Anda di halaman 1dari 14

KIMIA ANALISIS

KROMATOGRAFI KVC, KKT, KKG

KELOMPOK I

DIRSYAH DEDI NUGRAHA


NURWAHIDAH
HASNAWATI
ZUHRAH ADMINIRA RUSLAN
ASMAWATY ILYAS

PENDIDIKAN KIMIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kromatografi ialah cara pemisahan berdasarkan perbedaan kecepatan zat-zat terlarut
yang bergerak bersama-sama dengan pelarutnya pada permukaan suatu benda penyerap. Cara
ini umum dilakukan pada pemisahan zat-zat berwarna (bahasa Yunani: chromos = warna).
Cara ini telah ditemukan oleh TSWETT pada tahun 1903, ia menggunakannya untuk
pemisahan senyawa-senyawa berwarna dan nama kromatografi diambil dari senyawa
berwarna tersebut. Sekarang kromatografi tidak hanya untuk pemisahan senyawa berwarna
saja tetapi untuk senyawa yang tidak berwarna, termasuk gas (Kennedy, 1990).
Kromatografi merupakan salah satu metode pemisahan komponen-komponen
campuran dimana cuplikan berkesetimbangan di antara dua fasa, fasa gerak yang membawa
cuplikan dan fasa diam yang menahan cuplikan secara selektif. Bila fasa gerak berupa gas,
disebut kromatografi gas, dan sebaliknya kalau fasa gerak berupa zat cair, disebut
kromatografi cair (Hendayana, 1994).
Kromatografi digunakan untuk memisahkan campuran dari substansinya menjadi
komponen- komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip yang
sama. Seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan yang
didukung pada padatan) dan fase gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase
diam dan membawa komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Komponen-
komponen yang berbeda akan bergerak pada laju yang berbeda pula. Kita akan melihat
alasannya pada halaman selanjutnya.
Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fasa, yaitu fasa tetap
(stationary) dan fasa bergerak (mobile). Pemisahan tergantung dari gerakan kedua fasa ini.
Jika fasa tetap berupa zat padat dan fasa bergerak berupa zat cair maka cara tersebut dikenal
dengan kromatografi serapan (absorption chromatography). Jika fasa tetap berupa zat cair dan
fasa bergerak berupa zat cair makacara tersebut dikenal dengan kromatografi partisi (partition
chromatography). Semua pemisahan dengan kromatografi terdistribusi sendiri diantara fasa-
fasa bergerak dan dalam perbandingan yang berbeda. Kromatografi ada bermacam-macam
yaitu:
1. Kromatografi lapis tipis
2. Kromatografi penukar ion
3. Kromatografi gas padat
4. Kromatografi gas cair
5. Kromatografi kertas
6. Kromatografi kolom
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang Kromatografi Kolom yaitu Kolom
Vakum Cair (KVC), Kromatografi Kolom Tekan (KKT), dan Kromatografi Kolom Gravitasi
(KKG).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan, maka dapat dituliskan beberapa rumusan
masalah:
1. Bagaimana penjelasan mengenai Kromatografi Vakum Cair (KVC)?
2. Bagaimana penjelasan mengenai Kromatografi Kolom Tekan (KKT)?
3. Bagaimana penjelasan mengenai Kromatografi Kolom Gravitasi (KKG)?

C. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:
1. Menuliskan penjelasan mengenai Kromatografi Vakum Cair (KVC).
2. Menuliskan penjelasan mengenai Kromatografi Kolom Tekan (KKT)?
3. Menuliskan penjelasan mengenai Kromatografi Kolom Gravitasi (KKG)?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. KROMATOGRAFI VAKUM CAIR (KVC)
Kromatografi cair vakum merupakan salah satu kromatografi vakum khusus yang
biasanya menggunakan silika gel sebagai adsorben. Kelebihan KCV jika dibandingkan
dengan kromatografi kolom biasa terletak pada kecepatan proses (efisiensi waktu) karena
proses pengelusian dipercepat dengan memvakumkan kolom selain itu KCV juga dapat
memisahkan sampel dalam jumlah banyak. Pemilihan jenis silika gel yang tepat merupakan
faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil pemisahan yang baik. Ukuran partikel
silika gel yang terlalu kecil akan menyebabkan proses elusi berjalan sangat lambat.
(Peddersen, 2001).
Pemilihan sistem pelarut untuk kromatografi kolom vakum cair dapat dilakukan
dengan 3 pendekatan, yaitu: penelusuran pustaka, mencoba menerapkan data KLT pada
pemisahan dengan kolom, dan pemakaian elusi landaian umum dari pelarut non polar yang
tidak menggerakkan zat terlarut sampai pelarut polar yang menggerakkan zat terlarut
(Padmawinata, 1991).

