Anda di halaman 1dari 19

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Swamedikasi

PELINDUNG CAHAYA MATAHARI

Disusun oleh :
Siti Milyana Ely 1061611111
Sri Rejeki 1061611112
Stella Ratnasari 1061611113
Syafika Rahmania 1061611114
Tiara Nur Septi Lestari 1061611115

Dosen Pengampu: Caecilia Mutiarawati, M.Si., Apt.

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI
SEMARANG
2016
BAB I

PENDAHULUAN

Matahari telah menjadi simbol penting di banyak kebudayaan sepanjang


peradaban manusia.Sinar matahari merupakan sumber energi terbesar bagi
kehidupan yang memberikan suhu yang sesuai untuk kelangsungan hidup
organisme di muka bumi.Matahari menjaga air yang merupakan salah satu
penyokong terpenting bagi kehidupan tetap dalam bentuk cair.Dengan sinar
matahari tumbuhan berklorofil mengadakan fotosintesis sehingga dapat tumbuh
serta menghasilkan oksigen dan berperan sebagai sumber pangan bagi hewan dan
manusia.

Indonesia adalah negara yang terletak di daerah tropis dengan paparansinar


matahari sepanjang musim.Sebagian penduduknya bekerja di luar ruangan
sehingga mendapat banyak paparan sinar matahari bahkan pada saat matahari
sedang terik.Sinar matahari disamping memberikan manfaat juga dapat
menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan khususnya kesehatan kulit.Pajanan
sinar matahari tidak hanya membuat kulit menjadi gelap, tapi juga dapat
menyebabkan gangguan kesehatan kulit.Berbagai gelombang elektromagnetik
terkandung dalam cahaya matahari, seperti radiasi ultraviolet (UV) 6%, sinar
visible 52% dan infra merah (IR) 42%) (Japanese Society of Anti-Aging Medicine,
2009).

Radiasi sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet (UV), baik UVB
maupun UVA berpengaruh terhadap kesehatan kulit. Efek kulit terhadap radiasi
UV, meliputi efek akut dan efek kronis. Efek akut berupa eritema, edema,
hiperpigmentasi, diikuti dengan delayed tanning, penebalan epidermis dan dermis,
serta sintesis vitamin D. Sedangkan efek kronik meliputi photoaging,
imunosupresi, dan photocarcinogenesis (Kullavanijaya P, et. al., 2005).
Gambar 1.Gelombang elektromagnetik cahaya matahari
(Japanese Society of Anti-Aging Medicine, 2009)

Banyaknya efek merugikan yang timbul akibat paparan UV, menyebabkan


munculnya berbagai strategi sebagai upaya perlindungan terhadap UV.
Pencegahan efek buruk paparan sinar matahari dapat dilakukan dengan cara
menghindari paparan sinarberlebihan, yaitu tidak berada di luar rumah pada jam
10.00 16.00, memakai pelindung fisik seperti pakaian tertutup, payung, caping,
dan memakai tabir surya tropikal (Perwitasari, Etnawati dan Suyoto, 1999).

Salah satu strategi dalam studi dermatologi untuk mencegah dampak negatif
akibat pajanan sinar matahari adalah produk pelindung kulit dari pajanan sinar
UV.Produk yang banyak dikembangkan salah satunya adalah sediaan tabir surya
(sunscreen).Penggunaan tabir surya yang berisi filter UV secara rutin dapat
menyerap, merefleksikan, atau menyebarkan foton UV sehingga dapat
memperlambat atau mencegah perkembangan keriput kulit kendur, dan penuaan
dini. Banyak sediaan tabir surya yang ditemukan di pasaran dalam jumlah yang
meningkat dari tahun ketahun.Biasanya berupa sediaan losio, spray, gel atau
produk topikal lainnya yang menyerap atau merefleksikan radiasi sinar ultraviolet
pada kulit yang terpapar sinar matahari. Oleh karena itu, pemahaman mengenai
tabir surya sangatlah diperlukan untuk mencegah terjadinya efek radiasi UV
terhadap kulit.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Tabir Surya

