Anda di halaman 1dari 14

RANGKUMAN MATERI KULIAH (RMK)

MONEY LAUNDERING AND TRANSNATIONAL FINANCIAL FLOW


AND FOLLOW THE MONEY
Untuk Memenuhi Salah Satu Penugasan
dalam Mata Kuliah Akuntansi Forensik dan Audit Infestigasi
yang Diampu oleh Halim Dedy Perdana, SE, M.Si., Ak., CA.

Oleh Kelompok 6

Fery Perdiansyah NIM F1315128


Mira Eka Irianti NIM F1315131

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2017
MONEY LAUNDERING AND TRANSNATIONAL FINANCIAL FLOW

A. Praktik Pencucian Uang Sejarah dan Perkembangan


Problematika pencucian uang sudah meminta perhatian dunia internasional
karena dimensi dan implikasinya yang melanggar batas-batas negara. Al Capone,
penjahat terbesar di Amerika masa lalu, mencuci uang hitam dan usaha
kejahatannya dengan memakai si genius Meyer Lansky, seorang Polandia. Lansky
seorang akuntan, mencuci uang kejahatan Al Capone melalui usaha binatu
(Laundry). Demikianlah asal muasal muncul nama Money Laundering.
Istilah pencucian uang atau money laundering telah dikenal sejak tahun 1930 di
Amerika Serikat, yaitu ketika mafia membeli perusahaan yang sah dan resmi
sebagai salah satu strateginya. Investasi terbesar adalah perusahaan pencucian
pakaian atau disebut Laimdromat yang ketika itu terkenal di Amerika Serikat. Usaha
pencucian itu berkembang maju, dan berbagai perolehan uang hasil kejahatan
seperti dari cabang usaha lainnya ditanamkan ke usaha pencucian pakaian ini,
seperti uang hasil minuman keras illegal, hasil perjudian, dan hasil usaha pelacuran.
Money Laundering dapat diistilahkan dengan pencucian uang atau pemutihan
uang, pendulangan uang atau disebut juga dengan pembersihan uang dari hasil
transaksi gelap (kotor). Money Laundering merupakan salah satu aspek perbuatan
kriminal. Dikatakan demikian karena sifat kriminalitas money laundering ialah
berkaitan dengan latar belakang dari perolehan sejumlah uang yang sifatnya gelap,
haram atau kotor, lalu sejumlah uang kotor ini dikelola dengan aktivitas-aktivitas
tertentu dengan membentuk usaha, mentransfer atau mengkonversikannya ke bank
atau valuta asing sebagai langkah untuk menghilangkan latar belakang dari dana
kotor tersebut.
Dalam perkembangannya, tindak pidana pencucian uang semakin kompleks,
melintasi batas-batas yurisdiksi, dan menggunakan modus yang semakin variatif,
memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan, bahkan telah merambah ke
berbagai sektor. Untuk mengantisipasi hal itu, Financial Action Task Force (FATF) on
Money Laundering telah mengeluarkan standar internasional yang menjadi ukuran
bagi setiap negara/ yurisdiksi dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme yang dikenal dengan
Revised 40 Recomendation dan 9 Special Recomendations (Revised 40+9) FATF,
antara lain mengenai perluasan Pihak Pelapor (Reporting Parties) yang mencakup

1
pedagang permata dan perhiasan logam mulia dan pedagang kendaraan bermotor.
Dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang perlu dilakukan
kerja sama regional dan internasional melalui forum bilateral atau multilateral agar
intensitas tindak pidana yang menghasilkan atau melibatkan harta kekayaan yang
jumlahnya besar dapat diminimalisasi.