Sistem elusi dapat dilakukan dengan metode gradien pelarut atau dengan sistem
isokratik. Elusi gradient (variasi kepolaran pelarut) dilakukan jika campuran senyawa cukup
komplek sedangkan elusi isokratik dilakukan jika campuran senyawa yang akan dipisahkan
sederhana. Sampel dilarutkan dalam pelarut yang sesuai atau sampel dibuat serbuk bersama
adsorben (impregnasi) dan dimasukkan ke bagian atas kolom kemudian dihisap perlahan-
lahan. Kolom selanjutnya dielusi dengan pelarut yang sesuai, dimulai dengan yang paling non
polar. Kolom dihisap sanpai kering pada setiap pengumpulan fraksi. Pada kromatografi cair
vakum, fraksi-fraksi yang ditampung biasanya bervolume jauh lebih besar dibandingkan
dengan fraksi-fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom biasa. Langkah pemisahan
menggunakan kromatografi cair vakum biasanya dilakukan pada tahap awal pemisahan
(pemisahan terhadap ekstrak kasar yang diperoleh langsung dari proses ekstraksi).
Kromatografi cair vakum (KCV) adalah salah satu metode yang dapat digunakan
untuk memisahkan (+)-katekin dari gambir dimana kepolaran fase gerak sangat menentukan
hasil pemisahan yang diperoleh. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk menilai
kepolaran suatu pelarut adalah konstanta dielektrik (). Semakin besar harga suatu pelarut,
maka semakin polar sifat pelarut tersebut (Buchari, 2003).

