Anda di halaman 1dari 10

KETERKAITAN INDUSTRI TERHADAP

TEKNOLOGI

Tugas
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Geografi
Ekonomi

Disusun oleh
Anggita Khusnur Rizqi
(0807015)

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009
INDUSTRI
Pengertian dan Definisi Industri
Kata industri diambil dari Bahasa Latin ‘industria’ yang secara sederhana
dapat diartikan sebagai buruh atau penggunaan tenaga kerja yang terus
menerus. Dalam bahasa Inggris masih digunakan kata sifat ‘industrious’ yang
artinya kerja keras atau rajin. Di Prancis, kata ‘industrie’ dipakai untuk
menunjukkan semua kegiatan pengolahan dan memproduksi barang
kebutuhan. Sedangkan d Jerman, istilah ‘industrie’ hanya digunakan terbatas
bagi usaha pengolahan yang dilakukan secara besar-besaran dengan
menggunakan cara dan mesin-mesin yang modern.
Industri mengandung pengertian yang luas dan sempit. Dalam arti luas,
industri mencakup pengertian : semua usaha dan kegiatan di bidang ekonomi
yan produktif. Sedangkan industri dalam arti yang sempit hanya mencakup
secondary type of economic activities yaitu meliputi segala usaha dan
kegiatan yang sifatnya mengubah dan mengolah bahan baku menjadi barang
jadi atau setengah jadi, atau lebih sering disebut dengan manufaktur.
Dalam referensi lain, dijelaskan bahwa industri secara umum merupakan
kelompok bisnis tertentu yang memiliki teknik dan metode yang sama dalam
menghasilkan laba. Istilah industri juga digunakan bagi suatu bagian produksi
ekonomi yang terfokus pada proses manufakturisasi tertentu yang harus
memiliki permodalan yang besar sebelum bisa meraih keuntungan. Dalam
perencanaan ekonomi dan wilayah urban, kawasan industri adalah
penggunaan lahan dan aktivitas ekonomi secara intensif yang berhubungan
dengan manufakturisasi dan produksi.

Sejarah Industri
Industri besar adalah kunci utama produksi di Eropa dan Amerika Utara
pada periode Revolusi Industri, yang menyebabkan berakhirnya era
merkantilisme dan feodalisme melalui penerapan teknologi yang tepat guna
dalam proses produksi.
Istilah “Revolusi Industri” pertama kali diperkenalkan oleh Fredrich
Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad-19. Revolusi Industri
adalah perubahan teknologi, sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad ke-
18 dan awal abad ke-19 yan terjadi dengan penggantian ekonomi yang
berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi
mesin.
Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap dengan
batu bara sebagai bahan bakar dan ditenagai oleh mesin. Perkembangan
peralatan mesin logam-keseluruhan pada dua dekade pertama dari abad ke-
19 membuat produk mesin produksi untuk digunakan di industri lainnya.
Awal mula Revolusi Industri tidak jelas, tetap T.S. Ashton menulisnya
kira-kira sekitar tahun 1760-1830. Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi
Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi
mendapat momentum dengan perkembangan kapal tenaga uap, rel dan
kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin bakar dalam dan
perkembangan pembangkit tenaga listrik.
Efek budayanya menyebar ke seluruh Eropa Barat dan Amerika Utara,
kemudian mempengaruhi seluruh dunia. Efek dari perubahan ini di
masyarakat sangat besar dan seringkali dibandingkan dengan revolusi
kebudayaan pada masa Neolitikum ketika pertanian mulai dilakukan dan
membentuk peradaban, menggantikan kehidupan nomadik.

Macam Industri dan Pengklasifikasian Industri


Di Indonesia, macam dan kegiatan industri dikelompokkan ke dalam 4
golongan:
Kelompok I Aneka Industri dan Kerajinan yang terdiri atas :
Industri makanan dan minuman,
Industri kerajinan logam : mas, perak, tembaga, dan lain-lain,
Industri kerajinan bukan logam : anyaman, kulit, tembakau, dan lain-lain.
Kelompok II Industri Logam dan Elektronika, terdiri atas :
Industri logam dasar besi/baja dan industri logam non-fero,
Industri mesin kendaraan, mesin-mesin, industri kapal, dan lain-lain,
Industri elektronika : radio, TV, dan alat-alat elektronik lainnya.
Kelompok III Industri Kimia, termasuk ke dalamnya industri pupuk, industri
ban, industri gelas, industri garam, dan lain-lain.
Kelompok IV Industri Sandang dan Tekstil, termasuk ke dalamnya :
Industri serat sintesis (rayon)
Industri pemintalan dan penenunan
Industri perajutan
Industri pakaian jadi.
(Alamanak Industri, 1977,205-289).
Pengkategorisasian industri berdasarkan karakteristik lain :
Berdasarkan luas dan kompleksitas kegiatan dan pengorganisasiannya:
Industri besar (big industry)
Industri kecil (small scale industry).
Berdasarkan jumlah dan besarnya kebutuhan bahan mentah, sifat
produksi, dan penggunaan mesin-mesin :
Industri berat (heavy industry)
Industri ringan (light industry)
Berdasarkan sifat bahan mentah dan sifat produksinya :
Industri primer
Industri sekunder
Berdasarkan daya serap (kemampuan tampung) tenaga kerja dan
permodalan :
Industri padat karya (labor intensive)
Industri padat modal (capital intensive).
Berdasarkan jumlah modal, tenaga kerja, dan teknologinya :
Industri besar
Industri menengah
Industri kecil
Berdasarkan tempat kegiatan dan proses pengolahan, serta penggunaan
alat-alat :
Industri rumah (home industry)
Industri pabrik (manufacturial industry).