Tabir surya (sunscreen) adalah senyawa yang dapat melindungi kulit dari
pengaruh sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari.Tabir surya digunakan
untuk melindungi efek akut radiasi UV dan juga memiliki efek protektif terhadap
perubahan kronik yang diinduksi radiasi UV, seperti photoaging dan kanker kulit.
Satuan tabir surya biasanya dinyatakan dengan SPF (Sun Protection Factor)
yang merupakan perbandingan ukuran berapa banyak UV yang diperlukan untuk
membakar kulit ketika dilindungi dengan tidak dilindungi oleh tabir surya
(Supardiman,1989). Tabir surya dapat dibuat dalam berbagai bentuk sediaan,
asalkan dapat dioleskan pada kulit, misalnya bentuk larutan dalam air atau
alkohol, emulsi, krim, dan semi padat yang merupakan sediaan lipid non-air, gel,
dan aerosol (Ditjen POM, 1985).

2.2 Komponen SinarMatahari

Sinar matahari terdiri dari 3 komponen, yaitu sinar UV A, UV B, dan UV


C(Ditjen POM, 1985) adalah sebagai berikut :

a. Sinar UVA (panjang gelombang antara 315-400 nm) mampu lebih dalam
menembus kulit dan memiliki jangka waktu yang lebih lama untuk
menimbulkan kerusakan pada kulit, seperti kerutan, dan gejala-gejala penuaan
dini. Sinar UVA ini akan membuat kulit menjadi hitam (tanning).
b. Sinar UVB (panjang gelombang 290-320 nm) hanya 0,2% dari sinar matahari
total. Paparan sekitar 15 menit/hari dari sinar UVB ini sebenarnya sangat
penting untuk memicu pembentukan vitamin D3 (salah satu komponen Vitamin
D) dari provitaminnya.
c. Sinar UVC (panjang gelombang 270-290 nm) sebenarnya sinar berbahaya dan
sangat merusak kulit tetapi sinar ini ditahan oleh lapisan ozon. Kebocoran
lapisan ozon (O3) menyebabkan beberapa (sebagaian kecil) sinar ini masuk ke
bumi. Tak heran mengapa akhir-akhir ini sinar matahari terasa begitu
menyengat dan membakar kulit.

2.3Paparan Sinar Matahari TerhadapKulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia.Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. tersusun dari tiga bagian besar, yaitu
epidermis, dermis, danlapisan sub kutan.

Lapisan Epidermis

Epidermis adalah lapisan paling atas, terdiri dari berlapis-lapis sel yang
dikenal dengan nama keratinosit, mulai dari sel-sel di stratum basalis sampai ke
stratum korneum di permukaan kulit.
Bagian epidermis inilah yang mempunyai mekanisme proteksi yang sangat
penting (Elias, Feingold & Fluhr, 2003) antara lain:
1. Mensintesis mediator inflamasi seperti prostaglandins, eocosanoids,
leucotriene, histamin, sitokin.
2. Sintesis antioksidan termasuk glutation, oksidase, katalase, sitokron
P450,vitamin C dan E.
3. Heat-shock protein.
4. Molekul-molekul yang mengabsorbsi radiasi sinar ultra violet,
sepertimelanintrans urocanic acid.
5. Molekul pengikat air sebagai natural moisturizing factors.
6. Enzim-enzim untuk glukoronidasi, mekanisme hidroksilasi dan
sulfation.
7. Sistem anti mikrobial seperrti lemak permukaan kulit, lapisan asam
kulit (surface acidification), ironbinding proteins, komplemen dan
peptida anti microbial.

Lapisan Dermis
Dermisterdiri dari jaringan ikat yang ada dibawah epidermis, berfungsi
sebagai penopang struktur dan nutrisi melalui pembuluh darah yang ada didalam
jonjot-jonjot yang menjorok ke atas, disebut papila dermis. Didalam dermis
terdapat serabut-serabut kolagen , serat-serat elastin, serabut serabut otot dan
substansia dasar dari mukopolisakarida. Ini semua membantu kelenturan kulit
yang pada proses penuaan akan mulai berkurang. Pada lapisan ini didapatkan sel-
sel fibroblas, makrofag, sel mast dan limfosit dengan fungsinya masing-
masing.Disamping itu didapatkan pula kelenjar-kelenjar sebagai appendixes kulit
seperti kelenjar keringat ekrin, sel keringat apokrin, kelenjar sebasea (lemak) dan
folikel rambut.

