Anda di halaman 1dari 12

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS SRIWIJAYA

STUDENT CENTER LEARNING INQUIRY AND DISCOVERY

NAMA : 1. ADITIA AKBAR P. (03071381419066)


2. DOLVI SASMITA (03071381419063)
3. RIDHO PUTRA A. (03071381419064)
4. SAPTA AJIRYANDI (03071381419070)
5. WIRA KHRISNA N. (03071381419086)

KELAS : TEKNIK GEOLOGI KAMPUS PALEMBANG

Mata Kuliah/Kode : Analisis Cekungan Batubara/GEO 330714


Pertemuan ke- :
Tanggal : 28 April 2017
Pokok Bahasan : Perbandingan Cekungan Barito dan Cekungan Kutai
Pengajar : Prof. Dr. Ir. Edy Sutriyono, M. Sc.
Jenis Tugas/Praktek : Tugas Rumah
Revisi :0

PEKERJAAN DAN PENYELESAIAN

1. Cekungan Barito dengan Cekungan Kutai

Cekungan Barito mengalami proses initial subsidence pada akhir kapur.


Pada akhir kapur tersebut terjadi bersamaan dengan tumbukan antara
Paternosfer dengan SW Borneo microcontinent (Satyana, 1999 dalam Darman
dan Sidi, 2000). Pada awal zaman Tersier terjadi deformasi sebagai akibat dari
peristiwa tektonik oblique convergence dengan arah barat laut tenggara (NW
SE). Pada awal pertengahan Eosen, sebagai hasil akhir dari transgresi, rift
atau rekahan tersebut berkembang menjadi fluviodeltaic dan pada akhirnya
menjadi lingkungan marine. setelah terjadi regresi pada pertengahan Oligosen,
Cekungan Barito mengalami sagging, karena terjadi transgresi lagi. Selama
Miosen, terjadi sea level drop hingga kemudian Schwaner Core dan
Pegunungan Meratus mengalami uplift yang akhirnya membuat cekungan
barito dan cekungan kutai
Cekungan Kutai dihasilkan oleh proses pemekaran (rift basin) yang terjadi
pada Eosen Tengah yang melibatkan pemekaran selat Makasar bagian Utara
dan Laut Sulawesi (Chambers & Moss, 2000 dalam Rienno Ismail, 2008).
Selama Kapur Tengah sampai Eosen Awal, pulau Kalimantan merupakan
tempat terjadinya kolisi dengan mikro-kontinen, busur kepulauan, penjebakan
lempeng oceanic dan intrusi granit, membentuk batuan dasar yang menjadi
dasar dari Cekungan Kutai. Sedimentasi di Cekungan Kutai dapat dibagi
menjadi dua yaitu, sedimen Paleogen yang secara umum bersifat transgresif
dan fasa sedimentasi Neogen yang secara umum bersifat regresif (Allen dan
Chambers, 1998 dalam Rienno Ismail, 2008). Fasa sedimentasi Paleogen
dimulai ketika terjadi fasa tektonik ekstensional dan pengisian rift pada Kala
Eosen. Pada masa ini, Selat Makasar mulai mengalami pemekaran serta
Cekungan Barito, Kutai, dan Tarakan merupakan zona subsidence yang saling
terhubungkan, kemudian sedimentasi Paleogen mencapai puncak pada fasa
pengisian di saat cekungan tidak mengalami pergerakan yang signifikan, Fasase
dimentasi Neogen dimulai pada Miosen Bawah dan masih berlanjut terus
sampai sekarang, meghasilkan endapan delta yang berprogradasi dan terlampar
di atas endapan fasa sedimentasi Paleogen.

Gambar 1. Kurva Subsidance untuk mengetahui Total Subsidance dan


Tectonic Subsidance (Situmorang, 1983).

