Anda di halaman 1dari 15

Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup.

Dalam keadaan fisiologik, darah


selalu ada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya yaitu sebagai pembawa
oksigen (oksigen carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mekanisme
hemostatis.
Darah adalah matrik cairan dan merupakan jaringan pengikat terspesialisasi yang
dibentuk dari sel-sel bebas (Bryon and Doroth, 1973). Darah terdiri dari komponen cair yang
disebut plasma dan berbagai unsur yang dibawa dalam plasma yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah
terdiri dari eritrosit atau sel darah merah, yaitu sel yang mengangkut oksigen, leukosit atau sel
darah putih yaitu sel yang berperan dalam kekebalan dan pertahanan tubuh dan trombosit yaitu
sel yang berperan dalam homeostasis (Frandson, 1986).
Sel darah putih atau Leukosit merupakan " bala tentara" dalam tubuh. Tugasnya
melindungi tubuh agar tahan menghadapi serangan kuman, entah itu virus, bakteri, atau
sejenisnya.Pendek kata leukosit berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam
melakukan aktivitas sehari-hari manusia tidak luput dari serangan berbagai macam kuman
pembawa bibit penyakit. Beruntung, tidak setiap serangan tersebut bisa merobohkan tubuh,
berkat pasukan tempur yang selalu siap melawan kuman. Pasukan tempur itu adalah sel darah
putih yang dikenal dengan sebutan leukosit.
Sebagai gambaran, luka akibat goresan merupakan pintu masuk bagi kuman. Sehingga, di
daerah luka itulah sel darah putih akan berkumpul dan berperang melawan kuman hingga tuntas.
Bagian tubuh yang luka seringkali tampak merah dan membengkak serta seringkali
mengeluarkan nanah. Itu merupakan efek dari peperangan kuman melawan sel darah putih.
Jika sel darah putih menang, kuman akan hilang dan tubuh kembali normal. Sebaliknya,
jika sel darah putih kalah, diperlukan obat-obatan dari luar untuk membantu sel darah putih
melawan kuman. Bisa dibayangkan betapa pentingnya sel darah putih dalam tubuh kita.

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara penghitungan leukoit dan
untuk menghitung jumlah leukosit.

PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan yaitu hitung jumlah leukosit
sehingga didapatkan hasil bahwa Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi
oleh jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai
penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Adapun nilai normal
dari leukosit, yaitu:
1. Dewasa : 4000-10.000/ L
2. Bayi / anak : 9000-12.000/ L

3. Bayi baru lahir : 9000-30.000/ L

Pengenceran darah yang lazim dipakai untuk menghitung leukosit ialah 20


kali, tetapi menurut keadaan (leukositosis tinggi atau leukopenia) pengenceran itu
dapat diubah sesuai dengan keadaan itu, pengencer dijadikan lebih tinggi pada
leukositosis dan lebih rendah pada leukopenia. Jagalah dalam segala tindakan agar
pengenceran yang telah dicapai dalam pipet itu tidak terganggu, itu menimbulkan
kesalahan. Dalam darah oxalat yang tidak segera dipakai ada kemungkinan leukosit
- leukosit akan bergumpal, peristiwa itu sangat mengurangi ketelitian kerja.
Larutan yang digunakan pada praktikum ini yaitu larutan Tuek. Larutan Turk
ini mengandung asam asetat 2% ditambah gentian violet 1% sehingga
menghasilkan warna ungu muda. Penambahan gentian violet bertujuan untuk
membari warna pada leukosit. Larutan ini bersifat memecah eritrosit dan trombosit
tetapi tidak sampai memecah leukosit.
Dengan memakai alat - alat baik dan dengan tehnik sempurna, ketelitian
tindakan menghitung leukosit ialah kira - kira +/- 10%. Kesalahan - kesalahan pada
tindakan menghitung leukosit.
1. Jumlah darah yang dihisap ke dalam pipet tidak tepat jika:
a. Bekerja terlalu lambat sehingga terjadi pembekuan darah.
b. Tidak mencapai garis 0,5.
c. Memakai pipet basah.
d. Mengeluarkan lagi sebagian darah yang telah dihisap kerena melewati garis 0,5.
2. Pengenceran dalam pipet salah jika:
a. Kehilangan cairan dari pipet, karena mengalir kembali kedalam botol berisi larutan
turk.
b. Tidak menghisap cairan turk tepat sampai garis 11.
c. Terjadi gelembung udara di dalam pipet pada waktu menghisap larutan turk.
d. Terbuang sedikit cairan pada waktu mengocok pipet atau pada waktu mencabut
karet penghisap dari pipet.
3. Tidak mengocok pipet segera setelah mengambil larutan turk.
4. Tidak mengocok pipet sebentar sebelum mengisi kamar hitung.
5. Tidak membuang beberapa tetes dari isi pipet sebelum mengisi kamar hitung.
6. Yang bertalian dengan kamar hitung dan teknik menghitung:
a. Kamar hitung atau kaca penutup kotor.
b. Ada gelembung udara termasuk bersama dengan cairan.
c. Letaknya kaca penutup salah.
d. Meja mikroskop tidak rata air.
e. Salah menghitung sel yang menyinggung garis - garis batas.
f. Kaca penutup bergeser karena tersentuh dengan lensa mikroskop.
BAB V
KESIMPULAN

Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik
yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai
bagian dari sistem kekebalan tubuh, mempertahankan tubuh dari benda benda
asing yang dilakukan oleh neutofil dan monosit, serta memperbaiki atau mencegah
kerusakan terutama kerusakan vaskuler. Leukosit yang memegang peranan adalah
basofil yang menghasilkan heparin. Sehingga pembentukan trombus pembuluh
pembuluh darah dapat dicegah.

Hitung jenis leukosit adalah penghitungan jenis leukosit yang ada dalam
darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit.
Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif
(%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/l).

Sehingga hasil hitung leukosit yang didapatkan pada praktikum ini yatu
sebanyak 10.800 ul.
DAFTAR PUSTAKA

http://waterforest94.blogspot.com/2013/06/makalah-hematologi-differential.html

http://xxwwccdd.blogspot.com/2014/03/leukosit.html

http://putrakietha.blogspot.com/2013/03/pemeriksaan-leukosit.html

http://lab-anakes.blogspot.com/2014/10/pemeriksaan-hitung-jumlah-leukosit.html

http://yuni-12345.blogspot.com/2012/04/laporan-praktikum-aanthal-leukosit.html
Pada percobaan mengenai hitung jumlah leukosit beberapa OP yaitu Tuti, Firdha, Singgih, dan
Atsnah, digunakan darah yang diambil dari vena. Darah vena yang telah diambil telah
dicampurkan dengan EDTA yang merupakan antikoagulan sehingga darah tidak mengalami
pembekuan. Setelah itu darah dimasukkan ke dalam pipet leukosit sampai garis tanda 0,5 tepat
untuk kemudian ditambahkan larutan turk sampai pada garis tanda 11 pada pipet. Larutan Turk
adalah perpaduan antara asam asetat glacial 1 % dan gentian violet 1 %. Karena leukosit bersifat
tetap stabil dalam larutan asam hingga kadar 3 %, asam asetat glacial digunakan untuk hemolisis
eritrosit. Sedangkan gentian violet digunakan untuk mewarnai leukosit (Harald Theml, 2004).
Larutan turk dan darah didalam pipet leukosit harus dikocok selama 3 menit terlebih dahulu
sebelum digunakan agar larutan turk dan darah benar-benar tercampur dengan rata, setelah itu
campuran antara larutan turk dengan darah diteteskan ke dalam kamar hitung untuk segera
dilakukan perhitungan yang dilakukan di kamar hitung dilakukan secara teratur mulai dari kiri ke
kanan kemudian dari kanan ke kiri, membentuk alur gelombang agar tidak terjadi pengulangan
hitungan pada kamar hitung.

Setelah melakukan perhitungan terhadap jumlah leukosit didapatkan hasil bahwa jumlah leukosit
Tuti, Firdha dan Atsnah adalah normal, berkisar antara 6.800 7.300 sel/L darah, jumlah ini
sesuai dengan referensi jumlah leukosit normal pada orang dewasa sebanyak 4.000 11.000
sel/L darah(Ganong, 2002). Namun jumlah leukosit Singgih, yang sedang sakit ketika
praktikum berlangsung, melebihi batas normal yakni mencapai 12.900 sel/L darah.