Lapisan sub kutan

Lapisan dibawahnya adalah lapisan sub kutan, terdiri dari jaringan lemak
yang memisahkan dermis dengan otot, tulang dan lain-lain struktur. Jaringan
lemak berfungsi sebagai bantalan dan cadangan makanan serta berperan dalam
pengaturan suhu tubuh, juga kontur. Sebagai contoh, injury pada epidermis
menyebabkan kaskade sitokin yang akan menimbulkan inflamasi, dan sejalan
dengan itu terjadi pembentukan jaringan parut sebagai mekanisme repair.

Warna kulit manusia ditentukan oleh campuran beberapa kromofor yaitu


oxyhemoglobin (memberikan warna merah), deoxygenated hemoglobin (biru),
carotene suatu pigmen eksogen (kuning-oranye), melanin (coklat).Melanin
merupakan komponen utama pada pembentukan warna kulit, baik
epidermalpigmentation maupun dermal pigmentation.Spektrum warna kulit
manusia berdasar respons terhadap sinar matahari ada 6 tipe yang disebut Skin
Phototypes (SPT). Penggolongan tipologi kulit manusia (SPT) berdasarkan
respons terhadap paparan sinar matahari (PERDOSKI, 1999)adalah sebagai
berikut :
1. Tipe I : Selalu terbakar, tanpa tanning, putih pucat
2. Tipe II : Mudah terbakar, kadang tanning, putih pucat
3. Tipe III : Kadang terbakar, tanning ringan/moderat, putih
4. Tipe IV : Terbakar minimal sekali, selalu tanning, sedikit coklat
5. Tipe V : Tak pernah terbakar, selalu tanning, coklat
6. Tipe VI : Tak pernah terbakar, selalu tanning, coklat tua

Respons kulit terhadap paparan sinar matahari dapat terjadi akut, seperti
timbulnya reaksi terbakar (sunburn) dan pigmentasi, maupun kronis yang dapat
menyebablan penuaan dini dan pertumbuhan tumor. Reaksi terbakar biasanya
diikuti dengan warna kemerahan sampai coklat atau dikenal dengan Tanning
(=gosong, bahasa Jawa)

Gambar 2.Fisiologi dan patofisiologis akibat terganggunya barier kulit.


(dikutip dari Elias Feingold dan Fluhr, 2003)

Fungsi proteksi kulit adalah pertahanan terhadap bahaya sinar


matahari.Rangsangan sinar matahari ini dapat diatasi dengan fungsi barrier
kulit.Proteksi terhadap sinar matahari selain oleh epidermis, diperankan pulaoleh
melanin.Sinar matahari merupakan gelombang elektromagnetik yang memiliki
semua jenis sinar. Sinar yang tampak, kasat mata bila dipantulkan pada prisma
terlihat sebagai 7 warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu
denganpanjang gelombang 400-760 nm. Dipermukaan bumi sinar matahari terdiri
dari beberapa spektrum yaitu sinar infra merah (>760nm), sinar kasat mata (400-
760 nm), sinar ultraviolet A (320-400nm), dan sinar UVB (320-290nm). Sinar
denganpanjang gelombang kurang dari 100 nm dikenal sebagai sinar X, sinar
yang sangatberbahaya, memiliki energi yang sangat tinggi dan bersifat
karsinogenik.

