Anda di halaman 1dari 34

Laporan Kasus

KEJANG DEMAM SIMPLEKS


Diajukan sebagai Salah Satu Tugas dalam Menjalani
Kepaniteraan Klinik Senior pada Bagian / SMF Ilmu Kesehatan Anak
BPK RSUD dr. Zainoel Abidin BandaAceh

Disusun oleh:

Pembimbing:
Dr. dr. Bakhtiar M.Kes, Sp. A

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BPK RSUD Dr. ZAINOEL ABIDINBANDA ACEH
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
berkat dan rahmat-Nya yang telah memberikan kesehatan dan waktu untuk
penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas laporan kasus ini.
Adapun maksud dan tujuan pembuatan tugas laporan kasus yang
berjudulKejang Demam Simpleks ini adalah untuk memenuhi tugas dalam
menjalankan Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan
Anak FK-Unsyiah,RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembimbing
DR. dr. Bachtiar, Sp.A(K) yang telah membimbing, memberi saran, dan kritik
sehingga terselesaikannya tugas ini, juga kepada teman-teman dokter muda yang
turut membantu dalam pembuatan tugas ini.
Akhirnya Penulis mohon maaf segala kekurangan dalam tulisan ini, kritik,
dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca sekalian untuk kesempurnaan
tulisan ini, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Banda Aceh, Januari 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................................1
KATA PENGANTAR.......................................................................................................2
DAFTAR ISI.....................................................................................................................3
BAB I Pendahuluan.........................................................................................................4
BAB II Laporan Kasus....................................................................................................5
2.1 Identitas Pasien.......................................................................................................5
2.2 Identitas keluarga...................................................................................................5
2.3 Anamnesis...............................................................................................................5
2.4 Pemeriksaan fisik...................................................................................................6
2.6 Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................11
2.7 Diagnosis Banding................................................................................................12
2.8 Diagnosis..............................................................................................................12
2.9 Penatalaksanaan..................................................................................................12
2. 10 Prognosis............................................................................................................13
2.11 Follow up harian.................................................................................................13
BAB IV Analisa Kasus...................................................................................................15
BAB V Kesimpulan........................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................27

3
BAB I

PENDAHULUAN

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 380C) yang disebabkanoleh suatu proses
ekstrakranium.Kejang demam terjadi pada anak berumur 6 bulan 5 tahun. Anak
yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali
tidak termasuk dalam kejang demam.Kejang demam dibagi menjadi dua jenis,
yaitu kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks. Kejang demam
simpleks adalah kejang yang berlangsung kurang dari 15 menit, kejang tonik
klonik umum, sembuh spontan, tanpa kejang fokal, dan tidak berulang dalam 24
jam. Kejang demam kompleks adalah kejang fokal atau parsial, berlangsung lebih
dari 15 menit, berulang dalam 24 jam, didapatkan abnormalitas status neurologi,
dan didapatkan riwayat kejang tanpa demam pada orangtua atau saudara
kandungnya. (1) (2)

Periode puncak kejadian kejang demam adalah usia 18 bulan dan jarang
pada usia sebelum 6 bulan atau setelah 3 tahun. Umumnya, kejadian FS menurun
tajam setelah usia 4 tahun. Kejang lebih sering terjadi pada populasi Asia, yang
mempengaruhi 3,4% -9,3% dari anak 0anak di jepang Jepang dan 5% -10% anak-
anak di India, tetapi hanya 2% -5% dari anak-anak di Amerika Serikat (AS) dan
Eropa Barat. Prevalensi tertinggi adalah 14% di Guam. penelitian telah
menunjukkan tidak ada perbedaan gender yang signifikan Kejang demam sedikit
lebih sering pada laki-laki (laki-laki terhadap perempuan, 1,1: 1 sampai 2:
1).Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan samapi 5
tahun.Menurut IDAI, angka kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan
sampai 5 tahun hampir 2 - 5%. (1) (3)

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam adalah riwayat kejang demam dalam keluarga, usia
kurang dari 12 bulan, temperatur yang rendah saat kejang, cepatnya kejang setelah
demam. Bila seluruh faktor tersebut ada, kemungkinan berulangnya kejang

4
demam adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan
berulangnya kejang demam hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang
demam paling besar pada tahun pertama. Selain terapi yang tepat edukasi terhadap
orang tua sangat diperlukan. (1) (4)

