Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Efusi pleura adalah penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat


transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Efusi
pleura bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu
penyakit. Pada keadaan normal, rongga pleura hanya mengandung sedikit
cairan sebanyak 10-20 ml yang membentuk lapisan tipis pada pleura
parietalis dan viseralis, dengan fungsi utama sebagai pelicin gesekan antara
permukaan kedua pleura pada waktu pernafasan. Penyakit-penyakit yang
dapat menimbulkan efusi pleura adalah tuberkulosis, infeksi paru
nontuberkulosis, keganasan, sirosishati, trauma tembus atau tumpul, infark
paru, serta gagal jantung kongesti.
Dinegara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal
jantung kongesti, sirosis hati, keganasan dan pneumonia bakteri, sementara
dinegara berkembang seperti indonesia Efusi pleura cukup banyak dijumpai
di RSUD Dr.Soetomo Surabaya pada tahun 1984 efusi pleura menduduki
peringkat bke tiga dari sepuluh penyakit terbanyak yang dirawat di bangsal.
Di indonesia, tuberkulosis paru adalah penyebab utama efusi pleura disusul
oleh keganasan. Distribusi berdasarkan jenis kelamin, efusi pleura
didapatkan lebih banyak pada wanita daripada pria. Efusi pleura disebabkan
oleh tuber kulosis paru lebih banyak dijumpai pada pria daripada wanita.
Umur terbanyak untuk efusi pleura karena tuber kulosis adalah 21-30 tahun.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi dari efusi pleura ?
1.2.2 Apa etiologi dari efusi pleura ?
1.2.3 Apa patofisiologi dari efusi pleura ?
1.2.4 Apa penataksaan medis dari efusi pleura ?
1.2.5 Apa pemeriksaan diagnostik dari efusi pleura ?
1.2.6 Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien efusi pleura ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
1. Agar mahasiswa mengetahui bagaimana asuhan keperawatan
pada klien dengan efusi pleura.

1
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Agar mahasiswa mengetahui definisi dari efusi pleura.
2. Agar mahasiswa mengetahui etiologi dari efusi pleura.
3. Agar mahasiswa mengetahui patofisiologi dari efusi pleura.
4. Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan medis dari efusi
pleura.
5. Agar mahasiswa mengetahui pemeriksaan diagnostik dari efusi
pleura.

1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar dari efusi pleura.
2. Mahasiswa mampu memahami bagaimana asuhan keperawatan
pada klien dengan efusi pleura.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Efusi Pleura adalah suatu keadaan di mana terdapat penumpukan cairan
dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan terjadinya
ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura
viseralis.
Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang mengganggu sistem
pernapasan. Efusi pleura bukanlah diagnosa dari suatu penyakit, melainkan

2
hanya merupakan gejala atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura
adalah keadaan di mana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, jika
kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya.

2.2 Etiologi
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi lagi menjadi :
a. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal
jantung kiri), sindrome nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis),
sindrom vena kava superior, tumor, dan sindrom meigs.
b. Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, pneumonia, tumor, infark paru,
radiasi, dan penyakit kolagen.
c. Efusi hemoragi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark
paru, dan tuberkulosis.

3
2.4 Penatalaksanaan Medis
Pengelolaan efusi pleura ditujukan untuk pengobatan penyakit dasar dan
pengosongan cairan (thorakosentesis). Indikasi untuk melakukan
thorakosentesis :
a. Menghilangkan sesak napas yang disebabkan oleh akumulasi cairan
dalam rongga pleura.
b. Bila terapi spesifik pada pentakit primer tidak efektif atau gagal.
c. Bila terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura, tidak boleh lebih dari 1000 cc,
karena pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan dalm jumlah
yang banyak dapat menimbulkan edema paru yang ditandai dengan batuk
dan sesak.
Kerugian thorakosentesis :
a. Dapat menyebabkan kehilangan protein yang berda dalam cairan pleura.
b. Dapat menimbulkan infeksi dirongga pleura.
c. Dapat terjadi pneumothoraks.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


2.5.1 Pemeriksaan Radiologi
Pada fluoroskopi maupun thoraks PA caiaran yang kurang dari
300cc tidak bisa terlihat. Mungkin kelainan yang tampak hanya
berupa penumpukan kostofrenikus. Pada efusi pleura subpulmonal,
meskipun cairan pleura lebih dari 300cc, frenicocostails tampak
tumpul dan diafragma kelihatan mininggi. Untuk memastikannya,
perlu dilakukan dengan foto thoraks lateral dari sisi yang sakit (lateral
dekubitus). Foto ini akan memberikan hasil yang memuaskan bila
cairan pleura sedikit. Pemeriksaan radiologi foto thoraks juga
diperlukan sebagai monitor atas intervensi yang telah diberikan di
mana keadaan keluhan klinis yang membaik dapat lebih dipastikan
dengan penunjang pemeriksaan foto thoraks.

