Anda di halaman 1dari 3

Ibuprofen memiliki nama kimia (RS)-2-(4-Isobutilfenil) asam propionat.

biasanya
diberikan dalam senyawa rasemat, bentuk garam, ester dan kompleks lainnya.
Digunakan sebagai NSAID, dimana bekerja dengan cara enantiomer S(+)
menghambat COX 1.

Untuk kelarutannya, ditentukan dengan cara bahan obat dimasukkan medium


dan diaduk selama 24 jam pada suhu 380C lalu disimpan 24 jam tanpa agitasi.
Sedimentasi diamati dan supernatan dihitung kadarnya menggunakan UV VIS.

Polimorfisme tidak menunjukkan

Koefisien partisi :Menggunakan metode lipofilisitas, dimana digunakan


metoprolol sebagai marker obat, nilai log p dan clog p adalah 1,72 dan 1,35

Pka 4,5-4,6

kekuatan dosis bentuk sediaan oral padat antara 200-800 mg. pada daftar WHO
obat-obatan penting kekuatannya 200-400 mg

absorbsi dan permeabilitas: konsentrasi plasma maksimum 1-2 jam pada


manusia dengan bioavailabilitas absolut sekitar 100 persen. absorbsi yang cepat
dan lengkap menunjukkan permeabilitas tinggi melalui membran. absorbsi
ibuprofen terjadi di seluruh saluran pencernaan seteha diberikan melalui
oralyang mendukung permeabilitasnya tinggi. Absorbsi oral TERJADI PADA
MIKROKAPSUL ENTERIK dalam bentuk suspensi oral. Seperti NSAID yang lain,
permeabilitas tinggi dan enansiomer ibuprofen telah diamati pada tikus. dimana
peningkatan permeabilitas GI karena NSAID. penelitian ini dapat menjelaskan
efek samping dan kerusakan GI karena penggunaan jangka panjang ibuprofen.

Farmakokinetik ibuprofen linear pada dosis 200-400 mg. dosis tinggi lebih dari
400 mg nonlinier tapi ini lebih mungkin mengubah ikatan protein plasma,
daripada penurunan absorbsi. ibuprofen secara luas terikat protein plasma
>99%.

sifat farmakokinetik dua sampel ibuprofen dibandingkan dalam penelitian acak


pada 10 sukarelawan sehat. tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik
pada absorbsi namun konsentrasi puncak plasma ibuprofen berbeda.

pengaruh penggabungan berbagai zat pengikat yang berbeda di kedua sediaan


pada tingkat disolusi in vitro dari formulasi ibuprofen diselidiki. dengan
menggunakan keranjang berputar sebagai media disolusi 0,1 N dan 0,1 N HCl
YANG BERISI KONSENTRASI SODIUM LAURYL SULFAT. polivinil povidon
menunjukkan pelarutan in vitro tercepat.

Disolusi

Syarat disolusi menurut USP adalah tidak kurang dari 80% pada 60 menit pada
900 ml buffer fosfat pH 7,2 pada 50 rpm mengunakan adukan apparatus.

DISKUSI
Kelarutan untuk biowaiver ditentukan pada suhu 37 derajat C dan nilai pH nya
dibawah 5,5 kelarutannya melebihi nilai kritis 250 ml. Jadi, ibuprofen tidak larut
pada asam dan konsekuensinya tidak larut dengan tinggi yang seperti
didefinisikan pada pedoman BCS.

Absorbsi dan permeabilitas

Bioavailabilitas sekitar 100% sudah mengklasifikasikan ibuprofen sangat


permeable sesuai dengan pedoman BCS. Klasifikasi ini didukung secara in vitro
dan in vivo. absorbsi ibuprofen di seluruh GI. propanolol direkomendasikan
sebagai referensi permeabilitas tinggi untuk permeabilitas Caco2 dalam
pedoman FDA. Koefisien partisi ibuprofen lebih tinggi dari metoprolol,
mendukung permeabilitas tinggi. metoprolol dipilih sebagai referensi karena 95%
obat diabsorbsi.