TEKNOLOGI

2.1. Definisi dan Pengertian Teknologi


Teknologi berasal dari istilah teckne yang berarti seni (art) atau
keterampilan. Menurut Dictionary of Science, teknologi adalah penerapan
pengetahuan teoritis pada masalah-masalah praktis.
Teknologi atau pertukangan memiliki lebih dari satu definisi. Salah
satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material, dan
proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai
aktivitas manusia, teknologi mulai sebelum sains dan teknik.
Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang
menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan.
Meskipun demikian, penemuan yang sangat lama seperti roda juga disebut
sebuah teknologi.
Definisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari
status pengetahuan kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan
sumber daya untuk memproduksi produk yang diinginkan. Oleh karena itu,
kita dapat melihat perubahan teknologi pada saat pengetahuan teknik kita
meningkat.

2.2. Sejarah Teknologi


Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu
bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi, menurut
Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan
perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua
dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama
lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar
kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan
energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya.
Definisi mengenai sains menurut Sardar (1987, 161) adalah sarana
pemecahan masalah mendasar dari setiap peradaban. Tanpa sains, lanjut
Sardar (1987, 161) suatu peradaban tidak dapat mempertahankan struktur-
struktur politik dan sosialnya atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar
rakyat dan budayanya. Sebagai perwujudan eksternal suatu epistemologi,
sains membentuk lingkungan fisik, intelektual dan budaya serta memajukan
cara produksi ekonomis yang dipilih oleh suatu peradaban. Pendeknya, sains,
jelas Sardar (1987, 161) adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu
peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya.
Sedangkan rekayasa, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) menyangkut hal
pengetahuan objektif (tentang ruang, materi, energi) yang diterapkan di
bidang perancangan (termasuk mengenai peralatan teknisnya). Dengan kata
lain, teknologi mencakup teknik dan peralatan untuk menyelenggarakan
rancangan yang didasarkan atas hasil sains.
Seringkali diadakan pemisahan, bahkan pertentangan antara sains dan
penelitian ilmiah yang bersifat mendasar (basic science and fundamental) di
satu pihak dan di pihak lain sains terapan dan penelitian terapan (applied
science and applied research). Namun, satu sama lain sebenarnya harus
dilihat sebagai dua jalur yang bersifat komplementer yang saling melengkapi,
bahkan sebagai bejana berhubungan; dapat dibedakan, akan tetapi tidak
boleh dipisahkan satu dari yang lainnya (Djoyohadikusumo 1994, 223).
Makna Teknologi, menurut Capra (2004, 106) seperti makna ‘sains’,
telah mengalami perubahan sepanjang sejarah. Teknologi, berasal dari
literatur Yunani, yaitu technologia, yang diperoleh dari asal kata techne,
bermakna wacana seni. Ketika istilah itu pertama kali digunakan dalam
bahasa Inggris di abad ketujuh belas, maknanya adalah pembahasan
sistematis atas ‘seni terapan’ atau pertukangan, dan berangsur-angsur artinya
merujuk pada pertukangan itu sendiri. Pada abad ke-20, maknanya diperluas
untuk mencakup tidak hanya alat-alat dan mesin-mesin, tetapi juga metode
dan teknik non-material. Yang berarti suatu aplikasi sistematis pada teknik
maupun metode. Sekarang sebagian besar definisi teknologi, lanjut Capra
(2004, 107) menekankan hubungannya dengan sains. Ahli sosiologi Manuel
Castells seperti dikutip Capra (2004, 107) mendefinisikan teknologi sebagai
‘kumpulan alat, aturan dan prosedur yang merupakan penerapan
pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara yang
memungkinkan pengulangan.
Akan tetapi, dijelaskan oleh Capra (107) teknologi jauh lebih tua
daripada sains. Asal-usulnya pada pembuatan alat berada jauh di awal
spesies manusia, yaitu ketika bahasa, kesadaran reflektif dan kemampuan
membuat alat berevolusi bersamaan. Sesuai dengannya, spesies manusia
pertama diberi nama Homo habilis (manusia terampil) untuk menunjukkan
kemampuannya membuat alat-alat canggih.
Dari perspektif sejarah, seperti digambarkan oleh Toynbee (2004, 35)
teknologi merupakan salah satu ciri khusus kemuliaan manusia bahwa dirinya
tidak hidup dengan makanan semata. Teknologi merupakan cahaya yang
menerangi sebagian sisi non material kehidupan manusia. Teknologi, lanjut
Toynbee (2004, 34) merupakan syarat yang memungkinkan konstituen-
konstituen non material kehidupan manusia, yaitu perasaan dan pikiran ,
institusi, ide dan idealnya. Teknologi adalah sebuah manifestasi langsung dari
bukti kecerdasan manusia.
Dari pandangan semacam itu, kemudian teknologi berkembang lebih
jauh dari yang dipahami sebagai susunan pengetahuan untuk mencapai
tujuan praktis atau sebagai sesuatu yang dibuat atau diimplementasikan serta
metode untuk membuat atau mengimplementasikannya. Dua pengertian di
atas telah digantikan oleh interpretasi teknologi sebagai pengendali
lingkungan seperti kekuasaan politik di mana kebangkitan teknologi Barat
telah menaklukkan dunia dan sekarang telah digunakan di era dunia baru
yang lebih ganas. Untuk memperjelas statement tersebut, kita coba menelaah
teknologi secara lebih dalam lagi. Melihat substansi teknologi secara lebih
komprehensif, yaitu konsepsi teknologi dari kerangka filsafat

