Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam penyelesaian sengketa alternatif kita mengenal adanya mediasi. sebelum kita
membahas tentang mediasi,ada baiknya jika kita mengetahui dahulu definisi dari mediasi.
Mediasi merupakan kosakata atau istilah yang berasal dari kosakata Inggris, yaitu mediation.
Para sarjana Indonesia kemudian lebih suka mengindonesiakannya menjadi mediasi seperti
halnya istilah-istilah lainnya, yaitu negotiation menjadinegosiasi, arrbitration menjadi
arbitrase, dan ligitation menjadi ligitasi.

Dalam kepustakaan ditemukan banyak definisi tentang mediasi. Menurut Prof. Takdir Rahmadi,
mediasi adalah suatu proses penyelesaian sengketa antara dua pihak atau lebih melalui
perundingan atau cara mufakat dengan bantuan pihak netral yang tidak memilih kewenangan
memutus. Pihak netral tersebut disebut mediator dengan tugas memberikan bantuan prosedural
dan substansial. Dengan demikian, dari definisi atau pengertian mediasi ini dapat
diidentifikasikan unsur-unsur esensial mediasi, yaitu :

Mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa melalui perundingan berdasarkan pendekatan


mufakat atau konsensus para pihak;

Para pihak meminta bantuan pihak lain yang bersifat tidak memihak yang disebut mediator;

Mediator tidak memiliki kewenangan memutus, tetapi hanya membantu para pihak yang
bersengketa dalam mencari penyelesaian yang dapat diterima para pihak.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Mengapa mediasi perlu dilakukan daam penyelesaian masalah di dalam pengadilan?


2. Bagaimana prosedur, kedudukan serta peran mediasi dalam menyelesaikan masalah di
pengadilan?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Secara umum, mediasi adalah salah satu alternatif penyelesaian sengketa. Ada 2 jenis mediasi,
yaitu di dalam pengadilan dan di luar pengadilan. Mediasi di luar pengadilan ditangani oleh
mediator swasta, perorangan, maupun sebuah lembaga independen alternatif penyelesaian
sengketa yang dikenal sebagai Pusat Mediasi Nasional (PMN). Mediasi yang berada di dalam
pengadilan diatur oleh Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 Tahun 2016 yang
mewajibkan ditempuhnya proses mediasi sebelum pemeriksaan pokok perkara perdata dengan
mediator terdiri dari hakim-hakim Pengadilan Negeri tersebut yang tidak menangani perkaranya.
Penggunaan mediator hakim dan penyelenggaraan mediasi di salah satu ruang pengadilan tingkat
pertama tidak dikenakan biaya. Proses mediasi pada dasarnya tidak terbuka untuk umum, kecuali
para pihak menghendaki lain.

Kelebihan Mediasi:

1. Lebih sederhana daripada penyelesaian melalui proses hukum acara perdata


2. Efisien
3. Waktu singkat
4. Rahasia
5. Menjaga hubungan baik para pihak
6. Hasil mediasi merupakan KESEPAKATAN
7. Berkekuatan hukum tetap
8. Akses yang luas bagi para pihak yang bersengketa untuk memperoleh rasa keadilan

Kenapa Ada Mediasi?

1. karena pengintegrasian mediasi ke dalam proses beracara di pengadilan dapat menjadi


salah satu instrumen efektif mengatasi kemungkinan penumpukan perkara di pengadilan.
2. karena mediasi merupakan salah satu proses lebih cepat dan murah, serta dapat
mernberikan akses kepada para pihak yang bersengketa untuk memperoleh keadilan atau
penyelesaian yang memuaskan atas sengketa yang dihadapi;
3. karena institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan dapat memperkuat dan
memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam penyelesaian sengketa disamping
proses pengadilan yang bersifat memutus (ajudikatif);
4. karena hukum acara yang berlaku, baik Pasal 130 HIR maupun Pasal 154 RBg,
rnendorong para pihak untuk menempuh proses perdamaian yang dapat diintensifkan
dengan cara mengintegrasikan proses mediasi ke dalam prosedur berperkara di
pengadilan tingkat pertama;

Kapan mediasi dilakukan?

Sesuai dengan pasal 2 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 2/2003 tentang
prosedur mediasi di pengadilan Mahkamah Agung Republik Indonesia, bahwa semua perkara
perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama wajib untuk lebih dahulu diselesaikan
melalui perdamaian dengan bantuan mediator

2.2 Bagaimana proses mediasi berlangsung di Dalam Peradilan

1. Proses Pra Mediasi

Para pihak dalam hal ini penggugat mengajukan gugatan dan mendaftarkan perkara
Ketua Pengadilan Negeri menunjuk majelis hakim

Pada hari pertama sidang majelis hakim wajib mengupayakan perdamaian kepada para pihak
melalui proses mediasi.