Singgih berada dalam keadaan leukositosis karena jumlah leukositnya lebih dari nilai
rujukan(Miale,1972).Meningkatnya jumlah leukosit pada keadaan tubuh yang sakit berkaitan
erat dengan fungsinya (Maruf et al. 2005)sebagai pertahanan tubuh untuk melawan benda asing
yang masuk ke dalam tubuh(Guyton 2008). Derajat peningkatan leukosit pada infeksi tergantung
dari beratnya infeksi, usia, daya tahan tubuh, dan efisiensi sumsum tulang (Miale,1972). Karena
jumlah penyimpangan pada Singgih tidak terlalu signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa
infeksi yang diderita tidak terlalu parah, daya tahan tubuh dan efisiensi sumsum tulang baik.

1. C. Kesimpulan

1. Menghitung leukosit dilakukan dengan alat haemocytometer dan


kamar hitung.

2. Penambahan larutan gentian violet bertujuan untuk memberi warna


leukosit dan asam asetat glacial digunakan untuk hemolisis eritrosit,
sehingga memudahkan penghitungan leukosit.
3. Penghitungan jumlah leukosit dilakukan pada keempat bidang besar
yang terdapat di kamar hitung.

4. Penghitungan jumlah leukosit menggunakan rumus x 20/pl = 50 N/l


darah.

5. Jumlah leukosit dari 3 OP adalah normal, berkisar 6.800 7.300 sel/L


darah.

6. OP Singgih mengalami leukositosis karena infeksi bakteri, yang


ditunjukkan oleh jumlah leukositnya sebanyak 12.900 sel/L darah.

7. Derajat peningkatan leukosit pada infeksi tergantung dari beratnya


infeksi, usia, daya tahan tubuh, dan efisiensi sumsum tulang

Daftar Pustaka

Casolaro V, Spadaro G, Marone G.1990. Human basophil release ability: 6 changes in basophil
release ability in patients with allergic rhinitis or bronchial-asthma. Am Rev Respir Dis 142:
1108 1111.

Colville T, Bassert JM. 2008. Clinical Anatomy & Physiology for Veterinary Technician.
Missouri: Elsevier.

Dellman HD, Brown EM. 1992. Histologi veteriner. Jakarta: UI Press.

Effendi Z. 2003.Peranan leukosit sebagai anti inflamasi alergik dalam tubuh. [terhubung
berkala]. http://library.usu.ac.id/download/fk/histologi-zukesti2.pdf [25 Maret 2012].

Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Terjemahan dari: Review of Medical Physiology.

Guyton AC. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Terjemahan dari: Textbook of Medical Physiology.

Hirsch JG , Hirsch BI. 1980. Paul Ehrlich and the discovery of the eosinophil.The Eosinophil
in Health and Disease. New York: Grune and Stratton.

Hoffbrand, AV. 2005. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Jain NC. 1993.Essential of Veterinary Hematology. Philadelphia: Lea and Febiger

Junqueira LC, Caneiro J. 2005. Basic Histology Text & Atlas. USA: The Mc Graw-Hill
Companies

Lee WL, Harrison RE, Grinstein S. 2003. Phagocytosis by meutrophils.MicrobInfect 5:1299


1306.

Maruf A, Atmoko T dan Syahbani I. 2005. Teknologi penangkaran rusa Sambar (Cervus
unicolor) di desa Api-api Kabupaten Penajem Paser Utara Kalimantan Timur. Di dalam: Gelar
dan dialog teknologi di Mataram; 29-30 Juni 2005. Mataram: Peneliti pada Loka Litbang Satwa
Primata Samboja; 2005. hlm 57 68.

Meyer DJ, Harvey JW. 2004. Veterinary Laboratory Medicine: Interpretation and Diagnosis.
St. Louis: Saunders.

Miale JB. 1972. Laboratory Medicina Hematology.St. Louis: The C.V. Mosby Companya

Mills J. 1998. Interpreting blood smears (or What blood smears are trying to tell you!). Aust
Vet J 76: 596 600.

Sharma SD. 1986. The macrophage. J Allergy Clin Immunol 6:1 27.

Simmons A. 1976. Technical Hematology. Toronto: J.B. Lippincott Co.

Theml, Harald, et. al. 2004.Color Atlas of Hematology. Germany: Thieme

Tizard I. 2000. Veterinary Immunology An Introduction. Ed ke-6. Philadelphia: WB Saunders


Company.

Turgeon, Mary Louise. 2011.Clinical Hematology Theories and Procedures. Maryland:


Lippincott Williams & Wilkins

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan.2009

Weiner OD, Servant G, Welch MD, Mitchison TJ, Sedat JW, Bourne HR. 1999. Spatial control
of actin polymerization during neutrophil chemotaxis. NatCell Biol 1: 75 81.