5
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien

Nama : ZAA

No CM : 1-11-42-30

Tanggal Lahir : 13 September 2014

Usia : 2 tahun 3 bulan 18 hari

Suku : Aceh

Agama : Islam

Alamat : Ulee Kareng, Kota Banda Aceh

Tanggal Masuk RS : 30 Desember 2016

Tanggal Pemeriksaan : 31 Desember 2016

Tanggal Pulang : 1 Januari 2017


2.2 Identitas keluarga

Nama Ayah : Johan Adrian

Umur : 33 tahun

Suku : Aceh

Alamat : Ulee Kareng, Kota Banda Aceh


2.3 Anamnesis

Keluhan Utama : Kejang

6
Keluhan Tambahan : Demam dan nyeri tenggorokan

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien dibawa oleh keluarga dengan keluhan kejang yang terjadi kurang
lebih 1 jam sebelum masuk rumah sakit.Kejang terjadi seluruh tubuh disertai kaku
dan kelojotan. Saat kejang mata pasien mendelik keatas, lidah tidak tergigit tetapi
keluar lendir dari mulut pasien. Riwayat keluar BAK dan BAB saat kejang.Saat
kejang pasien tidak sadar dan setelah kejang pasien sadar tapi badannya menjadi
lemas dan tampak kebingungan. Pada saat kejang terjadi mata pasien memandang
keatas, disangkal. Kejang terjadi selama 10 menityangpulih secara bertahap tanpa
pemberian obat.Ini merupakan kejang pertama.

Pasien juga mengeluh demam yang dialami sejak 12 jam sebelum masuk
rumah sakit dan memberat sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit.Saat ini juga
mengeluh batuk tidak berdahak dan nyeri saat menelan. Riwayat trauma
disangkal, riwayat sakit telinga atau keluar cairan dari telinga disangkal, riwayat
muntah dan diare disangkal. Buang air kecil tidak ada keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belumpernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga

Ayah pasien pernah mengalami kejang karena demam.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Riwayat Pre Natal

Selama kehamilan ibu pasien ANC teratur ke dokter dan bidan. Riwayat
DM, hipertensi, dan infeksi selama kehamilan disangkal. Riwayat trauma saat
kehamilan tidak ada.

Riwayat Natal

7
Pasien merupakan anak pertama lahir cukup bulan, 40 minggu dan lahir
secara pervaginam dan dibantu oleh bidan. Saat lahir bayi langsung segera
menangis, dengan berat badan lahir3500 gram.

Riwayat Post Natal

Riwayat Imunisasi

Imunisasi dasar lengkap sesuai usia (BCG, Polio, Hepatitis B, DTP, Hib)

Riwayat Pemberian Makanan

0-6 bulan : ASI

6 bulan - 15 bulan : ASI + MP-ASI

15 bulan 2 tahun : ASI + Makanan keluarga


2.4 Pemeriksaan fisik

Tanda Vital

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : E4M6V5

Denyut nadi : 93 x/menit

Frekuensi Napas : 26 x/menit


Suhu tubuh (aksila) : 38,40C

Data Antropometri

Berat badan : 12kg

Tinggi badan : 90 cm

Lingkar Kepala : 51cm

Lingkar Lengan Atas : 16 cm

8
BMI : 14,81kg/m2

Status Gizi

Berat Badan /Umur : -2 SD sd +2 (Median)

Panjang Badan /Umur: -2 SD sd +2 (Median)

Berat / Panjang Badan: -2 SD sd +2 (Median)

Lingkar Kepala /Umur: -2 SD sd +2 (Median)

BMI / Umur : -2 SD sd +2 (Median)

Kesan : Gizi Baik

Kurva Antropometri

9
10
11
Kebutuhan cairan : = 1000 + (2 x 50)

= 1100 cc/hari

Kebutuhan Kalori : kkal x BBI

= 55 kkal x 13

= 715 kkal/hari

Kebutuhan Protein : 1,0 g x BBI

=1,0 x 13

= 13 g/hari

Status General

Kepala : Normocephali

Rambut : Hitam, sukar dicabut

Mata : Konj. palp. inf pucat (-/-), sklera ikterik (-/-) mata cekung (-/-),
pupil isokor (+), RCL (+/+), RTCL (+/+)

Telinga: Normotia, tidak tampak deformitas

Hidung : Tidak tampak deformitas, NCH (-), sekret (-)

Mulut : Mukosa lembab (-), lidah tampak normal

Tenggorok : Uvula ditengah, tonsil hiperemis (-), T1-T1, faring hiperemis (+)

Leher : Pembesaran KGB (-), tidak ada pembesaran tiroid.