Para pihak dapat memilih mediator hakim atau non hakim yang telah memiliki sertifikat sebagai
mediator dalam waktu 1 (satu) hari.

Apabila dalam waktu 1 (satu) hari belum ditentukan maka majelis menetapkan mediator dari
para hakim.

2. Proses Mediasi
Setelah penunjukan mediator, para pihak wajib menyerahkan fotokopi dokumen yang memuat
duduk perkara, fotokopi surat-surat yang diperlukan dan hal-hal lain yang terkait dengan
sengketa kepada mediator dan para pihak

Mediator wajib menentukan jadwal pertemuan untuk penyelesaian proses mediasi


Pemanggilan saksi ahli dimungkinkan atas persetujuan para pihak, dimana semua biaya jasa ahli
itu ditanggung oleh para pihak berdasarkan kesepakatan

Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan para pihak
dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik

Apabila diperlukan, kaukus atau pertemuan antara mediator dengan salah satu pihak tanpa
kehadiran pihak lainnya, dapat dilakukan

3. Proses Akhir Mediasi

Jangka waktu proses mediasi di dalam pengadilan paling lama adalah 40 hari kerja, dan dapat
diperpanjang lagi paling lama 14 hari kerja.

Jika mediasi menghasilkan kesepakatan, para pihak wajib merumuskan secara tertulis
kesepakatan yang dicapai dan ditandatangani kedua pihak, dimana hakim dapat
mengukuhkannya sebagai sebuah akta perdamaian

Apabila tidak tercapai suatu kesepakatan, hakim melanjutkan pemeriksaan perkara sesuai dengan
ketentuan Hukum Acara yang berlaku

Mediator :

Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna
mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau
memaksakan sebuah penyelesaian. Ciri-ciri penting dari mediator adalah :

1. Netral
2. Membantu para pihak
3. Tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.
Jadi, peran mediator hanyalah membantu para pihak dengan cara tidak memutus atau
memaksakan pandangan atau penilaiannya atas masalah-masalah selama proses mediasi
berlangsung kepada para pihak.

Tugas-tugas Mediator
1. Mediator wajib mempersiapkan usulan jadwal pertemuan mediasi kepada para
pihakuntuk dibahas dan disepakati.
2. Mediator wajib mendorong para pihak untuk secara langsung berperan dalam proses
mediasi.
3. Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus atau pertemuan terpisah
selama proses mediasi berlangsung.
4. Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan
mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para pihak.

2.3 Kedudukan dan Peran Mediasi dalam Menyelesaikan sengketa di Pengadilan

Mediasi di dalam Pengadilan (court annexed mediation) mulai berlaku di Indonesia sejak
diterbitkannya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 2 Tahun 2003 tentang Prosedur
Mediasi di Pengadilan. PERMA ini bertujuan menyempurnakan Surat Edaran Mahkamah Agung
(SEMA) No 1 Tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama dalam
Menerapkan Lembaga Damai sebagaimana diatur dalam pasal 130 Herziene Inlandsch
Reglemen (HIR) dan pasal 154Rechtsreglement voor de Buitengewesten (RBg). Pasal 130 HIR
dan 154 RBg sebagaimana diketahui mengatur tentang lembaga perdamaian dan mewajibkan
hakim untuk terlebih dahulu mendamaikan para pihak yang berperkara sebelum perkaranya
diperiksa.

Dengan berlakunya PERMA No 2 Tahun 2003, mediasi bersifat wajib bagi seluruh perkara
perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama. Untuk mendukung pelaksanaan PERMA
No 2 Tahun 2003, pada tahun 2003-2004 Mahkamah Agung melakukan pemantauan pelaksanaan
mediasi di empat Pengadilan Negeri (PN) yang menjadi pilot court, yaitu PN Bengkalis, PN Batu
Sangkar, PN Surabaya, dan PN Jakarta Pusat. Tujuan pemantauan tersebut adalah untuk
mendapatkan gambaran tentang penerapan hasil Pelatihan Sertifikasi Mediator bagi Hakim di
empat pengadilan tersebut. Selain pelatihan bagi hakim, juga dilakukan pelatihan bagi panitera di
empat pengadilan yang menjadi pilot court tersebut tentang pendokumentasian proses mediasi
bagi para Panitera. Dari pelatihan itu, dihasilkan formulir-formulir yang diharapkan menjadi
acuan bagi pengadilan-pengadilan lainnya sehingga pendokumentasian dan pengarsipan berkas
proses mediasi menjadi seragam.ii Selain empat pengadilan yang menjadi pilot court, Pelatihan
Sertifikasi Mediator juga dilakukan di Semarang, ditujukan bagi Hakim di lingkungan Provinsi
Jawa Tengah, diikuti dengan pemantauan ke berbagai Pengadilan Negeri Provinsi tersebut.