Kromatografi vakum cair merupakan salah satu jenis dari kromatografi kolom.
Kromatografi kolom merupakan suatu metode pemisahan campuran larutan dengan
perbandingan pelarut dan kerapatan dengan menggunakan bahan kolom. Kromatografi kolom
lazim digunakan untuk pemisahan dan pemurnian senyawa (Schill, 1978).
Kromatografi vakum cair dilakukan untuk memisahkan golongan senyawa metabolit
sekunder secara kasar dengan menggunakan silika gel sebagai absorben dan berbagai
perbandingan pelarut n-heksana : etil asetat : metanol (elusi gradien) dan menggunakan
pompa vakum untuk memudahkan penarikan eluen.
Adapun cara kerja kromatografi cair vakum yaitu kolom kromatografi dikemas kering
(biasanya dengan penjerap mutu KLT 10-40 m) dalam keadaan vakum agar diperoleh
kerapatan kemasan maksimum. Vakum dihentikan, pelarut yang kepolarannya rendah
dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi. Kolom dipisah sampai kering dan
sekarang siap dipakai (Hostettman, 1986).
Kromatografi vakum cair dapat dilakukan pada tekanan atmosfer atau pada tekanan
lebih besar dari atmosfer dengan menggunakan bantuan tekanan luar misalnya gas nitrogen.
Untuk keberhasilan praktikan di dalam bekerja dengan menggunakan kromatografi kolom
vakum cair, oleh karena itu syarat utama adalah mengetahui gambaran pemisahan cuplikan
pada kromatografi lapis tipis (Harris, 1982).
Pada kromatografi kolom, campuran yang akan dipisahkan diletakkan berupa pita
pada bagian atas kolom, penjerap yang berada dalam tabung kaca, tabung logam atau bahkan
tabung plastik. Pelarut (fase gerak) dibiarkan mengalir melalui kolom karena aliran yang
disebabkan oleh gaya berat atau didorong dengan tekanan. Pita senyawa linarut bergerak
melalui kolom dengan laju yang berbeda, memisah, dan dikumpulkan berupa fraksi ketika
keluar dari alas kolom. Metode ini mdrupakan contoh kromatografi elusi karena linarut
dielusi dari kolom (Sastrohamidjojo, 1985).
Kromatografi Cair Vakum (KCV) merupakan salah satu metode fraksinasi yaitu
dengan memisahkan crude extract menjadi fraksi-fraksinya yang lebih sederhana. Pemisahan
tersebut memanfaatkan kolom yang berisi fasa diam dan aliran fasa geraknya dibantu dengan
pompa vakum. Fasa diam yang digunakan dapat berupa silika gel atau alumunium oksida.
Fasa diam yang digunakan dikemas dalam kolom yang digunakan dalam KCV. Proses
penyiapan fasa diam dalam kolom terbagi menjadi dua macam, yaitu(Sarker dkk, 2006):
a. Cara Basah
Preparasi fasa diam dengan cara basah dilakukan dengan melarutkan fasa diam dalam
fase gerak yang akan digunakan. Campuran kemudian dimasukkan ke dalam kolom dan
dibuat merata. Fase gerak dibiarkan mengalir hingga terbentuk lapisan fase diam yang tetap
dan rata, kemudian aliran dihentikan.
b. Cara kering
Preparasi fasa diam dengan cara kering dilakukan dengan cara memasukkan fase diam
yang digunakan ke dalam kolom kromatografi. Fase diam tersebut selanjutnya dibasahi
dengan pelarut yang akan digunakan.
Preparasi sampel saat akan dielusi dengan KCV juga memiliki berbagai metode
seperti preparasi fasa diam. Metode tersebut yaitu cara basah dan cara kering (Canell, 1998).
Preparasi sampel cara basah dilakukan dengan melarutkan sampel dalam pelarut yang
akan digunakan sebagai fasa gerak dalam KCV. Larutan dimasukkan dalam kolom
kromatografi yang telah terisi fasa diam. Bagian atas dari sampel ditutupi kembali dengan
fasa diam yang sama. Sedangkan cara kering dilakukan dengan mencampurkan sampel
dengan sebagian kecil fase diam yang akan digunakan hingga terbentuk serbuk. Campuran
tersebut diletakkan dalam kolom yang telah terisi dengan fasa diam dan ditutup kembali
dengan fase diam yang sama (Sarker dkk, 2006).
Kolom dapat berupa kolom dengan adsorben grade-KLT normal atau fase terhisap
dengan adanya penurunan tekanan pada ruang labu penampung . Fraksi dikoleksi dan
ditampung sebagai alikoet eluen dengan satu sifat tingkat kepolaran. Aliokuot eluen
selanjutnya dapat dirancang untuk menghasilkan elusi gradient bertahap.
Pengemasan fase diam kromatografi kolom dapat dilakukan dengan beberapa carra
seperti dengan metode kering. Kelebihan metode ini agar diperoleh kerapatan kemasan fase
diam secara maksimal. Vakum dihentikan, pelarut yang kepolarannya rendah dituang
kepermukaan penjerap lalu vakumkan lagi dan siap dipakai. Cuplikan dilarutkan dalam
pelarut yang cocok , dimasukkan langsung pada bagaian atas kolom atau pada lapisan
penjerap dan dihisap perlahan-lahan kedalamkemasan dengan mengvakumkannnya. Kolom
dielusi dengan campuran pelarut yang cocok, kolom dihisap sampai kering pada setiap
pengumpulan fraksi ( Sudjadi,1986).

B. KROMATOGRAFI KOLOM TEKAN (KKT)


Kromatografi kolom tekan merupakan modifikasi dari kromatografi kolom gravitasi
dengan menambahkan tekanan udara dari atas kolom dan digunakan untuk isolasi. Prinsip
kromatografi kolom tekan yaitu pergerakan eluen dibantu dengan tekanan udara yang berasal
pompa udara. Kromatografi kolom tekan dilakukan sebagai lanjutan dari KCV dan dilakukan
dengan cara basah. Hasil dari KKT membentuk Kristal dan fraksi yang sama akan diuapkan
sebagaiman ururtan pelarutnya yaitu: heksan, kloroform, etil, aseton, dan methanol.
Pada kromatografi kolom tekan, senyawa biasanya terlebih dahulu diisolasi dengan
melakukan maserasi atau perendaman menggunakan pelarut seperti alkohol. Setelah proses
maserasi, sampel yang didapatkan kemudian difraksinasi menggunakan kromatografi kolom
tekan. Pada kromatografi kolom tekan fasa diam berupa silika gel 60 (230-400 mesh) untuk
pengisian kolom dan silika gel 60 (60-70 mesh) untuk diimpreg dengan sampel dengan
perbandingan (1:1). Perbandingan eluen fase gerak yang digunakan pada kromatografi kolom
tekan secara berturut-turut adalah n-heksana : etil asetat terlihat pada tabel berikut (Rahimah
dkk, 2013):