6
2.5.2 Biopsi Pleura
Biopsi ini berguna untuk mengambil spesimen jaringan pleura
melalui biopsi jalur perkutaneus. Biopsi ini dilakukan untuk
mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit
(biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura).

2.5.3 Pengukuran Fungsi Paru


Penurunan kapasitas vital, peningkatan rasio udara residual
ke kapasitas total paru, dan penyakit pleural pada tuberkulosis
kronis tahap lanjut.

2.5.4 Pemeriksaan Laboratorium


Pemeriksaan laboratorium yang spesifik adalah dengan
memeriksa caiaran pleura agar dapat menunjang intervensi
lanjutan. Analisis cairan pleura dapat dinilai untuk mendeteksi
kemungkinan penyebab dari efusi pleura. Pemeriksaan cairan
pleura hasil thorakosentesis secara makroskopi biasanya dapat
berupa cairan hemoragi, eksudat, dan transudat.
1. Haemorrhagic pleural efusion, biasanya terjadi pada klien
dengan adanya keganasan paru atau akibat infark paru
terutama disebabkan oleh tuberkulosis.
2. Yellow exudate pleural efusion, terutama terjadi pada
keadaan gagal jantung kongestif, sindrom nefrotik,
hipoalbuminemia, dan perikarditis konstruktif.
3. Clear transudate pleural efusion, sering terjadi pada klien
dengan keganasan ekstrapulmoner.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN EFUSI PLEURA

3.1 Pengkajian
3.1.1 Keluhan utama

7
Biasanya pada klien dengan efusi pleura didapatkan keluhan
berupa sesak napas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritis akibat
iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokalisasi terutama pada saat
batuk dan bernapas serta batuk nonproduktif.

3.1.2 Riwayat penyakit sekarang


Klien dengan efusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya
keluhan seperti batuk, sesak napas, nyeri pleuritis, rasa berat pada
dada dan berat badan menurun. Perlu juga ditanyakan sejak kapan
keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk
menurunkan atau menghilangkan keluhan keluhan tersebut.

3.1.3 Riwayat penyakit dahulu


Perlu ditanyakan pula, apakah klien pernah menderita penyakit
seperti TB Paru, pneumonia, gagal jantung, trauma, asites dan
sebagainya. Hal ini perlu diketahui untuk melihat ada tidaknya
kemungkinan faktor prediposisi.

3.1.4 Riwayat keluarga


Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit-penyakit yang mungkin dapat menyebabkan efusi pleura
seperti kanker paru, asma, TB paru dan lain sebagainya.

3.1.5 Pengkajian psikososial


Pengkajian psikososial meliputi apa yang dirasakan klien terhadap
penyakitnya, bagaiman cara mengantisipasi, serta bagaimana
perilaku klien terhadap tindakan yang dilakukan kepada dirinya.

3.1.6 Pemeriksaan Fisik


1. B1 (Breathing)
a. Inspeksi
Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan yang disertai
penggunaan otot bantu pernapasan. Gerakan pernapasan
ekspansi dada yang asimentris ( pergaraan dada tertinggal pada
sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada asimetris ( cembung
pada sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang produktif dengan
sputum puruien.
b. Palpasi
Pendorongan mediastinum kea rah hemithoraks kontralateral
yang diketahui dari posisi trachea dan ictus cordis. Taktil fremitus
menurun terutama untuk efusi pleura yang jumlah cairannya

8
>300cc. Di samping itu, pada palpasi juga ditemukan pergerakan
dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit.
c. Perkusi
Suara perkusi redup hingga pekak tergantung dari jumlah
cairannya.
d. Auskultasi
Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang
sakit. Pada posisi duduk, cairan semakin ke atas semakin tipis.

