Anda di halaman 1dari 86

BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM

BENGKEL ELEKTROMEKANIK
VL0307

Oleh :

Endro Wahjono, SST,MT.


Ir. Sutedjo, MT.
Agus Fitriyanto

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI


DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
POLITEK NIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
2013
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena hingga saat ini penulis masih
diberi kesempatan berkontribusi di PENS. Suatu kontribusi yang sangat mulia karena
turut serta dalam menyiapkan lulusan yang cerdas, kompeten, dan bermasa depan
khususnya di bidang teknik elektro industri.
Bengkel Elektromekanik adalah salah satu bagian dari mata kuliah praktik
laboratorium bengkel elektromekanik di Program Studi Teknik Elektro Industri
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Bertujuan melatih ilmu dasar keterampilan
mahasiswa dalam hal mengolah keterampilan tangan dan pengetahuan dasar tentang
keselamatan kerja. Dalam buku ini, penulis menyusun petunjuk praktik bengkel
elektromekanik dengan menggunakan tahapan-tahapan pratik dari pengetahuan
keselamatan kerja di laboratorium bengkel elektromekanik, cara penggunaan
peralatan, pengenalan material yang digunakan pada pekerjaan elektrikal dan
mekanik, proses pembuatan panel, wiring kontrol starting motor induksi tiga phasa,
proses finishing dan pengujian. Jenis keterampilan dasar ini harus dikuasai oleh
seorang calon pekerja.
Tugas praktik bengkel elektromekanik ini adalah membuat panel kontrol
starting untuk motor induksi tiga phasa, yang pada akhir tahap penyelesaian menjadi
sebuah produk yang dapat digunakan. Cara yang baik untuk memahami buku ini
adalah memperaktekkan langsung di bengkel atau di laboratorium.
Akhir kata, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pimpinan
PENS yang telah memberi kesempatan dalam pembuatan buku ini.Semoga Allah
SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua, Amin.

Surabaya, Agustus 2013

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB 1.......................................................................................................................1
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA....................................................1
1.1. Pengertian K3 ...............................................................................................1
1.2. Kesehatan Kerja............................................................................................1
1.3. Keselamatan Bidang Elektromekanik ..........................................................2
1.4. Penyebab Kecelakaan Dan Penyakit Akibat Kerja ......................................4
1.5. Keselamatan Kerja di Bengkel Elektromekanik ...........................................7
1.6. Tata Tertib Peserta Praktikum di Lab. Bengkel Elektromekanik ...............20
BAB 2.....................................................................................................................23
BAHAN DAN PERALATAN ...............................................................................23
2.1. Bahan ...........................................................................................................23
2.2 Peralatan ......................................................................................................28
BAB 3.....................................................................................................................65
PEMBUATAN BOX PANEL................................................................................65
3.1. Perancangan Bentuk Box Panel................................................................... 65
3.2 Pembuatan Sketsa Pola ................................................................................66
3.3. Pemotongan Plat ..........................................................................................69
3.4 Penekukan Plat ............................................................................................69
3.5 Penyambungan Tiap Bagian ........................................................................71
3.4 Finishing ......................................................................................................72
BAB 4.....................................................................................................................73
KONTROL STARTING MOTOR INDUKSI TIGA FASA .................................73
4.1. Cara Kerja Motor Tiga Fasa ........................................................................73
4.2 Rangkaian Sistem Kendali Elektromagnetik ...............................................76
4.3. Rangkaian Sistem Kendali Motor 3 Phasa Hubungan Bintang Segitiga .....77
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................83

ii
BAB I
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
DI BENGKEL ELEKROMEKANIK

1.1 Pengertian
adalah sebagai berikut:
Kesehatan kerja, adalah menyangkut kemungkinan ancaman terhadap
kesehatan seseorang yang bekerja pada suatu tempat atau perusahaan selama
waktu kerja yang normal.
Keselamatan kerja, adalah menyangkut resiko dari orang yang bekerja di
suatu tempat atau perusahaan yang disebabkan oleh kecelakaan yang terjadi di
dalam tempat atau perusahaan tersebut. Resiko itu meliputi tidak saja yang
disebabkan oleh elektrik, mekanik, dan bahan kimia yang berbahaya tetapi
juga oleh semua resiko lainnya.

1.2 Kesehatan kerja


Kesehatan kerja melibatkan tidak hanya tenaga kerja, tetapi meliputi aspek
dari kondisi kerja seperti kebersihan, kepadatan, suhu, ventilasi, penerangan,
kesehatan, dan toilet, maupun pemaparan terhadap bahan kimia yang meracuni
seperti timah hitam, seng, air raksa, debu, uap, dan suara bising atau keadaan
yang kurang sehat lainnya. Biasanya tidaklah diketahui dengan jelas apakah
sesuatu penyakit disebabkan oleh pekerjaan atau tidak, karena banyak juga
penyakit akibat kerja yang tidak dilaporkan sebagaimana adanya. Namun
demikian cukup jelas bahwa kesehatan banyak banya orang terpengaruh oleh
kondisi tempat kerja mereka. Misalnya dengan kasus bahwa suatu generasi
pekerja di suatu tempat kerja atau industri menjadi cacat atau meninggal lebih
awal disebabkan oleh kondisi kerja yang tidak sehat yang pada waktu itu
belum diketahui.

1
2

1.3 Keselamatan bidang elektromekanik


Keselamatan bidang elektromekanik berarti menjaga agar tidak terjadi
kecelakaan, dimana tersangkut pekerjaan mekanik dan elektrik. Hal ini
mempunyai dua hal aspek pokok yaitu:
a. Menjaga agar tidak terjadi akibat yang tidak diinginkan dalam pekerjaan
mekanik, seperti pengguaan mesin potong plat, mesin bor, mesin lipat, dan
mesin las listrik.
b. Menjaga agar tidak ada penggunaan peralatan listrik yang tidak sengaja
ada kebocoron arus listrik terkait tahanan isolasinya yang rusak.
Bahaya terhadap proses pekerjaan elektromekanik, pekerjaan ini dapat
mengandung bahaya oleh dampak yang tidak diinginkan. Guna memastikan
dari proses pekejaan elektromekanik, maka suatu Standing Operation
Procedure (SOP) penggunaan peralatan di bengkel elektromekanik mutlak
harus dikuasai setiap mahasiswa yang praktikum. Bahaya terhadap
pekerja/mahasiswa, bahaya-bahaya tersebut adalah bagian dari apa yang
disebut dari kecelakaan kerja dan pada dasarnya disebabkan oleh kelalaian
dalam bekerja. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja tersebut perlu
diambil tindakan dalam semua tahapan dari kegiatan : tata letak laboratorium
bengkel elektromekanik, desain peralatan, kontruksi instalasi,
pemeriksaan/pengujian, operasional, perawatan, modifikasi dan pemeriksaan
ulang. Selama bengkel elektromekanik apabila masih bahaya untuk digunakan
pengguna/pekerja harus dikurangi dengan tindakan pengamanan seperti
berikut ini.
a. Perlengkapan pengamanan perorangan:
- Pakaian pengaman, sepatu, sarung tangan, rompi, jaket, tutup muka dll
- Alat pengaman pernafasan : masker, saringan (filter), dan
perlengkapan pernafasan sendiri
b. Fasilitas untuk pertolongan pertama : kotak P3K
c. Fasilitas pengobatan : tempat, perlengkapan dan obat-obatan.
Keselamatan kerja, upaya mewujudkan kondisi aman bagi pekerja dari bahaya
yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan Instalasi dan kegiatan praktikum di Bengkel
3

Elektromekanik, dengan memberikan perlindungan, pencegahan dan penyelesaian


terhadap terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit yang timbul karena hubungan
kerja yang menimpa pekerja.
Keselamatan umum, upaya mewujudkan kondisi aman bagi masyarakat
umum dari bahaya yang diakibatkan oleh kegiatan Instalasi dan kegiatan
praktikum dari Bengkel Elektromekanik, dengan memberikan perlindungan,
pencegahan dan penyelesaian terhadap terjadinya kecelakaan masyarakat umum
yang berhubungan dengan kegiatan di Laboratorium Bengkel elektromekanik.
Keselamatan lingkungan, upaya mewujudkan kondisi akrab lingkungan
dari Instalasi, dengan memberikan perlindungan terhadap terjadinya pencemaran
atau pencegahan terhadap terjadinya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh
kegiatan yang ada di Laboratorium Bengkel elektromekanik.
Keselamatan instalasi, upaya mewujudkan kondisi andal dan aman bagi
Instalasi, dengan memberikan perlindungan, pencegahan dan pengamanan
terhadap terjadinya gangguan dan kerusakan yang mengakibatkan Insta lasi tidak
dapat berfungsi secara normal dan atau tidak dapat beroperasi.
MELIPUTI

KESEL AMATAN KESEL AMATAN KESEL AMATAN KESEL AMATAN


KERJ A UMUM LINGKUNGAN INSTAL ASI

PERLINDUNGAN PERLINDUNGAN PERLINDUNGAN


PERLINDUNGAN
TERH AD AP : PEG AW AI, TERH AD AP : TERH AD AP :
TERH AD AP :
BUKAN PEG AW AI MAS YAR AK AT U MUM INSTAL ASI
LINGKUNGAN
SEKITAR INSTAL ASI, PENYEDI AAN TEN AG A
INSTAL ASI
PEL ANGG AN, TAMU LISTRIK

PENCEG AH AN PENCEG AH AN PENCEG AH AN PENCEG AH AN


TERH AD AP TERH AD AP TERH AD AP TERH AD AP
KECELAK AAN D AN KECELAK AAN PENCEMAR AN, KERUSAK AN
PENYAKIT AKIB AT MAS YAR AK AT U MUM KERUSAK AN INSTAL ASI,
KERJ A LINGKUNGAN KEBAK AR AN DLL

Gambar 1.1 Empat Pilar Keselamatan Ketenagalistrikan (K2)


4

1.4 Penyebab Kecelakaan Dan Penyakit Akibat Kerja


Kecelakaan (accident) adalah suatu kejadian (incident) yang dapat
mengakibatkan luka, penyakit, cacat, atau tewas pada manusia, dan atau
kerugian harta pada manusia atau perusahaan. Kecelakaan adalah suatu kejadian
yang tidak terduga dan tidak diharapkan oleh manusia. Tidak terduga, karena
kecelakaan dapat terjadi dimana saja, kapan saja serta tidak ada unsur
kesengajaan.
Tidak diharapkan, karena peristiwa kecelakaan itu disertai kerugian, baik
material maupun penderitaan, dari yang ringan sampai yang paling berat.
Yang termasuk dalam kecelakaan :
Kejadian yang hampir celaka (near miss).
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi karena hubungan kerja
dan disebabkan oleh bahaya yang berkaitan langsung dengan
pekerjaannya,
Penyakit yg timbul karena hubungan kerja
Musibah / Kerugian harta seperti, Bencana Alam (banjir, longsor, gempa,
dan sebagainya).
Kerugian-kerugian lainnya (kebakaran, kecurian, dsb).