B. Definisi Pencucian Uang


Istilah pencucian uang berasal dari bahasa Inggris, yakni money laundering,
memang tidak ada definisi yang universal, karena baik negara-negara maju maupun
negara-negara dunia ketiga masing-masing mempunyai definisi sendiri-sendiri
berdasarkan prioritas dan perspektif yang berbeda. Namun para ahli hukum di
Indonesia sepakat mengartikan money laundering dengan pencucian uang.
Harkristuti Harkrisnowo, sebagai salah satu ahli hukum pidana, memandang
pencucian uang sebagai suatu kejahatan yang berupaya menyembunyikan asal-usul
uang sehingga dapat digunakan sebagai uang yang diperoleh secara legal. Tindak
pidana pencucian uang merupakan suatu kejahatan kerah putih (white collar crime)
di bidang perbankan, bahwa kejahatan ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki
pendidikan dan tingkat sosial serta perekonomian yang tinggi. Dalam ketentuan
mengenai pencucian uang antara hasil tindak pidana (proceed of crime) dengan
tindak pidana asal (predicate crimes) dijadikan satu ketentuan karena memang
terkait sangat erat.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (PP-TPPU) disebutkan bahwa
pencucian uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana
sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang tersebut. Dalam pengertian ini,
unsur-unsur yang dimaksud adalah unsur pelaku, unsur perbuatan melawan hukum
serta unsur merupakan hasil tindak pidana.
Dalam UU PP-TPPU pengertian tindak pidana pencucian uang diatur dalam
Pasal 3 sampai Pasal 6. Pasal 3 menyebutkan, bahwa setiap orang yang
menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan,
menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk,
menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan
atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dipidana karena tindak pidana

2
Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan
denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Sementara itu Pasal 4 Undang-undang yang sama mengatur, bahwa setiap
orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi,
peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana
Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan
denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Pasal 5 UU PP-TPPU mengatur bahwa: setiap orang yang menerima atau
menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan,
penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan
kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang PP-TPPU.
Di dalam Pasal 6 UU PP-TPPU disebutkan Dalam hal tindak pidana Pencucian
Uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 dilakukan oleh
Korporasi, pidana dijatuhkan terhadap Korporasi dan atau Personil Pengendali
Korporasi. Pidana dijatuhkan terhadap Korporasi apabila tindak pidana Pencucian
Uang:
1. dilakukan atau diperintahkan oleh Personil Pengendali Korporasi;
2. dilakukan dalam rangka pemenuhan maksud dan tujuan Korporasi;
3. dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi pelaku atau pemberi perintah; dan
4. dilakukan dengan maksud memberikan manfaat bagi Korporasi.
Dalam Undang-Undang PP-TPPU, pencucian uang dibedakan dalam dua tindak
pidana yaitu:
1. Tindak pidana pencucian uang aktif, yaitu setiap orang yang menempatkan,
mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan,
menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan
uang-uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan
yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
2. Tindak pidana pencucian uang pasif yang dikenakan kepada setiap orang
yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran,
hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta

3
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana
Kemudian diatur lebih lanjut dalam Pasal 17(1) Undang-Undang PP-TPPU,
transaksi keuangan mencurigakan adalah:
1. Transaksi keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau
kebiasaan pola transaksi dari pengguna jasa yang bersangkutan;
2. Transaksi keuangan oleh pengguna jasa yang patut diduga dilakukan dengan
tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib
dilakukan oleh pihak pelapor sesuai dengan ketentuan undang-undang ini;
3. Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan
menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dan hasil tindak pidana;
atau
4. Transaksi keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh pihak
pelapor karena melibatkan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil
tindak pidana.

