Anda di halaman 1dari 16

Batasan Ilmu Pengetahuan

Mengacu pada karakteristik yang dimilkinya,maka ilmu pengetahuan


memilki batasan batasan tertentu. Kebenaran yang di peroleh dari ilmu
pengetahuan terbatas pada kebenaran yang sifatnya rasional empiris. Secara
rasional ,ilmu meyusun ilmu pengetahuannya secara konsisten dan
komulatif,sedangkan secara empiris,ilmu memisahkan antara pengetahuan
yang sesuai dengan fakta atau tidak. (Nadiroh :150-151)

Kebenaran yang di akui nalar ,serta wujud konkretnya dapat di


buktikan secara empiris. Adapun segala sesuatu yang berada di luar
jangkauan akal,tidak termasuk ke dalam jangakauan ilmu pengetahuan.
Sama dengan segala hal yang berada di luar jangkauan daya tangkap indra
manusia ,berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan. Perangkat alat yang
di perlukan untuk menangkap fenomena alam ,fakta realitas empiris , dan
realitas metafisika antara lain adalah indra ,naluri,akal,intuisi dan hati
nurani. Ilmu pengetahuan membatasi ruang lingkup penjelajahannya pada
batas pengalaman manusia juga oleh metode yang digunakan dalam
menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empirik

Semua perangkat ilmu pengetahuan memilki daya jangkau dengan


kemampuan yang terbatas. Masalah mistik,alam ghaib sama sekali tidak
dapat di jelaskan dengan alat tersebut. Selain itu ilmu pengetauhan juga
hanya membataskan diri pada kewenangan daalam menentukan benar dan
salah dalam suatu pernyataan. Dalam menentukan baik dan buruk,bagus dan
cantik semua mengacu pada sumber moral dan kajian estetik.

Sehubungan dengan batasan ilmu pengetahuan tersebut,


Einstein mengatakan bahwa Ilmu di mulai dari fakta dan di akhiri denga
fakta apapun yang menjembataani keduanya . Dengan keterbatasan ini pula
ada yang mengatakan bahwa penjelajahan imu pengetahuan berhenti pada
batas kemampuan rasional empiris. Setelah penjelajahannya terhenti maka
di teruskan oleh filsafat. Ternyata filsafat juga memilki batasan dan ketika
penjelajahan filsafat terhenti oleh batas kemampuan optimal rasio manusia
yang kemudian di teruskan oleh seni dan agama. Bagi yang
memercayainya,kebenaran agama mutlak sifatnya termasuk-kadang- yang
tidak sesuai dengan nalar dan kebenaran pengalaman indrawi.

Kebenaran ilmu pengetahuan paling jelas bila di hubungkan dengan


kemampuan manusia dalam mengenal hakikat dirinya secara utuh.
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat
besar untuk mengetahui dirinya ,walaupun kita memilki perbendaharaan
yang cukup banyak dari penelitian para ilmuan,filsuf,sastrawan dan para
ahli agama sepanjang masa ini.Tetapi kita hanya mampu
mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita,Kita tidak mengetahui
manusia secara utuh.yang kita ketahui hanyalah manusia dari bagian-bagian
tertentu dan ini pun pada hakiatnya di bagi lagi dengan cara kita sendiri.
Pada hakikatnya kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh
mereka yang memelajari manusia- kepada diri mereka hingga kini masih
tetap tanpa jawaban. (quraish Shihab,1996:227)

Memang kemampuan dan jangkauan ilmu pengetahuan sangat


terbatas. Kemampuannya hanya pada jangkauan pengalaman indrawi
manusia yang berhubungan dengan alam fisis. Meneliti gejala-
gejala,fenomena-fenomena,pengukuran besaran fisik lalu
merumuskannya.Manusia dapat mengindrakan alam fisis dan
memelajarinya,namun hal yang serupa tidak dapat di lakukan di alam non
fisis yang tidak dapat di indrakan.kita tidak dapat melakukan observasi
dalam hal tersebut.Dengan demikian hal yang berada di luar alam fisis sama
sekali tidak dapat di jelajahi oleh jangkauan ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan hanya di gunakan oleh manusia sebatas untuk memrediksi
,mengontrol,memanipulasi,serta menguasai alam berdasarkan gejala dan
fenomena yang teramati oleh indra.