Toraks : Inspeksi : Simetris (+), , retraksi (-)

Palpasi : SF kanan = SF kiri

12
Perkusi : Sonor = Sonor

Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung : Inspeksi : Iktus cordis tak terlihat

Palpasi : Thrill (-)

Perkusi : Batas jantung tidak membesar

Auskultasi : BJ I > BJ II, reguler (+), bising (-)

Abdomen : Inspeksi : Distensi (-), simetris

Palpasi : Soepel, H/L/R tidak teraba

Perkusi : Timpani (+)

Auskultasi : Peristaltik usus (+)

Genitalia : Laki-laki, tidak ada kelainan.

Anus : Tidak ada kelainan

Ekstremitas :

Superior Inferior
Penilaian
Kanan Kiri Kanan Kiri

Pucat Negatif Negatif Negatif Negatif

Sianosis Negatif Negatif Negatif Negatif

Edema Negatif Negatif Negatif Negatif

Tonus otot Normal Normal Normal Normal

Atrofi Negatif Negatif Negatif Negatif

13
Status neurologis

GCS : E4M6V5 = 15

Mata : bulat isokor

TRM : kaku kuduk (-)

Refleks fisiologis : normal

Refleks patologis : tidak ada

Kekuatan otot : 5555/5555

5555/5555

Sensorik/Otonom : dalam batas normal

2.6 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium Darah Lengkap (04/01/2017)

Jenis Pemeriksaan Nilai Normal

Darah Rutin Hemoglobin 11,8 10.5 12,9(g/dl)

Hematokrit 35 53-63 (%)

Eritrosit 4,8 4,4-5,8 (106/mm3)

Leukosit 10,1 6,0-17,5 (103/mm3)

Trombosit 561 150-450 (103 U/L)

MCV 72 80-100 Fl

MCH 25 27-31 pg

MCHC 34 32-36 %

RDW 13,6 11,5-14,5 %

MPV 9,3 7,2-11,1 Fl

14
Hitung Jenis Eosinofil 0 0-6 (%)

Basofil 0 0-2

Netrofil Batang 0 2-6

Netrofil Segmen 70 50-70

Limfosit 22 20-40

Monosit 8 2-8

Elektrolit Na 135 132-146 mmol/L

K 4,5 3,5-4,5 mmol/L

Cl 103 90-110 mmol/L

Diabetes GDS 115 <200 mg/dL

Ginjal-
Ureum 28 13-43 mg/dL
Hipertensi

Kreatinin 0,50 0,67-1,17 mg/dL

2.7 Diagnosis Banding

1. Kejang demam Simplek

2. Meningitis

3. Ensefalitis
2.8 Diagnosis Kerja

1. Kejang Demam Simplek

2. Faringitis Akut
2.9 Penatalaksanaan

Terapi:

1. IVFD 2:1 11tetes permenit (makro)

15
2. Diazepam tablet 4 mg/ 8 jam saat demam dan Diazepam intravena5 mg
bila kejang.

3. Paracetamol tablet120 mgjika demam

Monitoring

1. Tanda-tanda vital

2. Awasi timbulnya kejang

2. 10 Prognosis

Quo et vitam : dubia ad bonam

Quo et functionam : dubia ad bonam

Quo et sanactionam : dubia ad bonam

2.11 Follow up harian

Hari /
Tanggal Catatan Instruksi
Rawatan

31/12/201 S/ kejang tidak ada, demam tidak Th/


6 ada, nyeri menelan (-) batuk
IVFD 2:1 11tetes
berdahak.
H1 permenit (makro)
O/ Kes : Compos mentis
Diazepam tablet 4 mg/ 8
HR : 94 x/mnt jam saat demam dan
Diazepam intravena 5
T : 36,7oC
mg bila kejang.
RR : 24 x/mnt
Paracetamol tablet 120
Tenggorokan : Tonsil T1/T1, mg jika demam.
hiperemis (-), faring hiperemis.

16
Ass/

Kejang Demam Simpleks

Faringitis Akut

01/01/201 S/ kejang tidak ada, demam tidak Th/


7 ada, nyeri menelan (-) batuk
IVFD 2:1 11tetes
berdahak.
H2 permenit (makro)
O/ Kes : Compos mentis
Diazepam tablet 4 mg/ 8
HR : 88 x/mnt jam saat demam dan
Diazepam intravena 5
T : 37,0oC
mg bila kejang.
RR : 24 x/mnt
Paracetamol tablet 120
Tenggorokan : Tonsil T1/T1, mg jika demam.
hiperemis (-), faring hiperemis.

