Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

PERITONITIS GENERALIS ET CAUSA PERFORASI GASTER

A. Pengertian
Perforasi gaster atau lambung pecah adalah penyakit yang disebabkan oleh
komplikasi serius dari penyakit tukak lambung. Tukak lambung merupakan luka yang
terjadi pada lapisan lambung akibat terkikisnya lapisan dinding lambung, yang juga
bisa terjadi pada dinding duodenum (bagian pertama usus kecil). (Mayasari, K., 2016)
Pada orang dewasa, perforasi ulkus peptik adalah penyebab umum dari morbiditas
dan mortalitas akut abdomen sampai sekitar 30 tahun lalu. Angka kejadian menurun
secara paralel dengan penurunan umum dari prevalensi ulkus peptik. Ulkus duodenum 2-
3 kali lebih sering dari perforasi ulkus gaster. Sekitar satu pertiga perforasi gaster
berkaitan dengan karsinoma gaster. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
B. Anatomi dan Fisiologi
Lambung merupakan bagian sistem gastrointestinal yang terletak di antara esofagus
dan duodenum. Dari hubungan anatomi topografik lambung-duodenum dengan hati,
pankreas, dan limpa, dapat diperkirakan bahwa tukak peptik akan mengalami perforasi ke
rongga sekitarnya secara bebas atau penetrasi ke dalam organ di dekatnya, bergantung
pada letak tukak. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)

Gambar 1. Bagian dan lapisan-lapisan lambung

Berdasarkan faalnya, lambung dibagi dalam dua bagian. Tiga perempat proksimal
yang terdiri dari fundus dan korpus, berfungsi sebagai penampung makanan yang ditelan
serta tempat produksi asam lambung dan pepsin, sedangkan dinding korpus, apalagi
antrum, tebal, dan kuat lapisan ototnya. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Ciri yang cukup menonjol pada anatomi lambung adalah peredaran darahnya yang
sangat kaya dan berasal dari empat jurusan dengan pembuluh nadi besar di pinggir
kurvatura mayor dan minor serta dalam dinding lambung. Di belakang dan tepi madial
duodenum, juga ditemukan arteri besar (a.gastroduodenalis). Perdarahan hebat bisa terjadi
karena erosi dinding arteri itu pada tukak peptik lambung atau duodenum. (Sjamsuhidajat
R.. dan Jong W.D. 2005)
Vena dari lambung duodenum bermuara ke vena porta. Peredaran vena ini kaya sekali
dengan hubungan kolateral ke organ yang ada hubungan embrional dengan lambung dan
duodenum. Saluran limf dari lambung juga cukup rumit. Semuanya akan berakhir di
kelenjar paraaorta dan preaorta di pangkal mesenterium embrional. Antara lambung dan
pangkal embrional itu terdapat kelenjar limfe yang letaknya tersebar di mana-mana akibat
putaran embrional. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Persarafan simpatis lambung seperti biasa melalui serabut saraf yang menyertai arteri.
Impuls nyeri dihantarkan melalui serabut eferen saraf simpatis. Serabut parasimpatis
berasal dari n.vagus dan mengurus sel parietal di fundus dan korpus lambung. Nervus
vagus anterior (sinister) memberikan cabang ke kandung empedu, hati dan antrum
sebagai saraf Laterjet anterior, sedangkan n.vagus posterior (dekstra) memberikan cabang
ke ganglion seliakus untuk visera lain di perut kan ke antrum sebagai saraf Laterjet
posterior. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Fungsi utama lambung adalah penerima makanan dan minuman, dikerjakan oleh
fundus dan korpus, dan penghancur dikerjakan oleh antrum, selain turut bekerja dalam
pencernaan awal berkat kerja kimiawi asam lambung dan pepsin. (Sjamsuhidajat R.. dan
Jong W.D. 2005)
Fungsi lambung yang berkaitan dengan gerakan adalah penyimpanan dan
pencampuran makanan serta pengosongan lambung. Kemampuan lambung menampung
makanan mencapai 1500 ml karena mampu menyesuaikan ukurannya dengan kenaikan
tekanan intraluminal tanpa peregangan dinding (relaksasi reseptif). Fungsi ini diatur oleh
n.vagus dan hilang setelah vagotomi. Ini antara lain yang mendasari turunnya kapasitas
penampungan pada penderita tumor lambung lanjut sehingga cepat kenyang.
(Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Peristalsis terjadi bila lambung mengambang akibat adanya makanan dan minuman.
Kontraksi yang kuat pada antrum (dindingnya paling tebal) akan mencampur makanan
dengan enzim lambung, kemudian mengosongkannya ke duodenum secara bertahap.
Daging tidak berlemak, nasi, dan sayuran meninggalkan lambung dalam tiga jam,
sedangkan makanan yang tinggi lemak dapat bertahan di lambung 6-12 jam.
(Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Cairan lambung yang jumlahnya bervariasi antara 500-1500 ml/hari mengandung
lendir, pepsinogen, faktor intrinsik dan elektrolit, terutama larutan HCl. Sekresi basal
cairan ini selalu ada dalam jumlah sedikit. Produksi asam merupakan hal yang kompleks,
namun secara sederhana dibagi atas tiga fase perangsangan. Ketiga fase, yaitu fase
sefalik, fase gastrik, dan fase intestinal ini saling mempengaruhi dan berhubungan.
(Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
1. Fase sefalik
Rangsang yang timbul akibat melihat, menghirup, merasakan, bahkan berpikir tentang
makanan akan meningkatkan produksi asam melalui aktivitas n.vagus.
2. Fase gastrik
Distensi lambung akibat adanya makanan atau zat kimia, seperti kalsium, asam
amino, dan peptida dalam makanan akan merangsang produksi gastrin, refleks vagus,
dan reflek kolinergik intramural. Semua itu akan merangsang sel parietal untuk
memproduksi asam lambung.
3. Fase intestinal
Hormon enterooksintin merangsang produksi asam lambung setelah makanan sampai
di usus halus. Seperti halnya proses sekresi dalam tubuh, cairan lambung bertindak
sebagai penghambat sekresinya sendiri berdasarkan prinsip umpan balik. Keasaman
yang tinggi di daerah antrum akan menghambat produksi gastrin oleh sel G sehingga
sekresi fase gastrik akan berkurang. Pada pH di bawah 2.5 produksi gastrin mulai
dihambat.
C. Etiologi
1. Perforasi non-trauma, misalnya:
a. akibat volvulus gaster karena overdistensi dan iskemia
b. spontan pasa bayi baru lahir yang terimplikasi syok dan stress ulcer.
c. Ingesti aspirin, anti inflamasi non steroid, dan steroid : terutama pada pasien usia
lanjut.
d. Adanya faktor predisposisi: termasuk ulkus peptik
e. Perforasi oleh malignansi intraabdomen atau limfoma
f. Benda asing (misalnya jarum pentul) dapat menyebabkan perforasi esofagus,
gaster, atau usus dengan infeksi intraabdomen, peritonitis, dan sepsis.
2. Perforasi trauma (tajam atau tumpul) misalnya:
a. Trauma iatrogenik setelah pemasangan pipa nasogastrik saat endoskopi.
b. Luka penetrasi ke dada bagian bawah atau abdomen (misalnya tusukan pisau)
c. Trauma tumpul pada gaster : trauma seperti ini lebih umum pada anak daripada
dewasa dan termasuk trauma yang berhubungan dengan pemasangan alat, cedera
gagang kemudi sepeda, dan sindrom sabuk pengaman.
Ruptur lambung akan melepaskan udara dan kandungan lambung ke dalam
peritoneum. pasien akan menunjukkan rasa nyeri hebat, akut, disertai peritonitis. Dari
radiologis, sejumlah besar udara bebas akan tampak di peritoneum dan ligamentum
falsiparum tampak dikelilingi udara. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
D. PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal, lambung relatif bersih dari bakteri dan mikroorganisme lain
karena kadar asam intraluminalnya yang tinggi. Kebanyakan orang yang mengalami
trauma abdominal memiliki fungsi gaster normal dan tidak berada dalam resiko
kontaminasi bakteri setelah perforasi gaster. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005.