Kecelakaan kerja, suatu kejadian tidak terduga (incident) yang mengakibatkan


kacaunya proses pekerjaan / produksi yang direncanakan sebelumnya.
1.4.1 Penyebab Kecelakaan :
a. Ketimpangan Pada Tenaga Kerja :
Tidak cocok terhadap peralatan kerja dan lingkungan kerja.
Kurang memiliki pengetahuan dan ketrampilan.
Ketidakmampuan fisik dan mental atau karena faktor bakat yang lain.
Kurang motivasi kerja atau kurang kesadaran akan K3.
b. Ketimpangan Pada Manaje men :
Sikap manajemen tidak peduli K3 / tidak punya komitmen K3.
Organisasi buruk / sistem kepegawaian buruk.
Tidak ada / tidak diterapkan persyaratan dan prosedur kerja.
5

Tidak ada pengawasan terhadap kegiatan berpotensi bahaya.


c. Ketimpangan Pada Peralatan / Kondisi Kerja :
Instalasi dan alat kerja : Kesalahan perencanaan, pemasangan,
penggunaan atau kondisinya telah aus / rusak.
Suku cadang dan bahan habis untuk praktikum : Kesalahan pembelian,
pengangkutan. peletakan atau pembuangan sisa produksi.
Tempat kerja dan lingkungan kerja : Sirkulasi udara kurang,penerangan
kurang, bising, bergetar, tekanan lebih, panas / dingin

1.4.2 Dua Penyebab Dasar Terjadinya Kecelakaan :


1. Perbuatan Berbahaya (UNSAFE ACTS):
Bekerja tidak disiplin (lalai/bersendagurau/dsb)
Bekerja tidak punya/sesuai dgn kompetensinya
Bekerja tidak taat dengan prosedur kerja/SOP.
Tidak patuh terhadap arahan keselamatan dari Pengawas (dosen,
assisten, dan teknisi)
Menggunakan perlengkapan yang berbahaya
Tidak memakai peralatan keselamatan kerja & APD
Tidak memperhatikan tanda peringatan/poster larangan
dsb
2. Kondisi Berbahaya (UNSAFE CONDITION) :
Keadaan / Tempat kerja tidak memenuhi syarat atau rusak (kasar,
tajam, licin, berkarat, longgar, bengkok).
Penyusunan, penimbunan, penyimpanan bahan secara berbahaya.
Sirkulasi udara kurang, penerangan kurang, bising, bergetar, panas /
dingin, lembab dan terdapat radiasi berbahaya.
Alat-alat peringatan yang tidak memadai.
Peralaan keselamatan kerja / APD tidak memenuhi syarat / tersedia,
dsb.
Peralatan/Mesin yang bergerak/berputar tanpa pelindung
6

Dll
1.4.3 Kerugian/pengaruh dari kecelakaan:
a. Bagi pegawai / pengguna laboratorium bengkel elektromekanik
b. Bagi keluarga pegawai / pengguna laboratorium bengkel elektromekanik
c. Bagi perusahaan / institusi
d. Bagi Negara
Bagi pegawai / pengguna laboratorium bengkel elektromekanik :
a. Sakit/menderita/trauma
b. Kehilangan anggota tubuh / cacat
c. Tidak mampu bekerja seperti sedia kala
d. Beban masa depan / kehilangan pendapatan
e. Tidak dapat/sukar berkehidupan sosial secara normal
Bagi keluarga pegawai / pengguna laboratorium bengkel elektromekanik:
a. Kehilangan anggota keluarga
b. Kehilangan seseorang yang menjadi andalan pencari nafkah
c. Timbulnya beban masa depan yang lebih berat
Bagi perusahaan / institusi:
a. Penurunana produk & citra perusahaan / institusi
b. Penggantian peralatan/mesin yang rusak
c. Penggantian bahan baku yang rusak
d. Rehabilitasi pegawai
e. Kehilangan waktu kerja
f. Biaya pelatihan bertambah
g. Biaya perawatan kesehatan bertambah
h. Terganggunya hubungan baik
i. Pekerjaan menjadiI kurang menarik bagi rekan sekerja yang lain
Bagi Negara:
a. Kehilangan pegawai/aparat yang trampil, yang dapat membantu di
berbagai bidang pembangunan
b. Dengan terpublikasinya kecelakaan tersebut, mengurangi minat orang
untuk bekerja ditempat tempat/dibidang tersebut.
7

1.5 Keselamatan Ke rja Di Bengkel Elektromekanik


a. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama bekerja di laboratorium
b. Peralatan sistem keselamatan kerja
c. Penyebab kecelakaan kerja
d. Keselamatan listrik
e. Pertolongan pertama pada kecelakaan kerja
Hal-hal yang perlu diperhatikan selama bekerja di laboratorium:
a. Jangan menyentuh saluran tegangan tinggi, bahayanya sangat fatal
b. Sebelum menghidupkan power, cek lagi rangkaian dan beri peringatan
kepada teman lain
c. Jangan memegang elektrode dari kapasitor, lakukan re-charge
d. Berhati-hatilah dengan kaki anda, jangan sampai tersandung sesuatu
e. Bekerjalah dengan tenang dan jangan banyak bicara atau bergurau
Peralatan sistem keselamatan kerja:
a. Jas Laboratorium / Alat pelindung tubuh
b. Masker
c. Sarung Tangan
d. Kacamata LAS
e. Kacamata kerja
f. Pengaman Sistem Kelistrikan
g. Pemadam kebakaran, baik yang berada di Laboratorium maupun yang
berada di luar (Hydran)
h. Poster-poster peringatan yang ditempel di Laboratorium
1.5.1 Alat Pelindung Diri (APD)
Adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam
pekerjaan yang fungsinya melindungi tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja,
APD dipakai setelah usaha rekayasa dan cara kerja yang aman belum cukup
memenuhi pengamanan.
Sebagai usaha terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja, APD haruslah enak
dipakai, tidak mengganggu kerja dan memberikan perlindungan yang efektif
terhadap bahaya kecelakaan.
8

Kelemahan Penggunaan APD


a. Perlindungan yang tak sempurna karena :
Memakai APD yang tak tepat.
Cara pemakai APD yang salah.
APD tak memenuhi persyaratan yang diperlukan.
b. Sering APD tak dipakai karena tidak enak/kurang nyaman, karena itu
adalah penting dalam pemeliharaan dan kontrol terhadap APD sehingga
fungsi APD tetap baik.
Peralatan P3K:
- Buku petunjuk P3K
- Pembalut segitiga (Mittela)
- Pembalut biasa, ukuran 2 cm, 5 cm, 10 cm
- Kasa steril
- Kapas putih
- Snelverband
- Plester
- Plester cepat (tensoplast)
- Sofratulle
- Bidai ukuran betis dan paha
- Gunting perban
- Pinset
- Kertas pembersih (cleaning tissue)
- Sabun
- Lampu senter
- Pisau lipat
- Pipet
Obat-obat P3K:
- Obat pelawan rasa sakit (asetosal, antalgin, dsb)
- Obat pelawan mulas-mulas dan sakit perut (papaverin, S.G, dsb)
- Obat pelawan pedih-pedih di perut (promag,dsb)
- Norit
9

- Obat anti allergi (anti histaminika)


- Amonia cair 25% (untuk membangunkan orang pingsan)
- Mercurochroom
- Obat tetes mata (larutan sulfas -2%)
- Salep mata ber-antibiotika
- Salep boor
- Salep antihistaminika
- Obat gosok, atau balsem
- Rivanol 1/1000
- Salep sulfa
- Antiseptika (betadine,phisohex,dettol,dsb)
- Tablet garam (garam dapur)
- Ephedrine (untuk sesak nafas)
- Oralit (puyer garam untuk berak-berak)
1.5.2 Penyebab kecelakaan kerja:
A. Inte rnal ( Individual )
Kecenderungan mendapatkan kecelakaan
Kemampuan / kecakapan terbatas ( tidak berimbang dengan
pekerjaan yang ditangani.
Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik
B. Eksternal ( Lingkungan )
Job Discription tidak proporsional dan tidak jelas
Pekerjaan mempunyai resiko tinggi kecelakaan
Prasarana dan sarana kerja tidak memadai
Keresahan pada pekerja

1.5.3 Keselamatan Listrik:


a. Mengisolasi bagian yang bertegangan
b. Mengupayakan agar bagian yang bertegangan tidak dapat tersentuh secara
langsung
c. Bagian yang tidak dapat diisolasi harus diberi penyekat, dengan syarat :
10

Penyekat/pelindung harus kuat/kokoh, bila ada lubang ventilasi, maka


lubangnya tidak boleh lebih besar dari jari, sehingga bagian yang
bertegangan tidak dapat disentuh.
Bekerja dengan mesin las, furnace, lantai kerja harus diberi isolasi,
bila tidak maka harus menggunakan sepatu karet
Harus dilengkapi dengan saklar pelepas arus sisa
d. Beri peringatan pada tempat-tempat yang bertegangan (panel, gardu)
e. Memakai alat pelindung (sarung tangan, sepatu karet, helm)
f. Selalu memakai pakaian kering
g. Jangan memegang alat listrik dalam keadaan basah
h. Bekerja sesuai prosedur (SOP)
1.5.4 Pertolongan Pe rtama Pada Kecelakaan Ke rja:
A. Gunakan peringatan
Matikan saklar power atau saklar darurat atau gunakan tongkat/kayu
kering untuk melepas korban yang tersentuh aliran listrik.
B. Bertindak dengan cepat
Jika korban tidak sadarkan diri dan memerlukan pertolongan nafas,
lakukan pertolongan pernafasan mulut.
C. Dapatkan pertolongan medis
Suruh orang lain untuk menelpon ambulans atau menghubungi rumah
sakit.
1.5.5 Bagaimana Mengamankan Manusia Dan Pe ralatan
30 % gangguan listrik pada instalasi bukan disebabkan oleh beban lebih
ataupun hubung singkat, tetapi akibat gangguan isolasi.
Perlengkapan isolasi dan pengkabelan yang buruk dapat menyebabkan
kerusakan pada peralatan dan membahayakan manusia.
Akibat Gangguan Isolasi
Resiko atas kebakaran, akibat utama dari gangguan arus yang melalui konduktor
atau alat lain yang tidak diharapkan untuk menerima arus adalah peningkatan suhu
yang tidak normal. Suhu yang tinggi ini dapat menyebabkan kerusakan pada kabel
atau bahkan percikan api pada material, lalu terbakar. Resiko akan kematian,
11

Electrocution ialah mengalirnya arus ke tubuh manusia, dan sangat berbahaya.


Aliran arus merusak dua fungsi tubuh yang vital, pernafasan dan detak jantung.

