Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

KONSEP GENDER DALAM ISLAM

Diajukan sebagai salah satu tugas diskusi mata kuliah umum (MKU)
Agama

Disusun Oleh:

Rahmad Faisal 1510631140115


Rusdianto 1510631140126
Salmah Ayu Haryanti 1510631140128

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat dan Ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Konsep Gender dalam Islam sebagai salah satu tugas diskusi
mata kuliah Agama. Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi
mengenai bagaimana konsep gender dalam perspektif islam.

Dalam penulisan makalah ini, kami ingin mengucapkan terima kasih yang
sebedar-besarnya kepada:

1. Allah SWT yang telah berperan besar dalam memperlancar kami dalam
penyusunan makalah ini.
2. Teman-teman kelas D Teknik Industri angkatan 2015 yang kami
banggakan, yang telah memberikan bantuan serta dorongan kepada kami.

Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan informasi kepada


para pembaca. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari
semua pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i

DAFTAR ISI...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah..................................................................... 1

B. Rumusan Masalah............................................................................... 1

C. Tujuan Penulisan................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 3

A. Pengertian Gender.............................................................................. 3

B. Penciptaan Laki-laki dan Wanita........................................................ 6

C. Kesetaraan Gender Dalam Islam........................................................ 9

D. Transgender Dalam Islam................................................................... 15

BAB III PENUTUP........................................................................................... 22

A. Kesimpulan......................................................................................... 22

B. Saran................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada saat ini, masalah gender sering diperdebatkan diberbagai dunia


diantaranya adalah tentang masalah makna gender itu sendiri, bagaimana posisi
gender dalam agama terutama pada agama Islam, serta tentang kesetaraan gender
(laki-laki dan wanita). Terlepas dari itu semua sekarang timbul masalah baru
tentang gender yaitu timbulnya Trans Gender di berbagai belahan dunia. Oleh
sebab itulah dari masalah yang sering dipredebatkan dan masalah yang baru
timbul tentang gender ini lah maka makalah ini dibuat untuk membahas secara
menyeluruh tentang gender. Pembahasan tentang gender yang akan dibahas
diantarannya mengenai : pengertian gender, gender dalam Al-Quran, penciptaan
laki-laki dan perempuan, kesetaraan gender dalam islam, dan hukum Trans
Gender dalam islam.

B. Perumusan Masalah

Dalam makalah ini kami akan membahas masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengertian atau makna gender.


2. Bagaimana penciptaan laki-laki dan wanita dalam Islam.
3. Bagaimana kesetaraan gender antara laki-laki dan wanita dalam Islam.
4. Bagaimana masalah trans gender dalam Islam.

C. Tujuan Penulisan

1
Tujuan penulisan makalah ini antara lain adalah sebagai berikut :

1. Pembaca dapat mengetahui serta memahami pengertian atau makna


gender.
2. Pembaca dapat mengetahui serta memahami tentang bagaimana
penciptaan laki-laki dan wanita dalam Islam.
3. Pembaca dapat mengetahui serta dapat memahami bagaimana kesetaraan
gender dalam Islam.
4. Pembaca dapat mengetahui serta memahami tentang masalah trans gender
dalam Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

2
A. Pengertian Gender

Secara etimologis, gender itu berasal dari bahasa latin Genus


yang berarti jenis atau tipe. Sedangkan dalam bahasa Inggris Gender
adalah kosakata yang bermakan jenis kelamin, dalam glosarium disebut
sebagai seks dan gender. Gender sendiri diartikan sebagai suatu sifat yang
melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikontruksi secara social.
Kultural atau hubungan social yang terkontruksi antara perempuan dan
laki-laki yang bervariasi dan sangat bergantung pada factor-faktor budaya,
agama, sejarah dan ekonomi.

Istilah gender digunakan berbeda dengan sex. Gender digunakan


untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi
sosial-budaya. Sementara sex digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan
laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex lebih banyak
berkonsentrasi pada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan
komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan
karakteristik biologis lainnya. Sementara itu, gender lebih banyak
berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek
non-biologis lainnya.

Menurut masyarakat sendiri Gender adalah pandangan atau


keyakinan yang dibentuk masyarakat tentang bagaimana seharusnya
seorang perempuan atau laki-laki bertingkah laku maupun berpikir.
Misalnya: pandangan bahwa perempuan ideal harus pandai memasak,
pandai merawat diri, lemah lembut, atau keyakinan bahwa perempuan
adalah makhluk sensitif, emosional, selalu memakai perasaan. Sebaliknya
seorang laki-laki sering dilukiskan berjiwa pemimpin, pelindung, kepala
rumah tangga, rasional, tegas dan sebagainya. Dengan singkat gender

3
secara jenis kelamin sosial yang dibuat masyarakat, yang belum tentu
benar.

Dalam Islam sebetulnya tidak mengenal istilah gender, karena


dalam islam tidak membedakan kedudukan seseorang berdasarkan jenis
kelamin dan tidak ada bias gender dalam islam. Islam mendudukan laki-
laki dan perempuan dalam posisi yang sama dan kemuliaan yang sama.
Contohnya adalah islam tidak membedakan laki-laki dan wanita dalam hal
tingkatan takwa, dan surga juga tidak dikhususkan untuk laki-laki saja.
Tetapi untuk laki-laki dan perempuan yang beramal sholeh dan bertakwa.