Namun, mereka yang sebelumnya sudah memiliki masalah gaster beresiko terhadap
kontaminasi peritoneal dengan perforasi gaster. Kebocoran cairan asam lambung ke
rongga peritoneal sering berakibat peritonitis kimia yang dalam. Jika kebocoran tidak
ditutup dan partikel makanan mencapai rongga peritoneal, peritonitis kimia bertahap
menjadi peritonitis bakterial. Pasien mungkin bebas gejala untuk beberapa jam antara
peritonitis kimia awal sampai peritonitis bakterial kemudian. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong
W.D. 2005)
Adanya bakteri di rongga peritoneal merangsang influks sel-sel inflamasi akut.
Omentum dan organ dalam cenderung untuk melokalisasi tempat inflamasi, membentuk
flegmon (ini biasanya terjadi pada perforasi usus besar). Hipoksia yang diakibatkan di
area memfasilitasi pertumbuhan bakteri anaerob dan menyebabkan pelemahan aktivitas
bakterisid dari granulosit, yang mengarah pada peningkatan aktivitas fagosit granulosit,
degradasi sel, hipertonisitas cairan membentuk abses, efek osmotik, mengalirnya lebih
banyak cairan ke area abses, dan pembesaran abses abdomen. Jika tidak diterapi,
bakteremia, sepsis general, kegagalan multi organ, dan syok dapat terjadi. (Sjamsuhidajat
R.. dan Jong W.D. 2005)
E. TANDA DAN GEJALA
Perforasi gaster akan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami
perforasi akan tampak kesakitan hebat, seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul
mendadak, terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsang peritoneum oleh
asam lambung, empedu dan/atau enzim pankreas. Cairan lambung akan mengalir ke
kelok parakolika kanan, menimbulkan nyeri perut kanan bawah, kemudian menyebar ke
seluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria, fase ini disebut fase peritonitis kimia.
Adanya nyeri di bahu menunjukkan adanya rangsangan peritoneum di permukaan bawah
diafragma. Reaksi peritoneum berupa pengenceran zat asam yang merangsang itu akan
mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria.
(Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri tekan dan defans muskuler. Pekak hati
bisa hilang karena adanya udara bebas di bawah diafragma. Peristaltis usus menurun
sampai menghilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis
bakteria, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi, dan penderita
tampak letargik karena syok toksik. Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri pada
setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritoneum dengan peritoneum.
(Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Nyeri subjektif dirasakan waktu penderita bergerak, seperti berjalan, bernapas,
menggerakkan badan, batuk, dan mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri ketika
digerakkan seperti pada saat palpasi, tekanan dilepaskan, colok dubur, tes psoas, dan tes
obturator. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sejalan dengan penemuan klinis, metode tambahan yang dapat dilakukan adalah foto
polos abdomen pada posisi berdiri, ultrasonografi dengan vesika urinaria penuh, CT-scan
murni dan CT-scan dengan kontras. Jika temuan foto Rontgen dan ultrasonografi tidak
jelas, sebaiknya jangan ragu untuk menggunakan CT-scan, dengan pertimbangan metode
ini dapat mendeteksi cairan dan jumlah udara yang sangat sedikit sekali pun yang tidak
terdeteksi oleh metode yang disebutkan sebelumnya.
1. Radiologi
Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Isi yang
keluar dari perforasi dapat mengandung udara, cairan lambung dan duodenum,
empedu, makanan, dan bakteri. Udara bebas atau pneumoperitoneum terbentuk jika
udara keluar dari sistem gastrointestinal. Hal ini terjadi setelah perforasi lambung,
bagian oral duodenum, dan usus besar. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Gambar 2. Gambaran udara bebas pada foto toraks.
