Anda di halaman 1dari 5

PROSEDUR

PENANGANAN HIPERTENSI DALAM


KEHAMILAN
No. Dokumen : SOP/ADM-PM/2.3.1 P.3
No. Revisi :
STANDAR Pembuat :
PROSEDUR
Tanggal Terbit :
OPERASIONAL
Unit :
Pemeriksa
Halaman : 1/1

UPT Tanda tangan kepala Puskesmas : dr. Andri Sentanu


NIP.197907162010011012
PUSKESMAS
DTP DARMA

1. Pengertian 1. Hipertensi dalam


kehamilan, Preeklamasi, Eklampsi.
Preeklamsi adalah timbulnya hipertensi
disertai proteinuri dan edema akibat kehamilan,
setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera
setelah persalinn. Gejala ini dapat timbul sebelum
20 minggu bila terjadi penyakit trofoblast.
Eklampsi adalah kelainan akut pada
wanita hamil dalam persalinan.
2. Kriteria diagnosa
Preeklamsi/eklamsi atas dasar hipertensi kronis /
superimposed preeklamsi adalah timbulnya
preeklamsi atau eklamsi pada pasien hipertensi
kronik.
Transient hypertension adalab timbulnya
hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang
tekanan darah sebelumnya normal dan tidak
mempunyai gejala-gelala hipertensi kronik atau
preeklamsi/eklamsi. Gejala ini akan hilang setelah
10 hari pasca persalinan.
Edem, proteinuri, hipertensi (sistolik 140mmhg &
diastolik 90 mmHg atau kenaikan sistolik 30
mmHg dan diastolik 15 mmHg. Pada eklamsi ada
kejang atau koma.
Diagnosis preeklamsi ringan didasarkan atas
timbulnya hipertensi ( diastolik 90-110 mmHg
pada 2x pengukuran TD berjarak 1 jam atau lebih)
disertai proteinuria +1 dan atau edem setelah
kehamilan 20 minggu.
Preeklamsi berat.
Bila didapatkan satu atau lebih gejala dibawah ini
preeklamsi digolongkan berat.
- Tekanan darah sistolik lebih/sama dengan 160
mmHg atau tekanan diastolik lebih/sama
dengan 110 mmHg,
- Proteinuri >+2
- Oliguri, yaitu produksi urine kurang dari 500 cc
/ 24 jam.
- Gangguan visus dan serebral.
- Nyeri epigastriun/nyeri pada kuadran kanan
atau abdomen.
- Oedema pada tungkai / anasarka.

Eklampsia : Kejang yang dapat terjadi tanpa tergantung


pada berat ringannya hipertensi
Sifat kejang tonik klonik.Terjadi koma setelah kejang dan
dapat berlangsung lama.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam melakukan penilaian klinik, klasifiksi
dan penatalaksanaan serta mencegah komplikasi hipertensi
karena kehamilan.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Darma tentang pelayanan klinis

4. Referensi Buku Acuan PONED 2008

5. Alat dan Bahan

6. Langkah - Langkah
1. Prosedur/ Penilaian klinik
Langkah-
langkah DIAGNOSIS TEKANAN DARAH TANDA LAIN

Hipertensi Tekanan diastolik > 90 Protein uria (-)


mmHg atau kenaikan 15 Kehamilan > 20 minggu
mmHg dalam 2 pengukuran
berjarak 1 jam.

Preeklampsia Tekanan diastolik > 90 Protein uria 1+


Ringan mmHg atau kenaikan 15
mmHg dalam 2 pengukuran
berjarak 1 jam.

Preeklampsia Tekanan diastolik > Protein uria 2+


Berat 110 mmHg Oliguria
Hiperfleksia
Gangguan -penglihatan
Nyeri epigastrium

Eklampsia Hipertensi Kejang

Hipertensi Hipertensi Kehamilan < 20 minggu


kronik

Superimposed Hipertensi kronik Proteinuria dan tanda


preeklampsia lain dari preeklampsia

Pengelolaan :
a. Hipertensi dalam kehamilan tanpa proteinuria
Jika kehamilan < 35 minggu, lakukan pengelolaan rawat jalan :
Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap
minggu.
Jika tekanan darah meningkat, kelola sebagai preeklamsia.
Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin yang terhambat,
persiapan rujukan dan kolaborasi dengan SPOG.
b. Preeklampsia Ringan
Jika kehamilan < 35 minggu dan tidak terdapat tanda perbaikan, lakukan penilaian
2 kali seminggu secara rawat jalan :
Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria, reflek dan kondisi janin.
Lebih banyak istirahat.
Diet biasa.
Tidak perlu pemberian obat.
Jika tidak memungkinkan rawat jalan, persiapkan rujukan untuk perawatan di
rumah sakit.
Jika kehamilan > 35 minggu, pertimbangkan terminasi kehamilan di rumah sakit,
dengan cara lakukan rujukan.
c. Preeklampsia berat dan Eklampsia
Penanganan preeklamsia berat dan eklamsia sama, kecuali bahwa persalinan harus
berlangsung dalam 6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.