Gambar 1.2 Grafik Hubungan Arus-Waktu Dan Akibatnya Terhadap Manusia

1.5.6 Bahaya Mekanik


Banyak bahaya dalam lingkungan kerja yang ditimbulkan oleh alat-alat yang
menyebabkan kecelakaan bahkan membawa kematian.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada timbulnya bahaya yang disebabkan oleh
mekanik :
A. Material (Alat-alat)
B. Manusianya (Pemakai)

Bahaya yang disebabkan material (alat-alat):


a. Peralatan sudah terkena korosi (akibat asam), sehingga ketahanan dari
material tersebut telah menurun dan ini akan menimbulkan kecelakaan dan
mengganggu produksi.
b. Pemilihan dan pemakaian material tidak sesuai dengan kualitas standar
(SII).
12

c. Fungsi kontrol yang tidak berjalan sehingga banyak material (element)


yang telah aus tidak diganti.
d. Pemaksaan pemakaian material (element) yang sudah tidak layak pakai.
Bahaya yang disebabkan manusianya (pemakai):
a. Tingkat pendidikan dan ketrampilan.
b. Karakter (watak) pamakai (pekerja).
c. Kondisi (kesehatan)
d. Perangkat lunak yang berupa peraturan.
e. Jaminan.
1.5.7 Akibat Terkena Arus Listrik
a. Mengacaukan denyut jantung, bisa menghentikan denyut jantung.
b. Menghentikan pernafasan.
c. Menimbulkan luka bakar.
d. Pingsan bisa berlangsung lama.
Tindakan Pertolongan Akibat Terkena Arus Listrik
a. Lepaskan kabel/sumber arus (menggunakan kayu/pelindung diri).
b. Berikan pernafasan buatan
c. Pulihkan denyut jantung (pijit jantung).
d. Luka bakar (perawatan luka bakar0
e. Kirim ke rumah sakit
1.5.8 Alat Pelindung Mata
Mata harus terlindung dari panas, sinar yang menyilaukan dan juga dari kotoran
debu.
13

Gambar 1.3 Jenis-jenis alat Pelindung Mata

Jenis-Jenis Alat Pelindung Muka Dan Mata


a. Goggle
Alat pelindung khusus mata ini, dipergunakan pada pekerjaan memecahkan
batu, menggerinda, mengisolasi, sand-blasting, mendrain/membuang sisa
14

cairan yang bertekanan dari suatu peralatan dan pekerjaan-pekerjaan


pembersihan.
b. Safety-Hood (Tudung Kepala)
Alat pelindung khusus muka, telinga, leher dan mata ini untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan/perbaikan-perbaikan peralatan steam, kondensat, dan
bahan-bahan kimia yang menggigit/mengiritasi/merusak kulit.
c. Face Shields
Alat pelindung muka, ini dipakai pada pekerjaan-pekerjaan menggerinda,
memahat, memukul/mengetok dan mengelola bahan-bahan kimia.
d. Welde r Helmet (Topi Khusus Las) Dan Welding Shields (Kap Pelindung
Muka Dan Mata)
Alat pelindung keselamatan mencakup muka, leher, mata, dan telinga ini
untuk melindungi bahaya energi radiasi berupa cahaya-cahaya/sinar laser
yang tajam, radiasi sinar ultraviolet dan infra merah yang sangat
membahayakan bagi tukang-tukang las dan orang-orang yang berada di
sekitarnya.
1.5.9 Fungsi Alat Pelindung Kepala
a. Topi pengaman, untuk melindungi kepala dari benturan atau pukulan
benda-benda.
b. Topi/tudung, untuk melindungi kepala dari api, uap-uap korosif, debu,
kondisi iklim yang buruk.
c. Tutup kepala, untuk menjaga kebersihan kepala dan rambut atau
mencegah rambut terlilit mesin dan lain- lain.
15

Gambar 1.4 Alat Pelindung Kepala


1.5.10 Jenis-Jenis Alat Pelindung Telinga
Alat yang melindungi telinga dari gemuruhnya mesin yang sangat bising juga
penahan bising dari letupan- letupan.
A.Earplug (Sumbat Telinga)
Alat pelindung pendengaran ini harus dipakai dalam melaksanakan tugas
pemeriksaan kondisi operasi atau pekerjaan pemeliharaan di tempat-tempat
kerja bising yang relatif masih rendah.
B. Sond Barrier (MUFFS)
Alat pelindung pendengaran ini lebih peka dari jenis ear-plug dan dia dapat
menahan atau menurunkan tingkat kebisingan lebih tinggi antara dBa hingga
dapat dipergunakan pada pekerja-pekerja diantaranya pengawasan operasi ketel
uap, generator listrik, turbin uap, mesin- mesin palu tempa.
16

Gambar 1.5 Alat Pelindung Telinga

1.5.11 Alat Pelindung Tangan


a. Sarung tangan kain
Digunakan untuk memperkuat pegangan supaya tidak meleset pada
permukaan, akibat minyak dan lemak.
b. Sarung tangan asbes
Digunakan untuk tangan terhadap bahaya pembakaran api, seperti pada
pengelasan dan pekerjaan menempa.
c. Sarung tangan kulit
Digunakan untuk memberi perlindungan dari ketajaman sudut pada
perlengkapan yang berbobot.
d. Sarung tangan karet
Digunakan pada waktu pekerjaan pelapisan logam seperti partikel, perkhrom
dan sebagainya.
17

Gambar 1.6 Alat Pelindung Tangan

1.5.12 Alat Pelindung Kaki


Alat pelindung kaki dan jari kaki berupa sepatu keselamatan kerja yang harus
dipakai dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dari bahaya-bahaya
jatuh/tertimpanya benda berat atau tersandung dengan benda-benda tajam.

Gambar 1.7 Alat Pelindung Kaki


18

1.5.13 Alat Pelindung Hidung Dan Mulut


Untuk melindungi hidung dan mulut dari udara yang kotor, terutama akibat
kimiawi, akibat gas yang terjadi, akibat semprotan, akibat debu dan partikel lain
yang lebih kecil.
Jenis-jenis alat pelindung pernafasan :
a. CANISTER GAS-MASK
Dipakai dalam pekerjaan pemeliharaan atau pengamanan kebocoran kecil
dimana kondisi udara ditempat kerja mengandung uap yang dapat
membahayakan pernafasan.
b. COMPRESSED AIR BREATHING APPARATUS
Dipergunakan dalam mengatasi bahaya gas, uap, asap yang beracun ditempat-
tempat pemeliharaan, operasi dan penyelamatan, dimana alat tersebut berfungsi
serba guna.
c. AIR-LINE RESPIRATOR
Suatu peralatan yang khusus dirancang pemakainya dalam segala kondisi udara
atmosfir ditempat kerja berkontaminasi yang dapat merusak/membahayakan
pernafasan.

Gambar 1.8 Alat pelindung Hidung Dan Mulut


19

1.5.14 Alat Pelindung Mesin


Tutup mesin, setiap bagian yang bergerak harus ditutup dengan
pengaman/pelindung, seperti pada bagian roda gigi, roda sabuk, dan bagian yang
berputar. Semua itu untuk menjaga tangan usil yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan terhadap manusia atau terhadap mesin.
Kaca pengaman, dipasang pada mesin gerinda, konstruksinya berdiri sendiri
terhadap mesin itu, bila kaca itu rusak dapat diganti dengan yang baru.

Gambar 1.9 Alat Pelindung Mesin

1.5.15 Alat Pelindung Ruangan


Alat pengaman ruangan diutamakan alat-alat pemadam kebakaran, khususnya
Bengkel rawan terhadap bahaya kebakaran.
20

Gambar 1.10 Alat Pelindung Ruangan

1.6 Tata Tertib Peserta Praktikum Di Laboratorium Bengkel


Elektromekanik
1. Praktikan adalah mahasiswa aktif PENS.
2. Praktikan harus menggunakan Jas Lab dan APD (Alat Pelindung Diri) saat
Praktikum Berjalan.
3. Toleransi keterlambatan adalah 15 menit, apabila lebih dari waktu toleransi
maka praktikan tidak diperbolehkan mengikuti praktikum.
4. Praktikan diharuskan memasuki ruangan laboratorium dengan tertib dan
sopan.
5. Praktikan Laki- laki dilarang berambut panjang sedangkan praktikan
perempuan yang berambut panjang harus diikat dengan rapi.
6. Praktikan meletakan tas, jaket, dan peralatan lainnya ditempat yang telah
disediakan.
7. Praktikan diharuskan membawa desain/progres praktikum yang akan
dilaksanakan.
8. Praktikan diharuskan mengisi buku peralatan sesuai dengan nomor seri alat
yang dipakai.
9. Pada saat praktikum, praktikan dilarang ;
a. Meninggalkan ruangan praktikum tanpa seijin Dosen/Laboran.
b. Makan pada saat praktikum di laboratorium.
21

c. Berbicara, bersikap dan berperilaku yang bersifat mengganggu


jalannya praktikum.
d. Bermain- main dengan alat-alat laboratorium.
e. Membawa dan atau menggunakan benda yang dilarang oleh hukum
seperti obat-obatan terlarang, senjata tajam dan lain sebagainya.
10. Segera melapor pada Dosen/Laboran apabila peralatan yang digunakan tidak
bisa berfungsi secara normal.
11. Apabila praktikan merusakan atau menghilangkan alat-alat praktikum milik
laboratorium, maka praktikan harus mengganti alat praktikum yang rusak
atau hilang tersebut dengan alat yang sama sebelum praktikum selanjutnya
berlangsung.
12. Setelah praktikum selesai, praktikan diharuskan :
a. Membersihkan dan merapikan alat-alat praktikum yang telah
digunakan.
b. Melaporkan kelengkapan alat-alat praktikum pada laboran.
c. Membersihkan dan merapikan Laboratorium sesuai jadwal piket yang
telah disepakati.
13. Bagi praktikan yang berhalangan hadir dikarenakan sakit harus menunjukan
surat keterangan dokter asli paling lambat pada saat melaksanakan
praktikum selanjutnya.
14. Praktikan dapat diberikan peringatan, dikeluarkan atau dilarang praktikum
karena melanggar tata tertib ini.
22

- Halaman ini sengaja dikosongkan -


BAB II
BAHAN DAN PERALATAN

2.1 Bahan
Dalam pembuatan box panel dan kontrol starting motor induksi 3 phasa
diperlukan beberapa bahan diantaranya sebagai berikut:
2.1.1 Plat Besi (Metal Sheet)
Plat besi merupakan bahan dasar dalam pembuatan box panel. Ukuran
plat besi yang tersedia di pasaran pada umumnya adalah 1220 x 2440
mm dengan ketebalan yang bervariasi mulai dari 0,8 10 mm. Gambar
2.1 merupakan plat besi dari berbagai ukuran dan ketebalan yang
berbeda.