Pada kasus perforasi usus kecil, yang dalam keadaan normal tidak mengandung
udara, jumlah udara yang sangat kecil dilepaskan. Udara bebas terjadi di rongga
peritoneum 20 menit setelah perforasi. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Manfaat penemuan dini dan pasti dari perforasi gaster sangat penting, karena
keadaan ini biasanya memerlukan intervensi bedah. Radiologis memiliki peran nyata
dalam menolong ahli bedah dalam memilih prosedur diagnostik dan untuk
memutuskan apakah pasien perlu dioperasi. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Deteksi pneumoperitoneum minimal pada pasien dengan nyeri akut abdomen
karena perforasi gaster adalah tugas diagnostik yang paling penting dalam status
kegawatdaruratan abdomen. Seorang dokter yang berpengalaman, dengan
menggunakan teknik radiologi, dapat mendeteksi jumlah udara sebanyak 1 ml. dalam
melakukannya, ia menggunakan teknik foto abdomen klasik dalam posisi berdiri dan
posisi lateral decubitus kiri. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Untuk melihat udara bebas dan membuat interpretasi radiologi dapat dipercaya,
kualitas film pajanan dan posisi yang benar sangat penting. Setiap pasien harus
mengambil posisi adekuat 10 menit sebelum pengambilan foto, maka, pada saat
pengambilan udara bebas dapat mencapai titik tertinggi di abdomen. Banyak peneliti
menunjukkan kehadiran udara bebas dapat terlihat pada 75-80% kasus. Udara bebas
tampak pada posisi berdiri atau posisi decubitus lateral kiri. (Sjamsuhidajat R.. dan
Jong W.D. 2005)
Pada kasus perforasi karena trauma, perforasi dapat tersembunyi dan tertutup oleh
kondisi bedah patologis lain. Posisi supine menunjukkan pneumoperitoneum pada
hanya 56% kasus. Sekitar 50% pasien menunjukkan kumpulan udara di abdomen atas
kanan, lainnya adalah subhepatika atau di ruang hepatorenal. Di sini dapat terlihat
gambaran oval kecil atau linear. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Gambaran udara bentuk segitiga kecil juga dapat tampak di antara lekukan usus.
Meskipun, paling sering terlihat dalam bentuk seperti kubah atau bentuk bulan
setengah di bawah diafragma pada posisi berdiri. Football sign menggambarkan
adanya udara bebas di atas kumpulan cairan di bagian tengah abdomen.
(Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
2. Ultrasonografi
Ultrasonografi adalah metode awal untuk kebanyakan kondisi akut abdomen.
Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi cairan bebas dengan berbagai densitas,
yang pada kasus ini adalah sangat tidak homogen karena terdapat kandungan
lambung. Pemeriksaan ini khususnya berharga untuk mendeteksi cairan bebas di
pelvik kecil menggunakan teknik kandung kemih penuh. Kebanyakan, ultrasonografi
tidak dapat mendeteksi udara bebas.
3. CT Scan
CT scan abdomen adalah metode yang jauh lebih sensitif untuk mendeteksi udara
setelah perforasi, bahkan jika udara tampak seperti gelembung dan saat pada foto
rontgen murni dinyatakan negatif. Oleh karena itu, CT scan sangat efisien untuk
deteksi dini perforasi gaster. Ketika melakukan pemeriksaan, kita perlu menyetel
jendelanya agar dapat membedakan antara lemak dengan udara, karena keduanya
tampak sebagai area hipodens dengan densitas negatif.
Jendela untuk parenkim paru adalah yang terbaik untuk mengatasi masalah ini.
Saat CT scan dilakukan dalam posisi supine, gelembung udara pada CT scan terutama
berlokasi di depan bagian abdomen. Kita dapat melihat gelembung udara bergerak
jika pasien setelah itu mengambil posisi decubitus kiri. CT scan juga jauh lebih baik
dalam mendeteksi kumpulan cairan di bursa omentalis dan retroperitoneal. Walaupun
sensitivitasnya tinggi, CT scan tidak selalu diperlukan berkaitan dengan biaya yang
tinggi dan efek radiasinya.
Jika kita menduga seseorang mengalami perforasi, dan udara bebas tidak terlihat
pada scan murni klasik, kita dapat menggunakan substansi kontras nonionik untuk
membuktikan keraguan kita. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan udara
melalui pipa nasogastrik 10 menit sebelum scanning.
Cara kedua adalah dengan memberikan kontras yang dapat larut secara oral
minimal 250 ml 5 menit sebelum scanning, yang membantu untuk menunjukkan
kontras tapi bukan udara. Komponen barium tidak dapat diberikan pada keadaan ini
karena mereka dapat menyebabkan pembentukkan granuloma dan adesi peritoneum.
Beberapa penulis menyatakan bahwa CT scan dapat memberi ketepatan sampai 95%.