Weiss DJ, Wardrop KJ. 2010. Schalms Veterinary Hematology. USA: Blackwell Publishing
Ltd.
http://www.elsevierimages.com/image/33146.htm, Diunduh pada 25 Maret 2012 pukul 18.30
WIB

http://academic.kellogg.edu/herbrandsonc/bio201_mckinley/cardiovascular%20system.htm,
Diunduh pada 25 Maret 2012 pukul 19.25 WIB
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini banyak penyakit yang bertambah dan merajalela dalam kehidupa masyarakat.
Akan tetapi penyakit infeksi tetap menjadi primadona penyaki yang paling sering menyerang
manusia. Penyakit infeksi yang ditimbul serin diakibatkan mikroorganisme yang bersifat
patogen. Dalam pemeriksaan penyakit infeksi, biasanya dilakukan pemeriksaan fisik dan
anamnese guna menemukan etiologi penyakit. Cara lain dalam menegakkan diagnosa gun
menemukan mikroorganisme apa yang menjadi penyebab suatu penyakit adalah dengan cara
pemeriksaan specimen pengambilan spesimen darah merupakan tugas dari petugas laboratoriu
akan tetapi dalam kenyataanya semua dilakukan oleh perawat. Untuk itu diperlukan adanya
suatu pengalaman yang lebih dari perawat untuk mengambil spesimen darah untuk
pemeriksaan laboratorium. Hal ini untuk mencegah spesimen darah tersebut mengalami
hemolisis. Persiapan dan teknik yang baik dalam pengambilan spesimen darah vena sangat
mempengaruhi hasil tes laboratorium. Tujuan pengambilan spesimen darah vena adalah untuk
mendapatkan hasil spesimen darah vena tanpa anti koagulan yang memenuhi persyaratan
untuk pemeriksaan kimia klinik dan imunoserologi.
Seorang bidan sama halnya dengan perawat yang salah satu tugasnya juga merawat
pasien atau klien, oleh sebab itu bidan juga harus mengetahui tujuan, persiapan, teknik, faktor
penyulit, serta komplikasi dalam pengambilan spesimen darah vena.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah phlebotomy yang berarti
proses pengeluaran darah. Dalam praktek laboratorium klinik, ada 3 macam cara memperoleh
darah, yaitu melalui tusukan vena (venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture), dan tusukan
arteri atau nadi.Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh karena itu istilah
phlebotomy sering dikaitkan dengan venipuncture. Pada pengambilan darah vena
(venipuncture), contoh darah umumnya diambil dari vena median cubital, pada anterior
lengan (sisi dalam lipatan siku). Vena ini terletak dekat dengan permukaan kulit, cukup besar,
dan tidak ada pasokan saraf besar. Apabila tidak memungkinkan, vena chepalica atau vena
basilica bisa menjadi pilihan berikutnya. Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan
dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan arteri brachialis dan syaraf median. Jika
vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa digunakan, maka pengambilan darah dapat
dilakukan di vena di daerah pergelangan tangan.
Lakukan pengambilan dengan sangat hati-hati dan menggunakan jarum yang
ukurannya lebih kecil.
A,Lokasi Pengambilan Spesimen Darah Vena
Pengambilan darah vena dapat dilakukan pada lokasi vena yang cukup besar dan letaknya
superfisial. Pada orang dewasa biasa vena di fossa cubiti sedangkan pada anak-anak dan
bayi diambil pada Vena Jugularis Externa, Vena Femoralis (paha), Vena Sinus Sagitalis
Superior (kepala).
Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :
1. Lengan pada sisi mastectomy
2. Daerah oedema
3. Hematoma
4. Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
5. Daerah bekas luka
6. Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular
7. Daerah intra-vena lines. Pengambilan darah di daerah ini dapat menyebabkan
darah menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan atau menurunkan kadar zat tertentu.
Pengambilan Darah Vena Untuk Berbagai Pemeriksaan
Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang menggunakan bahan atau spesimen darah.
Pemeriksaan darah vena meliputi:
1. SGPT (serum glutamic piruvic transaminase) atau alanin amonio transferase merupakan
pemeriksaan yang bertujuan mendeteksi adanya kerusakan hepatoseluler.
2. Albumin. Pemeriksaan albumin dilakukan untuk mendeteksi kemampuan albumin yang
disintesis hepar, yang dapat digunakan untuk menentukan adanya gangguan hepar seperti
sirosis, luka bakar, gangguan ginjal atau kehilangan protein dalam jumlah banyak.
3. Bilirubin (total, direk dan indirek). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kadar
bilirubin, adanya ikterus obstruktif karna batu atau neoplasma, hepatitis, dan sirosis.
Bilirubin indirek dapat mendeteksi adanya anemia, malaria, dan lain-lain.
4. Gula darah puasa. Pemeriksaan gula darah dilakukan untuk mendeteksi adanya diabetes,
atau reaksi hipoglikemik.
5. Gula darah posprandial. Pemeriksaan gula darah ini bertujuan mendeteksi adanya
diabetes, atau reaksi hipoglikemik, yang dilakukan 2 jam setelah makan.
6. Hematokrit. Pemeriksaan hematokrit dilakukan untuk mengukur konsentrasi sel-sel
darah merah dalam darah, yang dapat mendeteksi adanya anemia, kehilangan darah, gagal
ginjal kronis, defisiensi vitamin B dan C. Peningkatan kadar hematokrit dapat diidentifikasi
pada dehidrasi, asidosis, trauma, pembedahan, dan lain-lain.
7. Hemoglobin. Pemeriksaan hemoglobin bertujuan untuk mendeteksi anemia dan penyakit
ginjal. Peningkatan hemoglobin dapat terjadi pada dehidrasi, penyakit paru obstruksi