KKT adalah alat pemurnian yang paling sering digunakan setelah sintesis organik.
Prinsipnya adalah bahwa eluen, di bawah gas tekanan (biasanya nitrogen atau udara
terkompresi) dengan cepat mendorong melalui kolom gelas pendek dengan diameter besar.
Kolom kaca dikemas dengan adsorben berdasarkan ukuran partikel. Fase diam yang paling
sering digunakan adalah silika gel 40-63 ppm. Partikel yang lebih kecil dari 25 um hanya
boleh digunakan dengan fase pergerakan viskositas ponsel yang sangat rendah. Biasanya
tempat gel sekitar 15 cm dengan tekanan 1,5-2,0 bar (Chaudari dkk, 2012).
Salah satu teknik pemisahan dengan menggunakan KKT yaitu melakukan isolasi
minyak atsiri dengan langkah (Sayekti dkk, 2013):
1. Disiapkan kolom dengan tinggi 30 cm yang berdiameter 2 cm lalu dimasukkan silika gel
60 (230-600 mesh yang terlebih dahulu direndam toluene) dengan tinggi 20 cm.
2. Sebanyak 5 mL sampel yang telah dilarutkan dalam 3 mL toluen dimasukkan ke dalam
kolom yang telah diisi silika dan dielusi menggunakan komposisi eluen toluen : etil asetat
bergradien.
3. Setiap fraksi diuji dengan KLT dengan komposisi eluen lalu disemprot dengan
larutan vanilin sebagai penampak noda dan dipanaskan.
4. Setiap noda yang sama digabungkan dan dilakukan KLT kembali.
5. Setelah dua kali pemisahan melalui kolom tekan, isolat dengan noda utama (mayor) dan
terpisah dengan baik kemudian dianalisis menggunakan spektrofotometer IR
dan spektrofotometer GC-MS untuk diidentifikasi.
Beberapa adsorben yang digunakan dalam KKT yaitu (Chaudari dkk, 2012):
1. Silica merupakan adsorben medium yang bersifat sedikit asam. Silica digunakan untuk
senyawa biasa untuk mendapatkan hasil pemisahan yang baik.
2. Florisil merupakan adsorben yang lebih ringan menggunakan 200 mesh yang efektif
memudahkan proses pemisahan. Jika kurang dari 200 mesh, lebih baik digunakan
pemurnian dengan filtrasi.
3. Alumina merupakan adsorben ringan sampai medium. Sangat efektif untuk memudahkan
proses pemisahan dan pemurnian amina.
4. Silika fase balik merupakan senyawa yang mampu mengelusi paling cepat pada senyawa
polar dan paling lambat nonpolar.

C. KROMATOGRAFI KOLOM GRAVITASI (KKG)


Kromatografi kolom adalah suatu teknik pemurnian untuk mengisolasi komponen
yang diinginkan dai suatu campuran. Dalam kromatografi kolom, fase diam (adsorben padat)
ditempatkan secara vertikal dalam kolom gelas dan fase gerak (cairan) ditempatkan pada
bagian atas kolom dan begerak ke bawah melewati kolom (karena gravitasi atau tekanan
eksternal). Sampel yang akan dianalisis dimsukkan ke bagian atas kolom. Eluen ditambahkan
ke dalam kolom dan bergerak ke bawah melewtikolom. Keseimbangan terjadi antara
komponen yang teradsopsi pda adorben dengan pelarut yang terelusi mengalir melewati
kolom. (Basset, 1994).