C. Tahapan dalam Praktik Pencucian Uang


Secara sederhana, proses pencucian uang dapat dikelompokkan pada tiga
kegiatan, yakni placement, layering dan integration.
1. Placement merupakan fase menempatkan uang yang dihasilkan dari suatu
aktivitas kejahatan misalnya dengan pemecahan sejumlah besar uang tunai
menjadi jumlah kecil yang tidak mencolok untuk ditempatkan dalam sistem
keuangan baik dengan menggunakan rekening simpanan bank, atau
dipergunakan untuk membeli sejumlah instrumen keuangan (cheques, money
orders) yang akan ditagihkan dan selanjutnya didepositokan di rekening bank
yang berada di lokasi lain.
2. Layering, diartikan sebagai memisahkan hasil tindak pidana dari sumbernya
yaitu aktivitas kejahatan yang terkait melalui beberapa tahapan transaksi
keuangan.
3. Integration, yaitu upaya untuk menetapkan suatu landasan sebagai suatu
legitimate explanation bagi hasil kejahatan. Disini uang yang dicuci melalui
placement maupun layering dialihkan ke dalam kegiatan-kegiatan resmi
sehingga tampak tidak berhubungan sama sekali dengan aktivitas kejahatan
sebelumnya yang menjadi sumber dan uang yang di-laundry.

D. Modus Operandi Dalam Pencucian Uang


1. Metode Konvensional

4
a) Penyelundupan Uang
Penyelundupan uang adalah suatu metode dimana para pelaku pencucian
uang melakukan suatu transfer pendapatan yang ilegal secara rahasia ke
sebuah negara atau teritori. Transfer di sini dilakukan secara tunai bukan
secara elektronik.
b) Melalui institusi keuangan
Metode ini adalah dengan menggunakan institusi keuangan seperti bank
untuk membantu melakukan pencucian uang terutama dalam hal
memindahkan uang hasil kejahatan ke negara atau daerah lain. Beragam
fasilitas yang diberikan oleh institusi keuangan seperti pembukaan
rekening, kredit, penukaran mata uang, dan transfer uang telah membuat
para pelaku pencucian uang menggunakan institusi ini sebagai alat untuk
mencuci uangnya. Adanya ekonomi global dan pasar modal yang
terintegrasi juga membuat para pelaku pencucian uang dapat melakukan
transfer antar negara dengan lebih aman dan mudah. Metode ini semakin
popular mengingat adanya prinsip kerahasiaan bank, sehingga identitas
mereka aman dari penyelidikan.
c) Melalui institusi non-keuangan
Metode yang paling umum dilakukan dibidang ini adalah dengan membeli
berbagai barang berharga dan property atau dengan melakukan kegiatan
bisnis seperti restoran, hotel dan toko. Metode ini juga sudah mulai susah
dilakukan karena selain berbagai rekomendasi di bidang keuangan, FATF
dan berbagai konvensi internasional juga telah membuat rekomendasi
amiti money laundering di bidang non-keuangan. The 2001 EC Directive
misalnya mensyaratkan tanggung jawab anti pencucian uang tidak hanya
kepada institusi keuangan tetapi juga institusi non keuangan, pribadi atau
entity seperti auditor, akuntan dan konsultan eksternal, agen property,
notaries, dan legal profesi lainnya, serta dealer barang-barang berharga.
Selain itu, perbaikan dari 40 Rekomendasi FATF juga telah mewajibkan
perusahaan financial maupun profesi untuk memenuhi kewajiban anti
pencucian uang.
2. Metode Baru (Pencucian Uang Dengan Menggunakan Teknologi)
a) Menggunakan Electronic Money (Uang Elektronik)
Menurut Bank For International Settlement, Electronic Money (E-Money)
adalah nilai yang tersimpan atau produk prepaid dimana catatan dari
dana atau nilai milik konsumen tersimpan dalam sebuah alat elektronik

