Anda di halaman 1dari 4

Nama : Taufiq Zulyasman

NIM : 2014730089

6. Hubungan Antar Aspek Psikososial dengan Penyakit Stroke dan Hipertensi yang
memiliki Faktor Resiko dalam Keluarga

Sebagai Dokter Keluarga


Karena Kekhususan Pelayanan Dokter Keluarga : Holistik , Komprehensif ,Terpadu,
Berkesinambungan
Bersifat proaktif, Pembiayaan pre paid , dan Pendekatan Keluarga.

Komprehensif : Pelayanan meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan
mengedepankan upaya promotif dan preventif

Adalah suatu kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada dengan cara mencari faktor
risiko di dalam keluarga Rencanakan intervensi untuk menyelesaikan masalah yang ada

Konsumsi lemak yang berlebihan dapat menimbulkan risiko hipertensi karena akan
meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Kolesterol tersebut akan melekat pada
dinding pembuluh darah yang lama-kelamaan pembuluh darah akan tersumbat
diakibatkan adanya plaque dalam darah yang disebut dengan aterosklerosis. Plaque
yang terbentuk akan mengakibatkan aliran darah menyempit sehingga volume
darah dan tekanan darah akan meningkat.

adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi lemak dengan peningkatan


tekanan darah atau hipertensi dibuktikan dengan nilai p=0,024. Begitu juga
penelitian yang dilakukan oleh Fathina (2007) di Klinik Rawat Jalan di RSU Kodia
bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p=0,00) antara asupan lemak dengan
hipertensi, asupan lemak dapat meningkatkan kadar tekan darah diastolik dan
sislotik. Hal ini disebabkan, kebiasaan mengkonsumsi lemak terutama lemak jenuh
sangat erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang dapat berisiko
terjadinya hipertensi.

Rendah kolesterol dan lemak jenuh


Kolesterol akhir-akhir ini menjadi isu yang menghangat di berbagai kalangan. Banyak individu
takut mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol, padahal kolesterol juga diperlukan
untuk kelancaran metabolisme dalam tubuh. Kolesterol hanya akan berbahaya jika jumlah yang
dikonsumsi lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh tubuh.

Kolesterol merupakan bagian dari lemak. Di dalam tubuh terdapat tiga jenis lemak, yaitu
kolesterol, trigliserida, dan pospolipid. Tubuh memperoleh kolesterol dari makanan sehari-hari
dan dari hasil sintesis dalam hati (hepar). Sekitar 25-50% kolesterol yang berasal dari makanan
dapat diabsorbsi oleh tubuh, selebihnya akan dibuang melalui feses (kotoran). Jika konsumsi
kolesterol terlalu banyak maka penyerapan di dalam tubuh akan meningkat. Beberapa makanan
yang tinggi kandungan kolesterolnya yaitu daging, jeroan, keju keras, susu, yogurt, kuning telur,
ginjal, kepiting, kerang, udang, cumi-cumi, cokelat, mentega, lemak babi, margarin, hati dan
cavier (telur dari jenis ikan tertentu).

Di dalam makanan, lemak terdiri dari dua macam, yakni lemak jenuh dan lemak tidak jenuh.
Lemak jenuh adalah lemak yang sebagian besar asam lemaknya terdiri dari asam lemak jenuh.
Adapun lemak tidak jenuh adalah lemak yang sebagian besar asam lemaknya terdiri dari asam
lemak tidak jenuh (tidak jenuh ganda dan tidak jenuh tunggal).

Lemak jenuh bersifat menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. Banyak penelitian
menyatakan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan tekanan darah. Lemak jenuh banyak
terdapat pada makanan yang berasal dari hewan, seperti daging (sapi, babi, kerbau, kambing),
mentega, susu, keju, dan sebagian kecil dari tumbuh-tumbuhan (kelapa dan hasil olahannya).
Sebaliknya, lemak tak jenuh dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol serum total,
trigliserida darah dan meningkatkan kadar HDL. Dengan demikian, lemak tak jenuh dapat
membantu untuk mencegah aterosklerosis. Bahan makanan yang mengandung lemak tak jenuh
kebanyakan berasal dari tumbuh-tumbuhan (minyak jagung, minyak kedelai, minyak kacang
tanah, minyak biji bunga matahari, minyak bunga mawar) dan sebagian kecil hewani (ikan dan
minyak ikan) (Braverman, 1996 dan Wirakusumah, 2001).

Terdapat hubungan terbalik antara konsumsi ikan dengan kematian pada usia dua puluh tahun
akibat penyakit jantung koroner. Individu yang mengkonsumsi 30 gram atau lebih ikan per hari
mempunyai rata-rata angka kematian akibat penyakit jantung 50 persen lebih rendah daripada
mereka yang tidak mengkonsumsinya.

