Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN PENDAHULUAN

PERITONITIS

A. Definisi
Peritonitis adalah peradangan yang disebabkan oleh infeksi pada selaput
organ perut (peritonieum).Peritonieum adalah selaput tipis dan jernih yang
membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Lokasi peritonitis bisa
terlokalisir atau difuse, riwayat akut atau kronik dan patogenesis disebabkan oleh
infeksi atau aseptik. Peritonitis merupakan suatu kegawat daruratan yang biasanya
disertai dengan bakterecemia atau sepsis. Akut peritonitis sering menular dan sering
dikaitkan dengan perforasi viskus (secondary peritonitis).Apabila tidak ditemukan
sumber infeksi pada intraabdominal, peritonitis diketagorikan sebagai primary
peritonitis (Fauci et al, 2008).
B. Anatomi Fisiologi
Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks.
Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga,
dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis,
yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis, lemak sub
kutan dan facies superfisial (facies skarpa ), kemudian ketiga otot dinding perut m.
obliquus abdominis eksterna, m. obliquus abdominis internus dan m. transversum
abdominis, dan akhirnya lapis preperitoneum dan peritoneum, yaitu fascia
transversalis, lemak preperitonial dan peritoneum. Otot di bagian depan tengah terdiri
dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan
oleh linea alba (De Jong, W., Sjamsuhidajat., 2005).
Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial.
Pada permulaan, mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom.
Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Enteron
didaerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga mesoderm, dorsal dan ventral usus
saling mendekat, sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritoneum
(Anonim, 2002). Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3, yaitu: (Anonim, 2002)
1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis (tunika serosa).
2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis.
3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis.
Sumber, Anonim, 2002, Abdomen, Bagian Anatomi FK UGM, Yogyakarta
Gambar 1. Peritoneum,
Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis
kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut
duplikatura. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu
duplikatura. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan
dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang
disebut mesenterium. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan
mesenterium dorsale. Mesenterium ventrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars
superior duodeni kemudian menghilang. Lembaran kiri dan kanan mesenterium
ventrale yang masih tetap ada, bersatu pada tepi kaudalnya. Mesenterium setinggi
ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. Pada waktu
perkembangan dan pertumbuhan, ventriculus dan usus mengalami pemutaran. Usus
atau enteron pada suatu tempat berhubungan dengan umbilicus dan saccus vitellinus.
Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. 12
Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok
dan terjadi jirat-jirat. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 dengan
aksis ductus omphaloentericus dan a. mesenterica superior masing-masing pada
dinding ventral dan dinding dorsal perut. Setelah ductus omphaloentericus
menghilang, jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale
mendekati peritoneum parietale. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah
oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah
ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale (Anonim, 2002).
Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale
mendekati peritoneum dorsale, terjadi perlekatan. Tetapi, tidak semua tempat terjadi
perlekatan. Akibat perlekatan ini, ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai
alat-alat penggantung lagi, dan sekarang terletak disebelah dorsal peritoneum
sehingga disebut retroperitoneal. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat
penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum
parietale, disebut terletak intraperitoneal. Rongga tersebut disebut cavum peritonei,
dengan demikian (Anonim, 2002):
1. Duodenum terletak retroperitoneal;
2. Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung
mesenterium;
3. Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal;
4. Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung
disebut mesocolon transversum;
5. Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung
mesosigmoideum;
6. cecum terletak intraperitoneal;
7. Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung
mesenterium.
Di berbagai tempat, perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada
peritoneum parietale tidak sempurna, sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara
usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau
diantara mesenterium dan peritoneum parietale yang dibatasi lipatan-lipatan.
Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah.
Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior
yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang
membatasi resesus duodenalis inferior. Pada colon descendens terdapat recessus
paracolici. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara
peritoneum parietale dan mesosigmoideum (Anonim, 2002).
Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris.
Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga
terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae (Anonim, 2002). Dataran
peritoneum yang dilapisis mesotelium, licin dan bertambah licin karena peritoneum
mengeluiarkan sedikit cairan. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan
dengan stratum synoviale di persendian. Peritoneum yang licin ini memudahkan
pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain.
Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem
saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan.Dengan demikian
sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien.
Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ, atau terjadi kontraksi yang
berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang
seperti apendisitis, maka akan timbul nyeri. Pasien yang merasakan nyeri viseral
biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia
menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri
(Townsend, C.M, et al, 2008)
Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi, sehingga nyeri dapat timbul
karena adanya rangsang yang berupa rabaan, tekanan, atau proses radang. Nyeri
dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat, dan pasien dapat menunjukkan
dengan tepat lokasi nyeri (Townsend, C.M, et al, 2008). Area permukaan total
peritoneum sekitar 2 meter, dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi
permeabel. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah (Arief M,
Suprohaita, Wahyu.I.K, Wieiek S., 2000).
C. Etiologi
Peritonitis yang merupakan suatu peradangan membran serosa rongga
abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. Peritonitis bisa terjadi
karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding
perut, misalnya pada ruptur apendiks atau divertikulum colon. Penyakit ini bisa juga
terjadi karena adanya iritasi bahan kimia, misalnya asam lambung dari perforasi
ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang
mengalami laserasi. Pada wanita, peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat
infeksi tuba falopii atau ruptur kista ovarium. Sejak zaman dahulu, peritonitis yang
tidak diobati dapat menjadi sangat fatal. Tahun 1926 prinsip-prinsip dasar
penatalaksanaan operasi peritonitis mulai dikerjakan. Hingga kini tindakan operatif
merupakan pilihan terbaik untuk menyelesaikan masalah peritonitis. Selain itu, harus
dilakukan pula tata laksana terhadap penyakit yang mendasarinya, pemberian
antibiotik, dan terapi suportif untuk mencegah komplikasi sekunder akibat gagal
sistem organ (Cole et al, 1970). Di Indonesia penyebab tersering dari peritonitis ini
adalah : perforasi apendisitis, perforasi typhus abdominalis, trauma organ hollow
viscus, peritonitis yang disebabkan infeksi kuman mycobacterium Tuberculosis
(Fauci et al, 2008).
D. Klasifikasi
Infeksi peritoneal dapat diklasifikasikan sebagai bentuk (Brian, J., 2011)
1. Peritonitis primer (Spontaneus)
Disebabkan oleh invasi hematogen dari organ peritoneal yang langsung dari
rongga peritoneum.Penyebab paling sering dari peritonitis primer adalah
spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Kira-kira 10-
30% pasien dengan sirosis hepatis dengan ascites akan berkembang menjadi
peritonitis bakterial (Brian, J., 2011dan Fauci et al, 2008)
2. Peritonitis sekunder
Penyebab peritonitis sekunder paling sering adalah perforasi appendicitis,
perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering
kolon sigmoid) akibat divertikulitis, volvulus, kanker serta strangulasi usus halus
(Brian, J., 2011dan Fauci et al, 2008).
Tabel 1. Penyebab Peritonitis Sekunder
Regio Asal Penyebab
Esopaghus Boerhaave syndrome
Malignancy
Trauma (mostly penetrating)
Iatrogenic*
Stomach Peptic ulcer perforation
Malignancy (eg, adenocarcinoma, lymphoma, gastrointestinal
stromal tumor)
Trauma (mostly penetrating)
Iatrogenic*
Duodenum Peptic ulcer perforation
Trauma (blunt and penetrating)
Iatrogenic*
Biliary Cholecystitis
tract Stone perforation from gallbladder (ie, gallstone ileus) or common
duct
Malignancy
Choledochal cyst (rare)
Trauma (mostly penetrating)
Iatrogenic*
Pancreas Pancreatitis (eg, alcohol, drugs, gallstones)
Trauma (blunt and penetrating)
Iatrogenic*
Small Incarcerated hernia (internal and external)
bowel Ischemic bowel
Closed loop obstruction
Crohn disease
Malignancy (rare)
Meckel diverticulum
Trauma (mostly penetrating)
Large Ischemic bowel
bowel and Diverticulitis
appendix Malignancy
Ulcerative colitis and Crohn disease
Appendicitis
Colonic volvulus
Trauma (mostly penetrating)
Iatrogenic

Uterus, Pelvic inflammatory disease (eg, salpingo-oophoritis, tubo-


salpinx, ovarian abscess, ovarian cyst)
and ovaries Malignancy (rare)
Trauma (uncommon)