kronis, gagal jantung kongestif, dan lain-lain.
8. Trombosit. Pemeriksaan trombosit bertujuan untuk mendeteksi adanya trombositopenia
yang berhubungan dengan perdarahan, dan trombositosis yang menyebabkan peningkatan
pembekuan.
9. Masa tromboplastin parsial (PTT), adalah masa tromboplastin parsial teraktivasi
(APTT). Pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi defisiensi faktor pembekuan
kecuali faktor VII dan VIII, mendeteksi variasi trombosit, dan memonitor terapi heparin.
Selain pemeriksaan tersebut di atas masih banyak pemeriksaan yang banyak dilakukan
seperti pemeriksaan elektrolit, sel darah putih, laju endap darah, dan pemeriksaan enzim-
enzim lain.
B. Cara Pengambilan Darah Vena
Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara vakum. Cara
manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring), sedangkan cara vakum dengan
menggunakan tabung vakum (vacutainer).
1. Pengambilan Darah Vena dengan Syring Pengambilan darah vena secara manual dengan
alat suntik (syring) merupakan cara yang masih lazim dilakukan di berbagai
laboratorium klinik dan tempat-tempat pelayanan kesehatan. Alat suntik ini adalah
sebuah pompa piston sederhana yang terdiri dari sebuah tabung silinder, pendorong, dan
jarum. Berbagai ukuran jarum yang sering dipergunakan mulai dari ukuran terbesar
sampai dengan terkecil adalah : 21G, 22G, 23G, 24G dan 25G. Pengambilan darah
dengan suntikan ini baik dilakukan pada pasien usia lanjut dan pasien dengan vena yang
tidak dapat diandalkan (rapuh atau kecil).
2. Pengambilan Darah Vena dengan Tabung Vakum Tabung vakum pertama kali dipasarkan
oleh perusahaan AS BD (Becton-Dickinson) di bawah nama dagang Vacutainer. Jenis
tabung ini berupa tabung reaksi yang hampa udara, terbuat dari kaca atau plastik. Ketika
tabung dilekatkan pada jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan berhenti
mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai.
Jarum yang digunakan terdiri dari dua buah jarum yang dihubungkan oleh
sambungan berulir. Jarum pada sisi anterior digunakan untuk menusuk vena dan jarum
pada sisi posterior ditancapkan pada tabung. Jarum posterior diselubungi oleh bahan dari
karet sehingga dapat mencegah darah dari pasien mengalir keluar. Sambungan berulir
berfungsi untuk melekatkan jarum pada sebuah holder dan memudahkan pada saat
mendorong tabung menancap pada jarum posterior.
Keuntungan menggunakan metode pengambilan ini adalah, tak perlu membagi-bagi
sampel darah ke dalam beberapa tabung. Cukup sekali penusukan, dapat digunakan untuk
beberapa tabung secara bergantian sesuai dengan jenis tes yang diperlukan. Untuk
keperluan tes biakan kuman, cara ini juga lebih bagus karena darah pasien langsung dapat
mengalir masuk ke dalam tabung yang berisi media biakan kuman. Jadi, kemungkinan
kontaminasi selama pemindahan sampel pada pengambilan dengan cara manual dapat
dihindari.
Kekurangannya sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil, bayi, atau jika vena
tidak bisa diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk mengatasi hal ini
mungkin bisa digunakan jarum bersayap (winged needle).
Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum kupu-kup hampir sama dengan
jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas. Perbedaannya adalah, antara jarum
anterior dan posterior terdapat dua buah sayap plastik pada pangkal jarum anterior dan
selang yang menghubungkan jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat
mengenai vena, darah akan kelihatan masuk pada selang (flash).
C. Faktor Penyulit dalam Pengambilan Spesimen Darah Vena
1. Faktor Fisik Pasien
a. Kegemukan
Pada pasien yang gemuk terkadang phlebotomis sulit untuk
menemukan pembuluh darah vena yang akan ditusuk karena terhalang
oleh jaringan lemak. Orang yang gemuk memiliki vena yang lebih
dalam dan tidak terlihat sehingga sulit untuk dipalpasi.
1.b. Oedema
Oedema merupakan penimbunan cairan tubuh. Phlebotomis menjadi sulit untuk
menemukan letak vena. Jika darah yang diambil pada tempat yang oedema, maka darah
akan tercampur dengan cairan oedema sehingga akan terjadi pengenceran. Phlebotomis
dapat mencari pembuluh darah lain yang tidak oedema.
1.c. Luka bakar
Pasien yang mengalami luka bakar, jaringan pada tubuhnya rusak dan mudah mengalami
infeksi. Jangan melakukan pengambilan di daerah ini. Pasien sangat rentan terhadap
infeksi.
2. Faktor Psikologis Pasien
Faktor penderita yang kurang kooperatif disebabkan penderita merasa ketakutan sehingga
penderita menolak untuk dilakukan pengambilan darah. Cara mengatasinya dengan
mencari bantuan petugas lain dan menenangkan pasien agar pasien mengerti perlunya
untulis dilakukan pengambilan darah. Bila tidak berhasil, jelaskan secara tertulis pada
lembar permintaan laboratorium.
3. Faktor Teknik
Gagal memperoleh darah. Gagal pengambilan darah disebabkan:
3.a. Cara pengambilan darah vena yang salah oleh phlebotomis
3.b. Tusukan sudah tepat tetapi darah tidak cukup terhisap,
kemungkinan:
3.b.1) Kesalahan teknik
a) Arah tusukan tidak tepat
b) Sudut tusukan terlalu kecil atau terlalu besar
c) Salah menentukan vena yang dipilih
d) Tusukan terlalu dalam atau kurang dalam
e) Pembuluh bergeser karena tidak terfiksasi