Gambar 3. Mekanisme pertahanan kulit terhadap sinar UVB


(dikutip dari dari Elias Feingold dan Fluhr, 2003)

Gambar 4. Paparan cahaya matahari di bumi


(dikutip dari Niwa, 1997)

Sinar matahari yang sampai ke bumi hanya sebagian kecil saja, sebagian
besaradalah UVA, dan sebagian kecil UVB, oleh karena bumi telah dilindungi
oleh ionosphere dan lapisan ozon.Disamping sifat merusak, sinar matahari yang
sampai dibumi terutama sinar UVA sangat diperlukan untuk membasmi bakteri
dan jamur.Ini terjadi ketika UVA sampai pada suatu benda maka dihasilkanlah
oksigen singlet (1O2), yaitu molekul radikal bebas yang dapat membunuh bakteri
dan jamur, yang biasanya melekat pada pakaian lembab dan perlengkapan tidur.
Selain itu pajanan sinar matahari secara fisik dan psikis menyebabkan rasa
segar, fitness,pikiran menjadi tenang dan merangsang sirkulasi darah,
meningkatkan pembentukan haemoglobin dan sebagainya. Pencegahan dan
pengobatan penyakit kulitmelalui pembentukan vitamin D didalam kulit juga
didorong oleh pajaan sinar matahari.

Efek cahaya matahari yang merugikan bedasarkan lama waktu penyinaran


dibagi menjadi 2 (dua) kategori sebagai berikut:
1. Penyinaran singkat
Penyinaran matahari yang singkat pada kulit dapat menyebabkan
kerusakan epidermis semetara, gejalanya disebut sengatan surya.Sinar
matahari dapat menyebabkan eritema ringan hingga luka bakar yang nyeri
pada kasus yang lebih parah.
2. Penyinaran langsung dan lama
Sengatan surya yang berlebihan dapat menyebabkan kelainan kulit
mulai dari dermatritis ringan hingga kanker kulit.Sengatan matahari
berlebihan adalah karsinogenik, sinar ultraviolet dapat menyebabkan
kanker kulit.Orang kulit putih lebih mudah terserang kanker kulit
dibandingkan dengan orang kulit hitam.

2.4Mekanisme Perlindungan Alami Kulit

Secara alami kulit manusia mempunyai sistem perlindungan terhadap


paparan sinar matahari.Mekanisme pertahanan tersebut adalah dengan penebalan
stratum korneum dan pigmentasi kulit.
Perlindungan kulit terhadap sinar UV disebabkan oleh peningkatan jumlah
melanin dalam epidermis. Butir melanin yang terbentuk dalam sel basal kulit
setelah penyinaran UVB akan berpindah ke stratum korneum di permukaan kulit,
kemudian teroksidasi oleh sinar UVA. Jika kulit mengelupas, butir melanin akan
lepas, sehingga kulit kehilangan pelindung terhadap sinar matahari (Ditjen POM,
1985).
Semakin gelap warna kulit (tipe kulit seperti yang dimiliki ras Asia dan
Afrika), maka semakin banyak pigmen melanin yang dimiliki, sehingga semakin
besar perlindungan alami dalam kulit.Namun, mekanisme perlindungan alami ini
dapat ditembus oleh tingkat radiasi sinar UV yang tinggi, sehingga kulit tetap
membutuhkan perlindungan tambahan.

2.5Tinjauan SPF (Sun Protection Factor)

Efektifitas dari tabir surya dapat ditunjukkan dengan nilai sun protection
factor (SPF), yang didefinisikan sebagai jumlah energi UV yang dibutuhkan untuk
mencapai minimal erythema dose (MED) pada kulit yang dilindungi oleh suatu
tabir surya, dibagi dengan jumlah energi UV yang dibutuhkan untuk mencapai
MED pada kulit yang tidak diberikan perlindungan.

