kesejahteraan dan
perlindungan anak dan meningkatkan kapasitas keluarga dan masyarakat untuk
memenuhi tanggung jawab mereka. Meliputi, kampanye dan lobby; pemahaman
media; ekspresi pendapat anak; debat nasional; membangun kapasitas, dan lain
sebagainya.

Pelayanan Sosial Melalui Pendekatan Sistem

Rangkaian dari layanan sosial perlindungan anak ditingkat masyarakat dimulai dari
pelayanan pencegahan primer, sekunder sampai layanan penanganan tersier,

Mediasi Keluarga ; Identifikasi dini; Dukungan keuangan Asuhan petirahan (Respite


care)

Kampanye Kesadaran ; Pendidikan, media, Kelompok Pengasuhan


Pencegahan primer bertujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat secara menyeluruh
dalam pengasuhan anak dan memastikan keselamatan mereka.

Meliputi kegiatan yang mengubah sikap dan perilaku, memperkuat ketrampilan orangtua
dan menyadarkan masyarakat tentang dampak yang tidak diinginkan dari kekerasan
terhadap anak.

Pencegahan sekunder atau layanan intervensi dini difokuskan pada keluarga dan anak anak
yang beresiko dilakukan dengan mengubah keadaan sebelum perilaku kekerasan
menimbulkan dampak buruk secara nyata terhadap anak anak misalnya melalui konseling
dan mediasi keluarga serta pemberdayaan ekonomi.
Intervensi tersier menangani situasi dimana anak sudah dalam keadaan krisis sebagai
akibat kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi, penelantaran, atau tindakan-tindakan buruk
lainnya. Oleh karena itu, intervensi ini bertujuan untuk membebaskan anak-anak dari
dampak buruk atau, jika dianggap layak, melakukan pengawasan terstruktur dan
memberikan layanan dukungan. Mekanisme pencegahan dianggap lebih dibandingkan
tepat dibandingkan intervensi tersier atau reaktif.

Semua rangkaian sistem baik tertier, sekunder dan primer harus saling terhubungkan
dalam sebuah rangkaian kesatuan perlindungan bagi anak-anak.

Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Sebagai Pendekatan Berbasis Sistem

Pada pendekatan berbasis sistem lebih mengedepankan porsi terbesar pada layanan primer
(kampanye kesadaran, pendidikan, media, dll). Dimana, hal ini lebih banyak dilakukan
diranah masyarakat hingga menyentuh wilayah keluarga dan anak secara langsung. Anak
dan keluargalah menjadi sasaran utama dalam layanan berbasis sistem ini.

Dalam menyediakan layanan primer, KPAD/KPAD sudah memposisikan diri sebagai


institusi yang dekat dengan masyarakat khususnya di Desa/Kelurahan. KPAD/KPAK
merupakan inisiatif masyarakat sebagai ujung tombak untuk melakukan upaya upaya
pencegahan dengan membangun kesadaran masyarakat dengan tujuan terjadinya
perubahan sikap dan perilaku tentang dampak yang tidak diinginkan dari kekerasan
terhadap anak.

Selain itu, KPAD juga mengupayakan adanya kebijakan dan kertersediaan anggaran di
tingkat desa, membangun peran serta aktif dari anak, masyarakat dan pemerintah secara
bersama sama, serta membangun sistem rujukan ke tingkat kecamatan dan kabupaten.
KPAD/KPAK pun bekerja pada layanan sekunder, seperti melakukan mediasi dan
konsultasi bagi masalah masalah anak yang terjadi dlingkungan mereka tinggal.
Kepercayaan penuh masyarakat kepada KPAD, membuat KPAD harus bertindak demi
kepentingan terbaik anak. Membangun jejaring untuk proses penanganan anak lebih lanjut
kesistem rujukan baik di Tk Kecamatan/ kabupaten.

Sebagian KPAD/KPAK yang tebentuk saat ini sudah menjadi bagian dalam struktur
layanan perlindungan anak di Kecamatan/Kabupaten, yang merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dalam layanan perlindungan anak dari Desa/Kelurahan Kecamatan dan
Kabupaten.

Menilik peran dan fungsi KPAD dengan lebih mengedepankan pada pencegahan, sangatlah
bersinergi pada pendekatan perlindungan anak masa kini dan merupakan bentuk nyata dari
sebuah pendekatan yang berbasis sistem yang langsung menyentuh ranah anak dan
keluarga.

Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia


Kedudukan Anak Menurut KUHPerdata
a Pengertian Anak sah adalah anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah
b Ketentuan Pasal 250 KUHPerdata : Tiap-tiap anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan
sepanjang perkawinan yang sah memperoleh suami ibu dari anak tersebut sebagai
anaknya.
c Ada kemungkinan anak tersebut bukan dibenihkan oleh suami ibu dari anak tersebut.
d Dengan demikian suami ibu tersebut dapat menyangkal keabsahan status anak.

Penyangkalan Anak Oleh Suami Ibu


Harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a Selama 300 hari ditambah 180 hari sebelum kelahiran anak, suami tersebut dalam
keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan suami-istri.
b Jika kelahiran anak hasil hubungan zina si ibu tersebut disembunyikan dari suaminya,
suami tersebut dapat membuktikan bahwa anak yang dilahirkan bukan anaknya. Pasal 253
KUHPerdata
c Kelahiran anak setelah ada keputusan perpisahan meja dan tempat tidur melewati batas
waktu 300 hari. Pasal 254 KUHPerdata

Pembuktian Anak
a Menurut ketentuan pasal 261 KUHPerdata keabsahana seorang anak dibuktikan dengan
akta kelahiran.
b Selain dengan akta kelahiran, pembuktian keabsahan seorang anak adalah dengan akta
perkawinan orang tuanya.
c Dalam hal akta perkawinan tidak ada atau hilang maka kedudukan anak sah tersebut tidak
dapat dibantah jika orang tuanya hidup bersama sebagai layaknya suami istri.

Anak Alam dan Anak Sumbang


a Pengertian anak alam : anak alam adalah anak yang dilahirkan dan dibenihkan di luar
perkawinan oleh seorang pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan dan bukan
dilahirkan oleh mereka yang dilarang untuk melangsungkan perkawinan karena hubungan
darah yang terlalu dekat.
b Pengertian anak sumbang : anak-anak yang dilahirkan dari orang tua yang mempunyai
hubungan darah.
Pengakuan Anak
a Pengertian pengakuan anak adalah pengakuan anak luar kawin yang dilahirkan di luar
perkawinan yang sah.
Pengakuan anak dapat dibedakan menjadi :
1 Pengakuan anak sukarela
2 Pengakuan anak secara terpaksa

Pengakuan anak Secara Sukarela


Ayah atau ibu membuat suatu pernyataan yang berisi pengakuan terhadap anak luar kawin,
dengan demikian berarti ayah/ibu melakukan suatu tindakan pribadi untuk menerima suatu
kewajiban sebagai ayah/ibu sebagai anaknya.

Pengakuan Secara Terpaksa


Hal ini terjadi dengan satu keputusan hakim ditetapkan adanya keturunan dari seorang anak
yang dilahirkan diluar perkawinan dalam suatu proses mengenai penentuan kedudukan
hukum seseorang.

Akibat Hukum Pengakuan Anak


Adalah : bahwa antara orang tua yang mengakui dan anak yang diakui timbul hubungan
hukum sebagai orang tua dan anak.

Pengesahan Anak
Pengertian pengesahan anak adalah suatu upaya hukum dengan mana anak yang diakui
mendapatkan hak yang sama dengan seorang anak yang sah.

Cara Pengesahan Anak


a Dengan dilangsungkannya perkawinan orang tua tersebut
b Dengan jalan surat pengesahan, permohonan pengesahan anak disampaikan kepada
presiden dengan mendengar nasihat dari Mahkamah Agung.

Kedudukan anak Menurut UU Perkawinan


UU perkawinan hanya mengenal 2 golongan anak :
a Anak sah dari kedua orang tuanya
a Pasal 42 UUP, anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat
perkawinan yang sah
b Anak yang hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu yang
melahirkannya.

Penyangkalan Sahnya Anak


a Menurut pasal 44 ayat 1 UUP, memberi hak kepada suami untuk mengajukan sangkalan
atas keabsahan seorang anak yang lahir dari perkawinan, penyangkalan itu hanya dapat
dilakukan dengan alasan zina.

b Cara Penyangkalan anak


Tidak diatur secara terperinci dalam UUP maupun dalam PP No. 9 th 1975 hanya
diserahkan kepada pengadilan untuk menentukan sah atau tidaknya anak.
c Penyangkalan Anak Dapat dilakukan oleh :
1 Oleh suami yang istrinya melahirkan anak yang disangkal
2 Pihak-pihak yang berkepentingan dalam hal ini adalah kerabat, kekeluargaan dari
pihak suami yang mempunyai hubungan darah dengan suami.