3.b.2) Kesalahan non teknik


Pembuluh darah menyempit (kolaps) karena rasa takut yang berlebihan dan
menyebabkan volume darah berkurang.Volume darah berkurang karena pendarahan berat,
kekurangan cairan tubuh, dan tekanan darah turun.
G. Komplikasi
Dalam pengambilan darah vena yang salah dapat menyebabkan komplikasi, antara lain:
1. Pingsan (Syncope)
Pingsan adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadaran beberap saat karena
penurunan tekanan darah. Gejala dapat berupa rasa pusing, keringat dingin, pengelihatan
kabur, nadi cepat, bahkan bisa sampai muntah. Pingsan dapat disebabkan karena pasien
mengalami rasa takut yang berlebihan atau karena pasien puasa terlalu lama.
Sebelum dilakukan phlebotomi hendaknya seorang phlebotomis menanyakan apakah
pasien memiliki kecenderungan untuk pingsan saat dilakukan pengambilan darah. Jika benar
maka pasien diminta untuk berbaring. Phlebotomis hendaknya memberikan pengertian kepada
pasien agar pasien merasa nyaman dan tidak takut. Agar pasien tidak takut, phlebotomist
sebaiknya mengajak pasien berbicara agar perhatiannya teralihkan. Pengambilan darah vena
pada orang pingsan harus diberi oksigen agar pembuluh darah membuka, sebab pada orang
pingsan pembuluh darahnya menutup.