Gambar 2.1 Plat Besi

2.1.2 Dempul
Dempul diaplikasikan dengan cara diisikan pada celah atau lubang
dengan menggunakan scrapp atau kapi. Tujuan penggunaan dempul
adalah untuk meratakan permukaan atau sambungan pada benda kerja
sehingga diperoleh hasil finishing yang maksimal. Penggunaan dempul
disesuaikan dengan benda kerja yang akan difinishing, ada berbagai
macam dempul yang bisa diaplikasikan untuk pekerjaan finishing.
Salah satu jenis dempul yang kita gunakan adalah dempul besi atau

23
24

sering juga disebut dengan polymer, dalam pengaplikasiannya dempul


jenis ini harus menggunakan harduner (resin) sebagai campuran
pengeringnya. Setiap pembelian dempul jenis ini kita akan
mendapatkan harduner dalam satu paket dempul tersebut. Perbandingan
dempul dengan resin adalah 100:2 (berat), pemberian resin pada dempul
tersebut tidak boleh terlalu banyak, karena akan menyebabkan proses
pengeringan yang terlalu cepat sehingga dempul sulit
diaplikasikan,Gambar 2.2 adalah contoh dempul besi.

Gambar 2.2 Dempul Besi


2.1.3 Cat Besi
Cat besi adalah cat yang di aplikasikan untuk mengecat material atau
bahan yang terbuat dari besi atau jenis logam yang lainnya. Cat
besi dapat juga berfungsi sebagai cat anti korosi atau cat tahan korosi,
karena memang fungsi utamanya, disamping juga berfungsi sebagai cat
dekoratif. Cat besi yang bermutu baik dan berkualitas yang
bagus adalah cat besi yang dapat memberikan pilihan warna sesuai
permintaan pelanggan dan apabila dikuaskan pada benda kerja terasa
lumer dan mudah diaplikasikan, serta awet dan dapat bertahan dalam
waktu yang lama. Sebelum melakukan pengecatan pada benda kerja
perlu kita lakukan pelapisan pertama dengan menggunakan meni besi,
ini bertujuan untuk melindungi besi dari karat atau korosi. Dengan
metode penyemprotan perbandingan antara cat besi dengan thinner
adalah 1:2.
25

Gambar 2.3 Cat Besi dan Thinner


2.1.4 Magnetik Kontaktor
Magnetik kontaktor adalah sakelar listrik yang bekerja berdasarkan
prinsip induksi elektromagnetik. Di dalam magnetik kontaktor terdapat
lilitan yang akan menjadi magnet apabila di aliri listrik, magnet tersebut
akan menarik kontak yang berada di dekatnya sehingga kontak yang
semula terbuka (NO) akan menjadi tertutup sedangkan kontak yang
awalnya tertutup (NC) akan menjadi terbuka. Magnetik kontaktor
terdiri dari kontak utama dan kontak bantu. Kontak utama digunakan
untuk sumber arus listrik sedangkan kontak bantu digunakan untuk
rangkaian pengendali.

Gambar 2.4a Simbol Magnetik Kontaktor


26

Gambar 2.4b Magnetik Kontaktor berbagai model


2.1.5 Time Relay
Time Relay adalah salah satu komponen yang digunakan pada instalasi
tenaga listrik untuk aplikasi yang menggunakan penundaan waktu.
Bagian utama pada time relay adalah setting waktu dan kontak-kontak
yang ada di dalamnya, baik kontak NO (Normaly Open) maupun
kontak NC (Normaly Close). Pada instalasi tenaga listrik , penggunaan
time relay dikombinasikan dengan komponen instalasi lainnya untuk
mengontrol sistem penggerak sesuai dengan yang diinginkan. Beberapa
contoh aplikasi time relay adalah kontrol traffic light, starting motor
star-delta, kontrol motor berurutan dan lain sebagainya. Saat ini tersedia
bermacam- macam time relay dari beberapa merk dengan model yang
bervariatif, ada yang menggunakan setting waktu analog dan tersedia
juga dengan model setting digital.r-del
tatomatis, motor

Gambar 2.5a Simbol Time Relay


27

Gambar 2.5b Time Relay


2.1.6 Push Button
Saklar Push Button adalah saklar tekan yang berfungsi untuk
menghubungkan atau memutus bagian-bagian dari suatu instalasi
listrik. Push button memiliki kontak NC (Normaly Colse) dan NO
(Normaly Open). Prinsip kerja push button adalah apabila ditekan maka
kontak NC akan berfungsi sebagai NO dan kontak NO akan berfungsi
sebagai NC. Push Button sangat banyak digunakan, dalam sebuah
operation panel bisa terdapat beberapa push button tergantung dari
keperluan, alat ini juga memiliki kode warna pada bagian knopnya
untuk membedakan fungsi dari masing- masing alat,seperti
warna merah digunakan untuk tombol berhenti/stop, lalu warna hitam
digunakan untuk tombol jalan/start kemudian warna kuning digunakan
untuk tombol reset atau alarm stop, ada beberapa contoh penggunaan
push button seperti untuk menjalankan motor/pompa, menjalankan
conveyor, menghidupkan lampu, mereset alarm, menyalakan bell,
menghidupkan cylinder dan masih banyak lagi.

Gambar 2.6a Simbol Push Button


28

Gambar 2.6b Push Button

2.2 Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan box panel dan kontrol
starting motor induksi 3 phasa antara lain:
2.2.1 Perkakas Tangan
Perkakas tangan adalah segala macam perkakas atau alat yang
digunakan secara manual (tangan) untuk pekerjaan-pekerjaan mekanik
di bengkel elektromekanik. Secara umum peralatan tangan mempunyai
ciri-ciri, antara lain : bentuknya sederhana, ringan, mudah dibawa
(portable), tidak menggunakan sumber listrik yang terlalu besar,
digunakan secara manual, relatif mudah penggunannya. Jika
dikelompokkan, peralatan tangan dapat digolongkan menjadi 3
kelompok, yaitu :
a) Perkakas tangan tanpa sumber tenaga dari luar
Jenis perkakas ini sering kita jumpai dalam pekerjaan bengkel, berikut
ini berbagai macam dan jenis perkakas tangan:
1. Kikir
Digunakan untuk pekerjaan penyayatan untuk meratakan dan
menghaluskan suatu bidang, membuat rata dan menyiku antara bidang
satu dan bidang lainnya, membuat rata dan sejajar, membuat bidang-
bidang berbentuk. Mengikir adalah salah satu dari pekerjaan kerja
bangku yang cukup penting dan sulit untuk melakukannya, hanya orang
trampil saja yang dapat mencapai hasil pengikiran yang baik. Posisi
29

mengikir di sebelah kiri ragum, dengan jarak kaki sesuai dengan


panjang kikir yang digunakan, sudut antara poros ragum dan kaki kira-
kira 30 derajat untuk kaki kiri dan 75 derajat untuk kaki kanan. Gerakan
badan dicondongkan ke depan.

Gambar 2.7a Beberapa bentuk dan ukuran kikir

Gambar 2.7b Cara memegang tangkai kikir


30

Gambar 2.7c Cara mengikir


2. Gergaji Tangan
Gergaji digunakan untuk memotong atau untuk mengurangi ukuran
suatu benda kerja. Ada beberapa tipe gergaji jika ditinjau dari bingkai
dan daun gergaji yang ada di pasaran. Lebar dan tebal daun gergaji
tangan pada umumnya bergigi tunggal, sifatnya kaku dan mudah patah.
Banyaknya gigi antara 614 gigi tiap incinya. Letak giginya bersilang-
silang (zig- zag), hal ini untuk menghindari macetnya gergaji utama
pada waktu menggergaji benda kerja yang berukuran tebal. Pada
Gambar 2.8 diperlihatkan bentuk gergaji tangan dan cara pemasangan
daun gergaji pada sengkangnya.

Gambar 2.8 Gergaji Tangan


3. Tap (Pengulir Dalam)
Pengetapan adalah proses pembuatan ulir dalam dengan tangan atau
mesin, tap dibuat berbentuk ulir luar yang digerinda dengan 3 atau lebih
31

lekukan memanjang, yang lebih dikenal dengan sebutan alur. Tap


tangan biasanya terdiri atas tiga buah dalam satu setnya, tap no.1 adalah
tap yang digunakan terlebih dahulu, tap ini mempunyai tirus yang
cukup panjang diujungnya dan mempunyai tanda satu lingkaran pada
tangkainya. Tap no.2 adalah tap yang digunakan kemudian setelah tap
no.1. Tap no.3 adalah tap yang terakhir yang digunakan, profilnya
membentuk ulir profil yang penuh.

Gambar 2.9 Tap ulir dalam dan pegangannya


4. Snei (Pengulir Luar)
Snei adalah alat untuk membuat ulir luar. Bentuk snei menyerupai mur
tetapi ulirnya merupakan mata potong yang digunakan untuk
membentuk ulir pada benda kerja. Pada proses pembuatan ulir luar, snei
dipegang oleh tangkai snei. Snei yang biasanya digunakan untuk
pembuatan ulir adalah snei pejal dan snei bercelah.
32

Gambar 2.10 Snei ulir luar dan pegangannya


5. Obeng
Fungsi dari obeng adalah alat tangan untuk mengencangkan atau
melepaskan baut atau sekrup pada bidang tertentu. Ada 3 jenis obeng
yang sering digunakan antara lain obeng biasa, obeng offset dan obeng
ketok. Ketiga jenis obeng ini memiliki ujung positif (+) dan ujung
negatif (-), dengan beberapa ukuran, lancip, sedang dan
tumpul. Obeng biasa memiliki konstruksi yang terdiri dari pemegang,
batang dan ujung (kepala). Pemegang dari obeng ada yang fixed atau
mati, tetapi ada pula yang dapat dilepas. Demikian pula ujung dari
obeng, saat ini banyak beredar obeng yang dapat diganti ujungnya,
sedangkan pemegang dan batangnya fixed. Dalam menggunakan obeng,
gunakan jenis dan ukuran yang tepat, karena bila tidak, maka akan
merusak atau membuat cacat baut, skrup atau bahkan obeng itu sendiri.
Obeng offset merupakan obeng khusus, dimana bilahnya sekaligus
menjadi tangkai. Kedua ujung dari obeng ini memiliki mata dengan
bentuk positif (+) dan ujung negatif (-). Obeng jenis ini digunakan
untuk membuka atau mengencangkan baut/ mur pada daerah yang sulit
dijangkau dengan obeng biasa.
33

Gambar 2.11 Berbagai jenis Obeng


6. Palu
Palu merupakan alat yang tepat untuk memukul benda kerja, tidak
dibenarkan memakai alat lain untuk memukul, akibat kesalahan
menggunakan alat pemukulan maka hasil kerja tidak akan memuaskan.
Pada saat menggunakan palu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu perhatikan keseimbangan antara panjang tangkai palu dan berat
kepala palu supaya dalam penggunaannya tidak tirade kecelakaan kerja
dan pekerjaan lebih efektif. Beberapa jenis palu yang perlu diketahui
antara lain : Palu besi, palu kayu, palu karet, palu plastik dll.

