Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ETIKA BISNIS

CORPORATION AND INTERNAL STAKEHOLDER

KP G:

1. Affan Fauzan 130116095


2. Aldy Erwin Ardiansyah 130215343
3. Edo Putra Seravyan 130315341
4. Leely Hariyanto Putri 130316004
5. Francisca Olivia 130316028
6. Lucy Angela 130316032
7. Feny Adolfin Halim 130316153
8. Angela Soewondo 130316177
9. Anna Andini Surono 130316213
10. Andrew Joscha S. 3133225

FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMIKA


UNIVERSITAS SURABAYA
INDONESIA
2016-2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-
Nya kepada penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah pada mata
kuliah Etika Bisnis ini dengan baik.

Penyusunan makalah ini merupakan tugas tiap minggu yang diberikan


oleh dosen untuk mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika semester genap
2016-2017.

Makalah ini dapat tersusun dan terlaksana dengan baik dan lancar berkat
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung
kelancaran pembuatan makalah ini sehingga dapat selesai tepat waktu.

Penulisan makalah dengan judul CORPORATION AND INTERNAL


STAKEHOLDER ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis dan
pembaca. Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan di dalam
pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, saran dan kritikan yang membangun
diperlukan agar mampu membuat makalah yang lebih baik di kesempatan
berikutnya. Terima kasih.

Mewakili kelompok: Penulis

(...........................................)

BAB I

1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Whistleblowing atau yang dikenal sebagai peniup seruling mulai
marak sejak abad ke-21 yang diakibatkan oleh ketidakpuasan karyawan
terhadap kinerja manajemen ditempatnya bekerja. Pada awalnya fenomena
munculnya whistle blowing ini muncul akibat diterapkannya Sarbanes-Oxley
Act, dimana menurut peraturan ini karyawan didorong untuk melaporkan
pelanggaran, skandal yang ada didalam perusahaan tempat mereka bekerja
tanpa ada rasa takut dan tindakan pembalasan dari pihak terkait. Sarbanes-
Oxley Act ini muncul akibat skandal-skandal keuangan terbesar yang terjadi
di Amerika Serikat.
Whistleblowing di negara-negara maju sudah mendapat perhatian khusus
dari pemerintah setempat. Misalnya di Australia pemerintah membentuk
Australia Standard AS8004, sedangkan di Inggris ada Public Concern at
Work. Di Indonesia, fenomena whistleblowing mulai menjadi terkenal setelah
kasus perselisihan besar antara KPK dengan POLRI yang diikuti oleh
nyanyian Komjen Pol Susno Duaji, dimana whistleblower disini ialah
Komjen Pol Susno Duaji. Beliau adalah mantan Kepala Bagian Reserse and
Criminal (Kabareskrim) POLRI periode 24 Oktober 2008-24 November
2009. Beliau membuka aib POLRI yang selama ini sudah menjadi rahasia
umum, beliau juga mengungkap makelar kasus perpajakan yang menyeret
pegawai Direktorat Jendral Pajak yakni Gayus Tambunan.
Tetapi di Indonesia, whistleblower ini tidak mendapatkan pelindungan
maksimal dari negara, buktinya Susno Duaji tak berselang lama setelah
meniup peluitnya dia menjadi terpidana dalam 2 kasus, meskipun beliau
merasa tidak bersalah. Kejadian ini dianggap sebagai kriminalisasi terhadap
whistleblower.

1.2 Rumusan Masalah


1. Kriteria apakah yang digunakan untuk menyebut seseorang sebagai
whistleblower?

2
2. Bagaimana perlindungan hukum yang diterapkan di Indonesia untuk para
whistleblower?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui kriteria apakah yang digunakan untuk menyebut
seseorang sebagai whistleblower.
2. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum yang diterapkan di
Indonesia untuk para whistleblower.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Sebagai tugas kelompok dalam mata kuliah Etika Bisnis.
2. Sebagai tambahan pengetahuan mengenai whistleblower yang ada di
Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi dan Kriteria Seorang Whistleblower


Seorang whistleblower seringkali dipahami sebagai saksi pelapor. Orang
yang memberikan laporan atau kesaksian mengenai suatu dugaan tindak
pidana kepada aparat penegak hukum dalam proses peradilan pidana.