Klasifikasi BCS

Menurut peraturan ini, ibuprofen adalah obat golongan BCS kelas II,
menunjukkan permeabilitas tinggi dan kelarutan yang bergantung pada pH, yaitu
kelarutan tinggi sesuai dengan persyaratan BCS hanya di atas nilai pH tertentu.
penggolongan ibuprofen ke BCS Kelas II didukung oleh korelasi in vitro in vivo
(IVIVC) yang diamati secara in vitro dimana urutan peringkat ditemukan antara
karakteristik disolusi dan tingkat absorbsi, karena IVIVC diprediksi untuk obat
BCS Kelas II. Satu kelompok penelitian mendasarkan klasifikasi pada nilai
kelarutan, yang diukur dengan metode saturasi-jenuh pada data nilai pH dan
literatur absorbsi / permeabilitas yang berbeda. Kelompok penelitian lain
berdasarkan klasifikasi kelarutan ibuprofen di dalam air, tanpa memperhitungkan
Ketergantungan pH, dan koefisien partisi yang dihitung; Yang terakhir
ditunjukkan korelasi dengan permeabilitas usus manusia

Kedua Pedoman BCS saat ini memungkinkan kemungkinan untuk biowaiver


secara eksklusif untuk obat kelas BCS. Kelarutan ibuprofen yang terbatas pada
pH asam, tidak termasuk dari kriteria biowaiver sekarang. Namun, pada nilai pH
yang mendekati netral, kelarutan ibuprofen cukup untuk memenuhi kriteria
kelarutan tinggi: dosis /Kelarutan kurang dari 250 mL. Karena nilai pH ini
mendekati lokasi absorbsi di usus kecil, hal itu lebih relevan dalam hal absorbsi
ibuprofen sistemik.

Ibuprofen mungkin sesuai dengan kelas kelarutan menengah yang disarankan


untuk asam dan basa yang kelarutannya tinggi pada pH 1,2 atau 6,8. penelitian
sebelumnya juga menunjukkan permeabilitas tinggi, senyawa obat dengan
ionisasi tinggi harus ditangani seperti obat kelas 1 BCS. karakteristik dinamis
proses absorbsi seperti disolusi obat didukung dengan permeabilitas tinggi untuk
permeabilitas tinggi asma NSAID seperti ibuprofen.

Data literatur tidak melaporkan efek formulasi pada tingkat absorbsi.

Namun sehubungan dengan tingkat absorbsi, tidak semua bentuk sediaan IR


ibuprofen dengan MA tentu saja bersifat bioekuivalen satu sama lain, regulasi pH
eksipien dan surfaktan dalam formulasi dapat meningkatkan laju absorbsi
ibuprofen. Namun, ada beberapa bukti bahwa perbedaan tersebut dapat
dideteksi dengan pengujian disolusi komparatif secara in vitro pada pH yang
diskriminatif. Penelitian disolusi dilaporkan dalam HCl 0,1N, terlepas dari
kelarutan ibuprofen yang rendah dalam media asam Dan pengujian di bawah
kondisi nonsink yang ekstrem mampu mengungkapkan perbedaan yang sangat
kecil antara formulasi. Tetapi juga pengujian disousi pada pH 7,2, yaitu pada pH
yang kurang diskriminatif, dapat memprediksi perbedaan dalam vivo. Pengujian
disolusi pada pH yang sedikit lebih rendah, misalnya pH 6,0 atau 6,5, dapat
diharapkan lebih diskriminatif daripada pengujian pada pH 7,2 per USP.

Ketika mempertimbangkan biowaiver untuk zat obat, indeks terapeutiknya juga


perlu diperhitungkan. Ibuprofen memiliki rentang terapeutik yang luas antara 10
dan 50 mg / L, konsentrasi toksik> 100 mg / L dan tidak memiliki indikasi yang
mengancam hidup. Jadi, penggunaan metodologi in vitro sebagai pengganti
untuk studi in vivo

BE melibatkan sedikit risiko terapeutik. Resiko terhadap kesehatan masyarakat


berkurang lebih lanjut jika biowaiver hanya diberikan untuk produk obat yang
diformulasikan dengan eksipien yang ditunjukkan pada Tabel 2, ada dalam
produk obat, yang dapat diasumsikan memiliki kinerja klinis yang dapat diterima.

biowaiver untuk sediaan oral padat lepas cepat dibenarkan secara ilmiah asal:

bentuk sediaan cepat larut 85% pada 30 menit atau kurang pada pH dapar 6,8

produk uji menunjukkan kedekatan profil disolusi dengan produk reference pada
pH 1,2 dan 4,5 dan 6,8

produk uji berisi hanya bahan-bahan tambahan yang terdapat pada tabel 2
dalam jumlah biasa pada sediaan oral padat lepas cepat.