Cekungan Barito merupakan cekungan belakang busur Cekungan Barito


merupakan cekungan berumur Tersier yang terletak di bagian tenggara
Schwaner Shield di daerah Kalimantan Selatan. Cekungan ini dibatasi
Pegunungan Meratus pada bagian timur dan pada bagian utaranya berbatasan
dengan Cekungan Kutai. Cekungan Barito pada bagian selatan dibatasi Laut
Jawa dan bagian barat dibatasi oleh Paparan Sunda (Kusuma dan Nafi, 1986).
Dalam tatanan tektonik, Cekungan Kutai terbentuk sebagai bagian dari
bagian tenggara dari Kraton Sunda yang dipengaruhi oleh tiga lempeng utama
yakni Eurasia, India-Australia, dan Pasifik. Struktur batuan dasar dari
Cekungan Kutai merupakan produk tektonik Mesozoik Akhir hingga Tersier
Awal Evolusi tektonik di cekungan Kutai menurut Asikin (1995)
punggungan Kutai yang terletak di bagian barat dari danau Kutai kemungkinan
terbentuk sebagai kelanjutan dari pembentukan zona subduksi Meratus.
Cekungan Kutai atas (Upper Kutai Basin), yang terletak di bagian Barat dari
punggungan Kutai terbentuk sebagai bagian dari fore arc basin dan busur
magmatik. Sebagai konsekuensinya Cekungan Kutai bawah (Lower Kutai
Basin) masih berperan sebagai cekungan samudra tanpa pengendapan sedimen
yang signifikan pada masa ini. Mendekati akhir dari kejadian ini, fragmen
kontinen dari Gondwana yang dikenal dengan blok Kangean-Paternosfer
mengalami collision dengan kompleks subduksi Meratus. Pemotongan ini
disebabkan oleh sayatan dari aktifitas magmatik.

Gambar 2. Rekonstruksi penampang (Asikin dkk., 1995).


Secara umum sedimentasi di Cekungan Barito merupakan suatu daur
lengkap sedimentasi yang terdiri dari seri transgresi dan regresi. Fase transgresi
terjadi pada kala Eosen Miosen Awal dan disertai dengan pengendapan
Formasi Tanjung dan Berai, sedangkan fase regresi berlangsung pada kala
Miosen Tengah hingga Pliosen bersamaan dengan diendapkannya Formasi
Warukin dan Dahor ( Kusuma dan Nafi, 1986). Menurut Sikumbang dan
Heryanto (1987)

1. Fase Transgresi
Fase Transgresi di barito ditandai dengan pengendapan Kelompok Tanjung
STUDENT CENTER LEARNING INQUIRY AND DISCOVERY

dan Berai Formasi Tanjung diendapkan secara tidak selaras di atas batuan pra
Tersier. Sedangkan formasi berai sendiri terletak selaras di atas Formasi
Tanjung.Selama fase pengendapan yang terjadi pada fase transgresi, penurunan
dasar cekungan lebih cepat daripada proses sedimentasi, sehingga terbentuk
urutan fasies non marin, transisi, laut dangkal dan laut dalam (Pulunggono,
1969; De Coster, 1974; Koesoemadinata, et al., 1976). Dengan lingkungan
pengendapan paralik delta laut dangkal.

2. Fase Regresi
Fase Regresi di Barito ditandai dengan pengendapan Kelompok Warukin
dan dahor Formasi Warukin terletak selaras di atas Formasi Berai Formasi
Dahor diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Warukin. Fase ini
merupakan kebalikan dari fase transgresi, dimana pengendapan lebih cepat
dibandingkan dengan penurunan dasar cekungan, sehingga terbentuk urutan
seperti fasies laut dangkal, transisi dan non marin (Pulunggono, 1969; De
Coster, 1974; Koesoemadinata, et al., 1976). Dengan Dengan lingkungan
pengendapan paralik