Islam mendudukan laki-laki dan perempuan pada tempatnya.tak


dapat dibenarkan anggapan para orientalis dan musuh islam bahwa islam
menempatkan wanita pada derajat yang rendah atau dianggap masyarakat
kelas dua. Dalam islam sesungguhnya wanita dimuliakan. Banyak sekali
ayat Al-Quran ataupun hadist nabi yang memuliakan dan mengangkat
derajat wanita. Baik sebagai ibu, anak, istri ataupun sebagai anggota
masyarakat sendiri. Tak ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan
dalam islam, akan tetapi yang membedakan keduannya adalah
fungsionalnya, karena kodrat dari masing-masing. Seperti yang
terkandung dalam (Qs. An Nisa,(4):19) yang artinya pergaulilah
mereka (istrimu) dengan baik

Potongan ayat 19 surat An-Nisa diatas merupakan kaidah Robbani


yang baku yang ditunjukan kepada kaum laki-lakiyang disebut kaum
bapak agar berbuat baik kepada kaum wanita/ibu, baik dalam pergaulan
rumah tangga maupun masyarakat luas. Apabila ditelaah dan dilihat lebih
jauh,perlakuan dananggapan masyarakat yang merendahkan wanita dan
menganggap wanita sebagai masyarakat kelas duasesungguhnya
merupakan pengaruh cultural (kebudayaan) yang berlaku di masyarakat
tertentu. Bukan berasal dari ajaran islam. Sebagai contoh kultur atau

4
budaya atau budaya masyarakat jawa, terutama masyarakat zaman dulu
yang menganggap bahwa wanita tidak perlu menuntut ilmu (sekolah)
tinggi-tinggi, karena nantinya mereka hanya akan kembali ke dapur.

Dalam surat al-Isra ayat 70 yang artinya berbunyi :

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut


mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
(QS.al-Isra[17]:70)

Bahwa Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan


bentuk yang terbaik dengan kedudukan yang paling hormat. Manusia juga
diciptakan mulia dengan memiliki akal, perasaan dan menerima petunjuk.
Oleh karena itu al Quran tidak mengenal pembedaan antara laki-laki dan
perempuan, karena di hadapan Allah adalah sama. Laki-laki dan
perempuan mempunyai derajat dan kedudukan yang sama, dan yang
membedakan antara laki-laki dan perempuan hanyalah dari segi
biologisnya. Dalam makalah ini pada poin ketiga pun akan membahas
tentang derajat dan kedudukan dalam gender, poin yang akan membahas
tentang masalah tersebut poin adalah poin yang berjudul kesetaraan gender
dalam islam.

B. Penciptaan Laki-Laki dan Wanita

5
Laki-laki dan wanita yang pertama kali diciptakan menurut agama
Islam adalah Adam as dan Hawa. Al-Quran menyatakan proses
penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang berbeda yaitu: pertama,
disebut dengan tahapan primordial. Manusia pertama Adam as diciptakan
dari al-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), min hamain
masnun (tanah lumpur hitam) yang dibentuk Allah dengan seindah-
indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya kedalam diri
(manusia) tersebut (Q.S,Al Anaam(6):2, Al Hijr(15):26,28,29, Al
Muminuun(23):12, Al Ruum(30):20, Ar Rahman(55):4).
Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia
selanjutnya adalah melalui proses biologi yang dapat secara sains empirik.
Di dalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan
air mani(nutfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian nutfah itu dijadikan darah beku (alaqah) yang menggantung
dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal
daging(mudgah) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang dan lalu
kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Muminuun(23):12-14). Hadist yang
diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan
Allah swt kedalam janin setelah ia menjalani perkembangan 40 hari
nutfah, 40 hari alaqah dan 40 hari mudgah.
Setelah Adam AS diciptakan selanjutnya Allah SWT menciptakan
Siti Hawa, ia diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam as. Hawa memiliki
bentuk tubuh dan tinggi badan yang sama dengan Adam as. Namun, Allah
memperindahnya dengan wujud yang lebih feminim. Kecantikannya
mwlwbihi seribu bidadari. Hawa memiliki sebanyak 700 ikatan pada
rambutnya. Allah menghiasi Hawa dengan gelang dan perhiasan dari surga
yang mengkilap yang melebihi cahaya matahari. Hawa dan keturunannya
adalah secantik-cantiknya wanita sampai nanti di hari kiamat.

Sekarang marilah kita menuju masalah penciptaan Hawa dari


tulang rusuk Adam as. Mengapa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam

6
as. Yang paling pendek? Dan mengapa harus dari Adam? Masalah
penciptaan dari tulang rusuk ini terdapat dalam Shahih alBukhari, Shahih
Muslim, dan Musnad Ahmad ibnu Hanbal.lebih dari itu, masalah
penciptaan Hawa dari Adam juga terdapat dalam Al-Quran; Wahai
manusia, berakwalah kepada Tuhan Yang telah menciptakan kalian dari
satu diri, lalu Dia menciptakan darinya pasangannya.QS al-Nisa (4):1.
Pada ayat diatas kita menemukan kata ganti pada kata darinya yang
mengacu pada diri , bukan kepada Adam as. Hal ini juga kita lihat secara
jelas dalam ayat lain : Dia menciptakan kalian dari satu diri , kemudian
Dia menjadikan darinnya pasangannya. QS al- Zumar (29):6. Ketika Al-
Quran membahas penciptaan Hawa, ia mengatakan bahwa Hawa tercipta
dari diri Adam , bukan dari Adam.