MED didefinisikan sebagai jangka waktu terendah atau dosis radiasi sinar
UV yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya erythema.MED berdasarkan
warna kulit (Wiweka, 2015) adalah sebagai berikut :
1. Tipe I : Blondi, rambut pirang kemerahan, mata biru/hijau, bertahan
10-20 menit.
2. Tipe II :kulit putih, rambut pirang kekuningan, mata biru/coklat,
bertahan 15-30 menit.
3. TipeIII : kulit kuning langsat, rambut coklat, mata coklat, dapat
bertahan 20-40 menit.
4. Tipe IV: kulit cokelat muda, rambut hitam, mata coklat tua,dapat
bertahan 25-50 menit.
5. Tipe V : kulit sawo matang, rambuthitam, mata coklat tua, dapat
bertahan 30-60 menit.
6. Tipe VI : kulit hitam, rambut hitam, mata hitam,bertahan 40-75 menit.
SPF yang tercantum dalam tabir surya menunjukkan kemampuan tabir
surya dalam melindungi kulit.Tabir surya dengan SPF menyatakan lamanya kulit
seseorang berada dibawah sinar matahari tanpa mengalami luka bakar.Angka SPF
menyatakan berapa kali daya tahan alami kulit seseorang dilipatgandakan
sehingga aman di bawah matahari tanpa terkena luka bakar (Nofianty, 2008).

Nilai SPF dengan pengukuran menggunakan suatu solar-simulated UV


didefinisikan sebagai perbandingan energi UV yang dibutuhkan untuk menghasilkan
eritema minimal pada kulit yang dilindungi dengan eritema yang sama pada kulit
yang tidak dilindungi dalam individu yang sama. Nilai SPF berkisar antara 0 - 100,
dan dianggap baik jika berada di atas 15.Tabir surya dengan nilai SPF 15 mampu
melindungi kulit dari radiasi sinar UV dengan efektifitas sebesar 93% (Draelos dan
Thaman, 2006).

Kemampuan kulit dalam menghasilkan eritema berbeda setiap individu. Jika


diasumsikan seseorang akan mengalami eritema setelah 10 menit terpapar sinar
matahari maka penggunaan krim tabir surya dengan bertanda SPF 15 akan
meningkatkan 15 kali lebih lama kulit seseorang tersebut timbul eritema (Widiansyah,
2002).

SPF 15 artinya, jika seseorang memiliki daya tahan alami 30 menit (tipe 3)
maksudnya adalah ia dapat bertahan 30 menit di bawah sinar matahari dengan
tidak mengalami luka bakar dan jika dioleskan anti-UV SPF 15, maka akan dapat
bertahan 15 kali lebih lama,yaitu selama 15 x 30 menit = 450 menit = 7,5 jam .
Jika suatu body lotion mengandung SPF 15 berarti akan meneruskan sinar
matahari seperlima belas saja. SPF 60 hanya meneruskan seperenam puluh sinar
matahari ke kulit. Semakin tinggi nilai SPF, semakin besar perlindungan yang
akan didapat karena semakin efeketif fungsinya sebagai tabir surya.

Menurut Wasitaatmadja(1997), tingkat kemampuan tabir surya dibagi


sebagai berikut :
1. Minimal, bila SPF antara 2-4, contoh: salisilat, antranilat.
2. Sedang, bila SPF antara 4-6, contoh: sinamat, bensofenon.
3. Ekstra, bila SPF antara 6-8, contoh: derivate PABA.
4. Maksimal, bila SPF antara 8-15, contoh: PABA.
5. Ultra, bila SPF lebih dari 15, contoh: kombinasi PABA, non PABA
dan fisik.
Metode pengukuran nilai SPF secara in vitro secara umum terbagi dalam
dua tipe. Tipe pertama adalah dengan cara mengukur serapan atau transmisi
radiasi UV melalui lapisan produk tabir surya pada plat kuarsa atau biomembran.
Tipe yang kedua adalah dengan menentukan karateristik serapan tabir surya
menggunakan analisis secara spektrofotometri (Fourneron dkk., 1999).

2.6 Mekanisme Kerja Tabir Surya

Berdasarkan mekanisme kerjanya, tabir surya dapat dibagi menjadi


pemblokir fisikal (physical blocker) dan absorban kimiawi. Tabir surya fisik
memiliki mekanisme kerja dengan memantulkan dan menghamburkan atau
memendarkan radiasi sinar ultraviolet, sedangkan tabir surya kimia memiliki
mekanisme kerja mengabsorbsi radiasi sinar ultraviolet.Secara umum
berkonjugasi dengan zat kimia kelompok karbonil. Zat-zat kimia ini menyerap
sinar UV intesitas tinggi dengan eksitasi menjadi energi yang lebih tinggi.