Cekungan Kutai dihasilkan oleh rift basin yang terjadi pada Eosen Tengah
yang melibatkan pemekaran selat Makasar bagian Utara dan Laut Sulawesi
(Chambers & Moss, 2000 dalam Rienno Ismail, 2008). Selama Kapur Tengah
sampai Eosen Awal, pulau Kalimantan merupakan tempat terjadinya kolisi
dengan mikro-kontinen, busur kepulauan, penjebakan lempeng oceanic dan
intrusi granit, membentuk batuan dasar yang menjadi dasar dari Cekungan
Kutai. Fasa sedimentasi Paleogen dimulai ketika terjadi fasa tektonik
ekstensional dan pengisian rift ada kala Eosen. Pada masa ini, Selat Makasar
mulai mengalami pemekaran serta Cekungan Barito, Kutai, dan Tarakan
merupakan zona subsidence yang saling terhubungkan, kemudian sedimentasi
Paleogen mencapai puncak pada fasa pengisian di saat cekungan tidak
mengalami pergerakan yang signifikan, sehingga mengendapkan serpih laut
dalam secara regional dan batuan karbonat pada Oligosen Akhir. Fasa
sedimentasi Neogen dimulai pada Miosen Bawah dan masih berlanjut terus
sampai sekarang, meghasilkan endapan delta yang berprogradasi dan terlampar
di atas endapan fasa sedimentasi Paleogen. Pada Eosen Akhir, cekungan
mengalami pendalaman sehingga terbentuk suatu kondisi marin dan
diendapkan endapan transgresi yang dicirikan oleh serpih laut dalam. Material
yang diendapkan berupa endapan turbidit kipas laut dalam dan batuan karbonat
pada bagian yang dekat dengan batas cekungan, hal ini berlangsung terus
hingga Miosen Awal (Allen dan Chambers, 1998 dalam Rienno Ismail, 2008).
Ada beberapa sikuen batuan pada cekungan barito, berikut adalah
rinciannya:
Formasi Tanjung (Eosen Oligosen Awal)
Formasi ini disusun oleh batupasir, konglomerat, batulempung, batubara, dan
basalt. Formasi ini diendapkan pada lingkungan litoral neritik.
Formasi Berai (Oligosen Akhir Miosen Awal)
Formasi Berai disusun oleh batugamping berselingan dengan batulempung /
serpih di bagian bawah, di bagian tengah terdiri dari batugamping masif dan
pada bagian atas kembali berulang menjadi perselingan batugamping, serpih,
dan batupasir.
Formasi Warukin (Miosen Bawah Miosen Tengah)
Formasi Warukin diendapkan di atas Formasi Berai dan ditutupi secara tidak
selaras oleh Formasi Dahor. Formasi ini terbagi atas dua anggota, yaitu
Warukin bagian bawah (anggota klastik), dan Warukin bagian atas (anggota
batubara).
Warukin bagian bawah (anggota klastik) berupa perselingan antara napal
atau lempung gampingan dengan sisipan tipis batupasir, dan batugamping tipis
di bagian bawah, sedangkan dibagian atas merupakan selang-seling batupasir,
lempung, dan batubara. Batubaranya mempunyai ketebalan tidak lebih dari 5
m., sedangkan batupasir bisa mencapai ketebalan lebih dari 30 m.
Warukin bagian atas (anggota batubara) dengan ketebalan maksimum 500
meter, berupa perselingan batupasir, dan batulempung dengan sisipan batubara.
Tebal lapisan batubara mencapai lebih dari 40 m, sedangkan batupasir tidak
begitu tebal, biasanya mengandung air tawar.

Formasi Dahor (Miosen Atas Pliosen)

Formasi ini terdiri atas perselingan antara batupasir, batubara,


konglomerat, dan serpih yang diendapkan dalam lingkungan litoral supra
litoral.
STUDENT CENTER LEARNING INQUIRY AND DISCOVERY

Gambar 3 Kolom Stratigrafi Cekungan Barito

Stratigrafi Cekungan Kutai telah ditulis oleh Courtney dkk(1991) dalam


kolom stratigrafi regional Cekungan Kutai(Gambar 05). Berikut penjelasan
stratigrafi Cekungan Kutai dari masa Paleogen, Neogen dan Kuarter.