5
milik konsumen. E-money mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan
dengan uang tradisional yaitu:
1) E-Money menggunakan sebuah kartu atau alat yang dapat menyimpan
dana dalam jumlah sangat besar, sehingga tidak memerlukan tempat
atau Container yang besar untuk membawanya.
2) E-Money mudah untuk ditransfer kapan saja dan dimana saja dengan
bantuan internet.
3) E-Money lebih sulit dilacak karena tidak memiliki nomor seri seperti
uang tradisional.
Dengan adanya ketiga kelebihan tersebut membuat para pelaku yang
biasa melakukan penyelundupan uang berpindah dengan fasilitas ini.
Mereka dapat melakukan pencucian sejumlah uang kemana saja dan
kapan saja, karena E-Money tidak membutuhkan intermediary untuk
memindahkannya.
b) Internet Bank
Internet Bank (I-Bank) adalah bank virtual yang menawarkan berbagai
fasilitas layaknya bank biasa dimana saja dan kapan saja melalui Internet.
Beberapa fasilitas yang ditawarkan antara lain pembayaran langsung,
transfer e-money, pengeluaran cek, pembelian surat berharga serta
pembukaan dan penutupan rekening.
Ada beberapa keunggulan dari I-Bank sebagai alat untuk melakukan
pencucian uang, yaitu:
1) Sangat mudah diakses kapan saja dan dimana saja.
2) Tidak perlu kontak langsung antara konsumen dengan I-Bank.
3) I-Bank menyediakan fasilitas keuangan Internasional, dan setiap
transaksi dilakukan dengan nyaman dan aman.
c) Internet Casino (Internet Gambling)
Saat ini banyak sekali situs casino yang didirikan di kepulauan Karibia.
Kebanyakan situs ini sama sekali tidak diatur atau diawasi oleh
pemerintah. Bahkan beberapa diantaranya tidak meminta identifikasi
konsumen. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku pencucian
uang karena semenjak timbulnya gerakan Anti Money Laundering di
dunia, mereka tidak bisa lagi mencuci uangnya di tradisional casino
karena tradisional casino sudah menerapkan prinsip-prinsip anti
pencucian uang.
d) Modus Lainnya

6
Terdapat beberapa modus operandi kejahatan pencucian uang menurut
A.S Mahmoedm dalam bukunya Analisis Kejahatan Perbankan, yang
umumnya dilakukan melalui cara-cara antara lain:
1) Melalui kerja sama modal
Uang hasil kejahatan secara tunai dibawa ke luar negeri. Uang
tersebut masuk kembali dalam bentuk kerja sama modal (joint venture
project). Keuntungan investasi tersebut diinvestasikan lagi dalam
berbagai usaha lain. Keuntungan usaha lain ini dinikmati sebagai uang
yang sudah bersih, karena tampaknya diolah secara legal, bahkan
sudah dikenakan pajak.
2) Melalui agunan kredit
Uang tunai diselundupkan ke luar negeri, lalu disimpan di bank negara
tertentu yang prosedur perbankannya terlalu lunak. Dari bank tersebut
ditransfer ke bank Swiss dalam bentuk deposito. Kemudian dilakukan
peminjaman ke suatu bank di Eropa dengan jaminan deposito tersebut.
Uang hasil kejahatan ditanamkan kembali ke negara asal uang haram
tadi.
3) Melalui perjalanan luar negeri
Uang tunai ditransfer ke luar negeri melalui bank asing yang ada
dinegaranya. Lalu uang tersebut dicairkan kembali dan dibawa kembali
ke negara asalnya oleh orang tertentu, seolah-olah uang tersebut
berasal dan luar negeri.
4) Melalui penyamaran usaha dalam negeri
Dengan uang tersebut didirikanlah pemisahaan samaran, tidak
dipermasalahkan apakah uang tersebut berhasil atau tidak, namun
kesannya usaha tersebut telah menghasilkan uang 'bersih.
5) Melalui penyamaran perjudian
Dengan uang tersebut didirikanlah usaha perjudian. Tidak menjadi
masalah apakah menang atau kalah, namun akan dibuat kesan
menang, sehingga ada alasan asal usul uang tersebut. Seandainya di
Indonesia masih ada SDSB, Nalo, Lotre, dan lain-lain yang sejenisnya,
kepada pemilik uang haram dapat ditawarkan nomor yang menang
dengan harga yang lebih mahal, sehingga uang tersebut memberikan
kesan kepada yang bersangkutan sebagai hasil kemenangan kegiatan
perjudian tersebut.
6) Melalui penyamaran dokumen
Uang tersebut secara fisik tidak kemana-mana, namun keberadaannya
didukung oleh berbagai dokumen palsu atau dokumen yang diada-