Rasul SAW. Bersabda : siapa saja yang beriman kepada Allah


dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak menyakiti tetanggannya. Saling
berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita. Sesungguhnya
mereka tercipta dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari tulang rusuk
adalah yang paling atas. Jika berusaha meluruskannya, engkau akan
membuatnya patah. Dan jika dibiarkan, ia akan terus bengkok. Karena
itu, perlakukanlah wanita dengan baik. HR Bukhari,Bab Nikah, 80.

Dengan demikian, sebab atau landasan penyebutan hadis di atas


adalah penfifikan wanita dan penataan rumah tangga. Ya, jika engkau
ingin memperbaiki wanita dengan cepat dan tergesa-gesa, engakau akan
mematahkannya. Namun, jika engkau tidak memperbaikinnya, ia tetap
sebagaimana adannya. Rasul SAW, menunju kaspek yang penting, yaitu
bahwa wanita lebih berpotensi untuk bengkok daripada laki-laki. Ia lebih
halus dan lebih mudah patah. Jadi, yang hendak di jelaskan oleh hadis di
atas bukanlah penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam, tetapi
menunjukan wanita akan tetap bengkok jika dibiarkan dalam kondisinya,
namun jika diluruskan dengan tergesa-gesa, ia akan patah. Tentu saja

7
pentebutan hadis dengan redaksi semacam itu memiliki hikmah. Rasul
SAW, berkata, Dari tulang rusuk kata min (dari) dalam bahasa Arab
kadang bermakna penjelasan, yakni dari jenis sesuatu. Jadi, karena Rasul
SAW tidak memberi batasan tegas, sabdanya mengandung sebuah
pengertian.

Wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam. Artinya perempuan


adalah bagian dari laki-laki atau dari jenisnya, yakni ia berasal dari sifat-
sifat alamiah yang sama. Seandainnya laki-laki dan perempuan tidak
berasal dari jenis yang sama, tidak meungkin mereka bisa berketurunan
karena lanjutan ayat : Dan Dia menebarkan dari keduannya laki-laki dan
perempuan yang banyak (QS al-Nisa (4):1. Seandainnya keduannya
berasal dari dua jenis yang berbeda, tentu reproduksi antara keduannya
tidak akan tejadi. Adapun kata tulang rusuk dalam hadis mengandung
arti kecendrungan untuk bengkok lebih daripada makna kata bengkok itu
sendiri.

Rasul SAW memilih ungkapan tersebut dengan penuh perhatian.


Artinya, wanita lebih bepotensi bengkok daripada laki-laki. Ini adalah
persoalan yang tidak perlu diperdebatkan, sebab kondisi dunia
membuktikannya. Kaum yang lalai dan sesat banyak memperalat wanita
sebagai perangkap untuk menyesatkan kaum laki-laki. Pada abad ini
wanita telah dipakai dalam intensitas yang tidak pernah ada sebelumnya
dalam sejarah. Mereka banyak digunakan dalam sebagian besar iklan agar
lebih menarik karena kelemahan mereka sebagaimana disebutkan dalam
hadis Nabi SAW. Adakah yang bisa membenarkan penggunaan gambar
wanita pada iklan peluncuran mobil, perangkat kamar mandi, dan
hamburger? Apa hubungan wanita dengan semua itu? Jadi, Rasul SAW.
Memberitahu kita bahwa wanita tercipta dari tempat yang paling bengkok
dari laki-laki. Penggunaan wanita, terutama pada masa kini,sebagai alat
oleh kalangan sesat menguatkan kaidah tersebut. Seolah-olah wanita

8
adalah perlambang bagi sisi manusia yang paling bengkok. Tidak
diragukan bahwa tidak ada ungkapan yang lebih indah untuk menjelaskan
pernyataan ini.

Marilah kita bahas hal lain yang terkait. Pada Kitab kejadian pada
Taurat disebutkan dengan sangat jelas bahwa Hawa diciptakan dari rusuk
Adam as. Hal itu tidak menjadi persoalan karena Allah SWT menciptakan
Adam as dengan mukjizat. Tidak perlu merasa aneh dengan diambilnya
bagian tubuh Adam antara air dan tanah untuk penciptaan Ibunda
Hawa. Adam dan Hawa tidak lain adalah tanda kemukjizatan penciptaan
pertama.

Dalam hal ini sains tidak mampu menyelami proses penciptaan


pertama. Di sini ia buta, tuli, dan bisu. Kita melihat itu sebagai mukjizat
dan kita terima semuannya sesuai firman Allah SWT. Namun, bukan
berarti dengan begitu kita menerima secara membabi buta, tetapi kita
menerima setelah melihat,menyaksikan, dan mengetahui kehendak,
kebijaksanaan, dan pengetahuan Allah SWT yang meliputi segala sesuatu
leawat jendel ilmu, mulai dari atom hingga jagat raya. Artinya kita
menerima dengan akal dan hati kita. Allahlah yang paling tahu tentang
kebenaran, dan kebenaran itu hanya terdapat pada firman-Nya.

C. Kesetaraan Gender dalam Islam

Konsep kesetaraan dan keadilan gender dalam Islam sesungguhnya


telah menjadi bagian substantive nilai-nilai universal Islam melalui
pewahyuan (Al-Quran dan Al-Hadits) dari Allah Yang Maha Adil dan
Maha Pengasih. Laki-laki dan perempuan ditempatkan pada posisi yang
setara untuk kepentingan dan kebahagiaan mereka di dunia maupun di
akhirat. Karena itu, laki-laki dan permpuan mempunyai hak-hak dasar dan
kewajiban yang sama sebagai hamba Allah, yang membedakan hanyalah
ketaqwaan di hadapan-Nya.