2.2 Kedudukan Anak Di Indonesia


Berdasarkan undang-undang no.1 tahun 1974 tentang anak mengatakan bahwa, anak yang
sah adalah anak yang dilahirkan dalam/sebagai akibat perkawinan yang sah. Masuk kepada
substansi tentang nilai anak, ada beberapa substansi mengenai nilai anak di Indonesia, antara
lain:
a Nilai anak dalam hubungannya dengan kebudayaan;
Sangat menentukan dan terkait dengan apakah anak itu semata-mata sebagai pewaris,
penerus nama keluarga, tenaga kerja murah, membantu ekonomi keluarga, jaminan di hari
tua, atau dikehendaki untuk dikasihi orang tuanya sehingga dapat berkembang menjadi
pribadi yang mandiri.

b. Arti atau nilai anak bagi orang tua;


Menurut majalah dharma Wanita 1993 no. 92 halaman 65 menyebutkan bahwa anak
adalah rahmat Allah, amanah Allah, barang gadaian, penguji iman, media beramal, bekal
di akhirat, unsur kebahagiaan, tempat bergantung di hari tua, penyambung cita-cita,
makhluk yang harus dididik.

c Arti lain tentang anak;


Nilai jenis kelamin, bahwa anak itu terdiri dari dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan
perempuan dimana anak laki-laki cenderung mempunyai nilai yang lebih menguntungkan
daripada anak perempuan.

d Anak mempunyai nilai positif dan negatif


Suatu contoh nilai positif anak: melanjutkan garis keturunan, pengikat suami istri,
membina kebahagiaan. Suatu contoh nilai negatif anak: kenakalan anak, biaya
menyekolahkan anak dan lain sebagainya.
Terkait dengan nilai anak tersebut di atas tentu tidak akan lepas dan akan saling terkait
dengan angkastatistik dan masalah kependudukan di Indonesia. Beberapa masalah
kependudukan yang ada di Indonesiaantara lain:
a Jumlah penduduknya besar
b Pertumbuhan penduduk yang cepat
c Penyebaran penduduk yang tidak merata
d Komposisi penduduknya kurang menguntungkan
e Mobilitas penduduknya rendah

Indeks kependudukan merupakan sebuah gambaran mengenai kependudukan di suatu negara.


Indeks kependudukan suatu negara dapat dipahami dengan menganalisis struktur penduduk
dan komposisinya.

Menurut strukturnya, penduduk dibagi ke dalam tiga (3) kelompok, yaitu sebagai berikut:
a Anak-anak, yaitu struktur penduduk dengan rentang usia 0 14 tahun atau bisa disebut
usia belum produktif
b Dewasa, yaitu struktur penduduk dengan rentang usia 15 64 tahun atau disebut dengan
usia produktif
c Usia lanjut (manula), yaitu struktur penduduk dengan usia 65 tahun ke atas disebut usia
tidak produktif

3 Sistem Pemberian Pelayanan Kesejahteraan Perlindungan Anak Di Indonesia


Kesejahteraan dan perlindungan anak di Indonesia telah diatur oleh berbagai
kebijakan dan program, antara lain mulai dari Undang Undang Dasar 1945, dimana
anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara. Undang Undang Republik
Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak telah mengatur tentang
hak anak yaitu anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan
berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun dalam asuhan khusus
untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar, dan tanggung jawab orangtua yaitu
bahwa orangtua bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak.

Pada tahun 1990 Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA)
melalui Keppres 36/1990 pada tanggal 25 Agustus 1990 dimana substansi inti
dari KHA adalah adanya hak asasi yang dimiliki anak dan ada tanggung jawab
Negara-Pemerintah-Masyarakat-dan Orangtua untuk kepentingan terbaik bagi
anak agar meningkatnya efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak secara
optimal. Kemudian KHA dikuatkan dengan terbitnya Undang Undang Nomor 23
Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang mengatur tentang Hak dan
Kewajiban Anak, serta kewajiban dan tanggug jawab negara, pemerintah,
masyarakat, keluarga, dan orangtua.
Di samping itu juga diatur tentang kuasa asuh, perwalian, pengasuhan dan
pengangkatan anak, serta penyelenggaraan perlindungan.

Permasalahan anak telah direspon oleh berbagai Kementerian/ Lembaga


terkait, antara lain Kementerian Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, Kesehatan, Pendidikan, Agama, Dalam Negeri, Tenaga Kerja, Hukum dan
HAM, Kepolisian, Pengadilan Negeri, Lembaga donor dan lembaga kesejahteraan
social di tingkat nasional maupun wilayah. Di lingkup Kementerian Sosial
(selanjutnya disebut Kemensos) untuk mempercepat penanganan masalah sosial
anak, pada tahun 2009 Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak mulai mengembangkan
Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) melalui kegiatan uji coba penanganan
anak jalanan di lima wilayah yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, Sulawesi
Selatan, dan Yogyakarta. PKSA dikuatkan melalui kebijakan pemerintah yaitu
keluarnya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Percepatan Pelaksanaan
Prioritas Pembangunan Nasional, dimana diperlukan penyempurnaan program
bantuan sosial berbasis keluarga khususnya bidang kesejahteraan sosial anak balita
terlantar, anak terlantar, anak jalanan, anak dengan disabilitas, anak yang berhadapan
dengan hukum, dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Selanjutnya
PKSA dikuatkan lagi dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 Tentang
Program Pembangunan yang Berkeadilan, yang menetapkan PKSA sebagai program
prioritas nasional yang meliputi PKSA Balita, PKSA Terlantar, PKS-Anak Jalanan,
PKS-Anak yang Berhadapan dengan Hukum, PKS-Anak Dengan Kecacatan, dan
PKS-Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus.

Sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden, telah ditetapkan Keputusan


Menteri Sosial RI Nomor 15A/HUK/2010 Tentang Panduan Umum Program
Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA), dan untuk operasionalisasi PKSA telah
diterbitkan Pedoman Operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA)
melalui Keputusan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Nomor: 29/RS-KSA/2011
Tentang Pedoman Operasional PKSA. Mulai tahun 2010, layanan PKSA telah
diperluas jangkauan target sasaran maupun wilayahnya. PKSA dikembangkan
dengan perspektif jangka panjang sekaligus untuk menegaskan komitmen
Kementerian Sosial untuk merespon tantangan dan upaya mewujudkan
kesejahteraan sosial anak yang berbasis hak. Perwujudan dari kesungguhan
Kementerian Sosial mendorong perubahan paradigma dalam pengasuhan,
peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan tanggung jawab orangtua/
keluarga, dan perlindungan anak yang bertumpu pada keluarga dan masyarakat,
serta mekanisme pemenuhan kebutuhan dasar anak yang dapat merespon
keberagaman kebutuhan melalui tabungan.