3
Namun untuk disebut sebagai whistleblower, saksi tersebut setidaknya
harus memenuhi dua kriteria mendasar.
1. Kriteria pertama, whistleblower menyampaikan atau mengungkap
laporan kepada otoritas yang berwenang atau kepada media massa
atau publik. Dengan mengungkapkan kepada otoritas yang
berwenang atau media massa diharapkan dugaan suatu kejahatan
dapat diungkap dan terbongkar. Pada umumnya, whistleblower
akan melaporkan kejahatan di lingkungannya kepada otoritas
internal terlebih dahulu. Namun seorang whistleblower tidak
berhenti melaporkan kejahatan kepada otoritas internal ketika
proses penyelidikan laporannya mandeg. Ia dapat melaporkan
kejahatan kepada otoritas yang lebih tinggi, semisal langsung ke
dewan direksi, komisaris, kepala kantor, atau kepada otoritas
publik di luar organisasi yang berwenang serta media massa.
2. Kriteria kedua, seorang whistleblower merupakan orang dalam,
yaitu orang yang mengungkap dugaan pelanggaran dan kejahatan
yang terjadi di tempatnya bekerja atau ia berada. Karena skandal
kejahatan selalu terorganisir, maka seorang whistleblower kadang
merupakan bagian dari pelaku kejahatan atau kelompok mafia itu
sendiri. Dengan demikian, seorang whistleblower benar-benar
mengetahui dugaan suatu pelanggaran atau kejahatan karena
berada atau bekerja dalam suatu kelompok orang terorganisir yang
diduga melakukan kejahatan, di perusahaan, institusi publik, atau
institusi pemerintah. Laporan yang disampaikan oleh
whistleblower merupakan suatu peristiwa faktual atau benar-benar
diketahui si peniup peluit tersebut.

2.2. Kategorisasi Whistleblower


1. Whistleblower di Sektor Swasta
Dilihat dari tempat seseorang bekerja, pada umumnya, seorang
whistleblower dapat berasal dari perusahaan swasta atau instansi
Pemerintah. Oleh karena itu, seorang whistleblower dapat muncul dari
perusahaan-perusahaan swasta maupun dari lembaga-lembaga publik dan

4
pemerintahan. Banyaknya whistleblower di sektor swasta menunjukkan
bahwa tindak pidana yang berlangsung di perusahaan merupakan bagian
dari kejahatan terhadap publik. Tidak lagi sebagai sebuah skandal yang
privat, internal perusahaan. Hal ini dilatari kenyataan bahwa lingkup
operasi perusahaan juga bersinggungan dengan kepentingan publik, seperti
kewajiban pajak perusahaan, dampak produk yang dihasilkan, hingga
penggunaan dana publik oleh perusahaan. Dengan makin dominannya
sektor swasta dalam menggerakkan perekonomian negara, maka peran
whistleblower di sektor swasta pada masa-masa mendatang semakin
diperlukan. Perusahaan akan lebih dituntut untuk melakukan transparansi
dan akuntabilitas dalam kerjakerjanya.
2. Whistleblower di Sektor Pemerintahan
Selain di sektor perusahaan atau swasta, whistleblower dapat mencakup
orang yang memberi kesaksian mengenai suatu dugaan pelanggaran atau
kejahatan di institusi pemerintah atau publik. Misalnya, di institusi
kepolisian, perpajakan, atau institusi lain. Tak banyak whistleblower dari
sektor pemerintahan yang mengungkap kejahatan di lingkup
organisasinya. Budaya kerja di sektor Pemerintah amat berbeda dengan
perusahaan dimana faktor performa organisasi lebih penting ketimbang
birokrasi. Dengan kata lain, bahwa kolegialisme dalam birokrasi telah
menjadi acuan utama dalam setiap kerja pegawai di instansi-instansi
Pemerintah. Sehingga bila terjadi kesalahan atau manipulasi dalam
birokrasi jarang yang terekspos oleh media massa, kecuali yang telah
tertangkap tangan terlibat kejahatan atau karena eksposure yang intensif
oleh media massa.

2.3. Whistleblower dan Dilema Pengungkapan


Seorang whistleblower dalam upaya mengungkap suatu
pelanggaran atau kejahatan, baik di perusahaan atau suatu lembaga
pemerintahan, memang dapat dilatari berbagai motivasi, seperti
pembalasan dendam, ingin menjatuhkan institusi tempatnya bekerja,
mencari selamat, atau niat untuk menciptakan lingkungan organisasi
tempatnya bekerja yang lebih baik. Yang jelas seorang whistleblower