9
Berbicara mengenai perempuan, mengantarkan kita agar terlebih
dahulu mendudukkan pandangan Al-Quran. Dlam hal ini, salah satu ayat
yang dapat diangkat dalam firman Allah SWT yang berbunyi: Wahai
seluruh manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (terdiri)
dari laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kamu berbangsa dan
bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling
mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.
Ayat tersebut menjelaskan tentang asal kejadian manusia dari
seorang laki-laki dan perempuan sekaligus berbicara tentang kemuliaan
manusia, baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. Yang didasarkan
kemuliaannya bukan keturunan, suku atau jenis kelamin, akan tetapi
ketaqwaannya kepada Allah SWT. Hal ini senada dengan pernyataan
mantan Syekh al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut di dalam bukunya Min
Tajwihad Al-Islam tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan
hampir dapat dikatakan sama. Allah SWT telah menganugerahkannya
kepada perempuan sebagaimana menganugerahkannya kepada laki-laki
potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan
menjadikan keduanya dapat melakukan kegiatan maupun aktivitas yang
bersifat umum maupun khusus.
Secara epistimologis, proses pembentukan kesetaraan gender
yang dilakukan Rasulullah SAW tidak hanya dalam wilayah domestic saja,
akan tetapi hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Seluruh aspek itu meliputi perempuan sebagai ibu, istri, anak, nenek dan
maupun sebagai anggota masyarakat, dan sekaligus juga untuk
memberikan jaminan keamanan serta perlindungan hak-hak dasar yang
telah dianugerahkan oleh Allah.
Dengan demikian maka Rasulullah SAW telah memulai tradisi
baru dalam pandangan perempuan, diantaranya adalah:
Pertama, beliau melakukan perombakan besar-besaran terhadap
cara pandang (world view) masyarkat Arab yang pada waktu itu di

10
dominasi oleh cara pandang masyarakat ear Firaun. Di mana latar historis
yang menyertai konstruk masyarakat ketika itu adalah bernuansa
misoginis. Salah satu contohnya adalah kebiasaan Rasulullah SAW yang
dipandang spektakuler pada waktu itu adalah seringnya Rasulullah SAW
menggendong puterinya (Fatimah az-Zahra) didepan umum. Kebiasaan
Rasulullah pada waktu itu dinilai tabu oleh tradisi masyarakat Arab, apa
yang telah dilakukan Rasulullah SAW tersebut ini adalah merupakan
proses pembentukan wacana bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh
dibeda-bedakan (sama).
Kedua, Rasulullah SAW memberikan teladan yang baik
(Muasyarah bi al-Makruf) terhadap perempuan di sepanjang hidupnya,
yakni beliau tidak pernah sedikitpun melakukan kekerasan terhadap istri-
istrinya sekalipun satu sama lainnya berpeluang untuk cemburu. Di dalam
menkonstruk masyarakat Islam, Rasulullah melakukan upaya-upaya yang
mengangkat harkat dan martabat perempuan, melalui perbaikan (revisi)
terhadap tradisi jahiliyah. Hal inilah adalah merupakan proses
pembentukan konsep dan kesetaraan gender dalam hukum Islam.
Hal tersebut diantaranya adalah: perlindungan hak perempuan
melalui hukum, perbaikan hukum keluarga (hak menentukan jodoh,
mahar, waris, pengajuan talak, dsb.), diperbolehkannya mengakses peran-
peran public, mempunyai hak mentasaruf-kan hartanya sebagai symbol
kemerdekaan dan kehormatan bagi setiap orang, perombakan aturan
tersebut menujukkan bahwa penghargaan Islam terhadap perempuan telah
dilakukan pada masa Rasulullah SAW masih hidup, di saat citra Islam
dalam tradisi Arab jahiliyah masih sangat rendah.
Di samping itu pula Islam juga mengatur tentang kesetaraan
gender, bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia yaitu laki-laki dan
perempuan dalam bentuk yang terbaik dengan kedudukan yang paling
terhormat. Manusia juga diciptakan mulia dengan memiliki akal, perasaan
dan menerima petunjuk.

11
Oleh karena itu Al-Quran tidak mengenal pembedaan antara
laki-laki dan perempuan karena dihadapan Allah SWT, laki-laki dan
perempuan mempunyai derajat dan kedudukan yang sama. Demikian
pandangan Islam menempatkan wanita pada posisi yang terhormat.
Sehingga, apapun peranannya baik sebagai anak, remaja, dewasa, ibu
rumah tangga, kaum profesional, dan lain-lain mereka itu terhormat sejak
kecil hingga usia lanjut.
Dari sinilah dapat kita pahami bagaimana Islam muncul pada
situasi seperti ini, di mana pribadi pembawa risalahnya pun hanya
mempunyai satu anak perempuan (yang hidup), padahal kita ketahui
mempunyai anak perempuan pada masa itu adalah keterhinaan, kalau kiat
kaji lebih dalam lagi, pasti ada rahasia di balik semua itu, yakni untuk
mengangkat derajat kaum perempuan dan merubah kultur, dari kultur
jahiliyah menjadi kultur Islami. Islam menggabungkan antara teori dan
praktek, sekaligus. Islam mengajarkan bagaimana memandang dan
memperlakukan perempuan. Kemudian Rasulullah mempraktekkannya,
sehingga terwujud keutuhan dan keselarasan di antara keduanya.
Sedangkan gender dalam Al-Qur'an menurut Dr. Nasaruddin Umar
dalam Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan (2000)
ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kesetaraan
gender ada di dalam Al-Qur'an, yaitu:
1. Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai hamba menurut QS.Al-
Dzariyat [51]: 56. Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan
antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan
peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal dalam Al-Qur'an bisa
diistilahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa (muttaqin), dan untuk
mencapai derajat muttaqin ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis
kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu, sebagaimana
disebutkan dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13.

