Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

IAS 16 PROPERTY, PLANT AND EQUIPMENT

Nama : Fajar Noerakbar


NIM : 1511060097
Kelas : AK B 6202

ABFI Perbanas Institute Jakarta


Jl. Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940
1. PENDAHULUAN

Tujuan dari Standar ini adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk properti, pabrik

dan peralatan sehingga bahwa pengguna laporan keuangan dapat memahami informasi mengenai

investasi entitas di properti, pabrik dan peralatan dan perubahan dalam investasi tersebut. Isu-isu

utama dalam akuntansi untuk properti, pabrik dan peralatan adalah pengakuan aset, penentuan

jumlah tercatat dan biaya penyusutan dan kerugian penurunan nilai diakui terkait aset tersebut.

2. RUANG LINGKUP

Standar ini tidak berlaku pada:

a. property, plant and equipment yang diklasifikasikan sebagai held for sale sehubungan

dengan IFRS 5 Non-current Assets Held for Sale and Discontinued Operations;
b. biological assets related to agricultural activity (see IAS 41 Agriculture);
c. pengakuan dan pengukuran aset eksplorasi dan evaluasi (lihat IFRS 6 Exploration untuk

dan Evaluasi Sumber Daya Mineral); atau


d. hak mineral dan cadangan mineral seperti minyak, gas alam dan sumber daya yang sama

non-regenerative

Akan tetapi, standar ini berlaku bagi property, pabrik dan peralatan yang digunakan dalam me-

maintain aset yang dijelaskan pada poin b-d di atas.

Standar lainnya mungkin memerlukan pengakuan dari suatu aset tetap berdasarkan pada

pendekatan berbeda dari yang di Standard ini. Sebagai contoh, IAS 17 Sewa membutuhkan suatu

entitas untuk mengevaluasi pengakuan dari item disewakan properti, pabrik dan peralatan atas

dasar transfer risiko dan manfaat. Namun, dalam kasus seperti aspek lain dari perlakuan

akuntansi untuk aset ini, termasuk depresiasi, yang diresepkan Standard ini.

3. PENGAKUAN
Cost dari properti, pabrik dan peralatan harus diakui sebagai aset jika:

a. besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut

akan mengalir ke entitas; dan


b. biaya aset dapat diukur secara andal

Suku cadang dan peralatan servis biasanya dilakukan sebagai persediaan dan diakui

dalam laporan laba rugi sebagai dikonsumsi. Namun, suku cadang utama dan standby peralatan

memenuhi syarat sebagai properti, pabrik dan peralatan ketika entitas mengharapkan untuk

menggunakannya selama lebih dari satu periode. Demikian pula, jika suku cadang dan servis

peralatan hanya dapat digunakan sehubungan dengan suatu aset tetap, mereka dicatat untuk

sebagai properti, pabrik dan peralatan.

Standar ini tidak menetapkan satuan ukuran untuk pengakuan, yaitu apa yang merupakan

suatu aset, pabrik dan peralatan. Dengan demikian, penilaian diperlukan dalam menerapkan

kriteria pengakuan untuk spesifik entitas keadaan. Mungkin tepat untuk agregat item individual

tidak signifikan, seperti cetakan, alat dan meninggal, dan untuk menerapkan kriteria untuk nilai

agregat.

Entitas mengevaluasi sesuai prinsip pengakuan ini bahwa semua biaya properti, pabrik

dan peralatan yang pada saat itu terjadinya. Biaya ini meliputi biaya yang dikeluarkan awalnya

untuk memperoleh atau membangun suatu aset, tetap dan biaya yang dikeluarkan kemudian

untuk menambah, mengganti bagian dari, atau layanan itu.

4. PENGUKURAN PADA SAAT PENGAKUAN

Suatu aset tetap yang memenuhi syarat untuk pengakuan sebagai aset harus diukur pada

biaya.

Biaya suatu aset tetap terdiri:


a) harga pembelian, termasuk bea impor dan pajak pembelian non-dikembalikan, setelah

dikurangi diskon perdagangan dan rabat.


b) biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan

kondisi yang diperlukan untuk itu untuk mampu beroperasi dengan cara yang

dimaksudkan oleh manajemen.


c) estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi tempat

dimana aset tersebut terletak, kewajiban yang biaya tersebut timbul ketika aset tersebut

diperoleh atau sebagai konsekuensi dari penggunaan aset tersebut selama periode tertentu

untuk tujuan selain untuk menghasilkan persediaan selama periode itu.

Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung:

a) Biaya imbalan kerja (sebagaimana didefinisikan dalam IAS 19 Imbalan Kerja) yang

timbul secara langsung dari konstruksi atau akuisisi item properti, pabrik dan peralatan.
b) costs of site preparation
c) initial delivery and handling costs
d) installation and assembly costs
e) biaya pengujian apakah aset tersebut berfungsi dengan baik, setelah dikurangi dengan

penerimaan bersih dari menjual item diproduksi sambil membawa aset ke lokasi dan

kondisi (seperti sampel diproduksi ketika pengujian peralatan); dan


f) honor professional

Contoh biaya yang tidak termasuk dalam biaya aset tetap adalah:

a) biaya pembukaan fasilitas baru;


b) Biaya memperkenalkan produk baru atau jasa (termasuk biaya iklan dan kegiatan

promosi);
c) biaya melakukan bisnis di lokasi baru atau dengan kelas baru pelanggan (termasuk biaya

pelatihan staf); dan


d) administrasi dan biaya overhead umum lainnya.

Pengakuan biaya dalam jumlah tercatat suatu aset tetap dihentikan pada saat item di

lokasi dan kondisi yang diperlukan untuk itu untuk mampu beroperasi dengan cara yang
dimaksudkan oleh pengelolaan. Oleh karena itu, biaya yang dikeluarkan dalam menggunakan

atau redeploying item tidak termasuk dalam dukung jumlah item. Sebagai contoh, biaya berikut

ini tidak termasuk dalam jumlah tercatat pada item properti, pabrik dan peralatan:

a. biaya yang muncul ketika item yang beroperasi dengan cara yang dimaksudkan oleh

manajemen belum akan mulai digunakan atau dioperasikan kurang dari kapasitas penuh.
b. kerugian operasional awal, seperti yang terjadi saat permintaan untuk output item

membangun; dan
c. biaya relokasi atau mengorganisir sebagian atau seluruh operasi entitas.