Pada tahun 2008, PERMA No. 2 Tahun 2003 diganti dengan PERMA No. 1 Tahun 2008. Dalam
bagian menimbang PERMA ini disebutkan bahwa setelah dilakukan evaluasi terhadap
pelaksanaan prosedur mediasi di Pengadilan berdasarkan PERMA No. 2 Tahun 2003, ternyata
ditemukan beberapa permasalahan yang bersumber dari PERMA tersebut sehingga PERMA No.
2 Tahun 2003 perlu direvisi dengan maksud untuk lebih mendayagunakan mediasi yang terkait
dengan proses berperkara di Pengadilan.

Dalam PERMA No. 1 Tahun 2008, sifat wajib mediasi dalam proses berperkara di Pengadilan
lebih ditekankan lagi. Ini dapat dilihat dengan adanya pasal yang menyatakan bahwa tidak
ditempuhnya proses mediasi berdasarkan PERMA itu merupakan pelanggaran terhadap
ketentuan pasal 130 HIR/154 Rbg yang menyatakan putusan batal demi hukum (Pasal 2 ayat (3)
PERMA No. 1 Tahun 2008). Sementara Pasal 2 ayat (4) PERMA No. 2 Tahun 2003 menyatakan
bahwa Hakim dalam pertimbangan putusan perkara wajib menyebutkan bahwa perkara yang
bersangkutan telah diupayakan perdamaian melalui mediasi dengan menyebutkan nama mediator
untuk perkara tersebut.

Untuk implementasi dari PERMA No. 1 Tahun 2008, Mahkamah Agung (MA) menunjuk empat
Pengadilan Negeri sebagai pilot court, yaitu PN Jakarta Selatan, Bandung, PN Bogor, dan PN
Depok. MA juga menerbitkan buku Komentar PERMA No. I Tahun 2008 dan buku Tanya Jawab
PERMA No. 1 Tahun 2008 serta video tutorial pelaksanaan mediasi di Pengadilan yang
seluruhnya dapat diakses melalui websiteMahkamah Agung. Setelah enam tahun berlakunya
PERMA No. 1 Tahun 2008, akhirnya Mahkamah Agung Republik Indonesia menerbitkan
PERMA No. 1 Tahun 2016.
Revisi Perma No. 1 Tahun 2008

Landasan Hukum Pasal 24 ayat (1) UUD 1945

Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan


guna menegakkan hukum dan keadilan.Pasal 2 ayat (4) jo. Pasal 4 ayat (2) UU No. 48 Tahun
2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengamanatkan penyelenggaraan peradilan yang
sederhana, cepat dan berbiaya ringan.

Membuka akses terhadap keadilan (acces to justice) bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tugas dan Wewenang Pengadilan

Pasal 50 UU No 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum jo. UU No. 8 Tahun 2004 jo. UU No. 49
Tahun 2009 Pengadilan Negeri bertugas dan berwenang memeriksa, memutus,
dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama.

Pasal 49 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jo. Pasal 49 UU No. 3 Tahun
2006 jo. UU No. 50 Tahun 2009 Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa,
memutus, danmenyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam
di bidang: a. perkawinan s/d -------------i. ekonomi syari'ah.

Pasal 9 ayat (2) UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Milter, Pengadilan dalam lingkungan
peradilan militer berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha
Angkatan Bersenjata.

Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara jo. UU No. 9 Tahun 2004
jo. UU No. 51 Tahun 2009 Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus,
danmenyelesaikan Sengketa Tata Usaha Negara.

Pasal 130 HIR/154 RBg = Hakim Wajib Mendamaikan

Tugas dan Wewenang Pengadilan Perdata: Menyelesaikan Perkara

Memutus = Putusan

Mendamaikan = Akta Perdamaian / Pencabutan gugatan


Visi Mahkamah Agung 2010-2035 Mewujudkan Badan Peradilan yang Agung. Terdapat tujuh
Area Utama Perubahan, dua di antaranya adalah:

Pelayanan publik yang prima

Akses terhadap keadilan bagi seluruh pencari keadilan.

