Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan dasar. Upaya peningkatan peran dan fungsi Posyandu bukan semata-
mata tanggungjawab pemerintah saja, namun semua komponen yang ada di masyarakat,
termasuk kader. Peran kader dalam penyelenggaraan Posyandu sangat besar karena selain
sebagai pemberi informasi kesehatan kepada masyarakat juga sebagai penggerak
masyarakat untuk datang ke Posyandu dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.
Keadaan masyarakat Indonesia yang beragam sangat dipengaruhi oleh perkembangan
masyarakat dari usia dini. Pemerintah telah memperhatikan kelangsungan perkembangan
usia dini ini dengan mengoptimalkan berbagai bentuk pengembangan di usia muda,
seperti peningkatan mutu pendidikan, pengembangan pola-pola intelektual, pola
pendidikan moral dan banyak aspek lainnya. Hal ini tentu saja menggembirakan,
meskipun tidak bisa menjadi jaminan bahwa upaya tersebut dapat meningkatkan kualitas
generasi selanjutnya.
Lansia sering dianggap sebagai golongan yang lemah, tetapi sesungguhnya lansia
memiliki peran yang berarti bagi masyarakat. Lansia memiliki penalaran moral yang
bagus untuk generasi dibawahnya. Lansia memiliki semacam gairah yang tinggi karena
secara alami, manusia akan cenderung memanfaatkan masa-masa akhirnya secara optimal
untuk melakukan pewarisan nilai dan norma. Hal ini justru mempermudah kita untuk
membina moral anak-anak.
Masa lanjut usia adalah masa dimana individu dapat merasakan kesatuan, integritas,
dan refleksi dari kehidupannya. Jika tidak, ini akan menimbulkan ketimpangan dan
bahkan dapat mengakibatkan patologis, semacam penyakit kejiwaan (Latifah, 2010). Jika
ini terjadi maka keadaan masyarakat juga terganggu, dimana lansia sebagai penguat
transformator nilai dan norma berkurang, baik secara kualitas dan kuantitas. Banyak
contoh yang terjadi dimasyarakat kita, dimana lansia berlaku yang kurang sopan atau
bahkan kurang beradab sehingga secara tidak langsung akan mengganggu ketentraman
kehidupan bermasyarakat. Lansia di Indonesia, menurut Depkomindo 2010, pada tahun

1
2008 berjumlah 23 juta orang, sedangkan lansia yang terlantar mencapai 1,7 juta sampai 2
juta orang.
Wujud dari usaha pemerintah ini adalah dicanangkannya pelayanan bagi lansia
melalui beberapa jenjang yaitu pelayanan kesehatan ditingkat masyarakat adalah
Posyandu Lansia. Pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan
pelayanan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit. Dengan demikian, posyandu lansia
sangat kita perlukan, dimana posyandu lansia ini dapat membantu lansia sesuai dengan
kebutuhannya dan pada lingkungan yang tepat, sehingga para lansia tidak merasa lagi
terabaikan didalam masyarakat.
Posyandu lansia merupakan tempat pelayanan kesehatan untuk masyarakat usia lanjut
(usila) di suatu wilayah tertentu. Namun pemanfaatan posyandu lansia masih sangat jauh
dari target yaitu sebesar 90%. Beberapa penelitian menyatakan bahwa pemanfaatan
posyandu lansia masih dibawah 65% dengan persentase terendah yaitu 13,2%. Berbagai
Kegiatan posyandu lansia yang ada banyak memberikan manfaat bagi para usila.
Pemanfaatan Posyandu Lansia bertujuan agar kesehatan lansia dapat terpelihara dan
terpantau secara optimal.Bagi lansia yang tidak aktif memanfaatkan pelayanan kesehatan
di posyandu lansia, maka kondisi kesehatan mereka tidak dapat terpantau dengan baik,
sehingga apabila mengalami suatu resiko penyakit akibat penurunan kondisi tubuh dan
proses penuaan dikhawatirkan dapat berakibat fatal dan mengancam jiwa mereka.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu lansia adalah
pengetahuan usila akan posyandu tersebut, sikap usila terhadap pemanfaatan posyandu,
dukungan keluarga, dan peran kader posyandu. Pengetahuan usila akan posyandu masih
sangat kurang, Sikap usila terhadap pemanfaatan posyandu lansia di indonesia juga masih
belum positif, mereka menganggap bahwa menjadi tua/lansia merupakan hal biasa dan
tidak perlu menjalani pemeriksaan apapun. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam
pemanfaatan posyandu usila sebab dengan motivasi dan bantuan keluarga tentunya usila
akan lebih mudah dalam memanfaatkan pelayanan lansia yang telah disediakan. Untuk
menciptakan posyandu lansia yang berkualitas tentunya dibutuhkan kader posyandu yang
berkualitas juga yaitu yang mampu mengajak usila agar memanfaatkan posyandu lansia.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa definisi posyandu ?
1.2.2. Apa tujuan posyandu ?
1.2.3. Apa manfaat posyandu ?
1.2.4. Apa saja kegiatan posyandu ?
1.2.5. Apa sasaran posyandu ?
1.2.6. Apa definisi posyandu lansia ?