Batas-batas penjelajahan ilmu adalah pengalaman manusia dan


pengetahuan yang secara empiris telah diuji. ilmu memulai penjelajahannya
pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia.
Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya manusia?.
Jawabannya tidak. Karena diluar penjelajahan ilmu.
Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu
berhenti dan meyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain?
Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologi ilmu yang membedakan
ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawab dari semua pertanyaan
itu adalah sangat sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada
pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi
ilmu tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak
mempelajari sebab akibat kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu
berada di luar jangkauan pengalamanmanusia.

Mengapa ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda


dalam pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri
dalam kehidupan manusia; yakni sebagai alat pembantu manusia dalam
menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup
penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode
yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara
empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman
empirisnya, bagaimanakah kita melakukan suatu kontradiksi yang
menghilangkan kesahihan metode ilmiah? Kalau begitu maka sempit sekali
batas jelajah ilmu, kata seorang, Cuma sepotong dari sekian permasalahan
kehidupan. Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan dalam batas
pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar
atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua berpaling
kepada sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling
kepada pengkajian estetik.
Ruang penjelajahan keilmuan kemudian kita kapling-kapling dalam
berbagai displin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai
dengan perkembangan kuatitatif displin keilmuan. Kalau pada fase
permualaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial maka
sekarang ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan.
Ciri Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan lahir dari suatu rangkaian aktivitas akal manusia


yang disusun secara sistematis. Semua yang dinamakan ilmu pengetahuan
selalu memiliki syarat-syarat atau ciri-ciri tertentu. Sifat dan ciri ilmu tersebut
adalah memiliki objek, menggunakan metode, sistematis, universal, objektif,
analitis, dan verifikatif. Berikut ini identifikasi dari sifat dan ciri dari ilmu
pengetahuan atau ilmu yang dihasilkan oleh manusia.

Menurut The Liang Gie (1987), ilmu pengetahuan dicirikan :

1. Empiris, artinya pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan;


2. Sistematis, artinya berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan yang teratur
3. Objektif, artinya ilmu pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan
kesukaan pribadi;
4. Analitis, artinya pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya dan
peranan dari bagian-bagian itu
5. Verifikatif, artinya dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun

Berdasarkan pendapat Daoed Joesoef (1987), pengertian ilmu mengacu pada tiga hal
yaitu produk, proses dan masyarakat. Ilmu pengetahuan sebagai produk yaitu pengetahuan
yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuwan. Pengetahuan ilmiah
dalam hal ini terbatas pada kenyataan-kenyataan yang mengandung kemungkinan untuk
disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji, dan dibantah oleh seseorang.

1. Ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab semua pertanyaan.

Ilmu memiliki keterbasan dan membatasi lingkup kajiannya pada batas pengalaman
manusia. Hal ini menurut Jujun S. Suriasumantri (2003) karena fungsi ilmu itu sendiri
dalam kehidupan manusia yaitu sebagai alat membantu manusia dalam menanggulangi
masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari3 .

2. Hasil ilmiah bersifat universal.

Ilmu mengasumsikan bahwa alam semesta ini, seperti namanya, sebuah sistem
tunggal yang luas di mana aturan-aturan dasar di mana-mana sama. Pengetahuan yang
diperoleh dari mempelajari salah satu bagian dari alam semesta ini berlaku untuk bagian
lain.
3. Ide-ide ilmiah atau kesimpulan dapat berubah dan bersifat tentatif.

Ilmu dapat menerima revisi (hukum-hukum, teori, prinsip, standar, dan lainnya)
melalui pengujian terus menerus dan evaluasi, peer review atau replikasi. Pada
prinsipnya, teori apapun dapat berubah setelah upaya pembantahan dan teori-teori baru
dapat menggantikan yang lama. Hal ini menyebabkan ilmu pengetahuan dapat mengatasi
masalahnya sendiri.

4. Sains menuntut bukti kuat

Ilmu mengandalkan diverifikasi, terukur, bukti yang sah, yaitu, data yang akurat, pada
setiap tahap proses ilmiah. Bukti-bukti dapat dikumpulkan oleh pengukuran dan hanya
dengan indera kita, atau ekstensi dari indera kita (instrumen). Keputusan ilmiah atau
evaluasi tidak dipengaruhi oleh perasaan manusia, pengalaman masa lalu atau keyakinan.
Pengembangan ilmu dan pengetahuan ilmiah yang tidak dipengaruhi oleh faktor manusia,
seperti prasangka, bias, berpikir atau berharap angan, keyakinan pribadi atau prioritas
atau preferensi, kebangsaan, jenis kelamin, asal etnis, usia, keyakinan politik, moral dan
penilaian estetika dan pilihan atau agama.