Mewujudkan Visi sekaligus memenuhi Peradilan yang Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan serta
Meningkatkan Akses Masyarakat terhadap Keadilan = Pemberdayaan Perdamaian Pasal 130
HIR/154 RBg = Mediasi salah satunya dapat dicapai melalui proses mediasi (Pasal 130 HIR/154
RBg)

Keberhasilan Mediasi di Pengadilan relatif rendah disebabkan antara lain oleh faktor-faktor
berikut:

Para Pihak/Kuasa Hukum

Hakim/Lembaga Pengadilan

Tata Kelola/Administrasi Kelembagaan Mediasi di Pengadilan

Kurangnya sosialisasi mengenai kemanfaatan dan prosedur Mediasi

Peran Mediator Hakim / Non Hakim Bersertifikat

Peraturan

Para Pihak/Kuasa Hukum.

Sebagai gambaran, berikut bentuk transformasi pengaturan mengenai mediasi di pengadilan.

HIR pasal 130 dan Rbg pasal 154 telah mengatur lembaga perdamaian. Hakim wajib terlebih
dahulu mendamaikan para pihak yang berperkara sebelum perkaranya diperiksa.

SEMA No 1 tahun 2002 tentang pemberdayaan lembaga perdamaian dalam pasal 130
HIR/154 Rbg.

PERMA No 02 tahun 2003 tentang prosedur mediasi di Pengadilan.

PERMA No 01 tahun 2008 tentang prosedur mediasi di Pengadilan.


Mediasi atau APS di luar Pengadilan diatur dalam pasal 6 UU No. 30 tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Perma Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan

Perubahan Ketentuan Prosedur Mediasi dalam Perma Nomor 1 tahun 2016

Waktu Pelaksanaan Mediasi

Dalam Perma No 1 tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan di atur tentang waktu
mediasi dengan ketentuan sebagai berikut:

Proses mediasi berlangsung paling lama 30 hari terhitung sejak penetapan perintah
melakukan mediasi.

Atas dasar kesepakatan Para Pihak, jangka waktu mediasi dapat diperpanjang paling lama 30
hari.

Permohonan perpanjangan waktu mediasi dilakukan oleh mediator disertai alasan.

Pengaturan waktu mediasi ini lebih singkat dengan ketentuan yang terdapat dalam Perma No 1
tahun 2008 yang mengatur jadwal mediasi selama 40 hari. Namun perpanjangan waktu untuk
mediasi atas kesepakatan para pihak lebih lama lagi yaitu 30 hari sedangkan dalam Perma No 1
tahun 2008 hanya 14 hari.

Iktikad Baik dalam Melaksanakan Mediasi

Perma No. 1 tahun 2016 pasal 7 mengatur tentang kewajiban melaksanakan mediasi dengan
iktikad yang baik. Para pihak yang terlibat dalam proses mediasi harus mempunyai iktikad yang
baik sehingga dengan iktikad yang baik tersebut proses mediasi dapat terlaksana dan berjalan
dengan baik. Indikator yang menyatakan para pihak tidak beriktikad baik dalam melaksanakan
mediasi, yaitu:

- Tidak hadir dalam proses mediasi meskipun sudah dipanggil dua kali berturut-turut.

- Hadir dalam pertemuan mediasi pertama, tetapi selanjutnya tidak hadir meskipun sudah
dipanggil dua kali berturut-turut.
- Tidak hadir berulang-ulang sehingga mengganggu jadwal mediasi.

- Tidak mengajukan atau tidak menanggapi resume perkara.

- Tidak menandatangani kesepakatan perdamaian.

Pelaksanaan mediasi dengan adanya para pihak yang tidak beriktikad baik, mempunyai dampak
hukum terhadap proses pemeriksaan perkara. Dalam hal ini dapat dilihat dari aspek para pihak
yang tidak beriktikad baik, yaitu:

Akibat hukum Penggugat yang tidak beriktikad baik

Penggugat yang tidak berittikad baik gugatannya dinyatakan tidak diterima (NO)

Penggugat juga dikenai kewajiban membayar biaya mediasi.

Mediator menyatakan Penggugat tidak berittikad baik dalam laporan mediasi disertai
rekomendasi sanksi dan besarannya.

Hakim Pemeriksa Perkara berdasarkan laporan mediator menggelar persidangan dan


mengeluarkan putusan.

Biaya mediasi sebagai sanksi diambil dari panjar biaya atau pembayaran tersendiri oleh
Penggugat dan diserahkan kepada Tergugat.

Akibat Hukum Tergugat yang Tidak Beriktikad Baik

Tergugat yang tidak berittikad baik dikenakan pembayaran biaya mediasi.

Mediator menyatakan Tergugat tidak berittikad baik dalam laporan mediasi disertai rekomendasi
sanksi dan besarannya.