PKSA merupakan respon sistemik dalam perlindungan anak, termasuk


memberikan penekanan pada upaya pencegahan melalui lima komponen
program yaitu: 1) pemenuhan kebutuhan dasar, 2) aksesibilitas terhadap
pelayanan sosial dasar, 3) pengembangan potensi dan kreativitas anak, 4) penguatan
tanggung jawab orangtua, dan 5) penguatan lembaga kesejahteraan sosial anak.
Secara konseptual PKSA lebih komprehensif dan berkelanjutan dibandingkan
program pelayanan sosial anak pada tahun-tahun sebelumnya karena sudah
berdasarkan pendekatan kepada anak, orangtua atau keluarga (family base care), dan
kepada masyarakat yaitu lembaga kesejahteraan sosial yang khusus menangani anak
(LKSA).
Sebelumnya, pengasuhan anak dan masalah-masalah perlindungan anak hanya
difokuskan pada anak. Keluarga dan masyarakat belum banyak disentuh. Misalnya
penanganan anak terlantar, anak jalanan, anak berhadapan dengan hukum lebih
banyak diserahkan ke lembaga atau panti sosial dimana di dalam penanganannya
orangtua atau keluarga pengganti kurang dilibatkan. Anak lebih banyak dicabut dari
lingkungan keluarga. Isu ini dipertegas dengan banyaknya jumlah panti asuhan.
Hasil penelitian Save the Children, Depsos RI dan Unicef, 2007,
memperkirakan terdapat 5.250 hingga 8.610 panti asuhan seluruh Indonesia atau
terdapat 225.750 hingga 315.000 anak jika jumlah panti sebanyak 5.250 dan
370.230 hingga 516.600 anak jika jumlah panti 8.610. Walaupun orangtua
mereka masih lengkap, karena faktor kemiskinan dan agar anak dapat terpenuhi
kebutuhan dasar serta memperoleh layanan sosial dasar (pendidikan dan
kesehatan) mereka memasukkan anaknya ke panti asuhan.
Pada tahun 2011 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
bekerjasama dengan Pusat Kajian Perlindungan Anak Universitas Indonesia, dan
Bank Dunia telah melakukan kajian yang berfokus pada PKSA yaitu menganalisis
proses pelaksanaan program serta kontribusinya terhadap pengembangan
pendekatan perlindungan. Hasil kajian tersebut menunjukkan antara lain : PKSA
memberikan manfaat yang sangat berharga kepada mereka yang membutuhkan,
meskipun pelaksanaan program tersebut masih memiliki banyak kekurangan. Dari
hasil penelitian ini juga terungkap bahwa pelaksana PKSA belum memiliki data dasar
untuk mengukur keberhasilannya sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan yaitu:
a Jumlah anak terlantar (termasuk anak balita), anak jalanan, anak- anak berhadapan
dengan hukum, anak-anak penyandang cacat, dan anak-anak yang membutuhkan
perlindungan khusus yang mampu mengakses layanan dasar meningkat.
b Persentase orangtua atau keluarga yang bertanggung jawab dalam perawatan dan
perlindungan anak meningkat.
c Jumlah anak yang mengalami masalah sosial menurun.
d Jumlah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan jasa perlindungan bagi
anak-anak meningkat.
e Jumlah pelayanan yang diberikan LKSA (Lembaga Pelaksana PKSA) meningkat.
f Jumlah pekerja sosial, tenaga kesejahteraan sosial dan relawan sosial di bidang
kesejahteraan sosial meningkat.
g Jumlah kerangka hukum yang mengatur perawatan dan perlindungan anak sebagai
dasar hukum PKSA bertambah. Hasil penelitian ini mengharapkan KEMENSOS dan
BAPPENAS harus bekerja dengan lebih terstruktur untuk mempromosikan integrasi
perlindungan anak dalam kebijakan Negara di bidang sosial ekonomi. Untuk itu
diperlukan suatu pengkajian dan bukti yang dapat membantu pengembangan sistem
kesejahteraan, pengasuhan, dan perlindungan anak.

Sehubungan dengan masih adanya permasalahan dalam implementasi kebijakan


kesejahteraan, pengasuhan, danperlindungan anak khususnya dalam pelaksanaan
PKSA, maka Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial memandang
perlu melakukan penelitian kebijakan ini. Diharapkan hasil penelitian ini dapat
memberikan bukti terbaik dalam mendukung pengembangan kebijakan,
memperjuangkan penyusunan peraturan yang memadai, berpusat pada anak, keluarga,
dan masyarakat serta non diskriminatif.
Walaupun sudah banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk
kesejahteraan, pengasuhan dan perlindungan anak mulai dari Undang-Undang
Dasar, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Instruksi Presiden sampai dengan
Keputusan Menteri, namun dalam implementasinya belum didukung oleh sumber
daya manusia (SDM), anggaran, sarana dan prasarana serta sistem yang memadai,
sehingga masih banyak bermunculan permasalahan pemenuhan hak-hak dan
perlindungan anak. Pada 2011 jumlah Anak Balita Terlantar 1.224.168 jiwa atau
sekitar 5,77 persen dari 21,22 juta jiwa anak Balita, Anak Terlantar 3.115.777 jiwa
atau 5,36 persen dari 58,17 juta jiwa anak usia 5-17 tahun (Kementerian Sosial RI
Dalam Angka 2012), dan anak dengan disabilitas pada tahun 2009 berjumlah
438,39 ribu jiwa atau 0,55 persen dari jumlah seluruh anak (Profil PMKS, 2011).
Disamping permasalahan konvensional tersebut, saat ini banyak muncul
permasalahan kontemporer seperti anak dengan narkoba atau HIV/AIDS yang
belum terakomodir dalam substasi peraturan perundang-undangan. Jumlahnyapun
belum terdata secara regular oleh Badan Pusat Statistik (BPS), tetapi tergantung
dari pelaporan keluarga ataupun masyarakat.

4 Kesejahteraan, Pengasuhan dan Perlindungan Anak


Kesejahteraan, pengasuhan dan perlindungan anak adalah tiga
konsep yang tidak terpisahkan dimana untuk mencapai
kesejahteraan, anak membutuhkan pengasuhan dan perlindungan.
Bab ini menguraikan tentang ketiga konsep tersebut dan faktor-
faktor yang mempengaruhinya.

A Kesejahteraan Anak
Sebagaimana diuraikan dalam Child and Family Services Review process, ada tiga
variabel kesejahteraan. Tiga variabel kesejahteraan dikonseptualisasikan dalam
kerangka berikut yaitu : Pertama, kesejahteraan dalam arti keluarga memiliki
peningkatan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Konsep ini
mencakup pertimbangan kebutuhan dan pelayanan kepada anak- anak, orangtua,
dan orangtua asuh serta keterlibatan anak-anak, remaja, dan keluarga dalam
perencanaan pemecahan masalah. Dalam hal ini kunjungan pekerja sosial dengan
anak-anak dan orangtua merupakan hal yang penting, karena hasil penelitian pada
52 negara bagian dan teritori telah menemukan hubungan yang kuat dan positif
yang signifikan secara statistik antara kunjungan petugas sosial dengan anak-anak
dan hasil keselamatan dan/kesejahteraan anak. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Biro Anak, ada nilai "kekuatan" untuk kunjungan petugas sosial dengan anak
yang berkaitan secara bermakna dengan nilai pencapaian substansial untuk
peringkat kelima dari tujuh hasil (www.acf.hhs.gov/program/ cb, diambil September
28, 2004). Kedua, kesejahteraan dalam arti: anak-anak dan remaja menerima
layanan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka. Ketiga,
kesejahteraan dalam arti: anak-anak dan remaja menerima pelayanan yang memadai
untuk memenuhi kebutuhan fisik dan kesehatan mental
mereka. (CHILD WELFARE, For The Twenty-First Century, 2005) Dalam
kenyataannya, yang pertama adalah yang paling umum dan paling luas cakupannya.

Menurut Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979, diamanatkan bahwa Kesejahteraan


anak adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin
pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani,
maupun sosial.

5 Pengasuhan Anak
Pengasuhan adalah sebuah proses mengasuh, merawat, membimbing, dan
mendukung anak baik secara fisik, sosial, intelektual, dan beragam aspek
perkembangan lainnya. Sebesar apa sense of giving pelaku pengasuhan menjadi
kunci yang akan menentukan kualitas proses pengasuhan yang didapatkan anak
(Goldenline, STIF in Padang, 10_12_2013). Anak merupakan anugerah yang tidak
dapat dinilai oleh apapun bagi pasangan suami isteri yang membentuk dalam suatu
keluarga. Karena tidak setiap pasangan suami isteri diberikan keturunan berupa
anak. Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini harus mendapatkan kehidupan yang
layak. Sampai seorang Aristoteles, mengatakan bahwa anak layaknya bagian
tubuh orangtuanya, oleh sebab itu orangtua memiliki hak atas pengasuhan
anaknya. Pendapat senada juga dikemukakan oleh John Lock, yang mengatakan
anak diproduksi atas jerih payah orangtua, oleh sebab itu orangtua punya hak
atas pengasuhan anaknya. Bahkan menurut teori property dikatakan, bahwa anak
adalah milik orangtua. Oleh karena itu, anak wajib diasuh dengan sebaik-baiknya
agar dapat tumbuh dan berkembang dengan semestinya.
Menurut Mohamad Afrizal, pengasuhan anak merupakan salah satu faktor yang
menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada masa kritis
yaitu usia 0-8 tahun. Kehilangan pengasuhan yang baik, misalnya perceraian,
kehilangan orangtua, baik untuk sementara maupun selamanya, bencana alam
dan berbagai hal yang bersifat traumatis lainnya sangat mempengaruhi
kesehatan fisik dan psikologisnya. Dengan demikian, kehilangan atau berpisah
dari keluarga ini akan meningkatkan risiko kesehatan, perkembangan, dan
kesejahteraan anak secara keseluruhan. Risiko ini akan meningkat, apabila
kehilangan ini terjadi dalam masa kritis pertumbuhan anak, yaitu masa awal
kanak-kanak. Akibat bencana alam, perang, perceraian, kematian orangtua dan
anggota keluarga lainnya, dan kelahiran tak dikehendaki seorang anak dapat
mengalami kesulitan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya.

