Anda di halaman 1dari 9

1.

Strategi Paradigma Kesatuan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Tafasir


Hadits.

Andi Hakim Nasution , Pengantar ke Filsafah Sains, Bogor: Lentera Nusantara, 1998. Buku
yang ditulis mantan rektor ITB ini memulai dengan pembahasan tentang falsafat manusia dan
pengetahuan. Menurutnya , manusia adalah makhluk belajar. Manusia harus berpikir dan
menyebarluaskan ilmunya. Disamping itu, sebagai pewaris Tuhan di bumi ini manusia harus
memiliki keseimbangan berfikir dan berdzikir.

Manusia dan sainsnya masih tetap dirundung berbagai persoalan. Untuk melepaskan diri dari
persoalan dan melaksanakan tanggungjawab sebagai ilmuwan, manusia harus berpegang pada
etika.

Dalam sebuah ilmu juga mempunyai suatu paradigma. Paradigma adalah para yang berasal
dari bahasa Yunani yang berarti (disebelah, disamping, dikenal) dan diegma yang berarti
model teladan ,arketif dan ideal). Adapun yang disebit arketif adalah model atau pola-
polayang mulia, berdasalkan pola asal ini kemudaian dibentuk atau dikembangkan hal yang
baru. Paradigma dalam ilmu pengetahuan juga diartikan model dalam teori atau kerangka
berfikir manusia.

Jika paradigma merupakan kerangka berfikir manusia maka sudah pasti dalam paradigma
tersebut tertuang berbagai macam teori dan pemikiran dalm suatu masalah. Dalam
paradigma suatu ilmu pengetahuan kerangka-kerangka pikir dikembangkan untuk mencapai
sebuah pemahaman yang benar.

Dalam keilmuan tafsir hadits sendiri memerlukan suatu paradigma. Yaitu kerangka berfikir
yang dapat menunjang segala aspek penggalian atau pembelajaran dalam ilmu tafsir al quraan
dan pengkajian hadits. Agar didalamnya tidak terdapat kesimpangsiuran suatu masalah
dengan problamatikan umat manusia.

Menurut Kuntowijoyo, paradigma dimulai dari pemahaman yang bersifat metahistoris,


karena Al Quraan menyediakan kemungkinan untuk dijadikan sebagai cara berfikr atau
paradigma.[1]

Dari situ bisa seorang penafsir atau orang yang mempelajari keilmuan tafsir hadits perlu
sekali menggunakan paradigma Al Quraan. Karena dalam al quraan sudah tertuang segala
macam aspek pembelajaran dan pendalamn kajian ayat-ayat Al Quraan. Strategi dalam
paradigma al Quraan adalah dengan cara pembelajaran tentang cara baca yang benar,
membaca terjemahan ayat-ayat suci al quraan, juga mempelajari tentang bahasa arab (nahwu
dan sorofnya),dan yang terahir mempelajari tentang keilmuan tentang istilah atau qaidah
tafsir dan istilah hadits. Dengan begitu orang yang berkecimpung dalam pembelajaran tafsir
hadits bisa mnjalankan kerangka berfikirnya dalam mengakaji lebih dalam tentang suatu
ayat. Atau yang lebih luasnya lagi adalah mengakji tentang alam semesta. Dikatakn tentang
alam semesta karena didalam al Quraan sendiri telah tertuang di dalamnya tentang misteri
atau intisari dunia.

Mendalami baca dan tulis al Quraan, adalah suatu cara agar seorang bisa mempelajari ilmu
tafsir dan hadits dengan baik. Kareana dalam hal ini seoarang yang mempelajari harus benar-
benar tau bagaimana cara baca dan penulisan yang benar dalam Al Quraan.
Membaca terjemah yang ada bisa merangsang seorang dalam keilmuan ini untuk lebih
mengkaji kebenaran dan misteri al Quraan.

Mempelajari nahwu dan sorof juga menjadi strategi dalam paradigma karana dalam keilmuan
nahwu dan sorof sendiri terdapat sebuah alat untuk mengerti dan memahami kata perkata dan
huruf perhuruf dalam suatu ayat. Semakin mahir dalam nahwu sorof maka akan menciptakan
kerangka pikir seorang yang berkecimpung dalam ilmu tafsir dan hadit semakin luas dan
kokoh dalam kepercayaannya.