5. Ilmu dibentuk oleh logika

Kehadiran data yang akurat tidak cukup bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Konsep-
konsep ilmiah tidak muncul secara otomatis dari data atau dari jumlah analisis saja.
Logika (pengetahuan) dan kreativitas diperlukan untuk membentuk mereka ke dalam
hasil ilmiah. Semua pertanyaan ilmiah harus sesuai dengan prinsip-prinsip logis
penalaran-yaitu, untuk menguji validitas argumen dengan menerapkan kriteria tertentu
inferensi, demonstrasi, dan rasional.
Selanjutnya, filsafat ilmu (pengetahuan) merupakan cabang filsafat yang menelaah
baik ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah maupun cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan
ilmiah. Sehingga ia menyimpulkan bahwa ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah adalah sebagai
berikut:

1. Sistematis.
Ilmu pengetahuan ilmiah bersifat sistematis artinya ilmu pengetahuan ilmiah dalam upaya
menjelaskan setiap gejala selalu berlandaskan suatu teori. Atau dapat dikatakan bahwa teori
dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan gejala dari kehidupan sehari-hari. Tetapi
teori itu sendiri bersifat abstrak dan merupakan puncak piramida dari susunan tahap-tahap
proses mulai dari persepsi sehari-hari/ bahasa sehari-hari, observasi/konsep ilmiah, hipotesis,
hukum dan puncaknya adalah teori.

a. Persepsi sehari-hari (bahasa sehari-hari).

Dari persepsi sehari-hari terhadap fenomena atau fakta yang biasanya disampaikan dalam
bahasa sehari-hari diobservasi agar dihasilkan makna. Dari observasi ini akan
dihasilkan konsep ilmiah.

b. Observasi (konsep ilmiah).

Untuk memperoleh konsep ilmiah atau menyusun konsep ilmiah perlu ada definisi. Dalam
menyusun definisi perlu diperhatikan bahwa dalam definisi tidak boleh terdapat kata yang
didefinisikan. Terdapat 2 (dua) jenis definisi, yaitu: definisi sejati dan definisi nir-sejati.

Definisi sejati dapat diklasifikasikan dalam:

1) Definisi Leksikal. Definisi ini dapat ditemukan dalam kamus, yang biasanya bersifat
deskriptif.
2) Definisi Stipulatif. Definisi ini disusun berkaitan dengan tujuan tertentu. Dengan
demikian tidak dapat dinyatakan apakah definisi tersebut benar atau salah. Benar atau
salah tidak menjadi masalah, tetapi yang penting adalah konsisten (taat asas). Contoh
adalah pernyataan dalam Akta Notaris: Dalam Perjanjian ini si A disebut sebagai
Pihak Pertama, si B disebut sebagai Pihak Kedua.
3) Definisi Operasional. Definisi ini biasanya berkaitan dengan pengukuran
(assessment) yang banyak dipergunakan oleh ilmu pengetahuan ilmiah. Definisi ini
memiliki kekurangan karena seringkali apa yang didefinisikan terdapat atau disebut
dalam definisi, sehingga terjadi pengulangan. Contoh: Yang dimaksud inteligensi
dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang yang dinyatakan dengan skor tes
inteligensi.
4) Definisi Teoritis. Definisi ini menjelaskan sesuatu fakta atau fenomena atau istilah
berdasarkan teori tertentu. Contoh: Untuk mendefinisikan Superego, lalu
menggunakan teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud.

Definisi nir-sejati dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

1) Definisi Ostensif. Definisi ini menjelaskan sesuatu dengan menunjuk barangnya.


2) Definisi Persuasif. Definisi yang mengandung pada anjuran (persuasif). Dalam
definisi ini terkandung anjuran agar orang melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

c. Hipotesis: dari konsep ilmiah yang merupakan pernyataan-pernyataan yang mengandung


informasi, dua pernyataan digabung menjadi proposisi. Proposisi yang perlu diuji
kebenarannya disebut hipotesis.
d. Hukum: hipotesis yang sudah diuji kebenarannya disebut dalil atau hukum.
e. Teori: keseluruhan dalil-dalil atau hukum-hukum yang tidak bertentangan satu sama lain
serta dapat menjelaskan fenomena disebut teori.