Selain mengkonsumsi ikan, minyak ikan (asam lemak omega-3) atau EPA (asam
eicosapentaenoic), seperti mackerel, telah terbukti mengurangi risiko penyakit jantung koroner
dengan cara mengurangi tingkat plasma lipid yang tinggi, lipoprotein, dan apolipoprotein serta
menurunkan viskositas darah pada pasien dengan trigliserida yang tinggi (Braverman, 1996 dan
Wirakusumah, 2001). Diet tinggi konsumsi ikan atau suplemen minyak ikan direkomendasikan
pada pasien dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner. Pada 22 percobaan dengan
mengkonsumsi, suplemen harian rata-rata 4,4 gr minyak ikan per hari berhubungan dengan
penurunan tekanan darah sekitar 1,7/1,5 mmHg, efeknya akan lebih (1)

Rendah kafein
Kafein banyak terkandung dalam kopi, teh dan minuman soda. Kafein yang terkandung di dalam
kopi memiliki potensi terhadap terjadinya peningkatan tekanan darah, terutama dalam keadaan
stres dan telah terbukti dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (Braverman, 1996;
Wirakusumah, 2001; dan Kaplan, 2006). Kafein didalam dua sampai tiga cangkir kopi ( 200-250
mg) atau lebih dapat meningkatkan tekanan darah. Oleh karena itu, pasien hipertensi harus
membatasi konsumsi kafein sehari tidak lebih dari dua cangkir kopi, tidak lebih dari tiga atau
empat cangkir teh, tidak lebih dari dua sampai empat kaleng minuman soda berkafein, serta
harus menghindari konsumsi kafein sebelum beraktivitas seperti olahraga atau pekerjaan fisik
berat.

Hubungan Rokok dengan Hipertensi


Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat kimia yang terkandung di dalam
tembakau yang dapat merusak lapisan dalam dinding arteri, sehingga arteri lebih rentan terjadi
penumpukan plak (arterosklerosis). Hal ini terutama disebabkan oleh nikotin yang dapat
merangsang saraf simpatis sehingga memacu kerja jantung lebih keras dan menyebabkan
penyempitan pembuluh darah, serta peran karbonmonoksida yang dapat menggantikan oksigen
dalam darah dan memaksa jantung memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.

(2)

Hubungan stress dengan hipertensi


Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah stres..
Stres merupakan suatu respon nonspesifik dari tubuh terhadap setiap tekanan atau tuntutan yang
mungkin muncul, baik dari kondisi yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan (Sadock
& Sadock, 2003).

Stres dapat memicu timbulnya hipertensi melalui aktivasi sistem saraf simpatis yang
mengakibatkan naiknya tekanan darah secara intermiten (tidak menentu) (Andria, 2013). Pada
saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan dilepaskan dan kemudian akan
meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri (vasokontriksi) dan peningkatan denyut
jantung. Apabila stres berlanjut, tekanan darah akan tetap tinggi sehingga orang tersebut akan
mengalami hipertensi (South, 2014).

(3)
Pedoman Diet Dash

- Menyeimbangkan kalori untuk mengelola berat badan


- Mencegah dan/atau mengurangi kelebihan berat badan dan obesitas
- Meningkatkan aktivitas fisik dan mengurangi waktu yang dihabiskan dalam perilaku yan
g menetap.
- Olahraga endurance, dapat menurunkan tekanan sistolik maupun diastolik pada orang
yang mempunyai tekanan darah tinggi tingkat ringan. Jenis olahraga yang efektif
menurunkan tekanan darah adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang (70-80%).
Salah satu contohnya, jalan kaki cepat. Frekuensi latihannya 3 - 5 kali seminggu, dengan
lama latihan 20 - 60 menit sekali latihan. Latihan olahraga bisa menurunkan tekanan
darah karena latihan itu dapat merilekskan pembuluh-pembuluh darah.

- Menjaga keseimbangan sesuai kalori selama setiap tahap kehidupan--masa kanak-


kanak, remaja, dewasa, kehamilan dan menyusui dan usia yang lebih tua.

Makanan dan komponen makanan untuk mengurangi


- Mengkonsumsi kurang dari 10 persen kalo dari asam lemak jenuh dengan mengganti
mereka dengan tak jenuh tunggal dan asam lemak tak jenuh ganda.
- Mengkonsumsi kurang dari 300 mg per hari diet kolesterol.
- Menjaga konsumsi asam lemak trans serendah mungkin dengan membatasi makanan
yang mengandung sintesis sumber lemak trans, seperti sebagian hidrogenasi minyak, dan
dengan membatasi lemak padat lainnya.

Per 1 kali konsumsi jumlah yang diperbolehkan adalah 1 sendok teh magarin atau 1 sendok
makan mayones rendah lemak atau 2 sendok makan salad dressing.

* Aterosklerosis adalah penyakit akibat respon peradangan pada pembuluh darah (arteri besar
dan sedang), bersifat progresif, yang ditandai dengan deposit massa kolagen, kolesterol, produk
buangan sel dan kalsium, disertai proliferasi miosit yang menimbulkan penebalan dan
pengerasan dinding arteri, sehingga mengakibatkan kekakuan dan kerapuhan arteri (Stary, 1995).

Aterosklerosis sangat dipengaruhi kadar kolesterol yang tinggi (khususnya LDL), merokok,
tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, obesitas, dan kurangnya aktifitas fisik.

Referensi :

1. problem solving ). 2005;

2. Octavian Y, Setyanda G, Sulastri D, Lestari Y. Artikel Penelitian Hubungan


Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki- Laki Usia 35-65 Tahun di Kota
Padang. 4(2):43440.

3. No Title. 2015;

2. Marla Heller. The 2010 Dietary Guidelines for Americans. 2016.


http://dashdiet.org/2010_dietary_guidelines.asp