Endapan Paleogen
Cekungan Kutai memiliki batuan dasar yang tersusun atas asosiasi
batuan mafik dan sedimen dengan tingkat metamorfisme yang berbeda. Batuan
dasar volkanik yang dilaporkan tersingkap di Sungai Mahakam merupakan
hasil aktivitas volkanik pada Eosen Awal-Tengah. Batuan ini berbeda dengan
batuan dasar volkanik yang terdapat pada sumur Gendring-1 yang berumur
Kapur Awal. Batuan sedimen Tersier tertua pada stratigrafi Cekungan Kutai
adalah Formasi Boh, yang terdiri dari batu serpih, lanau, dan batupasir sangat
halus. Batuan-batuan tersebut mengandung foraminifera planktonik yang
berumur Eosen Tengah. Pada batas Eosen Tengah-Akhir, fase regresi
ditunjukan oleh terjadinya pembajian lapisan sedimen klastik yang diikuti oleh
endapan laut berumur Eosen Akhir hingga Oligosen Awal. Lapisan ini memiliki
potensi yang baik sebagai reservoar, khususnya pada bagian-bagian dangkal
dari cekungan. Atan Beds terdiri dari batuserpih dan batulumpur dan terkadang
bersifat karbonatan.

Endapan Oligosen Akhir-Miosen Tengah


Pengendapan sedimen pada Oligosen Akhir-Miosen Tengah terdiri dari
sikuen tunggal dan beberapa terdiri dari dua siklus transgresi dan regresi yang
terpisahkan oleh Klinjau Beds. Marah Beds secara tidak selaras menutupi
endapan yang lebih tua. Ketidakselarasan ini diakibatkan oleh fase tektonik
yang secara intensif mempengaruhi struktur batuan di daerah dan membentuk
keadaan Cekungan Kutai saat ini. Klastik Marah Beds secara selaras ditutupi
oleh Formasi Pamaluan yang tersusun atas sikuen serpih-batulanau dengan 36-
21 ketebalan mencapai 1000 meter.

Endapan Miosen Tengah-Miosen


Akhir kelompok batuan pada umur ini pada umumnya tersusun sangat
kompleks. Dalam stratigrafi regional, kelompok batuan ini dinamai Grup
Balikpapan (Marks dkk., 1982). Bagian bawah dari kelompok batuan ini
tersusun atas batuan klastik Formasi Mentawir dan dapat dibedakan dari bagian
atasnya yang tersusun atas serpih-karbonat Formasi Mentawir. Batupasir
Formasi Mentawir memiliki ciri litologi masif, berbutir halus-sedang, berlapis
dengan serpih, lanau, dan batubara. Ketebalan unit batuan ini kurang lebih 450
meter, Secara selaras Grup Balikpapan ini ditutupi oleh Formasi Klandasan,
yang tersusun atas serpih, napal dan karbonat.

Endapan Pliosen dan Kuarter,


Formasi Kampung Baru dapat dikenali dengan baik pada area tepi
pantai di daerah tenggara dari Cekungan Kutai (daerah Balikpapan), yang secara
tidak selaras menutupi Formasi Balikpapan. Formasi ini tersusun atas batupasir,
batulanau dan serpih yang kaya akan batubara. Klastik yang lebih kasar
umumnya lebih banyak terdapat pada bagian bawah dari formasi ini dengan
ketebalan 30-120 meter. Batupasir ini membaji ke arah timur menjadi unit serpih
seluruhnya.
STUDENT CENTER LEARNING INQUIRY AND DISCOVERY

Gambar 4. Stratigrafi cekungan Kutai (Satyana, dkk, 1995)