7
adakan, seperti membuat double invoice dalam jual beli dan ekspor
impor, agar terkesan uang itu sebagai hasil kegiatan luar negeri.
7) Melalui pinjaman luar negeri
Uang tunai dibawa keluar negeri dengan berbagai cara, lalu uang
tersebut dimasukkan kembali sebagai pinjaman luar negeri. Hal ini
seakan-akan memberikan kesan bahwa pelaku memperoleh bantuan
kredit dari luar negeri.
8) Melalui rekayasa pinjaman luar negeri
Uang secara fisik tidak kemana-mana, namun kemudian dibuat suatu
dokumen seakan-akan ada bantuan atau pinjaman dari luar negeri.
Jadi pada kasus ini sama sekali tidak ada pihak pemberi pinjaman.
Yang ada hanya dokumen pinjaman, yang kemungkinan besar adalah
dokumen palsu.

Meskipun praktik pencucian uang merupakan suatu fenomena global dan


penanganannya melalui proses kerja sama internasional, namun pelaku pencucian
uang masih selalu saja menemukan cara dan sarananya untuk tumbuh dan
berkembang terus menerus. Cara dan teknik yang digunakan dalam praktik
pencucian uang sangat bervariasi, yang antara lain diterapkan oleh pelaku
pencucian uang pada sektor perbankan dan non perbankan dengan memanfaatkan
fasilitator profesional, pendirian perusahaan gadungan, investasi di bidang real
estate, pembelian produk asuransi dan perusahaan sekuritas, serta penyalahgunaan
corporate vehicle.
Begitupun, secara umum ada tiga metode pencucian uang yang bertujuan untuk
manipulasi dan mengubah status dana ilegal (hasil kejahatan) menjadi dana legal.
1. Pertama, Buy and sell yang dilakukan melalui transaksi jual-beli barang dan
jasa.
2. Kedua, offshore conversions dimana dana ilegal dialihkan ke wilayah tax
haven country dan kemudian disimpan di bank atau lembaga keuangan lain
yang ada di wilayah tersebut. Selanjutnya dana ilegal tersebut digunakan
antara lain untuk membeli asset dan investasi (fund investments).
3. Ketiga, legitimate business conversion yang digunakan melalui bisnis atau
kegiatan usaha yang sah sebagai sarana untuk memindahkan dan
memanfaatkan dana ilegal. Dana-dana hasil kejahatan dikonversikan melalui
transfer, cek, atau instrumen pembayaran lainnya, yang kemudian disimpan di
rekening bank, atau ditransfer kembali ke rekening bank lain.

