Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan atau hidup sehat adalah hak setiap orang.
Oleh sebab itu kesehatan baik individu, kelompok, maupun
masyarakat, merupakan aset yang harus dijaga, dilindungi,
bahkan harus ditingkatkan. Sebagai perwujudan dari
kewajiban dan tanggung jawabnya dalam pemeliharaan
dan perlindungan terhadap kesehatannya, semua orang
baik individu, kelompok, atau masyarakat, harus
mempunyai kemampuan untuk hal tersebut.
Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme
ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga
menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah
organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ
adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan
pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan
bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk
jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan.
Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran
pernafasan (respiratory tract).
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan
dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring)
mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya
obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi
dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus
Catzel & Ian Roberts; 1990). Salah satu penyakit yang
diderita oleh masyarakat adalah ISPA (Infeksi Saluran
Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran
pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran
pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu penyakit
yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara
berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu.
dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena
penyakitnya cukup gawat (Rasmaliah,2004).
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah
penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun anak
balita. Pada tahun 2005 di 10 provinsi di Indonesia
diketahui bahwa pneumonia menjadi penyebab 22,3% dari
seluruh kematian bayi. Studi mortalitas pada riset
kesehatan dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan bahwa
proporsi kematian bayi pascaneonatal karena pneumonia
sebesar 23,8% (Prasenohadi, 2013).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pneumonia (TBC), sinusitis
dan faringitis?
2. Bagaimana epidemiologi atau etiologi, patofisiologi,
manifestasi klinis, dan pendekatan umum dari TBC,
sinusitis dan faringitis?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu pneumonia (TBC), sinusitis,
dan faringitis.
2. Untuk mengetahui epidemiologi atau etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis, dan pendekatan umum
dari TBC, sinusitis dan faringitis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.Pneumonia (Tuberkulosis)
1. Defenisi
Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkhiol dan
alveoli yang dapat disebabkan oleh berbagai patogen
seperti bakteri, jamur, virus dan parasit (Depkes RI, 2005).
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis yang mampu menginfeksi
secara laten ataupun progresif. Secara umum, 2 milyar
orang terinfeksi dan 2-3 juta orang meninggal karena
tuberculosis setiap tahun. Indonesia menduduki urutan
ketiga dalam jumlah penderita tuberkulosis terbesar setelah
India dan Cina. Mycobacterium tuberculosis ditransmisikan
dari orang-orang melalui batuk dan bersin. Kontak yang
terlalu dekat dengan penderita TB akan memperbesar
kemungkinan penularan (Sukandar, dkk,, dkk, 2008).
Paru merupakan organ target utama, meskipun dapat
pula menginfeksi organ lain. Komponen lipid dinding
mycobacterium membangun sifat antigenik dinding bakteri
yang mampu merangsang reaksi imunitas seluler tubuh,
sehingga berakibat terjadi kerusakan jaringan seperti pada
hipersensitivitas tipe seluler atau lambat. Kerusakan
jaringan yang terjadi akibat reaksi tersebut bergantung
pada tingkat status imunitas (Pringgoutomo, 2002)
2. Patofisiologi
Sumber infeksi yang paling penting adalah manusia yang
mengekskresi baksil tuberkel dalam jumlah besar dari