Gambar 2.12 Berbagai jenis palu


7. Tang
Tang adalah alat yang digunakan untuk mencengkram /memegang
benda kerja, memotong kawat, memuntir kawat dan lain sebagainya.
Ada berbagai macam jenis tang berdasarkan bentuk dan fungsinya
34

antara lain tang kombinasi, tang potong, tang cucut, tang pengupas
kabel, tang jepit dll.

Gambar 2.13 Berbagai jenis tang

8. Ragum
Ragum adalah suatu alat penjepit untuk menjepit benda kerja yang akan
dikikir, dipahat, digergaji,ditap,disney,dan lain lain. Dengan memutar
tangkai (handle) ragum, maka mulut ragum akan menjepit atau
membuka/melepas benda kerja yang sedang dikerjakan. Bibir mulut
ragum harus dijaga jangan sampai rusak akibat terpahat, terkikir dan
lain sebagainya.
35

Gambar 2.14 Berbagai jenis Ragum


9. Klem C
Klem C berfungsi untuk mengerjakan beberapa benda kerja yang
dikerjakan menjadi satu, benda kerja tersebut dipegang atau dijepit
dengan klem C kemudian dilakukan proses yang diinginkan.

Gambar 2.15 Klem C

10. Gunting Plat


Berfungsi sebagai alat pemotong pelat yang berukuran pendek atau
yang sulit dijangkau oleh mesin potong serta untuk memotong pelat
yang berbentuk radius atau lingkaran.
36

Gambar 2.16 Gunting Plat


11. Penggores
Menggores adalah menandai benda kerja dengan goresan, penandaan
itu sendiri adalah proses pemindahan ukuran-ukuran dari gambar kerja,
menurut benda kerja atau instruksi untuk dikerjakan lebih lanjut.
Goresan garis adalah hasil goresan yang berupa titik untuk membuat
goresan garis, maka penggaris besi atau penyiku yang berfungsi sebagai
pengarah harus ditekan dengan kuat pada benda kerja.

Gambar 2.17a Penggores


37

Gambar 2.17b Cara menggunakan penggores


12. Penitik Pusat dan Penitik Garis
Dibuat dari baja, perkakas yang dibagian badannya dibuat bergerigi
(dikartel), yang bertujuan agar tidak licin pada waktu dipegang.
Digunakan untuk menandai titik tengah (titik pusat untuk bor) dan
penitik garis dipergunakan untuk menandai garis-garis gambar.
Penitik digunakan untuk menitik/memberi tanda bagian benda kerja
yang akan di bor. Bentuk penitik yang sering digunakan adalah silinder
yang dikartel dengan ujung tirus yang bersudut 250 sampai 300 derajat.

Gambar 2.18 Cara menggunakan penitik

b) Peralatan tangan yang digunakan untuk pengukuran


Peralatan tangan jenis ini digunakan untuk pengukuran pada benda
kerja dengan besaran tertentu. Ada beberapa macam alat ukur yang
digunakan pada pekerjaan bengkel elektromekanik antara lain:
38

1. Mistar baja
Mistar baja ini berfungsi untuk mengukur benda kerja yang berukuran
pendek, selain itu juga dapat dipakai untuk membimbing penggoresan
dalam menggambar desain pada plat yang digunakan, ukuran panjang
dari mistar baja ini bermacam- macam, ada yang berukuran 30 cm, 60
cm, dan 100 cm.

Gambar 2.19 Mistar Baja


2. Mistar Siku
Alat ini digunakan untuk mengukur siku 900 dari dua sambungan benda
kerja. Ada beberapa macam bahan dan ukuran mistar siku antara lain
mistar siku plat baja, mistar siku kayu dan mistar siku plastik.

Gambar 2.20 Mistar Siku


3. Mistar Roll
Merupakan alat ukur yang berbentuk lempengan pelat tipis yang dapat
digulung. Karena roll meter ini tipis dan panjang maka dapat digunakan
untuk mengukur bidang yang melingkar. Roll meter ini terdiri dari
bermacam- macam ukuran yaitu 3 m, 5 m, 10 m.
39

Gambar 2.21 Mistar Roll


4. Jangka Sorong
Jangka sorong adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur
panjang, diameter dan kedalaman benda kerja dengan ketelitian
mencapai seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam
dan bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung
pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian keluaran
terbaru sudah dilengkapi dengan display digital. Pada versi ana log,
umumnya tingkat ketelitian adalah 0.05mm untuk jangka sorang
dibawah 30cm dan 0.01 untuk yang di atas 30cm.

Gambar 2.22a Jangka Sorong

Gambar 2.22b Bagian Jangka Sorong


40

Jangka sorong terdiri dari rahang tetap dan ragang geser. Rahang tetap
dan geser ada yang di atas dan di bawah. Dalam jangka sorong terdapat
2 skala. Skala utama pada rahang tetap dan skala nonius di rahang
gesernya. Skala utama memiliki skala dalamm satuan cm dan mm
sedangkan skala pada nonius memiliki panjang 9 mm yang dibagi
menjadi 10 skala.

Cara menggunakan jangka sorong:


Cara mengukur panjang benda kerja langkah-langkahnya sebagai
berikut:
1. Pastikan rahang geser bekerja dengan baik, periksa ketika rahang
tertutup harus menunjukkan angka nol.
2. Kendurkan baut pengunci dan geserlah rahang geser.
3. Bersihkan permukaan benda kerja dan rahang agar tidak ada benda
yang menempel yang dapat menyebabkan kesalahan pengukuran.
4. Tutup rahang hingga mengapit benda yang diukur
5. Bacalah hasil pengukuran.
Cara mengukur diameter benda kerja langkah-langkahnya sebagai
berikut:
1. Pastikan rahang geser bekerja dengan baik, periksa ketika rahang
tertutup harus menunjukkan angka nol.
2. Rapatkan rahang atas lalu tempatkan benda kerja yang berlubang
(seperti cincin, lubang pipa dll) yang akan diukur diameternya.
3. Tarik rahang geser hingga kedua rahang atas menempel dan
menekan bagian dalam benda kerja.
4. Bacalah hasil pengukuran.
Cara mengukur kedalaman benda kerja langkah-langkahny sebagai
berikut:
1. Pastikan rahang geser bekerja dengan baik, periksa ketika rahang
tertutup harus menunjukkan angka nol.
41

2. Tempatkan benda kerja yang akan diukur pada tangkai ukur


kedalaman.
3. Tarik rahang geser hingga menyentuh permukaan dalam (dasar
lubang), usahakan benda yang diukur dalam keadaan statis (tidak
bergeser).
4. Bacalah hasil pengukuran.
Cara membaca skala pada jangka sorong:
1. Lihat skala utama, lihat nilai yang terukur yang lurus dengan angka
nol di skala nonius. Bisa menunjukkan posisi berhimpit dengan
garis pada skala utama atau bisa juga tidak. Jika tidak ambil nilai
skala utama yang terdekat di kirinya. Pada tahap ini sobat hitung
baru mendapatkan ketelitian sampai 1 mm
2. Lihat Skala nonius, carilah angka pada skala nonius yang berhimpit
dengan garis di skala utama. Pengukuran ini punya ketelitian
hingga 0,1 mm
3. Jumlahkan pembacaan pada skala utama dan skala nonius

Contoh Soal:
Carilah panjang benda yang diukur dengan jangka sorong jika pada
skala utama dan skala nonius tampak sebagai berikut :

Gambar 2.22c Pembacaan Jangka Sorong

Jawaban:
Lingkaran Biru : 5, 3 sekian cm
(sekian akan kita dapatkan di lingkaran merah)
Lingkaran Merah : 5
Jadi hasilnya = 5,35 cm
42

Di atas merupakan pengukuran menggunakan jangka sorong


analog. Saat ini terdapat jangka sorong digital yang pembacaan
hasil pengukurannya bisa dilihat langsung pada layar diplay pada
alat tersebut.

5. Mikrometer
Alat ini merupakan alat ukur yang sangat presisi, digunakan untuk
pengukuran ketebalan benda kerja, diameter luar kawat penghantar dan
lain sebagainya. Pada mikrometer terdapat skala utama dan skala
nonius. Mikrometer memiliki satuan pengukuran 0,01 mm dan
ketelitian mencapai 0,01 mm.

Gambar 2.23a Bagian Mikrometer


Cara pembacaan hasil pengukuran mikrometer

Gambar 2.23b Pembacaan Mikrometer


Pada gambar 2.23b di atas terdapat hasil pengukuran menggunakan
mikrometer, maka hasil pengukuran yang didapat adalah:
43

Skala Satuan adalah : 4 mm (Karena melewati skala tengahan, maka


skala utama di tambah dengan skala tengahan, sehingga skala utama
adalah 4,5 mm)
Skala Putar/skala nonius adalah : 0,12 mm.
Sehingga hasil ukur yang didapat adalah Skala utama + Skala nonius =
4,5 mm + 0,12 mm = 4,62 mm.

2.2.2 Mesin Pemotong Plat (Cutting Machine)


Mesin pemotong plat merupakan mesin yang berfungsi untuk
memotong lembar plat menjadi bagian kecil sesuai dengan gambar
kerja. Mesin pemotong plat ada 2 macam, yaitu mesin pemotong plat
manual dan mesin pemotong plat menggunakan motor.
1. Mesin pemotong plat manual
Mesin pemotong plat jenis ini merupakan mesin pemotong plat yang
mengandalkan kekuatan fisik dari teknisi, karena mesin pemotong ini
tidak menggunakan penggerak apapun. Cara menggunakan mesin ini
adalah : lembar plat diletakkan pada alas mesin, lembar plat
sebelumnya sudah dirancang titik pemotongannya. Setelah dipasang
dan ditempatkan pada posisi yang tepat dibawah pisau mesin pemotong,
injakkan kaki dengan tekanan yang kuat. Usahakan pada saat menekan
injakan kaki benda kerja jangan sampai bergerak.
44

Gambar 2.24 Mesin pemotong plat manual

2. Mesin pemotong plat otomatis (menggunakan penggerak motor)


Mesin pemotong plat jenis ini menggunakan penggerak motor sebagai
penggerak pisaunya, sehingga dalam proses pemotongan plat tidak
membutuhkan tenaga yang besar. Cara menggunakan mesin pemotong
jenis ini adalah :
1. Bersihkan area sekitar mesin pemotong dari benda-benda yang
dapat mengganggu kerja mesin.
2. Letakkan lembar plat pada alas mesin dan tentukan garis
pemotongannya.
3. Putar tombol power ke posisi ON/1.
4. Tekan tombol start, dan tunggu 5 detik sampai putaran mesin
berputar dengan normal.
5. Buka pengunci injakan kaki.
6. Menekan injakan kaki selama 1 detik kemudian lepaskan, pada saat
menekan injakan kaki, proses penjepitan plat dan pemotongan plat
berjalan.
45

7. Kunci kembali tangkai injakan kaki.


8. Matikan mesin dengan menekan tombol stop dan putar tombol
power pada posisi OFF/0 , dan pastikan motor penggerak berhentti
berputar.