12
2. Perempuan dan laki-laki sebagai khalifah di bumi kapasitas manusia
sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fil al ard) ditegaskan dalam
QS.Al-Anam [6]:165) dan dalam QS. Al-Baqarah [2]:30. Dalam
kedua ayat tersebut, kata khalifah tidak menunjuk pada salah satu
jenis kelamin tertentu, artinya baik perempuan maupun laki-laki
mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan
mempertanggung jawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi.
3. Perempuan dan laki-laki menerima perjanjian awal dengan Tuhan.
Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah dan
menerima perjanjian awal dengan Tuhan, seperti dalam QS. Al-Araf
[7]:172, yakni ikrar akan keberadaan Tuhan yang disaksikan oleh para
malaikat. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal
adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-
sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Quran juga
menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa
pembedaan jenis kelamin. (QS. al-Isra [17]: 70).
4. Adam dan Hawa terlibat secara aktif dalam drama kosmis semua ayat
yang menceritakan tentang drama kosmis, yakni cerita tentang
keadaan Adam dan Hawa di surga sampai keluar ke bumi, selalu
menekankan keterlibatan keduanya secara aktif, dengan penggunaan
kata ganti untuk dua orang (hum), yakni kata ganti untuk Adam dan
Hawa.
5. Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi meraih prestasi
maksimum tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan,
ditegaskan secara khusus dalam tiga ayat, yakni Ali Imran 195, Al-
Nisa 124, Al-Nahl 97. Ketiganya mengisyaratkan konsep kesetaraan
gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi
individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional,
tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja. Lily Zakiyah
Munir, Memposisikan Kodrat Perempuan dan Perubahan dalam
Perspektif Islam, 2002, hlm. 75.

13
Munculnya ketidak adilan terhadap perempuan dengan dalih agama
disebabkan karena adanya implementasi yang salah satu dari ajaran agama
tersebut yang disebabkan oleh pengaruh faktor sejarah, lingkungan budaya
dan tradisi yang patriarkhi di dalam masyarakat, sehingga menimbulkan
sikap dan perilaku individual yang secara turun temurun menentukan
status kaum perempuan dan ketimpangan gender tersebut. Hal inilah yang
kemudian menimbulkan mitos-mitos salah yang disebarkan melalui nilai-
nilai dan tafsir-tafsir ajaran agama yang keliru mengenai keunggulan kaum
lelaki dan melemahkan kaum perempuan.
Adapun pandangan dasar atau mitos-mitos yang menyebabkan
munculnya ketidakadilan terhadap perempuan adalah:

1. Keyakinan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki,


sehingga perempuan dianggap sebagai makhluk kedua yang tidak akan
mungkin ada tanpa kehadiran laki-laki. Karena keberadaan perempuan
hanya dianggap sebagai pelengkap dan diciptakan hanya untuk tunduk
di bawah kekuasaan laki-laki.
2. Keyakinan bahwa perempuan sebagai sumber dari terusirnya manusia
(laki-laki) dari surga, sehingga perempuan dipandang dengan rasa
benci, curiga, jijik, bahkan lebih jauh lagi perempuan dianggap sebagai
sumber malapetaka.

Al-Quran tidak mengajarkan diskriminasi antara lelaki dan


perempuan sebagai manusia. di hadapan Allah lelaki dan perempuan
mempunyai derajat dan kedudukan yang sama. Oleh karena itu
pandangan-pandangan yang menyudutkan posisi perempuan sudah
selayaknya diubah, karena Al-Quran selalu menyerukan keadilan,
keamanan dan ketenteraman, mengutamakan kebaikan dan mencegah
kejahatan. Ayat-ayat inilah yang digunakan maqasid al Syari'ah atau
tujuan-tujuan utama syariat. Jika tidak ada penafsiran yang tidak sejalan

14
dengan prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi manusia, maka penafsiran
itu harus ditinjau kembali.

Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita sesuai dengan Al-Quran.


Dasar kepemimpinan ini terletak pada kelebihan yang Allah berikan
kepada laki-laki atas perempuan. Laki-laki memiliki kelebihan atas wanita
dalam sejumlah aspek. Namun, kelebihan dan keunggulan itu harus dilihat
seperti kelebihan diantara organ-organ sebuah tubuh. Apabila laki-laki
misalnya, menempati sebuah mata, wanita menemati posisi telinga.
Apabila laki-laki menempati posisi otak, wanita menempati posisi jantung.
Artinya ada hubungan yang kuat antara keduannya. Jantung memompa
dan mengalirkan darah agar otak bisa hidup. Apabila otak kehabisan darah,
jantung pun mati. Kedua organ tersebut saling terkait. Keduannya
mewakili dua organ berbeda yang terdapat pada satu tubuh. Kita tidak bisa
mengingkari keunggulan laki-laki atas wanita jika kita melihat duduk
masalah secara integral dan koprehensif.