5
memiliki motivasi pilihan etis yang kuat untuk berani mengungkap
skandal kejahatan terhadap publik.
Whistleblower memiliki suara hati yang memberi petunjuk kuat
mengenai pentingnya sebuah skandal diungkap. Dengan berani
mengungkap apa yang benar dan salah atau apa yang baik dan yang jahat,
diharapkan pelanggaran atau kejahatan dapat terungkap. Dengan demikian,
pelanggaran atau kejahatan dapat diatasi demi perbaikan suatu negara,
perusahan, lembaga, dan kondisi masyarakat. Penekanan pada aspek
moralitas itu sangat penting pada saat nilai-nilai yang dapat menjadi acuan
hidup bersama menjadi kendur.
Penekanan pada aspek moralitas itu sangat penting karena moralitas adalah
sebuah aspek dari kehidupan sosial, dan hanya dengan demikian moralitas
bisa digerakkan dan dihubungkan dengan praktik-praktik sosial yang ada.
Selain itu, yang ditekankan dari seorang whistleblower adalah muatan
informasi yang sangat penting bagi kehidupan publik. Skandal keuangan
yang ditutup-tutupi, misalnya, dalam skala yang besar tentu dapat
menggoyahkan kondisi sebuah perusahaan, bahkan perekonomian sebuah
negara. Penyalahgunaan keuangan membuat parainvestor tidak
mempercayai kinerja perusahaan sehingga tidak lagi mau menanam
investasinya.
Efek yang ditimbulkan dengan adanya skandal keuangan akan
sangat panjang. Skandal keuangan dapat memicu larinya para investor,
bangkrutnya perusahaan, pemutusan hubungan kerja karyawan secara
massal, yang secara langsung dapat menyumbang kenaikan angka
pengangguran. Kondisi demikian menjadikan whistleblower pada posisi
penting guna menjaga kesehatan perusahaan atau perekonomian nasional.

2.4. Hak Perlindungan Whistleblower Di Indonesia


Hak-hak whistleblower yang juga seorang saksi (pelapor) telah diatur
dalam UU No. 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Haknya meliputi:
a. Memperoleh perlindungan dari lembaga perlindungan saksi.
Bahkan, keluarga whistleblower pun bisa memperoleh
perlindungan. Bentuk perlindungan pun bermacam-macam.

6
Misalnya, mendapat identitas baru, tempat kediaman baru yang
aman (safe house), pelayanan psikologis, dan biaya hidup selama
masa perlindungan.
b. Memberikan keterangan atau kesaksian mengenai suatu
pelanggaran atau kejahatan yang diketahui dengan bebas, tanpa
rasa takut atau terancam.
c. Mendapatkan informasi mengenai tindaklanjut atau perkembangan
penanganan Lembaga Perlindungan Saksi terhadap pelanggaran
atau kejahatan yang telah diungkap.
d. Mendapatkan balas jasa atau reward dari negara atas kesaksian
yang telah diungkap karena kesaksian mampu membongkar suatu
kejahatan yang lebih besar.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Kriteria Whistleblower


a. Kriteria pertama, whistleblower menyampaikan atau mengungkap
laporan kepada otoritas yang berwenang atau kepada media massa
atau publik. Dengan mengungkapkan kepada otoritas yang
berwenang atau media massa diharapkan dugaan suatu kejahatan dapat
diungkap dan terbongkar.

b. Kriteria kedua, seorang whistleblower merupakan orang dalam, yaitu


orang yang mengungkap dugaan pelanggaran dan kejahatan yang
terjadi di tempatnya bekerja atau ia berada. Karena skandal kejahatan
selalu terorganisir, maka seorang whistleblower kadang merupakan
bagian dari pelaku kejahatan atau kelompok mafia itu sendiri. Dia terlibat
dalam skandal lalu mengungkapkan kejahatan yang terjadi

7
3.2. Perlindungan Hak di Indonesia Terhadap Whistleblower
1. Perlindungan yang Bersifat Represif
Bentuk perlindungan represif meliputi perlindungan hukum yang
diberikan terhadap whistleblower dalam segi antisipasi dari segala
tindakan atau resiko yang tidak diinginkan. Perlindungan yang diberikan
dalam bentuk secara yuridis maupun fisik. Sistem perlindungan antisipasi
atau represif dengan memanfaatkan lembaga atau badan yang telah ada
melalui penambahan bahkan menguatkan fungsi dan kewenangan dari
lembaga tersebut. Butuh suatu terobosan sebagai model perlindungan
baik pada saksi dan korban terutama whistleblower. Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban, yang telah dibentuk pasca dikeluarkan
undang-undang nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban, belum memberikan suatu jaminan perlindungan secara
maksimal. Perlindungan baik dalam bentuk fisik maupun hukum tidak
terlaksana dengan efektif karena tidak akan terlaksana jika tidak ada
motor penggerak untuk mewujudkan suatu jaminan perlindungan hukum,
dengan begitu dibutuhkan lembaga atau badan yang mampu
melaksanakan. Untuk itu sebagai suatu lembaga, Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban dapat menggunakan hak dan wewenangnya untuk
menciptakan suatu perlindungan hukum bagi whistleblower. Di sisi lain
model koordinasi antara Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau
LPSK dengan instansi lain dalam memberikan perlindungan hukum
dapat digunakan sebagai upaya preventif agar mampu menciptakan
instrumen guna mengantisipasi kemungkinan terburuk dalam kedudukan
whistleblower. Jenis instrumen yang dapat dihasilkan antara Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban dengan lembaga lain misal Kejaksaan,
melalui Kejaksaan Agung memunculkan suatu kebijakan guna
melindungi status whistleblower. Jenis koordinasi lain adalah melalui
lembaga representasi masyarakat dengan Lembaga Perlindungan Saksi
dan Korban yaitu menempatkan klausula pengaturan seperti di atas atas
binding power atau memiliki kekuatan hukum mengikat ketika aturan
yang demikian semakin dikembangkan oleh badan representatif