Sebagai mana di atas seorang pengkaji ilmu tafsir dan hadits dalam kerangka pikirnya harus
mengetahui kaidah tafsir dan istilah hadits, setiap jengkal dalam suatu urusan hadits
memerlukan pengkajian yang mendalam. Tanpa menguasai hal tersebut pengkajian akan
mentok dan tidak bisa berkembang lebar. Paradigma atau kerangka berfikir seseorang
menjadi tidak terkonsep dan bisa dibilang akan hancur karena tidak adanya kerangka yang
kokoh dalam menjalankannya. Karena suatu paradigma dikerjakan hanya untuk mencapai
pemahaman yang hakiki.

Dalam pembelajaran materi ajar falsafah kesatuan ilmu setrategi tentang pengimplementasian
paradigma ada beberapa macam , antara lain :

1. Humanisasi Ilmu-ilmu Keislaman.

Hal ini yang dimaksud adalah merekonstruksi ilmu-ilmu keislaman agar semakin menyentuh
dan memberi solusi bagi persoalan nyata kehidupan manusia, yang mencakup segala cara dan
upaya untuk memadukan nilai universal islam dengan ilmu pengetahuan modern guna
penungkatan kualitas hidupdan peradaban manusia.[2]

Merekonstruksi disini adalah upaya agar semua ilmu keislaman dapat diterima oleh halayak
ramai. Dan didalamnya mencakup segala segi aspek tentang keilmuan tafsir hadits. Karena
didalam kajian tafsir hadits soerang harus memahami tentang aspek-aspek kehidupan.
Dengan memahaminya orang dapat membuat penyatuan antara keilmuan modern dan
keilmuan agama, yang bagi masyarakat dewasa iniadalah suatu hal yang tidak bisa disatukan.

1. Spiritualisasi Ilmu-Ilmu Modern

Strategi spiritualisasi ilmu-ilmu modern adalah memberikan pijakan nilai-nilai ketuhanan


(ilahiyah) dan etika terhadap ilmu-ilmu sekuler untuk memastikan bahwa pada dasarnya
semua ilmu berorientasi pada penungkatan kualitas/keberlangsungan hidup manusia dan alam
serta penistaan atau perusakan keduanya. Strategi spiritualisasi ilmu-ilmu modern meliputi
segala upaya membangun ilmu pengetahuan baru yang didasarkan pada kesadaran kesatuan
ilmu yang kesemuanya bersumber dari ayat-ayat Allah baik yang diperoleh melalui para
Nabi, eksplorasi akal, maupun eksplorasi alam.[3] Contohnya ayat Al Quran yang
menerangkan tentang penciptaan langit dan bumi, (Q.S Ali Imran : 189-191)

Artinya : Kepunyaan Allah-lah kerajaan Langit dan bumi , dan Allah Maha Perkasa atas
segala sesuatu.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal,

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka
peliharalah kami dari siksa neraka.

Hal tersebut kembali membuat kita mengingat tentang zaman keemasan islam di Spanyol
atau andalusia yang mengembangkan antara ilmu astronomi yang sangat berperan dalam
kelanjutan ilmu astronomi di Eropa sendiri. Kemajuan di sini antara lain adalah
mengembangkan astrolabe dan sekstan, menyiapkan katalog bintang dan tabel untuk
memonitor pergerakan planet, menamakan sekitar 200 bintang dengan nama-nama Arab,
serta mereka berhasil membuktikan bahwa bumi itu bulat, mereka mengukur garis lintang
dan bujur, mendefinisikan lingkar dan diameter bumi, mengukur derajat inklinasi matahari,
memetakan posisi orbit bintang dan planet-planet.

1. Revitalisasi Local Wisdom

Revitalisasi Local Wisdom dalam strategi pengembangan paradigma kesatuan ilmu


pengetahuan ini merupakan penguatan kembali ajaran-ajaran luhur bangsa. Strategi
revitalisasi local wisdom terdiri dari semua usaha untuk tetap pada ajaran luhur budaya local
dan pengembangannya guna penguatan karakter bangsa.