3. Peritonitis tertier
Peritonitis yang mendapat terapi tidak adekuat, superinfeksi kuman, dan akibat
tindakan operasi sebelumnya. Sedangkan infeksi intraabdomen biasanya dibagi
menjadi generalized (peritonitis) dan localized (abses intra abdomen) (Brian, J.,
2011, Fauci et al, 2008, dan Townsend, C.M, et al, 2008)
E. Patofisiologi5
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat
fibrinosa.Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa,
yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi
infeksi.Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap
sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus (Fauci et al,
2008)
Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran
mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif,
maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya
interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke
perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba
untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal. Produk
buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi
ini segera gagal begtu terjadi hipovolemia (Fauci et al, 2008).
Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen
mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler
organ-organ tersebutmeninggi.Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan
lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding
abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hippvolemia. Hipovolemia
bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah.
Terjebaknya cairan di ccavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan
terkanan intra abdomen, membuat usaha pernafasan penuh menjadi sulit dan
menimbulkan penurunan perfusi (Fauci et al, 2008)
Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau
bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan
peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus
kemudian menjadi atoni dan meregang.Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen
usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria.Perlekatan
dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat
mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus (Fauci et al,
2008).
Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus
karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan
peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa
ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh
darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi
disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir
dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena
penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis
(Fauci et al, 2008).
Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan
kuman S. Typhi yang masuk tubuh manusia melalui mulut dari makan dan air
yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi
masuk ke usus halus dan mencapai jaringan hipertrofi ditempat ini komplikasi
perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi, perforasi ileum pada tifus
biasanya terjadi pada penderita yang demam selama kurang lebih 2 minggu
yang disertai nyeri kepala, batuk dan malaise yang disusul oleh nyeri perut,
nyeri tekan, defansmuskuler, dan keadaan umum yang merosos karena
toksemia. 5
Perforasi tukak peptik khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai
di epigastrium dan meluas keseluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata
perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut.
Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam
perut nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan di daerah epigastrium
karena rangsangan peritonium oleh asam lambung, empedu dan atau enzim
pankreas kemudian menyebar keseluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut
pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria, kadang fase ini disebut fase
peritonitis kimia, adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum
berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang, ini akan mengurangi
keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria (Fauci et
al, 2008).
Pada apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hiperplasi folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis dan
neoplasma obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan, makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan oedem, diapedesis bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi vena
sehingga oedem bertambah kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark
dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau ganggren dinding apendiks
sehingga menimbulkan perforasi dan akhirnya mengakibatkan peritonitis baik
lokal maupun general (Fauci et al, 2008).
Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan trauma tumpul
abdomen dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai
organ yang berongga intraperitonial. Rangsangan peritonial yang timbul sesuai
dengan isi dari organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia
sampai dengan kolon yang berisi fese. Rangsangan kimia onsetnya paling cepat
dan feses paling lambat/ bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya didaerah
lambung maka akan terjadi perangsangan segera sesudah trauma dan akan
terjadi gejala peritonits hebat sedangkan bila bagian bawah seperti kolon, mula-
mula tidak terjadi gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk
berkembang biak baru setelah 24 jam timbul gejala akut abdomen karena
perangsangan peritoneum (Fauci et al, 2008).
F. Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda biasanya berhubungan dengan proses penyebaran di dalam
rongga abdomen. Bertanya gejala berhubungan dengan beberapa faktor yaitu:
lamanya penyakit, perluasan dari kontaminasi cavum peritoneum dan kemampuan
tubuh untuk melawan, usia serta tingkat kesehatan penderita secara umum (Cole et al,
1970).
Manifestasi klinis dapat dibagi menjadi (1) tanda abdomen yang berasal dari
awal peradangan dan (2) manifestasi dari infeksi sistemik. Penemuan lokal meliputi
nyeri abdomen, nyeri tekan, kekakuan dari dinding abdomen, distensi, adanya udara
bebas pada cavum peritoneum dan menurunnya bising usus yang merupakan tanda
iritasi dari peritoneum parietalis dan menyebabkan ileus. Penemuan sistemik meliputi
demam, menggigil, takikardi, berkeringat, takipneu, gelisah, dehidrasi, oliguria,
disorientasi dan pada akhirnya dapat menjadi syok (Doherty, G.M., 2010).
1. Gejala klinis
a. Nyeri abdomen
Nyeri abdomen merupakan gejala yang hampir selalu ada pada
peritonitis.Nyeri biasanya dating dengan onset yang tiba-tiba, hebat dan pada
penderita dengan perforasi nyerinya didapatkan pada seluruh bagian
abdomen.7 Seiring dengan berjalannya penyakit, nyeri dirasakan terus-
menerus, tidak ada henti-hentinya, rasa seperti terbakar dan timbul dengan
berbagai gerakan.Nyeri biasanya lebih terasa pada daerah dimana terjadi
peradangan peritoneum. Menurunnya intensitas dan penyebaran dari nyeri
menandakan adanya lokalisasi dari proses peradangan, ketika intensitasnya
bertambah meningkat diserta dengan perluasan daerah nyeri menandakan
penyebaran dari peritonitis.8
b. Anoreksia, mual, muntah dan demam
Pada penderita juga sering didapatkan anoreksia, mual dan dapat diikuti
dengan muntah.Penderita biasanya juga mengeluh haus dan badan terasa
seperti demam sering diikuti dengan menggigil yang hilang
timbul.Meningkatnya suhu tubuh biasanya sekitar 38OC sampai 40 O
C
(Schwartz, S.I et al., 2006).
c. Facies Hipocrates
Pada peritonitis berat dapat ditemukan fascies Hipocrates.Gejala ini termasuk
ekspresi yang tampak gelisah, pandangan kosong, mata cowong, kedua
telinga menjadi dingin, dan muka yang tampak pucat (Cole et al, 1970) .
Penderita dengan peritonitis lanjut dengan fascies Hipocrates biasanya berada
pada stadium pre terminal.Hal ini ditandai dengan posisi mereka berbaring
dengan lutut di fleksikan dan respirasi interkosta yang terbatas karena setiap
gerakan dapat menyebabkan nyeri pada abdomen (Schwartz, S.I et al., 2006).
Tanda ini merupakan patognomonis untuk peritonitis berat dengan tingkat
kematian yang tinggi, akan tetapi dengan mengetahui lebih awal diagnosis
dan perawatan yang lebih baik, angka kematian dapat lebih banyak
berkurang (Cole et al, 1970).
d. Syok
Pada beberapa kasus berat, syok dapat terjadi oleh karena dua factor.Pertama
akibat perpindahan cairan intravaskuler ke cavum peritoneum atau ke lumen
dari intestinal.Yang kedua dikarenakan terjadinya sepsis generalisata. 6 Yang
utama dari septikemia pada peritonitis generalisata melibatkan kuman gram
negative dimana dapat menyebabkan terjadinya tahap yang menyerupai syok.
Mekanisme dari fenomena ini belum jelas, akan tetapi dari penelitian
diketahui bahwa efek dari endotoksin pada binatang dapat memperlihatkan
sindrom atau gejala-gejala yang mirip seperti gambaran yang terlihat pada
manusia (Cole et al, 1970).
2. Tanda
a. Tanda Vital
Tanda vital sangat berguna untuk menilai derajat keparahan atau komplikasi
yang timbul pada peritonitis.Pada keadaan asidosis metabolic dapat dilihat
dari frekuensi pernafasan yang lebih cepat daripada normal sebagai
mekanisme kompensasi untuk mengembalikan ke keadaan normal.Takikardi,
berkurangnya volume nadi perifer dan tekanan nadi yang menyempit dapat
menandakan adanya syok hipovolemik. Hal-hal seperti ini harus segera
diketahui dan pemeriksaan yang lebih lengkap harus dilakukan dengan
bagian tertentu mendapat perhatian khusus untuk mencegah keadaan yang
lebih buruk (Schwartz, S.I et al., 2006).
b. Inspeksi
Tanda paling nyata pada penderita dengan peritonitis adalah adanya distensi
dari abdomen.Akan tetapi, tidak adanya tanda distensi abdomen tidak
menyingkirkan diagnosis peritonitis, terutama jika penderita diperiksa pada
awal dari perjalanan penyakit, karena dalam 2-3 hari baru terdapat tanda-
tanda distensi abdomen. Hal ini terjadi akibat penumpukan dari cairan
eksudat tapi kebanyakan distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik (Cole
et al, 1970).
c. Auskultasi
Auskultasi harus dilakukan dengan teliti dan penuh perhatian. Suara usus
dapat bervariasi dari yang bernada tinggi pada seperti obstruksi intestinal
sampai hamper tidak terdengar suara bising usus pada peritonitis berat dengan
ileus. Adanya suara borborygmi dan peristaltic yang terdengar tanpa stetoskop
lebih baik daripada suara perut yang tenang. Ketika suara bernada tinggi tiba-
tiba hilang pada abdomen akut, penyebabnya kemungkinan adalah perforasi
dari usus yang mengalami strangulasi (Cole et al, 1970).
d. Perkusi
Penilaian dari perkusi dapat berbeda tergantung dari pengalaman
pemeriksa.Hilangnya pekak hepar merupakan tanda dari adanya perforasi
intestinal, hal ini menandakan adanya udara bebas dalam cavum peritoneum
yang berasal dari intestinal yang mengalami perforasi.Biasanya ini merupakan
tanda awal dari peritonitis (Cole et al, 1970) . Jika terjadi pneumoperitoneum
karena rupture dari organ berongga, udara akan menumpuk di bagian kanan
abdomen di bawah diafragma, sehingga akan ditemukan pekak hepar yang
menghilang (Schwartz, S.I et al., 2006)
e. Palpasi
Palpasi adalah bagian yang terpenting dari pemeriksaan abdomen pada kondisi
ini.Kaidah dasar dari pemeriksaan ini adalah dengan palpasi daerah yang
kurang terdapat nyeri tekan sebelum berpindah pada daerah yang dicurigai
terdapat nyeri tekan.Ini terutama dilakukan pada anak dengan palpasi yang
kuat langsung pada daerah yang nyeri membuat semua pemeriksaan tidak
berguna.Kelompok orang dengan kelemahan dinding abdomen seperti pada
wanita yang sudah sering melahirkan banyak anak dan orang yang sudah tua,
sulit untuk menilai adanya kekakuan atau spasme dari otot dinding
abdomen.Penemuan yang paling penting adalah adanya nyeri tekan yang
menetap lebih dari satu titik. Pada stadium lanjut nyeri tekan akan menjadi
lebih luas dan biasanya didapatkan spasme otot abdomen secara involunter.
Orang yang cemas atau yang mudah dirangsang mungkin cukup gelisah, tapi
di kebanyakan kasus hal tersebut dapat dilakukan dengan mengalihkan
perhatiannya. Nyeri tekan lepas timbul akibat iritasi dari peritoneum oleh
suatu proses inflamasi. Proses ini dapat terlokalisir pada apendisitis dengan
perforasi local, atau dapat menjadi menyebar seperti pada pancreatitis berat.
Nyeri tekan lepas dapat hanya terlokalisir pada daerah tersebut atau menjalar
ke titik peradangan yang maksimal (Cole et al, 1970).
Pada peradangan di peritoneum parietalis, otot dinding perut
melakukan spasme secara involunter sebagai mekanisme pertahanan.Pada
peritonitis, reflek spasme otot menjadi sangat berat seperti papan (Schwartz,
S.I et al., 2006).
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Evaluasi laboratotium hanya dilakukan jika adanya hubungan antara riwayat
penyakit dengan pemeriksaan fisik.Tes yang paling sederhana dilakukan adalah
termasuk hitung sel darah dan urinalisis.Pada kasus peritonitis hitung sel darah
putih biasanya lebih dari 20.000/mm3, kecuali pada penderita yang sangat tua atau
seseorang yang sebelumnya terdapat infeksi dan tubuh tidak dapat mengerahkan
mekanisme pertahanannya (Cole et al, 1970).
Pada perhitungan diferensial menunjukkan pergeseran ke kiri dan didominasi
oleh polimorfonuklear yang memberikan bukti adanya peradangan, meskipun
jumlah leukosit tidak menunjukkan peningkatan yang nyata (Schwartz, S.I et al.,
2006). Analisa gas darah, serum elektrolit, faal pembekuan darah serta tes fungsi
hepar dan ginjal dapat dilakukan (Doherty, G.M., 2010).
Pemeriksaan juga dapat dilakukan pada cairan peritoneal dengan
menggunakan Diagnostic Peritoneal Lavage. Pada peritonitis tuberculosa cairan
peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak
limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan
atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan
merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat (Fauci et al, 2008).