5. PENGUKURAN HARGA PEROLEHAN

Biaya suatu aset tetap adalah setara harga tunai pada tanggal pengakuan. Jika pembayaran

ditangguhkan melampaui persyaratan kredit normal, perbedaan antara harga setara kas dan total

pembayaran diakui sebagai bunga selama periode kredit kecuali bunga tersebut dikapitalisasi

sesuai dengan IAS 23.

Entitas menentukan apakah transaksi pertukaran memiliki substansi komersial dengan

mempertimbangkan sejauh yang arus kas masa depan diharapkan untuk mengubah sebagai

akibat dari transaksi. Transaksi pertukaran memiliki substansi komersial jika:

a. konfigurasi (resiko, waktu, dan jumlah) dari arus kas dari aset yang diterima berbeda dari

konfigurasi dari arus kas dari aset yang ditransfer; atau


b. nilai-entitas tertentu dari bagian operasi entitas dipengaruhi oleh perubahan transaksi

sebagai hasil dari pertukaran; dan


c. perbedaan (a) atau (b) relatif signifikan terhadap nilai wajar aset ditukar.

Aset tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda dan dari masing-masing

cara perolehan tersebut akan mempengaruhi penentuan harga perolehan aset tetap. Berikut ini

adalah beberapa cara perolehan dari aset tetap.

a. Pembelian Tunai
Pembelian ini terdiri dari pembelian tunai tanpa potongan dan pembelian tunai dengan

potongan (cash discount). Pada pembelian tunai tanpa potongan aset diperoleh sebesar harga

perolehan aset ditambah dengan biaya-biaya lain. Biaya-biaya lain yang membuat barang

tersebut tiba di lokasi dan pada kondisi yang diperlukan untuk penggunaan sesuai dengan

tujuannya. Biaya tersebut terdiri dari harga tunai dari penjual ditambah biaya seperti biaya

angkut, biaya asuransi dalam perjalanan, biaya pengukuhan hak milik, biaya instalasi, dan biaya

percobaan.

Ilustrasi 5.1 Dibeli tunai mesin seharga Rp 90.000.000. biaya angkut Rp 1.000.000 dan biaya

instalasi Rp 800.000. Dari transaksi tersebut, maka biaya perolehan mesin tersebut dapat

dihitung sebagai berikut:

Harga beli Rp 90.000.000

Biaya angkut Rp 1.000.000

Biaya Instalasi Rp 800.000 +

Biaya perolehan Rp 91.800.000

Ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Mesin Rp 91.800.000

(K) Kas Rp 91.800.000

Pada pembelian tunai dengan potongan (cash discount) potongan itu sendiri dapat mengurangi

biaya perolehan aset tetap tersebut. Potongan ini biasanya diberikan kepada perusahaan yang

melakukan pembayaran tunai sebelum tanggal pelunasan yang ditentukan oleh penjual atau

karena perusahaan membayarkan seluruh biaya untuk aset tetap tersebut tunai pada saat

pembelian.
Ilustrasi 5.2 PT Siliwangi membeli mesin seharga Rp 100.000.000. biaya angkut Rp 900.000

biaya asuransi Rp 500.000 dan biaya instalasi Rp 800.000. karena perusahaan membayarkan

seluruhnya tunai dan sekaligus maka pihak penjual memberikan potongan sebesar 5% dari total

harga. Dari transaksi tersebut, maka biaya perolehan mesin tersebut dapat dihitung sebagai

berikut:

Harga beli Rp 100.000.000

Biaya angkut Rp 900.000

Biaya asuransi Rp 500.000

Biaya Instalasi Rp 800.000 +

Biaya perolehan Rp 102.200.000

Potongan (Rp 5.110.000 )

Total Rp 97.090.000

Ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Mesin Rp 97.090.000

(K) Kas Rp 97.090.000

b. Pembelian Angsuran

Ada kalanya aset tetap di peroleh dengan cara pembelian angsuran. Dalam hal demikian,

kontrak pembelian dapat menyebutkan bahwa pembayaran dapat dilakukan dalam sekian kali

angsuran. Harga perolehan aset tidak boleh termasuk bunga. Bunga selama masa angsuran baik

yang jelas-jelas dinyatakan dalam kontrak maupun tidak dinyatakan tersendiri, harus dikeluarkan

dari harga perolehan dan dibebankan sebagai beban bunga.


Ilustrasi 5.3 Suatu kendaraan dibeli dengan harga Rp 150.000.000. jumlah ini akan dibayar

selama 5 kali angsuran bulanan dan terhadap saldo yang belum dibayar, perusahaan dibebani

bunga sebesar 10% setahun.

Ayat jurnal yang dibuat pada waktu pembelian adalah:

(D) Kendaraan Rp 150.000.000

(K) Utang Angsuran Rp 150.000.000

Pada waktu membayar angsuran pertama, jumlah yang harus dibayar dihitung:

Angsuran Bulanan Rp 150.000.000 5 Rp 30.000.000

Bunga selama sebulan untuk saldo yang belum

dibayar 1/12 x 10% x Rp 150.000.000 Rp 1.250.000

Jumlah yang harus dibayar Rp 31.250.000

Ayat jurnal yang harus dibuat untuk pembayaran ini adalah sebagai berikut:

(D) Utang Angsuran Rp 30.000.000

(D) Beban bunga Rp 1.250.000

(K) Kas Rp 31.250.000

Angsuran kedua terdiri dari angsuran pokok bulanan sebesar Rp 30.000.000 ditambah bunga

selama satu bulan atas saldo utang yang belum dibayar, dengan perhitungan sebagai berikut:

Angsuran bulanan Rp 150.000.000 5 Rp 30.000.000

Bunga selama sebulan untuk saldo yang belum dibayar

1/12 x 10% x (Rp 150.000.000 Rp 30.000.000) Rp 1.000.000

Jumlah yang harus dibayar Rp 31.000.000

Ayat jurnal yang harus dibuat untuk angsuran kedua adalah sebagai berikut:

(D) Utang Angsuran Rp 30.000.000


(D) Beban bunga Rp 1.000.000

(K) Kas Rp 31.000.000

Proses perhitungan, pembayaran, dan pencatatan angsuran seperti di atas akan berulang setiap

bulan sampai semua utang angsuran telah dibayar.

c. Pembelian Secara Gabungan (Lumpsum)