Dari itu semua keterkaitan antara stratrgi paradigma kesatuan ilmu pengetahuan dan tafsir
hadist ada hubungannya yaitu sebagaiman diterangkan dalam Al-Quran dan hadist. Di dalam
Al-Quran telah diterangkan berbagai macam ilmu-ilmu diantaranya adalah ilmu
pengetahuan, cara kita mengetahui ilmu dengan adanya belajar dan membaca dengan
bersungguh-sungguh. Contoh firman Allah yang diterangkan dalam Al-Quran pada surat Al
Alaq yang artinya bacalah, maka dengan membaca kita akan mendapatkan suatu
ilmu walaupun hanya satu huruf, dan dalam hadist juga diterangkan yang artinya
barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan menemukan.

Dan ada juga hadist lain yang berbunyi yang artinya


mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Dengan demikian
mencari ilmu sangatlah penting untuk kita memperoleh ilmu pengetahuan.

1. Integrasi antara Sains dan Tafsir Hadits

Filsafat telah menjadi penafsiran sains dan menyusun hasil-hasil sains , alam dan sosial
kedalam suatu pandangan dunia. Penafsiran ini pada giliranya menentukan arah yang akan
ditempuh sains dalam mangkaji alam. Kedua hal inilah, yaitu penafsiran terhadap pernyataan
dan kesimpulan umum sains, dan pengarahan sains sebagaimana yang disarankan oleh
penafsiran itu, yang harus dinilai secara kritis, karana keduanya telah menghadapkan kita
pada masalh-masalah pelikyang secara umum terus menerus menghadapi kita sepanjang
sejarh aagama dan intelektual kita. Penilaian kita harus mencakup telaah kritis atas :

Metode sains modern

Konsep, anggapan, dan lambang-lambangnya

Aspek-aspek rasional dan empirisnya

Dan hal yang berhubungan dengan nilai etika

Penafsuran terhadap sumber ilmu

Teori tetang asal usul (alam semesta)

Teori ilmu yang diajukanya

Anggapan-anggapanya mengenai eksistensi dunia lahiriah, keseragaman alam,dan


rasionalitas proses-proses alam.

Teorinya tntang alam semsta

Klasifikasi atas cabang-cabang ilmu

Keterbatasan-keterbatasan dan saling berhubungan antara cabang sains yang satu


dengan yang lainya, dan hubunganya dengan masyarakat.[4]
Dalam keilmuan tafsir hadist juga mengkaji tentang keilmuan ilmu-ilmu kealaman, dan
kemasyarakatan. Dan mengakji ilmu tafsir hadits berarti juga mendalami agama. Secara
ontologis obyek setudi ilmu-ilmu agama dan ilmu umum memang dapat dibedakan. Imu
agama mempunyai obyek wahyu, sedangkan ilmu umum mempunyai obyek alam semesta
beserta isinya. Tetapi keduanya sama berasal dari Tuhan ( Alla SWT). Sehingga pada
hakikatnya antara ilmu agama dan ilmu umum ada kaitanya dengan yang lain. Dan
selanjutnya secara epistimologis ilmu-ilmu agama ( Islam ) dibangun dengan pendekatan
normatif, sedangkan ilmu-ilmu umum dibangun dengan pendekatan empiris. Dengan
demikian baik pendekatan normatif ataupun empiris , keduanya digunakan membangun ilmu
agama maupun ilmu umum. Juga secara aksiologis ilmu umum bertujuan meningkatkan
kesejahteraan hidup di dunia, sedangkan ilmu agama bertujuan untuk mensejahterakan
kehidupan umat manusia di duni dan di akhirat. Sehingga ilmu umum perlu diberi sentuhan
ilmu agama sehinggga tidak hanya kebahagiaan dunia yang diperoleh tetapi juga kebahagiaan
di akhirat.