Lebih lanjut dikatakan dengan mengacu kepada konsep dasar tumbuh kembang,
maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari lingkungan agar
kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang (asah, asih, dan asuh)
terpenuhi dengan baik dan benar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang
secara optimal. Akan tetapi, praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik
ini berjalan secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa
disadari dan tanpa disengaja serta lebih diwujudkan oleh suasana emosi rumah
tangga sehari-hari yang terjadi dalam bentuk interaksi antara orangtua dan
anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian hubungan inter dan
intra personal orang-orang di sekitar anak tersebut dan anak itu sendiri sangat
memberi warna pada praktik pengasuhan anak.

Menurut Sunarwati dalam Mohamad Afrizal (2007), pengasuhan anak oleh


substitusi ibu, baik yang paruh waktu (misalnya di tempat penitipan anak)
maupun yang punya waktu (misalnya oleh pramusiwi) harus selalu
memperhatikan hal-hal tersebut di atas yaitu pada dasarnya agar prinsip asah,
asih, dan asuh didapatkan anak dengan baik dan benar. Oleh karena itu, dalam
pengasuhan anak ada empat hal yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap anak
membutuhkan orangtua, dan tumbuh secara alamiah dengan saudara
kandung yang dimilikinya, di dalam rumah mereka sendiri, dan di dalam
lingkungan yang mendukungnya (http://mohamadafrizal.
wordpress.com/paud/pengasuhan-anak/, diunduh 10_12_2013).

6 Perlindungan Anak
Di Indonesia, Perlindungan Anak diatur dalam Undang Undang Nomor 23
Tahun 2002 yaitu segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan
hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara
optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Sedangkan Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada


anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari
kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi
dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
(napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban
kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak
korban perlakuan salah dan penelantaran.

Azas dan Tujuan Perlindungan Anak


Penyelenggaraan perlindungan anak berazaskan Pancasila dan berlandaskan
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip
dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi: non diskriminasi; kepentingan yang
terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan
perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak. Perlindungan anak
bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi
terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.
Sejalan dengan tujuan tersebut, maka hakekat perlindungan anak Indonesia adalah
perlindungan keberlanjutan, karena merekalah yang akan mengambil alih peran dan
perjuangan mewujudkan cita- cita dan tujuan bangsa Indonesia. Negara,
pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orangtua berkewajiban dan bertanggung
jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

7 Standar Pelayanan Lembaga Pengasuhan Anak


Layanan Perlindungan Anak (Child Protective Services/ CPS)
Program layanan perlindungan anak ( CPS) merupakan program inti di semua
lembaga kesejahteraan anak yang mengupayakan keselamatan anak bekerjasama
dengan lembaga masyarakat. Lebih luas, CPS mengacu pada perangkat hukum
yang sangat khusus, mekanisme pendanaan, respon lembaga bersama pemerintah
untuk melaporkan penyalahgunaan dan penelantaran anak (Waldfogel, 1999).
Dasar program CPS berasal dari hukum yang dibentuk di setiap negara yang
mendefinisikan kekerasan dan penelantaran anak serta menentukan bagaimana
lembaga CPS harus menanggapi laporan penganiayaan anak. Pekerja sosial di
lembaga-lembaga CPS memiliki tanggung jawab untuk mengatasi efek dari
penganiayaan, menerapkan respon layanan yang akan menjaga anak-anak dan
remaja aman dari penyalahgunaan dan penelantaran, serta bekerjasama dengan
keluarga untuk mencegah kemungkinan terjadinya penganiayaan di masa yang
akan datang (Depanfilis & Salus 2003, Departemen Kesehatan dan Layanan
Manusia US, 1988).

Dalam mendukung kesejahteraan anak dan remaja para penulis (Altman; Cohen,
Hornsby, and Priester; Kemp, Allen- Eckard, Ackroyd, Becker, and Burke; and
Chahine and Higgins) dalam tulisannya Systemic Issues in Child Welfare, fokus pada
beberapa faktor kunci dalam bekerja dengan keluarga yaitu melibatkan anak dan
remaja, keluarga dan masyarakat dalam proses asesmen melalui konfrensi tim.
Filosofi layanan perlindungan anak menurut De Panfilis dan Salus 2003, Lembaga
Layanan Perlindungan Anak bekerja berdasarkan keyakinan filosofis bahwa
setiap anak memiliki hak untuk pengasuhan dan pengawasan yang memadai dan
bebas dari penyalahgunaan, penelantaran, dan eksploitasi. Hukum melindungi
anak-anak dan remaja, menganggap bahwa itu adalah tanggung jawab orangtua
untuk memperhatikan kebutuhan fisik, mental, emosional, dan kesehatan anak-
anak mereka terpenuhi secara memadai.

Asumsi lainnya adalah bahwa Layanan Perlindungan Anak harus campur tangan
ketika orangtua meminta bantuan atau gagal, atau lalai dalam memenuhi
kebutuhan dasar anak-anak mereka dan menjaga mereka agar aman dari
penyalahgunaan atau penelantaran, seperti yang didefinisikan oleh undang-
undang negara sipil (Gerald P. Mallon and Peg Mc Cartt Hess, 2005).

Penyalahgunaan dan Penelantaran Anak


Penelantaran dapat didefinisikan sebagai kelalaian dalam pengasuhan oleh orang
yang bertanggung jawab (misalnya, orangtua atau pengasuh lainnya), yang
mengakibatkan kerugians ignifikan atau risiko bahaya yang signifikan terhadap
anak dan remaja (Dubowitz, 2000). Penelantaran lebih lanjut dapat didefinisikan
sebagai kegagalan untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak dalam perawatan
fisik, pengawasan, dan perlindungan, pemeliharaan, pendidikan, dan kesehatan.

Kekerasan fisik dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang ditimbulkan oleh
orang yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak atau remaja itu, yang
mengakibatkan cedera fisik yang signifikan atau risiko cedera tersebut (Dubowitz,
2000). Contoh tindakan yang ditimbulkan termasuk meninju, memukul,
menendang, menggigit, mengguncangkan, melempar, menusuk, mencekik,
membakar, atau memukul dengan tangan, tongkat, tali, atau benda lain (Goldman &
Salus, 2003).

Pelecehan seksual dapat didefinisikan sebagai tindakan seksual tanpa kesepakatan,


motivasi perilaku seksual yang melibatkan anak dan remaja, atau eksploitasi seksual
terhadap anak (Berliner, 2000) oleh orang yang bertanggung jawab atas
pengasuhan anak. Pelecehan seksual anak termasuk perilaku yang lebih luas,
seperti oral, anal penetrasi penis, atau alat kelamin, digital anal atau genital atau
penetrasi lain, kontak kelamin dengan non intrusi, cumbuan payudara anak atau
pantat, penampilan senonoh, supervisi yang tidak memadai atau tidak dari
kegiatan sukarela seksual anak, dan penggunaan anak atau remaja dalam
prostitusi, pornografi, kejahatan internet, atau kegiatan seksual eksploitatif lainnya
(Goldman & Salus, 2003).

Penganiayaan psikologis dapat didefinisikan sebagai pola berulang dari perilaku


atau kejadian ekstrim oleh orang yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak
yang menyampaikan kepada anak bahwa ia tidak berharga, cacat, tidak dicintai,
tidak diinginkan, terancam, atau hanya bernilai jika menemukan orang lain yang
membutuhkan, oleh orang yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak
(Masyarakat profesional Amerika tentang Penyalahgunaan Anak, 1995).
Penganiayaan psikologis meliputi baik tindakan pelecehan terhadap anak atau
remaja dan kelalaian dalam pengasuhan. Bentuk penganiayaan psikologis termasuk
penolakan secara angkuh (misalnya, perilaku bermusuhan menolak dan
merendahkan); teror (misalnya, ancaman untuk menyakiti anak atau seseorang
yang penting untuk anak), mengeksploitasi atau merusak (misalnya, mendorong
anak atau remaja untuk berpartisipasi dalam merusak diri sendiri atau perilaku
kriminal); menyangkal respon emosional (misalnya, mengabaikan atau gagal untuk
mengekspresikan kasih sayang), dan mengisolasi (misalnya, membatasi anak
mendapatkan pengalaman sesuai dengan tahapan perkembangan) (Brassard & Hart,
2000).

Tahapan proses Layanan Perlindungan Anak


Untuk memenuhi tujuan perlindungan anak, CPS menerima laporan penganiayaan
anak yang dicurigai, menilai risiko dan keamanan anak-anak dan remaja, dan
menyediakan atau mengatur layanan untuk meningkatkan keamanan, kestabilan dan
kesejahteraan anak-anak dan remaja yang telah disalahgunakan atau diabaikan atau
yang beresiko disalahgunakan atau ditelantarkan. Setiap penanganan masalah
dilakukan melalui satu atau lebih rangkaian tahapan proses CPS yaitu: (1)
penerimaan, (2) asesmen awal/investigasi, (3) penilaian keluarga, (4) perencanaan
intervensi, (5) penyediaan layanan, (6) Evaluasi kemajuan kasus, dan (7) penutupan
kasus. Keputusan kunci bervariasi pada masing-masing tahapan proses (De Panfilis
& Salus, 2003).