Perusahaan dapat memperoleh aset tetap secara gabungan, dan membayar satu harga

untuk aset tetap gabungan tersebut. Dalam hal ini, biaya perolehan aset tetap tersebut harus

dialokasikan ke masing-masing jenis aset, karena tiap aset mempunyai masa manfaat yang

berbeda dan perlu disusutkan secara terpisah. Harga perolehan dari setiap aset tetap yang

diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut

berdasarkan perbandingan nilai wajar aset. Ilustrasi 5.4. Perusahaan membeli bangunan,

kendaraan, dan peralatan dengan total biaya Rp 2.300.000.000. Estimasi nilai wajar dari masing-

masing aset sebagai berikut:

Bangunan Rp 1.200.000.000

Kendaraan Rp 800.000.000

Peralatan Rp 500.000.000

Total Rp 2.500.000.000

Total harga perolehan sebesar Rp 2.300.000.000 dialokasikan sebagai berikut:

Bangunan 1.200 2.500 x Rp 2.300.000.000 = Rp 1.104.000.000

Kendaraan 800 2.500 x Rp 2.300.000.000 = Rp 736.000.000

Peralatan 500 2.500 x Rp 2.300.000.000 = Rp 460.000.000

Total Rp 2.300.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat pembelian secara gabungan tersebut adalah:


(D) Bangunan Rp 1.104.000.000

(D) Kendaraan Rp 736.000.000

(D) Peralatan Rp 460.000.000

(K) Kas Rp 2.300.000.000

d. Pertukaran Aset Tetap

Aset tetap dapat diperoleh dengan cara pertukaran dengan aset nonmoneter atau

kombinasi aset moneter dan nonmoneter. Dalam PSAK No. 16 (2012) dijelaskan bahwa biaya

perolehan aset tetap tersebut diukur pada nilai wajar kecuali:

a. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau

b. Nilai wajar aset yang diterima dan yang diserahkan tidak dapat diukur secara andal.

Jika aset yang diperoleh tidak dapat diukur pada nilai wajar, maka biaya perolehannya

diukur pada jumlah tercatat aset yang diserahkan. Entitas menentukan apakah pertukaran

memiliki substansi komersial dengan mempertimbangkan sejauh mana arus kas masa depan yang

diharapkan dapat berubah sebagai akibat dari transaksi tersebut. Suatu transaksi pertukaran

memiliki substansi komersial jika:

a. Konfigurasi (risiko, waktu, dan jumlah) arus kas dari aset yang diterima berbeda dengan

konfigurasi arus kas dari aset yang diserahkan; atau

b. Nilai spesifik entitas dari bagian operasi entitas yang terpengaruh oleh transaksi berubah

sebagai akibat dari pertukaran; dan

c. Selisih di (a) atau (b) adalah relatif siginifikan terhadap nilai wajar dari aset yang

dipertukarkan.

Penggunaan nilai wajar akan mengakibatkan pengakuan keuntungan atau kerugian pada

saat terjadinya pertukaran. Entitas harus menghitung total keuntungan atau kerugian dari
transaksi pertukaran tersebut, yaitu selisih antara nilai wajar aset yang diberikan dan nilai buku

yang diberikan. Jika hasil dari transaksi pertukaran tersebut adalah kerugian maka kerugian

tersebut harus diakui seluruhnya, dan jika hasil dari transaksi pertukaran tersebut adalah

keuntungan maka entitas harus menentukan apakah keuntungan dan pertukaran tersebut memiliki

substansi komersial atau tidak.

1. Jika keuntungan dan pertukaran mempunyai substansi komersial, maka seluruh

keuntungan diakui (aset yang tidak sama).

2. Jika keuntungan dan pertukaran tidak mempunyai substansi komersial.

a) dan tidak ada kas yang dilibatkan, tidak ada keuntungan yang diakui.

b) dan sejumlah kas diberikan, tidak ada keuntungan yang diakui.

c) dan sejumlah kas diterima, bagian dari keuntungan berikut diakui:

Kas yang diterima


x Total Keuntungan
Kas yang dite r ima+Nilai aset lain yang diterima

Jika kas adalah 25% atau lebih besar daripada nilai wajar pertukaran, maka seluruh

keuntungan harus diakui.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai jenis-jenis transaksi pertukaran aset yang

berbeda, berikut ini akan dibahas berbagai situasi kerugian dan keuntungan dari pertukaran aset.

Ilustrasi 5.5. Pertukaran Situasi Kerugian

Perusahaan menukarkan kendaraan bekasnya dengan model yang lebih baru. Kendaraan bekas

yang ditukarkan memiliki nilai buku Rp 35.000.000 (biaya perolehan Rp 50.000.000 dikurang

akumulasi penyusutan Rp 15.000.000) dan nilai wajar sebesar Rp 30.000.000. Kendaraan

tersebut ditukar dengan model baru seharga Rp 55.000.000.


Perhitungan jumlah yang harus dibayar dan kerugian atas pertukaran kendaraan bekas

adalah sebagai berikut:

Jumlah yang harus dibayar:

Harga kendaraan baru Rp 55.000.000

Nilai tukar kendaraan lama (Rp 30.000.000)

Jumlah yang harus dibayar Rp 25.000.000

Kerugian atas pertukaran kendaraan bekas:

Nilai wajar kendaraan bekas Rp 30.000.000

Nilai buku kendaraan bekas (Rp 35.000.000)

Kerugian atas pertukaran Rp 5.000.000

Ayat jurnal yang dibuat untuk transaksi tersebut adalah:

(D) Kendaraan Rp 55.000.000

(D) Akumulasi Penyusutan Rp 15.000.000

(D) Kerugian atas pertukaran aset Rp 5.000.000

(K) Kendaraan Rp 50.000.000

(K) Kas Rp 25.000.000

Ilustrasi 5.6. Pertukaran Situasi Keuntungan yang Mempunyai Substansi Komersial

Perusahaan menukarkan sejumlah mesin bekas dengan tanah seharga Rp. 100.000.000. Mesin

bekas yang ditukarkan memiliki nilai buku Rp 45.000.000 (biaya perolehan sebesar Rp

60.000.000 dikurang akumulasi penyusutan sebesar Rp 15.000.000) dengan nilai wajar Rp

52.000.000.