Kalimantan juga terkenal akan produksi batubaranya, dengan memperlibatkan


cekungan cekungan batubara yang ada. Formasi pembawa batubara di cekungan barito
ada 2 antara lain :

Formasi Berai

Formasi ini terletak selaras di atas Formasi Tanjung. Formasi Berai berumur
Oligosen Miosen Awal. Formasi Berai mempunyai ketebalan 1250 m dengan
lingkungan pengendapannya lagoon dan laut dangkal. Formasi Berai pertama kali
ditemukan di Gunung Berai dan penyebarannya meliputi seluruh daerah Cekungan
Barito. Fosil penunjuk Formasi Berai adalah Heterosgina borneoensis, Nummulites
fichtel, dan Spyroclypeus leupoldi.

Formasi Warukin

Formasi Warukin terletak selaras di atas Formasi Berai Formasi Warukin


berumur Miosen Awal Miosen Akhir. Formasi ini mempunyai ketebalan 300 500 m
dengan lingkungan pengendapan paralik - delta. Formasi Warukin pertama kali
ditemukan di desa Warukin, Tanjung Raya Kalimantan Selatan. Penyebaran formasi
ini meliputi seluruh Cekungan Barito. Fosil penunjuk Heterosgina sp, Lepidocyclina
sp dan Spyroclypeus leupoldi.
Sedangkan untuk cekungan di kutai juga memiliki formasi formasi pembawa
batubara tersebut .Pada cekungan Kutai terdapat 3 formasi pembawa batubara, antara
lain :
Formasi Marah, tersusun oleh perselingan napal dan batulempung bersisipan
batugamping, formasi ini berumur Eosen Akhir dan diendapkan di lingkungan
sublitoral dalam. Formasi Batuayau terletak selaras di atas Formasi Marah.
Formasi ini umumnya tersusun oleh batupasir, batulumpur, batulanau dan
sedikit batugamping. Setempat terdapat sisipan batubara, lempung karbonan
dan gampingan. Formasi ini berumur Eosen Akhir dan diendapkan di
lingkungan delta hingga laut dangkal terbuka.

Formasi Wahau menindih tak selaras Formasi Batuayau, formasi ini tersusun
oleh perselingan batulempung, batupasir kuarsa, batupasir lempungan dan
batulempung pasiran, setempat terdapat sisipan batubara. Formasi ini
diperkirakan berumur Miosen Tengah dan diendapkan di lingkungan laut
dangkal darat.
Formasi Balikpapan diendapkan tak selaras di atas Formasi Wahau. Batuan
penyusunnya terdiri atas batupasir kuarsa, batulempung bersisipan batulanau,
serpih, batugamping dan batubara. Formasi ini berumur Miosen Tengah dan
diendapkan di lingkungan delta litoral hingga laut dangkal.

Struktur yang berkembang dalam pembentukan Cekungan Barito ada 2 jenis


:Tensional, sinistral shear, dengan arah relatif barat laut- tenggara (NW SE).
Transpesional, merupakan konvergen sehingga mengalami uplift, dan lalu
mengalami reaktifasi dan mengalami invert struktur yang tua, sehingga
menghasilkan wrenching, pensesaran, dan perlipatan.
Setting tektonik secara umum terjadi pada arah timur laut (NNE) Cekungan
Barito, dengan struktur yang intensif berarah sejajar barat daya timur laut (SSW-
NNE) membentuk struktur lipatan mengelilingi pegunungan Meratus dan
dipengaruhi oleh sesar naik dengan dip yang curam. Adanya sesar wrench utama,
menunjukkan adanya indikasi drag atau sesar pada lipatan dan bekas sesar naik.
Cekungan Barito adalah cekungan asimetri, terbentuk di daerah foredeep pada
bagian timur dan sebuah platform berdekatan dengan Schwaner atau Shield
Kalimantan Barat. Pada awal zaman Tersier terjadi deformasi sebagai akibat dari
STUDENT CENTER LEARNING INQUIRY AND DISCOVERY