Ass/

Kejang Demam Simpleks

Faringitis Akut

02/01/201 S/ kejang tidak ada, demam tidak Th/


7 ada, nyeri menelan (-) batuk
IVFD 2:1 11tetes
berdahak.
H3 permenit (makro)
O/ Kes : Compos mentis
Diazepam tablet 4 mg/ 8
HR : 96 x/mnt jam saat demam dan
Diazepam intravena 5
T : 37,0oC
mg bila kejang.
RR : 22 x/mnt
Paracetamol tablet 120

17
Tenggorokan : Tonsil T1/T1, mg jika demam.
hiperemis (-), faring hiperemis.
Ambroxol
Ass/

Kejang Demam Simpleks

Faringitis Akut

18
BAB IV

ANALISA KASUS

Kejang demam didefenisikan sebagai bangkitan kejang yang terjadi pada


kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 0C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada anak berumur 6 bulan 5 tahun. Anak
yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali
tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur
kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur
kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam,
dapat dipikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang
kebetulan terjadi bersama demam. (3) (1)

Diagnosis kejang demam pada pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis


dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis yang baik dapat
membantu menegakkan diagnosis kejang demam. Perlu ditanyakan kepada orang
tua atau pengasuh yang menyaksikan anaknya semasa kejang yang berupa:

1. Jenis kejang, lama kejang, kesadaran (kondisi sebelum, diantara, dan setelah
kejang)

2. Suhu sebelum atau saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan
anak selepas kejadian kejang

3. Penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (infeksi saluran


pernafasan akut (ISPA), infeksi saluran kemih (ISK), otitis media akut
(OMA), dan lain-lain)

4. Riwayat penyakit dahulu perlu ditanyakan apakah sebelumnya pernah


mengalami kejang dengan demam atau tanpa demam, riwayat
perkembangan (gangguan neurologis), perlu ditanyakan pola tumbuh
kembang anak apakah sesuai dengan usianya, riwayat penyakit keluarga
perlu digali riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga.

19
5. Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya muntah, diare, keluhan lain
yang menyertai demam, seperti batuk, pilek, sesak nafas yang menyebabkan
hipoksemia, asupan kurang yang dapat menyebabkan hipoglikemia)

Pada pemeriksaan fisik, nilai keadaan umum dan kesadaran anak, apakah
terdapat penurunan kesadaran. Setelah itu dilakukan pemeriksaan tanda-tanda
vital terutamanya suhu tubuh, apakah tedapat demam, yang dapat dilakukan di
beberapa tempat seperti pada axilla, rektal dan telinga. Pada anak dengan kejang
demam penting untuk melakukan pemeriksaan neurologis, antara lain:

1. Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, Kernique, Laseque, Brudzinski I


dan Brudzinski II.

2. Pemeriksaan nervus kranialis.

3. Tanda peningkatan tekanan intrakranial: ubun ubun besar (UUB)


membonjol, papil edema.

4. Tanda infeksi di luar SSP: ISPA, OMA, ISK dan lain lain.

5. Pemeriksaan neurologis: tonus, motorik, reflek patologis dan fisiologis

Beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan dalam mengevaluasi


kejang demam, diantaranya sebagai berikut.

1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan ini tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi
dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau
keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan
laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit, gula darah
dan urinalisis. Selain itu, glukosa darah harus diukur jika kejang lebih lama dari
15 menit dalam durasi atau yang sedang berlangsung ketika pasien dinilai. (1)

2. Pungsi lumbal

20
Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pungsi lumbal dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasein kejang demam
pertama (Soetomenggolo, 1999). Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk bayi
kurang dari 12 bulan, bayi antara 12 - 18 bulan dianjurkan untuk dilakukan dan
bayi > 18 bulan tidak rutin dilakukan pungsi lumbal. Pada kasus kejang demam
hasil pemeriksaan ini tidak berhasil.(1)

3. Elektroensefalografi (EEG)

Pemeriksaan ini tidak direkomendasikan setelah kejang demam sederhana


namun mungkin berguna untuk mengevaluasi pasien kejang yang kompleks atau
dengan faktor risiko lain untuk epilepsy. EEG pada kejang demam dapat
memperlihatkan gelombang lambat di daerah belakang yang bilateral, sering
asimetris dan kadang-kadang unilateral. (5)

4. Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala)

Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT-
scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan dan
dilakukan jika ada indikasi seperti kelainan neurologis fokal yang menetap
(hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi structural di otak (mikrosefali,
spastisitas), terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun,
muntah berulang, UUB membonjol, paresis nervus VI, edema papil). (5)

Kejang demam dibagi menjadi dua jenis, yaitu kejang demam simpleks
dan kejang demam kompleks. Kejang demam simpleks adalah kejang yang
berlangsung kurang dari 15 menit, kejang tonik klonik umum, sembuh spontan,
tanpa kejang fokal, dan tidak berulang dalam 24 jam. Kejang demam kompleks
adalah kejang fokal atau parsial, berlangsung lebih dari 15 menit, berulang dalam
24 jam, didapatkan abnormalitas status neurologi, dan didapatkan riwayat kejang
tanpa demam pada orangtua atau saudara kandungnya.Kejang demam kompleks
adalah kejang demam dengan salah satu ciri yakni kejang lama > 15 menit atau
kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar,