Perhitungan jumlah yang harus dibayar dan keuntungan dari pertukaran tersebut adalah:
Jumlah yang harus dibayar:

Harga tanah Rp 100.000.000

Nilai tukar mesin (Rp 52.000.000)

Jumlah yang harus dibayar Rp 48.000.000

Keuntungan atas pertukaran mesin:

Nilai tukar mesin Rp 52.000.000

Nilai buku mesin (Rp 45.000.000)

Keuntungan dari pertukaran Rp 7.000.000

Ayat jurnal yang dibuat untuk transaksi pertukaran tersebut sebagai berikut:

(D) Tanah Rp 100.000.000

(D) Akumulasi Penyusutan Rp 15.000.000

(K) Mesin Rp 60.000.000

(K) Kas Rp 48.000.000

(K) Keuntungan atas pertukaran aset Rp 7.000.000

Ilustrasi 5.7. Pertukaran Situasi Keuntungan yang Tidak Memiliki Substansi Komersial dan

Tidak Ada Kas yang Diterima

Perusahaan memperoleh mesin baru dengan menukarkan mesin lama yang memiliki nilai wajar

Rp 45.000.000. Nilai buku mesin tersebut adalah Rp 40.000.000 (biaya perolehan Rp 60.000.000

dikurang akumulasi Rp 20.000.000). perusahaan juga harus membayar tunai Rp 10.000.000

untuk mesin baru tersebut. Perhitungan biaya mesin baru dan keuntungan dari pertukaran ini

adalah:

Nilai wajar mesin baru (Rp 45.000.000 + Rp 10.000.000) Rp 55.000.000


Keuntungan yang ditangguhkan (Rp 5.000.000)

Dasar mesin baru Rp 50.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat transaksi pertukaran tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Mesin baru Rp 50.000.000

(D) Akumulasi penyusutan Rp 20.000.000

(K) Mesin lama Rp 60.000.000

(K) Kas Rp 10.000.000

Transaksi pertukaraan tersebut tidak memiliki substansi komersial karena tidak terjadi perubahan

yang signifikan terhadap posisi ekonomi perusahaan akibat pertukaran tersebut. Maka,

perusahaan tidak mengakui atau menangguhkan keuntungan sebesar Rp 5.000.000 dari

pertukaran yang terjadi.

Ilustrasi 5.8. Pertukaran Situasi Keuntungan yang Tidak Memiliki Substansi komersial dan

Sejumlah Kas Diterima

Perusahaan menukarkan truk bekas yang mempunyai nilai buku Rp 60.000.000 (biaya perolehan

Rp 100.000.000 dikurang akumulasi Rp 40.000.000) dan nilai wajar Rp 90.000.000. Dalam

pertukaran tersebut perusahaan menerima sebuah truk baru dengan nilai wajar Rp 75.000.000

ditambah kas sebesar Rp 15.000.000.

Perhitungan keuntungan total dari pertukaran adalah sebagai berikut:

Nilai wajar truk bekas Rp 90.000.000

Nilai buku kendaraan bekas (Rp 60.000.000)

Keuntungan total Rp 30.000.000

Pada umumnya ketika sebuah transaksi pertukaran yang tidak memiliki substansi komersial,

perusahaan tidak mengakui atau menangguhkan setiap keuntungan. Namun, karena pada kasus
ini perusahaan menerima uang tunai sebesar Rp 15.000.000. Maka, perusahaan mengakui

sebagai keuntungan. Bagian keuntungan yang diakui perusahaan adalah rasio moneter

dibandingkan dengan nilai total yang diterima. Perhitungan bagian keuntungan perusahaan

adalah sebagai berikut:

Kas yang diterima


x Total Keuntungan
Kas yang dite r ima+Nilai aset lain yang diterima

Rp 15 .000.000
x Rp 30.000.000 = Rp 5.000.000
Rp 15.000.000 + Rp 75.000.000

Karena perusahaan hanya mengakui keuntungan sebesar Rp 5.000.000 dari transaksi pertukaran

ini, maka perusahaan menangguhkan sisanya sebesar Rp 25.000.000 (Rp 30.000.000Rp

5.000.000) dan mengurangi biaya yang dicatat truk baru.

Berikut ini adalah perhitungan biaya truk baru:

Nilai wajar truk baru Rp 75.000.000

Keuntungan yang ditangguhkan (Rp 25.000.000)

Biaya truk baru Rp 50.000.0000

Ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi pertukaran ini sebagai berikut:

(D) Kas Rp 15.000.000

(D) Truk Rp 50.000.000

(D) Akumulasi Penyusutan Rp 40.000.000

(K) Truk lama Rp 100.000.000

(K) Keuntungan atas pertukaran aset Rp 5.000.000

e. Diperoleh dengan menerbitkan saham


Menurut Kieso dkk (2011:523) properti diperoleh perusahaan melalui penerbitan

sekuritas seperti saham biasa, maka biaya property itu tidak dapat diukur secara tepat dengan

nilai pari atau nilai yang ditetapkan saham tersebut. Jika saham sedang diperdagangkan secara

aktif, maka nilai pasar saham yang diterbitkan merupakan indikasi yang wajar atas biaya properti

yang diperolehan. Saham merupakan ukuran yang baik atas harga ekuivalen kas berjalan.

Ilustrasi 5.9. Perusahaan Bumi Cipta Persada membeli tanah dengan membayar tunai atas tanah

tersebut dan perusahaan menerbitkan saham 500.000 lembar saham biasa kepada Perusahaan

Dreamland dengan nilai pari Rp 1000 yang memiliki nilai pasar wajar Rp 1200/saham. Berikut

ini adalah jurnal untuk mencatat transaksi penerbitan saham tersebut:

(D) Tanah (500.000 x Rp 1200) Rp 600.000.000

(K) Saham Biasa Rp 500.000.000

(K) Tambahan Modal Disetor ` Rp 100.000.000

f. Hibah atau sumbangan

Dalam hal ini ketika aset tetap diperoleh melalui sumbangan atau hibah, tidak ada biaya

yang dapat digunakan sebagai dasar perhitungannya. Pada hibah yang berkaitan dengan aset

tetap, maka baik hibah maupun aset tetap yang diterima harus dicatat pada nilai wajar.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 dijelaskan bahwa, nilai

tercatat aset tetap dapat dikurangi dengan hibah pemerintah sesuai dengan PSAK 61.