KETERKAITAN INDUSTRI TERHADAP TEKNOLOGI

Teori
Teknologi sangat berperan terhadap kegiatan industri. Perkembangan
teknologi telah mendorong perubahan dan perkembangan perindustrian.
Pada masyarakat dengan tingkat teknologi rendah, industri pada umumnya
masih bersifat home industry. Makin tinggi tingkat teknologi, home industry
berubah menjadi big industry. Industri manufaktur mengalami perkembangan
pesat berkat Revolusi Industri yang berlangsung di Inggris pada akhir abad-
18, terutama setelah ditemukannya mesin uap oleh James Watt pada tahun
1769. Inovasi teknologi mulai masa itu, khususnya dalam industri tekstil, telah
mendorong perubahan dan perkembangan industri dari handy industry
menjadi mechanized industry dengan produksi massal, dari industri
sederhana berubah menjadi industri modern dengan sistem pabrik. Revolusi
industri juga berjalan berbarengan dengan terjadinya revolusi kota (urban
revolution).

Dilihat dari tingkat kegiatan dan perkembangan industri, Clarence F.


Jones mengelompokkan tipe industri menjadi tiga bagian, yaitu :

Primitive or Household Type. Pada umumnya masih merupakan industri


rumah yang dikerjakan secara sederhana dengan menggunakan
tangan. Bahan mentahnya biasanya tersedia di tempat itu juga dan
hasilnya sebagian besar untuk kebutuhan setempat atau pasaran lokal.
Masalah transport dan modal kurang memegang peranan.

Worshop or Community Type. Merupakan kelanjutan pertumbuhan industri


rumah. Worshop timbul karena adanya pengorganisasian dan
pengelompokkan orang-orang yang mempunyai keterampilan dan
keahlian tertentu. Bahan mentah umumnya sudah didatangkan dari
tempat lain dan hasilnyapun sudah dipasarkan ke tempat yang agak
jauh. Dalam taraf permulaan masih mempergunakan tangan, akan
tetapi dalam perkembangan selanjutnya dipergunakan pula tenaga
bantuan hewan, angin, air, atau mesin-mesin sederhana. Jumlah
tenaga kerja sudah lebih banyak. Dalam bidang pekerjaan sudah ada
spesialisasi.

Complex, Modern, Factory, ialah industri modern dengan syarat-syarat


dan pengorganisasian yang kompleks. Umumnya bersifat padat modal
dengan teknologi maju. Di Eropa Barat dan Amerika Utara industri ini
berkembang pesat berkat perkembangan dan kemajuan teknologi yang
pesat pula (penemuan-penemuan dan penggunaan mesin modern).
Jika industri-industri sederhana pekerjaan masih banyak menggunakan
tangan dan mengolah bahan mentah yang tidak terlalu banyak
jumlahnya, maka sistem pabrik modern, pekerjaan dan proses
pengolahan sebagian besar dilakukan dengan mempergunakan mesin-
mesin yang bekerja secara otomatis, sehingga produksi jauh lebih
cepat dan lebih banyak (massal). Kebutuhan bahan mentah umumnya
sangat besar dan produksinya ditujukan untuk eksport. Konsentrasi
industri modern terutama terdapat di negara-negara maju di daerah
iklim sedang, sedangkan di daerah-daerah iklim tropik yang basah
industri-industri modern masih sangat terbatas jumlahnya.