2. Dapat dipertanggungjawabkan.

Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan melalui 3 (tiga) macam sistem,


yaitu:

a. Sistem axiomatis

Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala sehari-hari
mulai dari kaidah atau rumus umum menuju rumus khusus atau konkret. Atau mulai teori
umum menuju fenomena/gejala konkret. Cara ini disebut deduktif-nomologis. Umumnya
yang menggunakan metode ini adalah ilmu-ilmu formal, misalnya matematika.

b. Sistem empiris

Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu teori mulai dari gejala/ fenomena
khusus menuju rumus umum atau teori. Jadi bersifat induktif dan untuk menghasilkan
rumus umum digunakan alat bantu statistik. Umumnya yang menggunakan metode ini
adalah ilmu pengetahuan alam dan sosial.

c. Sistem semantik/linguistik
Dalam sistem ini kebenaran didapatkan dengan cara menyusun proposisi-proposisi
secara ketat. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu bahasa (linguistik).

3. Objektif atau intersubjektif

Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat mandiri atau milik orang banyak (intersubjektif).
Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat otonom dan mandiri, bukan milik perorangan (subjektif)
tetapi merupakan konsensus antar subjek (pelaku) kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu
pengetahuan ilmiah itu harus ditopang oleh komunitas ilmiah.

Dari pelbagai uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri ilmu (pengetahuan)
setidaknya memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah
yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam.
Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji
keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni
persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan
subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.

2. Metodis, yaitu upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan


terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara
tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani
Metodos yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu
yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.

3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek,


ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga
membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, dan mampu
menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang
tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang
ketiga.

4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat
umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180. Karenanya
universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial
menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-
ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai
tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

5. Analitis. Kajian dari sebuah ilmu akan menuju hal-hal yang lebih khusus
seperti bagian, sifat, peranan dan berbagai hubungan. Untuk
memahami hal yang bersifat khusus perlu pengkajian secara khusus
pula, sehingga terdapat antar hubungan bagian yang dikaji sebagai
hasil analisa. Oleh karena itu, sebuah ilmu akan terbagi menjadi
berbagai cabang ilmu dengan kajian yang lebih khusus.

6. Verifikatif. Kebenaran dalam sebuah ilmu bukanlah bersifat mutlak tetapi bersifat
terbuka atau verifikatif yang juga dikenal dengan kebenaran ilmiah. Artinya, sesuatu
yang semula dianggap benar suatu saat mungkin menjadi salah bila ditemukan bukti-
bukti baru yang menentang kebenaran
Metode Keilmuan

Pengertian
Metode ilmu atau metode keilmuan adalah suatu cara di dalam memperoleh ilmu atau
pengetahuan baru.
Menurut Ading Nasrulloh (2009) pengetahuan itu harus dikandung oleh filsafat, lalu
dilahirkan, dibesarkan dan diasuh oleh matematika, logika, bahasa, statistika dan metode
ilmiah.

Metode ilmu mengandung struktur-struktur rasional dari sebuah penyelidikan ilmiah


(penyelidikan keilmuan) yang melaluinya, disusun berbagai dugaan, ramalan, atau prediksi
serta pengujian-pengujian-pengujian sahih atasanya.

Prosedur keilmuan yang merupakan metode ilmu atau metode ilmiah dimaksud tidak hanya
mencakup aspek pengamatan (observasi) atau percobaan (eksperimen), namun terkait dengan
aspek; analisis, pemerian (uraian), penggolongan (klasifikasi), pengukuran, perbandingan,
pengujian, dan survei.

2. Langkah-langkah di dalam metode keilmuan


Langkah-langkah baku yang bisanya ditempuh dalam sebuah metode keilmuan ada 6 (enam),
yaitu;

a. Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah.


b. Perumusan hipotesis.
c. Pengamatan, eksperimentasi, dan pengumpulan data.
d. Penyusunan dan klasifikasi data.
e. Penyimpulan
f. Pengujian atau verifikasi hasil

3. Konsep, Model dan Hipotesis dalam Metode Keilmuan


Konsep dalam metode keilmuan merupakan ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal
yang biasanya dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus. Konsep
merupakan alat yang penting untuk pemikiran terutama dalam hal penelitian.