Berdasarkan PSAK No. 61 (2012) paragraf 02 menjelaskan bahwa:

hibah yang terkait dengan aset adalah hibah pemerintah yang kondisi utamanya

adalah bahwa entitas yang memenuhi syarat harus melakukan pembelian, membangun atau

membeli aset jangka panjang. Kondisi tambahan mungkin juga ditetapkan dengan membatasi

jenis atau lokasi aset atau periode aset tersebut diperoleh atau dimiliki
Hibah pemerintah diakui jika terdapat keyakinan memadai:

1. Entitas akan mematuhi kondisi yang melekat pada hibah tersebut, dan

2. Hibah akan diterima

Hibah yang diterima akan dicatat sebagai pendapatan selama periode berkaitan dengan

penggunaan hibah tersebut. Hibah yang diterima berkaitan dengan aset tetap, diakui sebagai

pendapatan selama umur manfaat aset tetap tersebut dan diakui secara profesional sejalan dengan

penyusutan aset tetap yang bersangkutan.

Ilustrasi 5.10. Perusahaan mendapat mesin dari pemerintah sebagai hibah dengan nilai wajar

sebesar Rp 250.000.000 atas usaha perusahaan menemukan inovasi baru dalam meningkatkan

kualitas tanaman karet. Ayat jurnal yang dibuat perusahaan pada saat menerima hibah sebagai

berikut:

(D) Mesin Hibah Rp 250.000.000

(K) Pendapatan Hibah Rp 250.000.000

g. Aset tetap yang dibangun sendiri

Suatu perusahaan mungkin mebuat sendiri aset tetap yang diperlukan seperti gedung,

perlatan atau mesin yang akan digunakan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Pembuatan aset

tetap ini biasanya bertujuan untuk menekan biaya operasional perusahaan dengan memanfaat

fasilitas yang tidak terpakai dengan harapan untuk mendapatkan mutu yang lebih baik.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 paragraf 22 menjelaskan bahwa:

biaya perolehan suatu aset yang dikonstruksi sendiri ditentukan dengan menggunakan
prinsip yang sama sebagaimana aset yang diperoleh bukan dengan konstruksi sendiri. Jika entitas
membuat aset serupa untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, biaya perolehan aset biasanya
sama dengan biaya konstruksi aset untuk dijual. Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya
perolehan maka setiap laba internal dieleminasi. Serupa dengan hal tersebut, jumlah tidak normal
dari biaya pemborosan yang terjadi dalam pemakaian bahan baku, tenaga kerja, atau sumber
daya lain dalam aset yang dikonstruksi sendiri tidak termasuk biaya perolehan aset tersebut
Ilustrasi 5.11. Perusahaan menggunakan jasa perusahaan kontruksi untuk membangun sebuah

gedung. Nilai kontrak pembangunan gedung tersebut adalah Rp 1.000.000.000 dengan uang

muka sebesar Rp 200.000.000 dan syarat pembayaran bertahap. Berikut adalah rincian

pembayaran yang dilakukan perusahaan:

Pembayaran I Rp 200.000.000

Pembayaran II Rp 200.000.000

Pembayaran III Rp 250.000.000

Pembayaran IV Rp 150.000.000

Konstruksi sudah selesai dan siap untuk digunakan.

Berikut jurnal untuk mencatat pembayaran uang muka

(D) Uang Muka Pembelian/Pengadaan Rp 200.000.000

(K) Kas/Bank Rp 200.000.000

Perhitungan uang muka pada saat pembayaran termin 1 dilakukan jurnal sebagai berikut:

(D) Konstruksi dalam proses Rp 400.000.000

(K) Uang Muka Pembelian/Pengadaan Rp 200.000.000

(K) Kas/Bank Rp 200.000.000

Pembayaran termin II dilakukan pencatatan jurnal sebagai berikut:

(D) Konstruksi dalam proses Rp 200.000.000

(K) Kas/Bank Rp 200.000.000

Untuk pembayaran pada termin III dan IV dilakukan penjurnalan yang sama seperti pada termin

II. Setelah proses pembangunan selesai dan dilakukan serah terima dengan berita acara dilakukan

pencatatan jurnal kapitalisasi aset tetap sebagai berikut:

(D) Gedung Rp 1.000.000.000


(K) Konstruksi dalam proses Rp 1.000.000.000

6. PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN


a. Cost Model (Pengukuran Harga Perolehan)

Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, aset tetap tersebut dicatat

pada harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan

nilai aset

b. Revaluation Model

Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, suatu aset tetap yang nilai

wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada

tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang

terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi atas aset tetap harus dilakukan dengan keteraturan

yang cukup reguler untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari

jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

Penentuan nilai aset dengan menggunakan nilai wajar pada umumnya dilakukan melalui

penilai yang memiliki kualifikasi profesional. untuk melakukan penilaian terhadap tanah dan

bangunan biasanya penilai menggunakan bukti pasar. Sedangkan untuk penilaian aset tetap lain

seperti pabrik dan peralatan penilai akan menentukan sendiri nilai pasar wajarnya. Dalam hal

tidak ada pasar yang memperjualbelikan aset tetap yang serupa, penentuan nilai pasar wajar

dapat dilakukan dengan pendekatan penghasilan atau biaya pengganti yang telah disusutkan

(depreciated replacement cost approach). Frekuensi pelaksanaan revaluasi sendiri tergantung

pada perubahan niali wajar suatu aset. Jika nilai wajar yang tercatat berbeda secara material

dengan nilai revaluasi, maka revaluasi lanjutan perlu dilaksanakan. Untuk aset tetap yang

mempunyai perubahan nilai wajar secara fluktuatif dan sifatnya signifikan, revaluasi dapat
dilaksanakan tiap tahun. Sedangkan untuk beberapa aset lain yang tidak mengalami perubahan

secara fluktuatif dan signifikan, revaluasi tidak perlu dilaksanakan setiap tahun. Untuk aset

seperti itu revaluasi dapat dilakukan setiap tiga tahun atau lima tahun.

Untuk metode revaluasi, perlakuan terhadap akumulasi penyusutan aset tetap pada

tanggal revaluasi dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut:

a. Disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dan jumlah tercatat secara bruto

dari aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasian,

metode ini sering digunakan apabila aset direvaluasi dengan cara memberi indek untuk

menentukan biaya pengganti yang disusutkan (depreciated replacement cost).


b. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan jumlah tercatat neto setelah

eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset tersebut. Metode ini

sering digunakan untuk bangunan

Pengakuan terhadap kenaikan atau penurunan nilai akibat revaluasi dilakukan langsung

pada kenaikan atau penurunan akibat revaluasi, kecuali jika revaluasi dilakukan pada tahun-

tahun berikutnya. Apabila revaluasi dilakukan untuk yang kedua kali dan seterusnya, terdapat

perlakuan yang berbeda. Perbedaan tersebut adalah:

a. Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung dikredit

ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun kenaikan tersebut harus diakui di dalam

laporan laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah

dilakukan sebelumnya dalam laporan laba rugi.


b. Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam laporan

laba rugi. Namun penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke dalam

ekuitas pada bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo

kredit surplus revaluasi untuk aset tersebut.