2
1.2.7. Apa tujuan posyandu lansia ?
1.2.8. Apa manfaat posyandu lansia ?
1.2.9. Siapa saja sasaran posyandu lansia ?
1.2.10. Apa saja kegiatan posyandu lansia ?
1.2.11. Bagaimana mekanisme kegiatan posyandu lansia ?
1.2.12. Apa saja masalah yang terjadi pada lansia ?
1.2.13. Apa saja permasalahan yang terjadi pada posyandu lansia ?

1.3. Tujuan
1.3.1. Mengetahui definisi posyandu
1.3.2. Mengetahui tujuan posyandu
1.3.3. Mengetahui manfaat posyandu
1.3.4. Mengetahui kegiatan utama posyandu
1.3.5. Mengetahui sasaran posyandu
1.3.6. Mengetahui definisi posyandu lansia
1.3.7. Mengetahui tujuan posyandu lansia
1.3.8. Mengetahui manfaat posyandu lansia
1.3.9. Mengetahui sasaran posyandu lansia
1.3.10. Mengetahui kegiatan posyandu lansia
1.3.11. Mengetahui mekanisme kegiatan posyandu lansia
1.3.12. Mengetahui masalah yang terjadi pada lansia
1.3.13. Mengetahui pemasalahan yang terjadi pada posyandu lansia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Posyandu


Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat
dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan
dasar/sosial dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka
Kematian Bayi. Posyandu yang terintegrasi adalah kegiatan pelayanan sosial dasar

3
keluarga dalam aspek pemantauan tumbuh kembang anak. Dalam pelaksanaannya
dilakukan secara koordinatif dan integratif serta saling memperkuat antar program dan
kegiatan untuk kelangsungan pelayanan di Posyandu sesuai dengan situasi/kebutuhan
lokal yang dalam kegiatannya tetap memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat.
Posyandu merupakan wadah pemberdayaan masyarakat yang dibentuk melalui
musyawarah mufakat di desa/kelurahan dan dikelola oleh Pengelola Posyandu, yang
dikukuhkan dengan keputusan kepala desa/lurah.
Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama
masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat
guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita. Posyandu adalah
pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat sekaligus memperoleh pelayanan
Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan antara lain : gizi, imunisasi, Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA) dan penanggulangan diare. Definisi lain Posyandu adalah salah satu bentuk
Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan
kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat
penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi.

2.2. Tujuan Posyandu


Tujuan penyelenggaraan posyandu adalah untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan bayi, balita, ibu dan pasangan usia subur. Posyandu direncanakan dan
dikembangkan oleh kader bersama Kepala Desa dan Lembaga Ketahanan Masyarakat
Desa (LKMD) serta penyelenggaraannya dilakukan oleh kader yang terlatih dibidang
KB-Kes, berasal dari PKK, tokoh masyarakat, pemuda dengan bimbingan tim pembina
LKMD tingkat kecamatan. Kader adalah anggota masyarakat yang dipilih dari dan oleh
masyarakat setempat yang disetujui oleh LKMD dengan syarat; mau dan mampu bekerja
secara sukarela, dapat membaca dan menulis huruf latin dan mempunyai cukup waktu
untuk bekerja bagi masyarakat.
Posyandu dapat melayani semua anggota masyarakat, terutama ibu hamil, ibu
menyusui, bayi dan anak balita serta Pasangan Usia Subur (PUS). Biasanya dilaksanakan
satu kali sebulan ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat dan ditentukan
masyarakat sendiri.