Intake (penerimaan)
CPS bertanggung jawab untuk menerima dan menanggapi laporan pelecehan
dan penelantaran anak yang dicurigai. Keputusan kunci pada tahap ini adalah:
(1) menentukan apakah informasi yang dilaporkan sesuai kriteria yang ada
dalam pedoman lembaga untuk penganiayaan anak yang didasarkan hasil
kontak tatap-muka dengan anak atau remaja dan keluarganya dan (2) untuk
menentukan urgensinya, lembaga harus menanggapi laporan tersebut. Petugas
penerimaan mewawancarai orang yang menelepon tentang laporan pelecehan
atau penelantaran anak yang dicurigai untuk membuat keputusan.

Asesmen awal
Setelah menerima laporan, CPS melakukan penilaian awal/ penyelidikan
dengan mewawancarai anak atau remaja, saudara, orangtua atau pengasuh
lainnya, dan individu lain yang mungkin memiliki informasi mengenai dugaan
penganiayaan. Jika informasi menunjukkan bahwa kejahatan mungkin telah
dilakukan, kontak- kontak dengan CPS biasanya dikoordinasikan dengan
penegak hukum. Dua penilaian utama yang dilakukan pada tahap ini adalah
penilaian terhadap keselamatan anak (misalnya, apakah ada risiko besar akan
kerusakan parah) dan penilaian risiko penganiayaan (yaitu, kemungkinan
penganiayaan anak di masa depan).

Keputusan kunci pada tahap ini adalah untuk menentukan: (1) apakah
penganiayaan anak terjadi seperti yang didefinisikan oleh hukum negara, (2)
apakah kelangsungan keselamatran anak atau pemuda mengkhawatirkan dan,
jika demikian, intervensi yang akan dilakukan untuk menjamin perlindungan
anak, (3) apakah ada risiko penganiayaan masa depan dan tingkat resikonya,
dan (4) apakah jasa keagenan terus diperlukan untuk membantu keluarga
menjaga keamanan anak, mengurangi risiko penganiayaan di masa depan, dan
mengatasi efek penganiayaan anak. Beberapa kasus ditutup pada tahap ini jika
tidak ada dasar untuk memberikan layanan kepada anak atau remaja dan
keluarga.

Asesmen keluarga
Asesmen keluarga adalah suatu proses yang komprehensif untuk mengidentifikasi,
mengingat, dan mencari faktor yang mempengaruhi keselamatan, kestabilan dan
kesejahteraan anak atau remaja. Tujuan dari asesmen ini adalah untuk
mengembangkan kemitraan dengan keluarga, rencana pelayanan yang diperlukan
untuk menjamin keselamatan, kestabilan, dan kesejahteraan anak (Department
Kesehatan dan Layanan Manusia US, 2000). Pada tahap ini, pekerja CPS
melibatkan anggota keluarga dalam proses untuk memahami kekuatan, risiko, dan
kebutuhan intervensi.
Keputusan kunci pada tahap ini adalah untuk menentukan: (1) faktor risiko
yang menyebabkan kekhawatiran bahwa anak dapat dianiaya di masa depan, (2)
faktor-faktorprotektif atau kekuatanyang dapat mengurangi kemungkinan
penganiayaan masa depan, (3) efek penganiayaan yang diamati pada anak
dan/atau anggota keluarga lainnya, dan (4) tingkat motivasi atau kesiapan
anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam intervensi yang akan mengurangi
risiko penganiayaan dan mengatasi efek penganiayaan.

Rencana Intervensi
Untuk mencapai hasil program CPS yaitu, keselamatan, kestabilan, dan
kesejahteraan anak, serta keluarga, intervensi harus direncanakan dan bertujuan.
Hasil ini dicapai melalui tiga jenis rencana: (1) rencana keselamatan, yang
dikembangkan berdasarkan bahwa anak berada pada risiko kerusakan parah dalam
waktu dekat, (2) rencana kasus, yang mengikuti asesmen keluarga dan menetapkan
hasil dan tujuan dan menjelaskan bagaimana keluarga bekerja menuju hasil
tersebut, dan (3) jika seorang anak atau remaja telah ditempatkan dalam
pengasuhan luar rumah (out-of- home care), dalam waktu bersamaan disusun
rencana kasus dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk alternatif bagaimana
penyatuan kembali atau keajekan dengan orangtua baru dapat tercapai jika usaha
untuk menyatukan kembali gagal.

Keputusan penting pada tahap perencanaan kasus adalah untuk menentukan: (1)
hasil kasus yang menjadi target intervensi (misalnya, fungsi keluarga
ditingkatkan, mengontrol perilaku emosi, meningkatkan harga diri, meningkatkan
interaksi orangtua-anak), (2) tujuan kasus yang akan membantu anggota
keluarga berhasil, (3) intervensi terbaik yang mendukung pencapaian tujuan-
tujuan dan hasil, dan (4) penyedia terbaik intervensi.

Penyediaan layanan
Tahap di mana rencana kasus diimplementasikan. Pada tahap ini peran pekerja
CPS adalah untuk mengatur, memberikan, dan/atau mengkoordinasikan
pelayanan kepada anak-anak yang teraniaya, orangtua atau pengasuh lainnya,
serta keluarga. Pelayanan selektif untuk membantu keluarga mencapai manfaat
dan tujuan berdasarkan kesesuaian pelayanan dengan tujuan dan prinsip-prinsip
praktak terbaik. Keputusan penting pada tahap ini meliputi:
a mengidentifikasi layanan khusus yang akan diberikan dan intensitas serta
durasi pelayanan,
b menentukan siapa yang terbaik diposisikan untuk memberikan layanan ini,
c menentukan interval yang tepat untuk mengevaluasi kemajuan keluarga

d menetapkan mekanisme untuk mengkoordinasikan para penyedia layanan


(misalnya, mengembangkan berbagi informasi, jadwal pertemuan tim).

Evaluasi kemajuan
Penilaian adalah proses yang berkelanjutan yang dimulai dengan kontak dengan
klien dan berlanjut sepanjang penanganan kasus. Kemajuan pencapaian hasil
dan tujuan harus dievaluasi secara resmi setidaknya setiap 3 bulan. Keputusan
kunci yang harus dibuat selama tahap proses ini mencakup penilaian:
a status keamanan anak atau remaja saat ini,
b tingkat pencapaian manfaat keluarga,
c tingkat pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas sesuai rencana kasus,
d perubahan risiko dan faktor perlindungan yang telah diidentifikasi, dan
e tingkat keberhasilan dalam mengatasi salah satu dari efek penganiayaan pada
anak atau remaja dan anggota keluarga lainnya.

Penutupan kasus
Proses mengakhiri hubungan antara pekerja CPS dan keluarga dengan
melibatkannya dalam proses penilaian kemajuan kasus sejak dari awal, tengah,
dan akhir. Secara optimal kasus ditutup ketika keluarga telah mencapai manfaat
dan tujuan mereka, yaitu anak- anak atau remaja aman, dan risiko penganiayaan
telah dikurangi atau dihilangkan. Kasus kadang-kadang ditutup, namun keluarga
masih membutuhkan bantuan. Bila kebutuhan masih jelas, upaya lain dilakukan
untuk membantu keluarga menerima layanan melalui lembaga masyarakat yang
sesuai. Untuk mengukur keberhasilan perlindungan anak menurut ASFA (1997)
lembaga CPS merancang pengukuran pencapaian hasil program perlindungan
anak yaitu:
a anak dan remaja dalam keadaan aman,
b anak dan remaja stabil hidup dalam keluarga,
c anak dan remaja sejahtera, dan
d keluarga sejahtera (Courtney, 2000).