8
masyarakat. Bahwa whistleblower bukanlah seorang saksi maka
pengaturannya harus secara khusus dengan diaplikasikan pada
kewenangan LPSK. Dengan begitu tercipta suatu aturan yang lebih tinggi
karena dihasilkan oleh lembaga yang memiliki suara atas nama rakyat.
Klausul tersebut memberikan dampak yang sangat obyektif bagi
whistleblower dengan sistem perlindungan hukum yang bertaraf legal
national. Pengaturan ini diharapkan mampu memberikan pengamanan
bagi seorang whistleblower demi kedudukan dan status hukum.

2. Perlindungan yang Bersifat Restorative Justice


Bentuk perlindungan selanjutnya berupa penerapan Restorative justice
yang termodifikasi. Restorative justice bertujuan untuk mewujudkan
pemulihan kondisi korban kejahatan, pelaku dan masyarakat
berkepentingan (stakeholder) melalui proses penyelesaian perkara yang
tidak hanya berfokus pada mengadili dan menghukum pelaku.
Stakeholder disini antara lain saksi, whistleblower dan masyarakat yang
mungkin dirugikan. Proses peradilan pidana yang bersifat restoratif
berpandangan bahwa mewujudkan keadilan bukan urusan pemerintah
dan pelaku kejahatan, tetapi lebih dari itu harus memberikan keadilan
secara totalitas yang tidak bisa mengabaikan kepentingan dan hak-hak
dari korban dan masyarakatnya. Mekanisme restorative justice
termodifikasi digunakan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia karena
konsep restorative justice yang ada jika diterapkan maka dapat
mengakibatkan efek negatif tanpa mempedulikan karakter bangsa ini.
Modifikasi yang dilakukan pada tahap peradilan pidana maupun konsep
bentuk perlindungan bagi whistleblower. Tahapan proses peradilan
pidana Indonesia sudah waktunya untuk direvisi demi tuntutan tujuan
hukum yang memberikan kemanfaatan dan keadilan bagi keseluruhan
pihak. Tahap proses peradilan yang akan direvisi dalam bentuk
menambahkan ataupun mengganti tahap yang sudah selayaknya untuk
dimodifikasi. Pertama akan ditambahkan proses permulaan peradilan
sehabis dilakukan penyidikan namun sebelum masuk ke proses

9
penuntutan berupa proses untuk mempertemukan para pihak
(stakeholder) baik pelaku, korban maupun kelurga korban, saksi maupun
whistleblower sampai masyarakat kolektif yang memiliki kepentingan di
dalamnya. Proses ini bisa disebut istilah mediasi dalam proses peradilan
perdata ataupun dismissal proses dalam bidang peradilan Tata Usaha
Negara. Dalam proses permulaan tersebut dapat disepakati bahwa baik
pihak keluarga korban, korban, saksi, masyarakat kolektif dan pelaku
untuk tidak meneruskan kasus kejahatan sampai pada tahap penuntutan.
Yang terpenting disini adalah kepentingan para pihak akhirnya mampu
lebih banyak diakomodir dan bisa menciptakan kemanfaatan bagi para
pihak. Proses selanjutnya yang sebaiknya ditambah dalam sistem
peradilan pidana Indonesia adalah memberikan jaminan perlindungan
hukum bagi seorang whistleblower. Kelonggaran yang bisa diberikan
dalam sistem peradilan pidana ini bisa berupa tidak diambil sumpah
dalam keterangan whistleblower. Untuk menguatkan hal tersebut juga
perlu suatu instrumen hukum sebagai payung hukum adanya
perlindungan tersebut agar muncul legalitas dalam pengaturan suatu
mekanisme beracara di peradilan pidana. Konsep restorative justice
terekstrim adalah dalam hal perundangan yang mengatur. Kemungkinan
yang terjadi adalah revisi klausul dalam Undang-undang nomor 13 tahun
2006 yang memang sesuai perkembangan beberapa tahun belakangan
sudah terdapat beberapa hal baru yang tidak dapat diakomodir dengan
undang-undang tersebut. Kemungkinan kedua dan yang terberat adalah
membuat undang-undang baru yang mengatur tentang whistleblower
sehingga muncul payung hukum bagi perlindungan hukumnya.

