Anda di halaman 1dari 23

STRATEGI PEMANFAATAN dan PENGELOLAAN SUMBER DAYA

HUTAN di KOTA MALANG

(Hutan Kota di Jl.Gresik Malang)

LAPORAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan

yang dibimbing oleh Prof. Dr.Hj. Mimien Hieni Irawati,M.S

Disusun Oleh :

Offering G

Kelompok 3 dan Kelompok 4

Lailatul Qomariyah (130342603489)

Nafisatuzzamrudah (130342615327)

Nining Nurnaningsih (130342603497)


Rieza Novrianggita (130342603492)
Suhartini (130342615331)
Yolanda Wahyuning T (130342603500)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

S1 BIOLOGI

SEPTEMBER 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa hutan merupakan paru-paru bumi
satwa hidup, pohon-pohon, hasil tambang dan berbagai sumber daya lainnya
yang bisa kita dapatkan dari hutan yang tak ternilai harganya bagi manusia.
Hutan juga merupakan sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bagi
kesejahteraan manusia, baik manfaat tangible yang dirasakan secara langsung,
maupun intangible yang dirasakan secara tidak langsung. Manfaat langsung
seperti penyediaan kayu, satwa, dan hasil tambang. Sedangkan manfaat tidak
langsung seperti manfaat rekreasi, perlindungan dan pengaturan tata air,
pencegahan erosi. Keberadaan hutan, dalam hal ini daya dukung hutan terhadap
segala aspek kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada
tinggi endahnya kesadaran manusia akan arti penting hutan di dalam pemanfaatan
dan pengelolaan hutan. Hutan menjadi media hubungan timbal balik antara
manusia dan makhluk hidup lainnya dengan faktor-faktor alam yang terdiri dari
proses ekologi dan merupakan suatu kesatuan siklus yang dapat mendukung
kehidupan (Zain, 1996.).

Mengingat pentingnya arti hutan bagi masyarakat, maka peranan dan Fungsi
hutan tersebut perlu dikaji lebih lanjut. Pemanfaatan sumberdaya alam hutan
apabila dilakukan sesuai dengan fungsi yang terkandung di dalamnya, seperti
adanya fungsi lindung, fungsi suaka, fungsi produksi, fungsi wisata dengan
dukungan kemampuan pengembangan sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan
dan teknologi, akan sesuai dengan hasil yang ingin dicapai.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah

1. Bagaimana keadaan hutan di daerah Malang ?

2. Bagaimana cara mengelola hutan kota di Jalan Gresik serta solusi


pengelolaan hutan yang ideal ?

3. Bagaimana langkah sederhana untuk mengurangi perusakan hutan di


daerah Malang ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuannya adalah

1. Mengetahui keadaan hutan di daerah Malang

2. Mengetahui cara mengelola hutan kota di jalan gresik serta pengelolaan


hutan yang ideal

3. Mengetahui langkah sederhana untuk untuk mengurangi perusakan hutan


di daerah Malang

BAB II
DATA

1.

Gambar 1.1 Tanah berdebu dan gersang

2.

Gambar 1.2 Sampah yang berserakan


3.

Gambar 1.3 Pembakaran Sampah di Hutan Kota

4.

Gambar 1.4 Polutan di sekitar hutan sungai


Gambar 1.5 Daun-daun yang mulai mengering

Gambar 1.6 Tidak terlihat hewan yang berkeliaran


BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Keadaan hutan di daerah Malang

Kota malang merupakan kota yang terkenal akan apel malangnya, kota
yang terletak didaerah jawa tengah ini juga dikenal sebagai kota yang sejuk, tapi
taukah anda bahwa sebutan sebagai kota sejuk mulai luntur karena keadaan kota
malang ini sudah tidaklah seperti julukanya tersebut. Bahkan fakta membuktikan
di awal 1970an suhu di kota malang bisa mencapai 18-22 derajat celcius akan
tetapi sekarang suhunya bisa mencapai 30 derajat celcius, hamper sama dengan
suhu kota Jakarta. Sedikitnya 15 ribu hektar dari 127 ribu hektar hutan di
Kabupaten Malang, Jawa Timur, dalam kondisi kritis karena penebangan liar.
(Departemen Kehutanan. 2002)