Hakim Pemeriksa Perkara berdasarkan laporan mediator sebelum


melanjutkan pemeriksaan perkara mengeluarkan penetapan tentang tidak berittikad baik dan
menghukum Tergugat untuk membayar.

Pembayaran biaya mediasi oleh Tergugat mengikuti pelaksanaan putusan yang


telah berkekuatan hukum tetap.

Pembayaran dari Tergugat diserahkan kepada Penggugat melalui kepaniteraan.


Biaya Mediasi

Dalam Perma No. 1 tahun 2016, pembebanan biaya mediasi disebutkan secara rinci dan jelas.
Berbeda dengan perma no 1 tahun 2008 yang hanya menyebutkan biaya mediasi secara umum
saja. Mengenai biaya mediasi dalam Perma No 1 tahun 2016 dijelaskan bahwa:

Biaya mediasi adalah biaya yang timbul dalam proses mediasi sebagai bagian dari biaya perkara,
yang diantaranya meliputi biaya pemanggilan Para Pihak, biaya perjalanan berdasarkan
pengeluaran nyata, biaya pertemuan, biaya ahli, dan lain-lain.

Penggunaan Mediator hakim dan aparatur pengadilan tidak dipungut biaya jasa.

Biaya jasa mediator non hakim ditanggung bersama atau berdasarkan kesepakatan Para Pihak

Biaya pemanggilan Para Pihak untuk meghadiri proses mediasi dibebankan kepada Penggugat
terlebih dahulu melalui panjar biaya perkara.

Apabila mediasi berhasil, biaya pemanggilan ditanggung bersama atau berdasarkan kesepakatan
Para Pihak.

Apabila mediasi tidak berhasil atau tidak dapat dilaksanakan, biaya pemanggilan dibebankan
kepada Pihak yang kalah, kecuali perkara perceraian di Pengadilan Agama

Jenis Mediasi Yang Diatur

Mediasi Wajib

Mediasi wajib ini adalah mediasi yang dilaksanakan pada hari persidangan dimana para pihak
hadir berdasarkan panggilan yang resmi dan patut dan sebelum pemeriksaan pokok perkara
dilakukan. Dalam proses mediasi wajib, masing-masing komponen yang terlibat mempunyai
tugas dan fungsi untuk menyukseskan terlaksananya mediasi. Adapun tugas dan kewajiban
masing-masing komponen adalah:

Tugas dan Kewajiban Hakim Pemeriksa Perkara


Pada hari sidang yang telah ditentukan dan dihadiri oleh Para Pihak, Hakim Pemeriksa Perkara
mewajibkan Para Pihak menempuh mediasi.

Hakim Pemeriksa Perkara wajib menjelaskan prosedur mediasi kepada Para Pihak.

Hal-hal yang wajib dijelaskan, meliputi:

Pengertian dan manfaat mediasi.

Kewajiban Para Pihak untuk menghadiri langsung pertemuan mediasi berikut akibat hukum
perilaku tidak berittikad baik dalam proses mediasi.

Biaya yang mungkin timbul akibat penggunaan mediator non hakim dan bukan pegawai
pengadilan.

Pilihan menindak lanjuti kesepakatan perdamaian menjadi akta perdamaian atau pencabutan
gugatan.

Kewajiban Para Pihak menandatangani formulir penjelasan mediasi.

Setelah menjelaskan, Hakim Pemeriksa Perkara menyerahkan formulir yang memuat:

Para Pihak telah mendapatkan penjelasan

Para Pihak telah memahami penjelasan.

Para Pihak bersedia menempuh mediasi dengan ittikad baik:

Setelah formulir ditandatangani, dimasukkan dalam berkas perkara.Keterangan mengenai


penjelasan dan penandatanganan formulir dimuat dalam Berita Acara Sidang (BAS)

Tugas dan Kewajiban Panitera Yang Bersidang

Mencatat Penjelasan Hakim Pemeriksa perkara dan penandatanganan formulir penjelasan dalam
Berita Acara Sidang (BAS)

Menyampaikan salinan Penetapan Hakim Ketua Majelis Pemeriksa Perkara tentang Perintah
Melakukan Mediasi dan Penunjukan Mediator kepada Mediator yang ditunjuk pada kesempatan
pertama.

Berkoordinasi dengan Mediator terkait penentuan jadwal dan tahapan mediasi.


Berkoordinasi dengan petugas pencatat administrasi mediasi untuk memastikan dimuatnya
jadwal mediasi berikut pengunduran pertemuan mediasi ke dalam aplikasi mediasi pada Sistem
Informasi Penelusuran Perkara (SIPP)

Tugas dan Kewajiban Mediator

Memperkenalkan diri dan memberi kesempatan kepada Para Pihak untuk saling
memperkenalkan diri.