21
kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial,
berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam. (1) (6)

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang,


Pasien mengalami kejang terjadi seluruh tubuh disertai kaku dan kelojotan.
Selama kejang pasien tidak sadar, dan saat kenjang telah berhenti pasien tampak
lemas. Keluhan kejang terjadi selama 10 menit berhenti dengan sendirinya secara
bertahap. Pasien juga mengeluh demam yang memberat sejak 2 jam sebelum
terjadinya kejang saat dilakukan pengukuran suhu axila didapatkan 38,40C. Pada
pemeriksaan fisik kepala, hidung telinga dan mata dalam batas normal, faring
tampak hiperemis. Dari pemeriksaan laboratorium darah tidak ditemukan
kelainan. Berdasarkan klasifikasi kejang demam pada pasien dapat
dikelompokkan kedalam kejang demam simpleks. (3) (1)

Demam terjadi karena adanya suatu zat pirogen. Pirogen adalah zat yang
dapat menyebabkan demam. Pirogen terbagi dua yaitu pirogen eksogen adalah
pirogen yang berasal dari luar tubuh pasien. Contoh dari pirogen eksogen adalah
produk mikroorganisme seperti toksin atau mikroorganisme seutuhnya. Salah satu
pirogen eksogen klasik adalah endotoksin lipopolisakarida yang dihasilkan oleh
bakteri gram negatif. Jenis lain dari pirogen adalah pirogen endogen yang
merupakan pirogen yang berasal dari dalam tubuh pasien. Contoh dari pirogen
endogen antara lain IL-1, IL-6, TNF-, dan IFN. Sumber dari pirogen endogen ini
pada umumnya adalah monosit, neutrofil, dan limfosit walaupun sel lain juga
dapat mengeluarkan pirogen endogen jika terstimulasi. (7) (8)

Proses terjadinya demam dimulai dari stimulasi sel-sel darah putih (monosit,
limfosit, dan neutrofil) oleh pirogen eksogen baik berupa toksin, mediator
inflamasi, atau reaksi imun. Sel-sel darah putih tersebut akan mengeluarkan zat
kimia yang dikenal dengan pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF-, dan IFN).
Pirogen eksogen dan pirogen endogen akan merangsang endotelium hipotalamus
untuk membentuk prostaglandin. (8)Prostaglandin yang terbentuk kemudian akan
meningkatkan patokan termostat di pusat termoregulasi hipotalamus. Hipotalamus
akan menganggap suhu sekarang lebih rendah dari suhu patokan yang baru

22
sehingga ini memicu mekanisme-mekanisme untuk meningkatkan panas antara
lain menggigil, vasokonstriksi kulit dan mekanisme volunter. Sehingga akan
terjadi peningkatan produksi panas dan penurunan pengurangan panas yang pada
akhirnya akan menyebabkan suhu tubuh naik ke patokan yang baru tersebut. (8)

Demam yang dialami pasien diduga diakibatkan oleh infeksi faring. Hal
tersebut diketahuin dari keluhan nyeri saat menelan, dan pada pemeriksaan fisik
tenggorok faring hiperemis. Keluhan tersebut merupakan gejala dan tanda
faringitis. Berdsarkan penelitian yang dilakukan oleh Amro et al. yang
menemukan bahwah faringitis penyebab demam kedua paling sering pada pasien
kejang demam setelah infeksi gastroenteritis. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Prof. Dr. dr. Lumantobing pada 297 anak penderita kejang demam,
infeksi yang paling sering menyebabkan demam yang akhirnya memicu serangan
kejang demam adalah tonsillitis/faringitis yaitu 34 %. Selanjutnya adalah otitis
media akut (31 %) dan gastroenteritis. (6)Faringitis yang terjadi pada anak-anak
usia dibawah 3 tahun paling banyak disebabkan oleh virus, hal ini juga sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Esposito et al. yang menemukan 37 dari 65
anak yang mengalami faringitis akut disebabkan oleh virus. (9)

Kejang yang terjadi pada kejang demam diakibatkan oleh gangguan


keseimbangan potensial membran akibat kenaikan suhu. Untuk mempertahankan
kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan suatu energi yang didapat dari
metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan
perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem
kardiovaskuler. Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses
oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh suatu membran yang
terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik.
Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion
kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan elektrolit lainnya,
kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan diluar sel, maka terdapat