Pada kromatografi kolom, campuran yang akan dipsahkan diletakkan berupa pita pada
bagian atas kolom penjerap yang berada dalam tabung kaca, tabung logam, atau bahkan
tabung plastik. Kolom kromatografi atau tabung untuk pengaliran karena gaya tarik bumi
(gravitasi) atau sistem bertekanan rendah biasanya terbuat dari kaca yang dilengkapi keran
jenis tertentu pada bagian bawahnya untuk mengatur aliran pelarut.
Pada setiap rancangan terdapat penompang atau sejenis piringan pelat di b, dan c,
penompang tersebut berupa segumpal kecil wol kaca atau kapas yang ditutupi dengan pasir
bersih 50-100 mesh setebal 30-60mm. Ukuran keseluruhan kolom sungguh beragam, tetapi
biasanya panjangnya sekurang-kurangnya 10 kali garis tengah dalamnya dan mungkin saja
sampai 100 kali. Nisbah panjang terhadap lebar sebagian besar ditentukan oleh mudah atau
sukarnya pemisahan, nisbah lebih besar untuk memisahkan yang lebih sukar. Ukuran kolom
dan banyaknya penjerap yang dipakai ditentukan oleh bobot campuran linarut yang akan
dipisahkan (Gritter, 1991).
Klasifikasi Kromatografi Kolom berdasarkan interaksi komponen dengan adsorben
adalah :
a. Kromatografi adsorbsia dalah kromatografi yang adsorbsi, komponen yang dipisahkan
secara selektif teradsorbsi pada permukaan adsorben yang dipakai untuk bahan isian
kolom.
b. Kromatografi partisi, dalam kromtografi partisi, komponen yang dipisahkan secara
selektif mengalami partisi antara lapisan cairan tipis pada penyangga padat yang
bertindak sebagai fase diam dn eluen yang bertindak sebagai fase gerak.
c. Kromatografi petukran ion memishkan komponen yang berbentuk ion, komponen-
komponen tersebut yang terikat pda penukar ion sebagai fase diam secara selektif akan
terlepas/terelusi oleh fase gerak.
d. Komatogrfi filtrasi gel, dalam kromatografi filtrasi gel, kolom diisi dengan gel yang
permeabel sebagai fase diam. Pemisahan berlangsung seperti proses pengayakan yang
didasarkan atas ukuran molekul dari komponen yang dipisahkan (Khopkar, 2000).
e. Kromatografi kolom adalah suatu teknik pemurnian untuk mengisolasi komponen yang
diinginkan dai sutu campuran. Dalam kromatografi kolom, fase diam (adsorben padat)
ditempatkan secara vertikal dalam kolom gelas dan fase gerak (cairan) ditempatkan pada
bagian atas kolom dan begerak ke bawah melewati kolom (karena gravitasi atau tekanan
eksternal). Sampel yang akan dianalisis dimsukkan ke bagian atas kolom. Eluen
ditambahkan ke dalam kolom dan bergerak ke bawah melewtikolom. Keseimbangan
terjadi antara komponen yang teradsopsi pda adorben dengan pelarut yang terelusi
mengalir melewati kolom. (Basset, 1994).
Pada Kromatrografi kolom, kolomnya diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel
atau pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan
sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sampel diasorbsi oleh adsorben.
Kemudian pelarut yang berfungsi sebagai fase gerak ditambahkan tetes demi tetes dari atas
kolom. Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah dan pelarut yang
teradsorbsi oleh adsorben yang befungsi sebagai fase diam. Selama perjalanan turun, zat
terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang. Laju penurunan berbeda
untuk masing-masing zat terlarut dan bergantung pada koefisien partisi masingmasing zat
terlarut. Kemudian, zat terlarut akan terpisahkan membentuk beberapa lapisan zona berwarna
yang disebut kromatogram. Akhirnya,masing-masing lapisan dielusi dengan pelarut yang
cocok untuk memberikan spesimen murninya (Anonim, 2011).

KKG termasuk jenis teknik kromatografi yang paling awal dikembangkan dan
termasuk kromatografi serapan yang sering disebut kromatografi elusi. Kolom kromatografi
dapat berupa pipa gelas yang dilengkapi dengan kran dan gelas penyaring di dalamnya.
Ukuran kolom tergantung pada banyaknya zat yang akan dipisahkan. Untuk menahan
penyerap yang diletakkan di dalam kolom dapat digunakan glass woll atau kapas (Hardjono,
2002).
Aplikasi teknik ini banyak digunakan untuk pemurnian senyawa setelah melewati
teknik KLT, misalnya untuk pemurnian karotenoid, klorofil, serta senyawa bioaktif tumbuhan
lainnya. Teknik ini tidak dilengkapi dengan spektrometer yang secara otomatis dapat
mengukur spektrum serapannya. Biasanya, pengambilan fraksi cairan dilakukan secara
manual dan kemudian diukur dengan spectrometer (Maslebu dkk, 2012).

BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat dibuat pada makalah ini adalah:


1. Kromatografi Vakum Cair (KVC) merupakan salah satu kromatografi vakum khusus yang
biasanya menggunakan silika gel sebagai adsorben. Kromatografi vakum cair dilakukan
untuk memisahkan golongan senyawa metabolit sekunder secara kasar dengan
menggunakan silika gel sebagai absorben dan berbagai perbandingan pelarut seperti n-
heksana, etil asetat, metanol (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk
memudahkan penarikan eluen.
2. Kromatografi Kolom Tekan (KKT) merupakan modifikasi dari kromatografi kolom
gravitasi dengan menambahkan tekanan udara dari atas kolom dan digunakan untuk
isolasi. Prinsip kromatografi kolom tekan yaitu pergerakan eluen dibantu dengan
tekanan udara yang berasal pompa udara.
3. Kromatografi Kolom Gravitasi (KKG) adalah suatu teknik pemurnian untuk mengisolasi
komponen yang diinginkan dai suatu campuran. Dalam kromatografi kolom, fase diam
(adsorben padat) ditempatkan secara vertikal dalam kolom gelas dan fase gerak (cairan)
ditempatkan pada bagian atas kolom dan begerak ke bawah melewati kolom (karena
gravitasi atau tekanan eksternal).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Panduan Kuliah Kimia Intrumentasi & II Semester II 2011/2012. Salatiga:
Universitas Kristen Satya Wacana.
Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Buchari, E. T., dan Sulaeman, A. 2003. Pengaruh Pelarut dan Temperatur terhadap Transport
Europium (III) melalui Membran Cair Berpendukung. Jurnal Matematika dan Sains
(8) 4: 155.

Chaudari, Hetal et al. 2012. A Review on A Flash Chromatography. International Journal


of Pharmaceutical Development & Technology, vol 2 (2), page 80-84.

Gritter, R. J. 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung: ITB.

Hardjono, Sastromihadjojo. 2002. Kromatografi. Yogyakarta: Liberty.

Harris, Et.Al. 1982. an Introduction to Chemical Analysis. Holt-Savders Japan:


Savderscollege Publishing Philadelpia.

Hendayana, Sumar, dkk. 1994. Kimia Analitik Instrumentasi. Semarang: IKIP Semarang
Press.

Hostettmenn, K dkk. 1986. Cara Kromatografi Preparatif. Bandung: ITB.

Kennedy, John. 1990. Analytical Chemistry Principles. New York: Sounders College
Publishing.

Khopkar, SM. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.

Maslebu, Giner dkk. 2012. Kombinasi Teknik Kromatografi Kolom Gravitasi Spektrometer
Sederhana Sebagai Permodelan Kromatografi Cairan Kerja Tinggi (KCKT).
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains VII UKSW. Salatiga:
Universitas Kristen Satya Wacana.

Padmawinata, K. dan I. Soediro. 1996. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern


Menganalisis Tumbuhan, Cetakan ke dua. Bandung: ITB.

Peddersen, D.S and Rosenbohm, R. 2001. Dry Vacuum Chromatography. Synthesis


Journal. Vol. 6. 2431-2434.

Rahimah, Endah Sayekti, Afghani Jayuska. 2013. Karakterisasi Senyawa Flavonoid Hasil
Isolat dari Fraksi Etil Asetat Daun Matoa (Pometia pinnata J.R.Forst &G.Forst).
JKK, tahun 2013, volume 2 (2), halaman 84-89 ISSN 2303-1077.

Schill, Goran. 1978. Separation Methods. Stockholm: Wedish Phasma Centrical Press.

Sastrohamidjojo, Dr.H. 1985. Kromatografi. Yogyakarta: Liberty.

Sarker, SD. Latif Z dan Gray Al. 2006. Natural Product Isolation. Totowa, New Jersey:
Humana Press Inc.
Sayekti, Endah dkk. 2013. Isolasi Rhodinol dari Minyak Sereh Jawa Menggunakan Metode
Kromatografi Kolom Tekan. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013.

Sudjadi. 1994. Metode Pemisahan.Yogyakarta: Kanisius.

Anda mungkin juga menyukai