8 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan, Pengasuhan dan


Perlindungan Anak
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesejahteraan, pengasuhan dan
perlindungan anak antara lain : pelaksanaan peran dan fungsi keluarga atau keluarga
pengganti, dan keberfungsian lembaga perlindungan anak dan penerapan sanksi
terhadap pelaku perlakuan salah terhadap anak. Setiap keluarga memiliki sejumlah
peranan yang mesti dilaksanakan. Menurut Jhonson (1988), peranan keluarga
menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang
berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam
keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku keluarga, kelompok dan
masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai
berikut:
a Ayah sebagai suami dan ayah dari anak-anak, berperan sebagai pencari naThah,
pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai
anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya.
b Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, mempunyai peranan untuk mengurus
rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan
sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota
masyarakat dari lingkungannya, disamping itu ibu juga dapat berperan sebagai
pencari naThah tambahan dalam keluarganya.
c Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat
perkembangannya, baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Selain memiliki peranan, setiap keluarga juga memiliki sejumlah fungsi yang mesti
dilaksanakan. Menurut Zastrow (1999), beberapa fungsi keluarga, yaitu:
a Replacement of the population. Replacement yang berarti adanya fungsi
regenerasi.
b Care of the young, yang berarti pengasuhan dan perawatan, sampai anak
memasuki usia remaja. Dalam posisi seperti ini keluarga merupakan meta
institusi di dalam kehidupan anak.
c Sosialization of new members, fungsi untuk mensosialisasikan nilai-nilai
budaya, norma, bahasa, dan lain-lain kepada anggota keluarga.
d Regulation of Sosial behavior, fungsi pengaturan perilaku sosial. Kegagalan
pengaturan perilaku sosial akan menghasilkan ketidakcocokan dengan harapan
yang diinginkan.
e Source of affection. Fungsi untuk memberikan kasih sayang, cinta yang tulus
kepada semua anggota keluarga. Bilamana hal ini mengalami kegagalan, maka
keluarga akan menjadi kurang harmonis.

Berdasarkan uraian tentang konsep kesejahteraan, pengasuhan dan


perlindungan anak dan remaja sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dalam
merumuskankan kebijakan, pelaksanaan program dan kegiatan kesejahteraan,
pengasuhan dan perlindungan anak seyogyanya memperhatikan kaidah-kaidah
dari konsep tersebut.

2.9 Kebutuhan Balita


a. Kebutuhan Fasilitas Balita
Pelayanan sosial yang harus diberikan oleh sebuah Dinas Sosial anak dan balita adalah
pelayanan pengasuhan di dinas tersebut. Menurut salah seorang ahli psikologi
perkembangan yaitu Erik Erikson (2001: 76), kebutuhan dasar anak pada masa bayi (baru
lahir) sampai dengan kurang lebih 1 tahun adalah kebutuhan yang bersifat biologis dan
psikologis. Kebutuhan biologis, seperti makan, minum, pakaian, dan segala urusan
pencernaan. Kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan rasa aman, merasa diri dicintai
dan diperhatikan, dan kebutuhan untuk dilindungi. Untuk itu lanjut Erikson, diperlukan
figur orang tua dan pola pengasuhan yang konstan dan stabil sehingga sang anak bisa
mempercayai dan meyakini bahwa orang tuanya selalu siap menanggapi
kebutuhannya.Untuk itu, Dinas sosial harus memberikan pelayanan dalam rangka
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fasilitas makanan, pakaian, dan perlengkapan bermain
untuk menunjang perkembangan harus maksimal pemenuhannya. Termasuk dalam
pelayanan perlindungan seperti fasilitas ruang tidur, ruang bermain, fasilitas
perkembangan anak, dan akses mendapatkan pendidikan, serta kesehatan.

b. Kebutuhan Makanan Balita


Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan yang penting dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan bayi dan balita. Menurut Aziz A. Hidayat, 2005, terpenuhinya kebutuhan
nutrisi pada bayi adan anak diharapkan anak dapat tumbuh dengan cepat sesuai dengan
usia tumbuh kembang dan dapat meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan menurut
Marzuki Iskandar (2005: 119) seoarang ahli gizi balita, kunci asupan zat gizi balita yang
baik adalah makanan yang sehat dan bervariasi, mengandung karbohidrat,
protein,vitamin, dan mineral. Jadi, dalam mendukung tumbuh kembang balita, makanan
yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan balita. Makanan dan zat-zat yang
diperlukan oleh tubuh yang berhubungan dengan kesehatan balita adalah:

1 Makanan bayi usia 0-4 bln


Pertumbuhan dan perkembangan bayi masih berlangsung sampai dewasa.Makanan
yang paling sesuai untuk bayi adalah Air Susu Ibu, karena ASI memang
diperuntukkan bayi-bayi yang khasiatnya sebagai makanan pokok untuk bayi.

2 Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun.


Dalam memenuhi kebutuhan gizi usia 1-5 thn hendaknya digunakan kebutuhan prinsip
sebagai berikut:
a Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik berasal dari makanan pokok,
minyak dan zat lemak serta gula.
b Berikan sumber protein nabati dan hewani.
c Jangan memaksa anak makan makanan yang tidak disenangi, berikan makanan lain
yang diterima anak.
d Berilah makanan selingan (makanan ringan) misalnya, biscuit dan semacamnya,
diberikan antara waktu makan pagi, siang dan malam.

Makanan anak usia 1 tahun belum banyak berbeda dengan makanan waktu usia kurang
dari 1 thn, sebagaimana dijelaskan bahwa anak disapih lebih baik pada umur 2 tahun
sehimngga pada umum diatas 1 thn ASI masih diberikan pada anak. Pada umumnya
makanan masih berbentuk lemak baik nasi, sayur dan lauk pauk seperti daging hendaknya
dimasak sedemikian rupa sehingga anak mudah mengunyahnya dan mudah dicerna, anak
mulai diajak makan bersama-sama keluarga yaitu makan pagi, siang dan malam.

c. Kebutuhan Kesehatan balita


Menurut UU no.23 tahun 1992 kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan
sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis. Menurut
pernyataan dari WHO kesehatan adalah kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial
secara lengkap dan bukan hanya sekedar tidak mengidap penyakit atau kelemahan.
Dengan demikian jelaslah bahwa sehat adalah kondisi yang prima meliputi tidak hanya
fisik, mental maupun sosial, melainkan diartikan pula bebas dari sakit atau cacat.

Kesehatan perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini karena kesehatan merupakan
gambaran kesejahteraan dan kekuatan seluruh bangsa yang tercermin dari kesehatan suatu
keluarga. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kesehatan adalah keadaan
dimana manusia dan lingkungan tidak ada gangguan keseimbangan, maka seseorang
dapat dikatakan secara rohani jasmani maupun sosial.

Seorang anak dapat dikatakan sehat apabila mempunyai kriteria perkembangan dan
pertumbuhan yang sesuai (Sunarti, 1994) :
1 Kesehatan fisik, seoarang anak harus dikontrol kesehatan fisiknya dengan melihat
berat dan tinggi badan normalnya
2 Kesehatan mental (psikis), kesehatan mental usia 0-6 bulan dapat dilihat dengan
perkembangannya contohnya bayi yang berumur 1 bulan menggerakkan anggota
badan secara aktif, bereaksi terhadap bunyi, menatap wajah pengasuh, berdiri
berpegangan, memukul mainan dengan kedua tangan dan memasukkan biscuit
kemulut. Perkembangan tersebut adalah hal- hal yang berkaitan dengan fungsi organ
tubuh seperti kepandaian, intelegensia, emosi, perilaku dan panca indra. Selain itu
perkembangan anak bisa diperiksa atau dikontrol dengan imunisasi.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Dinas sosial harus mendukung anak untuk memperoleh
akses kesehatan yang diperlukan balita. Lembaga harus mengontrol kesehatan masing-
masing balita seperti pemberian gizi, vitamin, imunisasi dan melakukan pemeriksaan
sesuai prosedur untuk merespon keluhan kesehatan anak jika sakit.

d. Kebutuhan Pendidikan
Dalam hal pendidikan, dinas sosial wajib memberikan dukungan pendidkan baik secara
moral maupun informal. Dalam UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang hak pendidikan
seorang anak dijelaksan bahwa balita berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
dalam rangka pengembangan kepribadiannya dan tinkat kecerdasannya sesuai dengan
minat dan bakatnya, anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan
pendidikan khusus. Selain itu juga disebutkan bahwa anak yang menderita cacat berhak
memperoleh pendidikan luar biasa, rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf
kesejahteraan sosial. Beberapa kegiatan pendidikan yang bisa dilakukan adalah pendirian
PAUD, taman kanan-kanak/kelompok bermain, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk
balita penyandang cacat.

Menurut John H. Pestalozzi (1988), Pendidikan sosial akan berkembang jika dimulai
dengan pendidikan lingkungan yang baik. Selain itu, Pestalozzi juga memaparkan bahwa
pembelajaran pada anak harus berjalan secara teratur setingkat demi setingkat dan
bertahap.

Menurut Friederich W. Frobel (1840), anak didik harus didorong untuk aktif sehingga
dapat melakukan berbagai kegiatan (pekerjaan) yang produktif. Aktivitas anak akan
tumbuh dan berkembang jika pada anak diberikan susasana bebas sehingga anak mampu
mampu berkembang sesuai potensinya masing-masing.

