Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

BIOKIMIA
PROTEIN DAN ASAM AMINO

OLEH

KELOMPOK I

NAMA NIM
RIFKHA MAGHVIRA F201501049
MARIA YASINTA LEMBU F201501051
ADMIRA F201501053
RADEN SARTIKA JENI P.S F201501055
WIWIN TRISNAWATI F201501057

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2016

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Protein adalah suatu senyawa organik yang berbobot molekul tinggi
berkisar antara beberapa ribu sampai jutaan, sehingga protein disebut sebagai
makro molekul. Protein merupakan salah satu komponen utama dalam semua
sel hidup. Protein tersusun dari atom C, H, O dan N, serta unsur lain seperti P
dan S yang membentuk unit-unit asam amino. Protein memiliki berbagai
fungsi dalam tubuh, yaitu sebagai pembangun struktur, biokatalis, hormon,
sumber energi, penyangga racun, pengatur pH, serta pembawa sifat keturunan
dari generasi ke generasi.
Asam amino merupakan unit terkecil pembentuk protein, terdiri atas
20 macam asam amino atau jenis pembentuk protein. Asam amino yang
terdapat di alam berates-ratus jumlahnya, namun yang ikut membangun
protein hanya 20 21 macam. Asam amino menentukan banyak sifat penting
dari protein. Asam amino dibagi menurut struktur kimianya (alifatik, aromatik,
heterosiklik) atau menurut gugus R-nya. Dari struktur umumnya, asam amino
mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus
karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino dan
gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena
asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan
reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya.
Sifat sifat dari protein dan asam amino dapat diketahui melalui
berbagai uji, seperti reaksi uji protein yang berupa pengendapan protein dalam
logam, alkohol dan garam, uji koagulasi protein serta uji denaturasi protein.
Sedangkan untuk mengetahui sifat sifat dari asam amino dapat diketahui
berdasarkan uji millon dan uji biuret.
I.2. Tujuan Percobaan
Mengidentifikasi sifat-sifat reaksi asam amino dan protein serta
menentukan senyawa-senyawa asam amino dan protein melalui reaksi reagen.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Landasan Teori


Protein merupakan suatu polimer dari asam amino. Asam amino
merupakan turunan asam karboksilat yang mengandung gugus amina. Jadi
setiap molekul asam amino sekurang-kurangnya mengandung dua buah
gugus fungsional, yaitu gugus karboksil (-COOH) dan gugus amina (-NH2).
Asam amino dapat diperoleh dari hasil hidrolisis protein. Struktur asam
amino mengandung gugus -NH2 yang terikat pada atom C alfa (a), yaitu
atom C yang terikat pada gugus karboksil. Struktur asam amino secara umum
adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2),
gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R,
dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan
satu asam amino dengan asam amino lainnya.