saluran pernapasan pada saat bersin atau batuk. Kontak
yang intensif (dalam keluarga) dan kontak secara masif
(misalnya diantar tenaga kesehatan) menyebabkan banyak
kemungkinan terjadi penularan melalui percikan inti droplet.
Berkembang atau tidaknya penyakit secara klinik setelah
infeksi mungkin dipengaruhi oleh faktor genetik. Juga
dipengaruhi oleh umur, kekurangan gizi, status imunologik,
penyakit yang menyertai (misalnya diabetes dan faktor-
faktor resistensi individual dari inang) (Priyanto, 2009).
Kerusakan jaringan yang terbentuk disebut granuloma
tuberkulosis atau tuberkel, sebagai masa berbatas tegas
dengan nekrosis di tengah. Mikroskopik terdiri atas nekrosis
kaseosa, berupa masa kemerahan tidak berbentuk,
dikelilingi sel radang mononuklear yang merupakan reaksi
radang kronik serta kelompokan sel epiteloid (histiosit) yang
diantaranya membentuk sel datia (sel datia Langhans).
Nekrosis kaseosa tidak menunjukkan gambaran bekas sel
dan sel tidak menghilang oleh proses lisis (Pringgoutomo,
2002). Adapun patofisiologi TBC menurut Yulinah, dkk
(2008) sebagai berikut :
a. Injeksi primer diinisiasi oleh implantasi organisme di
alveolar melalui droplet nukleat yang sangat kecil (1-5
mm) untuk menghindari sel epithelial siliari dari saluran
napas, mikrorganisme membelah diri dan dicerna oleh
makrofag pulmoner, dimana pembelahan diri akan terus
berlangsung, terinfeksi dan nodus limfe regional dapat
terjadi, menghasilkan pembentukan radiodense area
menjadi kompleks Ghon.
b. Makrofag yang teraktivasi dalam jumlah besar akan
mengelilingi daerah yang ditumbuh M. Tuberculosis yang
padat seperti keju (daerah nekrotik) sebagai bagian dari
imunitas yang dimediasi oleh sel. Hipersensitivitas tipe
tertunda juga berkembang melalui aktivasi dan
perbanyak limfosit T. Makrofag membentuk granuloma
yang mengandung organisme.
c. Keberhasilan dalam menghambat pertumbuhan M.
tuberculosis membutuhkan aktivasi dari limfosit CD4
subset, yang dikenal sebagai sel Th 1, yang
mengaktivasi makrofag melalui sekresi dari interferon y.
d. Biasanya penyebaran organisme melalui darah ini
menyebabkan pertumbuhan cepat, penyebaran penyakit
secara luas dan pembentukan granuloma yang dikenal
sebagai tuberculosis miliari.
3. Manifestasi Klinik
Gejala umum TBC adalah batuk lebih dari 4 minggu
dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam
derajat rendah, nyeri dada, dan bentuk darah. Gejala klinik
TBC dimulai dari asimtomasis, gejala paru yang khas,
kemudian stagnasi dan kronik. Pada pemeriksaan fisik
dapat ditemukan (Priyanto, 2009):
a. Tanda-tanda infiltrate (redup, bronkial, ronki basah, dan
lain-lain)
b. Tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastrum
c. Selret disaluran napas dan ronki
d. Suara napas amforik karena adanya kavitas yang
berhubungan langsung dengan bronkus.
Gejala khusus TBC antara lain (Werdahni, 2009):
a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila
terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang
menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah
bening yang membesar, akan menimbulkan suara
mengi, suara nafas melemah yang disertai sesak.
b. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-
paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti
infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk
saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara
ini akan keluar cairan nanah.
d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan
pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis
(radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi,
adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC
dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan
pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak
dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji
tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan 5 tahun yang
tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan
BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan
pemeriksaan serologi/darah.