Gambar 2.25 Mesin pemotong plat otomatis

2.2.3 Mesin Pelipat Plat (Bending Machine)


Mesin pelipat plat atau sering juga disebut dengan mesin bending
merupakan mesin yang berfungsi untuk menekuk lembaran plat dengan
sudut tertentu sesuai dengan bentuk yang sudah direncanakan. Mesin
mampu melipat plat dengan ketebalan 2mm dengan lebar 120 cm.
Mesin pelipat plat ada 2 macam yaitu:
1. Mesin pelipat plat universal
Mesin jenis ini memiliki klem penekuk yang panjang dan bersifat
permanen, oleh karena itu diperlukan beberapa alat tambahan dalam
menggunakan mesin ini untuk menekuk plat dengan sudut tertentu.
46

Gambar 2.26 Mesin pelipat plat universal


2. Mesin pelipat plat kotak
Mesin ini digunakan untuk segala keperluan membengkok dan melipat.
Mesin ini dilengkapi dengan sepatu-sepatu tekuk yang dibuat dalam
berbagai ukuran untuk keperluan penekukan. Sepatu-sepatu ini dapat
diatur atau dikombinasikan satu sama lain sehingga mendapatkan
ukuran yang diperlukan. Perhatikan jarak antara sepatu-sepatu yang
digunakan dengan sepatu-sepatu yang tidak digunakan, dan jarak
ruangan yang tidak diberi sepatu, hal ini dimaksudkan agar ada gerakan
bebas benda yang akan dilipat.

Gambar 2.27a Mesin pelipat plat kotak


47

Gambar 2.27b Posisi benda kerja pada mesin lipat


2.2.4 Mesin Bor (Drilling Machine)
Mesin bor adalah merupakan suatu alat pembuat lubang, alur atau bisa
untuk peluasan dan penghalusan suatu lubang yang efisien. Sebagai
pisau penyayatnya pada mesin bor ini dinamakan mata bor yang
mempunyai ukuran diameter yang bermacam- macam. Di dalam
pekerjaan mengebor atau peluasan lubang benda kerja dengan mesin
bor, hal- hal yang perlu diperhatikan adalah : kelengkapan mesin bor
(misal: ragum bor, kunci rahang bor, pengukur diameter mata bor, dan
lain- lain), pelumasan, jenis bahan yang akan dibor, arah putaran dan
kecepatan putaran mesin bor, serta pencegahan kecelakaan. Ada dua
macam tipe mesin bor yang digunakan pada pekerjaan mekanik elektro.
Pertama jenis mesin bor listrik tangan (pistol) yang biasanya digunakan
pada pekerjaan labil atau untuk pengerjaan benda kerja yang relatif
ringan atau dengan ketebalan tipis. Kedua, mesin bor tetap yang
biasanya digunakan untuk pengerjaan benda kerja yang relatif lebih
berat. Untuk jenis mesin bor ini dapat dibedakan menjadi beberapa tipe
mesin bor, antara lain : mesin bor meja, mesin bor tiang, mesin bor
tegak, mesin bor radial, mesin bor horisontal jenis meja, mesin bor
berporos majemuk dan mesin bor koordinat.
1. Mesin Bor Tiang
Mesin bor jenis sangat diperlukan dalam pekerjaan bengkel
elektromekanik. Karena mesin bor ini bersifat permanen sehingga
48

memudahkan dalam membuat lubang pada benda kerja. Fungsi dari tiap
bagian bor ini antara lain:
a. Saklar on/off : untuk menyalakan atau mematikan mesin bor.
b. Tutup fan belt : pelindung fan belt (tali penghubung antara motor
penggerak dengan pemegang mata bor).
c. Motor penggerak : sumber penggerak dari mesin bor.
d. Pemegang mata bor : pemegang/penjepit mata bor, terdapat kunci
khusus untuk memasang dan melepas mata bor.
e. Penggerak mata bor : merupakan pegangan untuk menggerakkan
mata bor ke arah atas atupun bawah.
f. Alas mesin bor : merupakan alas untuk menempatkan benda kerja
yang akan di lubangi.
g. Penggerak alas mesin bor : untuk menggerakan alas mesin bor ke
atas atau ke bawah dengan cara diputar kekiri atau kekanan
(kendorkan pengunci alas mesin terlebih dahulu).
h. Pengunci alas mesin bor : untuk mengunci alas mesin bor setelah
diatur sesuai dengan kebutuhan.

Gambar 2.28a Mesin bor tiang


49

Gambar 2.28b Posisi badan pada saat menggunakan bor tiang


2. Mesin Bor Pistol/tangan (hand drill)
Bor pistol atau sering juga disebut dengan bor tangan merupakan suatu
alat untuk membuat lubang, alur atau untuk penghalusan suatu lubang
pada benda kerja. Bor tangan bersifat portable dan mudah untuk
dipindahkan sehingga efisien dalam pengerjaan pada bagian yang tidak
bisa dijangkau oleh bor tiang maupun jenis bor yang lain. Sumber
listrik pada bor tangan ada 2 macam yaitu menggunakan sumber listrik
AC 220V dan ada juga yang menggunakan sumber tegangan
DC/Battery. Bor tangan lebih mudah dalam membuat alur dibandingkan
dengan bor duduk atau bor tiang, karena pada bor tangan terdapat fitur
untuk membalik arah putaran mesin bor.
50

Gambar 2.28c Bor Pistol/tangan (Hand Drill)

Gambar 2.28d Cara mengebor dengan mesin bor tangan

2.2.5 Mesin Gerinda (Grinder Machine)


Mesin gerinda merupakan mesin yang berfungsi untuk menggerinda
benda kerja. Menggerinda bertujuan untuk mengasah benda kerja
seperti merapikan hasil pemotongan, merapikan hasil las, membentuk
lengkungan pada benda kerja yang bersudut, membersihkan benda kerja
untuk di las, dan lain- lain. Dengan mata gerinda yang khusus, mesin
gerinda dapat digunakan berbagai fungsi lain seperti memotong
keramik, memotong kayu, memotong logam dan lain- lain Prinsip kerja
mesin gerinda adalah mata gerinda berputar dengan digerakkan oleh
motor dan bersentuhan dengan benda kerja sehingga terjadi
51

pengasahan/pemotongan benda kerja. Berikut adalah beberapa jenis


mesin gerinda :
1. Mesin Gerinda Duduk
Mesin ini terdapat 2 batu gerinda yang berbeda tingkat kehalusan pada
sisi kiri dan kanan. Mesin ini menghasilkan putaran yang cukup tinggi
dan getarasn yang sangat besar sehingga dibutuhkan alas/meja mesin
yang sangat kuat dan kokoh untuk meredam getaran tersebut.

Gambar 2.29a Mesin gerinda duduk

Gambar 2.29b Posisi badan pada saat menggunakan gerinda duduk


52

2. Mesin Gerinda Tangan


Mesin gerinda tangan merupakan mesin gerinda yang digunakan untuk
memutarkan roda/batu gerinda yang berbentuk piringan gerinda tipis.
Mesin gerinda tangan dapat digunakan untuk meratakan permukaan
benda kerja (menggerinda) maupun memotong benda kerja. Salah satu
contoh penggunaan gerinda tangan adalah untuk menghaluskan
permukaan benda kerja setelah proses pengelasan, terutama pada benda
kerja yang berukuran besar.

Gambar 2.29c Mesin gerinda tangan dan batu gerinda


3. Mesin Gerinda Potong
Mesin gerinda potong merupakan mesin gerinda yang digunakan untuk
memotong benda kerja dari bahan pelat ataupun pipa. Roda gerinda
yang digunakan adalah piringan gerinda tipis yang diputarkan dengan
kecepatan tinggi.

Gambar 2.29d Mesin gerinda potong


53

2.2.6 Mesin Las (Welding Machine)


Pengelasan adalah suatu proses penyambungan plat atau logam menjadi
satu akibat panas dengan atau tanpa tekanan. Yaitu dengan cara logam
yang akan disambung dipanaskan terlebih dahulu hinga meleleh,
kemudian baru disambung dengan bantuan perekat (filler). Selain itu las
juga bisa didefinisikan sebagai ikatan metalurgi yang timbul akibat
adanya gaya tarik antara atom. Dalam pekerjaan bengkel
elektromekanik dibutuhkan 2 jenis mesin las, antara lain :
1. Mesin las titik (Spot Welder)
Las titik adalah pengelasan memakai metode resistansi listrik dimana
plat lembaran dijepit dengan dua klem penjepit. Ketika arus dialirkan
maka terjadi sambungan las pada posisi jepitan. Siklus pengelasan titik
dimulai ketika klem penjepit menekan plat dimana arus belum
dialirkan. Waktu proses ini disebut waktu tekan, setelah itu arus
dialirkan ke elektroda sehingga timbul panas pada plat di posisi
elektroda sehingga terbentuk sambungan las. Waktu proses ini disebut
waktu las. Setelah itu arus dihentikan namun tekanan tetap ada dan
proses ini disebut waktu tenggang. Kemudian logam dibiarkan
mendingin sampai sambungan menjadi kuat dan tekanan di hilangkan
dan pelat siap dipindahkan untuk selanjutnya proses pengelasan dimulai
lagi untuk titik yang baru. Mesin Las Titik secara umum hampir sama
dengan mesin las listrik.

Gambar 2.30 Mesin las titik


54

2. Mesin las listrik (Arc Welder)


Pada pengelasan dengan las listrik, panas yang dihasikan berasal dari
busur listrik yang timbul dari menempelnya benda kerja dengan
elektroda. Elektroda pengisian dipanaskan mencapai titik cair dan
diendapkan pada sambungan, hingga terbentuk sambungan las. Panas
yang dihasilkan oleh busur listrik mencapai 55000 C. Pada saat
pengelasan menggunakan las listrik, energi dilepaskan dalam jumlah
yang sangat besar dalam bentuk panas dan cahaya ultraviolet. Agar
mata kita terlindungi dari sinar ultra violet ini, kita harus menggunakan
kacamata pelindung yang mampu menangkal cahaya tersebut demi
keselamatan kerja. Selain itu proses pengelasan dilakukan di
ruang/kamar khusus supaya asap dan sinar tidak mengganggu orang
lain.

Gambar 2.31 Mesin las listrik


Langkah- langkah dalam menggunakan mesin listrik adalah sebagai
berikut :
a. Gunakan sarung tangan kulit sebagai pelindung tangan dan topeng
las sebagai pelindung mata dan wajah.
b. Jepitkan ujung elektroda yang tidak berlapis pada holder, elektroda
harus dijepit dengan kuat.
c. Jepitkan klem masa pada benda kerja/meja las
55

d. Nyalakan mesin las dan atur arus mesin las sesuai dengan
kebutuhan (disesuaikan dengan ketebalan dan jenis benda kerja
serta diameter elektroda)
e. Lakukan pengelasan pada benda kerja yang akan disambung
f. perpendekan elektroda harus diikuti dengan penurunan tangan, agar
sudut elektroda dan tinggi busur tetap dapat dipertahankan.