Semua asam amino yang ditemukan pada protein memiliki ciri yang
sama, yaitu gugus karboksil dan amina terikat pada atom karbon yang sama.
Perbedaan asam amino satu sama lain terletak pada rantai sampingnya.
Rantai samping yang dilambangkan dengan R dapat berupa alkil, cincin
benzena, alkohol, dan turunannya.
Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam
amino yang dibagi berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan
penggolongan tersebut: asam amino non-polar dengan gugus R yang
hidrofobik, antara lain Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin, Fenilalanin,
Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa
muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein,
Tirosin, Asparagin dan Glutamin. Golongan ketiga yaitu asam amino yang
bermuatan positif pada gugus R dan golongan keempat yaitu asam amino
yang bermuatan negatif pada gugus R. Dari ke-20 asam amino yang ada,
dijumpai delapan macam asam amino esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin,
metionin, Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial
ini tidak bisa disintesis sendiri oleh tubuh manusia sehingga harus didapatkan
dari luar seperti makanan dan zat nutrisi lainnya.
Pada umumnya asam amino diperoleh sebagai hasil hidrolisis protein,
baik menggunakan enzim maupun asam. Dengan cara ini diperoleh campuran
bermacam-macam asam amino dan untuk menentukan jenis asam amino
maupun kuantitas masing-masing asam amino perlu diadakan pemisahan
antara asam-asam amino tersebut (Poedjiadi, 2006).
Protein yang ditemukan kadang-kadang berkonjugasi dengan
makromolekul atau mikromolekul seperti lipid, polisakarida dan mungkin
fosfat. Protein terkonjugasi yang dikenal antara lain nukleoprotein,
fosfoprotein, metaloprotein, lipoprotein, flavoprotein dan glikoprotein.
Protein yang diperlukan organisme dapat diklasifikasikan menjadi dua
golongan utama, ialah pertama; protein sederhana, yaitu protein yang apabila
terhidrolisis hanya menghasilkan asam amino, dan kedua protein
terkonjugasi, yaitu protein yang dalam hidrolisis tidak hanya menghasilkan
asam amino, tetapi menghasilkan juga komponen organik ataupun komponen
anorganik yang disebut gugus prosthetic (Sumarno, 2002).
Dalam uji yang dilakukan, terdapat beberapa macam protein
diantaranya Urea, Gelatin, Kasein dan Pepton. Urea adalah senyawa organik
yang tersusun dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan
rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea biasa ditemukan pada hasil perombakan
eritrosit pada sel-sel hati. Eritrosit atau sel darah merah yang sudah rusak
(120 hari) dirombak menjadi 'haemo' dan 'globin'. Selanjutnya 'haemo' akan
diubah menjadi zat warna empedu yaitu bilirubin dan urobilin yang
mengandung urea dan amonia yang akan keluar bersama urin dan feses.
Gelatin adalah asam amino non essensial yaitu glisin dan prolin, gelatin
banyak ditemukan sebagai protein penyusun kulit. Kasein paling banyak
ditemukan pada susu karena kasein merupakan komponen utama protein
penyusun susu, kasein mengandung asam amino tirosin. Pepton adalah
hidrolisat protein yang berasal dari reaksi hidrolisis protein oleh enzim
protease. Pepton digunakan sebagai sumber nitrogen pada media pembiakan
mikroorganisme untuk dapat tumbuh dengan baik.

Urea Alpha-Kasein

Gelatin Pepton

II.2. Uraian Bahan


1. Aquadest (Depkes RI, 1979: 96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama sinonim : Air suling, Air murni
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak
mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
2. Asam Sulfat (Depkes RI, 1979: 58)
Nama Resmi : ACIDUM SULFURICUM
Nama lain : Asam Sulfat
Rumus Molekul : H2SO4
Berat Molekul : 98,07
Pemerian : Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak
bewarna; jika ditambahkan kedalam air
menimbulkan panas.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup padat
Khasiat : Zat tambahan
Kegunaan : Pereaksi
3. Cupri Sulfat (Depkes RI, 1979: 731)
Nama Resmi : CUPRI SULFAS
Nama Lain : Tembaga (II) Sulfat
Rumus Molekul : CuSO4.5H20
Berat Molekul : 249,6
Pemerian : Serbuk hablur atau keabuan bebas dari sedikit
warna biru.
Kelarutan : Larut dalam air dan etanol (95 %) P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pereaksi
4. Natrium Hidroksida (Depkes RI, 1979: 412)
Nama Resmi : NATRII HYDROXYDUM
Nama Lain : Natrium Hidroksida
Rumus Molekul : NaOH / 40,00
Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau
keping, keras, rapuh, dan menunjukkan susunan
hablur, putih; mudah meleleh basah. Sangat
alkalis dan korosif, segera menyerap CO2
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol
(95 %) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pereaksi

5. Asam Klorida (Depkes RI, 1979: 53)


Nama Resmi : ACIDUM HIDROCLORIDUM
Nama Lain : Asam Klorida
Rumus Molekul : HCl
Berat Molekul : 36,5
Pemerian : Cairan tidak berwarna; berasap dan bau
merangsanng jika diencerkan dua bagian air asap
dan bau hilang.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pereaksi
6. Gelatin (Depkes RI, 1979: 265)
Nama Resmi : GELATINUM
Nama Lain : Gelatin
Pemerian : Lembaran kepingan serbuk atau butiran; tidak
berwarna atau kekuningan pucat; bau dan rasa
lemah.
Kelarutan : Jika direndam dalam air mengembang dan
menjadi lunak berangsur-anngsur menyerap air 5
sampai 10 kali bobotnya; larut dalam air panas
dan jika didinginkan terbentuk gudir; praktis
tidak larut dalam etanol (95%) P, dalam
kloroform P dan dalam eter P; larut dalam
campuran gliserol P dan air, jika dipanaskan lebih
mudah larut; larut dalam asam asetat P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai bahan uji.