2. B2 (Blood)
Pada saat dilakukan inspeksi, perlu diperhatikan ictus cordis
normal yang berbeda pada ICS 5 pada linea medio claviculaus
kiri sebesar 1cm. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui
ada tidaknya pergeseran jantung.
Palpasi dilakukan untuk menghitung frekuensi jantung dan
hanya memperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut
jantung. Selain itu perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu
getaran ictus cordis. Tindakan perkusi dilakukan untuk
menentukan batas jantung daerah mana yang terdengar pekak.
Hal ini bertujuan untuk menentukan apakah terjadi pergeseran
jantung karena pendorongan cairan efusi pleura. Auskultasi
dilakukan untuk menetukan bunyi jantung I dan II tunggal atau
gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala
payah jantung, serta adakah murmur yang menunjukan adanya
peningkatan arus turbulensi darah.
3. B3 (Brain)
Pada saat dilakukan inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji,
setelah sebelumnya diperlukan pemeriksaan GCS untuk
menentukan apakah klien berada dalam compos mentis,
somnolen, atau koma. Selain itu fungsi-fungsi sensorik juga
perlu di kaji seperti pendengaran, penglihatan, penciuman,
perabaan, dan pengecapan.
4. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine dilakukan dalam
hubungannya dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat
perlu memonitor adanya oliguris, karena itu merupakan tanda
awal syok.
5. B5 ( Bowel)
Pada saat inspeksi hal yang perlu diperhatikan adalah apakah
abdomen membuncit atau datar, tepi perut menonjol atau tidak,

9
umbilicus menonjol atau tidak selin itu juga perlu di inspeksi ada
tidaknya benjolan-benjolan atau massa. Pada klien biasanya
didapatkan indikasi mual dan muntah, penurunan nafsu makan
dan penurunan berat badan.
6. B6 (Bone)
Hal yang perlu diperhatikan adalah adakah edema peritibial
feel pada kedua ekstremitas untuk mengetahui tingkat perfusi
perifer, serta dengan pemeriksaan capillary refill time.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kekuatan otot untuk
kemudian dibandingkan antara bagian kiri dan kanan.

3.2 Diagnosa Keperawatan

3. 2.1 Ketidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan


dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap
penumpukan cairan dalam rongga pleura.
3. 2.2 Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhungan
dengan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk,
dan edema trakheal/faringeal.
3. 2.3 Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan
penurunan kemampuan ekspansi paru dan kerusakan membran
alveolar kapiler.
3. 2.4 Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan peningkatan
metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan akibat sesak
napas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen.
3. 2.5 Gangguan ADL (Activity Daily Living) yang berhubungan
dengan kelemahan fisik umum dan keletihan sekunder akibat
adanya sesak napas.
3. 2.6 Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman
kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernapas).
3. 2.7 Gangguan pola tidur dan istirahat yang berhubungan
dengan batuk yang menetap dan sesak napas serta perubahan
suasana lingkungan.
3. 2.8 Kurangnya pengetahuan yang berhungan dengan
informasi yang tidak adekuat mengenai proses penyakit dan
pengobatan.

3.3 Rencana Intervensi

10
Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan menurunnya ekspansi
paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.

Tujuan:
Dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi klien mampu mempertahankan fungsi
paru secara normal.

Kriteria evaluasi:
Irama, frekuensi, dan kedalaman pernapasan dalam batas normal, pada pemeriksaan
rontgen thoraks tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, dan bunyi napas terdengar jelas.

Rencana Intervensi Rasional

Identifikasi faktor penyebab Dengan mengidentifikasi penyebab, kita


dapat menentukan jenis efusi pleura
sehingga dapat mengembalikan tindakan
yang tepat.

Kaji kualitas, frekuensi, dan kedalaman Dengan mngkaji kualitas, frekuensi, dan
pernafasan, serta melaporkan setiap kedalaman pernapasan, kita dapat
perubahan yang terjadi. mengetahui sejauh mana perubahan kondisi
klien.

Baringkan pasien dalam posisi yang Penurunan diafragma dapat memperluas


nyaman, dalam posisi duduk, dengan kepala daerah dada sehingga ekspansi paru bisa
tempat tidur ditinggikan 60-900 atau maksimal.
miringkan kearah sisi yang sakit. Miring ke arah sisi yang sakit dapat
menghindari efek penekanan gravitasi cairan
sehingga ekspansi dapat maksimal.