2.10 Anticipatory Guidance


a. Pengertian
Anticipatory Guidance merupakan petunjuk-petunjuk yang perlu diketahui terlebih dahulu
agar orang tua dapat mengarahkan dan membimbing anaknya secara bijaksana, sehingga
anak dapat bertumbuh dan berkembang secara normal. Pemberian bimbingan kepada
orang tua untuk mengantisipasi hal-hal yang terjadi pada setiap tingkat pertumbuhan dan
perkembangan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan


sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai
dengan usia anak.

1. Tahapan Usia Anticipatory Guidance


Anticipatory Guidance Pada Masa Bayi (0-12 Bulan)
a. Usia 6 (enam) bulan pertama
1 Memahami adanya proses penyesuaian antara orang tua dengan bayinya,
terutama pada ibu yang membutuhkan bimbingan/asuhan pada masa setelah
melahirkan.
2 Membantu orang tua untuk memahami bayinya sebagai individu yang
mempunyai kebutuhan dan untuk memahami bagaimana bayi mengekspresikan
apa yang diinginkan melalui tangisan.
3 Menentramkan orang tua bahwa bayinya tidak akan menjadi manja dengan
adanya perhatian yang penuh selama 4-6 bulan pertama.
4 Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal kebutuhan bayi dan orang
tuanya.
5 Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap stimulasi
lingkungan.
6 Menyokong kesenangan orang tua dalam melihat petumbuhan dan
perkembangan bayinya, yaitu dengan bersahabat dan mengamati respon social
anak misalnya dengan tertawa/tersenyum.
7 Menyiapkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan kesehatan bagi
bayi misalnya imunisasi.
8 Menyiapkan orang tua untuk mengenalkan dan memberikan makanan padat.

b. Usia 6 (enam) bulan kedua


1 Menyiapkan orang tua akan danya ketakutan bayi terhadap orang yang belum
dikenal (stranger anxiety).
2 Menganjurkan orang tua untuk mengizinkan anaknya dekat dengan ayah dan
ibunya serta menghindarkan perpisahan yang terlalu lama dengan anak tersebut.
3 Membimbing orang tua untuk mengetahui disiplin sehubungan dengan semakin
meningkatnya mobilitas (pergerakan si bayi).
4 Menganjurkan untuk mengguanakan suara yang negative dan kontak mata
daripada hukuman badan sebagai suatu disiplin. Apabila tidak berhasil, gunakan 1
pukulan pada kaki atau tangannya.
5 Menganjurkan orang tua untuk memberikan lebih banyak perhatian ketika bayinya
berkelakuan baik dari pada ketika ia menangis.
6 Mengajrkan mengenai pencegahan kecelakaan karena ketrampilan motorik dan
rasa ingin tahu bayi meningkat.
7 Menganjurkan orang tua untuk meninggalkan bayinya beberapa saat dengan
pengganti ibu yang menyusui.
8 Mendiskusikan mengenai kesiapan untuk penyapihan.
9 Menggali perasaan ornag tua sehubungan dengan pola tidur bayinya.

2. Anticipatory Guidance Pada Masa Toddler (1-3 Tahun)


a. Usia 12-18 bulan
1 Menyiapkan orang tua untuk antisipasi adanya perubahan tingkah laku dari
toodler terutama negativism.
2 Mengkaji kebiasaan makan dan secara bertahap penyapihan dari botol serta
peningkatan asupan makanan padat.
3 Menyediakan makanan selingan antara 2 waktu makan dengan rasa yang disukai.
4 Mengkaji pola tidur malam, kebiasaan memakai botol yang merupakan penyebab
utama gigi berlubang.
5 Mencegah bahaya yang dapat terjadi di rumah.
6 Perlu ketentuan-ketentuan/disiplin dengan lembut untuk meminimalkan
negativism, tempertantrum serta penekanan akan kebutuhan yang positif dan
disiplin yang sesuai.
7 Perlunya mainan yang dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak.

b. Usia 18-24 bulan


1 Menekankan pentingnya persahabatan dalam bermain.
2 Menggali kebutuhan untuk menyiapkan kehadiran adik baru.
3 Menekankan kebutuhan akan pengawasan terhadap kesehatan gigi dan kebiasaan-
kebiasaan pencetus gigi berlubang.
4 Mendiskusikan metode disiplin yang ada.
5 Mendiskusikan kesiapan psikis dan fisik anak untuk toilet training.
6 Mendiskusikan berkembangnya rasa takut anak.
7 Menyiapkan orang tua akan adanya tanda regresi pada waktu mengalami stress.
8 Mengkaji kemampuan anak untuk berpisah dengan orang tua.
9 Memberi kesempatan orang tua untuk mengekspresikan kelelahan, frustasi dan
kejengkelan dalam merawat anak usia toodler.

c. Usia 24-36 bulan


1 Mendiskusikan pentingnya meniru dan kebutuhan anak untuk dilibatkan dalam
kegiatan.
2 Mendiskusikan pendekatan yang dilakuakan dalm toilet training.
3 Menekankan keunikan dari proses berfikir toodler terutama untuk bahasa yang
diungkapkan.
4 Menekankan disiplin harus tetap terstruktur dengan benar dan nyata, hindari
kebingungan dan salah pengertian.
5 Mendiskusikan adanya taman kanak-kanak atau play group.

3. Anticipatory Guidance Pada Masa Preschool (3-5 Tahun)


Pada masa ini petunjuk bimbingan tetap diperlukan walaupun kesulitannya jauh lebih
sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya, pencegahan kecelakaan
dipusatkan pada pengamatan lingkungan terdekat, dan kurang menekankan pada alas
an-alasannya. Sekarang proteksi pagar, penutup stop kontak disertai dengan penjelasan
secara verbal dengan alas an yang tepat dan dapat dimengerti.
Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orang tua maupun anak.
Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan dalam melakukan penyesuaian terhadap
perubahan ini, terutama bagi Ibu yang tinggal di rumah/tidak bekerja. Ketika anak
mulai masuk taman kanak-kanak, maka ibu mulai memerlukan kegiatan-kegiatan di luar
keluarga, seperti keterlibatannya dalam masyarakat atau mengembangkan karier.
Bimbingan terhadap orang tua pada masa ini dapat dilakukan pada anak umur 3, 4, 5
tahun.

a. Usia 3 tahun
1 Menganjurkan orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam hubungan yang luas.
2 Menekankan pentingnya batas-batas / peraturan-peraturan.
3 Mengantisipasi perubahan perilaku agresif.
4 Menganjurkan orang tua menawarkan anaknya alternative-alternatif pilihan pada saat
anak bimbang.
5 Perlunya perhatian ekstra

b. Usia 4 tahun
1 Menyiapkan orang tua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk aktifitas
motorik dan bahasa yang mengejutkan.
2 Menyiapkan orang tua menghadapi perlawanan anak terhadap kekuasaan orang
tua.
3 Kaji perasaan orang tua sehubungan dengan tingkah laku anak.
4 Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti
menempatkan anak pad ataman kanak-kanak selama setengah hari.
5 Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin tahu seksual
pada anak.
6 Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah laku.
7 Mendiskusikan disiplin.
8 Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun, dimana anak
mengikuti kata hatinya dalam ketinggian bicaranya (bedakan dengan
kebohongan) dan kemahiran anak dalam permainan yang membutuhkan imajinasi.
9 Menyarankan pelajaran berenang.
10 Menjelaskan perasaan-perasaan Oedipus dan reaksi-reaksinya. Anak laki-laki
biasanya lebih dekat dengan ibunya dan anak perempuan dengan ayahnya. Oleh
karena itu, anak perlu dibiasakan tidur terpisah dengan orang tuanya.
11 Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan menganjurkan
mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari mimpi yang menakutkan.

c. Usia 5 tahun
1 Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang relative
lebih tenang dibandingkan masa sebelumnya.
2 Menyiapkan dan membantu anak memasuki lingkungan sekolah.
3 Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum masuk sekolah.
4 Meyakinkan bahwa usia tersebut adalah periode tenang pada anak.

4. Anticipatory Guidance Pada Masa Usia Sekolah (6-12 Tahun)


a. Usia 6 tahun
1 Bantu orang tua memahami kebutuhan mendorong anak berinteraksi dengan
teman.
2 Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan terutama naik sepeda.
3 Siapkan orang tua akan peningkatan interst anak ke luar rumah.
4 Dorong orang tua untuk respek terhadap kebutuhan anak akan privacy dan
menyiapkan kamar tidur yang berbeda.
b. Usia 7-10 tahun
1 Menakankan untuk mendorong kebutuhan akan kemandirian.
2 Tertarik beraktifitas diluar rumah.
3 Siapkan orang tua untuk perubahan pada wanita pubertas.

c. Usia 11-12 tahun


1 Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan tubuh pubertas.
2 Anak wanita pertumbuhan cepat.
3 Sex education yang adekuat dan informasi yang adekuat.