8
Pada era globalisasi ekonomi seperti sekarang ini, yang ditandai dengan
terintegrasinya sistem perdagangan dunia sebagai salah satu implikasi dan
kemajuan di bidang teknologi informasi yang begitu pesat khususnya di sektor
keuangan, sehingga memungkinkan pengguna jasa keuangan" untuk melakukan
transaksi keuangan dengan mudah dan cepat melampaui batas-batas yurisdiksi
suatu negara. Kemudahan dan kecepatan dalam melakukan transaksi keuangan
tersebut telah dimanfaatkan oleh para pencuci uang (money launderers) untuk
menyembunyikan atau menyamarkan harta kekayaan yang mereka peroleh dan
hasil tindak pidana misalnya dengan cara memasukkan dana-dana ilegal tersebut ke
dalam bisnis legal melalui international banking system atau melalui jaringan bisnis
di internet sehingga asal-usulnya menjadi sulit dilacak oleh penegak hukum.
Terkait perbankan, perbankan merupakan suatu bentuk usaha yang memiliki
keleluasaan dalam menghimpun dan menyalurkan dana sehingga sangat strategis
untuk digunakan sebagai sarana pencucian uang, baik melalui placement, layering,
maupun integration. Selain itu transfer dana secara elektronik juga dapat
dimanfaatkan oleh pencuci uang untuk mengalihkan dana secara cepat dan relatif
murah serta aman ke rekening pihak lain, baik di dalam maupun di luar negeri.
Perbankan juga sangat rentan bagi tindak pidana yang terorganisasi sehingga
sangat strategis untuk dimanfaatkan. Tindak pidana yang terorganisasi biasanya
bersembunyi dibalik suatu perusahaan atau nama lain (nominees) dengan
melakukan perdagangan internasional palsu dan berskala besar dengan maksud
untuk memindahkan uang yang tidak sah dari suatu negara ke negara lain.
Perusahaan yang digunakan untuk menyembunyikan kegiatan tindak pidana
tersebut biasanya meminta kredit pembiayaan dan bank untuk menyamarkan
aktivitas pencucian uang. Modus operandi lainnya antara lain dengan menggunakan
faktur (invoice) palsu yang di-mark-up atau L/C palsu sebagai upaya untuk
menyulitkan pengusutan dikemudian hari.

E. Akibat yang ditimbulkan dari Praktik Pencucian Uang


Menurut pemerintah Kanada dalam sebuah kertas kerja berjudul Electronic
Money Laundering: an Environtment Scan yang dikeluarkan oleh Department of
Justice Kanada pada Oktober 1998, ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan
oleh kegiatan money laundering terhadap masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi
yang dapat ditimbulkan berupa:

9
1. Money laundering memungkinkan para penjual dan pengedar narkoba, para
penyelundup, dan para penjahat lainnya untuk dapat memperluas kegiatan
operasinya.
2. Kegiatan money laundering mempunyai potensi untuk merongrong
masyarakat keuangan (financial community) sebagai akibat demikian
besarnya jumlah uang yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
3. Pencucian uang mengurangi pendapatan pemerintah dari pajak dan secara
tidak langsung merugikan para pembayar pajak yang jujur dan mengurangi
kesempatan kerja yang sah.
4. Mudahnya uang masuk ke Kanada telah menarik unsur yang tidak diinginkan
melalui perbatasan, menurunkan tingkat kualitas hidup, dan meningkatkan
kekhawatiran terhadap keamanan nasional.

10
FOLLOW THE MONEY

Follow the money secara harfiah berarti mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan
dalam suatu arus uang atau arus dana. Jejak-jejak ini akan membawa penyidik atau
akuntan forensik ke arah pelaku fraud.
Follow the money dilandasi oleh gagasan yang sangat sederhana yaitu pertama
kita akan melihat naluri penjahat. Tanpa disadari, nalurinya ini akan meninggalkan
jejak-jejak berupa gambaran mengenai arus uang. Jejak-jejak uang atau
money trails inilah yang dipetakan oleh penyidik. Ketentuan perundang-undangan
mengenai tindak pidana pencucian uang mengingatkan kita bahwa bukan kejahatan
utamanya saja yang merupakan tindak pidana, tetapi juga pencucian uangnya
adalah tindak pidana. Teknologi informasi merupakan faktor yang sangat
menentukan dalam teknik follow the money.
Uang sangat cair (likuid), mudah mengalir. Itulah sebabnya follow the money
mempunyai banyak peluang untuk digunakan dalam investigasi. Namun, mata uang
kejahatan atau currency of crime bukanlah uang semata-mata. Mengetahui
currency of crime akan membuka peluang baru untuk menerapkan teknik
follow the money.