4. Klasifikasi
Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
a. Tuberkulosis paru
Tuberculosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang
jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput
paru) dan kelenjar pada hilus.
b. Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang
menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium),
kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal,
saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
5. Pendekatan Umum
a. Terapi Farmakologi
Terapi farmakologi dalam TBC terdiri dari dua yaitu fase
intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan).
1) Obat utama
Rifampicin, Isoniasid, Pirazinamid, Streptomisin, dan
Etambutol.
2) Obat tambahan
3) Kanamisin, Kuinolon, Makrolid, Amoksillin + asam
klavulanat (Hiswani, 2001).

b. Terapi Non Farmakologi


Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan
beberapa cara diantaranya yaitu (Hiswani, 2001):
1) Mengkonsumsi makanan bergizi
2) Tinggal di tempat atau lingkungan yang sehat
3) Berolahraga secara rutin
4) Mengurangi makanan bernatrium dan kafein

B.Sinusitis
1. Defenisi
Sinusitis adalah suatu peradangan yang terjadi pada
sinus. Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di
area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari
rongga sinus adalah untuk menjaga kelembapan hidung &
menjaga pertukaran udara di daerah hidung. Peradangan
mukosa sinus dapat berupa sinusitis maksilaris, sinusitis
etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid. Bila yang
terkena lebih dari satu sinus disebut multisinusitis, dan bila
semua sinus terkena disebut pansinusitis (Boies, 1989).
2. Epidemiologi
Proses terjadinya sinusitis diawali oleh adanya oklusi
atau penyumbatan ostium sinus yang akan menghambat
ventilasi dan drainase sinus sehingga terjadi penumpukan
sekret dan mengakibatkan penurunan oksigenisasi serta
tekanan udara di rongga sinus. Penurunan oksigenisasi
sinus akan menyuburkan pertumbuhan bakteri
anaerob.Tekanan dalam rongga sinus yang menurun pada
akan menimbulkan rasa nyeri di daerah sinus yang terkena
sinusitis. Karena ventilasi terganggu, PH dalam sinus akan
menurun dan hal ini akan menyebabkan silia menjadi
hipoaktif dan mukus yang diproduksi menjadi lebih kental.
Bila sumbatan berlanjut akan terjadi hipoksia dan retensi
mukus yang merupakan kondisi ideal untuk tumbuhnya
kuman patogen. Infeksi dan toksin bakteri selanjutnya akan
mengganggu fungsi mukosa karena menimbulkan inflamasi
pada lamina propia dan mukosa menjadi bertambah tebal
yang kemudian memperberat terjadinya oklusi, sehingga
terjadi semacam lingkaran setan (Bolger WE, 2001).
3. Etiologi/Patofisiologi
Sinusitis dapat disebabkan oleh bakteri, infeksi virus, infeksi
jamur. peradangan menahun pada saluran hidung.
a. Bakteri penyebab sinusitis antara lain (Sukandar, dkk,
2008) :
1) Strepcoccus pnemoniae (30-40%)
2) Haemophilus influnzae (20-30%)
3) Moxarella catarrhalis (12-20%)
4) Strepcoccus pyogenes, Staphylococcus aureus
5) Bakteri anaerob
b. Infeksi Virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus
pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya
Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
c. Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada
penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur
Aspergillus.
d. Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis
vasomotor.
4. Manifestasi Klinis
Secara umum gejala dari sinusitis berupa keluarnya cairan
kental berwarna dari hidung, sumbatan di hidung, nyeri
muka, sakit gigi (Sukandar, dkk,, 2008).

a. Sinusitis maksila akut


Gejala : demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung
tersumbat, nyeri pada pipi, ingus mengalir ke nasofaring,
kental kadang-kadang berbau dan bercampur darah.
b. Sinusitis etmoid akut
Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring, nyeri di
antara dua mata, dan pusing.
c. Sinusitis frontal akut
Gejala : demam, sakit kepala yang hebat pada siang
hari, tetapi berkurang setelah sore hari, ingus kental dan
penciuman berkurang
d. Sinusitis sphenoid akut
Gejala : nyeri di bola mata, sakit kepala, ingus di
nasofaring.
e. Sinusitis Kronis
Gejala : pilek yang sering kambuh, ingus kental dan
kadang-kadang berbau, selalu terdapat ingus di
tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya
rematik, nefritis, bronchitis, bronkiektasis, batuk kering,
dan sering demam (Bolger WE, 2001).
5. Pendekatan Umum
a. Terapi Farmakologi
1) Gejala dapat sembuh sendiri dalam 48 jam, bila
menetap atasi gejala,perbaiki fungsi sinus, cegah
komplikasi intrakranial, dan atasi bakteri pathogen
2) Terapi utama adalah pemberian antibiotik. Untuk
sinusitis tanpa komplikasi gunakan amoksisilin atau
kotrimoksazol bila resistensi gunakan azitromisin,
klaritromisin, sefuroksim, sefiksim, sefaklor,
fluorokuinolon, levofloksasin, ganitfloksasin.
3) Durasi terapi 10-14 hari dan dapat diperpanjang
sampai dengan 30 hari
4) Obat seprot vasokonstriktor fenileprin, oksimetazolin
dapat memperbaiki aliran. Tapi penggunaan tidak
melebihi 72 jam agar tidak terjadi toleransi.
5) Antihistamin tidak efektif untuk sinusitis (Sukandar,
dkk,, 2008)
b. Terapi Non Farmakologi
1) Menghindari produk susu atau makanan yang terbuat
dari susu karena makanan tersebut dapat membuat
secret semakain banyak
2) Membuat lingkungan sekitar bersih dari debu
maupun bulu binatang
3) Menghindari asap dan hal-hal yang membuat alergi
seperti asap rokok dan beberapa produk dengan
aroma yang menyengat.
4) Mengkomsumsi makanan yang higienis dan tidak
mengkomsumsi makanan yang menyebabkan lendir
(Bolger WE, 2001).
C.Faringitis
1. Defenisi