Pencegahan Terhadap Kecelakaan Pada Anak


Kecelakaan merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kematian pada anak. Kepribadian
adalah factor pendukung terjadinya kecelakaan.

Orang tua bertanggungjawab terhadap kebutuhan anak, menyadari karakteristik perilaku yang
menimbulkan kecelakaan waspada terhadap factor-faktor lingkungan yang mengancam
keamanan anak.
Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kecelakaan :
1 Jenis kelamin, biasanya lebih banyak pada laki-laki karena lebih aktif di rumah.
2 Usia, pada kemampuan fisik dan kognitif, semakin besar akan semakin tahu mana yang
bahaya.
3 Lingkungan, adanya penjaga atau pengasuh.

Cara Pencegahan :
1 Pemahaman tingkat perkembangan dan tingkahlaku anak.
2 Kualitas asuhan meningkat.
3 Lingkungan aman.

Bahaya umum yang harus diperhatikan ortu:


1 Lantai rumah yang basah atau licin
2 Rumah dengan tangga yang curam 7 tidak ada pegangan
3 Alat makan dari bahan pecah belah
4 Penyimpanan zat berbahaya yang terbuka & dapat dijangkau anak
5 Adanya sumur yang terbuka
6 Adanya parit di depan/samping rumah
7 Rumah yang letaknya di pinggir jalan raya
8 Kompor/alat memasak yang dijangkau anak
9 Kabel listrik yang berantakan
10 Stop kontak yang tidak tertutup

Upaya yang dapat dilakukan ortu di rumah:


1 Benda tajam disimpan di tempat yang aman
2 Benda kecil disimpan dalam laci yang tertutup
3 Zat yang berbahaya disimpan dalam almari terkunci
4 Amankan kompor dan berikan penutup yang aman
5 Jaga lantai rumah selalu bersih dan kering
6 Apabila ada tangga, pasang pintu di bagian bawah atau atas tangga
7 Sekring listrik harus tertutup
8 Apabila ada parit, tutup dengan papan atau semen
9 Bagi yang rumahnya di tepi jalan raya, sebaiknya da pintu pagar yang tertutup rapat
10 Apabila ada sumur, tutup sehingga tidak bisa dibuka anak
11 Bila bayi tidur, berikan p[engaman di pinggir tempat tidur

Pencegahan Terhadap Kecelakaan:


1. Masa Bayi
Jenis kecelakaan : Aspirasi benda, jatuh, luka baker, keracunan, kurang O2.
Pencegahan
a. Aspirasi : bedak, kancing, permen (hati-hati).
b. Kurang O2 : plastic, sarung bantal.
c. Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restraint), tidak pakai kursi tinggi.
d. Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.
e. Keracunan : simpan bahan toxic dilemari.

2. Masa Toddler
Jenis kecelakaan :
a. Jatuh/luka akibat mengendarai sepeda.
b. Tenggelam.
c. Keracunan atau terbakar.
d. Tertabrak karena lari mengejar bola/balon.
e. Aspirasi dan asfiksia.
Pencegahan:
a. Awasi jika dekat sumber air.
b. Ajarkan berenang.
c. Simpan korek api, hati-hati terhadap kompor masak dan strika.
d. Tempatkan bahan kimia/toxic di lemari.
e. Jangan biarkan anak main tanpa pengawasan.
f. Cek air mandi sebelum dipakai.
g. Tempatkan barang-barang berbahaya ditempat yang aman.
h. Jangan biarkan kabel listrik menggantung mudah ditarik.
i. Hindari makan ikan yang ada tulang dan makan permen yang keras.
j. Awasi pada saat memanjat, lari, lompat karena sense of balance.

3. Pra Sekolah
Kecelakaan terjadi karena anak kurang menyadari potensial bahaya : obyek panas, benda
tajam, akibat naik sepeda misalnya main di jalan, lari mengambil bola/layangan,
menyeberang jalan.
Pencegahan ada 2 cara ;
1. Mengontrol lingkungan.
2. Mendidik anak terhadap keamanan dan potensial bahaya.
a Jauhkan korek api dari jangkauan.
b Mengamankan tempat-tempat yang secara potensial dapat membahayakan anak.
c Mendidik anak : Cara menyeberang jalan, arti rambu-rambu lalulintas, cara
mengendarai peran orang tua = perlu belajar mengontrolsepeda yang aman
lingkungan.

4. Usia Sekolah
a Anak sudah berpikir sebelum bertindak.
b Aktif dalam kegiatan : mengendarai sepeda, mendaki gunung, berenang.
c Perawat mengajarkan keamanan:
1 Aturan lalu-lintas bagi pengendara sepeda.
2 Aturan yang aman dalam berenang
3 Mengawasi pada saat anak menggunakan alat berbahaya : gergaji, alat listrik.
4 Mengajarkan agar tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar.

5. Remaja
a Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada kepala.
b Kecelakaan karena olah raga.
Pencegahan:
a Perlu petunjuk dalam penggunaan kendaraan bermotor sebelumnya ada negosiasi
antara orang tua dengan remaja.
b Menggunakan alat pengaman yang sesuai.
b Melakukan latihan fisik yang sesuai sebelum melakukan olah raga.

5. Pendidikan Kesehatan Untuk Orang Tua


a Upaya pencegahan kecelakaan pada anak orang tua harus diberikan bimbingan dan
antisipasi pendidikan kesehatan.
b Prinsip pendidikan kesehatan:
c Diberikan berdasarkan kebutuhan spesifik klien.
d Pendidikan kesehatan yang diberikan harus bersifat menyeluruh
e Hanya terjadi interaksi timbal balik antara perawat dan orang tua dan bukan hanya
perawat sefihak yang aktif memberikan materi pendidikan kesehatan
f Pendidikan kesehatan diberikan dengan mempertimbangkan usia klien yang
menerimanya.
g Proses pendidikan kesdehatan harus memperhatikan prinsip belajar dan mengajar.
h Perubahan perilaku pada orang tua menjadi tujuan utama pendidikan kesehatan yang
diberikan.
BAB III
PENUTUP

1 Kesimpulan
Indonesia menghadapi masalah serius terkait dengan hak dan kesejahteraan anak-
anak. Hampir setengah dari anak-anak Indonesia berusia antara 13 dan 18 tahun putus
sekolah; hampir tiga juta anak terlibat dalam perburuhan anak berpotensi berbahaya, dan
sekitar 2,5 juta anak Indonesia menjadi korban kekerasan setiap tahun. Lebih dari 80%
anak-anak sedang menjalani proses peradilan berakhir di belakang bar dan jumlah yang
lebih besar adalah tanpa bantuan hukum. Statistik ini menggarisbawahi kebutuhan untuk
mengintensifkan dan memperkuat upaya saat ini untuk meningkatkan perlindungan anak
di Indonesia. 2008 review dari Pemerintah Program Negara Indonesia dan UNICEF
Kerjasama menyoroti hubungan antara kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan anak
dan pengembangan ekonomi nasional yang adil dan berkelanjutan.
2 Saran
Setelah menulis makalah ini, penulis menyarankan agar sistem perlindungan anak di
Indonesia harus ditingkatkan lagi, mengingat banyaknya resiko yang akan terjadi pada
anak-anak di Indonesia karena kesalahan penggunaan Sistem perlindungan anak di
Indonesia ini.
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Perundang-undangan:
Undang Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS).

Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia.

Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak

Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.

Undang Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Konvensi Mengenai Hak-


UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2.

Buku-buku:
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI bekerjasama dengan Pusat Kajian
Perlindungan Anak Universitas Indonesia dan Bank Dunia. (2011). Membangun
Sistem Perlindungan Anak di Indonesia, Sebuah Kajian Pelaksanaan PKSA
Kementerian Sosial RI dan Kontribusinya terhadap Sistem Perlindungan Anak.

Hikmat, Hari. (2006). Pedoman Analisis Kebijakan Kesejahteraan Sosial, Pada Tgl 05
Maret 2008 Disampaikan dalam Kegiatan Finalisasi Pedoman Analsis
Kebijakan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.
Kementerian Sosial RI, Badan Pusat Statistik. (2012). Profil PMKS, Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial, INDONESIA 2011. Pusat Data dan Informasi
Kementerian Sosial RI.

Mallon, Gerald P and Peg McCartt Hess. (2005). Child Welfare For The Twenty-First
Century. A Handbook of Practices, Policies, and Program. Columbia
University Press.