Sumber, Fauci et al, 2008, Harrisons Principal Of Internal Medicine Volume 1,


McGraw Hill, Peritonitis halaman 808-810, 1916-1917.
Gambar 3. Diagnostic Peritoneal Lavage
2. Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada kebanyakan kasus peritonitis hanya mencakup
foto thorak PA dan lateral serta foto polos abdomen. Pada foto thorak dapat
memperlihatkan proses pengisian udara di lobus inferior yang menunjukkan
proses intraabdomen. Dengan menggunakan foto polos thorak difragma dapat
terlihat terangkat pada satu sisi atau keduanya akibat adanya udara bebas dalam
cavum peritoneum daripada dengan menggunakan foto polos abdomen (Cole et al,
1970).
Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis, usus halus dan
usus besar mengalami dilatasi, udara bebas dapat terlihat pada kasus perforasi.
Foto polos abdomen paling tidak dilakukan dengan dua posisi, yaitu posisi
berdiri/tegak lurus atau lateral decubitus atau keduanya. Foto harus dilihat ada
tidaknya udara bebas. Gas harus dievaluasi dengan memperhatikan pola, lokasi
dan jumlah udara di usus besar dan usus halus (Cole et al, 1970).
Gambaran Radiologis yang ditemukan dapat berupa :
Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk
pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Pada
peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi, yaitu : (rasad)
a. Tiduran telentang ( supine ), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi
anteroposterior ( AP ).
b. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan
sinar horizontal proyeksi AP.
c. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar
horizontal, proyeksi AP.

Sumber, Cole et al. 1970. Cole and Zollinger Textbook of Surgery 9th Edition.
AppeltonCentury Corp, Hal 784-795
Gambar 4. Gambaran radiologis umum peritonitis
Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan
pada cavum abdomen, preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan adanya udara
bebas subdiafragma atau intra peritoneal (Doherty, G.M., 2010)
Pada kasus peritonitis karena perdarahan, gambarannya tidak jelas pada foto
polos abdomen. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG. Sedangkan
gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto
polos abdomen 3 posisi. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum,
pecahnya usus buntu atau karena sebab lain, tanda utama radiologi adalah:
o
Posisi tidur, didapatkan preperitoneal fat menghilang, psoas line menghilang, dan
kekaburan pada cavum abdomen
o
Posisi duduk atau berdiri, di datpkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit
( semilunar shadow)
Sumber, Cole et al. 1970. Cole and Zollinger Textbook of Surgery 9th Edition.
AppeltonCentury Corp, Hal 784-795
Gambar 5. Foto BOF peritonitis
o
Posisi LLD, didapatkan free air intra peritoneal pada daerah perut yang paling
tinggi. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan
dinding abdomen.

Sumber, Cole et al. 1970. Cole and Zollinger Textbook of Surgery 9th Edition.
AppeltonCentury Corp, Hal 784-795
Gambar 6. Foto BOF LLD
H. Tata Laksana
Tatalaksana utama pada peritonitis antara lain pemberian cairan dan elektrolit,
kontrol operatif terhadap sepsis dan pemberian antibiotik sistemik (Doherty, G.M.,
2010).
1. Penanganan Preoperatif
a. Resusitasi Cairan
Peradangan yang menyeluruh pada membran peritoneum menyebabkan
perpindahan cairan ekstraseluler ke dalam cavum peritoneum dan ruang
intersisial (Cole et al, 1970). Pengembalian volume dalam jumlah yang cukup
besar melalui intravaskular sangat diperlukan untuk menjaga produksi urin
tetap baik dan status hemodinamik tubuh. Jika terdapat anemia dan terdapat
penurunan dari hematokrit dapat diberikan transfusi PRC (Packed Red Cells)
atau WB (Whole Blood). Larutan kristaloid dan koloid harus diberikan untuk
mengganti cairan yang hilang (Doherty, G.M., 2010).
Secara teori, cairan koloid lebih efektif untuk mengatasi kehilangan
cairan intravaskuler, tapi cairan ini lebih mahal. Sedangkan cairan kristaloid
lebih murah, mudah didapat tetapi membutuhkan jumlah yang lebih besar
karena kemudian akan dikeluarkan lewat ginjal (Schwartz, S.I et al., 2006)
Suplemen kalium sebaiknya tidak diberikan hingga perfusi dari jaringan dan
ginjal telah adekuat dan urin telah diproduksi (Doherty, G.M., 2010).
b. Antibiotik
Bakteri penyebab tersering dari peritonitis dapat dibedakan menjadi
bakteri aerob yaitu E. Coli, golongan Enterobacteriaceae dan Streptococcus,
sedangkan bakteri anaerob yang tersering adalah Bacteriodes spp, Clostridium,
Peptostreptococci. Antibiotik berperan penting dalam terpai peritonitis,
pemberian antibiotik secara empiris harus dapat melawan kuman aerob atau
anaerob yang menginfeksi peritoneum (Schwartz, S.I et al., 2006)
Pemberian antibiotik secara empiris dilakukan sebelum didapatkan
hasil kultur dan dapat diubah sesuai dengan hasil kultur dan uji sensitivitas jika
masih terdapat tanda infeksi. Jika penderita baik secara klinis yang ditandai
dengan penurunan demam dan menurunnya hitung sel darah putih, perubahan
antibiotik harus dilakukan dengan hati-hati meskipun sudah didapatkan hasil
dari uji sensitivitas (Cole et al, 1970)
Efek pemberian antibiotik pada peritonitis tergantung kondisi-kondisi
seperti: (1) besar kecilnya kontaminasi bakteri, (2) penyebab dari peritonitis
trauma atau nontrauma, (3) ada tidaknya kuman oportunistik seperti
candida. Agar terapi menjadi lebih efektif, terpai antibiotik harus diberikan
lebih dulu, selama dan setelah operasi (Schwartz, S.I et al., 2006).
Pada umumnya Penicillin G 1.000.000 IU dan streptomycin 1 gram
harus segera diberikan. Kedua obat ini merupakan bakterisidal jika
dipertahankan dalam dosis tinggi dalam plasma. Kombinasi dari penicillin
dan streptomycin juga memberikan cakupan dari bakteri gram negatif.
Penggunaan beberapa juta unit dari peniillin dan 2 gram streptomycin sehari
sampai didapatkan hasil kultur merupakan regimen terpai yang logis. Pada
penderita yang sensitif terhadap penicillin, tetracycline dosis tinggi yang
diberikan secara parenteral lebih baik daripada chloramphenicol pada
stadium awal infeksi (Cole et al, 1970).
Pemberian clindamycin atau metronidazole yang dikombinasi dengan
aminoglikosida sama baiknya jika memberikan cephalosporin generasi
kedua (Schwartz, S.I et al., 2006). Antibiotik awal yang digunakan
cephalosporin generasi ketiga untuk gram negatif, metronidazole dan
clindamycin untuk organisme anaerob (Doherty, G.M., 2010).
Daya cakupan dari mikroorganisme aerob dan anerob lebih penting
daripada pemilihan terapi tunggal atau kombinasi. Pemberian dosis
antibiotikal awal yang kurang adekuat berperan dalam kegagalan terapi.
Penggunaan aminoglikosida harus diberikan dengan hati-hati, karena
gangguan ginjal merupakan salah satu gambaran klinis dari peritonitis dan
penurunan pH intraperitoneum dapat mengganggu aktivitas obat dalam sel.
Pemberian antibiotik diberikan sampai penderita tidak didapatkan demam,
dengan hitung sel darah putih yang normal (Schwartz, S.I et al., 2006)
c. Oksigen dan Ventilator
Pemberian oksigen pada hipoksemia ringan yang timbul pada
peritonitis cukup diperlukan, karena pada peritonitis terjadi peningkatan dari
metabolism tubuh akibat adanya infeksi, adanya gangguan pada ventilasi paru-
paru. Ventilator dapat diberikan jika terdapat kondisi-kondisi seperti (1)
ketidakmampuan untuk menjaga ventilasi alveolar yang dapat ditandai dengan
meningkatnya PaCO2 50 mmHg atau lebih tinggi lagi, (2) hipoksemia yang
ditandai dengan PaO2 kurang dari 55 mmHg, (3) adanya nafas yang cepat dan
dangkal
d. Intubasi, Pemasangan Kateter Urin dan Monitoring Hemodinamik
Pemasangan nasogastric tube dilakukan untuk dekompresi dari
abdomen, mencegah muntah, aspirasi dan yang lebih penting mengurangi
jumlah udara pada usus.Pemasangan kateter untuk mengetahui fungsi dari
kandung kemih dan pengeluaran urin.Tanda vital (temperature, tekanan darah,
nadi dan respiration rate) dicatat paling tidak tiap 4 jam.Evaluasi biokimia
preoperative termasuk serum elektrolit, kratinin, glukosa darah, bilirubin,
alkali fosfatase dan urinalisis (Schwartz, S.I et al., 2006).
2. Penanganan Operatif
Terapi primer dari peritonitis adalah tindakan operasi. Operasi biasanya
dilakukan untuk mengontrol sumber dari kontaminasi peritoneum. Tindakan ini
berupa penutupan perforasi usus, reseksi usus dengan anstomosis primer atau
dengan exteriorasi. Prosedur operasi yang spesifik tergantung dari apa yang
didapatkan selama operasi berlangsung, serta membuang bahan-bahan dari cavum
peritoneum seperti fibrin, feses, cairan empedu, darah, mucus lambung dan
membuat irigasi untuk mengurangi ukuran dan jumlah dari bakteri virulen
(Schwartz, S.I et al., 2006).
a. Kontrol Sepsis
Tujuan dari penanganan operatif pada peritonitis adalah untuk
menghilangkan semua material-material yang terinfeksi, mengkoreksi
penyebab utama peritonitis dan mencegah komplikasi lanjut. Kecuali pada
peritonitis yang terlokalisasi, insisi midline merupakan teknik operasi yang
terbaik. Jika didapatkan jaringan yang terkontaminasi dan menjadi fibrotik
atau nekrosis, jaringan tersebut harus dibuang. Radikal debridement yang rutin
dari seluruh permukaan peritoneum dan organ dalam tidak meningkatkan
tingkat bertahan hidup. Penyakit primer lalu diobati, dan mungkin
memerlukan tindakan reseksi (ruptur apendik atau kandung empedu),
perbaikan (ulkus perforata) atau drainase (pankreatitis akut). Pemeriksaan
kultur cairan dan jaringan yang terinfeksi baik aerob maupun anaerob segera
dilakukan setelah memasuki kavum peritoneum (Doherty, G.M., 2010).
b. Peritoneal Lavage
Pada peritonitis difus, lavage dengan cairan kristaloid isotonik (> 3
liter) dapat menghilangkan material-material seperti darah, gumpalan fibrin,
serta bakteri. Penambahan antiseptik atau antibiotik pada cairan irigasi tidak
berguna bahkan berbahaya karena dapat memicu adhesi (misal: tetrasiklin,
povidone-iodine). Antibiotik yang diberikan cecara parenteral akan mencapai
level bakterisidal pada cairan peritoneum dan tidak ada efek tambahan pada
pemberian bersama lavage. Terlebih lagi, lavage dengan menggunakan
aminoglikosida dapat menyebabkan depresi nafas dan komplikasi anestesi
karena kelompok obat ini menghambat kerja dari neuromuscular junction.
Setelah dilakukan lavage, semua cairan di kavum peritoneum harus diaspirasi
karena dapat menghambat mekanisme pertahanan lokal dengan melarutkan
benda asing dan membuang permukaan dimana fagosit menghancurkan
bakteri (Schwartz, S.I et al., 2006).
c. Peritoneal Drainage
Penggunaan drain sangat penting untuk abses intra abdominal dan
peritonitis lokal dengan cairan yang cukup banyak. Drainase dari kavum
peritoneal bebas tidak efektif dan tidak sering dilakukan, karena drainase yang
terpasang merupakan penghubung dengan udara luar yang dapat menyebabkan
kontaminasi. Drainase profilaksis pada peritonitis difus tidak dapat mencegah
pembentukan abses, bahkan dapat memicu terbentuknya abses atau fistula.
Drainase berguna pada infeksi fokal residual atau pada kontaminasi lanjutan.
Drainase diindikasikan untuk peradangan massa terlokalisasi atau kavitas yang
tidak dapat direseksi (Schwartz, S.I et al., 2006).
3. Pengananan Postoperatif
Monitor intensif, bantuan ventilator, mutlak dilakukan pada pasien yang tidak
stabil. Tujuan utama adalah untuk mencapai stabilitas hemodinamik untuk perfusi
organ-organ vital., dan mungkin dibutuhkan agen inotropik disamping pemberian
cairan. Antibiotik diberikan selama 10-14 hari, bergantung pada keparahan
peritonitis. Respon klinis yang baik ditandai dengan produksi urin yang normal,
penurunan demam dan leukositosis, ileus menurun, dan keadaan umum membaik.
Tingkat kesembuhan bervariasi tergantung pada durasi dan keparahan peritonitis.
Pelepasan kateter (arterial, CVP, urin, nasogastric) lebih awal dapat menurunkan
resiko infeksi sekunder (Schwartz, S.I et al., 2006).
I. Diagnosa Banding
Diagnosis banding dari peritonitis adalah :
1. Apendisitis
2. Pankreatitis
3. Gastroenteritis
4. Kolesistitis
5. Kehamilan ektopik terganggu
J. Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder, dimana
komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu :
1. Komplikasi dini
a. Septikemia dan syok septik
b. Syok hipovolemik
c. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan
multi sistem
d. Abses residual intraperitoneal
2. Komplikasi lanjut
a. Adhesi (perlengketan)
b. Obstruksi intestinal rekuren
K. Prognosis
Tingkat mortalitas dari peritonitis generalisata adalah sekitar 40%. Faktor-faktor
yang mempengaruhi tingginya tingkat mortalitas antara lain tipe penyakit primer dan
durasinya, keterlibatan kegagalan organ multipel sebelum pengobatan, serta usia dan
kondisi kesehatan awal pasien. Tingkat mortalitas sekitar 10% pada pasien dengan
ulkus perforata atau apendisitis, pada usia muda, pada pasien dengan sedikit
kontaminasi bakteri, dan pada pasien yang terdiagnosis lebih awal (Doherty, 2006).
Tabel 2. Penyebab dari peritonitis dan prediksi angka kematian
Penyebab Angka Kematian
Ringan Apendisitis <10%
Ulkus Gastroduodenal perforata
Salphingitis akut
Sedang Divertikulitis (perforasi lokal) <20%
Perforasi usus halus non vaskular
Multiple trauma
Berat Perforasi colon 20% - 80%
Iskemia usus halus
Pankreatitis akut necrotizing
Komplikasi pasca operasi