BAB II
METODE KERJA
III.1. Alat dan Bahan
A. Alat yang digunakan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung reaksi,
rak tabung reaksi, pipet tetes, penangas air dan penjepit tabung.
B. Bahan yang digunakan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
larutan protein 1-5 % (Susu bubuk, susu cair, kuning telur, dan putih
telur), larutan asam amino 1-5 % (gelatin, sistein, triptopan, dan fenil
alanin), aquadest, H2SO4 pekat, NaOH 2 N, CuSO4 0,01 N dan HCl 0,1
N.
III.2. Cara Kerja
A. Uji Biuret
1. Disiapkan 7 tabung reaksi yang bersih dan kering.
2. Diisi masing-masingg tabung reaksi dengan 2 ml larutan asam amino
(sistein, triptopan, gelatin, fenil alanin) dan larutan protein (susu
bubuk, susu cair, kuning telur dan putih telur).
3. Ditambahkan 1 ml NaOH 2 N, dikocok, kemudian ditambahkan
setetes CuSO4 0,01 N.
4. Dikocok dan diamati perubahan yang terjadi. Jika tidak timbul warna
tambahkan setetes atau lebih CuSO4.
B. Uji Hopkins Cole
1. Disiapkan 7 tabung reaksi yang bersih dan kering.
2. Diisi masing-masingg tabung reaksi dengan 2 ml larutan asam amino
(sistein, triptopan, gelatin, fenil alanin) dan larutan protein (susu
bubuk, susu cair, kuning telur dan putih telur).
3. Ditambahkan sedikit demi sedikit kira-kira sebanyak 5 ml H2SO4
pekat melalui sisi tabung.
4. Diamati warna yang terbentuk pada pertemuan kedua cairan. Jika perl
putar perlahan-lahan tabung reaksi sampai terbentuk cincin berwarna.
C. Denaturasi Protein
1. Disiapkan 12 tabung reaksi yang bersih dan kering.
2. Dipipet 5 ml dari setiap larutan asam amino (sistein, triptopan,
gelatin, fenil alanin) dan dimasukkan dalam masing-masing tabung
reaksi yang telah disediakan dan diberi label.
3. Ditambahkan HCl 0,5 ml pada tabung ke-1, NaOH 0,5 ml pada tabng
ke-2, dan air 0,5 ml pada tabung ke-3.
4. Diulangi untuk percobaan larutan protein.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1. Uji Biuret


Sampel NaOH 2 N CuSO4 0,01 N Ket.
Larutan asam amino:
1. Gelatin Kuning pucat Ungu +
2. Sistein Kuning pucat Biru gelap
-
3. Triptopan Kuning pucat Biru muda
-
4. Fenil alanin Bening Biru kenguan
+
Larutan protein:
1. Susu bubuk Putih Ungu +
2. Putih telur Bening Ungu +
3. Kuning telur Kuning Biru tua -
Garmbar :
Sampel asam amino
Sampel Protein

IV.2. Uji Hopkins Cole


Sampel H2SO4 Pekat Ket.
Larutan asam amino:
1. Gelatin Tidak terbentuk cincin berwarna ungu -
2. Sistein Tidak terbentuk cincin berwarna ungu -
3. Triptopan Tidak terbentuk cincin berwarna ungu -
4. Fenil alanin Tidak terbentk cincin berwarna ungu -
Larutan protein:
1. Susu bubuk Berwarna ungu kehitaman +
2. Putih telur Berwarna ungu +
3. Kuning telur Berwarna merah muda -
Gambar:
IV.3. Denaturasi Protein
Pereaksi
Sampel
HCl NaOH Aquadest
Larutan asam amino:
1. Gelatin + + -
2. Sistein + + -
3. Triptopan - + -
4. Fenil alanin + - -
Larutan protein:
1. Susu bubuk + + -
2. Putih telur + + -
3. Kuning telur + + -
Keterangan : + = Terdapat endapan atau terjadi penggumpalan
= Tidak terjadi penggumpalan