23
perbedaan potensial yang disebut potensial membran sel dari sel neuron. Untuk
menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan
enzim Na-KATPase yang terdapat pada permukaan sel. (7)

Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya :

a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.

b. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran


listrik dari sekitarnya.

c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 0Cakan mengakibatkan kenaikan


metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada
seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,
dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu
tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron
dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium
melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas
muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel
maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmiter dan terjadilah kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari
tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan
suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi
pada suhu 380C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang
baru terjadi pada suhu 400C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan
bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang
rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu
berapa penderita kejang. Kejang demam yang berlangsung singkat biasanya tidak
berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai gejala apnea,

24
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang
akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak
teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebkan oleh meningkatnya aktivitas
otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. (5)

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. menurut IDAI
ada beberapa faktor risiko berulangnya kejang demam yakni adanya riwayat
kejang demam dalam keluarga, Usia kurang dari 12 bulan, temperatur yang
rendah saat kejang. Cepatnya kejang setelah demam. Bila seluruh faktor tersebut
ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan bila tidak
terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10%-
15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.

Diagnosis kejang demam adalah ensefalitis dan meningitis.

Ensefalitis

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak yang dapat disebabkan oleh


berbagai macam mikroorganisme (virus, bakteri, jamur dan protozoa). Sebagian
besar kasus tidak dapat ditentukan penyebabnya. Pada anamnesis dikeluhkan
demam tinggi mendadak, sering ditemukan hiperpireksia.penurunan kesadaran
dengan cepat. Anak agak besar sering mengeluh nyeri kepala,ensefalopati, kejang,
dan kesadaran menurun.Kejang bersifat umum atau fokal, dapat berupa status
konvulsivus. Dapat ditemukansejak awal ataupun kemudian dalam perjalanan
penyakitnya. (10)

Pemeriksaan fisik pada ensefalitis seringkali ditemukan hiperpireksia,


kesadaran menurun sampai koma dan kejang.Kejang dapat berupa status
konvulsivus. Ditemukan gejala peningkatan tekanan intrakranial.Gejala serebral
lain dapat beraneka ragam, seperti kelumpuhan tipe upper motorneuron (spastis,
hiperrefleks, refleks patologis, dan klonus). (10)

25
Pada pemeriksaan Pungsi lumbal: pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS)
bisa normal atau menunjukkanabnormalitas ringan sampai sedang:

a. peningkatan jumlah sel 50-200/mm3

b. hitung jenis didominasi sel limfosit

c. protein meningkat tapi tidak melebihi 200 mg/dl

d. glukosa normal. (10)

Pencitraan (computed tomography/CT-Scan atau magnetic resonance


imaging/MRIkepala) menunjukkan gambaran edema otak baik umum maupun
fokal.Pemeriksaan elektroensefalografi merupakan pemeriksaan penunjang yang
sangatpenting pada pasien ensefalitis. Walaupun kadang didapatkan gambaran
normalpada beberapa pasien, umumnya didapatkan gambaran perlambatan atau
gelombangepileptiform baik umum maupun fokal. (10)

Meningitis

Meningitis bakterialis adalah suatu peradangan selaput jaringan otak dan


medulla spinalisPeradangan tersebut mengenai araknoid, piamater, dan cairan
serebrospinalis. (10)

Pada anamnesis sering dikeluhkan demam, nyeri kepala, meningismus


dengan atau tanpapenurunan kesadaran, letargi, malaise, kejang, dan muntah
merupakan hal yang sangatsugestif meningitis tetapi tidak ada satu gejala pun
yang khas. Banyak gejala meningitis yang berkaitan dengan usia, misalnya anak
kurang dari 3tahun jarang mengeluh nyeri kepala. Pada bayi gejala hanya berupa
demam, iritabel,letargi, malas minum, dan high pitched-cry. (10)

Pada pemeriksaan fisik dapata ditemukan gangguan kesadaran dapat


berupa penurunan kesadaran atau iritabilitas. Dapat juga ditemukan ubun-ubun
besar yang membonjol, kaku kuduk, atau tanda rangsang meningeal lain
(Bruzinski dan Kernig), kejang, dan defisit neurologis fokal.Tanda rangsang

26
meningeal mungkin tidak ditemukan pada anak berusia kurang dari1 tahun.Dapat
juga ditemukan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. (10)

Pemeriksaan fungsi lumbal didapatkan:

1. cairan keruh atau opalesence dengan Nonne (-)/(+) dan Pandy (+)/(++).