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Malang, Zen Achmad, luas


hutan rusak itu berkurang setelah pemerintah setempat secara bertahap
merehabilitasi. Awalnya hutan kritis di daerah itu mencapai 35 ribu hektar. "Untuk
mengembalikan lahan hutan kritis ini kita butuh waktu sekitar 10 tahun, dengan
melibatkan berbagai komponen masyarakat di sekitar hutan maupun LSM yang
konsen terhadap lingkungan," katanya di Malang. Ia mengakui, pihaknya tengah
mendata ulang seluruh lahan kritis di wilayah Kabupaten Malang dan hasil
sementara hutan yang kritis itu berada di Kecamatan Gedangan, Pagak, Bantur
dan Kalipare atau wilayah di bagian selatan Kabupaten Malang. Menurut Zen,
kerusakan hutan cukup parah dan tidak terkendali di daerah itu disebabkan adanya
reformasi tahun 1998 lalu, dimana masyarakat menebang pohon dengan cara
membabi buta untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang berakibat terjadinya
bencana tanah longsor dan banjir pada tahun 2007 lalu.

Berdasarkan data yang ada di Dinas Kehutanan Kabupaten Malang, luas


hutan di wilayah itu mencapai 127.089 hektar terdiri dari hutan produksi 44.180
hektare, hutan lindung 46.207 hektare, hutan konservasi 28.811 hektare, dan
taman hutan raya 7.891 hektare. Untuk mengembalikan kondisi hutan yang
tergolong kritis itu, katanya, pihaknya juga telah menanam tanaman keras seperti
mahoni, sengon dan pohon buah-buahan yang umurnya tidak terlalu panjang.

Salah satu hutan kota yang peneliti gunakan untuk observasi yaitu hutan
kota di Jl.Gresik Malang. Disana peneliti mendapati suatu keadaan yang jauh dari
kata rindang dan sejuk sebagai suatu indikator sebuah hutan sebagaimana
mestinya. Banyak sekali kerusakan yang terjadi di tempat diantaranya adalah :
1. Tanah yang berdebu dan gersang

Gambar 2.3.1 Tanah yang berdebu dan gersang


Keadaan ini disebabkan karena kurangnya unsur hara berupa makro mineral
(P,N,K,dan Mg) dan mikro mineral (Zn,Ca,Cu dll) yang sangat dibutuhkan dalam
menjaga kesuburan tanah .

2. Sampah yang berserakan disekitar hutan kota


Gambar 2.3.2 Sampah yang berserakan

Sampah anorganik adalah salah satu penyebab pencemaran tanah . Hal


ini disebabkan karena Sampah anorganik tidak ter-biodegradasi, yang
menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan tidak
tembus air sehingga peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah
hilang dan jumlah mikroorganisme di dalam tanahpun akan berkurang akibatnya
tanaman sulit tumbuh bahkan mati karena tidak memperoleh makanan untuk
berkembang.
3. Pembakaran sampah disekitar hutan kota

Gambar 2.3.3 Pembakaran sampah disekitar hutan kota


Membakar sampah merupakan kegiatan yang mempunyai peranan terjadinya
pencemaran udara. Proses pembakaran sampah walaupun skalanya kecil sangat
berperan dalam menambah jumlah zat pencemar di udara terutama debu dan
hidrokarbon. Zat pencemar tersebut, tidak hanya berbahaya bagi lingkungan tetapi
juga berbahaya langsung terhadap manusia. Polutan yang dihasilkan akibat
pembakaran sampah dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan pemicu kanker
(karsinogenik) dan dampak bagi hutan sendiri yaitu menyebabkan suplai oksigen
yang kurang karena tingginya karbon dioksida sehingga hutan terasa panas.
4. Banyak polutan di sungai sekitar hutan

Gambar 2.3.4 Polutan di sungai sekitar hutan


Polutan yang berada di sungai sekitar sungai ini disebabkan karen
pembuangan bahan-bahan kimia seperti deterjen,sabun mandi disekitar sungai .
Hal ini tentu mengganggu komunitas organisme didalamnya . Dampak pada hutan
itu sendiri adalah suplai air yang diserap oleh tanah menjadi berkurang karena
banyak sekali kandungan zat kimia didalamnya.