Dan keterkaitan keilmuan tafsir hadits dengan sains adalah sama-sama menkaji tentang ilmu
dunia dan juga ilmu akhirat. Karena memang ilmu dunia (scinces) tidak dapat dipisahkan
meskipun pembelajaranya memang sangat berbeda, keduanya adalah saling menghidupkan
satu dengan yang lainya. Ilmu agama adalah suatu inti dan ilmu dunia adalah pelapis inti. Jadi
semakin lapisanya tebal ilmu agama yang berada didalamnya akan semakin dan menjaga inti
dalamnya agar tidak pecah dan hancur, karena jika dibiarkan inti luarnya saja yang
berkembang maka akan ada satu ruang kosong di dalamnya merupakan kebodohan atau bisa
menjadi bumerang, jika inti dalamnya yang berkmbang inti luarnya tidak maka iinti luar akan
tergerus dan hilang bisa dibilang berarti keilmuan tentang alam semesta ataupun sosialnya
hilang sedangkan dalam agama sendiri diwajibkan menyeimbangkan dengan berinteraksi
dengan Tuhan, makhluk, juga berinteraksi dengan alam. Begituah sains dalam keilmuan tafsir
hadits yang notabene adalah mempelajari tentang pendalaman agama lewat penafsiran ayat al
Quraan dan mengkaji tentang hadits Rosul.

1. Tauhid dan Dialog antar Ilmu Pengetahuan dalam ilmu Tafsir Hadits

Bicara tentang tauhid adalah berbicara tentang suatu keyakinan seorang hamba atas Tuhannya
, mengEsakan Tuhan, mematuhi perintah dan menjauhi laranganya. Tauhid adalah dimana
seorang hamba bersumpah setia lewat musyahadah ,menghambakan diri menjadi makhluk
yang senantiasa menyembah kepadaNya. Tauhid mengajarkan tentang suatu kepercayaan dan
keteguhan pendirian. Seorang yang mendalami tauhid sudahpasti dia memiliki keteguhan
iman dan kekokohan keyakinan terhadap apa yang ia ambil. Setiap langkahnya dan setiap
apa yang ia pelajari selalu ada dalamnya dzat yang selalu ia sembah yaitu Allah. Dan dalam
al Quraan yang menjadi paradigma atau pengembangan kerangka pemikiran sorang muslim
terdapat banyak ayat yang menerangkan ketauhidan antara lain adalah Ayat-ayat yang berisi
pemberitaan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah. Inilah yang biasa dikenal dengan
istilah tauhid al-ilm, al-kabari (tauhid ini telah mencakup tauhid rububiyah dan tauhid
asmawasifat).

Didalam mengenal Allah dan mentauhidkan diri, sering terjadi peerdebatan keilmuan diantara
para ulama islam. Diantaranya adalah pertentangan semisal suatu golongan menganggap
bahwa Al Quraan adalah makhluk dan sebagian lagi menganggap Al Quraan adalah hanya
sebatas kitab suci bukan makhluk. Juga pertentangan keilmuan antara suatu golongan yang
menganggap takdir adalah semua berasal dari Allah dan apapun yang terjadi kepada seorang
manusia adalah takdir Allah dan mereka tidak bisa merubahnya karena golongan ini tidak
menganggap adanya suatu ikhtiar. Bagi mereka ikhtiar tidak pernah terjadi. Dan disini juga
ada golongan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi kepada manusia adalah
atas apa yang mereka lakukan tidak berasal dari siapapun atau Tuhan sekalipun. Juga
pertentangan keilmuan disini ada yang beranggapan bahwa segala sesuatu memang datang
dari Allah sebagai Tuhan pencipta alam. Tetapi, seorang hamba bisa saja merubahnya dalam
ikhttiar.

Dalam keilmuan tafsir hadits hal semacam itu perlu dikaji dan dipahami sebagai keilmuan
yang sudah ada. Karena mereka yang berpendapat demikian dan demikian tidak mungkkin
mengesampingkan sebuah pemikiran dengan dasar yang menurut mereka adalah suatu
kebenaran. Mengkaji suatu ilmu kebenaran dalam Al Quraan adalah hal yang harus dilakukan
, meskipun tidak dipungkiri lagi segala macam ilmu tidak ada dalam al Quraan, contohnya
tentang air, dalam al Quraan dijelaskan hanyalah air sebagai sumber kehidupan umat
manusia tapi di dalam al Quraan tidak diterangkan bagaimana memanfaatkan air sebagai
Sumber Daya Alam yang bisa dimanfaatkan sebagai pengairan, pembangkit listrik, pemutar
kincir, penggerak kipas untuk mengeringkan ladang garam, air sebagai campuran cat , dan
lain sebagainya.