Penilaian kembali atau revaluasi aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena

Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan.

Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Ketika

perusahaan melakukan penilaian kembali atas aset-asetnya, laporan keuangan harus menjelaskan

mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva tetap serta

pengaruh daripada penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih

antara nilai revaluasi dengan nilai buku (nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal

dengan nama Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap.

7. DEPRESIASI

Setiap bagian dari suatu aset tetap dengan biaya yang signifikan dalam kaitannya dengan

total biaya item harus disusutkan secara terpisah. Entitas mengalokasikan jumlah awalnya diakui

sehubungan item properti, pabrik dan peralatan untuk bagian-bagian penting dan disusutkan

secara terpisah masing-masing bagian tersebut. Sebagai contoh, mungkin tepat untuk

terdepresiasi secara terpisah badan pesawat dan mesin pesawat udara, baik yang dimiliki atau

dikenakan sewa pembiayaan. Demikian pula, jika suatu entitas memperoleh aktiva tetap tunduk

sewa operasi di mana ia adalah lessor, mungkin tepat untuk terdepresiasi secara terpisah jumlah

tercermin dalam biaya item yang disebabkan menguntungkan atau tidak menguntungkan jangka

waktu relatif terhadap kondisi pasar.

Metode penyusutan yang digunakan untuk aktiva tetap ditelaah ulang secara periodik dan

jika terdapat suatu perubahan signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari

aktiva tersebut, metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut.

Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai suatu perubahan kebijakan akuntansi

dan dilaporkan sesuai dengan PSAK No.25 dan beban penyusutan untuk periode sekarang dan
masa yang akan datang harus disesuaikan. Apabila manfaat keekonomian suatu aktiva tetap tidak

lagi sebesar jumlah tercatatnya maka aktiva tersebut harus dinyatakan sebesar jumlah yang

sepadan dengan nilai manfaat keekonomian yang tersisa. Penurunan nilai kegunaan aktiva tetap

tersebut dilaporkan sebagai kerugian.

a. Jumlah yang dapat disusutkan dan periode penyusutan

Jumlah yang dapat disusutkan dari aset harus dialokasikan secara sistematis selama masa

manfaatnya. Nilai residu dan masa manfaat aset harus ditinjau setidaknya setiap akhir tahun buku

dan, jika ekspektasi berbeda dari estimasi sebelumnya, perubahan (s) akan dicatat sebagai

perubahan perkiraan akuntansi sesuai dengan Kebijakan IAS 8 Akuntansi, Perubahan Estimasi

Akuntansi dan Kesalahan.

Penyusutan diakui bahkan jika nilai wajar aset melebihi nilai tercatat, selama nilai sisa

aset tidak melebihi nilai tercatatnya. Perbaikan dan pemeliharaan aset tidak meniadakan

kebutuhan untuk terdepresiasi itu.

Penyusutan aset dimulai pada saat itu tersedia untuk digunakan, yaitu ketika di lokasi dan

kondisi diperlukan untuk itu untuk mampu beroperasi dengan cara yang dimaksudkan oleh

manajemen. Penyusutan aset berhenti pada awal tanggal yang aset diklasifikasikan sebagai

dimiliki untuk dijual (atau termasuk dalam kelompok pembuangan yang diklasifikasikan sebagai

dimiliki untuk dijual) sesuai dengan IFRS 5 dan tanggal yang aset tersebut diakui. Karena itu,

penyusutan tidak berhenti ketika aset menjadi siaga atau pensiun dari penggunaan aktif kecuali

aset tersebut sepenuhnya disusutkan. Namun, di bawah metode penggunaan penyusutan biaya

depresiasi nol ketika tidak ada produksi.

Tanah dan bangunan adalah aset dipisahkan dan dicatat secara terpisah, bahkan ketika

mereka diperoleh bersama. Dengan beberapa pengecualian, seperti pertambangan dan situs yang
digunakan untuk TPA, tanah memiliki masa manfaat terbatas dan karena itu tidak disusutkan.

Bangunan memiliki masa manfaat yang terbatas dan karena itu adalah aset yang dapat

disusutkan. Sebuah peningkatan nilai tanah yang bangunan berdiri tidak mempengaruhi

penentuan Jumlah yang dapat disusutkan dari bangunan.

Jika biaya tanah termasuk biaya pembongkaran situs, penghapusan dan pemulihan,

bahwa sebagian dari tanah aset disusutkan selama periode manfaat yang diperoleh menimbulkan

biaya. Dalam beberapa kasus, tanah itu sendiri mungkin memiliki masa manfaat terbatas, dalam

hal ini disusutkan dengan cara yang mencerminkan manfaat menjadi berasal dari itu.

b. Metode Depresiasi

Berbagai metode penyusutan dapat digunakan untuk mengalokasikan jumlah yang dapat

disusutkan dari aset pada sistematis dasar selama masa manfaatnya. Metode ini termasuk metode

garis lurus, metode saldo berkurang dan metode unit produksi. Hasil garis lurus depresiasi biaya

konstan selama masa manfaat dari nilai sisa aset tidak berubah. Hasil metode saldo berkurang

dalam muatan menurun selama masa manfaat. Unit hasil metode produksi biaya berdasarkan

penggunaan diharapkan atau output. Entitas memilih metode yang paling dekat mencerminkan

ekspektasi pola konsumsi masa depan manfaat ekonomi diwujudkan dalam aset. Metode yang

diterapkan secara konsisten dari periode ke periode kecuali ada perubahan dalam pola yang

diharapkan dari konsumsi manfaat ekonomi masa depan.

1. Metode Garis Lurus

Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan banyak digunakan oleh

perusahaan. Dalam PSAK No. 16 (IAI,2012) paragraf 62 menjelasakan bahwa metode

penyusutan menghasilkan pembebanan yang tetap selama umum manfaat aset jika nilai

residunya tidak berubah.


Beban penyusutan dalam metode garis lurus dihitung dengan mengalokasikan nilai aset

yang disusutkan selama masa manfaat aset. Besarnya beban penyusutan dapat dihitung dengan

cara sebagai berikut:

Harga Perolehan Aset


Beban Penyusutan =
Nilai residu
Masa Manfaat atau Umur Ekonomis Aset

Ilustrasi 7.1. Perusahaan membeli sebuah mesin pada tanggal 2 januari 2014 dengan harga

perolehan Rp 80.000.000. umur ekonomis mesin tersebut diperkirakan 5 tahun dengan nilai sisa

Rp 10.000.000.