5. Daun-daun pohon yang mulai mengering


Gambar 2.3.5 Daun-daun yang mulai mengering
Daun-daun yang mengering ini menunjukkan adanya difesiensi terhadap unsur
makro dan mikro yang diserap oleh tanah. Dapat diindikasikan bahwa tanah
sebagai tempat tumbuhnya adalah tanah yang tidak subur.

6.Kuranganya biodiversitas fauna disekitar hutan

Gambar 2.3.6 Tidak terlihat hewan-hewan yang berkeliaraan


Sejauh mata peneliti memandang tidak ada hewan-hewan hutan yang
berkeliaraan selain dari semut-semut tanah yang berada didalam tanah. Hal ini
menandakan bahwa kerusakan hutan di jalan gresik ini bisa dikatakan kritis.
Karena adanya hewan dapat dijadikan sebuah indikator hutan dapat menjalankan
fungsinya sebagai habitat para hewan.

Dilihat dari keadaan hutan kota di jalan Gresik tersebut, dapat disimpulkan
bahwa cara mengelolanya tidak begitu maksimal yaitu terlihat dari keadaan hutan
kota yang kurang fungsional, antara lain sebagai berikut:

1. Saluran air yang kurang terawat, terlihat dari banyaknya bahan kimia yang
masih menggenang pada permukaan air
2. Pedisterian yang telah rusak disepanjang jalan disamping hutan kota,
terlihat dari paving-paving yang sudah berlubang dan tidak rata lagi
3. Tanah yang terdapat di hutan kota gresik terlihat gersang atau tandus
4. Pohon-pohon sebagian sudah mulai mengalami kerusakan terlihat dari
daun yang telah layu,daun yang mengalami klorosis dan ada beberapa
yang telah ditebang
5. Pengelolaan sampah juga tidak maksimal banyak sekali ditemukan
sampah-sampah plastik berserakan di area dalam hutan atau daerah sekitar
hutan kota
6. Ditemukan banyak bekas pembakaran ranting- ranting pohon di banyak
titik di area hutan kota

3.2 Cara Mengelola Hutan di Hutan Kota di Jl.Gresik serta solusi


pengelolaan hutan yang ideal

Dari keadaan hutan kota yang memprihatinkan atau kurang terawat


tersebut, peneliti mempunyai cara untuk mengelola hutan kota di jalan Gresik

Berikut ini ada beberapa cara mengelola hutan yang baik meliputi :