Menjelaskan maksud, tujuan, dan sifat mediasi kepada Para Pihak.

Menjelaskan kedudukan dan peran mediator yang netral dan tidak mengambil keputusan.

Membuat aturan pelaksanaan mediasi bersama Para Pihak

Menjelaskan tentang kaukus

Menyusun jadwal mediasi

Mengisi formulir jadwal mediasi

Memberikan kesempatan kepada Para Pihak untuk menyampaikan permasalahan dan usulan
perdamaian

Menginventarisasi permasalahan dan mengagendakan pembahasan

Memfasilitasi dan mendorong Para Pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan Para
Pihak, mencari berbagai pilihan penyelesaian dan bekerjasama mencapai penyelesaian

Membantu Para Pihak dalam membuat dan merumuskan kesepakatan perdamaian.

Menyampaikan laporan mediasi kepada Hakim Pemeriksa Perkara.

Menyatakan salah satu pihak atau Para Pihak tidak berittikad baik dan menyampaikannya kepada
Hakim Pemeriksa Perkara

Tugas lain dalam menjalankan fungsinya

Kewajiban Kuasa Hukum

Kuasa Hukum berkewajiban membantu Para Pihak dalam proses mediasi.


Kewajiban Kuasa Hukum, meliputi:

Menyampaikan penjelasan Hakim Pemeriksa Perkara

Mendorong Para Pihak berperan aktif dalam mediasi

Membantu Para Pihak mengidentifikasi kebutuhan, kepentingan dan usulan penyelesaian

Membantu merumuskan kesepakatan perdamaian.

Kuasa Hukum dapat mewakili Para Pihak dalam mediasi dengan surat kuasa khusus yang
memuat kewenangan untuk mengambil keputusan (authority to decide)

Pemanggilan para pihak

Pemanggilan Para Pihak untuk mediasi dilakukan oleh Jurusita atau Jurusita Pengganti atas
kuasa Hakim Pemeriksa Perkara.

Pemberian kuasa dilakukan demi hukum.

Tidak perlu surat kuasa.

Tidak perlu ada instrumen pemanggilan dari Hakim Pemeriksa Perkara.

Adapun tugas dan kewajiban Jurusita atau jurusita pengganti

Melaksanakan perintah Mediator untuk melakukan pemanggilan kepada Para Pihak.

Menyampaikan laporan pemanggilan (relaas) kepada mediator.

Dalam melaksanakan proses mediasi wajib, mediator tidak terpaku kepada isi posita dan petitum
gugatan. Dengan demikian ruang lingkup mediasi adalah:

Materi perundingan dalam mediasi tidak terbatas pada posita dan petitum gugatan.

Untuk kesepakatan di luar posita dan petitum, Penggugat merubah gugatan dengan memasukkan
kesepakatan tersebut dalam gugatan

Dalam proses mediasi, keterlibatan pihak luar juga diperbolehkan dengan ketentuan sebagai
berikut:
Atas kesepakatan Para Pihak, mediator dapat menghadirkan ahli, tokoh masyarakat, tokoh agama
dan tokoh adat dalam proses mediasi.

Para Pihak terlebih dahulu harus sepakat tentang mengikat atau tidaknya penjelasan atau penilai
ahli, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat tersebut dalam pengambilan keputusan

Adapun hasil-hasil dalam proses mediasi wajib dapat dikategorikan kepada 4 macam hasil
mediasi, yaitu:

Mediasi Berhasil

Mediasi Berhasil Sebagian

Jika mediasi berhasil, Para Pihak dengan bantuan mediator merumuskan kesepakatan
perdamaian secara tertulis.

Kesepakatan Perdamaian ditandatangani oleh Para Pihak dan mediator.

Kesepakatan Perdamaian tidak boleh memuat ketentuan yang:

Bertentangan dengan hukum, ketertiban umum, dan kesusilaan.

Merugikan pihak ketiga.

Tidak dapat dilaksanakan.

Jika mediasi diwakili oleh Kuasa Hukum, Kesepakatan Perdamaian ditandatangani setelah ada
pernyataan persetujuan tertulis dari Para Pihak.

Kesepakatan Perdamaian dapat dikuatkan dengan Akta Perdamaian atau pencabutan gugatan.

Mediator melaporkan keberhasilan mediasi disertai kesepakatan perdamaian.

Hakim Pemeriksa Perkara mempelajari Kesepakatan Perdamaian paling lama 2 hari.

Jika belum memenuhi ketentuan, Kesepakatan Perdamaian dikembalikan kepada mediator untuk
perbaikan paling lama 7 hari.