Gambar 2.32 Cara merangkai mesin las listrik


Peralatan lain yang dibutuhkan dalam proses pengelasan adalah sebagai
berikut:
a. Topeng las : sebagai alat pelindung mata dan wajah dari sinar yang
dihasilkan pada saat proses pengelasan
b. Sikat baja : untuk membersihkan kotoran pada benda kerja sebelum
dilakukan pengelasan
c. Sarung tangan kulit : sebagai alat pelindung tangan dari panasnya
elektroda dan benda kerja
d. Palu las : Palu las digunakan untuk membersihkan dan me-
ngeluarkan kerak las pada jalur las dengan cara memukulkan atau
menggoreskan pada daerah las. Berhati- hatilah membersihkan
kerak las dengan palu las karena kemungkinan akan memercik ke
mata atau ke bagian badan lainnya.
e. Kamar las: Kamar las digunakan pada proses pengelasan agar
orang yang ada disekitarnya tidak terganggu oleh sinar las.
56

Gambar 2.33 Perkakas yang dibutuhkan dalam proses pengelasan


Dalam proses pengelasan terjadi panas yang berlebihan pada benda
kerja, untuk itu membutuhkan perhatian secara khusus karena dapat
menyebabkan perubahan bentuk pada benda kerja. Pada gambar berikut
diperlihatkan kemungkinan perubahan bentuk yang terjadi pada benda
kerja setelah proses pengelasan.

Gambar 2.34 Perubahan bentuk benda kerja setelah proses pengelasan


Ada beberapa cara dalam menyalakan elektroda antara lain :
menyalakan elektroda dengan cara sentakan, cara goresan, titik awal
busur dan pengelasan di bawah tangan.
57

a. Cara sentakan
Cara ini dilakukan dengan menurunkan elektroda secara lurus sampai
menyentuh benda kerja dan langsung diangkat dengan cepat sampai
jarak pengangkatan minimal 1x diameter kawat elektroda.

Gambar 2.35 Metode sentakan


b. Cara goresan
Setelah elektroda menyala dan pertahankan jarak ketinggian elektroda
dengan benda kerja kira-kira 0,8 x diameter elektroda, kemudian
goreskan elektroda pada benda kerja.
58

Gambar 2.36 Metode goresan


c. Pengelasan titik awal busur
Bila pengelasan dimulai dari tepi benda kerja, maka pengelasan awal
sering kurang baik, untuk mengatasi hal ini maka titik awal penyalaan
dimulai kira-kira 10-20 mm dari tepi benda kerja yang akan dilas.

Gambar 2.37 Metode pengelasan pada tepi benda kerja


59

d. Posisi pengelasan dibawah tangan


Posisi ini paling mudah dilakukan dibanding dengan posisi lainnya,
kemiringan elektroda 10-20 derajat terhadap garis vertikal kearah jalan
elektroda.

Gambar 2.38 Metode pengelasan dibawah tangan


2.2.7 Mesin Gergaji
Mesin gergaji merupakan alat untuk memotong benda kerja yang
menggunakan sumber energi listrik. Mesin gergaji banyak sekali jenis
dan typenya, namun dalam pekerjaan bengkel mekanik kita hanya
membutuhkan mesin gergaji besi portabel (Jigsaw).

Gambar 2.39 Berbagai macam gergaji listrik

Jigsaw sering juga disebut dengan gergaji ukir, karena jigsaw


merupakan sebuah alat potong yang dapat digunakan untuk memotong
60

atau menggergaji berbagai macam bentuk. Dengan menggunakan


jigsaw kita bisa memotong pola benda kerja yang tidak bisa dipotong
dengan menggunakan mesin pemotong universal. prinsip kerja jigsaw
adalah dengan pergerakan mata gergaji yang bergerak naik turun dalam
memotong benda kerja, penggerak mata gergaji merupakan motor yang
mendapat sumber listrik. Mata gergaji jigsaw ada beberapa jenis, kita
tinggal menyesuaikan mata gergaji dengan benda kerja yang akan
dipotong.

Gambar 2.40 Jigsaw dan mata gergaji

2.2.8 Peralatan Finishing


Pengecatan merupakan tahapan terakhir/finishing dalam pembuatan
panel, finishing akan menentukan hasil dari pekerjaan kita. Pekerjaan
finishing antara lain:
a. Membersihkan karat pada box panel
b. Melapisi dengan dempul pada bagian sambungan plat yang
masih ada lubang
c. Melapisi box panel dengan cat dasar
d. Pengecatan dengan cat finishing (warna)
61

Metode pengecatan yang akan kita lakukan adalah dengan metode air
spray , karena disamping murah juga menghasilkan kualitas lapisan cat
yang cukup bagus. Pengecatan dengan metode ini dilakukan dengan
cara mengabutkan bahan cat dan bahan pelarut dengan tekanan udara.
Kelemahan metode ini yaitu untuk pengecatan pada posisi sudut tidak
dapat dilakukan secara sempurna karena adanya turbulensi yang
berlebihan yang disebabkan adanya tekanan udara. Kelemahan yang
kedua adalah adanya partikel-partikel cat padat (debu) sebagai akibat
proses pengkabutan dengan udara, ini mengakibatkan tekstur cat kurang
halus. Kelemahan berikutnya adalah masih tercampurnya cat dengan air
sebagai akibat udara yang bertekanan, sehingga dapat menimbulkan
bublling yang bisa mengakibatkan pecahnya cat pada bagian yang
terdapat udara yang terjebak di bawah lapisan cat.
Perlatan yang diperlukan dalam pekerjaan finishing dengan metode ini
antara lain:
1. Kompresor angin
Kompresor udara adalah perangkat yang mengkonversi daya (biasanya
dari mesin listrik atau diesel/bensin) menjadi energi kinetik oleh
pressurizing dan mengompresi udara, yang kemudian diolah dalam
semburan udara yang cepat. Dalam pekerjaan bengkel elektromekanik,
kompresor digunakan untuk memasok udara pada spray gun yang
digunakan untuk pengecatan. Besar tekanan kompresor berbeda-beda
tergantung dari besar kecilnya tabung penyimpanan udara.

Gambar 2.41 Kompresor angin


62

2. Spray Gun Set


Spray gun adalah alat yang digunakan untuk pengecatan dengan cara
penyemprotan. Hasil pengecatan dengan cara seperti ini akan
memperoleh hasil yang maksimal, karena hasil pengecatannya rata dan
halus. Spray gun ada 2 macam yaitu spray gun bertekanan rendah dan
spray gun bertekanan tinggi. Pengaturan pada spray gun pada dasarnya
ada 3 macam yaitu:
a. Pengaturan volume bahan finishing (cat)
Kontrol untuk mengatur besar kecilnya jumlah bahan yang keluar
dalam sekali tekan atau semprot. Knob adalah yang mengatur jarak
lubang nozzle dengan jarum nozzle ketika posisi pelatuk spray
gun di tekan. Jarak itulah yang membuat udara bertekanan menarik
bahan finishing keluar. Memutar knob tersebut ke kiri (berlawanan
arah jarum jam) akan memperbesar jarak jarum nozzle sehingga
bahan finishing lebih banyak keluar. Tekan pelatuk hingga
menyentuh batasnya (penting sekali dalam setiap penyemprotan)
lalu putar knob pada saat yang sama searah jarum jam untuk
mengatur jumlah bahan finishing.
b. Pengatur jumlah udara keluar
Pengatur jumlah udara yang keluar biasanya terletak di
belakang spray gun dan memiliki fungsi untuk mengatur udara
yang keluar dalam sekali tekan pelatuk. Udara yang memiliki
tekanan akan keluar melalui ujung spray gun dan akan bercampur
dengan bahan finishing serta menjadi partikel yang kecil. Arah dan
ukuran bahan yang bercampur udara tadi diatur oleh lubang angin
di ujung spray gun (Air Horn). Knob ini pula yang mengatur lebar
dan arah semprotan.

c. Pengatur tekanan udara


Pengaturan tekanan udara adalah pengaturan dilakukan untuk
mengatur besar kecilnya tekanan udara yang masuk dari spray gun.
63

Gambar 2.42 Spray gun


Gambar di atas menunjukkan 2 jenis spray gun yaitu spray gun
bertekanan rendah dan spray gun bertekanan tinggi.
64

- Halaman ini sengaja dikosongkan -


BAB III
PEMBUATAN BOX PANEL

Sebelum membuat box panel, langkah pertama yang harus dilakukan adalah
dengan membuat rancangan dalam bentuk sketsa pola/jaring-jaring. Pembuatan
rancangan ini akan menentukan efisiensi dan efektifitas dalam pekerjaan bengkel
elektromekanik.
3.1 Perancangan Bentuk Box Panel
Tahapan ini merupakan gambaran umum bentuk panel yang akan dibuat.
Bentuk panel bisa digambar secara 3 dimensi, hal ini bertujuan supaya lebih
mudah dalam membuat sketsa pola/jaring-jaring. Di bawah ini merupakan
gambaran bentuk box panel.

Gambar 3.1 Bagian Panel

65
66

Dari gambar 3 dimensi yang ada kemudian kita buat gambar detail tiap
bagian dari box panel. Di bawah ini merupakan gambar tiap bagian dari
box panel:
3.2 Pembuatan Sketsa Pola/Jaring-jaring

Gambar 3.2 Sketsa Bagian Belakang, Samping kiri dan kanan


67

Gambar 3.3 Sketsa bagian atas

Gambar 3.4 Sketsa bagian bawah


68

Gambar 3.5 Sketsa bagian tempat komponen

Gambar 3.6 Sketsa bagian pintu


69

3.3 Pemotongan Plat


Pemotongan plat dilakukan sesuai dengan gambar kerja yang telah direncanakan
menggunakan mesin pemotong plat. Agar lebih efisien dalam penggunaan
bahan/plat yang dibutuhkan, perlu kita hitung terlebih dahulu plat yang kita
butuhkan kemudian disesuaikan dengan lebar dan panjang plat. Hal ini dilakukan
supaya plat yang kita potong sesuai dengan kebutuhan dan tidak meninggalkan
sisa potongan plat yang terlalu banyak namun tidak dapat digunakan. Berikut ini
gambar pemotongan plat yang dibutuhkan dalam pembuatan box panel.