Prognosis juga dipengaruhi oleh :


1. Lamanya peritonitis :
a.
< 24 jam : > 90%
b.
24-48 jam : 60%
c.
48 jam : 20%
2. Usia
3. Komplikasi
L. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Pengumpulan Data
1) Identitas klien dan penanggung jawab
a) Identitas klien
Identitas klien terdiri dari : nama, umur, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, tanggal masuk rumah
sakit, tanggal pengkajian.
b) Penanggung jawab
Identitas penanggung jawab terdiri dari : nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
2) Riwayat Kesehatan Klien.
a) Keluhan Utama
Keluhan utama ini diambil dari data subjektif atau objektif yang paling
menonjol yang dialami oleh klien. Keluhan utama pada klien
peritonitis ialah nyeri di daerah abdomen, mual, muntah, demam
(Brunner & Suddarth, 2002 : 1104).
b) Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang adalah pengembangan dari keluhan utama
dan data yang menyertai menggunakan pendekatan PQRST (Priharjo,
1996 : 10).
P (Paliatif) : Faktor pencetus / penyebab yang dapat
memperingan dan memperberat keluhan klien.
Q (Qualitas) : Menggambarkan seperti apa keluhan dirasakan.
R (Region) : Mengetahui lokasi dari keluhan yang dirasakan,
apakah keluhan itu menyebar atau mempengaruhi area lain.
S (Severity) : Merupakan skala / intensitas keluhan.
T (Time) : Waktu dimana keluhan itu dirasakan.
Pada klien dengan peritonitis umumnya mengalami nyeri tekan
di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang, demam,
mual, muntah, bising usus menurun bahkan hilang, takikardi, takipnea.
c) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada kesehatan masa lalu ini dikaji tentang faktor resiko
penyebab masalah kesehatan sekarang serta jenis penyakit dan
kesehatan masa lalu. Pada klien post operasi akibat peritonitis, perlu
dikaji mengenai riwayat penyakit saluran pencernaan (seperti Typhoid,
Apendicitis, dll) dan riwayat pembedahan sebelumnya, serta riwayat
ruptur saluran cerna, komplikasi post operasi, operasi yang tidak steril
dan akibat pembedahan, trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa
dan ruptur hati.
d) Riwayat Kesehatan Keluarga
Pada riwayat kesehatan keluarga ini dikaji tentang penyakit
yang menular atau penyakit menurun yang ada dalam keluarga.
3) Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola Persepsi Kesehatan atau Menejemen Kesehatan
Menggambarkan persepsi klien terhadap keluhan apa yang dialami
klien, dan tindakan apa yang dilakukan sebelum masuk rumah sakit.
b) Pola Nutrisi
Menggambarkan asupan nutrisi, cairan dan elektrolit, kondisi kulit, dll.
Pada pasien peritonitis klien akan mengalami mual. Vomit dapat
muncul akibat proses patologis organ visceral (seperti obstruksi) atau
secara sekunder akibat iritasi peritoneal, selain itu terjadi distensi
abdomen, bising usus menurun, dan gerakan peristaltic usus turun
(<12x/menit). Diet yang diberikan berupa makanan cair seperti bubur
saring dan diberikan melalui NGT. Pada pasien post operasi dikaji
mengenai makanan pokok, frekuensi makan, pantangan makanan,
alergi terhadap makanan dan nafsu makan. Biasanya pada klien post
operasi akibat peritonitis terdapat mual, muntah dan anoreksia.
c) Pola Kognitif Perseptual
Menggambarkan kemampuan proses berpikir klien, memori, tingkat
kesadaran, dan kemampuan mendengar, melihat, merasakan, meraba,
dan mencium, serta sensori nyeri.
d) Pola Eliminasi
Pada pola eliminasi yang harus dikaji meliputi frekuensi buang air
besar, konsistensinya dan keluhan selama buang air besar. Frekuensi
buang air kecil, warna, jumlah urine tiap buang air kecil. Pada klien
dengan post operasi biasanya dijumpai penurunan jumlah urine akibat
intake cairan yang tidak adekuat akibat pembedahan.
e) Pola Istirahat dan Tidur.
Pada pola istirahat tidur yang harus dikaji adalah lama tidur dalam
sehari, kebiasaan pada waktu tidur. Pada klien post operasi bisa
ditemukan gangguan pola tidur karena nyeri.
f) Pola Personal Hygiene
Pola personal hygiene yang harus dikaji adalah kemampuan klien
perawatan diri seperti mandi, gosok gigi, keramas, gunting kuku, dll.
Pada klien dengan post operasi biasanya klien tidak dapat melakukan
personal hygiene secara mandiri karena keterbatasan gerak akibat
pembedahan dan nyeri.
g) Pola Aktivitas
Pada pola aktivitas meliputi kebiasaan aktivitas sehari-hari. Pada klien
dengan post operasi biasanya ditemukan keterbatasan gerak akibat
nyeri.
h) Pola Nilai dan Kepercayaan
Pola nilai dan kepercayaan menggambarkan pantangan dalam agama
selama sakit serta kebutuhan adanya kerohanian dan lain-lain
i) Pola Peran dan Hubungan Interpersonal
Pola peran dan hubungan menggambarkan status pekerjaan,
kemampuan bekerja, hubungan dengan klien atau keluarga, dan
gangguan terhadap peran yang dilakukan.
j) Pola Persepsi atau Konsep Diri
Pola persepsi menggambarkan tentang dirinya dari masalah-masalah
yang adaseperti perasaan kecemasan, kekuatan atau penilaian terhadap
diri mulai dari peran, ideal diri, konsep diri, gambaran diri, dan
identitas tentang dirinya.
k) Pola Koping/Toleransi Stres
Pola koping/toleransi stres menggambarkan kemampuan untuk
menangani stres dan penggunaan sistem pendukung. Kemungkinan
ditemukan emosi klien jadi gelisah dan labil, karena proses penyakit
yang tidak diketahui / tidak pernah diderita sebelumnya dan akibat
pembedahan.
l) Pola Reproduksi dan Seksual
Pada pasien yang telah atau sudah menikah akan terjadi perubahan.