Model adalah suatu gambaran abstrak (citra) yang diperlukan terhadap sekelompok fakta atau
gejala. Hipotesis adalah suatu kerangka yang bersifat sementara untuk kepentingan pengujian
dan pangkal penyelidikan lanjut demi untuk pembuktian yang lebih sempurna.

4. Metode keilmuan, Pendekatan, dan Teknik


Metode, pendekatan, dan teknik merupakan hal yang berbeda, walaupun saling bertalian.
Metode keilmuan adalah cara kerja atau prosedur keilmuan untuk mendapatkan data dan
mempergunakan data. Pendekatan adalah ukuran-ukuran baku untuk memilih masalah atau
data yang bertalian.
Teknik, juga berbeda dengan metode keilmuan. Teknik merupakan cara-cara operasional,
dalam arti yang lebih terinci dan bersifat rutin dan mekanis untuk memperoleh dan
menangani data di dalam penelitian keilmuan.

Metode Keilmuan

Muara iman adalah perbuatan, demikian St. Yakobus dalam suratnya. Demikian pula Ranggawarsita
mengatakan hal serupa. Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Sulit dimengerti adanya ilmu tanpa guna dalam
praksis hidup manusia. Hal ini menjadi anggapan luas, yakni bahwa pada dasarnya ilmu adalah metode induktif-
empiris dalam memperoleh pengetahuan. Namun analisis yang mendalam terhadap metode keilmuan
menyingkap kenyataan bahwa pengetahuan lebih tepat digambarkan sebagai kombinasi antara prosedur empiris
dan rasional. Maka jelas pula bahwa rasionalisme dan empirisme sama-sama berperan dalam metode keilmuan.

Metode keilmuan adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan yang berupa rangkaian prosedur
tertentu guna mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan tertentu pula. Kerangka dasar prosedur itu dapat
diuraikan dalam enam langkah:

1) sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah;

2) pengamatan dan pengumpulan data yang relevan;

3) penyusunan atau klasifikasi data;

4) perumusan hipotesis;

5) deduksi dari hipotesis;

6) tes dan pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesis.

Tahap awal metode keilmuan menganggap dunia sebagai suatu kumpulan obyek dan kejadian yang dapat
diamati secara empiris. Kepada dunia yang sedemikian itu kemudian kita terapakn suatu peraturan atau struktur
hubungan sehingga suatu lingkup yang terbatas dari fakta yang tertangkap indra dapat diberi arti. Hal itu
menajamkan kepekaan terhadap masalah yang ktia hadapi.

Masalah yang didefinisikan secara jelas merupakan pernyataan yang harus dijawab. Karena itu tahap
selanjutnya pengumpulan fakta dengan berbagai alat secara induktif-empiris. Dan untuk menjamin pengamatan
yang teliti perlu dilakukan penyusunan dan klasifikasi data.

Namun fakta tidak dapat berbicara tentang dirinya sendiri. Maka perlu disusun sebuah hipotesis, pernyataan
sementara tentang hubungan antarbenda/ hal. Hipotesis diajukan secara khas dengan dasar trail and error untuk
memperoleh rumusan terbaik. Hubungan antara fakta empiris maupun deduktif pada dasarnya merupakan hasil
penalaran deduktif, karena pengetahuan keilmuan lebih bersifat teoritis daripada empiris dan bahwa ramalan
sangat bergantung pada bentuk logika silogistik.

Tes atau verifikasi yang kemudian dilakukan adalah untuk mencari fakta yang mendukung kebenaran
hipotesis, kendati metode keilmuan tidak mengajukan diri sebagai sebuah metode yang membawa manusia
kepada suatu kebenaran akhir yang takkan pernah berubah.

Kritik terhadap Metode Keilmuan:

1. Metode keilmuan cenderung membatasi manusia pada benda-benda/ hal yang dapat dipelajari dengan
alat dan teknik keilmuan tertentu.

2. Kesatuan dan konsistensi pengetahuan keilmuan ternyata tidak sejelas yang dapat diduga sebelumnya.
3. Ilmu menggambarkan hakikat mekanistis, yakni bagaimana hubungan antarbenda/ hal sebagai
hubungan sebab-akibat, tetapi tidak cukup menjelaskan apakah hakikat suatu benda/ hal dan mengapa
seperti itu.