Gambar 5. Mekanisme Kerja Tabir Surya


(Levy, et al., 2012)

Tabir surya fisik

Tabir surya fisik bekerja dengan memantulkan dan menghamburkan


radiasi UV.Tabir surya fisik secara umum adalah oksida logam.Bahan ini
menunjukkan perlindungan yang lebih tinggi dibandingkan bahan kimia karena
memberikan perlindungan terhadap UVA dan UVB, dan juga merupakan bahan
yang tidak larut dalam air.Sebagai pembanding, bahan ini kurang diterima oleh
kebanyakan orang karena bahan ini biasanya membentuk lapisan film penghalang
pada kulit yang menimbulkan rasa kurang nyaman.
Zink oksida merupakan tabir surya fisik yang lebih efektif dibandingkan
titanium dioksida.Sediaan dengan bahan yang mampu memantulkan cahaya dapat
lebih efektif bagi mereka yang terpapar radiasi UV yang berlebihan, misalnya
para pendaki gunung.Popularitas bahan-bahan ini meningkat belakangan ini
karena toksisitasnya yang rendah.Zat-zat yang bekerja secara fisik sebenarnya
lebih aman, karena tidak mengalami reaksi kimia yang tidak kita ketahui
akibatnya.Bahan ini juga stabil terhadap cahaya dan tidak menunjukkan reaksi
fototoksik atau fotoalergik (Nguyen & Rigel, 2005).

Tabir surya kimia

Merupakan bahan-bahan yang dapat melindungi kulit dengan


mengabsorbsi radiasi UV dan mengubahnya menjadi energi panas.Derivat sintesis
senyawa ini dapat dibagi dalam 2 kategori besar, yaitu pengabsorbsi kimia UVB
(290-320 nm) dan UVA (320-400 nm).
Tabir surya kimia yang biasa digunakan adalah oktilmetoksisinamat
sebagai UVB filter yang paling banyak digunakan. UVA filter termasuk
benzofenon. Oksibenson adalah benzofenon yang paling luas digunakan,
mengabsorbsi UVA dan UVB.Kedua bahan ini memiliki kekurangan yaitu bersifat
fotolabil serta terdegradasi dan teroksidasi (Nguyen & Rigel, 2005).Kandungan
tabir surya kimia memungkinkannya terserap ke dalam tubuh dan bekerja dengan
menyerap radiasi sinar UV.Umumnya, tabir surya kimia hanya menyerap sinar
UVB saja, dan agar dapat bekerja sempurna jenis tabir surya ini harus digunakan
minimal 20 menit sebelum terpapar sinar matahari (Iskandar, 2008).

Untuk mengoptimalkan kemampuan dari tabir surya sering dilakukan


kombinasi antara tabir surya kimia dan tabir surya fisik, bahkan ada yang
menggunakan beberapa macam tabir surya dalam suatu sediaan kosmetika
(Wasitaatmadja, 1997).

2.7 Macam-MacamTabir Surya

Syarat-syarat bahan aktif untuk preparat tabir surya antara lain sebagai
berikut :
a. Stabil, yaitu tahan keringat dan tidak menguap.
b. Mempunyai daya larut yang cukup untuk mempermudah formulasinya.
c. Tidak berbau atau boleh berbau ringan.
d. Tidak toksik, tidak mengiritasi, dan tidak menyebabkan sensitisasi.
e. Efektif menyerap radiasi UV-B tanpa perubahan kimiawi, karena jika tidak
demikian akan mengurangi efisiensi, bahkan dapat menjadi toksik atau
menimbulkan iritasi.

2.7.1 Oksibenson
Oksibenson merupakan tabir surya penyerap UV-A yang terbaik yang
diketahui terlebih dahulu.Ini jarang digunakan sendiri, tapi biasa dikombinasi
dengan tabir surya penyaring UV-B untuk menghasilkan nilai SPF yang
tinggi.Oksibenson mempunyai kelarutan yang rendah (Klein & Palefsky, 2005).