NaOH HCl Aquadest


BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikm kali ini dilakukan percobaan asam amino dan protein yang
bertujuan untunk mengidentifikasi sifat-sifat reaksi asam amino dan protein serta
menentukan senyawa-senyawa asam amino dan protein melalui reaksi reagen. Hal
tersebut ditentukan dengan menggunakan uji Biuret, uji Hopkins Cole, dan
denaturasi protein. Adapun sampel yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu
larutan protein (susu bubuk, putih telur dan kuning telur) dan larutan asam amino
(sistein, triptopan, gelatin dan fenil alanin).
Pada percobaan ini, yang pertama dilakukan yaitu uji Biuret. Uji Biuret
merupakan reaksi warna yang umum untuk gugus peptide (-CO-NH-) dan juga
protein. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya warna ungu karena
terbentuknya senyawa kompleks Cu2+ gugus CO dan N dari molekul ikatan
peptida. Langkah pertama larutan asam amino (sistein, triptopan, gelatin, fenil
alanin) dan larutan protein (susu bubuk, putih telur, dan kuning telur)
ditambahkan NaOH dan akan menunjukkan warna bening. Penambahan larutan
NaOH yaitu sebagai katalais yang berfungsi untuk menghancurkan atau
memecahkan protein. Kemudian ditetesi dengan CuSO 4 pada masing-masing
sampel akan terjadi perubahan warna menjadi warna ungu. Larutan CuSO 4 yang
bersifat basa bereaksi dengan polipeptida, sedangkan polipeptida merupakan
penyusun protein. Dimana pada sampel asam amino (sistein, triptopan, gelatin,
fenil alanin) yang positif mengandung ikatan polipeptida yaitu gelatin dan fenil
alanin yang ditandai dengan perubahan warna menjadi warna ungu. Sedangkan
pada sampel asam amino yang negative yaitu sisitein dan triptopan dengan
perubahan warna menjadi biru, hal ini menandakan ikatan peptida pada sistein dan
triptopan lemah. Untuk larutan protein yaitu susu bubuk, putih telur dan kuning
telur berwarna ungu. Sehingga pada semua sampel protein menunjukkan adanya
polipeptida. Reaksi yang terjadi yaitu :

Langkah selanjutnya dilakukan uji Hopkins-Cole. Uji Hopkins-Cole


merupakan uji kimia yang digunakan untuk mennjukkan adanya asam amino
triptopan. Pereaksi Hopskins-Cole yang dipakai mengandung triptopan asam
glioksilat ( HgSO4). Kondensas 2 inti induk dari triptopan oleh asam glioksilat
akan menghasilkan senyawa berwarna ungu. Reaksi positif ditunjukkan dengan
adanya cincin berwarna. Berikut ini reaksi yang ditunjukkan apabila sampel
positif mengandung asam amino triptopan :
H H
CH2 CH2 CO 2H HC O CO 2H
+ HC O
N NH
N
H
H H H
triptofan asam glioksilat asam
2,3,4,5,tetrahidro-
-karbolin-4-karboksilat

Langkah pertama yang dilakukan yaitu sampel asam amino (sistein, triptopan,
gelatin, fenil alanin) ditambahkan H2SO4 pekat. Fungsi penambahan asam sulfat
ini adalah sebagai oksidator agar terbentuk cincin ungu pada larutan sampel.
Berdasarkan hasil pengamatan untuk semua sampel asam amino menunjukkan
hasill yang negatif, dimana sistein, triptopan, gelatin, fenil alanin tidak terbentuk
cincin berwarna ungu. Hal ini tidak sesuai dengan literatur, dimana triptopan
harusnya terbentuk cincin berwarna karena merupakan satu-satunya asam amino
yang mengandung gugus indol atau triptopan dalam asam amino. Pada sampel
protein (susu bubuk, putih telur dan kuning telur) didapatkan hasil yaitu pada susu
bubuk setelah penambahan H2SO4 terjadi perubahan warna menjadi warna ungu
kehitaman, kuning telur berubah warna menjadi ungu tua dan putih telur berubah
warna merah muda. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip uji Hopkins-Cole, karena
terjadi kesalahan pada praktikum dimana praktikan tidak memperhatikan adanya
cincin berwarna yang terbentuk, tetapi memperhatikan warna yang terbentuk.
Namun berdasarkan literatur yang menyatakan bahwa triptopan merupakan asam
amino esensial dan sumber dari triptopan terdapat pada karbohidrat seperti pada
telur, daging, susu, pisang dan keju.
Pada uji denaturasi protein mempunyai prinsip yaitu hilangnya atau proses
terpecahnya ikatan hydrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbentuknya
lipatan atau wiru molekul protein. Langkah pertama yang dilakukan pada uji ini
yaitu sampel ditambahkan HCl yang bersifat asam kuat pada sampel asam amino
(sistein, triptopan, gelatin, fenil alanin) dan larutan protein (susu bubuk, putih
telur dan kuning telur). Berdasarkan hasil pengamatan, untuk sampel asam amino
ketika ditambahkan HCl sebanyak 0,5 ml untuk gelatin, sistein dan fenil alanin
positif mengalami denaturasi atau adanya endapan. Sedangkan pada sampel
larutan protein seperti susu bubuk, putih telur, dan kuning telur positif mengalami
danaturasi atau penggumpalan. Hal ini terjadi karena penambahan HCl yang
bersifat asam kuat menyebabkan pH larutan asam amino menjadi sangat asam.
Pada langkah selanjutnya sampel asam amino (sistein, triptopan, gelatin, fenil
alanin) dan larutan protein (susu bubuk, putih telur dan kuning telur) ditambahkan
dengan NaOH yang bersifat basa kuat. Adapun hasil yang diperoleh pada sampel
asam amino yaitu gelatin, sistein dan triptopan positif mengalami denaturasi atau
penggumpalan. Dan sampel larutan protein yaitu susu bubuk, putih telur dan
kuning telur positif mengalami denaturasi atau penggumpalan. Hal ini terjadi
karena pada penambahan NaOH yang bersifat basa kuat, mengakibatkan
terjadinya perubahan pH yang sangat ekstrem pada sampel asam amino dan
protein menjadi basa. Sedangkan pada penambahan aquadest, sampel asam amino
(sistein, triptopan, gelatin, fenil alanin) dan larutan protein (susu bubuk, putih
telur dan kuning telur) negatif karena aquadest bersifat netral, sehingga tidak
mengalami kehilangan atau kerusakan struktur. Berikut ini reaksi yang terjadi
pada sampel asam amino maupun sampel protein yang mengalami denaturasi :