2. Jumlah sel 100-10.000/mm3 dengan hitung jenis predominan


polimorfonuklear,protein 200-500 mg/dl, glukosa < 40 mg/dl, pewarnaan gram,
biakan dan ujiresistensi. Pada stadium dini jumlah sel dapat normal dengan
predominan limfosit.

3. Apabila telah mendapat antibiotik sebelumnya, gambaran LCS dapat tidak


spesifik. Pada pemeriksaan elektroensefalografi dapat ditemukan perlambatan
umum. (10)

Tatalaksana penghentian kejang dapat dibagi kedalam :

0-5 menit :

1. Longgarkan pakaian pasien, dan miringkan. Letakkan kepala lebih rendah


dari tungkai untuk mencegah aspirasi bila pasien muntah

2. Yakinkan bahwa aliran udara pernapasan baik, berikan oksigen bila ada.

3. Pada saat di rumah dapat diberikan diazepam rektal 0,5 mg/kg (berat badan
< 10 kg = 5 mg; sedangkan bila berat badan > 10 kg =10 mg) dosis
maksimal adalah 10 mg / dosis.

4. Maksimal dapat diberikan 2 kali dengan interval 5 menit

5. Bila keadaan pasien stabil, pasien dibawa ke rumah sakit terdekat. (11)

5-10 menit

27
1. Bila saat tiba di rumah sakit pasien kejang kembali. Dapat
diberikandiazepam rektal 1 kali dengan dosis yang sama.

2. Lakukan pemasangan akses intravena. Pengambilan darah


untukpemeriksaan : darah rutin, glukosa, dan elektrolit

3. Bila masih kejang berikan diazepam 0,2-0,5 mg/kgbb secara


intravena(kecepatan 5 mg/menit),

4. Jika didapatkan hipogikemi, berikan glukosa 25% 2 mL/kg berat badan.


(11)

10 30 menit

1. Cenderung menjadi status konvulsifus

2. Berikan fenitoin 20 mg/kg intravena dengan pengenceran setiap 10


mgfenitoin diencerkan dengan 1 mL NaCl 0,9 % dan diberikan
dengankecepatan 50 mg/menit. Dosis maksimal adalah 1000 mg fenitoin.

3. Bila kejang tidak berhenti diberikan fenobarbital 20 mg/kg intravena


bolusperlahanlahan dengan kecepatan 100 mg/menit. Dosis maksimal
yangdiberikan adalah 1000 mg fenobarbital.

4. Bila kejang masih berlangsung diberikan midazolam 0,2 mg/kg


diberikanbolus perlahan dilanjutkan dengan dosis 0,02 0,06 mg/kg/jam
yangdiberikan secara drip. Cairan dibuat dengan cara 15 mg midazolam
berupa3 mL midazolam diencerkan dengan 12 mL NaCl 0,9 % menjadi 15
mLlarutan dan diberikan perdrip dengan kecepatan 1 mL/jam (1 mg/jam).
(11)

> 30 menit

1. Bila kejang berhenti dengan pemberian fenitoin dan selama perawatan


timbul kejang kembali diberikan fenitoin tambahan dengan dosis 10 mg/
kg intravena dengan pengenceran. Dosis rumatan fenitoin selanjutnya

28
adalah 5 7 mg/kg intravena dengan penegnceran diberikan 12 jam
kemudian. .

2. Bila kejang berhenti dengan fenobarbital dan selama perawatan timbul


kejang kembali diberikan fenobarbital tambahan dengan dosis 10 mg/kg
intravena secara bolus langsung. Dosis rumatan fenobarbital adalah 5 7
mg/kg intravena diberikan 12 jam kemudian

3. Bila kejang berhenti dengan midazolam, maka rumatan fenitoin dan


fenobarbital tetap diberikan.

4. Pemeriksaan laboratorium disesuaikan dengan kebutuhan seperti analisis


gas darah, elektrolit, gula darah. Dilakukan koreksi terhadap kelainan
yang ada dan awasi tanda-tanda depresi pernapasan. (11)

Menurut konsensus penatalaksanaan kejang demam IDAI, apabila pasien


datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang
adalah diazepam intravena adalah 0,3 -0,5 mg/kg perlahanlahan dengan
kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20
mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau dirumah adalah
diazepam rektal. Diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5
mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat
badan lebih dari 10 kg. Atau Diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak
dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun. (1)

Bila setelah pemberian Diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat


diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila
setelah 2 kali pemberian Diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke
rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan Diazepam intravena dengan dosis
0,3-0,5 mg/kg. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara
intravena dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit
atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8
mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum
berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang berhenti,