Analisis
Teknologi, yang dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pekerjaan
hidup manusia, sangat berperan penting dalam kehidupan industri. Hal
tersebut tidak dapat dipungkiri karena sadar atau tidak sadar, berkembangnya
teknologi berpengaruh terhadap berkembangnya industri. Bukti-buktinya pun
sudah tercatat dalam sejarah pada akhir abad 18 dan awal abad 19, dimana
industri mengalami revolusi besar-besaran akibat adanya penemuan-
penemuan baru di bidang teknologi.
Lalu sejauh mana teknologi dapat mempengaruhi industri?
Banyak teori menyoroti bahwa perkembangan teknologi selalu dibarengi
dengan perkembangan industri. Hal ini menunjukkan bahwa makin tinggi
teknologi yang digunakan, makin tinggi pula perkembangan industrinya, entah
dilihat dari segi kualitas, kuantitas, maupun pemasarannya.
Sebagai gambaran, kita ambil contoh industri yang berbasis peternakan,
misalnya sapi, baik sapi perah maupun sapi pedaging. Dengan teknologi yang
rendah (sederhana), sebuah industri (biasanya berbentuk home industry)
hanya bisa menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan setempat
atau pasaran lokal, berbeda dengan industri berteknologi tinggi yang bisa
memenuhi kebutuhan pasar bahkan sampai ke luar negeri (ekspor).
Industri berteknologi sederhana banyak menggunakan tenaga manusia
sehingga proses produksi tidak berjalan dengan cepat. Butuh waktu lebih
lama untuk memerah susu dan mengolah daging sapi. Kuantitas yang
dihasilkan pun berjumlah kecil karena tenaga manusia memiliki batasan-
batasan tertentu. Hasil produksi pun kurang bervariatif karena semua proses
produksi dilakukan dengan cara sederhana. Berbeda dengan industri yang
berteknologi tinggi. Industri ini bisa menghasilkan produk dengan cepat dalam
jumlah banyak, bahkan selain untuk kebutuhan pasar negara, industri
tersebut dapat juga memenuhi kebutuhan pasar dunia dengan kualitas yang
terjamin. Hal ini bisa terjadi karena industri berteknologi tinggi menggunakan
mesin-mesin canggih untuk memproduksi barang, sedangkan tenaga
manusia dipakai untuk mengendalikan, mengawasi, dan merawat mesin. Kita
tahu sendiri bahwa mesin memiliki tenaga yang batasannya jauh melebihi
manusia, sehingga dalam meproduksi barang pun mesin dapat menghasilkan
lebih banyak daripada manusia. Selain itu, dengan adanya teknologi tinggi
berupa mesin-mesin canggih, suatu industri juga dapat menghasilkan produk
yang lebih variatif. Misalnya, dalam mengolah susu sapi menjadi susu bubuk,
industri sederhana belum bisa melakukannya sedangkan industri berteknologi
tinggi sudah bisa.
Dengan hasil produksi yang unggul, baik kualitas maupun kuantitasnya,
industri berteknologi tinggi mampu mencakup daerah pemasaran yang luas.
Dengan begitu, keuntungan yang diperoleh pun semakin banyak dan untuk
memenuhi permintaan pasar, industri ini pun akan terdorong untuk melakukan
penemuan-penemuan baru di bidang teknologi agar dapat menghasilkan
produk yang lebih berkualitas dan mendapatkan keuntungan yang lebih
banyak. Dengan demikian, industri ini akan semakin berkembang. Berbeda
dengan industri berteknologi sederhana yang perkembangannya mungkin
tidak sebesar industri berteknologi tinggi.
Dari gambaran tersebut, kita dapat memahami bahwa perkembangan
teknologi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan industri. Makin tinggi
teknologi yang digunakan, makin cepat pula industri itu berkembang. Tetapi
perkembangan teknologi bukan satu-satunya faktor yang dapat membuat
industri berkembang. Faktor-faktor yang lain pun mempengaruhi, karena
percuma saja bila suatu industri menggunakan teknologi tinggi tetapi faktor-
faktor lain seperti bahan baku, tenaga kerja, modal, dan sumber daya lainnya
tidak tersedia dengan seimbang, tetap saja tidak akan menjadi industri yang
berkembang.