2.3. Manfaat Posyandu

4
Posyandu memiliki banyak manfaat untuk masyarakat, di antaranya:
1. Mendukung perbaikan perilaku, keadaan gizi dan kesehatan keluarga sehingga:
a. Keluarga menimbang balitanya setiap bulan agar terpantau pertumbuhannya.
b. Bayi 6-11 bulan memperoleh 1 kapsul Vitamin A warna biru (100.000 SI).
c. Anak balita 12-59 bulan memperoleh kapsul Vitamin A warna merah (200.000
SI) setiap 6 bulan (Februari dan Agustus).
d. Bayi umur 0-11 bulan memperoleh immunisasi Hepatitis B 4 kali, BCG 1 kali,
Polio 4 kali, DPT 3 kali dan Campak 1 kali.
e. Bayi diberi Asi saja sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI Eksklusif).
f. Bayi mulai umur 6 bulan diberikan makanan pendamping ASI.
g. Pemberian ASI dilanjutkan sampai umur 2 tahun atau lebih.
h. Bayi/anak yang diare segera diberikan: ASI lebih sering dari biasa, Makanan
seperti biasa, Larutan oralit dan minum air lebih banyak
i. Ibu hamil minum 1 tablet tambah darah setiap hari.
j. Ibu hamil mau memeriksakan diri secara teratur dan mau melahirkan ditolong
oleh tenaga kesehatan.
k. Ibu hamil dan Wanita Usia Subur (WUS) mendapat immunisasi Tetanus Toxoid
(TT) setelah melalui penapisan TT.
l. Setelah melahirkan Ibu segera melaksanakan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
m. Ibu nifas minum 2 kapsul Vitamin A warna merah (200.000 SI): 1 (satu) kapsul
segera setelah persalinan, 1 (satu) kapsul 24 jam setelah pemberian kapsul
pertama.
n. Ibu hamil, nifas dan menyusui makan hidangan bergizi lebih banyak dari saat
sebelum hamil.
o. Keluarga menggunakan garam beryodium setiap kali memasak.
p. Keluarga mengkonsumsi pangan/makanan beragam, bergizi dan seimbang.
q. Keluarga memanfaatkan pekarangan sebagai warung hidup/meningkatkan gizi
keluarga.
Dengan melaksanakan perilaku di atas, maka diharapkan:
a. Balita naik berat badannya setiap bulan
b. Balita tidak menderita kekurangan gizi
c. Bayi terlindung dari penyakit berbahaya yang dapat dicegah dengan
immunisasi
d. Ibu hamil tidak menderita kurang darah
e. Bayi lahir tidak menderita GAKY
f. Balita dan bufas tidak menderita kurang Vitamin A
g. WUS tidak menderita kurang energi kronis
h. Masyarakat semakin menyadari pentingnya gizi dan kesehatan
i. Menurunkan jumlah kematian Ibu dan Balita

2. Mendukung perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga:


a. Keluarga buang air kecil/besar menggunakan jamban
b. Keluarga memanfaatkan air bersih untuk kehidupan sehari-hari
c. Tidak merokok di dalam rumah/keluarga tidak ada yang merokok
d. Keluarga mencuci tangan pakai sabun

5
e. Rumah bebas jentik nyamuk
f. Persalinan Ibu ditolong oleh tenaga kesehatan
g. Keluarga makan buah dan sayur setiap hari
h. ASI Eksklusif
i. Menimbang Balita tiap bulan
j. Keluarga Berencana

3. Mendukung pencegahan penyakit yang berbasis lingkungan dan penyakit yang dapat
dicegah dengan immunisasi, sehingga keluarga:
a. Tidak menderita Diare, ISPA, DBD dan Malaria
b. Tidak menderita Hepatitis, TBC, Polio, Difteri, Batuk Rejan, Tetanus dan
Campak

4. Mendukung pelayanan Keluarga Berencana, sehingga Pasangan Usia Subur (PUS):


a. Menjadi peserta KB
b. Dapat memilih alat kontrasepsi jangka pendek atau jangka panjang yang cocok
dan tepat penggunaan.

5. Mendukung pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam penganekaragaman


pangan melalui pemanfaatan pekarangan untuk memotivasi kelompok dasa wisma
berperan aktif, sehingga:
a. Keluarga mengusahakan budidaya tanaman, sayuran, buah, ikan dan ternak
(unggas, sapi, kambing)
b. Keluarga mampu menyusun menu makanan bergizi sesuai ketersediaan pangan
lokal dengan pemanfaatan pekarangan rumah
c. Keluarga mampu mengembangkan perekonomian dengan memanfaatkan potensi
yang tersedia di lingkungannya
d. Posyandu menjadi pusat informasi dan konseling dalam perlindungan anak dan
perempuan, terutama dalam hal pencegahan penyalahgunaan Narkotika dan Obat-
obatan terlarang, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perdagangan manusia
(traficking), penyebaran HIV/AIDS, dll.