peristiwa tektonik oblique convergence dengan arah barat laut tenggara (NW
SE). Kemudian terbentuk rekahan dan berkembang menjadi accomodation space
untuk sedimen produk alluvial fan dan lakustrin yang merupakan anggota Formasi
Tanjung bawah. Pada awal pertengahan Eosen, sebagai hasil akhir dari transgresi, rift
atau rekahan tersebut berkembang menjadi fluviodeltaic dan pada akhirnya menjadi
lingkungan marine, yang seluruhnya merupakan hasil transgresi selama proses
deposisi Formasi Tanjung bagian tengah. Pada Kala awal Oligosen-Eosen akhir
terjadi transgresi, sehingga terjadi genang laut. Akibatnya diendapkan shale marine
dari bagian Formasi Tanjung bagian atas.aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Setelah terjadi regresi pada pertengahan Oligosen, Cekungan Barito
mengalami sagging, karena terjadi transgresi lagi. Pada Kala Oligosen akhir, terjadi
pengendapan platform carbonate, merupakan anggota Formasi Berai. Sedimen
karbonat kemudian mengalami deposisi lagi pada kala awal Miosen, ketika deposisi
berakhir, material sedimen klastik mengalami deposisi dari bagian barat.
Selama Miosen, terjadi sea level drop hingga kemudian Schwaner Core dan
Pegunungan Meratus mengalami uplift. Material sedimen klastik berasal dari proses
deposisi ke arah bagian timur, dan progadasi sedimen produk dari delta yang
merupakan anggota Formasi Warukin. Pada Miosen akhir, Pegunungan Meratus
muncul kembali, diikuti oleh adanya peristiwa penurunan cekungan (subsidence)
sehingga terjadi proses deposisi sedimen, yang merupakan Formasi Warukin.
Pegunungan Meratus lalu mengalami uplift lagi hingga kala Pleistosen, dan
diendapkan produk sedimen molasic-deltaic, merupakan Formasi Dahor pada kala
Pliosen.
Kemudian cekungan kutai meiliki hal lain Inversi terjadi pada Miosen Awal,
menyebabkan pengangkatan pada pusat cekungan yang terbentuk selama Eosen dan
Oligosen, sehingga cekungan mengalami pendangkalan.Erosi terhadap batuan
sedimen Paleogen dan batuan volkanik dan desitik menghasilkan luapan sedimen,
sehingga terjadi progradasi delta dari Barat ke Timur. Inversi berlanjut dan
mempengaruhi cekungan selama Miosen Tengah dan Pliosen. Seiring berjalannya
waktu, inverse semakin mempengaruhi daerah yang terletak lebih kearahTimur,
sehingga mempercepat proses progradasi delta.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. BAB II Geologi Regional Cekungan Barito dan Kutai. (Online:
digilib.unila.ac.id/10674/16/BAB%20II.pdf). Diakses pada tanggal 24 April
2017.

Anonim. 2011. BAB II Perbedaan Cekungan Barito dan Kutai. (Online:


digilib.itb.ac.id/files/disk1/505/jbptitbpp-gdl-yanbastian-25204-3-2011ta-2.pdf).
Diakses pada tanggal 24 April 2017.

Anonim. 2016.Geologi Regional Cekungan Barito Fisiografi, stratigrafi. (Online:


http://www.geologinesia.com/2016/03/geologi-regional-cekungan-barito.
Diakses pada tanggal 24 April 2017.

Syafriansyah, dedi . 2012.Endapan Gambut Daerah Barito . (Online:


http://dsafriansyah.blogspot.co.id/2012/04/inventarisasi-endapan-gambut-
daerah.html. Diakses pada tanggal 24 April 2017.

KOMENTAR DAN CATATAN PENILAI


STUDENT CENTER LEARNING INQUIRY AND DISCOVERY

Tanda Tangan
Penilai
Choose an item.