2.7.2 Oktilmetoksisinamat
Oktilmetoksisinamat merupakan penyerap UV-B yang terutama.Ini
memberikan absorbansi yang kuat pada pertengahan daerah UV-B (310 nm).
Oktilmetoksisinamat tidak larut dalam air, tidak akan menodai kulit ataupun
pakaian, sangat aman, inert secara kimia dan stabil, tetap tinggal pada kulit,
mempunyai bau yang lemah, tidak merubah warna emulsi, dan relatif murah
(Klein & Palefsky, 2005).

2.7.3 Zink Oksida


Zink oksida adalah tabir surya yang paling aman, efektif, dan berspektrum
luas.Meskipun disetujui oleh FDA, namun penggunaannya sebagai tabir surya
hanya sampai 25%.Zat-zat yang bekerja secara fisika sebenarnya lebih aman,
karena tidak mengalami reaksi kimia yang tidak kita ketahui akibatnya(Klein &
Palefsky, 2005).

Pada daerah tropis seperti Indonesia, dianjurkan memakai tabir surya yang
non-PABA, karena PABA menyerap UVB berlebihan dan dapat menyebabkan
kulit semakin gelap. Tabir surya non-PABA mempunyai keuntungan yaitu anti
penuaan dini, anti noda hitam dan mencegah kanker kulit.Menurut
Tranggono(2010), sediaantabir surya yang baik adalah sebagai berikut :
a. Mempunyai nilai SPF 15 atau 15+
b. Punya nomor registrasi/terdaftar CL, CD.
c. Pilih produk tabir surya tanpa wewangian.
d. Ada tanggal kadaluarsa, bila disimpan secara benar 2 tahun.
e. Bentuk padat terpisah dari bagian cair rusak.

2.8 Efek Samping Tabir Surya

Hampir semua bahan tabir surya yang dilaporkan menyebabkan alergi


kontak mungkin fotoalergen. Meskipun relatif masih jarang, bahan aktif tabir
surya tampaknya telah menjadi penyebab utama reaksi foto kontak alergi.
Individu dengan kondisi yang sebelumnya sudah ada ekzema memiliki
kecenderungan yang signifikan untuk mengalami sensitisasi terkait dengan
pertahanan kulit yang telah rusak.Iritasi subyektif terkait dengan rasa terbakar
atau rasa menyengat tanpa eritema merupakan keluhan sensitivitas yang paling
umum dari tabir surya. Iritasi ini diamati di daerah mata (Edlich, et. al., 2004).

Tabir surya yang mengandung partikel inorganik (titanium dioksida dan


seng oksida) memberikan pilihan yang baik untuk individu dengan kulit sensitif
karena bahan ini tidak berkaitan dengan iritasi atau sensitisasi (Levy, et, al.,
2012).

BAB III

KASUS

Seorang pasien bernama Nn.Stella berumur 22 tahun datang ke apotek,


Nn.Stella bercerita ingin pergi ke pantai untuk berlibur. Nn.Stella meminta produk
yang dapat melindungi kulitnya dari paparan sinar matahari. Tipe kulit Nn.Stella
cenderung kering. Sebelumnya Nn.Stella tidak pernah memakai lotion atau krim
untuk pelindung kulit.

ANALISA SOAP

Subyek : Nn.Stella, 22 tahun, tipe kulit cendeerung kering

Obyek : -

Assesment : Nn. Stella membutuhkan produk yang dapat melindungi kulitnya


dari paparan sinar matahari yang dapat membuat kulit terasa terbakar dan
menghitam.