2.4. Kegiatan Utama Posyandu


Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan atau
pilihan, yaitu :
1. Kegiatan Utama
a. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
1. Ibu hamil Pelayanan meliputi :
Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan
oleh kader kesehatan.
Bila ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran tekanan
darah, pemeriksaan hamil bila ada tempat atau ruang periksa dan

6
pemberian imunisasi Tetanus Toxoid. Bila ditemukan kelainan maka
segera dirujuk ke Puskesmas.
Bila dimungkinkan diselenggarakan kelompok ibu hamil pada hari
buka Posyandu yang kegiatannya antara lain : penyuluhan tentang
tanda bahaya kehamilan, persalinan, persiapan menyusui, KB dan gizi
ibu hamil, perawatan payudara dan pemberian ASI, peragaan
perawatan bayi baru lahir dan senam ibu hamil.
2. Ibu nifas dan menyusui Pelayanannya meliputi :
Penyuluhan kesehatan, KB, ASI, dan gizi, perawatan jalan lahir.
Pemberian vitamin A dan tablet besi
Perawatan payudara
Senam ibu nifas
Bila ada petugas kesehatan dan tersedia ruangan maka dapat
dilakukan pemeriksaan payudara, tinggi fundus uteri, dan pmeriksaan
lochea.
3. Bayi dan anak balita Jenis pelayanan untuk bayi dan balita mencakup :
Penimbangan
Penentuan status gizi
Penyuluhan tentang kesehatan bayi dan balita
Jika ada petugas kesehatan dapat ditambahkan pemeriksaan kesehatan,
imunisasi, dan deteksi dini tumbuh kembang. Bila ditemukan adanya
kelainanakan dirujuk ke Puskesmas.
b. Keluarga Berencana Pelayanan KB di Posyandu yang diselenggarakan oleh kader
adalah pemberian pil dan kondom. Bila ada petugas keehatan maka dapat dilayani
KB suntik dan konseling KB.
c. Imunisasi Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan bila ada petugas
kesehatan Puskesmas. Jenis pelayanan imunisasi yang diberikan yang sesuai
program, baik untuk bayi, balita maupun untuk ibu hamil, yaitu : BCG, DPT,
hepatitis B, campak, polio, dan tetanus toxoid.
d. Gizi Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Bentuk pelayanannya
meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan,
penyuluhan gizi, pemberian PMT, pemberian vitamin A dan pemberian sirup besi
(Fe). Untuk ibu hamil dan ibu nifas diberikan tablet besi dan yodium untuk
daerah endemis gondok.
e. Pencegahan dan Penanggulangan Diare Pelayanan diare di Posyandu dilakukan
antara lain dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Penanggulangan diare antara lain dengan cara penyuluhan tentang diare dan
pemberian oralit atau larutan gula garam.
2. Kegiatan Pengembangan

7
Dalam keadaan tertentu Posyandu dapat menambah kegiatan baru, misalnya:
perbaikan kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular dan berbagai
program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu demikian disebut dengan
Posyandu Plus. Penambahan kegiatan baru tersebut dapat dilakukan bila cakupan
kegiatan utamanya di atas 50%, serta tersedianya sumberdaya yang mendukung.
Kegiatan bulanan di Posyandu mengikuti pola keterpaduan KB-Kesehatan dengan
sistem lima meja :
Meja I : Pendaftaran.
Meja II : Penimbangan bayi dan anak balita.
Meja III : Pengisian KMS.
Meja IV : Penyuluhan perorangan
Meja V : Pelayanan oleh tenaga profesional meliputi pelayanan KIA, KB,
Imunisasi dan pengobatan, serta pelayanan lain sesuai dengan
kebutuhan.

2.5. Sasaran Posyandu


Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat/keluarga, utamanya adalah bayi baru
lahir, bayi, anak balita, ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, PUS, remaja dan Lanjut Usia
(Lansia).