G. PENATALAKSANAAN
Penderita yang lambungnya mengalami perforasi harus diperbaiki keadaan umumnya
sebelum operasi. Pemberian cairan dan koreksi elektrolit, pemasangan pipa nasogastrik,
dan pemberian antibiotik mutlak diberikan. (Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005)
Jika gejala dan tanda-tanda peritonitis umum tidak ada, kebijakan nonoperatif
mungkin digunakan dengan terapi antibiotik langsung terhadap bakteri gram-negatif dan
anaerob.Tujuan dari terapi bedah adalah:
Koreksi masalah anatomi yang mendasari
Koreksi penyebab peritonitis
Membuang setiap material asing di rongga peritoneum yang dapat menghambat
fungsi leukosit dan mendorong pertumbuhan bakteri (seperti darah, makanan, sekresi
lambung).
Penatalaksaan tergantung penyakit yang mendasarinya. Intervensi bedah hampir
selalu dibutuhkan dalam bentuk laparotomi explorasi dan penutupan perforasi dan
pencucian pada rongga peritoneum (evacuasimedis). Terapi konservatif di indikasikan
pada kasus pasien yang nontoxic dan secara klinis keadaan umumnya stabil dan biasanya
diberikan cairan intravena, antibiotik, aspirasi NGT, dan dipuasakan pasiennya.
Laparotomi dilakukan segera setelah upaya suportif dikerjakan. Jahitan saja setelah
eksisi tukak yang perforasi belum mengatasi penyakit primernya, tetapi tindakan ini
dianjurkan bila keadaan umum kurang baik, penderita usia lanjut, dan terdapat peritonitis
purulenta. Bila keadaan memungkinkan, tambahan tindakan vagotomi dan antrektomi
dianjurkan untuk mencegah kekambuhan.
Terapi utama perforasi gastrointestinal adalah tindakan bedah. Terapi gawat darurat
dalam kasus perforasi gastrointestinal adalah (Azer,S.A. 2016):
Pasang akses intravena (infuse). Berikan terapi cairan kristaloid pada pasien dengan
gejala klinis dehidrasi atau septikemia
Jangan berikan apapun secara oral
Berikan antibiotik secara intravena pada pasien dengan gejala septicemia. Berikan
antibiotik spectrum luas. Tujuan pemberian antibiotik adalah untuk eradikasi infeksi
dan mengurangkan komplikasi post operasi
1. Antibiotik
Antibiotik terbukti efektif dalam menurunkan kadar infeksi post operasi dan dapat
memperbaiki hasil akhir dari pasien dengan infeksi intra peritoneum dan septicemia..
Contoh antibiotik yang diberikan adalah seperti (Azer,S.A. 2016):
a. Metronidazol
Dosis dewasa yang diberikan adalah 7,5 mg per kilogram. (7,5 KG/BB). Biasa
diberikan sebelum operasi. merupakan sejenis obat kategori B dalam kehamilan
(pregnancy category B drug)
b. Gentamisin
Sejenis antiobiotik aminoglikosida. Regimen dosis yang diberikan adalah berbeda
yaitu tergantung kepada klirens kreatinin dan perubahan distribusi volume. Dapat
diberikan secara intravena atau intra muskular. Pada dewasa, dosis yang diberikan
sebelum operasi adalah 2 mg/kg secara intravena. Merupakan obat kategori C dalam
kehamilan (pregnancy category C drug)
c. Cefoprazone
Sefalosporin generasi ketiga yang menginhibisi sintesis dinding sel bakteri dengan
berikatan pada satu atau lebih penicillin-binding-protein. Dosis dewasa adalah 2 4 d
per hari. Juga merupakan sejenis obat kategori B dalam kehamilan (pregnancy
category B drug)
2. TERAPI BEDAH
Tujuan utama terapi bedah pada kasus perforasi gaster adalah seperti berikut (Azer,S.A.