Plan : Nn. Stella disarankan untuk menggunakan produk yang memiliki SPF
tinggi (>15) untuk melindungi kulitnya dari paparan sinar matahari karena
dimungkinkan Nn.Stella berada di bawah sinar matahari cukup lama saat berlibur
di pantai. Produk yang dissarankan adalah Parasol. Parasol memiliki komposisi 2-
Ethylhexyl-p-methoxycinnamate, oxybenzone, 3-(4-methylbenzylidene) camphor,
butyl methoxy dibenzoylmethione, aloe vera & vitamin E. Parasol digunakan
untuk melindungi kulit terhadap efek yang dapat merusak kulit dari sinar UVA
dan UVB. Parasol tidak mengandung PABA, karena PABA menyerap UVB
berlebihan dan dapat menyebabkan kulit semakin gelap. Tabir surya non-PABA
mempunyai keuntungan yaitu anti penuaan dini, anti noda hitam dan mencegah
kanker kulit. Parasol ini tidak mengandung vaselin sehingga tidak lengket dan
berminyak dan memiliki sifat waterprooof sehingga dapat digunakan untuk
berenang. Parasol digunakan ke seluruh bagian tubuh 10-20 menit sebelum
terpapar sinar matahari.

KIE :
- Disarankan untuk menggunakan pakaian panjang atau pakaian tertutup dan
topi saat terpapar cahaya matahari walaupun sudah memakai produk
sunscreen
-

DAFTAR PUSTAKA
Draelos, Z. D. and Thaman, L. A. 2006. Cosmetic Formulation of Skin Care
Products. New York: Taylor and Francis Group.

Edlich. RF et al. 2004. Photoprotection by sunscreens with topical antioxidants


and systemic antioxidants to reduce sun exposure. J Long Term Eff Med
Implants. 14 (4) : 317-340.

Elias, PM ; Feingold, KR and Fluhr JW, 2003. Skin as an organ of protection in


Freedberg et al (eds). Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 6th
ed.Mc.Graw-Hill Med Publ. Dev. Vol 1:107-127.

Fourneron, J. D., Faraud, F., Fauneron, A. 1999. Sur La Measure In Vitro De La


Protection Solaire De Cremes Cosmetiques, C. R. Acad. Sci. Il, Paris, v.2.

Japanese Society. 2009. Anti-Aging Medicine vol(6) : 46-59. Tokyo - Japan.

Kullavanijaya P, Henry WL. 2005. Photoprotection. J Am Acad Dermatol. 52 :


937.

Levy SB, Garmyn m, Vinson RP, Callen JP, Quirk, CM. 2012. Sunscreen and
protection. Medscape Reference.

Niwa, Y. 1997. Radikal bebas mengundang kematian, Personel Care Co. Ltd.
Tokyo- Japan.

Nofianty,T. 2008. Pengaruh Formulasi Sediaan Losio Terhadap Efek Minyak


Buah Merah Sebagai Tabir Surya Dibandingkan Terhadap Sediaan Tabir
Surya yang Mengandung Oktunoksat. Skripsi. FMIPA. Universitas
Indonesia.

PERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit & Kelamin Indonesia), 1999.


Katalog Program Pendidikan Dokter Spesialis Kulit & Kelamin

Perwitasari.I, Chandra, D.K., Etnawati dan Suyoto, 1999.Peran Tabir Surya


Kombinasi Sinamat dan Benzophenon pada Perubahan Warna Kulit
Konstitutif Akibat Pajanan UV-B. Kumpulan Jurnal Kosmetik Medik. FKU-
UGM. Yogyakarta

Supardiman, L . 1989. Peranan sinar matahari dan tabir surya dalam proses
penuaankulit, Kumpulan Naskah Ilmiah Simposium Kulit
danPerawatannya pada usia senja, Surabaya, April 1989. hal 51 56.
Wasitaatmadja, S. M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetika Medik. Jakarta :
Universitas Indonesia Press.
Widiansyah, A. 2002. Uji Banding Waktu Pemakaian Ulang Tabir Surya SPF 15
Dan SPF 30 Yang Paling Efektif Pada Pemain Tenis Di Luar Ruangan.
Karya Tulis Akhir. Semarang : Kedokteran Universitas Diponegoro.

Wiweka, Adi dan A, karim Z. 2015. Uji SPF In Vitro dan Sifat Fisik Beberapa
Produk Tabir Surya yang Beredar di Pasaran. Majalah Farmaseutik, Vol.11
No1.