1. Menurut Hege Karsti Ragnhildstveit, Kepala Divisi Asia-Oceania


Rainforest Foundation Norway (RFN)Perlindungan Hutan Berbasis Hak
(PHBH) adalah pendekatan yang paling efektif untuk menjaga hutan
sekaligus menjadi cara terbaik untuk menghindari kebijakan dan praktik
perlindungan hutan yang melanggar hak asasi manusia. Untuk mengurangi
pengrusakan hutan yang terjadi, dibutuhkan kemauan politik untuk
membentuk dan mengimplementasikan kebijakan tata kelola hutan yang
mengadopsi pendekatan PHBH pada level nasional maupun lokal.
2. Pengelolaan Hutan Sistem Masyarakat
Pada dasarnya masyarakat sekitar hutan lebih mampu mengelola kekayaan
alam yang ada di dalam hutan. Pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh
masyarakat pada umumnya berdasarkan warisan dari Nenek moyang
secara turun temurun, seperti:
a. Budaya adat : dalam pengelolaanya biasaya menganut aturan adat yang
dimiliki, misalnya menanam suatu jenis tanaman yang sesuai dengan
musimnya, menebang pohon yang usianya sudah tua dan telah siap pohon
penggantinya untuk pembuatan rumah , memilih jenis tanaman yang
sesuai dengan kondisi tanah dan iklim yang mendukung.
b. Kearifan lokal : masyarakat pada umumnya percaya pada penghuni
mahkluk gaib disekitarnya yang dipercaya bisa mendatangkan sebuah
bencana jika tidak melakukan ritual, misalnya dengan memberi sesaji,
membakar kemenyan, dan suatu kebiasaan yang harus dilakukanya adalah
sebelum maupun sesudah pengolahan lahan dan pasca panen mereka harus
mengadakan selamatan (jawa,tumpengan) dengan mengundang orang-
orang yang ada di sekitarnya Dan mereka tetap menjaga serta melestarikan
suatu tempat yang dianggap keramat (petilasan/punden).
c. Mempelajari keanekaragaman tanaman hutan : hal ini merupakan
ilmu ilmiah yang diwarisi secara turun temurun yang tidak pernah
ditinggalkan/dilupakan adalah mempelajari jenis-jenis tanaman yang hidup
didalam hutan,mereka pelajari semua tanaman yang berfungsi sebagai
sumber kehidupan alternatif, jenis tanaman yang dipelajari biasanya yang
berfungsi untuk pengobatan tradisional, tanaman yang bisa dimakan,
tanaman yang berfungsi untuk ritual dan juga pohon yang bisa dibuat
untuk rumah dalam jangka waktu puluhan tahun.
d. Pengelolaan hutan : lahan hutan yang dikelola biasanya menggunakan
dengan cara-cara tradisional yang tidak merusak kesuburan tanah dan
habitat disekitarnya,alat-alat yang digunakan juga sangat sederhana,dalam
mengelola lahan hutan mereka menganalisa dampak -dampak yang timbul
dikemudian hari seperti lahan kemiringan dijadikan sebagai hutan
resapan,daerah sekitar sumber air tetap dilestarikan dengan menanam
pohon yang banyak mengandung kadar air dan membuat terasiring
untukmencegah terjadinya erosi.
e. Pemanfaatan fungsi hutan : Secara tidak langsung masyarakat sekitar
hutan telah banyak melakukan langkah-langkah penyelamatan hutan dari
kerusakan yang disebabkan karena proses alam maupun kerusakan yang
disebabkan oleh manusia,pemanfaatan fungsi hutan menurut budaya adat
masyarakat adalah pengelolaan yang secara berkelanjutan dan tetap
terjaganya nilai-nilai budaya lokal dan kearifan lokal.

3. Dengan menggunakan konsep PHL


PHL adalah suatu praktek pengelolaan hutan untuk mendapatkan manfaat
dan nilai-nilai sumberdaya hutan bagi generasi sekarang dengan tidak
mengorbankan produktivitas dan kualitasnya bagi kepentingan generasi yang
akan datang (Hasil UNCED, United Nation Conference on Environment and
Development di Rio de Janeiro, Brasil, 1992) yaitu :
a. Pengelolaan hutan diarahkan untuk penggunaan sumberdaya ekosistem yang
berkelanjutan (sustainable use of ecosystem resources)
b. Pengelolaan hutan bersifat menyeluruh (holistic)
c. Pengelolaan hutan berbasis ekosistem (ecosystem based forest management)
d. Pengelolaan hutan dilakukan berlandaskan perspektif bentang alam (landscape
perspective)
e. Pengelolaan hutan melibatkan partisipasi seluruh pihak terkait (includes
participation of all stakeholders)
f. Pengelolaan hutan berlandaskan pada proses monitoring (based on monitoring
resuls)
g. Pengelolaan hutan bersifat adaptif (adaptive)
h. Pengelolaan hutan berlandaskan ilmu pengetahuan yang logis dan penilaian
yang baik (based on sound science and good judgement)
i. Pengelolaan hutan dilakukan dengan mempertimbangkan pengetahuan, emosi,
dan reaksi moral para pihak dalam pengambilan keputusan (takes cognitive,
emotional and moral reactions into account in decision making proces)
j. Pengelolaan hutan berlandaskan pada prinsip pencegahan dan kehati-hatian
(based on the precautionary principle)