Beban penyusutannya adalah:

Harga Perolehan Aset Nilai Residu


Beban Penyusutan Pertahun =
Masa Manfaat atau Umur Ekonomis Aset
Rp 80.000.000 Rp 10.000.000
Beban Penyusutan Pertahun =
5
= Rp 14.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat beban penyusutan pertahun tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Beban Penyusutan Rp 14.000.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 14.000.000

Karena metode garis lurus menghendaki beban penyusutan yang sama pada setiap

periode, maka skedul penyusutan akan terlihat seperti tabel dibawah ini:
Tabel 2.1 Skedul Penyusutan Metode Garis Lurus

Beban Akumulasi
Tahun Harga Perolehan Nilai Buku
Penyusutan Penyusutan
1 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 14.000.000 Rp 66.000.000
2 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 28.000.000 Rp 52.000.000
3 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 42.000.000 Rp 38.000.000
4 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 56.000.000 Rp 24.000.000
5 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 70.000.000 Rp 10.000.000
Sumber: data fiktif

2. Metode Saldo Menurun

Dalam PSAK No. 16 (2012) paragraf 62 dijelaskan bahwa metode saldo menurun

menghasilkan pembebanan yang menurun selama umur manfaat aset. Beban penyusutan semakin

menurun dari tahun ke tahun. Pembebanan semakin menurun didasarkan pada anggapan bahwa

semakin tua kapasitas aset tetap dalam memberikan manfaat juga semakin menurun. Pada

metode ini beban penyusutan dapat dihitung sebagai berikut:

100%
( x 2)
Beban penyusutan = Nilai Buku Aset Tetap Awal Tahun x Umur Ekonomis

Ilustrasi 7.2. Pada tanggal 2 januari perusahaan membeli kendaraan dengan harga perolehan Rp

100.000.000. Umur ekonomis kendaraan tersebut diperkirakan 4 tahun dengan nilai sisa Rp

5.000.000

100%
x2
Tarif Penyusutan = 4 = 50 %

Beban Penyusutan = 50 % x Nilai Buku Aset Tetap Awal Tahun


Perhitungan:

Beban Penyusutan Tahun pertama = 50 % x Rp 100.000.000

= Rp 50.000.000

Beban Penyusutan Tahun Kedua = 50 % x (Rp 100.000.000 Rp 50.000.000)

= Rp 25.000.000

Beban Penyusutan Tahun Ketiga = 50 % x (Rp 100.000.000 Rp 75.000.000)

= Rp 12.500.000

Beban Penyusutan Tahun Keempat = Rp 12.500.000 Rp 7.500.000

= Rp 5.000.000

Tabel 2.2 Skedul Penyusutan Metode Saldo Menurun

Tahun Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku

Rp 100.000.000
1 Rp 50.000.000 Rp 50.000.000 Rp 50.000.000
2 Rp 25.000.000 Rp 75.000.000 Rp 25.000.000
3 Rp 12.500.000 Rp 87.500.000 Rp 12.500.000
4 Rp 5000.000 Rp 92.500.000 Rp 7. 500.000
Sumber : data fiktif

Ayat jurnal untuk mencatat beban penyusutan tahun pertama adalah sebagai berikut:

(D) Beban Penyusutan Rp 50.000.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 50.000.000

Sesuai dengan perhitungan dan tabel skedul penyusutan metode saldo menurun di atas,

beban penyusutan tahun kedua dihitung berdasarkan nilai buku awal tahun atau harga perolehan

dikurang dengan akumulasi penyusutan pada saat itu, di kali dengan tarif penyusutan yang telah

ditetapkan.
Dalam metode saldo menurun, tarif penyusutan dihitung dengan tidak memperhatikan

adanya nilai sisa. Namun, aset tetap tidak boleh disusutkan sampai dibawah nilai sisa. Oleh

karena itu penyusutan yang dilakukan pada tahun keempat dengan nilai buku kendaraan sebesar

Rp 12.500.000 tidak dapat dikalikan dengan tarif penyusutan sebesar 50% yang akan

menghasilkan beban penyusutan sebesar Rp 6.250.000. Jika jumlah penyusutan tersebut dicatat

sebagai beban penyusutan, maka pada tahun akhir kelima nilai buku kendaraan menjadi Rp

6.250.000. Nilai sisa yang diperkirakan semula adalah sebesar Rp 7.500.000. berdasarkan

ketentuan itu, maka beban penyusutan pada tahun keempat sebesar Rp 5.000.000 yang dihitung

dari nilai buku Rp 12.5000.000 dikurangi nilai sisa Rp 7.500.000.

3. Metode Jumlah Unit Produksi

Dalam PSAK No. 16 (IAI,2012) paragraf 62 menjelaskan bahwa metode unit produksi

menghasilkan pembebanan berdasarkan pada penggunaan atau output yang diperkirakan dari

aset. Tarif penyusutan per unit diperoleh dengan cara membagi jumlah yang dapat disusutkan

dari suatu aset dengan estimasi total unit yang dapat diporduksi oleh suatu aset selama masa

manfaatnya. Secara matematis, tarif penyusutan per unit dapat dihitung dengan rumus sebagai

berikut:

Beban Penyusutan = (Produksi Aktual


Kapasitas Produksi
x 100 % ) x (Harga perolehan-Nilai Sisa)

Ilustrasi 7.3. perusahaan membeli sebuah mesin pada tanggal 2 januari dengan harga perolehan

Rp 60.000.000 dan memiliki estimasi jam kerja 12.000 jam dengan nilai sisa Rp. 6.000.000. dari

akhir tahun pertama sampai akhir tahun terakhir masa pakai mesin tersebut adalah 3000 jam,

4000 jam, 3000 jam dan 2000 jam.