4. Meskipun sangat tepat, pengetahuan keilmuan bukanlah keharusan universal maupun merupakan
persyaratan tertentu. Pengetahuan keilmuan hanyalah pengetahuan yang mungkin dan secara tetap
berubah setiap saat.

Metode keilmuan adalah rangkaian prosedur tertentu guna mendapatkan jawaban tertentu dari
pernyataan tertentu pula untuk memperoleh pengetahuan. Kerangka dasar prosedur itu terdiri
atas enam langkah:
Menyadari adanya masalah dan merumuskan masalah; bermula dari pertanyaan. (Seperti,
Mulai dari masalah, berawal dari pertanyaan
Melakukan pengamatan dan mengumpulkan data yang relevan;
Menyusun atau mengklasifikasi data;
Merumuskan hipotesis;
Mengembangkan deduksi dari hipotesis;
Menguji kebenaran (verifikasi) hipotesis.(Ruhcitra).
Seseorang bertanya menandakan bahwa dia telah memiliki kebenaran atau pengetahuan
sebelumnya. Bertanya menandakan dia tahu. Bertanya menandakan bahwa kemungkinan
pengetahuan baru sedang dikembangkan.
Kemampuan seseorang dalam penguasaan ilmu adalah adalah melalui pengembangan
kemampuan berpikir yang tidak terlepas dari empat prinsip di bawah ini.
Berpikir itu adalah pengalaman
Bahan berpikir bukanlah pikiran, tetapi tindakan, fakta, peristiwa, dan data. Dengan kata
lain, untuk berpikir secara efektif seseorang pasti harus melakukan tindakan, memiliki fakta
dan data, punya pengalaman yang akan menyediakan sumber daya kepadanya untuk
mengatasi kesulitan yang dihadapi.
Bahan pemikiran itu dapat berbentuk tindakan seperti pengalaman belajar dalam
memperoleh keterampilan seperti membaca, mengeja, menulis, menggambar, menjelaskan;
memperoleh informasi seperti melalui pelajaran sejarah dan geografi serta media masa, dan
melatih berpikir untuk mengintegrasikan pengalaman dalam pikirannya.
Berpikir itu berkorelasi dengan fakta, data, pengetahuan yang telah diperoleh, saran-saran,
kesimpulan, prediksi, pengandaian, dan hasil pengamatan. Dengan proses situ mereka
mendefinisikan, memperjelas, dan menemukan pertanyaan; dan memasok informasi agar
dapat menyusun jawaban.
Berpikir yang efektif itu jika dilakukan dengan rendah hati mengikuti teori yang
bermartabat, dengan cara itu mereka dapat mengantisipasi dan memperoleh solusi tentang
bagaimana yang seharusnya serta memahami mengapa kondisi yang mereka hadapi tidak
seperti yang seharusnya.
Kecakapan seseorang dalam menguasai ilmu pengetahuan sebagaimana diungkapkan
Djam,an Satori mengutif kaidah yang disusun oleh John Dewey meliputi lima tahap di bawah
ini.
Mengetahui (to know)
Memahami (to understand)
Menjelaskan (to explain)
Memprediksi (to predict)
Mengontrol(to control)
Kemampuan seseorang dalam menerapkan pikiran dalam meningkatkan pengusaan ilmu
pengetahuan meliputi tahap berikut (1) mengingat (2) memahami (3) menerapkan (4)
menganalisis (5) mensintesis (6) mengevaluasi. Aliran yang mengembangkan teori ini
belakangan menambahkan satu kemampuan tertinggi yaitu berkreasi.
Pentahapan itu tidak selalu menunjukkan urutan berpikir manusia. Oleh karena itu
sebagaimana yang diungkap Plato bahwa manusia tidak mempelajari apa pun, ia hanya
mengingat pada hal yang sudah diketahui. Belajar adalah memastikan dapat mengubah yang
tadinya tidak tahu menjadi tahu. Dengan berbekal pengetahuan yang telah diketahui
sebelumnya manusia bertanya, dan mencari jawatan sehingga membangun pengetahuan baru.
Lembaga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO mengembangkan
empat pilar pendidikan (1) learning to know (2) learning to do (3) learning to live together (4)
learning to be. Kempat pilar tersebut mensyaratkan bahwa pembelajaran merupakan bagian
dari konsep membangun ilmu pengetahuan, meningkatkan keterampilan melakukan kegiatan
meningkatkan kecerdasan sosial yang mendukung konsep bahwa belajar itu merupakan
proses interaksi sosial dan pembelajaran adalah upaya untuk menjadikan siswa sebagai
dirinya sendiri. Menjadi manusia yang berilmu dan bermartabat.
Strategi Pembelajaran
Mempelajari ilmu pengetahuan berawal dari masalah, dari pertanyaan, memahami teori, juga
secara sistematis pembelajaran perlu memberikan pengalaman belajar kepada siswa dalam
aktivitas berpikir dan membangun keterampilan. Validasi pengetahuan dapat dilakukan
melalui model pembelajaran seperti di bawah ini;
Merumuskan masalah tentang apa yang ingin diketahuinya.
Melaksanakan observasi apa yang terjadi atau fenomena;
Memprediksi apa yang bakal terjadi;
Menguji prediki di bawah control, dan mendapat rangsangan untuk melakukan perbaikan
jika melakukan kesalahan;
Mengembangkan perhatian terhadap yang diobserasi;
Menyusun jawaban atau membuktikan kebenaran prediksi
Secara sistematis belajar memerlukan informasi, fakta, data, pengetahuan yang telah
diperoleh, saran-saran, kesimpulan, prediksi, pengandaian, dan hasil pengamatan sehingga
belajar merupakan interaksi sosial dalam mengeksplorasi. (1) meningkatkan pemahaman