Gambar 3.7 Pemotongan plat yang dibutuhkan (dari 1 lembar plat)

3.4 Penekukan Plat


Penekukan/pelipatan plat menggunakan mesin penekuk/pelipat plat
disesuaikan dengan gambar kerja yang telah dibuat. Untuk bagian yang
banyak lipatannya harus dipikirkan terlebih dahulu urutan pelipatannya,
karena apabila salah dalam melakukan langkah pelipatan maka akan
menemukan kesulitan dalam melakukan pelipatan bagian selanjutnya.
70

Gambar 3.8 Penekukan/pelipatan bagian tutup belakang, samping kiri dan kanan

Gambar 3.9 Penekukan/pelipatan bagian atas


71

Gambar 3.10 Penekukan/pelipatan bagian bawah

Gambar 3.10 Penekukan/pelipatan bagian pintu

Gambar 3.11 Penekukan/pelipatan bagian tempat komponen

3.5 Penyambungan Tiap Bagian


Proses penyambungan tiap bagian menggunakan las titik (spot welding) atau
dengan menggunakan las listrik. Penggunaan las titik diperlukan apabila
ketebalan plat yang digunakan kurang dari 2 mm, apabila ketebalan lebih dari
itu penyambungan menggunakan las listrik. Proses penyambungan dalam
72

desain di atas adalah penyambungan bagian atas dan bawah dengan bagian
belakang.

Gambar 3.12 Bagian box panel yang akan disambung menggunakan las

3.6 Finishing
Proses ini merupakan proses terakhir dalam pembuatan box panel. Proses
tersebut antara lain:
a. Membersihkan karat pada benda kerja
b. Pengecatan dasar/pengecatan primer
c. Meratakan bagian yang masih berlubang/dengan dempul
d. Menghaluskan bagian yang sudah didempul
e. Pengecatan lapisan pertama
f. Pengecatan lapisan kedua
BAB IV
KONTROL STARTING MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

Cara kerja motor tiga phasa :


Motor tiga phasa akan bekerja/ berputar apabila sudah dihubungkan dalam hubungan
tertentu dan mendapat tegangan (jala-jala/ power/ sumber) sesuai dengan kapasitas
motornya.
4.1 Motor tiga fasa bekerja dengan dua hubungan yaitu :
4.1.1 Motor bekerja Bintang/ Star
Berarti motor harus dihubungkan bintang baik secara langsung pada terminal maupun
melalui rangkaian kontrol.

Gambar 4.1 Belitan dalam hubungan bintang

73
74

Gambar 4.2 Hubungan Bintang/ Star (Y) pada motor induksi 3 phasa

4.1.2 Motor bekerja segitiga /Delta ()


Berarti motor harus dihubungkan segitiga baik secara langsung pada terminal maupun
melalui rangkaian kontrol. Kecuali mesin- mesin yang berkapasitas tinggi diatas 10
HP, maka motor tersebut wajib bekerja segitiga () dan harus melalui rangkaian
kontrol star delta baik secara mekanik, manual, PLC.

Gambar 4.3 Belitan dalam hubungan segitiga/delta


75

Gambar 4.4 Hubungan segitiga/ delta pada motor induksi 3 phasa


Dimana bekerja awal (start) motor tersebut bekerja bintang hanya sementara, selang
berapa waktu barulah motor bekerja segitiga dan motor boleh dibebani.
Cara menghubungkan motor dalam hubungan bintang (Y) :
1. Cukup mengkopelkan/ menghubungkan salah satu dari ujung-ujung kumparan
phasa menjadi satu.
2. Sedangkan yang tidak dihubungkan menjadi satu dihubungkan kesumber
tegangan.
Cara menghubungkan motor dalam hubungan segitiga () :
1. Ujung pertama dari kumparan phasa I dihubungkan dengan ujung kedua dari
kumparan phasa III
2. Ujung pertama dari kumparan phasa II dihubungkan dengan ujung kedua dari
kumparan phasa I
3. Ujung pertama dari kumparan phasa III dihubungkan dengan ujung kedua dari
kumparan phasa II.
76

Mengapa motor harus dihubungkan dengan Star Delta?


1. Beban dengan inersia yang tinggi/ besar akan menyebabkan waktu starting
motor menjadi lama untuk mencapai kecepatan nominalnya.
2. Selama periode starting tersebut, maka pada stator dan rotor akan mengalir
arus yang besar sehungga bisa terjadi pemanasan berlebih (overheating) pada
motor
3. Lebih buruk lagi menyebabkan gangguan pada sistem jala-jala sumber
listriknys sehingga akan menurunkan tegangannya. hal ini akan mengganggu
beban listrik lainnya.
4. Untuk menghindari hal tersebut, suatu motor induksi seringkali di start
dengan level tegangan yang lebih rendah dari tegangan nominalnya.
5. Pengurangan tegangan starting tersebut akan membatasi dayas yang diberikan
ke motor, namun demikian disis lain pengurangan tegangan ini akan
berdampak memperpanjang waktu/ periode starting (waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai kecepatan nominalnya).

4.2 Rangkaian Sistem Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa


Rangkaian sederhana dengan menggunakan kontaktor magnet yaitu mengontrol
sebuah motor listrik. Pengontrolan oleh kontaktor magnet menggunakan 2
rangkaian yaitu rangkaian kontrol dan rangkaian utama. Peralatan kontrol yang
digunakan dalam pengoperasianya yaitu, MCB 3 fasa, TOR (Thermal Overload
Relay), sakelar tekan ON/ OFF dan kontaktor. Rangkaian kontrol merupakan
rangkaian yang mengendalikan/ mengoperasikan rangkaian utama, sedangkan
rangkaian utama merupakan aliran hubungan ke beban (motor 3 fasa). Rangkaian
utama menggunakan kontak utama (1-3-5 dan 2-4-6) dari kontaktor magnet
untuk menghubungkan/ memutuskan jaringan dengan motor listrik. Karena arus
yang mengalir pada rangkaian utama relaitf lebih besar daripada rangkaian
kontrol, maka pada rangkaian utama dilengkapi dengan TOR (Thermal Overload
Relay) atau pengaman beban lebih dari hubung singkat ataupun beban yang
77

lebih. Pada rangkaian kontrol, arus yang mengalir relatif kecil. Rangkaian kontrol
dilengkapi dengan sakelar tekan NO untuk tombol NP dan NC untuk tombol
OFF. Karena menggunak open.an tombol (sakelar) tekan, maka pada tombol ON
dibuat pengunci (sakelar bantu) dari kontak bantu kontaktor yang normally open.

Gambar 4.5 Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa

4.3 Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa


Hubungan Bintang Segitiga
Rangkaian daya hubungan bintangsegitiga menggunakan tiga buah kontaktor Q1,
Q2, dan Q3 seperti pada Gambar 4.6. Fuse F1 berfungsi mengamankan jika
terjadi hubungsingkat pada rangkaian motor. Saat motor terhubung bintang
kontaktor Q1 dan Q2 posisi ON dan kontaktor Q3 OFF. Beberapa saat kemudian
timer yang disetting waktu 60 detik energized, akan meng-OFF-kan Q1,
sementara Q2 dan Q3 posisi ON, dan motor terhubung segitiga. Pengaman beban
78

lebih F3 (thermal overload relay) dipasangkan seri dengan kontaktor, jika terjadi
beban lebih disisi beban, relay bimetal akan bekerja dan rangkaian kontrol
berikut kontaktor akan OFF.

Tidak setiap motor induksi bias dihubungkan bintang-segitiga, yang harus


diperhatikan adalah tegangan name plate motor harus mampu diberikan tegangan
sebesar tegangan jala-jala (seperti pada gambar 4.6), khususnya pada saat motor
terhubung segitiga. Jika ketentuan ini tidak dipenuhi, akibatnya belitan stator bisa
terbakar karena tegangan tidak sesuai. Rangkaian kontrol bintang-segitiga (seperi
pada gambar 4.6), dipasangkan fuse F2 untuk pengaman hubung singkat pada
rangkaian kontrol.

Gambar 4.6 Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa
Hubungan Bintang Segitiga
79

Hubungan Bintang
Tombol S2 di-ON-kan terjadi loop tertutup pada rangkaian koil Q1 dan menjadi
energized bersamaan dengan koil Q2. Kontaktor Q1 dan Q2 energized motor
terhubung bintang. Koil timer K1 akan energized, selama setting waktu berjalan
motor terhubung bintang.
Hubungan Segitiga
Saat Q1 dan Q2 masih posisi ON dan timer K1 masih energized, sampai setting waktu
berjalan motor terhubung bintang. Ketika setting waktu timer habis, kontak Normally
Close K1 dengan akan OFF menyebabkan koil kontaktor Q1 OFF, bersamaan dengan
itu Q3 pada posisi ON. Posisi akhir kontaktor Q2 dan Q3 posisi ON dan motor dalam
hubungan segitiga. Untuk mematikan rangkaian cukup dengan meng-OFF-kan
tombol tekan S1 rangkaian kontrol akan terputus dan seluruh kontaktor dalam posisi
OFF dan motor akan berhenti bekerja. Kelengkapan berupa lampu- lampu indikator
dapat dipasangkan, baik indikator saat rangkaian kondisi ON, maupun saat saat
rangkaian kondisi OFF, caranya dengan menambahkan kontak bantu normally open
yang diparalel dengan koil kontaktor dan sebuah lampu indikator.

(a)
80

(b)
Gambar 4.7 Wiring hubungan bintang dan segitiga
Dibawah ini contoh wiring kabel untuk rangkaian kontrol starting motor induksi tiga
phasa yang menggunakan tiga magnet kontaktor yang akan di install pada panel
control.

Gambar 4.8 Instalasi kontrol starting motor induksi


81

Gambar 4.9 Wiring kontrol starting motor pada panel


Ketika tombol ON ditekan maka K1 akan bekerja, begitu juga T dan K2 (hubung
star). Dalam hal ini K2 akan langsung bekerja karena terhubung pada NC dari T,
disaat bersamaan T akan bekerja dan menghitung satuan waktu yang te lah ditetapkan
sebelumnya ( 3~8 detik, tergantung besar kecilnya arus asut dari motor induksi yang
digunakan). Dimana setelah habis ketapan waktunya maka NCnya akan berubah
menjadi NO begitu juga sebaliknya. Perubahan inilah yang dimanfaatkan untuk
menghidupkan K3 (hubung delta). Dan wiring diagram tersebut dikenal juga sebagai
rangkaian pengendali. Sebagai finalisasi wiring diagram star delta ini, maka saya
tambahkan NC pada K2 dan K3 yang saling bertautan pada masing masing
kontaktornya. Arus listrik akan mengalir terlebih dahulu pada NC K3 sebelum masuk
82

koil K2, begitu juga sebaliknya. Hal ini semata-mata untuk menghindari terjadinya
kedua kontaktor itu bekerja secara bersamaan bila terjadi hubung singkat, yang bisa
menyebabkan kerusakan pada rangkaian utama.
83

Daftar Pustaka :
1. Untung Margono, Praktek Kerja Bangku, Pusat Pengembangan Pendidikan
Politeknik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1995.
2. Bevi Lidya, A.M. Martiana, Keselamatan Kerja, Pusat Pengembangan
Pendidikan Politeknik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung 1996.
3. Dudy Arisandi, Teori Perkakas Tangan, Politeknik Manufaktur Bandung-
ITB, Bandung 1992.
4. Dudy Arisandi, Teori Melamak, Politeknik Manufaktur Bandung-ITB,
Bandung 1990.

Anda mungkin juga menyukai