A. Naluri Penjahat
Dalam kasus kejahatan, pelaku berupaya seolah-olah tidak terlibat seperti
dengan cara memberikan alibi (keterangan bahwa ia tidak ada di tempat terjadinya
kejahatan ketika kejahatan itu berlangsung) atau menggunakan identitas palsu.
Dalam kejahatan kerah putih (white-collar crime) pelaku menggunakan identitas
orang lain seperti identitas karyawan, sopir, dll yang terlihat dalam dokumen
perjanjian yang nantinya akan digunakan oleh penyidik sebagai bukti surat atau
identitas pelaku tidak tampak. Bila identitas terlanjur muncul maka ia akan
menghancurkan dokumen-dokumen tersebut.
Audit investigatif follow the money didasari oleh naluri pelaku fraud yang memiliki
motif untuk mendapatkan uang untuk dirinya, orang lain atau untuk organisasi
dengan memberikan kesan bahwa pelaku tidak terlibat. Dana akan mengalir secara
bertahap dan berjenjang tapi akhirnya akan berhenti di satu atau tempat
pemberhentian terakhir, yang akan menjadi petunjuk kuat pelaku fraud. Jadi dapat
disimpulkan, akuntansi forensik dalam teknik follow the money adalah mengikuti
jejak-jejak yang ditinggalkan oleh suatu aliran dana.

11
B. Kriminalisasi dari Pencucian Uang
Pencucian uang merupakan suatu tindakan untuk mendapatkan uang dari tindak
kejahatan yang kemudian memasukkan uang tersebut ke dalam sistem keuangan
dengan tujuan menyamarkan atau menyembunyikan asal-usul kekayaan tersebut.

C. Terorisme dan Pencucian Uang


Pengeboman di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton di Jakarta pada
tanggal 17 Juli 2009 dapat berlangsung karena ada dukungan dana yang cukup
memadai. Polisi menduga, beberapa orang dalam kelompok tersebut menjadi
semacam penghubung antara jaringan dan sumber dana, yang berada di
dalam maupun di luar negeri. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan
antara terorisme sebagai kejahatan utama atau tindak pidana asal (predicate
crime) dengan pencucian uang.

D. Kewajiban Melapor Bagi Penyelenggara Negara


Pencucian uang dalam hal terorisme disebut reverse money laundering atau
pencucian uang terbalik yaitu uang digunakan untuk membiayai tindak pidana
asalnya. Kewajiban melapor harta kekayaan bagi penyelenggara negara ditetapkan
dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Korupsi. Ketentuan KPK tersebut mendefinisikan Harta Kekayaan Penyelenggaraan
Negara sebagai harta benda yang dimiliki oleh penyelenggara negara beserta istri
dan anak yang masih menjadi tanggungan, baik berupa harta bergerak, harta tidak
bergerak, maupun hak-hak lainnya yang dapat dinilai dengan uang yang diperoleh
penyelenggara negara sebelum, selama dan setelah memangku jabatannya. Harta
kekayaan penyelenggara negara dilaporkan dalam Laporan Harta Kekayaan
Penyelenggara Negara disingkat (LHKPN). LHKPN adalah daftar seluruh Harta
Kekayaan Penyelenggara Negara, yang dituangkan dalam formulir yang ditetapkan
oleh KPK.

E. Follow The Money dan Data Mining

12
Teknik investigasi ini sebenarnya sangat sederhana. Kesulitannya adalah
datanya yang sangat banyak dalam hitungan terabytes. Kita tidak bisa mulai
dengan pelakunya, yang ingin kita lihat justru adanya pola-pola arus dana yang
menuju ke suatu tempat (yang memberi indikasi tentang pelaku atau otak
kejahatan).

F. Mata Uang Kejahatan (currency of crime)


Ciri dari penggunaan currency of crime yang bukan berupa uang adalah adanya
izin-izin atau lisesnsi untuk akses ke sumber-sumber daya alam yang umumnya
dialokasikan kepada keluarga dan kerabat sang diktator. Dalam hal itu currency
of crime-nya bisa berupa intan berlian, minyak bumi, pasir laut, kayu bundar (logs),
ganja, dan lain sebagainya.

13