2016):
Koreksi masalah dasar secara anatomis
Koreksi penyebab peritonitis
Mengeluarkan sebarang materi asing pada ronga peritoneum yang dapat menginhibisi
fungsi sel darah putih dan menggalakkan pertumbuhan bakteri. Contohnya feses,
sekresi gaster dan darah
a. Preoperatif
1) Koreksi sebarang ketidakseimbangan cairan atau elektrolit. Ganti kehilangan
cairan ekstraseluler dengan administrasi cairan Hartmann (Hartmann solution)
atau sebarang cairan yang mempunyai komposisi elektrolit sama seperti plasma
(Azer,S.A. 2016)
2) Administrasi antiobiotik sistemik seperti ampisilin, gentamisin dan metronidazol
(Azer,S.A. 2016)
3) Pasang kateter urin untuk menghitung output cairan (Azer,S.A. 2016)
4) Administrasi analgesik seperti morfin, dengan dosis kecil, dianjurkan secara infus
kontinu (continuous infusion) (Azer,S.A. 2016)
b. Intraoperatif
Manajemen operasi tergantung kepada kausa daripada perforasi. Semua materi
nekrosis dan cairan yang terkontaminasi harus dibuang dan diteruskan dengan lavase
dengan antibiotic (tetrasiklin 1 mg/mL). Usus yang mengalami distensi dikompres
dengan nasogastric tube (Azer,S.A. 2016)
c. Post operatif
1) Menggantikan cairan secara intravena
Tujuannya adalah untuk menjaga volume intravascular dan hidrasi pasien.
Dimonitor dengan peritungan menggunakan CVP dan output urin (Azer,S.A.
2016)
2) Drainase nasogastric
Lakukan drainase nasogastric secara kontinu sampai drainase minimal (Azer,S.A.
2016)
3) Antibiotik
Tujuan pemberian antibiotik pada post operasi adalah untuk mencapai kadar
antibiotik pada tempat infeksi yang melebihi konsentrasi inhibisi minimum
pertumbuhan patogen. Pada infeksi intra abdomen, fungsi gastrointestinal sering
terhambat. Oleh kerana itu, pemberian antibiotic secara oral tidak efektif dan
dianjurkan pemberian secara intravena (Azer,S.A. 2016)
4) Analgesik
Analgesik seperti intravena morfin diberikan secara kontinu atau pada dosis kecil
dengan interval yang sering.11
H. PROGNOSIS
Apabila tindakan operasi dan pemberian antibiotik berspektrum luas cepat dilakukan
maka prognosisnya dubia ad bonam. Sedangkan bila diagnosis, tindakan, dan pemberian
antibiotik terlambat dilakukan maka prognosisnya menjadi dubia ad malam (Azer,S.A.
2016).
Hasil terapi meningkat dengan diagnosis dan penatalaksanaan dini. Faktor-faktor
berikut akan meningkatkan resiko kematian (Azer,S.A. 2016):
1. Usia lanjut
2. Adanya penyakit yang mendasari sebelumnya
3. Malnutrisi
4. Timbulnya komplikasi
I. KOMPLIKASI
1. Kegagalan luka operasi
Kegagalan luka operasi (kerusakan parsial atau total pada setiap lapisan luka operasi)
dapat terjadi segera atau lambat.13 Faktor-faktor berikut ini dihubungkan dengan
kegagalan luka operasi:
a. Malnutrisi
b. Sepsis
c. Uremia
d. Diabetes mellitus
e. Terapi kortikosteroid
f. Obesitas
g. Batuk yang berat
h. Hematoma (dengan atau tanpa infeksi)
i. Abses abdominal terlokalisasi
j. Kegagalan multiorgan dan syok septik
2. Syok septik
Septikemia adalah proliferasi bakteri dalam darah yang menimbulkan manifestasi
sistemik, seperti kekakuan, demam, hipotermi (pada septikemia gram negatif dengan
endotoksemia), leukositosis atau leukopenia (pada septikemia berat), takikardi, dan
kolaps sirkuler (Azer,S.A. 2016).
Syok septik dihubungkan dengan kombinasi hal-hal berikut:
a. Hilangnya tonus vasomotor
b. Peningkatan permeabilitas kapiler
c. Depresi myokardial
d. Pemakaian leukosit dan trombosit
e. Penyebaran substansi vasoaktif kuat, seperti histamin, serotonin, dan
prostaglandin, menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler
f. Aktivasi komplemen dan kerusakan endotel kapiler

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat R.. dan Jong W.D. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC

Azer,S.A. 2016. Intestinal perforation. Tersedia dalam


http://emedicine.medscape.com/article/195537-overview#a0103 [Diakses pada 14
Maret 2016]

Mayasari, K. 2016. Perforasi Gaster.Tersedia dalam http://www.klikdokter.com/tanya-


dokter/read/2815128/perforasi-gaster [Diakses pada 14 Maret 2017]