Pengelolaan kejang:
Beri obat anti kejang (anti konvulsan)
Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir, masker
oksigen, oksigen)
Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
Aspirasi mulut dan tenggorokan
Baringkan pasien pada sisi kiri, kepala sedikit lebih tinggi (posisi fowler) untuk
mengurangi risiko aspirasi
Berikan O2 4-6 liter/menit

Pengelolaan umum:
Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan anti hipertensi sampai tekanan
diastolik antara 90-100 mmHg
Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar nomor 16 atau lebih
Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
Katerisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan protein urin infus
cairan dipertahankan 1,5 2 liter/24 jam
Jangan tinggalakan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat
mengakibatkan kematian ibu dan janin
Observasi tanda vital, reflek dan denyut jantung janin setiap 1 jam
Auskultasi paru untuk mencari tanda eodema paru. Adanya krepitasi
merupakan tanda adanya eodema paru. Jika eodema paru, hentikan pemberian
cairan dan berikan diuretik (mis. Furosemide 40 mg IV)

Dosis pemberian anti konvulsan:


MAGNESIUM SULFAT UNTUK
PREEKLAMSIA DAN EKLAMPSIA

Alternatif I dosis awal Berikan MgSO420% 4gr, jika


MgSO440% diencerkan (10cc MgSO4+
10cc aqua bidest) dimasukkan ke dalam
NaCl/ RL 100cc (jika larutan NaCl/ RL
500cc, dibuang sebanyak 400cc).
Berikan selama 10-15 menit, kurang
lebih 40 tpm.
Berikan MgSO420% 10gr (50cc), jika
MgSO440% diencerkan (25cc MgSO4+
Dosis Pemiliharaan 25cc aqua bidest) dalam larutan Asering/
RL 500cc berikan 20 tpm.
Sebelum pemberian MgSO4 Reflek Patella (+)
ulangan, lakukan pemeriksaan: Urine minimal 30cc/jam dalam 4 jam
terakhir
Frekuensi pernapasan minimal 16
Hentikan pemberian MgSO4, kali/menit
jika: Reflek patela (-), bradipnea (<16
kali/menit)
Lakukan rujukan ke rumah sakit.

Anti Hipertensi
Obat pilihan adalah Nifedipin, yang diberikan 5-10 mg oralyang dapat diulang
sampai 8 kali/24 jam
Jika respons tidak membaik setelah 10 menit, berikan tambahan 5 mg
Nifedipin sublingual

Persalinan:
Jika pasien didiagnosa dengan Hipertensi dalam kehamilan (tidak disertai
dengan protein urine) dan Preeklamsi ringan, persalinan bisa dilakukan di
PONED.
Jika pasien didiagnosa Preeklamsi berat dan Eklamsi, persalinan harus
dilakukan di rumah sakit.

Perawatan Postpartum
Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum atau kejang yang terakhir
Teruskan terapi hipertensi jika tekanan diastolik masih > 90 mmHg
Lakukan pemantaun jumlah urin

Rujukan
Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap, jika:
- Terdapat oliguria (<400 ml/24 jam)
- Terdapat sindroma HELLP
- Koma berlanjut lebih dari 24 jam setelah kejang

d. Hipertensi kronik
Jika pasien sebelum hamil sudah mendapatkan pengobatan dengan obat anti
hipertensi dan terpantau dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut
Jika tekanan darah diastolik > 110 mmHg atau tekanan sistolik 160 mmHg
berikan anti hipertensi
Jika terdapat proteinuria pikirkan superimposed preeklampsia
Istirahat
Lakukan pemantauan pertumbuhan dan kondisi janin
Jika tidak terdapat komplikasi, tunggu persalinan sampai aterm.
- Observasi komplikasi seperti solutio plasenta atau superimposed preeklampsia
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
8. Unit terkait
9. Dokumen terkait
10. Rekaman/ Histori perubahan

NO YANG DIRUBAH ISI PERUBAHAN TANGGAL


DIBERLAKUKAN