Observasi tanda-tanda vital ( nadi dan Peningkatan frekuensi napas dan takikardi
pernafasan ). merupakan indikasi adanya penurunan
fungsi paru.

Lakukan auskultasi suara napas setiap 2-4 Auskultasi dapat menentukan kelainan suara
jam. napas pada bagian paru.

Bantu dan ajarkan klien untuk batuk dan Menekah daerah yang nyeri ketika batuk
napas dalam yang efektif. pada napas dalam.
Penekanan otot-otot dada serta abdomen
membuat batuk lebih efektif.

11
Kolaburasi dengan tim medis lain untuk Pemberian 02 dapat menurunkan beban
pemberian 02 dan obat-obatan serta foto pernapasan dan mencegah terjadinya
thoraks. sianosis akibat hipoksia.
Dengan foto thoraks, dapat dimonitor
kemajuan dari berkurangnya cairan dan
kembalinya daya kembang baru.

Kolaburasi untuktindakan thorakosentesis Tindakan thorakosentesis atau fungsi pleura


bertujuan untuk menghilangkan sesak napas
yang disebabkan oleh akumulasi cairan
dalam rongga pleura.

12
Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang
kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakheal/faringeal.

Tujuan: dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi, bersihan jalan napas kembali
efektif.

Kriteria evaluasi:
- Klien mampu melakukan batuk efektif.
- Pernapasan klien normal (16-20 x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
Bunyi napas normal, Rh -/- dan pergerakan pernapasan normal.

Rencana Intervensi Rasional

Kaji fungsi pernafasan (bunyi napas, Penurunan bunyi napas menurunkan


kecepatan, irama, kedalaman, dan atelektasis, ronkhi menunjukan akumulasi
pengguanan otot bantu napas). sekret dan ketidakefektifan pengeluaran
sekresi yang selanjutnya dapat
menimbulkan penggunaan otot bantu napas
dan peningkatan kerja pernapasan.

Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, Pengeluaran akan sulit bila secret sangat
catat karakter dan volume sputum. kental (efek infeksi dan hidrasi yangtidak
adekuat).

Berikan posisi semifowler/fowler tinggi dan Posisi fowler memaksimalkan ekspensi paru
bantu klien latihan napas dalam dan batuk dan menurunkan upaya bernapas. Ventilasi
efektif. maksimal membuka area atelektasis dan
meningkatkan gerakan secret kedalam jalan
napas besar untuk di keluarkan.

Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 Hidrasi yang adekuat membantu


ml/hari kecuali tidak diindikasikan. mengencerkan secret dan megefektifkan
pembersihan jalan napas.

Bersihkan secret dari mulut dan trachea, bila Mencegah obstruksi dan aspirasi.
perlu lakukan pengisapan (suction). Pengisapan diperlukan bila klien tidak
mampu mengeluarkan secret. Eliminasi
lenndir dengan suction sebaiknya dilakukan
dalam jangka waktu kurang dari 10 menit,
dengan pengawasan efek samping suction.

13
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : Pengobatan antibiotic yang ideal adalah
obat antibiotic. dengan adanya dasar dari tes uji resistensi
kuman terhadap jenis antibiotic sehingga
lebih mudah mengobati pneumonia.

Agen mukolitik. Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan


perlengketan secret paru untuk
memudahkan pembersihan.

Bronkodilator : jenis aminofilin via intravena. Bronkodilator meningkatkan diameter lumen


percabangan tracheobronkial sehingga
menurunkan tahanan terhadap aliran udara.

Kortikosteroid Kortikosteroid berguna pada hipoksemia


dengan keterlibatan luas dan bila reaksi
inflamasi mengancam kehidupan.

14
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang mengganggu sistem
pernapasan. Efusi pleura bukanlah diagnosa dari suatu penyakit, melainkan
hanya merupakan gejala atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura
adalah keadaan di mana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, jika
kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya.

4.2 Saran
Kita sebagai perawat harus teliti dan kompeten dalam pengambilan tindakan
asuhan keperawatan klien dengan efusi pleura agar tidak terjadi kesalahan
dalam pengambilan keputusan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika
Somantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba
Medika

16