masalah (2) pemahaman konsep, termasuk observasi, prediksi, menguji prediksi (3)
melakukan eksplorasi, elaborasi informasi pemecahan masalah (4) meningkatkan ketertarikan
siswa melalui menciptakan kreasi menerapkan konsep. (5) menyusun jawaban atas prediksi
atau pertanyaan yang hendak diketahuinya. Pertanyaan yang hendak diketahuinya dalam
rencana pembelajaran semestinya terdapat dalam tujuan belajar.
Pandangan seperti itu tentu sangat teoritis. Namun demikan sekema berpikir sistematis seperti
itu hendaknya dipertimbangkan dalam memilih sejumlah indikator yang tertuang dalam
rencana pembelajaran sehingga susunannya harus sistematis dan memenuhi kaidah
pengembangan berpikir siswa.
Dengan demikian indikator pembelajaran sebaiknya dipertimbangkan dari sejumlah strategi
mengembangkan pengalaman berpikir, bertindak dalam menyempurnakan ketrampilan serta
mengembangkan perasaan dengan menggunakan asumsi bahwa belajar itu;
Mengembangkan pengetahuan dengan cara menjawab pertanyaan dasar apa yang
sesungguhnya yang hendak siswa ketahui untuk menyempurnakan keterampilannya;
Memahami masalah
Memahami konsep teori untuk memacahkan masalah.
Menetapkan prediksi apa yang bakal terjadi
Menghimpun informasi, fakta, data, pengetahuan yang telah diperoleh, saran-saran,
kesimpulan, prediksi, pengandaian, dan hasil pengamatan.
Membangun kesepakatan jika hal itu memungkinkan.
Membuktikan kebenaran prediksi
Menyusun pengtahuan baru.
Menerapkan pengetahuan secara berulang-ulang sehingga menjadi penguatan dalam
melakukan perbaikan keterampilan dalam bentuk tindakan seperti membaca, mengeja,
menulis, menggambar, menjelaskan; memperoleh informasi, menyebarkan informasi, dan
melatih berpikir untuk mengintegrasikan dengan pengalaman melakukan tindakan dalam
kehidupan sehari-hari.
Memperhatikan semua kaidah yang diuraikan itu, maka guru perlu menyeleksi prinsip mana
saja yang akan diterapkannya dalam kegiatan pembelajaran melalui pemilihan indikator
pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa dan kebutuhan pengembangan siswa
dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Berbagai metode keilmuan itu dapat guru gunakan sebagai landasan pemikiran untuk
mengembangkan model-model pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan struktur
indikator pembelajaran yang sejalan dengan berbagai kaidah keilmuan atau meramu dalam
berbagai variasi yang paling mungkin dapat mendukung efektivitas siswa belajar. Berikut
model persiapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.
1. Merumuskan pertanyaan tentang masalah yang ingin siswa pelajari(apa yang hendak
siswa ketahui dalam pertemuan selama dua jam pelajaran)
2. Menghimpun informasi tentang masalah (Seperti : Mengapa itu terjadi? Bagaimana
prosesnya? Apa dampaknya?) melalui kegiatan membaca, menulis, menggambar,
menjelaskan, merumuskan informasi, menyebarkan informasi, dan melatih, bekerja sama.
3. Mengekplorasi informasi yang berkenaan dengan materi pelajaran.. ( teori, keterangan,
fakta, data, pengetahuan yang telah diperoleh, saran-saran, kesimpulan, prediksi,
pengandaian, dan hasil pengamatan. Dengan proses situ mereka mendefinisikan,
memperjelas, dan menemukan pertanyaan; dan memasok informasi agar dapat menyusun
jawaban)
4. Meyusun prediksi..
5. Menunjukkan bukti-bukit bahwa ..(dalam membuktikan kebenaran)
6. Menyajikan kesimpulan secara ringkas dalam bentuk.
7. Mempublikasikan hasil belajar dalam kelas.
Dari rumusan di atas, dapat diturunkan struktur tujuan pembelajaran sebagai berikut:
1. Siswa dapat merumuskan permasalahan yang akan dipelajarinya.
2. Siswa dapat menghimpun dua jenis teori yang berkaitan dengan poroses pemencahan
masalah .
3. Siswa dapat mengeksplorasi informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah..
(seperti:teori, keterangan, fakta, data, pengetahuan teman, saran-saran, kesimpulan, prediksi,
pengandaian, atau hasil pengamatan) yang berkenaan dengan pemecahan masalah)
4. Siswa dapat merumuskan prediksi jika masalah terpecahkan..
5. Siswa dapat memecahkan masalah dengan menggunakan informasi yang dihimpunnya
6. Siswa dapat merumuskan kesimpulan hasil belajar secara ringkas .
7. Siswa dapat menyampaikan kesimpulan secara tertulis
Aktivitas belajar yang ditunjukkan dengan kata oprasional mengikuti kaidah metode ilmu
pengetahuan, terukur, mengembangkan pengetahuan, sampai meningkatkan keterampilan,
dan diakhiri dengan penampilan produk belajar.
Tinggal masalahnya adalah bagaimana guru terlatih mengelola kelas, merangsang siswa
dengan berbagai peraga, menyediakan informasi yang cukup untuk dieksplorasi,
menyediakan waktu yang efisien untuk mengelaborasi seluruh informasi dalam interaksi
sosial dalam kelas dan menggunakan tatap muka, tugas mandiri terstruktur, dan tugas mandiri
tidak terstruktur dalam sistem yang efektif.
Konsep dalam kegiatan keilmuan