4) Pemeriksaan Fisik

a) Penampilan Umum

Penampilan umum klien setelah dilakukan pembedahan biasanya


tampak lemah, gelisah, meringis (Doengoes, 2000: 514).

b) Pemeriksaan Fisik Persistem

(1).Sistem Pernafasan

Kepatenan jalan nafas, kedalaman, frekuensi dan karakter


pernafasan, sifat dan bunyi nafas merupakan hal yang harus dikaji
pada klien dengan post operasi (Brunner & Suddarth, 2002 : 468).

Pernafasan cepat dan pendek sering terjadi mungkin akibat nyeri.


Pernafasan yang bising karena obstruksi oleh lidah dan auskultasi
dada didapatkan bunyi krekels (Brunner & Suddarth, 2002 : 468).

(2).Sistem Kardiovaskuler

Pada klien post operasi biasanya ditemukan tanda-tanda syok


seperti takikardi, berkeringat, pucat, hipotensi dan penurunan
suhu tubuh.

(3).Sistem Gastrointestinal

Ditemukan distensi abdomen, kembung (penumpukan gas),


mukosa bibir kering, penurunan peristaltik usus juga biasanya
ditemukan muntah dan konstipasi akibat pembedahan.

(4).Sistem Perkemihan

Terjadi penurunan haluaran urine dan warna urine menjadi pekat /


gelap, terdapat distensi kandung kemih dan retensi urine.

(5).Sistem Muskuloskeletal
Kelemahan dan kesulitan ambulasi terjadi akibat nyeri di abdomen
dan efek dari pembedahan atau anastesi sehingga menyebabkan
kekakuan otot.

(6).Sistem Neurologi

Nyeri dirasakan bervariasi, tingkat dan keparahan nyeri post


operasi tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi
individu serta toleransi yang ditimbulkan oleh nyeri.

(7).Sistem Integumen

Ditemukan luka akibat pembedahan di area abdomen. Karakteristik


luka tergantung pada lamanya waktu setelah pembedahan.

5) Data Penunjang

Data penunjang ini terdiri dari farmakotherapi / obat-obatan yang


diberikan kepada klien, serta prosedur diagnostik yang dilakukan kepada
klien seperti pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan Rontgen.

b) Analisa Data

Analisa data merupakan kegiatan tahap akhir dari pengkajian (Hidayat,


2004 : 104). Proses analisa adalah menghubungkan data yang diperoleh
dengan konsep, teori, prinsip Asuhan Keperawatan yang relevan dengan
kondisi klien (Gaffar, 1999 : 62).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien post operasi akibat
peritonitis menurut Doengoes (2000 : 516) adalah sebagai berikut :

a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan neuromuskular,


ketidakseimbangan perseptual / kognitif, peningkatan eskpansi paru, energi,
obstruksi trakeobronkial.

b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan


pemasukan cairan secara oral, hilangnya cairan tubuh secara tidak normal
seperti melalui kateter, selang, jalur normal seperti muntah.
c. Nyeri (akut) berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas
otot.

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,


muntah, disfungsi usus, abnormalitas metabolik, peningkatan kebutuhan
metabolik dan pembedahan.

e. Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan perubahan sirkulasi,


efek-efek yang ditimbulkan oleh medikasi, akumulasi drein, perubahan status
metabolis.

f. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan aliran vena, arteri,


hipervolemik.

g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interprestasi
informasi, tidak mengenal sumber informasi.

3. Perencanaan

Rencana keperawatan pada klien post operasi berdasarkan diagnosa keperawatan


menurut Doengoes (2000 : 515) adalah :

a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan neuromuskular,


ketidakseimbangan perseptual / kognitif, peningkatan ekspansi paru, energi,
obstruksi trakeobronkial.

Tujuan : Pola nafas efektif.

Kriteria Evaluasi : Menetapkan pola nafas yang normal / efektif dan bebas dari
sianosis atau tanda-tanda hipoksia lainnya.

Intervensi mandiri

1) Pertahankan jalan udara pasien dengan memiringkan kepala, hiperekstensi


rahang, aliran udara faringeal oral.

2) Auskultasi suara nafas. Dengarkan adanya kumur-kumur, mengi, crow dan


atau keheningan setelah ekstubasi.
3) Observasi frekuensi dan kedalaman pernafasan, perluasan rongga dada,
retraksi atau pernafasan cuping hidung, warna kulit dan aliran udara.

4) Pantau tanda-tanda vital secara terus menerus.

5) Lakukan latihan gerak sesegera mungkin pada pasien yang reaktif dan
lanjutkan pada periode pasca operasi.

Kolaborasi

6) Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan.

R/ Dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan pengambilan


oksigen.

b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan


pemasukan cairan secara oral, hilangnya cairan tubuh secara tidak normal
seperti melalui kateter, selang, jalur normal seperti muntah.

Tujuan: Kekurangan volume cairan tidak terjadi.

Kriteria Evaluasi : Mendemonstrasikan keseimbangan cairan yang adekuat,


sebagaimana ditunjukan dengan adanya tanda-tanda vital yang stabil, palpasi
denyut nadi dengan kualitas yang baik, turgor kulit normal, membran mukosa
lembab dan pengeluaran urine individu yang sesuai.
Intervensi mandiri

1) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran (termasuk pengeluaran cairan


gastrointestinal).

2) Kaji pengeluaran urinarius, terutama untuk tipe prosedur operasi yang


dilakukan.

3) Pantau tanda-tanda vital.

4) Periksa alat drein pada interval reguler. Kaji luka untuk terjadinya
pembengkakan.

5) Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer.

Kolaborasi
6) Berikan cairan parenteral, produk darah dan atau plasma ekspander sesuai
petunjuk. Tingkatkan kecepatan IV jika diperlukan.

7) Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur sesuai petunjuk.

c. Nyeri (akut) berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan intregitas
otot.

Tujuan : Nyeri teratasi.

Kriteria Evaluasi : Mengatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol / dihilangkan.


Tampak santai, dapat beristirahat / tidur dan ikut serta dalam aktivitas sesuai
kemampuan.

Intervensi mandiri

1) Evaluasi rasa sakit secara reguler, mencatat karakteristik, lokasi dan


intensitas (skala 0 5)

2) Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardia, hipertensi dan peningkatan


pernafasan, bahkan jika pasien menyangkal adanya rasa sakit.

3) Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan, sesuai kebutuhan.

4) Lakukan reposisi sesuai petunjuk, misalnya semi-fowler, miring.

5) Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya latihan nafas dalam,


bimbingan imajinasi, visualisasi.

Kolaborasi :

6) Berikan obat sesuai petunjuk : Analgesik IV.


Mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi.

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,


muntah, disfungsi usus, abnormalitas metabolik, peningkatan kebutuhan
metabolik dan pembedahan.

Tujuan : Perubahan nutrisi teratasi.


Kriteria Evaluasi : Mempertahankan berat badan dan keseimbangan nitrogen
positif.
Intervensi mandiri

1) Auskultasi bising usus

2) Timbang berat badan dengan teratur

3) Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut,


penampilan bising usus normal dan kelancaran flatus

Kolaborasi :

4) Tambahkan diet sesuai toleransi, contoh cairan jernih sampai lembut

e. Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan perubahan sirkulasi,


efek-efek yang ditimbulkan oleh medikasi, akumulasi drein, perubahan status
metabolis.

Tujuan :Integritas kulit kembali normal.

Kriteria Evaluasi : Mencapai penyembuhan luka. Mendemonstrasikan tingkah


laku / teknik untuk meningkatkan kesembuhan dan untuk mencegah
komplikasi.
Intervensi dan Rasional

1) Beri penguatan pada balutan awal / penggantian sesuai indikasi. Gunakan


teknik aseptik yang ketat.

2) Periksa luka secara teratur, catat karekteristik dan integritas kulit.

3) Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka.

4) Pertahankan ketepatan saluran pengeluaran cairan pada drain / insisi yang


mengalami pengeluaran cairan yang berbau.
Lindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi, ekskoriasi.

5) Tekan areal atau insisi abdominal dan dada dengan menggunakan bantal
selama batuk atau bergerak.
6) Ingatkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka.
kulit.

f. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan aliran vena, arteri,


hipervolemik.

Tujuan :Perfusi jaringan teratasi.

Kriteria Evaluasi : Mendemonstrasikan adanya perfusi jaringan yang adekuat


dengan tanda-tanda vital yang stabil, adanya denyut nadi perifer yang kuat,
kulit hangat / kering, kesadaran normal dan pengeluaran urinarius individu
sesuai.
Intervensi mandiri

1) Bantu latihan rentang gerak, meliputi latihan aktif kaki dan lutut.

2) Bantu dengan ambulasi awal.

3) Pantau tanda-tanda vital, palpasi denyut nadi perifer, catat suhu / warna
kulit dan pengisian kapiler. Evaluasi waktu dan pengeluaran cairan urine.