3.3 Langkah Sederhana Untuk Mengurangi Perusakan Hutan


Tempat yang peneliti kunjungi adalah hutan kota di Jl.Gresik Malang.
Disana peneliti mendapati suatu keadaan yang jauh dari kata rindang dan sejuk
sebagai suatu indikator sebuah hutan sebagaimana mestinya.Banyak sekali
kerusakan yang terjadi di tempat diantaranya adalah :

Langkah sederhana yang dilakukan peneliti

1. Melakukan penanaman tumbuhan di kawasan hutan kota di jalan gresik .


Gambar 2.3.7 Melakukan Penanaman Tumbuhan di kawasan hutan
kota
Hal ini dilakukan oleh peneliti karena peneliti merasa prihatin
dengan keadaan hutan kota yang sedikit keanekaragaman tumbuhannya .
Selain itu alasan peneliti menanam tumbuhan tersebut dengan harapan
tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik dan bisa menjadi pensuplai
oksigen di kawasan hutan kota sehingga para pengunjung merasa nyaman
saat berada didaerah tersebut.

2. Memungut sampah-sampah disekitar kawasan hutan kota


Gambar 2.3.8 Melakukan Pemungutan Sampah Plastik

Hal ini dilakukan oleh peneliti sebagai salah satu upaya agar tanah pada
kawasan hutan kota dapat menyerap unsur makro dan mikro mineral dalam
tanah sehingga dengan tercukupinya unsur makro dan mikro mineral tersebut
dapat menjadikan tumbuhan-tumbuhan yang ada dapat melakukan fotosintesis
sehingga suplai oksigen dapat maksimal.

3. Menyirami tumbuhan-tumbuhan di kawasan hutan kota


Gambar 2.3.9 Melakukan Penyiraman Tumbuhan

Hal ini dilakukan oleh peneliti sebagai upaya untuk menambah unsur hara
pada tumbuhan sehingga tumbuhan dapat tumbuh dengan baik dan dapat
menjalankan fungsinya untuk memberikan kemanfaatn bagi makhluk hidup yang
lain

4. Mebuang genangan bahan-bahan kimia di sungai sekitar hutan kota

Hal ini peneliti lakukan agar organisme yang hidup di sungai tersebut
dapat kembali hidup seperti zooplankton dan fitoplankton . Sehingga jika
komponen tersebut telah kembali maka sungai akan mengandung air yang tidak
tercemar dan dapat kembali diserap oleh tanah disekitar hutan tersebut . Sehingga
tanah tidak mengalami difisiensi unsur-unsur essensial yang dibutuhkan tumbuhan
untuk hidup dan menjalankan fungsinya dengan baik.

5. Membuat rancangan hutan kota yang ideal sebagai pensupalai oksigen dan
tempat hidup berbagai macam flora dan fauna
Gambar 2.3.7 Rancangan Hutan Kota dilihat dari perspektif atas

Rancangan ini adalah salah satu bentuk harapan dan perspektif


pengamat kedepan mengenai tata hutan yang ideal. Pada rancangan
tersebut dapat dilihat bahwa banyak sekali tumbuhan hijau yang tumbuh
subur,tidak adanya sampah,sanitasi yang baik,sungai yang turut serta
mendukung dalam kelestariaan hutan karena sudah tidak ada pollutan yang
mencemari hutan tersebut.Selain itu letak hutan yang berseberangan
dengan jalan umum membuat pengamat memperhatikan aksen-aksen yang
dapat meningkatkan daya tarik masyarkat untuk bertandang di kawasan
hutan kota tersebut.

Seperti yang terlihat pada rancangan,terdapat sebuah tempat yang


melingkar. Maksud dari pembuatan tempat tersebut adalah untuk
menjadikanya sebagai prasarana olahraga. Sehingga selain dapat
menikmati kerindangan hutan kota, masyarakat juga dapat bertendang
lebih lama untuk melakukan olahraga. Disini pengamat membuat lapangan
tersebut menjadi multifungsi yaitu dapat digunakan untuk olahraga
voli,sepak bola,serta bulu tangkis.
Gambar 2.3.8 Rancangan Hutan Kota dilihat dari depan