10
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Whistleblower atau yang dikenal sebagai peniup seruling merupakan
sebutan bagi karyawan yang tidak puas terhadap kinerja manajemen
ditempatnya bekerja. Hal tersebut mulai marak terjadi sejak abad ke XXI.
Namun sayangnya whistleblower di Indonesia belum memberikan
perlindungan yang cukup, berbeda dengan di negara-negara lain yang
sudah memberikan perhatian khusus seperti membuat suatu lembaga
khusus untuk menangani para whistleblower tersebut. Whistleblower
memiliki beberapa kriteria dan kategori dalam pengungkapan istilahnya
seperti; orang yang mengungkapkan laporan dan orang dalam yang
mengungkapkan dugaan sedangkan dalam kategori yg membedakan hanya
tempatnya yang berada dalam sektor swasta atau sektor pemerintahan.
Lemahnya hukum yang berada di Indonesia berlaku dalam melindungi
hak-hak yang dimiliki oleh whistleblower. Mengenai hal ini,
whistleblowing system saat ini sudah mulai diadaptasi oleh banyak
organisasi publik maupun organisasi private. Sebuah perkembangan
positif dan perlu diapresiasi. Sedangkan dari pihak pemerintah, setidaknya
sudah mulai muncul keseriusan dari pihak penegak hukum di Indonesia
dalam merespon fenomena whistleblower dengan menghadirkan surat
edaran yang bisa dijadikan landasan hukum bagi proses penindaklanjutan
bila terjadi pengungkapan kasus oleh peniup peluit. Sehingga diharapkan
tidak lagi terjadi kasus Susno Duaji yang saat mencoba membeberkan
fakta malah diserang dari segala sudut. Walaupun pada kenyataanya

11
sampai sekarang masih ada saja kasus-kasus yang memperlihatkan sang
whistleblower selalu terancam keselamatannya.

4.2. Kritik/Saran
Saran pada makalah kali ini adalah perlu adanya keterbukaan antar
perusahaan dan karyawan agar terhindar dari whistleblowing. Apabila
telah terjadi whistleblowing maka pelaku yang diduga whistleblower
diajak berdiskusi untuk kebaikan perusahaan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Asdar Munandar. (2012, 16 Februari). Penerapan Sarbanes-Oxley di Indonesia.


Diperoleh 13 Maret 2017, Dari
https://asdarmunandar.blogspot.co.id/2012/02/penerapan-sarbanes-oxley-di-
indonesia.html.

Berita Sepuluh. (2011, 25 Maret). Susno Duadji, si Whistleblower, Terpidana


yang Dihargai. Diperoleh 15 Maret 2017, Dari
https://beritasepuluh.com/2011/03/25/susno-duadji-si-whistler-blower-
terpidana-yang-dihargai/.

Davis, M. 2003. Whistleblowing. In The Oxford Handbook of Practical Ethics;


LaFollette, H., Ed. Oxford University Press: Oxford.

M.N. Huda D. Santoso. (___, __ ____) . Keterkaitan Sarbanes-Oxley Act, SAS


No. 99, dan Corporate Governance: Hal-Hal Apa Saja yang Perlu Kita
Ketahui. Diperoleh 17 Maret 2017, Dari
http://www.bpkp.go.id/public/upload/unit/investigasi/files/Gambar/PDF/sar
banes.pdf.

Suradi Wisyaiswara. (2014, __ ____) . Mengenal Sarbanes-Oxley Act (S0X/SOA).


Diperoleh 19 Maret 2017, Dari
http://www.bppk.depkeu.go.id/bdk/palembang/attachments/146_ARTIKEL-
SOA-WEB.pdf.

Tim Redaksi. (2012, 15 Juli). Whistleblower yang Ditelan Bumi. Diperoleh 13


Maret 2017, Dari http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-
direktori/2203-whistleblower-yang-ditelan-bumi.

13

Beri Nilai