2.6. Definisi Posyandu Lansia


Posyandu Lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut disuatu
wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana
mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan
pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang
penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para
lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya
(Erfandi, 2008).
Posyandu juga merupakan wadah kegiatan berbasis masyarakat untuk bersama-sama
menghimpun seluruh kekuatan dan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan,
memberikan serta memperoleh informasi dan pelayanan sesuai kebutuhan dalam upaya
peningkatan status gizi masyarakat secara umum (Henniwati, 2008).
Jadi, Posyandu lansia merupakan suatu fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di
desa-desa yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya bagi
warga yang sudah berusia lanjut.

2.7. Tujuan Posyandu Lansia


Menurut Erfandi (2008), Tujuan Posyandu Lansia secara garis besar adalah :

8
1. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia dimasyarakat, sehingga
terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
2. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam
pelayanan kesehatan, disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia
lanjut

2.8. Manfaat Posyandu Lansia


Manfaat dari posyandu lansia adalahpengetahuan lansia menjadi meningkat, yang
menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka
untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia sehingga lebih percaya diri dihari
tuanya.

2.9. Sasaran Posyandu Lansia


Sasaran posyandu lansia adalah :
1. Sasaran langsung, yaitu kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia
lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke
atas).
2. Sasaran tidak langsung, yaitu keluarga dimana lansia berada, organisasi sosial yang
bergerak dalam pembinaan usia lanjut, masyarakat luas (Departemen Kesehatan RI,
2006).

2.10.Kegiatan Posyandu Lansia


Bentuk pelayanan pada posyandu lansia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan
mental emosional, yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk
mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman masalah kesehatan yang
dialami. Beberapa kegiatan pada posyandu lansia adalah :
1. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
2. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta
penghitungan denyut nadi selama satu menit.
3. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit
gula (diabetes melitus).
4. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal
adanya penyakit ginjal.
5. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan
kelainan pada pemeriksaan butir-butir diatas.
6. Penyuluhan Kesehatan, biasa dilakukan didalam atau diluar kelompok dalam
rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan
masalah kesehatan yang dihadapi oleh individu dan kelompok usia lanjut.

9
Selain itu banyak juga posyandu lansia yang mengadakan kegiatan tambahan seperti
senam lansia, pengajian, membuat kerajinan ataupun kegiatan silahturahmi antar lansia.
Kegiatan seperti ini tergantung dari kreasi kader posyandu yang bertujuan untuk
membuat lansia beraktivitas kembali dan berdisiplin diri.

2.11. Mekanisme Kegiatan Posyandu Lansia


Mekanisme pelayanan Posyandu Lansia tentu saja berbeda dengan posyandu balita
pada umumnya. Mekanisme pelayanan ini tergantung pada mekanisme dan kebijakan
pelayanan kesehatan di suatu wilayah penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan
posyandu lansia ini dengan sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada pula yang hanya
3 meja.
1. Meja I : Pendaftaran
Mendaftarkan lansia, kemudian kader mencatat lansia tersebut. Lansia yang
sudah terdaftar di buku register langsung menuju meja selanjutnya.
2. Meja II
Kader melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan dan tekanan darah
3. Meja III : Pencatatan (Pengisian Kartu Menuju Sehat)
Kader melakukan pencatatan di KMS lansia meliputi : Indeks Massa Tubuh,
tekanan darah, berat badan, tinggi badan.

4. Meja IV : Penyuluhan
Penyuluhan kesehatan perorangan berdasarkan KMS dan pemberian makanan
tambahan.
5. Meja V : Pelayanan medis
Pelayanan oleh tenaga professional yaitu petugas dari Puskesmas/kesehatan
meliputi kegiatan : pemeriksaan dan pengobatan ringan.

2.12.Masalah Yang Terjadi Pada Lansia


Masalah kesehatan pada lansia tentu saja berbeda dengan jenjang umur yang lain
karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul
akibat penyakit dan proses menua yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti sel serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang diderita. Dr. Purma Siburian Sp.PD, pemerhati masalah
kesehatan pada lansia menyatakan bahwa ada 14 yang menjadi masalah kesehatan pada
lansia, yaitu :