Jika melihat keadaan hutan kota yang disampingnya terdapat


sungai,pengamat ingin membuat jembatan yang dapat digunakan sebagai
penghubung antara satu tempat ke tempat lain sehingga para pengunjung
memiliki ruang gerak yang fleksibel antara satu dengan yang lain

Jika setiap hutan kota dapat menjadi seperti yang dicanangkan


maka Indonesia bisa menjadi eco-city yaitu kota yang pembangunannya
berdasarkan konsep berbasis lingkungan yang sekarang digembor-
gemborkan dikanca internasional.Adapun rancangan yang ingin peneliti
tampilkan yaitu :
Gambar 2.3.9 Rancangan Kota berbasis Eco-City

(kota ramah lingkungan)

Konsep eco-city (kota ramah lingkungan) sebagai gambaran kota masa


depan. Rancangan ini sepenuhnya memanfaatkan teknologi hemat energi dengan
pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga matahari, serta daur ulang air hujan.
Bagian Solarscape-nya akan menjadi pusat keramaian publik yang terletak
di tepi pantai, daerah tersebut akan menampilkan panggung mengambang untuk
acara-acara publik. Sementara Urbanscape yang padat merupakan inti kota dengan
bangunan yang dihubungkan oleh jembatan layang yang akan mengurangi
kebutuhan kemacetan di jalan. Urbanscape ini juga akan memanfaatkan ruang
vertikal.
Lantas, Earthscape akan menjadi area perumahan pinggiran kota.
Arsitekturnya dirancang untuk memaksimalkan ruang publik dan ruang hijau.
Untuk menghidupkan suasana, koridor Windscape kota ini akan dilengkapi sistem
lampu rel yang canggih.Kota ini dijamin perancangnya akan menjadi kota idaman
yang tenang dan sangat peduli pada aspek ekologi.

Dengan adanya rancangan tersebut,pengamat berharap suatu saat dapat


terwujud karena tidak ada satu hal yang tidak mungkin. Oleh karena itu pengamat
berharap dengan adanya mata kuliah pengetahuan lingkungan diharapkan akan
banyak sekali ide-ide kreatif yang muncul dan dapat menerapkan berbagai macam
hal yang berwawaskan lingkungan.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Keadaan hutandi kota Malang yang telah rusak mulai berkurang


setelah pemerintah setempat secara bertahap melakukan
rehabilitasi. Untuk hutan observasi di hutan kota di Jl.Gresik
Malang mendapati suatu keadaan yang jauh dari kata rindang dan
sejuk sebagai suatu indikator sebuah hutan sebagaimana mestinya.
2. Cara pengelolaan dan solusi pengelolaan yang ideal salah satunya
adalah dengan perlindungan Hutan Berbasis Hak (PHBH) dengan
cara pendekatan yang paling efektif untuk menjaga hutan
sekaligus menjadi cara terbaik untuk menghindari kebijakan dan
praktik perlindungan hutan yang melanggar hak asasi manusia,
serta pengelolaan hutan sistem masyarakat

3. Langkah sederhana untuk mengurangi kerusakan hutan adalah


dengan cara melakukan penanaman tumbuhan, melakukan
pemungutan sampah plastik, menyirami tumbuhan-tumbuhan di
kawasan hutan kota,, membuang genangan bahan-bahan kimia di
sungai sekitar hutan kota, membuat rancangan hutan kota yang
ideal.

Saran

1. Semoga masyarakat semakin meningkat kesadarannya dalam


melestarikan hutan yang ada disekitarnya

2. Semoga makin banyak ide-ide kreatif yang dapat disumbangkan


demi terciptanya lingkungan yang ideal
Daftar Pustaka

Departemen Kehutanan. 2002. Peraturan Pemerintah RI No. 34 tahun 2002


tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan,Pemanfaatan
Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan. Jakarta.

Zain, AS. 1996. Hukum lingkungan Konservasi Hutan. Penerbit Rineka


Cipta.Jakarta.

Zain, AS. 1997. Aspek Pembinaan kawasan Hutan dan stratifikasi Hutan Rakyat.

Penerbit Rineka cipta. Jakarta.