1. Kesatuan ilmu Pengetahuan sebagai Paradigma (humanisasi ilmu-ilmu


keislman) dalam Tafsir Hadits

Kesatuan ilmu adalah pandangan dimana segala sesuatu ilmu yang berada dialam semesta ini
tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Hal tersebut juga bisa disimpulkan
bahwa pengembangan suuatu ilmu berasal dari suatu yang sama. Sehingga ilmuan barat yang
mendalami tentang filsafat ilmu padda masa silam banyak yang menyebutkan bahwa segala
sesuatu ilmu di alam dunia adalah filsafat yang harus membangun seeseorang dalam
kematangan intelektual. Dan filsafat dapan membantu seseorang dalam keagamaan
seandainya ia tidak mencampuradukkan dengan suatu hal dengan pemikiran rasional,
sedangkan dalam agama sendiri adal beberapa hal yang tidak bisa dirasional. Urusan utama
suatu agama adalah harmoni, pengaturan , ikatan, pengabdain ,kejujuran , pembebasan, dan
Tuhan.

Dalam buku Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam Drs. H. Djamaluddin Darwis menjelaskan
bahwa manusia (human) adalah suatu entity yang unik. Keunikannya terletak pada
wujudnya yang multi dimensi dan bahkan untuk penciptaannya pernah didialogkan lebih
dahulu oleh Allah dengan malaikat. Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah
dimuka bumi. (Q.S. Al Baqarah: 30). Oleh karena itu manusia yang diserahi fungsi
pengelola bumi ini dengan sebaik-baiknya menggali dan mengembangkan potensi yang ada
pada dirinyatermasuk mengkaji dirinya sendiri dengan segala aspeknya. Manusia sebagai
objek kajian adalah merupakan suatu hal yang menarik karena selalu saja ada sesuatu yang
misterius, khususnya aspek-aspek internal yang abstrak yang menyangkut psikis dan
spiritualnya.[5]

Berikutnya adalah kesatuan ilmu sebagai paradigma atau humanisasi ilmu keislaman dalam
keilmuan tafsir hadits dapat kita kaitkan dengan humanisasi ilmu keislaman. Humanisasi ilmu
keislaman sendiri disini yang dimaksud adalah merekonstruksi ilmu keislaman agar dapat
diterima oleh akal pikiran manusia jaman sekarang. Mencakup segala cara dan upaya yang
memebri solusi atas problematika masyarakat saat itu. Maka dari itu dalam buku Reformulasi
Filsafat Pendidikan Islam Drs. H. Djamaluddin Darwis menjelaskan bahwa untuk itulah
antara lain Al Quran diturunkannya yaitu memberikan klasifikasi dan tuntunan baik tersirat
maupun tersurat tentang problematika manusia sebagai objek kajian. Demikian fungsi yang
diperankan manusia dapat dilaksanakan sebaik mungkin sehingga wajah islam yang
Rahmatan lil alamin .[6]

1. Paradigma Kesatuan Ilmu dalam Tafsir Hadits

Paradigma berasal dari bahasa latin para dan deigma. para berarti disisi, disamping dan
deigma berarti contoh, pola, model. Sedangkan deigma dalam bentuk kata kerja deiknynai
berarti menunjukkan atau mepertunjukkan sesuatu. Dengan begitu, secara
epistimologis,paradigma berarti disisi model, disamping pola atau disisi contoh. Paradigma
berarti teori-teori, metode-metode, fakta-fakta, eksperimen-eksperimen yang telah disepakati
bersama dan menjadi pegangan bagi aktivitas ilmiah para ilmuwan[7]. Paradigma ini telah
dipraktikkan oleh para ilmuwan muslim klasik seperti ibnu sina, al-kini, dan al-farabi.
Mereka mempelajari ilmu-ilmu yunani yang lebih menekankan logoskontemplatif non
eksperimental. Mereka mempelajarai berbagai ilmu , mendalami ilmu kalam, ilmu aql,dan
naqliyah, serta mendalami al quraan. Setelah mereka mendalami suatu ilmu maka mereka
segera mendiskusikannya.