Paling lama 3 hari setelah menerima perbaikan, Hakim Pemeriksa Perkara membacakan Akta
Perdamaian

Mediasi berhasil sebagian ini dibedakan kepada dua hal, yaitu:


Mediasi Berhasil dengan Sebagian Pihak (Pasal 29)

Dalam hal proses Mediasi mencapai kesepakatan antara penggugat dan sebagian pihak tergugat,
penggugat mengubah gugatan dengan tidak lagi mengajukan pihak tergugat yang tidak mencapai
kesepakatan sebagai pihak lawan.

Kesepakatan Perdamaian Sebagian antara pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dan
ditandatangani oleh penggugat dengan sebagian pihak tergugat yang mencapai kesepakatan dan
Mediator.

Kesepakatan Perdamaian Sebagian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dikuatkan dengan
Akta Perdamaian sepanjang tidak menyangkut aset, harta kekayaan dan/atau kepentingan pihak
yang tidak mencapai kesepakatan dan memenuhi ketentuan Pasal 27 ayat (2).

Penggugat dapat mengajukan kembali gugatan terhadap pihak yang tidak mencapai Kesepakatan
Perdamaian Sebagian sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Dalam hal penggugat lebih dari satu pihak dan sebagian penggugat mencapai kesepakatan
dengan sebagian atau seluruh pihak tergugat, tetapi sebagian penggugat yang tidak mencapai
kesepakatan tidak bersedia mengubah gugatan, Mediasi dinyatakan tidak berhasil.

Kesepakatan Perdamaian Sebagian antara pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat
dilakukan pada perdamaian sukarela tahap pemeriksaan perkara dan tingkat upaya hukum
banding, kasasi, atau peninjauan kembali.

Mediasi Berhasil Sebagian Terhadap Objek Perkara (Pasal 30)

Dalam hal Para Pihak mencapai kesepakatan atas sebagian dari seluruh objek perkara atau
tuntutan hukum, Mediator menyampaikan Kesepakatan Perdamaian Sebagian tersebut dengan
memperhatikan ketentuan Pasal 27 ayat (2) kepada Hakim Pemeriksa Perkara sebagai lampiran
laporan Mediator.

Hakim Pemeriksa Perkara melanjutkan pemeriksaan terhadap objek perkara atau tuntutan hukum
yang belum berhasil disepakati oleh Para Pihak.
Dalam hal Mediasi mencapai kesepakatan sebagian atas objek perkara atau tuntutan hukum,
Hakim Pemeriksa Perkara wajib memuat Kesepakatan Perdamaian Sebagian tersebut dalam
pertimbangan dan amar putusan.

Kesepakatan Perdamaian Sebagian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3)
berlaku pada perdamaian sukarela tahap pemeriksaan perkara dan tingkat upaya hukum banding,
kasasi, atau peninjauan kembali.

Terhadap hasil mediasi yang berhasil sebagian, khusus untuk perkara perceraian, Perma No 1
tahun 2016 pada Pasal 31 menyebutkan:

Untuk Mediasi perkara perceraian dalam lingkungan peradilan agama yang tuntutan perceraian
dikumulasikan dengan tuntutan lainnya, jika Para Pihak tidak mencapai kesepakatan untuk hidup
rukun kembali, Mediasi dilanjutkan dengan tuntutan lainnya.

Dalam hal Para Pihak mencapai kesepakatan atas tuntutan lainnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), kesepakatan dituangkan dalam Kesepakatan Perdamaian Sebagian dengan memuat
klausula keterkaitannya dengan perkara perceraian.

Kesepakatan Perdamaian Sebagian atas tuntutan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
hanya dapat dilaksanakan jika putusan Hakim Pemeriksa Perkara yang mengabulkan gugatan
perceraian telah berkekuatan hukum tetap.

Kesepakatan Perdamaian Sebagian atas tuntutan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tidak berlaku jika Hakim Pemeriksa Perkara menolak gugatan atau Para Pihak bersedia rukun
kembali selama proses pemeriksaan perkara.

Mediasi Tidak Berhasil

Mengenai mediasi yang tidk berhasil, Perma No 1 tahun 2016 pada pasal 32 ayat (1) memberi
ketentuan sebagai berikut:

Mediator wajib menyatakan Mediasi tidak berhasil mencapai kesepakatan dan


memberitahukannya secara tertulis kepada Hakim Pemeriksa Perkara, dalam hal:
Para Pihak tidak menghasilkan kesepakatan sampai batas waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
berikut perpanjangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dan ayat (3); atau

Para Pihak dinyatakan tidak beriktikad baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf
d dan huruf e.