Kolaborasi :

4) Beri cairan IV / produk-produk darah sesuai kebutuhan.

g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interprestasi
informasi, tidak mengenal sumber informasi.

Tujuan : Pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


terpenuhi.

Kriteria Evaluasi : Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.


Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala dengan proses penyakit dan
menghubungkan gejala dengan faktor penyebab. Melakukan dengan benar,
prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan.
Intervensi mandiri

1) Kaji ulang proses penyakit dasar dan harapan untuk sembuh


2) Diskusikan program pengobatan, jadwal dan kemungkinan efek samping

3) Anjurkan melakukan aktivitas biasanya secara bertahap sesuai toleransi


dan sediakan waktu untuk istirahat adekuat

4) Kaji ulang pembatasan aktivitas contoh hindari mengangkat berat,


konstipasi

Intervensi keperawatan menurut NANDA (2013) yaitu:

No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


.
1. Ketidakefektifan pola NOC NIC
napas Respiratory status: Airway Management
Definisi : inspirasi
Ventilation Buka jalan nafas, gunakan teknik
dan/ atau ekspirasi Respiratory status:
chin lift atau jaw thrust bila perlu
yang tidak memberi Airway patency Posisikan pasien untuk
Vital sign status
ventilasi. memaksimalkan ventilasi
Kriteria Hasil : Identifikasi pasien perlunya
Batasan
Mendemonstrasikan pemasangan alat jalan nafas
karakteristik :
batuk efektif dan suara buatan
Perubahan
nafas yang bersih, Pasang mayo bila perlu
kedalaman Lakukan fisioterapi dada jika
tidak ada sianosis dan
pernapasan perlu
Perubahan dyspneu (mampu Keluarkan sekret dengan batuk
ekskursi dada bernafas dengan atau suction
Mengambil posisi mudah, tidak ada Auskultasi suara nafas, catat
tiga titik pursed lips) adanya suara tambahan
Bradipneu Menunjukan jalan Lakukan suction pada mayo
Penurunan nafas yang paten (klien Berikan bronkodilator bila perlu
tekanan ekspirasi Berikan pelembab udara kassa
tidak merasa tercekik,
Penurunan basah NaCl lembab
irama nafas, frekuensi
ventilasi semenit Atur intake untuk cairan
Penurunan pernafasan dalam
mengoptimalkan keseimbangan
rentang normal, tidak Monitor respirasi dan status O2
kapasitas vital
Dipsneu ada suara nafas Oxygen Therapy
Peningkatan abnormal) Bersihkan mulut, hidung dan
diameter anterior- Tanda tanda vital secret trakea
posterior dalam rentang rentang Pertahankan jalan nafas yang
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
Pernapasan normal (tekanan darah, paten
nadi, pernafasan) Atur peralatan oksigenasi
cuping hidung
Monitor aliran oksigen
Ortopneu
Pertahankan posisi pasien
Fase ekspirasi
Observasi adanya tanda tanda
memenjang
hipoventilasi
Pernapasan bibir
Monitor adanya kecemasan
Takipneu
Penggunaan otot pasien terhadap oksigenasi Vital
aksesorius untuk sign Monitoring
Montor TD, nadi, suhu, dan RR
bernapas
Catat adanya fluktuasi tekanan
Faktor yang
darah
berhubungan: Monitor VS saat pasien
Ansietas berbaring, duduk atau berdiri.
Posisi tubuh Auskultasi TD pada kedua lengan
Deformitas tulang
dan bandingkan
Keletihan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
Hiperventilasi
Sindrom selama dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
hipoventilasi Monitor frekuensi dan irama
Gangguan
pernapasan
muskuloskeletal Monitor suara paru
Kerusakan
Monitor pola pernapasan
neurologis
abnormal
Imaturitas
Monitor suhu, warna, dan
neurologis
klembapa kulit
Disfungsi
Monitor sianosis perifer
neuromuskular Monitor adanya cushing triad
Obesitas
(tekanan nadi yang melebar,
Nyeri
Keletihan otot bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari
pernapasan cedera
perubahan vital sign
medula spinalis
2 Resiko kekurangan NOC NIC
Voume cairan Fluid balance Fluid management
Definisi: Berisiko Hydration - timbang popok atau/pembalut
Nutritional status :
mengalami dehidrasi jika diperlukan
food and fluid
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
vascular, selular, atau intake - pertahankan catatan intake dan
intraselular. Kriteria hasil: output yang akurat
Faktor resiko Mempertahankan urine - monitor status dehidrasi
Kehilangan output sesuai dengan (kelembaban membaran mukosa,
volume usia dan BB, BJ urine nadi adekuat, tekanan darah
cairanaktif normal, HT rendah ortostatik), jika diperlukan
Kurang Tekanan darah, nadi,
- monitor vital sign
pengetahuan suhu tubuh dalam - monitor masakan makanan/cairan
Penyimpangan batas normal dan hitung intake kalori harian
yang Tidak ada tanda tanda
- kolaborasikan cairan IV
mempengaruhi dehidrasi, elastisitas
- monitor status nutrisi
absorbs cairan turgor kulit baik,
Penyimpangan - berikan cairan IV pada suhu
membrane mukosa
yang ruangan
lembab, tidak ada rasa
mempengaruhi - dorong masukan oral
haus yang berlebihan
akses cairan - berikan penggantian nesogastrik
Penyimpangan sesuai output
yang - dorong keluarga untuk membantu
mempengaruhi pasien makan
asupan cairan - tawarkan snack (jus buah, buah
Kehilangan
segar)
berlebihan - kolaborasi dengan dokter
melalui rute
- atur kemungkinan transfuse
normal (misalnya,
- persiapkan untuk transfuse
diare)
Hypovolemia Management
Usia lanjut
Berat badan - monitor status cairan termasuk