D. Transgender Dalam Pandangan Islam


Secara etimologi transgender berasal dari dua kata yaitu trans
yang berarti pindah (tangan; tanggungan; perubahan); pemindahan dan
gender yang berarti jenis kelamin (Pius dan Dahlan dalam Nur Fadilatul,
2013: 16). Selanjutnya menurut Peletz (2006) mengartikan kata trans
sebagai pergerakan melintasi ruang dan batas, sama dengan merubah hal
yang bersifat alamiah, natural. Pengertian trans bermakna
menggabungkan suatu entitas atau proses atau hubungan antara dua
fenomena. Transgender ialah orang yang cara berperilaku atau
penampilannya tidak sesuai dengan peran gender pada umumnya.
Transgender adalah orang yang dalam berbagai level melanggar norma
kultural mengenai bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan itu.
Seorang perempuan misalnya, secara kultural dituntut untuk bersikap
lemah lembut. Tetapi jika seorang laki-laki yang berkarakter demikian, itu

15
namanya transgender (Linda Sudiono dalam Outline Sekolah Feminis
Untuk Kaum Muda Perempuan Mahardika 2011: 17). Selanjutnya istilah
trangender diartikan oleh Fausiah (2011 dalam Nur Sakina) sebagai suatu
terminologi yang disematkan kepada keanekaragaman indidu, perilaku,
kelompok-kelompok yang dianggap memiliki kecendrungan yang
dianggap menyimpang dari peran gender yang dianggap normatif (laki-laki
atau perempuan) secara umum, namun tidak selalu ditetapkan pada saat
kelahiranya, dan juga peraan yang secara tradisional ditetapkan oleh
masyarakat. Transgender merupakan pernyataan identitas gender
seseorang. Transgender tidak menyatakan secara langsung berbagai bentuk
spesifik dari orientasi seksual. Ia merupakan suatu terminologi payung
yang sering digunakan untuk menjelaskan suatu tingkatan yang luas
mengenai identitas dan pengalaman.
Transgender merupakan suatu bentuk prilaku baik oleh individu
maupun kelompok yang menggunakan atribut gender diluar dari yang
dikonsturksikan oleh masyarakat, yang dianggap menyimpang dari perang
gender (laki-laki atau perempuan), nilai, norma serta agama secara umum.
Namun tidak selalu ditetapkan pada saat kelahiran.Perlu digaris bawahi
bahwa transgender dan transeksual adalah permasalahan yang berbeda,
yang membedakan keduanya adalah transgender belum pasti merupakan
transeksual, karena orang yang mengubah sifat dan perilakunya
berbanding terbalik dengan kodratnya belum tentu mengubah jenis
kelaminnya. Misalnya: laki-laki yang tidak tegas dalam bertindak dan
berperilaku, mereka terkesan melambai, berbicara seperti perempuan, dan
menyukai hal-hal yang disukai oleh perempuan pada umumnya. Begitupun
sebaliknya dengan yang terjadi pada perempuan yang memiliki perilaku
menyimpang dari kodratnya, mengubah semua penampilan dan
perilakunya seperti lakilaki.Sedangkan transeksual sudah pasti dapat
dikatakan transgender. Karena transeksual merupakan perilaku mengubah
dirinya secara total termasuk jenis kelamin yang dimiliki, karena faktor

16
ketidaknyamanan akhirnya memutuskan untuk berganti jenis kelamin dan
mengubah perilakunya secara menyeluruh.
Transeksual dapat diakibatkan faktor bawaan (hormon dan gen)
dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan di antaranya pendidikan yang
salah pada masa kecil dengan membiarkan anak laki-laki berkembang
dalam tingkah laku perempuan, pada masa pubertas dengan homoseksual
yang kecewa dan trauma, trauma pergaulan seks dengan pacar, suami atau
istri. Perlu dibedakan penyebab transseksual kejiwaan dan bawaan. Pada
kasus transseksual karena keseimbangan hormon yang menyimpang
(bawaan), menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan
kecenderungan biologis jenis kelamin bisa dilakukan. Mereka yang
sebenarnya normal karena tidak memiliki kelainan genetikal maupun
hormonal dan memiliki kecenderungan berpenampilan lawan jenis hanya
untuk memperturutkan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah sesuatu yang
menyimpang dan tidak dibenarkan menurut syariat Islam.
Pada dasarnya Allah menciptakan manusia ini dalam dua jenis saja, yaitu
laki-laki dan perempuan, sebagaimana firman Allah swt:

Dan Dia (Allah) menciptakan dua pasang dari dua jenis laki-laki dan
perempuan. (Qs An Najm : 45)

Wahai manusia Kami menciptakan kamu yang terdiri dari laki-laki dan
perempuan. (Qs Al Hujurat : 13)
Kedua ayat di atas, dan ayat-ayat lainnya menunjukkan bahwa manusia di
dunia ini hanya terdiri dari dua jenis saja, laki-laki dan perempuan, dan
tidak ada jenis lainnya. Tetapi di dalam kenyataannya, kita dapatkan
seseorang tidak mempunyai status yang jelas, bukan laki-laki dan bukan
perempuan.