Faringitis (dalam bahasa latin; pharyngitis), adalah


sebuah penyakit yang menyerang tenggorokan atau faring
(Merlina, 2011). Kadangkala juga disebut sebagai radang
tenggorokan. Radang ini bisa disebabkan oleh virus atau
bakteri, disebabkan daya tahan yang lemah. Pengobatan
dengan antibiotika hanya efektif apabila karena terkena
bakteri. Biasanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup
A. Namun bakteri lain seperti n. gonorrhoeae, c.diphtheria,
influenza juga dapat menyebabkan faringitis. Apabila
disebabkan oleh infeksi virus biasanya oleh rhinovirus,
adenovirus, parainfluenza virus dan coxsackie virus. Dapat
pula disebabkan oleh berbagai faktor pendukung seperti
adanya rangsangan oleh asap, uap dan zat kimia.
Faringitis akut merupakan penyakit menular yang
dapat ditularkan melalui percikan saliva. Faktor predisposisi
yang membantu timbulnya penyakit flu, yaitu turunnya daya
tahan tubuh karena infeksi virus (seperti virus influenza), flu,
makanan kurang bergizi, konsumsi, alkohol yang berlebihan,
gejala dari penyakit scarlet fever, pneumonia, pertusis dan
sebagainya. Faringitis akut dapat mengakibatkan rasa sakit
pada tenggorokan, perasaan tidak nyaman, nyeri atau rasa
gatal pada tenggorokan (Moorhead, 2013).
2. Epidemiologi/Etiologi
Penyebab faringitis anatara lain virus, bakteri group A beta
hemolytic streptococci (Strepcoccus pyogenes, Group A
Streptococcus/GAS). Pada kasus infeksi Group A
streptococcus dapat terjadi demam rematik (0,3-3%)
(Sukandar, dkk,, 2008).
3. Patofisiologi
Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi
lapisan epitel kemudian epitel terkikis maka jaringan limfoid
superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan
infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal
terdapat hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang
meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi
menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat
pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah
dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang
berwarna kuning, putih, atau abu-abu terdapat pada folikel
atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan
bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak
lebih ke lateral menjadi meradang dan membengkak
sehingaa timbul radang pada tenggorok atau faringitis
(Efiaty, 2002).
4. Manifestasi klinis
Pada umunya manifestasi dari faringitis adalah sakit
tenggorokan (sore throath), disfagia (kesulitan menelan),
demam. Sulit membedakan gejala klinis infeksi karna
bakteri dan virus. Infeksi karena Group A streptococcus
ditandai dengan pembengkakan kelenjar limfe, tidak batuk,
demam 380C (Sukandar, dkk,, 2008).
a. Manifestasi klinis kronis: Rasa iritasi dan sesak yang
konstan pada tenggorokan, endir yang terkumpul dalam
tenggorokan dan dikeluarkan dengan batuk, kesulitan
menelan (Efiaty, 2002).
b. Manifestasi klinis akut: Membran faring tampak merah,
Folikel tonsil dan limfoid membengkak dan di selimuti
oleh eksudat, nodus limfe servikal membesar dan
mengeras, mungkin terdapat demam,malaise dan sakit
tenggorokan, serak,batuk,rhinitis bukan hal yang tidak
lazim.
5. Pendekatan umum
a. Terapi Farmakologi
1) Faringitis virus diobati secara simptomatis
2) Untuk anak <12 tahun penisislin V, 2 x 250mg/hari,
10 hari atau benzathin penisilin im 25000-50000
unit/kg dosis tunggal. Untuk dewasa penisilin V
500mg 2x250mg/hari, 10 hari.
3) Untuk yang alergi penisilin berikan eritromisin estolat
20-30mg/kg BB/hari atau eritromisin etilsuksinat 40-
50mg/kg BB/hari dibagi dalam 2-4 dosis selama 10
hari
4) Antibiotic lain : amoksisilin, ampisilin, sefalosporin,
eritromisin, sulfoksazol. (Sukandar, dkk,)
b. Terapi Non Farmakologi
1) Pemberian obat antibiotik seperti penisilin atau dapat
diganti dengan erytromysin selama 10 hari
2) Pemberian obat analgesic seperti acetaminophen dan
aspirin
3) Pemberiaan antitusif dan inhalation
4) Bila ada peradangan, intake cairan tambahan via
infus dalam 24-72 jam.
5) Anjurkan pasien untuk istirahat yang cukup, intake
cairan seimbang (terutama bila demam), diit soft or
liquid bila terjadi sulit menelan.
6) Oral hygiene, mouth care, and liquid intake 2500
mL/day untuk memberikan rasa segar, mencegah
kekeringan dan pecah-pecah pada bibir klien
(Buleheck, 2013).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana
saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami
inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan
nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada
saat melakukan pernafasan. Infeksi saluran pernapasan
akut terdiri infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yaitu
sinusitis dan faringitis dan infeksi saluran pernapasan
bawah (ISPB) yaitu tuberculosis (TBC). Sinusitis dan
faringitis jarang menyebabkan kematian. Dampak yang
ditimbulkan oleh penyakit ini bervariasi, mulai dari ringan
sampai yang terberat. Betapapun ringannya dampak Yng
ditimbulkan, penyakit ini selalu menyebabkan penurunan
kualitas hidup penderitanya.