Beban penyusutan tahun pertama = 3000/12.000 x 100% = 25%


= 25% x (Rp 60.000.000 Rp 6.000.000)

= Rp 13.500.000

Beban penyusutan tahun kedua = 4000/12.000 x 100% = 33,33%

= 33,33% x (Rp 60.000.000 Rp 6.000.000)

= Rp 17.998.200

Beban penyusutan tahun pertama = 3000/12.000 x 100% = 25%

= 25% x (Rp 60.000.000 Rp 6.000.000)

= Rp 13.500.000

Beban penyusutan tahun pertama = 2000/12.000 x 100% = 16,67%

= 16,67% x (Rp 60.000.000 Rp 6.000.000)

= Rp 9.001.800

Tabel 2.3 Skedul Penyusutan Metode Jumlah Unit Produksi

Tahun Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan


Nilai Buku
Rp 60.000.000
1 Rp 13.500.000 Rp 13.500.000 Rp 46.500.000
2 Rp 17.998.200 Rp 31.498.200 Rp 28.501.800
3 Rp 13.500.00 Rp 44.998.200 Rp 15.001.800
4 Rp 9.001.800 Rp 54.000.000 Rp 6.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat beban penyusutan tahun pertama adalah sebagai berikut :

(D) Beban Penyusutan Rp 13.500.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 13.500.000

8. PENGHENTIAN PENGAKUAN
Nilai tercatat suatu aset tetap harus dihentikan pengakuannya:
a. Pada saat disposal, atau
b. saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau

pelepasannya.

Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan suatu aset tetap harus termasuk

dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut diakui (kecuali IAS 17 mengharuskan sebaliknya

pada penjualan dan penyewaan kembali). Keuntungan tidak akan diklasifikasikan sebagai

pendapatan. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan suatu aset tetap harus

ditentukan sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan, jika ada, dengan jumlah

tercatat dari barang.

a. Penjualan Aset Tetap Berwujud

Apabila suatu aset tetap dijual, maka nilai bukunya dihitung sampai dengan tanggal

penjualan. Nilai buku ini kemudian dibandingkan dengan hasil penjualan yang diterima. Selisih

yang diperoleh dapat diakui sebagai keuntungan atau kerugian karena penjualan aset tetap yang

harus dicatat dan dilaporkan dalam laba rugi. Jika harga aset tetap pada saat penjualan melebihi

nilai bukunya maka dapat diakui sebagai keuntungan dan jika harga aset pada penjualan lebih

rendah dari nilai bukunya maka dapat diakui sebagai kerugian.

Ilustrasi 8.1. Mesin yang dibeli pada tanggal 2 Januari 2010, dijual pada tanggal 30 Juni 2012

dengan harga Rp 25.000.000. Harga perolehan mesin tersebut adalah Rp. 40.000.000.

penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus dan estimasi umur ekonomis 4 tahun dengan

nilai sisa Rp 4.000.000. Beban penyusutan pada tanggal 30 Juni 2012 adalah:

Harga Perolehan Nilai sisa


Beban penyusutan =
Umur Ekonomis

Rp 40.000.000 Rp 4.000.000
Beban Penyusutan = x 6 / 12
4
= Rp 4.500.000
Ayat jurnal penyusutan dengan metode garis lurus pada tanggal 30 Juni 2012 adalah:

(D) Beban Penyusutan Rp 4.500.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 4.500.000

Keuntungan atas penjualan peralatan tersebut adalah sebagai berikut:

Kas yang diterima dari penjualan aset Rp 25.000.000

Nilai buku pada saat penjualan:

Harga perolehan Rp 40.000.000

Akumulasi Penyusutan:

Penyusutan tahun 2010 Rp 9.000.000

Penyusutan tahun 2011 Rp 9.000.000

Penyusutan tahun 2012 Rp 4.500.000

(Rp 22.500.000)

Nilai buku mesin Rp 17.500.000

Keuntungan atas penjualan aset Rp 7.500.000

Ayat jurnal untuk mencatat penjualan mesin adalah:

(D) Kas Rp 25.000.000

(D) Akumulasi penyusutan Mesin Rp 22.500.000

(K) Mesin Rp 40.000.000

(K) Keuntungan atas penjualan mesin Rp 7.500.000

b. Penghapusan Aset Tetap Berwujud


Aset tetap yang sudah tidak memiliki manfaat dapat dihapuskan. Hal ini terjadi jika aset

tetap tidak dapat dijual atau dipertukarkan. Dengan dihapuskannya aset tetap berarti aset tetap

tersebut harus dikeluarkan dari pembukuan.

Ilustrasi 8.2. Beban penyusutan akhir tahun baru saja dicatat untuk peralatan dengan harga pokok

Rp 70.000.000 tanpa nilai residu. Maka akumulasi penyusutan peralatan tersebut berjumlah Rp

70.000.000.

Ayat jurnal untuk mencatat pelepasan peralatan tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Akumulasi Penyusutan Peralatan Rp 70.000.000

(K) Peralatan Rp 70.000.000

Ayat jurnal di atas terjadi jika aset tetap dihapuskan setelah disusutkan sepenuhnya. Apabila aset

tetap dihapuskan sebelum disusutkan sepenuhnya, maka yang akan terjadi adalah perusahaan

akan mengalami kerugian yang disebabkan oleh penghapusan aset tetap tersebut.

Ilustrasi 8.3. Perusahaan melepas mesin yang kendaraan dengan harga pokok Rp 60.000.000.

Akumulasi penyusutan kendaraan adalah Rp. 40.000.000, sehingga nilai buku kendaraan adalah

Rp 20.000.000. perusahaan akan mengalami kerugian sebesar dengan nilai buku kendaraan

tersebut.

Ayat jurnal untuk mencatat penghapusan kendaraan tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp 40.000.000

(D) Kerugian atas Pelepasan Kendaraan Rp 20.000.000

(K) Kendaraan Rp 60.000.000

9. PENGUNGKAPAN
Terkait Property, Plant dan Equipment, Laporan keuangan harus mengungkapkan:
a. dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto
b. metode depresiasi yang digunakan
c. masa manfaat dari tarif penyusutan yang digunakan;
d. jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (agregat dengan akumulasi kerugian

penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan


e. rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
penambahan
aset diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual atau termasuk dalam kelompok

pembuangan diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan IFRS 5 dan

pelepasan lainnya
akuisisi melalui kombinasi bisnis
bertambah atau berkurang akibat revaluasi bawah paragraf 31, 39 dan 40
dan dari kerugian penurunan nilai diakui atau terbalik di pendapatan komprehensif

lain sesuai dengan IAS 36;


kerugian penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi sesuai dengan IAS 36
depresiasi
selisih kurs bersih yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari mata uang

fungsional dalam suatu mata uang pelaporan yang berbeda,


perubahan lainnya
LAMPIRAN TERKAIT DENGAN MATERI IAS 16

Anda mungkin juga menyukai