ekstrem intake dan output cairan


Factor yang - pelihara IV line
mempengaruhi - monitor tingkat hb dan
kebutuhan cairan hematokrit
(mis, status - monitor tanda vital
hipermetabolik) - monitor respon pasien terhadap
Kegagalan fungsi
penambahan cairan
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
regulator - monitor berat badan
Kehilangan cairan
- dorong pasien untuk menambah
melalui rute intake oral
abnormal (mis, - pemberian cairan IV monitor
slang menetap) adanya tanda dan gejala
Agens
kelebihan volume cairan
fermasutikal (mis,
- monitor adanya tanda grjala
diuretic)
ginjal
3 Nyeri akut NOC NIC
Definisi : Pain level Pain Management :
Pengalaman sensori Pain control - Lakukan pengkajian nyeri secara
Comfort level
dan emosional yang komperhensif, termasuk lokasi,
Kriteria hasil :
tidak menyenangkan karakteristik, durasi, frekuensi,
Mampu mengontrol
yang muncul akibat kualitas dan factor presipitasi
nyeri (tahu, penyebab - Observasi reaksi nonverbal dari
kerusakan jaringan
nyeri, mampu ketidak nyamanan
yang aktual atau
menggunakan tehnik - Gunakan teknik komunikasi
potensial atau
nonfarmakologi untuk terapeutik untuk mengetahui
digambarkan dalam
mengurangi nyeri, pengalaman nyeri pasien
hal kerusakan - Kaji kultur yang mempengaruhi
mencari bantuan )
sedemikian rupa Melaporkan bahwa respon nyeri
- Evaluasi pengalaman nyeri masa
(International
nyeri berkurang
lampau
Associaton for the
dengan menggunakan - Evaluasi bersama pasien dan tim
study of pain ) :
manajemen nyeri kesehatan lain tentang
awaitan yang tiba-tiba Mampu mengenali
ketidakefektifan control nyeri
atau lambat dari nyeri (skala, intensitas,
masa lampau
intensitas ringan frekuensi dan tanda - Bantu pasien dan keluarga untuk
hingga berat dengan nyeri ) mencari dan menemukan
Menyatakan rsa
akhir yang dapat dukungan
diantisipasi atau nyaman setelah nyeri - Control lingkungan yang dapat
berkurang mempengaruhi nyeri seperti suhu
diprediksi dan
ruangan, pencahayaan, kebisingan
berlangsung <6
- Kuangi factor presipitas nyeri
bulan. - Pilih dan lakukan penanganan
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
nyeri (farmakologi, non
Batasan farmakologi dan interpersonal)
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
karakteristik :
menentukan intervensi
Perubahan selera - Ajarkan tentang teknik non
makan farmakologi
Perubahan - Berikan analgetik untuk
tekanan darah mengurangi nyeri
Perubahan - Evaliasi keefektifan control nyeri
frekuensi jantung - Tingkatkan istirahat
- Kkolaborasikan dengan dokter
Perubahan
jika ada keluhan dan tindakan
frekuensi
nyeri tidak berhasil
pernafasan
- Monitor penerimaan pasien
Laporan isyarat
Diaphoresis tentang manajemen nyeri
Perilaku distraksi
(mis., berjalan Analgesic administration:
mondar-mandir - Tentukan lokasi, karakteristik,
mencari orang lain kualitas, dan derajat nyeri
dan atau aktivitas sebelum pemberian obat
- Cek instruksi dokter tentang jenis
lain, aktivitas
obat, dosis, dan frekuensi
yang berulang)
- Cek riwayat alergi
Mengekspresikan
- Pilih anlgesik yang diperlukan
perilaku (mis., atau kombinasi dari anlgesik
gelisah, ketika pemberian lebih dari satu
merengek, - Tentukan pilihan anlgesik
menangis) tergantung tipe dan beratnya nyeri
Masker wajah - Pilihrute pemberian secara IV, IM
(mis., mata kurang untuk pengobatan nyeri secara
bercahaya, tampak teratur
- Monitot vital sign sebelum dan
kacau, gerakan
sesudah pemberian anelgesik
mata berpencar
pertama kali
atau tetap pada - Berikan anelgesik tepat waktu,
satu fokus terutama pada saat nyeri hebat
meringis ) - Evaluasi efektifitas analgesik,
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
Sikap melindungi tanda dan gejala.
area nyeri
Fokus menyempit
(mis., gangguan
persepsi nyeri,
hambatan proses
berfikir,
penurunan
interaksi dengan
orang dan
lingkungan )
Indikasi nyeri
yang dapat
diamati
Perubahan posisi
untuk
menghindari nyeri
Sikap tubuh
melindungi
Dilatasi pupil
Melaporkan nyeri
secara verbal
Gangguan tidur
Faktor yang
berhubungan :
Agen cedera
(mis., biologis, zat
kimia, fisika,
psikologis )
4 Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi kurang
dari Nutritional status: Nutrition management
Nutritional status :
kebutuhan tubuh Kaji adanya alergi makanan
Definisi: Asupan food and fluid Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Intake
nutrisi tidak cukup menentukan jumlah kalori dan
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
untuk memenuhi Nutritional sttaus : nutrisi yang dibutuhkan pasien
kebutuhan metabolik Anjurkan pasien untuk
nutrient
Batasan karakteristik: Intake meningkatkan intake Fe
Weight control Anjurkan pasien untuk
Kram abdomen
Kriteria Hasil: meningkatkan protein dan
Nyeri abdomen
Menghindari Adanya peningkatan vitamin C
Berikan substansi gula
makanan berat badan sesuai
Yakinkan diet yang dimakan
Berat badan 20% dengan tujuan berat
mengandung tinggi serat untuk
atau lebih badan ideal sesuai
mencegah konstipasi
dibawah berat dengan tinggi badan Berikan makanan yang terpilih
badan ideal Mampu
(sudah dikonsultasikan dengan
Kerapuhan kapiler mengidentifikasi
Diare ahli gizi
Kehilangan kebutuhan nutrisi Ajarkan pasien bagaimana
Tidak ada tanda-tanda
rambut berlebih membuat catatn makanan harian
malnutrisi Monitor jumlah nutrisi dan
Bising usus
Menujukkan
hiperaktif kandungan kalori
peningkatan fungsi Berikan informasi tentang
Kurang makanan
Kurang informasi pengecapan dari
kebutuhan nutrisi
Kurang minat menelan Kaji kemampuan pasien untuk
pada makanan Tidak terjadi
mendapatkan nutrisi yang
Penurunan berat penurunan berat badan
dibutuhkan
badan dengan yang berarti
Nutrition monitoring
asupan makanan
BB pasien dalam batas normal
adekuat Monitor adanya penurunan berat
Kesalahan
badan
konsepsi Monitor tipe dan jumlah aktivitas
Kesalahan
yang biasa dilakukan
mukosa pucat Monitor interaksi anak atau
Ketidakmampuan
orangtua selama makan
memakan Monitor lingkungan selama
makanan makan
Tonus otot Jadwalkan pengobatan dan
menurun tindakan tidak selama jam makan
Mengeluh Monitor kulit kering dan
gangguan sensasi
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
rasa perubahan pigmentasi
Mengeluh asupan Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
makanan kurang
dari RDA kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
(Recommended Monitor kadar albumin, total
daily allowance) protein, Hb, dan kadar Ht
Cepat kenyang Monitor pertumbuhan dan
setelah makan perkembangan
Sariawan rongga Monitor pucat, kemerahan, dan
mulut kekeringan jaringan konjungtiva
Steatorea Monitor kalori dan intake nutrisi
Kelemahan otot Catat adanya edema, hipereremik,
pengunyah hipertonik papila lidah dan
Kelemahan otot
cavitas oral
untuk menelan Catat jika lidah berwarna
Faktor-faktor yang magenta, scarlet.
berhubungan:
Faktor biologis
Faktor ekonomi
Ketidakmampuan
untuk
mengabsorbsi
nutrien
Ketidakmampuan
untuk mencerna
makanan
Ketidakmampuan
menelan makanan
Faktor psikologis
5 Kerusakan Integritas NOC NIC
Kulit Tissue Integrity : Skin Pressure Management
Definisi : and Mucous Anjurkan pasien untuk
Perubahan/gangguan Membranes menggunakan pakaian yang
epidermis dan /atau Hemodyalis akses longgar
dermis Kriteria Hasil : Hindari kerutan pada tempat tidur
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
Batasan Karakteristik Integritas kulit yang Jaga kebersihan kulit agar tetap
Kerusakan lapisan baik bisa bersih dan kering
kulit (dermis) dipertahankan (sensasi, Mobilisasi pasien (ubah posisi
Gangguan elastisitas, temperatur, pasien)
permukaan kulit Monitor kulit akan adanya
hidrasi, pigmentasi)
(epidermis) Tidak ada luka/lesi kemerahan
Invasi struktur Oleskan lotion atau minyak/baby
pada kulit
tubuh Perfusi jaringan baik oil pada daerah yang tertekan
Menunjukkan Monitor aktivitas dan mobilisasi
Faktor yang
pemahaman dalam pasien
Berhubungan Monitor status nutrisi pasien
proses perbaikan kulit
Eksternal Memandikan pasien dengan
Zat kimia, radiasi dan mencegah
sabun dan air hangat
Usia yang terjadinya cidera
Insision Site Care
ekstrem berulang
Kelembapan Mampu melindungi Membersihkan, memantau dan
Hipertermia, kulit dan meningkatkan proses
hipotermia mempertahankan penyembuhan pada luka yang
Faktor mekanik ditutup dengan jahitan, klip atau
kelembaban kulit dan
(misalnya gaya staples
perawatan alami
gunting [shearing Monitor proses kesembuhan area
forces]) insisi
Medikasi Monitor tanda dan gejala infeksi
Lembab pada area insisi
Imobilitasi fisik Bersihkan area sekitar jahitan
Internal
Perubahan status atau staples menggunakan lidi

cairan kapas steril


Perubahan Gunakan preparat antiseptik

pigmentasi sesuai program


Perubahan turgor Ganti balutan pada interval waktu
Faktor yang sesuai atau biarkan luka
perkembangan tetap terbuka (tidak dibalut)
Kondisi sesuai program
ketidakseimbanga Dialysis Acces Maintenance
n nutrisi
(misalnya
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
obesitas,
emasiasi)
Penurunan
imunologis
Penurunan
sirkulasi
Kondisi gangguan
metabolik
Gangguan sensasi
Tonjolan tulang
Kerusakan Integritas NOC NIC
Jaringan Tissue integrity : skin Pressure ulcer prevention wound care
Definisi : Kerusakan and mucous Anjurkan pasien untuk
jaringan membran Wound healing
menggunakan pakaian longgar
mukosa, kornea, :primary and Jaga kulit agar tetap bersih dan

integumen, atau ssecondary intention kering


Kriteria Hasil : Mobilisasi pasien (ubah posisi
subkutan
Perfusi jaringan pasien) setiap dua jam sekali
Batas karakteristik
Monitor kulit akan adanya
Kerusakan normal
Tidak ada tanda-tanda kemerahan
jaringan Oleskan lotion atau minyak/baby
infeksi
(misalnya Ketebalan dan tekstur oil pada daerah yang tertekan
membran mukosa, Monitor aktivitas dan mobilisasi
jaringan normal
kornea, Menunjukkan pasien
Monitor status nutrisi pasien
integumen, atau pemahaman dalam
Memandikan pasien dengan
subkutan) proses perbaikan kulit
sabun dan air hangat
Kerusakan dan mencegah Observasi luka : lokasi, dimensi,
jaringan terjadinya cidera kedalaman luka, jaringan
Faktor yang berulang nekrotik, tanda-tanda infeksi
Berhubungan Menunjukkan
lokal, formasi traktus
Gangguan terjadinya proses Ajarkan keluarga tentang luka

sirkulasi penyembuhan luka dan perawatan luka


Iritan zat kimia Kolaborasi ahli gizi pemberian
Defisit cairan diet TKTP (tinggi kalori tinggi
Kelebihan cairan
protein)
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
Hambatan Cegah kontaminasi feses dan urin
Lakukan teknik perawatan luka
mobilitas fisik
Kurang dengan steril
pengetahuan Berikan posisi yang mengurangi
Faktor mekanik tekanan pada luka
Hindari kerutan pada tempat tidur
(misalnya
tekanan,
koyakan/robekan,
friksal)
Faktor nutrisi
(misalnya
kekurangan atau
kelebihan)
Radiasi
Suhu ekstrem

6 Defisit Pengetahuan NOC : NIC


Definisi : ketiadaan Knowledge : Teaching : disease proses
atau defisiensi disease proses Berikan penilaian tentang tingkat
informasi kognitif Knowledge : health
pengetahuan pasien dan proses
yang berkaitan behavior.
penyakit yang spesifik
dengan topik tertentu. Kriteria hasil : Jelaskan patofisiologi dari

Batasan Pasien dan keluarga penyakit dan bagaimana hal itu


karakteristik : menyatakan berhubungan dengan anatomi dan

Perilaku hiperbola pemahaman tentang


fisiologi dengan cara yang tepat.
Ketidakakuratan penyakit, kondisi, Gambarkan tanda dan gejala yang
mengikuti prognosis dan program biasa muncul pada penyakit,

perintah pengobatan. dengan cara yang tepat.


Ketidakakuratan Pasien dan keluarga Gambarkan proses penyakit

mengikuti tes mampu melaksanakan dengan cara yang tepat.


Perilaku tidak Identivikasi kemungkinan
prosedur yang
tepat penyeba, dengan cara yang tepat.
dijelaskansecara benar. Sediakan informasi pada pasien
( mis..histeria, Pasien dan keluarga
tenntang kondisi dengan cara
bermusuhan, mampumenjelaskan
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
agitasi, apatis ) kembali apa yang yang tepat.
pengungkapan dijelaskan perawat/tim Hindari jaminan yang kosong
Sediakan bagi keluarga atau SO
masalah. kesehatan lainnya.
Faktor yang informasi tentnag kemajuan

berhubungan : pasien dengan cara yang tepat.