Prof. Dr. Achmadi mengatakan bahwa Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan dan
pembelajaran adalah tabii (pembawaan) manusia karena adanya kesanggupan berfikir.
Secara teologis, mencari dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan yang merupakan
implementasi fitrah keingintahuan itu pada hakikatnya proses identifikasi diri dengan asmaul
husna ( Allah Yang Maha Tahu). Dengan identifikasi tersebut berarti manusia telah
mempersiapkan diri untuk menunaikan amanah kekhalifahannya.[8]

Paradigma kesatuan ilmu pengetahuan dalam Tafsir Hadits dapat kita kaitkan dengan ayat Al
Quran yang terdapat dalam Q.S Al Hajj ayat 54 yang berbunyi :

Artinya: dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran
itulah yang haq dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan
sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan
yang lurus.

Artinya :sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah dari hambanya adalah ulama
(orang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha pengampun (Fathir :28)

Membahas hubungan antara ilmu pengetahuan dan Al-Quran bukan hanya dengan melihat,
misalnya, adakah teori pembahasan tentang luar angkasa, ilmu computer tercantum dalam Al-
Quran tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi
kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya serta adakah satu ayat Al-Quran yang
bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan? Dengan kata lain
meletakkanya pada posisi (psikologi sosial) anggaplah dari setiap ayat dari ke 6.666 ayat
yang tercantum dalam Al-Quran (menurut perhitungan para ulama) mengandung suatu
teori ilmiyah ,kemudian apa hasilnya?

Apakah keuntungan yang di peroleh dengan mengtahui teori-teori tersebut bila masyarakat
tidak di beri hidayah atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan
hal-hal yang dapat menghambatnya?

Kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan apa yang di persembahkannya
kepada masyarakat, tetapi juga di ukur dengan wujudnya suatu iklim yang dapat mendorong
kemajuan ilmu pengetahuan itu.

Di dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk memperkenalkan akal


pikiran dalam mencapai hasil . salah satu factor yang menghalangi perkembangan ilmu
pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri. pandangan yang menganggap Al-Quan
sebagai sebuah sumber ilmu pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru sebab kita
mendapati banyak ulama besar kaum muslim terdahulu pun berpandangan demikian, kami
yakin Al-Quran sebagai sebuah sumber seluruh pengetahuan.

Ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab kita mendapati banyak ulama besar kaum muslim
terdahulu berpandangan demikian kami yakin bahwa Al-Quran merupakan kitab petunjuk
bagi kemajuan manusia, dan mencakup saja yang diperlukan manusia dalam wilayah iman
dan amaliah.

Kami tidak memandangnya sebagai ensiklopedi dan hubungan semua ilmu kami juga yakin
bahwa semua ilmu membuat pemahaman atas risalah-risalah Al-Quran tertentu lebih mudah
misalnya: Tidaklah mereka yang kafir itu melihat bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu
suatu yang padu. Kemudian kami pisahkan antara keduanya, dan dari air kami jadikan
segakla sesuatu yang hidup (QS. 21:30)

[1] Prof. Dr. H. Jalaluddin, falsafah ilmu pengetahuan ,Jakarta (PT. Raja Grafindo,) hal. 248

[2] Materi Falsafat Kesatuan Ilmu, hal 53

[3] Buku Materi Falsafat Kesatuan Ilmu, hal 63

[4] Syed Muhammad Naquib al Atas, Islam dan Falsafat sains (Mizan,jakarta,1995) hal.25

[5] Prof. Dr. H. Ahmadi Ludjito, dkk, Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta :
PUSTAKA PELAJAR, 1996) hal 99

[6] Prof. Dr. H. Ahmadi Ludjito, dkk, Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta :
PUSTAKA PELAJAR, 1996) hal 99

[7] Thomas S. Kuhn, The structure of scientific revolutions (Herndon : the university of
Chicago press, 1970) hlm. 65
[8] Prof. Dr. Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam,(Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR, 2005)
hal 125