10
1. Immobility (kurang bergerak), dimana meliputi gangguan fisik, jiwa dan faktor
lingkungan sehingga dapat menyebabkan lansia kurang bergerak. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh gangguan tulang, sendi dan otot, gangguan saraf dan penyakit
jantung.
2. Instability (tidak stabil/ mudah jatuh), dapat disebabkan oleh faktor intrinsik (yang
berkaitan dengan tubuh penderita), baik karena proses menua, penyakit maupun
ekstrinsik (yang berasal dari luar tubuh) seperti obat-obatan tertentu dan faktor
lingkungan. Akibatnya akan timbul rasa sakit, cedera, patah tulang yang akan
membatasi pergerakan. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan psikologik berupa
hilangnya harga diri dan perasaan takut akan terjadi.
3. Incontinence (buang air) yaitu keluarnya air seni tanpa disadari dan frekuensinya
sering. Meskipun keadaan ini normal pada lansia tetapi sebenarnya tidak
dikehendaki oleh lansia dan keluarganya. Hal ini akan membuat lansia mengurangi
minum untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga dapat menyebabkan
kekurangan cairan.
4. Intellectual Impairment (gangguan intelektual/ dementia), merupakan kumpulan
gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup
berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari.
5. Infection (infeksi), merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada
lansia, karena sering didapati juga dengan gejala tidak khas bahkan asimtomatik
yang menyebabkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan.
6. Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalencence, skin
integrity (gangguan panca indera, komunikasi, penyembuhan dan kulit), merupakan
akibat dari proses menua dimana semua panca indera berkurang fungsinya,
demikian juga pada otak, saraf dan otot-otot yang dipergunakan untuk berbicara,
sedangkan kulit menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang
minimal.
7. Impaction (konstipasi=sulit buang air besar), sebagai akibat dari kurangnya gerakan,
makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, dan lainnya.
8. Isolation (depresi), akibat perubahan sosial, bertambahnya penyakit dan
berkurangnya kemandirian sosial. Pada lansia, depresi yang muncul adalah depresi
yang terselubung, dimana yang menonjol hanya gangguan fisik saja seperti sakit
kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pecernaan, dan lain-lain.
9. Inanition (kurang gizi), dapat disebabkan karena perubahan lingkungan maupun
kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan untuk memilih
makanan yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari masyarakat), terutama karena

11
kemiskinan, gangguan panca indera; sedangkan faktor kesehatan berupa penyakit
fisik, mental, gangguan tidur, obat-obatan, dan lainnya.
10. Impecunity (tidak punya uang), semakin bertambahnya usia, maka kemampuan
tubuh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan akan semaki berkurang, sehingga jika
tidak dapat bekerja maka tidak akan mempunyai penghasilan.
11. Iatrogenesis (penyakit akibat obat-obatan), sering dijumpai pada lansia yang
mempunyai riwayat penyakit dan membutuhkan pengobatan dalam waktu yang
lama, jika tanpa pengawasan dokter maka akan menyebabkan timbulnya penyakit
akibat obat-obatan.
12. Insomnia (gangguan tidur), sering dilaporkan oleh lansia, dimana mereka
mengalami sulit untuk masuk dalam proses tidur, tidur tidak nyenyak dan mudah
terbangun, tidur dengan banyak mimpi, jika terbangun susah tidur kembali,
terbangun dini hari-lesu setelah bangun di pagi hari.
13. Immune deficiency (daya tahan tubuh menurun), merupakan salah satu akibat dari
proses menua, meskipun terkadang dapat pula sebagai akibat dari penyakit
menahun, kurang gizi dan lainnya.
14. Impotence (impotensi), merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau
mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan senggama yang memuaskan
yang terjadi paling sedikit 3 (tiga) bulan. Hal ini disebabkan karena terjadi hambatan
aliran darah ke dalam alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh
darah, baik karena proses menua atau penyakit.
Data penyakit lansia di Indonesia (umumnya pada lansia berusia lebih dari 55 tahun)
adalah sebagai berikut:
1. Penyakit Cardiovascular
2. Penyakit otot dan persendian
3. Bronchitis, asma dan penyakit respirasi lainnya
4. Penyakit pada mulut, gigi dan saluran cerna
5. Penyakit syaraf
6. Infeksi kulit
7. Malaria
8. Lain-lain (Anonim, 2008)

2.13.Permasalahan Yang Terjadi Pada Posyandu Lansia


Kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan posyandu lansia, antara lain:
1. Umumnya lansia tidak mengetahui keberadaan dan manfaat dari posyandu lansia.
2. Jarak rumah dengan lokasi posyandu lansia jauh atau sulit dijangkau. Jarak posyandu
yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus
mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau

12
kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini
berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia.
3. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk
datang ke posyandu lansia. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong
minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa
menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk
mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa
jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama
lansia. Keluarga, bagi lansia merupakan sumber kepuasan. Data yang diambil oleh
Henniwati (2008) terhadap lansia berusia 50, 60 dan 70 tahun di Kelurahan
Jambangan, menyatakan mereka ingin tinggal ditengah-tengah keluarga. Mereka tidak
ingin tinggal di Panti Werdha. Para lansia merasa bahwa kehidupan mereka sudah
lengkap, yaitu sebagai orang tua dan juga sebagai kakek dan nenek, akan tetapi
keluarga juga dapat menjadi frustasi bagi lansia. Hal ini terjadi jika ada hambatan
komunikasi antara lansia dengan anak atau cucu, dimana perbedaan faktor generasi
memegang peranan. Ada juga lansia yang mempunyai kemandirian yang tinggi untuk
hidup sendiri karena keinginan untuk hidup tanpa merepotkan orang lain.
4. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. Penilaian pribadi atau sikap yang
baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk
mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung
untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini
dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi
terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi
dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang
menghendaki adanya suatu respons.
5. Kader Posyandu Lansia. Wahyuna (2008) melakukan penelitian kader di Posyandu
Lansia wilayah kerja Puskesmas Ngawi. Kader-kader tersebut hanya bertugas
mencatat dan mengurusi masalah konsumsi saja, selain itu kader juga bekerja
tergantung perintah petugas kesehatan tanpa ada pelatihan lebih lanjut sehingga peran
kader dalam kegiatan tersebut belum optimal. Kader juga harus mampu
berkomunikasi dengan efektif, baik dengan individu atau kelompok maupun
masyarakat, kader juga harus dapat membina kerjasama dengan semua pihak yang
terkait dengan pelaksanaan posyandu, serta untuk memantau pertumbuhan dan
perkembangan lansia pada hari buka posyandu yaitu pendaftaran, penimbangan,
pencatatn/ pengisian KRS, penyuluhan dan pelayanan kesehatan sesuai

13
kewenangannya dan pemberian PMT, serta dapat melakukan rujukan jika diperlukan
(Departemen Kesehatan RI, 2006).
Untuk meningkatkan citra diri kader, maka harus dipehatikan dalam hal sebagai
berikut:
a. Meningkatkan kualitas diri sebagai seorang yang dianggap masyarakat, yang
dapat memberi informasi terkini tentang kesehatan
b. Melengkapi diri dengan keterampilan yang memadai dalam pelayanan di
Posyandu
c. Membuat kesan pertama yang baik dan memperhatikan citra yang positif
d. Menetapkan dan memutuskan perhatian secara cermat pada kebutuhan
masyarakat
e. Menampilkan diri sebagai bagian dari anggota masyarakat itu sendiri
f. Mendorong keinginan masyarakat untuk datang ke Posyandu (Departemen
Kesehatan RI, 2006).

14
BAB III

KEGIATAN POSYANDU LANSIA PUSKESMAS MOJO

3.1. Waktu dan Tempat Kegiatan


Hari : Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu,
Waktu : Setiap Bulan
Tempat : Kelurahan Mojo, Airlangga, Gubeng

3.2. Jenis Kegiatan


Jenis kegiatan yang dilakukan pada posyandu lansia di antaranya :
1. Kesenian Lansia
2. Jalan Sehat
3. Posyandu Lansia
4. Senam Lansia
5. Pengajian
6. Paduan Suara
7. Diskusi Lansia
8. Arisan Lansia
9. Santapan Rohani
10. Senam Bugar Lansia
11. Penyuluhan
12. Bina UKM

3.3. Jumlah Lansia


Jumlah total lansia yang dibina oleh Puskesmas Mojo Surabaya sebanyak 2307. Total
posyandu yang aktif dibina terdapat 22 posyandu. Pada Kelurahan Mojo terdapat 11
posyandu dengan jumlah lansia sebanyak 1180, pada Kelurahan Airlangga terdapat 8
posyandu dengan jumlah lansia sebanyak 692 orang dan pada Kelurahan Gubeng
terdapat 3 posyandu dengan jumlah lansia sebanyak 435 orang. Setiap kegiatan posyandu
lansia selalu dibarengi dengan pemberian PMT yang dananya didapatkan dari APBD
Pemerintah Kota Surabaya yang setiap bulan diberikan anggaran sebesar 7.000,00/orang.

15