B. Saran
Diharapkan penyakit saluran pernapasan penanganannya
dapat diprioritaskan. Disamping itu penyuluhan kepada
ibu-ibu tentang penyakit ISPA perlu ditingkatkan dan
dilaksanakan secara berkesinambungan, serta
penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang
sudah dilaksanakan sekarang ini, diharapkan lebih
ditingkatkan lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Boies L.R, Adams G.L, Hilger P. 1989. Fundamental of


Otolaryngology, A text book of Ear, Nose and Thoat Disease, ed
6thW.B Saunders Co. Philadelphia

Bolger W.E, Kennedy D.W, Zinreich S.J, Disease of the Sinuses


Diagnosis and Management, 2001, Deker B.C Inc. London

Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II.
alih bahasa oleh Dr. Yohanes Gunawan. Jakarta: EGC
Hiswani, 2001. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang
Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat. Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Majdawati A. 2016. Uji Diagnostik Gambaran Lesi Foto Thorax
Pada Penderita Dengan Klinis Tuberkulosis Paru. Bagian
Radiologi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta

Pringgoutomo, Himawan, Tjarta. 2002. Patologi I (Umum).


Sagung Seto. Jakarta

Priyanto. 2009. Farmakologi dan Terminologi Medis. Jakarta

Sukandar, Andrajati, Sigit, Setiadi. 2008. ISO Farmakoterapi. PT.


ISFI Penerbitan. Jakarta

Werdhani R A. 2009. Patofisiologi, Diagnosis, Dan Klafisikasim


Tuberkulosis. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas,
Okupasi, Dan Keluarga FKUI. Jakarta