Mediasi Tidak dapat dilaksanakan

Adapun mengenai Mediasi Tidak Dapat Dilaksanakan, Pasal 32 ayat 2 memberi ketentuan:

Mediator wajib menyatakan Mediasi tidak dapat dilaksanakan dan memberitahukannya secara
tertulis kepada Hakim Pemeriksa Perkara, dalam hal:

melibatkan aset, harta kekayaan atau kepentingan yang nyata-nyata berkaitan dengan pihak lain
yang:

tidak diikutsertakan dalam surat gugatan sehingga pihak lain yang berkepentingan tidak menjadi
salah satu pihak dalam proses Mediasi;

diikutsertakan sebagai pihak dalam surat gugatan dalam hal pihak berperkara lebih dari satu
subjek hukum, tetapi tidak hadir di persidangan sehingga tidak menjadi pihak dalam proses
Mediasi; atau

diikutsertakan sebagai pihak dalam surat gugatan dalam hal pihak berperkara lebih dari satu
subjek hukum dan hadir di persidangan, tetapi tidak pernah hadir dalam proses Mediasi.

melibatkan wewenang kementerian/lembaga/instansi di tingkat pusat/daerah dan/atau Badan


Usaha Milik Negara/Daerah yang tidak menjadi pihak berperkara, kecuali pihak berperkara yang
terkait dengan pihak-pihak tersebut telah memperoleh persetujuan tertulis dari
kementerian/lembaga/instansi dan/atau Badan Usaha Milik Negara/Daerah untuk mengambil
keputusan dalam proses Mediasi.

Para Pihak dinyatakan tidak beriktikad baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf
a, huruf b, dan huruf c.
(3) Setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Hakim
Pemeriksa Perkara segera menerbitkan penetapan untuk melanjutkan pemeriksaan perkara sesuai
dengan ketentuan hukum acara yang berlaku

Mediasi Sukarela Pada Tahap Pemeriksaan Perkara

Selama pemeriksaan perkara setelah mediasi wajib tidak berhasil, Para Pihak dapat mengajukan
permohonan untuk berdamai.

Atas permohonan tersebut, Hakim Pemeriksa Perkara menunjuk salah seorang Hakim Pemeriksa
Perkara sebagai mediator.

Jangka waktu mediasi adalah 14 hari terhitung sejak Penetapan Printah Mediasi

Mediasi Sukarela Pada Tahap Upaya Hukum

Selama perkara belum diputus di tingkat Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali Para Pihak
atas kesepakatan dapat menempuh upaya perdamaian.

Hasil kesepakatan diajukan secara tertulis kepada Ketua Pengadilan untuk diserahkan kepada
Hakim Pemeriksa Perkara di tingkat Banding, Kasasi, atau Peninjauan Kembali.

Kesepakatan harus mengesampingkan Putusan yang telah ada sebelumnya.

Hakim Pemeriksa Perkara di tingkat Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali memutus
berdasarkan kesepakatan tersebut.

BAB III

PENUTUP
Jadi, selain berperkara dalam sidang pengadilan ada baiknya jika kita memakai jalur alternatif
dengan cara mediasi ataupun proses lainnya karena ini juga dapat membantu lembaga pengadilan
dalam rangka mengurangi beban penumpukan perkara. Kedua, adanya kesadaran akan
peyediakan akses seluas mungkin kepada para pihak yang bersengketa untuk memperoleh rasa
keadilan. Ketiga, proses mediasi sering diasumsikan sebagai proses yang lebih efisien dan tidak
memakan waktu dibandingkan proses pengadilan.

3. 1 Kesimpulan

Dengan adanya proses mediasi ini diharapkan dapat mengurangi beban perkara di pengadilan
dan menyediakan akses seluas mungkin kepada para pihak yang bersengketa untuk memperoleh
rasa keadilan, sehingga secara tidak langsung dapat membentuk independen judiciary. Dari segi
sumber daya manusia kebetulan IICT dengan MA sedang mencoba membuat proyek percontohan
di 4 Pengadilan Negeri (PN), yaitu PN Jakarta Pusat, Surabaya, Padang dan Bengkalis. Disini
kita memang akan mencoba menyediakan sumber daya manusia dan sarana, karena memang
mediasi ini dimungkinkan untuk tidak memakai ruang pengadilan karena ruangnya harus lebih
informal. Setelah itu setahun kemudian kita akan mengevaluasi apa saja kekurangan-
kekurangannya. Walaupun masih terdapat banyak hal yang harus disempurnakan, namun mudah-
mudahan dengan adanya Perma disertai dengan 4 proyek percontohan dapat diketahui bagian-
bagian mana saja yang harus disempurnakan.

DAFTAR PUSTAKA