Berdasarkan literatur, pelarut yang dapat terjadi denaturasi yaitu senyawa seperti
asam kuat, basa kuat, garam anorganik terkonsentrasi. Denaturasi yang terjadi karena
penambahan pelarut yang bersifat asam dan basa kuat ditandai dengan peningkatan
kekeruhan hingga terbentuk gumpalan pada saat mencapai pH isoelektis. pH isoelektis
adalah keadaan saat protein memiliki muatan positif atau negatif.
BAB V

PENUTUP

V.1. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah di lakukan, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Pada Uji Biuret yang bertujuan untuk menentukan adanya gugus
pentida (-CO-) dan juga protein. Reaksi positif ditandai dengan
terbentuknya warna ungu setelah penambahan NaOH 2 N dan CuSO 4
0,01 N. Adapun sampel positif untuk larutan asam amino yaitu gelatin
dan fenil alanin, sedangkan larutan protein yaitu susu bubuk, putih telur
dan kuning telur.
2. Pada Uji Hopkins-Cole yang digunakan untuk menunjukkan adanya
asam amino triptopan. Reaksi positif ditandai dengan adanya cincin
berwarna ungu. Adapun sampel yang positif untuk larutan protein yaitu
susu bubuk dan kuning telur. Reaksi ini terjadi setelah penambahan
H2SO4 pekat. Sedangkan semua sampel asam amino memiliki hasil
yang negatif.
3. Pada Uji Denaturadsi Protein yang memiliki prinsip yaitu hilangnya
atau proses terpecahnya ikatan hidrogen yang ditandai dengan adanya
penggumpalan. Sampel yang positif mengalami denaturasi pada pelarut
HCl pada sampel asam amino yaitu gelatin, sistein, fenil alanin,
sedangkan pada sampel protein yaitu putih telur, kuning telur, dan susu
bubuk. Pada pelarut NaOH positif pada sampel asam amino yaitu
gelatin, sistein, tripropan, sedangkan pada sampel protein yaitu putih
telur, kuning telur dan susu bubuk. Sedangkan pada aquadest tidak
terjadi penggumpalan pada sampel manapun.
V.2. Saran
Disarankan agar alat dan bahan dalam laboratorium lebih dilengkapi
lagi dan hendaknya praktikan berhati-hati saat menggunakan alat-alat yang
ada di laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Hawab, HM. 2004. Pengantar Biokimia. Jakarta: Bayu Media Publishing.
Poedjiadi, A dan Suppyanti, T. 2006. Dasar-Dasar Biokimia Edisi Revisi. Jakarta:
Universitas Indonesia Press
Sumarno. 2002. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Winarmo F.G. 2004. Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

Anda mungkin juga menyukai