Diskusi perubahan gaya hidup
Keterbatasan
yang mungkin diperlukan untuk
kognitif
mencegah komplikasi di masa
salah intepretasi
yang akan datang dan atau proses
informasi
kurang pajanan pengontrolan penyakit.
kurang minat Diskusikan pilihan terapi atau
dalam belajar penanganan.
kurang dapat Dukung pasien untuk
mengingat mengeksplorasi atau
tidak familier mendapatkan second opinion
dengan informasi. dengan cara yang tepat atau
diindikasikan.
Rujuk pasien pada grub atau
agensi di komunitas lokal dengan
cara yang tepat.
Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan dengan
tepat.
7 Resiko Infeksi NOC NIC
Definisi : Immune Status Infecton control (Kontrol infeksi)
Knowledge : Infection
Mengalami Bersihkan lingkungan setelah di
peningkatan resiko control
pakai pasien lain
Risk control
terserang organisme Pertahankan teknik isolasi
Criteria Hasil : Batasi pengunjung bila perlu
patogenik
Klien bebas dari tanda Instruksikan pada pengunjung
Faktor-faktor resiko :
dan gejala infeksi untuk mencuci tangan saat
Penyakit kronis Mendeskripsikan berkunjung dan dan setelah
- Diabetes
proses penularan
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
melitus penyakit, faktor yang berkunjumg meninggalkan pasien
- Obesitas Gunakan sabun antimikrobia
mempengaruhi
Pengetahuan yang
penularan serta untuk cuci tangan
tidak cukup untuk Cuci tangan setiap sebelum dan
penatalaksanaannya,
menghindari Menunjukkan sesudah tindakan keperawatan
pemanjanan Gunakan baju, sarung tangan
kemampuan untuk
patogen sebagai alat pelindung
mencegah timbulnya Pertahankan lingkungan aseptik
Pertahanan tubuh
infeksi
primer yang tidak Jumlah leukosit dalam selama pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan line
adekuat batas normal
- Gangguan central dan dressing sesuai
Menunjukan perilaku
peristalsis dengan petunjuk umum
hidup sehat
- Kerusakan Gunakan kateter intermiten untuk
integritas kulit menurunkan infeksi kandung
(pemasangan kencing
Tingkatkan intake nutrisi
kateter
Berikan terapi anti biotik bila
intravena,pros
perlu Infaction Protection
edur invasive)
- Perubahan (proteksi terhadap infeksi)
Monitor terhadap tanda dan
sekresi PH
- Penurunan gejala infeksi sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit, WBC
kerja siliaris
Monitor kerentanan tehadap
- Pecah ketuban
dini infeksi
- Pecah ketuban Batasi pengunjung
Sering pengunjung terhadap
lama
- Merokok penyakit menular
- Stasis cairan Pertahankan teknik aspesis pada
tubuh pasien yang beresiko
- Trauma Pertahankan teknik isolasi k/p
jaringan Berikan perawatan kulit pada area

(mis.,trauma epidema
Inspeksi kulit dan membran
destruksi
mukosa terhadap kemerahan,
jaringan)
Ketidak panas, drainase
Inspeksi kondisi luka / insisi
adekuatan
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
pertahanan bedah
sekunder Dorong masukkan nutrisi yang
- Penurunan cukup
hemoglobin Dorong masukkan cairan
- Imuno supresi Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk minum
(mis.,imunitas
antibiotik sesuai resep
di dapat tidak
Ajarkan pasien dan keluarga
adekuat, agen
tanda dan gejala infeksi
farmaseutikal Ajarkan cara menghindari infeksi
termasuk Laporkan kecurigaan infeksi
Laporkan kultur positif
imunomudulat
or)
- Supresi respon
inflamasi
Vaksinasi tidak
adekuat
Pemajanan
terhadap patogen
lingkungan
meningkat
- Wabah
Prosedur invasif
Malnutrisi
DEFISIT NOC. NIC.
PERAWATAN DIRI Activity intolerance. Self-Care Assistance:
MANDI Mobility: physical Bathing/Hygiene.

Definisi: Hambatan impaired. Pertimbangkan budaya pasien


Self-Care Deficit
kemampuan untuk ketika mempromosikan aktivitas
Hygiene.
melakukan atau aktivitas perawatan diri.
Sensory perception,
menyelesaikan Pertimbangkan usia pasien ketika
Auditory disturbed.
mandi/aktivitas mempromosikan aktivitas
perawatan diri untuk perawatan diri.
Kriteria Hasil: Menentukan jumlah dan jenis
diri sendiri.
Perawatan diri bantuan yang dibutuhkan.
ostomi: tindakan Tempat handuk, sabun,
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
Batasan Karakteristik: pribadi deodorant, alat pencukur, dan
Ketidakmampua mempertahankan aksesoris lainnya yang
n untuk ostomi untuk dibutuhkan di samping tempat
mengakses eliminasi. tidur atau di kamar mandi.
Perawatan diri: Menyediakan artikel pribadi
kamar mandi.
Ketidakmampua Aktivitas kehidupan yang diinginkan (misalnya:
n mengeringkan sehari-hari (ADL) deodorant, sikat gigi, sabun
tubuh. mampu untuk mandi, sampo, lotion, dan
Ketidakmampua melakukan aktivitas produk aromaterapi).
n mengambil perawatan fisik dan Menyediakan lingkungan yang
perlengkapan pribadi secara mandiri terapeutik dengan memastikan
mandi. atau dengan alat hangat, santai, pengalaman
Ketidakmampua pribadi, dan personal.
bantu.
n menjangkau Perawatan diri mandi: Memfasilitasi gigi pasien
sumber air. Mampu untuk menyikat, sesuai.
Ketidakmampua Memfasilitasi diri mandi pasien,
membersihkan tubuh
n mengatur air sesuai.
sendiri secara mandiri
Memantau pembersihan kuku,
mandi.
dengan atau tanpa alat
Ketidakmampua menurut kemampuan perawatan
bantu.
n membasuh diri pasien.
Perawatan diri
Memantau integritas kulit pasien.
tubuh.
hygiene: Mampu Menjaga kebersihan ritual.
untuk Memfasilitasi pemeliharaan rutin
Faktor yang yang biasa pasien tidur, isyarat
mempertahankan
berhubungan: sebelum tidur/alat peraga, dan
kebersihan dan
Gangguan penampilan yang rapi benda-benda asing (misalnya:
kognitif. secara mandiri unuk anak-anak, cerita
Penurunan
dengan atau tanpa alat selimut/mainan, goyang, dot,
motivasi.
bantu. atau favorit, untuk orang dewasa,
Kendala
Perawatan diri sebuah buku untuk membaca
lingkungan.
hygiene oral: Mampu atau bantal dari rumah.
Ketidakmampua
untuk merawat mulut Mendorong orang tua/keluarga
n merasakan
dan gigi secara berpartisipasi dalam kebiasaan
bagian tubuh.
Ketidakmampua mandiri dengan atau tidur biasa.
No Diagnosa Keperwatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
.
n merasakan tanpa alat bantu. Memberikan bantuan sampai
Mampu
hubungan pasien sepenuhnya dapat
spesial. mempertahankan
mengansumsikan perawatan diri.
Gangguan mobilitas yang
muskuluskeletal. diperlukan untuk ke
Gangguan kamar mandi dan
neuromuscular. menyediakan
Nyeri.
Gangguan perlengkapan mandi.
Membersihkan dan
persepsi.
mengeringkan tubuh
Ansietas berat.
Mengungkapkan
secara verbal
kepuasan tentang
kebersihan tubuh dan
hygiene oral.

4. Implementasi
Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah intervensi
dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan
keterampilan interpersonal dan intelektual. Intervensi harus dilakukan dengan
cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologi
dilindungi.
Ada 3 fase pada implementasi keperawatan yaitu fase persiapan meliputi
pengetahuan tentang rencana, persiapan klien dengan lingkungan. Kedua fase
operasional merupakan puncak implementasi dengan berorientasi pada tujuan.
Ketiga fase terminasi merupakan terminasi perawat dengan klien setelah
implementasi dilakukan (Gaffar, 1999 : 66).

5. Evaluasi
Fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap Asuhan
Keperawatan. Hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan dan
kualitas data. Teratasi atau tidaknya masalah klien serta pencapaian tujuan serta
ketepatan pada praktek (Gaffar, 1999 : 67).
Menurut Brunner & Suddarth (2002 : 468) mengemukakan bahwa hasil yang
diharapkan dari masing-masing diagnosa adalah :

a. Fungsi pernafasan optimal dan pola nafas efektif.

b. Volume cairan terpenuhi.

c. Gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.

d. Intake nutrisi adekuat.

e. Integritas kulit dan jaringan kembali normal.

f. Perfusi jaringan teratasi.

g. Klien memahami tentang proses penyakitnya.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Abdomen. Bagian Anatomi FK UGM. Yogyakarta

Arief M, Suprohaita, Wahyu.I.K, Wieiek S. 2000. Bedah Digestif, dalam Kapita Selekta
Kedokteran, Ed:3; Jilid: 2; p 302-321. Media Aesculapius FKUI. Jakarta.

Brian, J. 2011. Peritonitis and Abdominal Sepsis. Tersedia dalam


http://emedicine.medscape.com/article/180234-
overview#aw2aab6b2b4aa [Diakses pada 14 Maret 2017]

Brunner and Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,


Edisi 8 Volume 2. Jakarta : EGC

Cole et al. 1970. Cole and Zollinger Textbook of Surgery 9th Edition. Appelton
Century Corp, Hal 784-795

Dahlan. M., Jusi. D., Sjamsuhidajat. R. 2000. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu
Bedah, Edisi Revisi. EGC. Jakarta

Darmawan. M. 1995. Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. FKUI: Jakarta

De Jong, W., Sjamsuhidajat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. EGC: Jakarta; Hal.221-
239 ; 696.

Doengoes, Marilyn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan & Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Jakarta : EGC

Doherty, G.M. 2010. Current Diagnosis & Treatment. McGraw Hill Company : USA

Fauci et al. 2008. Harrisons Principal Of Internal Medicine Volume 1. McGraw Hill.
Peritonitis halaman 808-810, 1916-1917.

Gaffar. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC

Hidayat. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Nurarif, A.H. dan Kusuma, H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction

Schwartz, S.I et al. 2006. Principal of Surgery, 9th edition. McGraw Hill Company: USA

Schrock. T. R. 2000. Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah, Ed.7, alih bahasa
dr. Petrus Lukmanto. EGC : Jakarta.

Townsend, C.M, et al. 2008. Sabiston textbook of surgery. Canada : Saunder

Way. L. W. 2004. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment, 11th Ed.
Maruzen: USA.