29
pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah kejang
demam sederhana atau kompleks dan faktor resikonya. Pemakaian diazepam oral
dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan risiko berulangnya
kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg
setiap 8 jam pada suhu > 38,5 0C. (1)

Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko


terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik
tetap dapat diberikan. Dosis Paracetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali
diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10
mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat
menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga
penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.(1)

Edukasi terhadap orang tua perlu dilakukan, untuk menghidarai panic dan
cemas saat terjadi kejang pada anak. Adapun bebarapa edukasi yang dapat
disampaikan adalah:

a. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik

b. Memberitahukan cara penanganan kejang

c. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali

d. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus


diingat adanya efek samping obat. (1)

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang.


a. Tetap tenang dan tidak panik.
b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.
c. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun
kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
d. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
e. Tetap bersama pasien selama kejang.

30
f. Berikan diazepam rektal, dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
g. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau
lebih. (1)

Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri


sebagai berikut (salah satu):

1. Kejang lama > 15 menit

2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.

3. Kejang fokal

4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:

Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.

Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12bulan.

Kejang demam > 4 kali per tahun

Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudiandihentikan


secara bertahap selama 1-2 bulan.(1)

Pasien kejang demam dirawat di rumah sakit jika jenis kejang demam
kompleks, hiperpireksia (suhu > 390 C), usia dibawah 6 bulan, kejang demam
pertama kali, terdapat kelainan neurologis. Indikasi pasien dipulangkan pada psien
kejang demam adalah kejang sudah teratasi dan terkendali, sudah diketahui
penyebab/ pencetus kejang, ibu penderita sudah dapat mengenal, mencegah dan
mengatasi kejang dengan segera dan dapat mengenal penyimpangan tumbuh
kembang anak.

Pasien datang kerumah sakit tidak dalam keadaan kejang, pasien dirawat
inap karena kajang yang dialami merupakan kejang pertama. Terapi yang
diberikan pada pasien adalah diazepam tablet 4 mg/ 8 jam saat demam dan

31
Diazepam intravena 5 mg bila kejang, paracetamol tablet 120 mg jika demam, dan
ambroxol syrup 3x1 sendok teh. Serta dilakukan edukasi terhadap orang tua.
Pasien dipulangkan pada hari rawatan ke 3. Dengan obat pulang parasetamol
syrup 1 sendok teh jika demam, dan stesolid rektal 5 mg jika kejang. Pasien juga
diberikan obat batuk ambroxol syrup 3x1 sendok teh. Terapi rumatan tidak
diberikan terhadap pasien tersebut.

32
BAB V
KESIMPULAN

1. Kejang demam didefenisikan sebagai bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 0C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada anak berumur 6 bulan 5 tahun.

2. Kejang demam diklasifikasikan kedalam kejang demam simpleks dan kejang


demam kompleks. Kalsifikasi tersebut diperlukan untuk menentukan pilihan terapi.

3. Perlu edukasi terhadap orang tua untuk menhindari kepanikan dan kecemasan serta
menjelaskan langkah yang dapat dilakukan jika kejang terjadi lagi.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Unit Kerja Koordinasi Neurologi 2006. Konsensus penetalaksanaan kejang Demam.


In Ikatan Dokter Anak Indonesia ; 2006; Jakarta.

2. International League Against Epilepsy. Commission on Epidemiology and Prognosis.


In ; 1993; New York. p. 592-8.

3. Chung S. Febrile seizures. Korean J Pediatr. 2014 December; 57(9).

4. Annegers J, Blakley S, Hauser W, Kurland L. Recurrence of febrile convulsions in a


population-based cohort. Epilepsy Res. 1990 April; 5(3).

5. Soetomenggolo T. Kejang Demam. In Ismael S, editor. Buku Ajar Neurologi Anak.


Jakarta: BP IDAI; 1999. p. 244-51.

6. Lumbantobing S. Kejang Demam Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.

7. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. 8th ed. Jakarta: EGC; 2014.

8. Dinarello CA, Gelfand JA. Fever and Hyperthermia. In Kasper DL. Harrisons
Principles of Internal Medicine. Singapore: : The McGraw-Hill Company; 2005. p.
104-108.

9. Susanna E, Francesco B, Samantha B. Aetiology of acute pharyngitis: the role of


atypical bacteria. Journal of Medical Microbiology. 2004 January; 53.

10. IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA. Pedoman Pelayanan Medis. In ; 2009;


Jakarta. p. 67-68.

11. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Tata Laksana Berbagai Keadaan
Gawat Darurat pada Anak. In PENDIDIKAN KEDOKTERAN BERKELANJUTAN
LXIV; 2013; Jakarta. p. 21-30.

34