Proses untuk mendapatkan pengetahuan keilmuam dalam semua bidang ilmu


adalah sama. Metode yang dipergunakan adalah metode keilmuan yang sama.
Dalam objek yang ditelaah dalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial tidak
terdapat perbedaan yang mendasar yang dalam hal ini menyebabkan
pemgembangan teknik-teknik yang berbeda sesuai bidang yang dihadapinya.
Namun, teknik-teknik tersebut dikembangkan dalam rangka melaksanakan
metode keilmuan yang sama.

Konsep kegiatan keilmuan terbagi dalam dua sudut pandang, yaitu, induksi dan
deduksi. Induksi adalah suatu cara pengambilan keputusan di mana kita menarik
kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus individual. Dalam membantu
kita menarik kesimpulan umum adalah dengan statistika. Statistika merupakan
alat atau metode yang terlibat dalam proses induktif dari kegiatan keilmuan.
Ilmu induktif merupakan penyelesaian masalah didasarkan atas pengalaman
indrawi atau empiris, contoh ilmu alam.

Konsep dalam kegiatan keilmuan deduksi adalah sebuah proses menarik


kesimpulan yang bersifat individual dari pernyataan yang bersifat umum.
Deduksi merupakan suatu proses penarikan kesimpulan dari pernyataan-
pernyataan yang kebenarannya telah diketahui. Dalam menarik kesimpulan
secara deduksi maka logikalah yang memegang peranan penting. Ilmu deduktif
merupakan penyelesaian masalah yang dihadapi dengan cara penjabaran bukan
atas pengalaman indrawi, contohnya adalah Matematika.

Anda mungkin juga menyukai