17
Hukum Operasi Kelamin
Dalam dunia kedokteran dikenal tiga bentuk operasi kelamin, masing-
masing mempunyai hukum tersendiri dalam fikih:
Pertama: Masalah seseorang yang lahir dalam kondisi normal dan
sempurna organ kelaminnya yaitu penis (dzakar) bagi laki-laki dan vagina
(farj) bagi perempuan yang dilengkapi dengan rahim dan ovarium tidak
dibolehkan dan diharamkan oleh syariat Islam untuk melakukan operasi
kelamin. Para ulama fiqih mendasarkan ketetapan hukum tersebut pada
dalil-dalil yaitu: (1) firman Allah Swt dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang
menurut kitab Tafsir Ath-Thabari mengajarkan prinsip equality (keadilan)
bagi segenap manusia di hadapan Allah dan hukum yang masing-masing
telah ditentukan jenis kelaminnya dan ketentuan Allah ini tidak boleh
diubah dan seseorang harus menjalani hidupnya sesuai kodratnya; (2)
firman Allah Swt dalam surat an-Nisa ayat 119. Menurut kitab-kitab tafsir
seperti Tafsir Ath-Thabari, Al-Shawi, Al-Khazin (I/405), Al-Baidhawi
(II/117), Zubat al-Tafsir (hal.123) dan al-Qurthubi (III/1963) disebutkan
beberapa perbuatan manusia yang diharamkan karena termasuk
mengubah ciptaan Tuhan sebagaimana dimaksud ayat di atas yaitu
seperti mengebiri manusia, homoseksual, lesbian, menyambung rambut
dengan sopak, pangur dan sanggul, membuat tato, mengerok bulu alis dan
takhannus (seorang pria berpakaian dan bertingkah laku seperti wanita
layaknya waria dan sebaliknya); (3) Hadits Nabi saw.: Allah mengutuk
para tukang tato, yang meminta ditato, yang menghilangkan alis, dan
orang-orang yang memotong (pangur) giginya, yang semuanya itu untuk
kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah. (HR. Al-Bukhari); (4) Hadits
Nabi saw.: Allah mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita
yang menyerupai laki-laki. (HR. Ahmad). Oleh karena itu kasus ini
sebenarnya berakar dari kondisi kesehatan mental yang penanganannya
bukan dengan merubah ciptaan Allah melainkan melalui pendekatan
spiritual dan kejiwaan (spiritual and psychological therapy).

18
Kedua: Operasi kelamin yang bersifat tashih atau takmil (perbaikan atau
penyempurnaan) dan bukan penggantian jenis kelamin menurut para ulama
diperbolehkan secara hukum syariat. Jika kelamin seseorang tidak
memiliki lubang yang berfungsi untuk mengeluarkan air seni dan mani
baik penis maupun vagina, maka operasi untuk memperbaiki atau
menyempurnakannya dibolehkan bahkan dianjurkan sehingga menjadi
kelamin yang normal karena kelainan seperti ini merupakan suatu penyakit
yang harus diobati. Para ulama seperti Hasanain Muhammad Makhluf
(tokoh ulama Mesir) dalam bukunya Shafwatul Bayan (1987:131)
memberikan argumentasi hal tersebut bahwa orang yang lahir dengan alat
kelamin tidak normal bisa mengalami kelainan psikis dan sosial sehingga
dapat tersisih dan mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat normal
serta kadang mencari jalannya sendiri, seperti melacurkan diri menjadi
waria atau melakukan homoseks dan lesbianisme. Semua perbuatan ini
dikutuk oleh Islam berdasarkan hadits Nabi saw.: Allah dan rasulnya
mengutuk kaum homoseksual (HR.al-Bukhari) Guna menghindari hal ini,
operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin boleh dilakukan
berdasarkan prinsip Mashalih Mursalah karena kaidah fiqih menyatakan
Adh-Dhararu Yuzal (Bahaya harus dihilangkan) yang menurut Imam
Asy-Syathibi menghindari dan menghilangkan bahaya termasuk suatu
kemaslahatan yang dianjurkan syariat Islam. Hal ini sejalan dengan hadits
Nabi saw.: Berobatlah wahai hamba-hamba Allah! Karena sesungguhnya
Allah tidak mengadakan penyakit kecuali mengadakan pula obatnya,
kecuali satu penyakit, yaitu penyakit ketuaan. (HR. Ahmad)
Ketiga : Apabila seseorang mempunyai alat kelamin ganda, yaitu
mempunyai penis dan juga vagina, maka untuk memperjelas dan
memfungsikan secara optimal dan definitif salah satu alat kelaminnya, ia
boleh melakukan operasi untuk mematikan dan menghilangkan salah satu
alat kelaminnya. Misalnya, jika seseorang memiliki penis dan vagina,
sedangkan pada bagian dalam tubuh dan kelaminnya memiliki rahim dan

19
ovarium yang menjadi ciri khas dan spesifikasi utama jenis kelamin
wanita, maka ia boleh mengoperasi penisnya untuk memfungsikan
vaginanya dan dengan demikian mempertegas identitasnya sebagai wanita.
Hal ini dianjurkan syariat karena keberadaan penis (dzakar) yang berbeda
dengan keadaan bagian dalamnya bisa mengganggu dan merugikan dirinya
sendiri baik dari segi hukum agama karena hak dan kewajibannya sulit
ditentukan apakah dikategorikan perempuan atau laki-laki maupun dari
segi kehidupan sosialnya.
Untuk menghilangkan mudharat (bahaya) dan mafsadat
(kerusakan) tersebut, menurut Makhluf dan Syalthut, syariat Islam
membolehkan dan bahkan menganjurkan untuk membuang penis yang
berlawanan dengan dalam alat kelaminnya. Oleh sebab itu, operasi
kelamin yang dilakukan dalam hal ini harus sejalan dengan bagian dalam
alat kelaminnya. Apabila seseorang memiliki penis dan vagina, sedangkan
pada bagian dalamnya ada rahim dan ovarium, maka ia tidak boleh
menutup lubang vaginanya untuk memfungsikan penisnya. Demikian pula
sebaliknya, apabila seseorang memiliki penis dan vagina, sedangkan pada
bagian dalam kelaminnya sesuai dengan fungsi penis, maka ia boleh
mengoperasi dan menutup lubang vaginanya sehingga penisnya berfungsi
sempurna dan identitasnya sebagai laki-laki menjadi jelas. Ia dilarang
membuang penisnya agar memiliki vagina sebagai wanita, sedangkan di
bagian dalam kelaminnya tidak terdapat rahim dan ovarium. Hal ini
dilarang karena operasi kelamin yang berbeda dengan kondisi bagian
dalam kelaminnya berarti melakukan pelanggaran syariat dengan
mengubah ciptaan Allah SWT; dan ini bertentangan dengan firman Allah
bahwa tidak ada perubahan pada fitrah Allah (QS.Ar-Rum:30).
Dibolehkannya operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin,
sesuai dengan keadaan anatomi bagian dalam kelamin orang yang
mempunyai kelainan kelamin atau kelamin ganda. Peranan dokter dan para
medis dalam operasi penggantian kelamin ini dalam status hukumnya

20
sesuai dengan kondisi alat kelamin yang dioperasinya. Jika haram maka ia
ikut berdosa karena termasuk bertolong-menolong dalam dosa dan bila
yang dioperasi kelaminnya adalah sesuai syariat Islam dan bahkan
dianjurkan maka ia mendapat pahala dan terpuji karena termasuk anjuran
bekerja sama dalam ketakwaan dan kebajikan.(QS.Al-Maidah:2)
Adapun konsekuensi hukum penggantian kelamin adalah sebagai
berikut:
Apabila penggantian kelamin dilakukan oleh seseorang dengan tujuan
tabdil dan taghyir (mengubah-ubah ciptaan Allah), maka identitasnya sama
dengan sebelum operasi dan tidak berubah dari segi hukum. Menurut
Mahmud Syaltut, dari segi waris seorang wanita yang melakukan operasi
penggantian kelamin menjadi pria tidak akan menerima bagian warisan
pria (dua kali bagian wanita) demikian juga sebaliknya.
Sementara operasi kelamin yang dilakukan pada seorang yang mengalami
kelainan kelamin (misalnya berkelamin ganda) dengan tujuan tashih atau
takmil (perbaikan atau penyempurnaan) dan sesuai dengan hukum akan
membuat identitas dan status hukum orang tersebut menjadi jelas. Menurut
Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu bahwa jika
selama ini penentuan hukum waris bagi orang yang berkelamin ganda
(khuntsa) didasarkan atas indikasi atau kecenderungan sifat dan tingkah
lakunya, maka setelah perbaikan kelamin menjadi pria atau wanita, hak
waris dan status hukumnya menjadi lebih tegas. Dan menurutnya
perbaikan dan penyempurnaan alat kelamin bagi khuntsa musykil sangat
dianjurkan demi kejelasan status hukumnya.

21
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari Pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :

1. Masyarakat pada umumnya mengartikan gender sebagai perbedaan antara


kaum laki-laki dan perempuan yang merupakan pandangan tentang
bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku, namun Islam tidak
mengenal adanya gender karena dalam islam tidak adanya perbedaan
antara laki-laki maupun perempuan.
2. Laki-laki dan wanita yang pertama kali diciptakan menurut agama Islam
adalah Adam as dan Hawa. Al-Quran menyatakan proses penciptaan
manusia mempunyai dua tahapan yang berbeda yaitu primodial, dan
secara biologi.
3. Islam mengatur tentang kesetaraan gender, bahwa Allah SWT telah
menciptakan manusia yaitu laki-laki dan perempuan dalam bentuk yang
terbaik dengan kedudukan yang paling terhormat.
4. Trans-gender merupakan perilaku menyimpang baik dari segi nilai, norma,
serta agama, karena telah mengubah kodratnya sebagai laki-laki ataupun
perempuan.

Saran :

1. Dalam pembahasan diatas sudah jelas dikatakan bahwa dalam Islam tidak
ada perbedaaan derajat antara laki-laki dan perempuan, sehingga
diharapkan pada para pembaca agar tidak lagi membedakan derajat antara
laki-laki dan perempuan.
2. Masalah trans-gender di Indonesia mulai menyebar di Indonesia karena
perkembangan zaman dan teknologi. Indonesia merupakan negara yang
mempunyai penduduk muslim terbanyak di dunia, sehingga diharapkan
agar para pembaca tidak mengikuti perilaku yang menyimpang tersebut

22
karena dalam Islam dikatakan bahwa mengubah kodratnya dari perempuan
ke laki-laki atau sebaliknya adalah perilaku yang haram yang dibenci oleh
Allah SWT.
3. Kita sebagai umat Islam diajarkan untuk menghargai sesama, sehingga
diharapkan bahwa budaya mengejek atau tidak menghargai tentang prinsip
dan kepercayaan seseorang yang tidak sejalah dengan kita itu mulai
dihilangkan. Lebih baik memberikan nasehat kepada yang telah melanggar
agar diberikan ampunan oleh Allah SWT dan agar segera bertaubat.

DAFTAR PUSTAKA

Fethullah Gulen, Muhammad. 2011. Islam Rahmatan lilalamin. Jakarta:


Republika Penerbit

Nasarudin, Umar. 1999. Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur'an.


Jakarta: Paramadina.

Nurdelia. 2016. Transgender Dalam Persepsi Masyarakat. Makassar: FKIP


Unismuh Makassar.

Wibisono, Yusuf. Konsep Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Islam. Ngawi:


STAI Ngawi.

Zuhrah, Fatimah. Konsep Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Islam. Medan:


UIN Sumatera Utara.

https://politikislam123.wordpress.com/2010/11/04/transgender-operasi-kelamin-
dalam-pandangan-islam/ (diakses 14 April 2017 pukul: 13:00 WIB)

23